Manusia Kerajaan Sorga 20". Berikut adalah poin-poin penjelasan utama dari firman yang disampaikan:
1. Peran Manusia sebagai Pemimpin (Bukan Dipimpin Dunia)
* Belajar dari Nuh: Setelah air bah, bumi dipimpin oleh Nuh, seorang yang hidup dalam kebenaran Allah.
* Otoritas Anak Kebenaran: Sebagai "manusia kerajaan surga", kita diberikan anugerah dan otoritas untuk memimpin atau menjadi pemberi arah (tujuan), bukan malah hanyut dipimpin oleh cara berpikir dunia atau pemimpin yang hanya tahu hal "baik" tapi menjauhi kebenaran Tuhan.
2. Strategi Iblis melalui Kedagingan
* Meskipun dunia sudah dibersihkan melalui air bah, iblis tetap ada di bumi dan menggunakan faktor kemanusiaan atau keinginan daging untuk memanifestasikan dirinya.
* Pikiran Terkutuk: Iblis berusaha mengganti kebenaran Allah dengan dusta, yang mengakibatkan manusia memiliki pikiran yang terkutuk (berbeda dengan pikiran Kristus).
3. Perbedaan Pikiran Kristus vs Pikiran Iblis
* Pikiran Kristus: Berdasarkan Filipi 2, Kristus memilih untuk merendahkan diri dan taat sampai mati.
* Pikiran Iblis: Berdasarkan Yesaya 14, iblis selalu ingin naik ke atas, menyamai Yang Maha Tinggi, dan menonjolkan diri sendiri.
4. Dosa Ham dan Kutukan atas Kanaan
* Pengkhotbah menjelaskan mengapa Nuh mengutuk Kanaan dan bukan Ham, padahal Ham yang bersalah melihat aurat ayahnya dengan sikap tidak hormat.
* Alasannya: Allah baru saja memberkati Nuh dan anak-anaknya (termasuk Ham), sehingga Nuh tidak mengutuk Ham secara langsung. Namun, Nuh melihat jauh ke depan bahwa keturunan Ham melalui Kanaan akan terus menjadi bangsa yang menentang Tuhan.
5. Bahaya Mengandalkan Kekuatan Sendiri (Jalan Kutuk)
* Berdasarkan Yeremia 17:5, orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri sebenarnya sedang hidup dalam "jalan kutuk".
* Solusi: Kita dipanggil untuk menjadi orang yang diberkati dengan cara mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan sepenuhnya kepada-Nya, bukan pada pencapaian atau kehebatan diri sendiri.
Kesimpulan:
jemaat untuk waspada terhadap tipu daya iblis yang masuk melalui keinginan daging dan kesombongan. Manusia kerajaan surga harus memiliki pikiran Kristus yang rendah hati dan hidup sepenuhnya dipimpin oleh Roh Kudus agar tidak terjebak dalam kutuk duniawi.
*Apa arti menjauhi kebenaran Tuhan?*
Menjauhi kebenaran Tuhan bukan sekadar melakukan perbuatan jahat secara moral, melainkan sebuah kondisi spiritual yang lebih mendalam.
1. Menggantikan Standar Tuhan dengan Standar Sendiri
Menjauhi kebenaran berarti manusia mulai menentukan sendiri apa yang "baik" dan "jahat" berdasarkan pikiran mereka, bukan berdasarkan firman Tuhan. Pembicara menekankan bahwa orang dunia mungkin tahu apa yang "baik", tetapi mereka menjauhkan diri dari "kebenaran" karena tidak taat pada perintah spesifik Tuhan.
2. Mengandalkan Kekuatan dan Hikmat Diri Sendiri
Akar dari menjauhi kebenaran adalah kesombongan.
* Menjadi merasa sukses karena kehebatan, kepandaian, atau prestasi pribadi.
* Hal ini disebut sebagai "pikiran terkutuk" (berdasarkan Yeremia 17:5), di mana hati seseorang perlahan menjauh dari ketergantungan penuh kepada Tuhan dan mulai mengandalkan diri sendiri atau teknologi (iptek) sebagai pengganti Tuhan.
3. Berkompromi dengan Cara Berpikir Dunia
Menjauhi kebenaran Tuhan berarti menjadi serupa dengan dunia (Roma 12:2).
* Ini terjadi ketika seseorang mulai mengikuti arus peradaban yang terlihat maju namun secara spiritual melawan ketetapan Allah.
* Salah satu bentuknya adalah "roh kompromi", di mana seseorang mulai membenarkan hal-hal yang tidak berkenan di mata Tuhan demi kenyamanan atau pengakuan dunia.
4. Tidak Memiliki Pikiran Kristus
Jika pikiran Kristus adalah kerendahan hati dan ketaatan (Filipi 2), maka menjauhi kebenaran adalah memiliki pikiran iblis yang ingin selalu "naik", ingin dihormati, dan ingin menyamai Yang Maha Tinggi.
* Ketika seseorang menolak untuk merendahkan diri di bawah otoritas Tuhan, ia secara otomatis menjauh dari kebenaran.
5. Membiarkan Diri Dikuasai Keinginan Daging
Dijelaskan bahwa keinginan daging dan keinginan Roh selalu bertentangan. Menjauhi kebenaran Tuhan berarti seseorang berhenti membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh dan mulai membiarkan hawa nafsu atau emosi manusiawi (seperti rasa tidak hormat yang dilakukan Ham terhadap Nuh) mengendalikan hidupnya.
> Ringkasnya: Menjauhi kebenaran Tuhan adalah kondisi di mana seseorang merasa tidak perlu mengakui Allah dalam keberhasilannya dan mulai hidup menurut aturan atau standar yang ia buat sendiri.
>
Perbedaan antara "pikiran Kristus" dan "pikiran dunia"
Perbedaan antara Pikiran Kristus dan Pikiran Dunia (Pikiran Iblis) adalah kontras yang sangat tajam, seperti arah Timur dan Barat (180⁰).
Berikut adalah perbandingannya secara lebih mendalam:
1. Arah Pergerakan Hati: Turun vs. Naik
* Pikiran Kristus (Filipi 2:5-8): Intinya adalah kerendahan hati. Kristus, meskipun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan kesetaraan itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Dia justru "mengosongkan diri" dan turun menjadi hamba.
* Pikiran Dunia/Iblis (Yesaya 14:12-15): Intinya adalah ambisi egois. Iblis (Lucifer) berkata dalam hatinya, "Aku hendak naik ke langit... hendak menyamai Yang Maha Tinggi." Dunia selalu mengajarkan untuk terus naik, menjadi yang teratas, dan mengandalkan diri sendiri.
2. Sumber Otoritas: Ketaatan vs. Independensi
* Pikiran Kristus: Fokusnya adalah ketaatan total, bahkan sampai mati di kayu salib. Kristus tidak melakukan maunya sendiri, melainkan apa yang Bapa perintahkan.
* Pikiran Dunia: Fokusnya adalah kebebasan tanpa Tuhan. Manusia merasa sukses karena kepandaian dan usahanya sendiri. Video menyebutkan bahwa dunia sering kali menganggap hal-hal tertentu "baik" secara peradaban, tetapi sebenarnya menjauhi kebenaran karena tidak berakar pada ketaatan kepada Tuhan.
3. Respons terhadap Kegagalan/Kelemahan Orang Lain
Ini digambarkan melalui perbedaan sikap antara Sem dan Ham:
* Pikiran Kristus (Diwakili Sem & Yafet): Memiliki kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan. Mereka berjalan mundur untuk menutupi aurat ayahnya—menjaga kehormatan dan martabat. Ini adalah manifestasi dimensi Allah dalam diri manusia.
* Pikiran Dunia (Diwakili Ham): Melihat kelemahan orang lain sebagai bahan olok-olok atau keuntungan pribadi. Ham menceritakan "aib" ayahnya dengan gembira. Video menekankan bahwa ini adalah manifestasi si jahat melalui kedagingan.
4. Hasil Akhir: Pembenaran vs. Kutuk
* Pikiran Kristus: Menghasilkan kehidupan dan pembenaran. Orang yang memiliki pikiran ini tidak bisa "dipulangkan" atau dikuasai oleh iblis karena tidak ada satu pun milik dunia/iblis yang ditemukan di dalam dirinya.
* Pikiran Dunia: Menghasilkan jalan kutuk (Yeremia 17:5). Ketika seseorang mengandalkan kekuatannya sendiri, ia menjadi seperti semak bulus di padang belantara—tampak luar mungkin berhasil, tapi jiwanya kering karena menjauh dari sumber air hidup.
Pesan Inti:
Iblis tidak lagi mencoba menguasai bumi dengan kekuatan fisik, melainkan dengan menyusupkan cara berpikir duniawi ke dalam pikiran manusia. Selama manusia merasa "hebat karena diri sendiri" (seperti Nimrod dengan Menara Babel), ia sedang berada di wilayah kekuasaan iblis.
Bagaimana cara praktis agar kita tetap bisa "memimpin" (memiliki arah) di tempat kerja atau lingkungan kita tanpa terpengaruh pikiran dunia?
ada beberapa langkah praktis agar Anda tetap bisa menjadi "pemimpin" yang memiliki arah di lingkungan kerja atau keseharian tanpa terseret oleh pikiran dunia:
1. Menyadari Identitas sebagai "Anak Kebenaran"
Anda harus memegang prinsip bahwa orang percaya tidak boleh sekadar dipimpin oleh arus, tetapi harus memimpin (memberi arah).
* Di Tempat Kerja (Marketplace): Meskipun secara posisi Anda mungkin seorang staf, secara spiritual Anda harus tetap memegang otoritas kebenaran. Jangan mau dihanyutkan oleh kebijakan atau cara-cara yang "terlihat baik" secara duniawi (seperti kompromi kejujuran) namun salah di mata Tuhan.
2. Membedakan "Yang Baik" vs "Yang Berkenan"
merujuk pada Roma 12:2 untuk memberikan panduan praktis:
* Dunia sering kali menawarkan sesuatu yang tampak "baik" bagi peradaban atau karier.
* Namun, Anda harus selalu bertanya: "Apakah ini berkenan dan sempurna di mata Allah?" Jangan gunakan ukuran manusia untuk menilai keberhasilan tugas Anda, tapi gunakan standar kepuasan Tuhan.
3. Waspada terhadap "Roh Kompromi" saat Berprestasi
Pembicara memberikan peringatan penting: semakin tinggi posisi atau prestasi Anda di dunia, semakin besar tekanan untuk berkompromi.
* Praktiknya: Jangan biarkan sanjungan dunia membuat Anda merasa "hebat karena diri sendiri."
* Tetaplah mengandalkan Tuhan di setiap keputusan kecil, sehingga saat posisi Anda semakin tinggi, Anda tetap memiliki "akar" yang kuat dan tidak mudah terbawa arus ego atau kesombongan.
4. Miliki Prinsip "Nothing in Me" (Tidak Ada Milik Dunia di Dalamku)
Yesus berkata bahwa penguasa dunia (iblis) datang tetapi "tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Nya" karena iblis tidak mendapati apa-apa yang menjadi miliknya di dalam Yesus (Yohanes 14:30).
* Praktiknya: Periksalah motif hati Anda. Jika Anda bekerja demi ambisi pribadi atau harga diri (milik dunia), iblis punya celah untuk mengendalikan Anda.
* Jika Anda bekerja murni sebagai ibadah dan ketaatan, maka dunia tidak punya kuasa untuk menekan atau menjatuhkan mental Anda.
5. Menjadi "Pemberi Arah" melalui Karakter
Seperti Sem yang memilih untuk menutupi kelemahan orang lain (ayahnya) daripada mengolok-oloknya:
* Di lingkungan Anda, jadilah orang yang membangun, menjaga integritas, dan menunjukkan kasih. Karakter seperti ini secara otomatis akan membuat Anda menjadi pemimpin alami yang memberikan arah positif bagi rekan-rekan Anda.
Pertanyaan Komsel
*1. Hal Apa yang menyebabkan Allah menyerahkan manusia kepada keinginan hati mereka (Roma 1:24)? Mengapa demikian? Apakah akibat dari menggantikan kebenaran Allah dengan kebenaran sendiri?*
Roma 1:24 (TB) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.
Jawab:
Menjauhi kebenaran Tuhan berarti seseorang berhenti membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh dan mulai membiarkan hawa nafsu dan / atau emosi manusiawi (seperti rasa tidak hormat yang dilakukan Ham terhadap Nuh dan mengejeknya) mengendalikan hidupnya.
Menjauhi kebenaran berarti membiarkan Diri Dikuasai Keinginan Daging, sebab keinginan daging dan keinginan Roh selalu bertentangan.
Menjauhi kebenaran Tuhan berarti menjadi serupa dengan dunia (Roma 12:2). Hidup dalam kebenaran bukan berarti tidak lagi menghadapi ujian dan pencobaan, tapi menjauhi kebenaran berarti tidak ada lagi perlindungan dari kekuatan kuasa kebenaran itu. Jadi kemenangan itu tidak diperolehnya, melainkan kekalahan.
Mengapa Allah menyerahkan manusia kepada kehendak hati mereka?
Allah menilai bahwa Roh Kudus yang dianugerahkan-Nya tidak lagi berguna untuk menegur dan apalagi mengarahkan mereka, sebab kebebalan mereka, sehingga Ia menyerahkannya kepada keinginan hati mereka. Mungkin ini yang disebut dosa menghujat Roh Kudus. Menghujat bukan lewat kata-kata saja, tapi lewat sikap dan perbuatan.
*2. Oleh karena menolak kebenaran Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk. Apakah yang dimaksud dengan pikiran-pikiran yang terkutuk itu, lalu Apakah perbedaannya dengan pikiran Kristus?*
Jawab:
Pertama, pikiran dunia menghasilkan jalan kutuk (Yeremia 17:5).
Yeremia 17:5 (TB) Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
Kedua.
Ketika seseorang mengandalkan kekuatannya sendiri, ia menjadi seperti semak bulus di padang belantara—tampak luar mungkin berhasil, tapi jiwanya kering karena menjauh dari sumber air hidup.
Kekeringan jiwa (bukan roh, bukan kehausan roh) menyebabkan kehausan dan keinginan menjawab kehausan itu dengan rupa2 keinginan daging dan perbuatan2 kecemaran dan terkutuk.
Jadi pikiran2 terkutuk itu adalah pikiran2 yang jahat dan hanya memuaskan keinginan daging, karena menentang kebenaran dan hukum Allah dengan meninggikan ego (diri sendiri) dan menentang Allah.
*Apa beda pikiran iblis dan Kristus?*
* Pikiran Kristus (Filipi 2:5-8): Intinya adalah kerendahan hati. Kristus, meskipun dalam rupa Allah, tidak mempertahankan kesetaraan itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Dia justru "mengosongkan diri" dan turun menjadi hamba.
* Pikiran Dunia/Iblis (Yesaya 14:12-15): Intinya adalah ambisi egois. Iblis (Lucifer) berkata dalam hatinya, "Aku hendak naik ke langit... hendak menyamai Yang Maha Tinggi." Dunia selalu mengajarkan untuk terus naik, menjadi yang teratas, dan mengandalkan diri sendiri.
* Pikiran Kristus: Fokusnya adalah ketaatan total, bahkan sampai mati di kayu salib. Kristus tidak melakukan maunya sendiri, melainkan apa yang Bapa perintahkan.
* Pikiran Dunia: Fokusnya adalah kebebasan tanpa Tuhan. Manusia merasa sukses karena kepandaian dan usahanya sendiri.
* Pikiran Kristus (Diwakili Sem & Yafet): Memiliki kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan. Mereka berjalan mundur untuk menutupi aurat ayahnya—menjaga kehormatan dan martabat. Ini adalah manifestasi dimensi Allah dalam diri manusia.
* Pikiran Dunia (Diwakili Ham): Melihat kelemahan orang lain sebagai bahan olok-olok atau keuntungan pribadi. Ham menceritakan "aib" ayahnya dan merendahkannya.
*3. Apakah strategi yang iblis lakukan untuk menguasai dunia Selama-lamanya? Dan apa yang Allah kerjakan untuk memutar balikkan strategi dan hikmat dari iblis tersebut?*
Jawab:
Menjauhi kebenaran Tuhan adalah kondisi di mana seseorang merasa tidak perlu mengakui Allah dalam keberhasilannya dan mulai hidup menurut aturan atau standar yang ia buat sendiri. Ia berpikir bahwa yang penting berhasil dan sukses dalam dunia ini walaupun tanpa Tuhan.
Strategi Iblis adalah melalui Kedagingan. Sebab iblis juga tau bahwa roh itu penurut dan daging lemah.
* Meskipun dunia sudah dibersihkan melalui air bah, iblis tetap ada di bumi dan menggunakan faktor kemanusiaan atau keinginan daging untuk memanifestasikan dirinya.
* Iblis berusaha mengganti kebenaran Allah dengan dusta, yang mengakibatkan manusia memiliki pikiran yang terkutuk (berbeda dengan pikiran Kristus).
Strategi Allah: Allah memberikan terang terlebih dulu menghalau kuasa kegelapan, sehingga kegelapan tidak dapat bekerja. Ia meletakkan hukum2Nya ke dalam batin manusia, sehingga manusia memperoleh kesadaran akan dosa dan konsekuensi maut. Manusia bisa masuk dalam kesadarannya, merespon dan membuat pilihan. Ini adalah posisi netral demi menyatakan keadilannya.
Allah konsisten bekerja menurut hukum Allah yang adalah hikmat Allah dan kebenaran Allah. Maka iblis tidak mungkin menang. Tujuannya satu: menjadikan segala sesuatu menjadi baru (Wahyu 21:5). Bukan hanya manusia yang dijadikan-Nya baru, juga langit dan bumi ini menjadi baru. Namun hanya manusia kebenaran yang akan mewarisi bumi ini. Mereka inilah yang menempati posisi strata serupa dan segambar dengan Allah dan bukan sekedar menjadi makhluk hidup atau strata yang baik dan sangat baik, seperti makhluk ciptaan lainnya.
*4. Apa yang harus saudara lakukan supaya tetap berjalan pada kebenarannya Allah dan bukan pada kebenaran sendiri?*
Jawab:
Jangan pernah menolak terang dan kebenaran Allah. Jangan menjauh dan lari dari hadapan Tuhan seperti Kain. Lari dari hadapan Allah akan membuat hidup dan pribadi kita terhilang dari pandangan (exposure) Allah, sehingga Ia tidak dapat menjadikan kita menjadi baru (makhluk ciptaan baru). Ini bukan sekedar posisi tapi hanya manusia ciptaan baru itu yang unik, karena bisa menjamah (mengakses) 2 alam, yakni alam surgawi dan alam natural pada saat bersamaan, sebagaimana Yesus.
Iblis (antikristus) tidak lagi mencoba menguasai bumi dengan kekuatan fisik, melainkan dengan menyusupkan cara berpikir duniawi ke dalam pikiran manusia. Selama manusia merasa "hebat karena diri sendiri" (seperti Nimrod dengan Menara Babel), ia sedang berada di wilayah kekuasaan iblis. Ini menjadikan dirinya sebagai mitra antikristus.
Bagaimana cara praktis agar kita tetap bisa "memimpin" (memiliki arah) di tempat kerja atau lingkungan kita tanpa terpengaruh pikiran dunia?
1. Menyadari Identitas sebagai "Anak Kebenaran" alias anak-anak terang.
Kita harus memegang prinsip bahwa orang percaya tidak boleh sekadar dipimpin oleh arus, tetapi harus memimpin (memberi arah, menjadi kepala dan bukan ekor).
* Di Tempat Kerja (Marketplace): Meskipun secara posisi sdr mungkin seorang staf, secara spiritual sdr harus tetap memegang otoritas kebenaran.
Jangan mau dihanyutkan oleh kebijakan atau cara-cara yang "terlihat baik" secara duniawi (seperti kompromi kejujuran) namun salah (tidak benar, tidak berkenan) di mata Tuhan.
2. Membedakan "Yang Baik" vs "Yang Berkenan"
merujuk pada Roma 12:2 untuk memberikan panduan praktis:
* Dunia sering kali menawarkan sesuatu yang tampak "baik" bagi peradaban atau karier.
*tapi Apakah ini berkenan dan sempurna di mata Allah?" Jangan gunakan ukuran manusia untuk menilai keberhasilan dan sekedar menjalankan tugas, tapi gunakan standar kepuasan Tuhan.
3. Waspada terhadap "Roh Kompromi". Semakin tinggi posisi atau prestasi sdr di dunia, semakin besar tekanan untuk berkompromi.
* Praktiknya: Jangan biarkan sanjungan dunia membuat sdr merasa "hebat karena diri sendiri."
* Tetaplah mengandalkan Tuhan di setiap keputusan kecil, sehingga saat posisi sdr semakin tinggi, sdr tetap memiliki "akar" yang kuat dan tidak mudah terbawa arus ego atau kesombongan.
4. Miliki Prinsip "Nothing in Me" (Tidak Ada Milik Dunia di Dalamku)
Yesus berkata bahwa penguasa dunia (iblis) datang tetapi "tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Nya" karena iblis tidak mendapati apa-apa yang menjadi miliknya di dalam Yesus (Yohanes 14:30).
* Periksalah motif hati sdr. Jika sdr bekerja demi ambisi pribadi atau harga diri (standar dunia), iblis punya celah untuk mengendalikan sdr.
* Jika sdr bekerja murni sebagai ibadah dan ketaatan, maka dunia tidak punya kuasa untuk menekan atau menjatuhkan mental sdr.
5. Menjadi "Pemberi Arah" melalui Karakter
Seperti Sem yang memilih untuk menutupi kelemahan orang lain (ayahnya) daripada mengolok-oloknya:
* Di lingkungan, jadilah orang yang membangun, menjaga integritas, dan menunjukkan kasih.
Baca: 1 Kor 13:4-10
1 Korintus 13:7 (TB) Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Karakter seperti ini secara otomatis akan membuat sdr menjadi pemimpin alami yang memberikan arah positif bagi orang lain.