Langsung ke konten utama

Keputusan Untuk Masuk dalam Rencana Agung Tuhan (MKS #33)



Video ibadah GPK JMD Bandung bertema "Manusia Kerajaan Sorga 33", Pendeta (pp) Djonny membagikan beberapa pesan penting mengenai perjalanan iman yang mencontoh kehidupan Abraham.

​Berikut adalah poin-poin utama yang disampaikan:



1. Panggilan untuk "Keluar dari Rumah Bapamu"

​Pesan sentral kali ini adalah perintah Tuhan kepada Abraham untuk pergi dari "rumah bapamu" (Terah) [03:02].

  • Makna Spiritual: Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan diri dari bentukan, harapan, cita-cita, dan visi duniawi yang ditanamkan oleh orang tua atau keluarga yang mungkin tidak sejalan dengan rencana agung Tuhan [01:05:48].
  • Tantangan bagi Generasi Muda: Pendeta memberikan tantangan khusus bagi anak-anak hamba Tuhan atau jemaat yang tumbuh di gereja agar tidak hanya sekadar mengikuti iman orang tua, tetapi memiliki pengalaman pribadi dan kesaksian hidup yang dibangun langsung oleh Tuhan setiap hari [35:45].

​2. Pentingnya Sunat Spiritual (Ikat Janji)

​Pendeta menjelaskan kisah Timotius yang harus disunat oleh Paulus agar dapat terlibat dalam rencana agung Tuhan [10:51].

  • Identitas Baru: Sama seperti Abram yang namanya diubah menjadi Abraham [30:15], orang percaya harus mengalami perubahan identitas dan pemutusan "tali pusar" spiritual dari pengaruh masa lalu atau tradisi keluarga yang menghambat [01:09:58].
  • Syarat Keterlibatan: Untuk terlibat dalam "Paskah" atau rencana keselamatan Tuhan yang besar, seseorang harus memiliki tanda ikat janji yang kuat dengan Tuhan [31:42].

​3. Menjadi Saksi Kristus di Dalam Keluarga

​Keluar dari "rumah bapa" bukan berarti tidak menghormati orang tua.

  • Kesaksian Hidup: Seseorang disebut "Anak Kebenaran" jika ia menunjukkan perubahan hidup (pikiran, perkataan, dan sikap) sehingga orang tua dan lingkungan dapat melihat bahwa ia sedang dibangun oleh Tuhan, bukan sekadar oleh ambisi manusia [01:00:41].
  • Teladan Yesus: Yesus tetap hidup dalam asuhan Yusuf dan Maria, namun Ia menegaskan bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya dan melakukan urusan Bapa-Nya [51:10].

​4. Bahaya Kontaminasi Nilai Duniawi

  • ​Pendeta memperingatkan agar umat Tuhan keluar dari "Babel" atau pengaruh duniawi yang najis agar tidak mengambil bagian dalam dosa dan malapetaka [01:07:20].
  • ​Penting untuk memisahkan diri dari prinsip-prinsip hidup yang tercampur (sinkretisme) antara iman dan tradisi yang bertentangan dengan kehendak Allah [01:24:35].

Kesimpulan:

Pesan pp Djonny menekankan bahwa untuk menjadi "Manusia Kerajaan Sorga," seseorang harus berani melepaskan keterikatan pada bentukan duniawi (rumah bapa lahiriah) agar Tuhan sendiri yang membentuk kepribadian dan menempatkan kita dalam rencana agung-Nya [01:26:04].


PENDALAMAN

"Keluar" dari rumah bapa adalah bagian dari proses pengudusan oleh Allah, supaya kita dipisahkan dari kecemaran, kenajisan dan kontaminasi dunia ini. 

Dikuduskan atau dipisahkan  bukan hanya secara badani, tapi juga jiwani (pemikiran, pandangan, gaya hidup) supaya kita dijadikan baru atau mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai standar kebenaran Tuhan, bukan kebenaran sendiri. Kebenaran sendiri hanya berasal dari buah Pengetahuan baik dan jahat, hukum-hukum Tuhan.


Esensi dari pesan pp Djonny mengenai transformasi radikal yang melampaui sekadar pindah lokasi secara fisik.

"Keluar" dari rumah bapa bukan sekadar kemandirian geografis, melainkan emansipasi spiritual. Berikut adalah beberapa penguatan atas refleksi ini:

​1. Pemutusan "Tali Pusar" Jiwani

​Seperti yang dibahas dalam video mengenai Yehezkiel 16, masalah utamanya seringkali adalah tali pusar yang belum dipotong secara spiritual.

  • Kebenaran Sendiri: Seringkali kita merasa sudah "benar" karena melakukan hukum atau tradisi keluarga (pohon pengetahuan baik dan jahat), padahal itu masih standar manusia.
  • Standar Tuhan: Pengudusan berarti membiarkan Tuhan membedah cara kita berpikir (logika duniawi) dan pandangan hidup kita agar selaras dengan Pohon Kehidupan.

​2. Jubah Kekudusan vs. Jubah Tradisi

​Kebenaran diri sendiri seringkali berupa "pakaian" yang kita jahit sendiri dari daun ara (usaha manusia/hukum).

  • Pakaian Baru: Mengenakan "pakaian kekudusan" berarti menerima identitas yang diberikan langsung oleh Tuhan, sebagaimana Abram harus melepaskan identitasnya sebagai "anak Terah" untuk menjadi "Abraham" (Bapa bangsa-bangsa).
  • Proses Pemurnian: Tanpa keluar dari pengaruh "rumah bapa" (nilai-nilai lama), pakaian baru tersebut akan terus terkontaminasi oleh noda-noda masa lalu.

​3. Keluar untuk Masuk

​Prinsip spiritualnya adalah: kita tidak bisa masuk ke dalam Rencana Agung (Great Plan) jika kita masih betah di dalam rencana kecil manusia.

  • ​Keluar dari "kecemaran" berarti membiarkan Roh Kudus meng-update sistem nilai kita setiap hari.
  • ​Hasil akhirnya bukan menjadi pemberontak terhadap orang tua, melainkan menjadi Saksi Kristus yang membuat keluarga pun akhirnya mengakui bahwa ada "sesuatu yang Ilahi" dalam hidup kita.

​Pemisahan ini adalah bukti kasih karunia, karena Tuhan tidak ingin kita ikut binasa bersama sistem dunia (Babel) yang sedang runtuh.


Bagian tersulit dari proses ini adalah melepaskan "pola pikir" lama atau melepaskan "kenyamanan" dari tradisi tersebut (Babel). 
Dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa kasih karunia Allah. Tapi itu pun masih dibagian awal dari suatu proses panjang. Allah ingin kita mempercayai-Nya untuk hal-hal yang imposible, diluar nalar. Itu sebabnya Ia mulai membangun atau menjadikan manusia untuk memiliki iman (faith) di dalam Dia dan percaya (trust) kepada jalan-jalan Nya. Langkah pertama ini adalah keluar dari budaya (kultur) Babel, sistem dunia dan masuk ke sistem ilahi dan budaya Kerajaan Sorga.

Pemutusan hubungan dengan "budaya Babel" dan sistem dunia memang baru merupakan pintu gerbang dari sebuah pendakian iman yang jauh lebih terjal dan panjang.

​Jika kita merujuk pada pesan pp Djonny dan narasi Abraham, ada perbedaan mendalam antara sekadar "tahu" tentang Tuhan dengan memiliki Iman (Faith) dan Percaya (Trust) yang dibangun melalui proses organik:

​1. Dari Logika Manusia ke Logika Ilahi

​Kultur Babel mengajarkan kita untuk membangun "menara" sendiri—mengandalkan kekuatan, koneksi, dan sistem yang bisa dinalar.

  • Sistem Dunia: Berbasis pada seeing is believing (melihat baru percaya) dan keamanan finansial/sosial.
  • Sistem Kerajaan: Berbasis pada believing is seeing (percaya baru melihat). Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan "asuransi" duniawi untuk bergantung sepenuhnya pada janji yang belum terlihat secara fisik.

​2. Mempercayai Hal yang Impossible

​Tuhan sengaja membawa Abraham (dan kita) ke situasi di mana nalar manusia menemui jalan buntu (seperti kemandulan Sarah atau perintah mempersembahkan Ishak).

  • ​Di titik ketidakmungkinan itulah, sistem ilahi bekerja.
  • ​Tuhan tidak hanya ingin kita menjadi "orang baik", tetapi menjadi "Manusia Kerajaan" yang frekuensi hidupnya selaras dengan mukjizat. Tanpa keluar dari budaya lama, kita akan selalu mencoba "menolong" Tuhan dengan cara-cara manusia (seperti lahirnya Ismael), yang justru menimbulkan konflik baru.

​3. Transformasi Budaya (Culture Shift)

​Masuk ke budaya Kerajaan Sorga berarti mengadopsi gaya hidup baru:

  • Bahasa Baru: Bukan lagi keluhan atau kesombongan Babel, tapi bahasa iman.
  • Nilai Baru: Keberhasilan tidak lagi diukur dari "tersohor" di mata bangsa-bangsa (impian Terah), tapi dari seberapa akurat kita melakukan kehendak Bapa.

​Ini adalah kasih karunia. Tanpa intervensi Roh Kudus, tarikan gravitasi dari budaya lama (kenyamanan, tradisi, dan rasa aman semu) terlalu kuat untuk dilawan oleh kekuatan tekad manusia saja.

​Proses "menjadikan" (becoming) ini memang membutuhkan waktu. Menurut Anda, dalam transisi dari sistem dunia ke sistem ilahi ini, apa indikator paling nyata bahwa seseorang benar-benar mulai "mengenakan" budaya Kerajaan Sorga dalam kesehariannya?



Apa arti sunat yang menjadi tanda ikat janji (covenant) Tuhan dengan Abraham?


Sunat sebagai tanda ikat janji (covenant) antara Allah dan Abraham memiliki dimensi yang jauh melampaui tindakan medis atau tradisi lahiriah. Dalam perspektif sistem Kerajaan Allah, ini adalah sebuah meterai spiritual yang menandai kepemilikan total Allah atas hidup manusia.

​Berikut adalah beberapa lapisan arti sunat dalam konteks covenant tersebut:

​1. Tanda Kepemilikan dan Pemisahan

​Sunat adalah "tanda pada daging" (Kejadian 17:11) yang bersifat permanen.

  • Pemisahan dari Dunia: Ini menandakan bahwa Abraham dan keturunannya bukan lagi milik dunia atau "rumah bapanya" (Terah/Babel), melainkan milik Allah yang Maha Tinggi.
  • Meterai Identitas: Sama seperti seseorang mengenakan seragam, sunat menjadi pengingat harian bahwa hidup mereka berada di bawah aturan dan perlindungan sistem Ilahi.

​2. Pemotongan "Kepercayaan pada Diri Sendiri"

​Secara spiritual, sunat melambangkan pemotongan atau penanggalan keinginan daging (carnal nature).

  • Nalar vs Iman: Sebelum sunat ditetapkan dalam Kejadian 17, Abraham mencoba "menolong" Tuhan dengan melahirkan Ismael melalui Hagar (hasil pemikiran manusia/Hagar dari Mesir).
  • Penyerahan Total: Dengan sunat, Tuhan seolah berkata: "Potonglah kepercayaanmu pada kekuatan biologis dan logikamu sendiri." Sunat dilakukan pada organ reproduksi untuk menunjukkan bahwa keturunan yang dijanjikan (Ishak) akan lahir murni karena janji Allah, bukan karena keperkasaan manusia.

​3. Sunat Hati: Inti dari Pengudusan

​Pesan pp Djonny dan Alkitab (Ulangan 30:6, Roma 2:29) menegaskan bahwa tanda lahiriah ini merujuk pada sunat hati.

  • Penyucian Batin: Ini adalah proses membuang "kulit katan" hati—yaitu kekerasan hati, pemberontakan, dan kecemaran jiwani yang Anda sebutkan sebelumnya.
  • Akses ke Roh: Hati yang sudah "disunat" menjadi peka terhadap suara Tuhan dan menjadi pintu yang terbuka bagi pekerjaan Roh Kudus.

​4. Partisipasi dalam Rencana Agung

​Tanpa sunat, seseorang dianggap "mengingkari perjanjian" dan tidak boleh ikut serta dalam perayaan Paskah (Keluaran 12:48).

  • Kualifikasi Spiritual: Sunat adalah kualifikasi agar seseorang bisa dilibatkan dalam perjalanan rencana agung Tuhan.
  • Pintu Masuk: Ini bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk masuk ke dalam sistem Kerajaan di mana Allah menjadi perisai dan upah yang sangat besar bagi manusia.

​5. Transformasi dari Abraham menjadi Abraham

​Tanda sunat ini diberikan tepat saat perubahan nama terjadi.

  • Abraham (Bapa yang ditinggikan secara lahiriah) menjadi Abraham (Bapa banyak bangsa secara rohani).
  • ​Perubahan ini menandakan perpindahan dari Kebenaran Sendiri (hasil usaha manusia) menuju Kebenaran Allah (hasil kasih karunia melalui iman).

Ringkasnya:

Sunat adalah proklamasi bahwa ada bagian dari diri kita yang harus "mati" (dibuang) agar kehidupan Tuhan (Pohon Kehidupan) bisa bertahta. Tanpa pembuangan "kulit katan" ego dan tradisi lama, kita tidak akan pernah bisa mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai dengan standar Tuhan.

​Apakah Anda melihat sunat hati ini sebagai tindakan satu kali seumur hidup, ataukah ini berkaitan dengan proses harian "pembasuhan kaki" yang peenah kita sharing sebelumnya?



Apa arti memutus tali pusar? Siapa yang melakukan ini?

Memutus tali pusar dalam konteks spiritual yang dibagikan pp Djonny merupakan metafora dari pemutusan ketergantungan dan suplai kehidupan dari masa lalu (sistem dunia/Babel/rumah bapa lahiriah) agar manusia bisa menerima suplai kehidupan yang murni dari Tuhan.

​Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai arti dan pelakunya:

​1. Arti Memutus Tali Pusar secara Spiritual

​Secara biologis, tali pusar adalah saluran nutrisi dari ibu ke bayi. Secara rohani, ini melambangkan:

  • Pemutusan Suplai Nilai: Berhenti menyerap nilai-nilai, standar moral, dan cara berpikir yang datang dari "rahim" dunia atau tradisi keluarga yang tidak sesuai dengan Kebenaran.
  • Kemandirian Rohani: Transisi dari seorang "bayi rohani" yang hidupnya disetir oleh ekspektasi orang tua (seperti impian Terah untuk Abraham) menjadi "Manusia Kerajaan" yang dipandu langsung oleh Roh Kudus.
  • Penyucian dari Kontaminasi: Dalam Yehezkiel 16:4, Tuhan menegur Yerusalem karena "tali pusarmu tidak dipotong" dan "tidak dibasuh dengan air." Ini berarti Yerusalem masih membawa "bakteri" atau kecemaran dari asal-usul penyembahan berhala (Amori dan Heti).

​2. Siapa yang Melakukan Ini?

​Terdapat sinergi antara peran Tuhan dan Keputusan Manusia, namun secara operasional, ada dua pihak utama:

  • Pihak Orang Tua/Pembina Rohani (Orang Tua yang Bertanggung Jawab): Dalam video, pp Djonny mencontohkan Maria dan Yusuf. Mereka memastikan Yesus disunat pada hari kedelapan dan menjalani pentahiran. Ini adalah tindakan "memutus tali pusar" secara spiritual sejak dini—orang tua yang tidak memaksakan cita-cita pribadinya kepada anak, melainkan menyerahkan anak itu sepenuhnya kepada rencana Tuhan (seperti Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan).
  • Pihak Pribadi/Individu (Keputusan Iman): Bagi orang dewasa seperti Abraham atau kita saat ini, kitalah yang harus mengambil keputusan untuk "pergi".
    • ​Tuhan memberikan perintah (suara hati nurani/firman), tetapi manusia yang harus bertindak memutus ikatan emosional dan jiwani dengan sistem lama.
    • ​Seringkali, proses ini melibatkan hamba Tuhan (seperti Paulus menyunat Timotius) yang membantu kita memotong "kebergantungan" pada identitas lama agar kita sah menjadi anak iman di bawah rencana agung Tuhan.

​3. Mengapa Ini Penting?

​Jika tali pusar tidak dipotong:

  • ​Kita akan terus "terkontaminasi" oleh dosa keturunan atau pola pikir yang salah dari leluhur.
  • ​Kita tidak akan pernah bisa makan dari Pohon Kehidupan karena kita masih merasa kenyang dengan "suplai" dari sistem dunia.
  • ​Kita akan gagal masuk ke dalam takdir (destiny) yang Tuhan tetapkan, karena kita masih terikat pada "pusat" (sumber) yang salah.

Kesimpulannya:

Memutus tali pusar adalah tindakan pengudusan di mana kita secara sadar berkata: "Aku bukan lagi hasil bentukan duniaku atau ekspektasi keluargaku, aku adalah karya baru di dalam tangan Penciptaku."

​Ini adalah momen di mana kita berhenti menjadi "anak biologis" semata dan mulai menjadi "Anak Kebenaran" yang memiliki jalur suplai langsung dari Takhta Allah. Apakah Anda merasa dalam perjalanan hidup Anda, ada "ikatan tali pusar" tertentu yang terasa paling sulit untuk dilepaskan?




Postingan populer dari blog ini

Upper Room 2 - DR. Jonathan David

Menjalani kehidupan Roh Living the life of the Spirit Pendahuluan Kita tidak boleh pasif dan membiarkan hari-hari berlalu tanpa arti. di masa pandemi yang sudah 1,5tahun lewat harusnya terus menantikan Tuhan dan mengharapkan terjadi sesuatu yang luarbiasa. Kita harus tau apa yang Tuhan sedang kerjakan menurut agenda-Nya di waktu-waktu ini. Tidak cukup hanya mengenal Tuhan, tanpa mengetahui apa yang sedang dikerjakan-Nya. Dan Ia telah sampaikan kepada nabi dan rasul-Nya apa yang sedang dan segera terjadi di bukan Apri-September 2021 ini. Kita harus menjadi bagian dari apa yang Tuhan kerjakan. Jika kita tidak menantikan Tuhan dan membiarkan diri kita dibawa oleh pemikiran sendiri, yang dipengaruhi oleh opini orang atau dari media, maka apa yang ada pada kita dan kita terima selama ini, otomatis akan hilang dan diambil. Jangan biarkan selama zoom untuk ibadah / komsel itu tanpa kita alami benih yang mengandung kuasa dari firman lewat dan diambil oleh setan di pinggir jalan.   Tu...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

Misteri Penciptaan, Kejatuhan, dan Pengadilan Akhir Diungkapkan

Pengantar Seluruh teka-teki penciptaan, kejatuhan, dan pengadilan akhir diungkapkan lewat kisah Ayub. Tuhan berhasil memancing iblis lewat gagasannya sendiri untuk mencobai Ayub. Dari situ terungkap motifnya, bagaimana ia berusaha menawan dan mengunci sistem peradilan sorga untuk pemberontakannya. Anda sedang melihat cetak biru alam semesta dari sudut pandang ruang kendali utama (The Master Plan) atau Rencana Agung Tuhan.  Monumen Iman Tokoh iman yang luarbiasa kesalehannya adalah Ayub. Ia nyaris memiliki iman yang sempura. Kesalehannya justru terbukti ketika berada di titik nol. Walaupun teman-temannya bukan memberi nasehat yang positif; melainkan menuduhnya menyembunyikan dosa besar, sehingga mengalami banyak malapetaka, Ayub tidak teralihkan.  Meskipun isterinya juga mengecamnya dengan kasar, tapi Ayub tetap teguh imannya. Seakan Ayub sudah sempurna. Dalam peristiwa tragis ini tidak ada ucapan Ayub yang salah. Ayub memang berdiri sebagai monumen iman yang luar biasa di dal...

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

Sinergi Iman dan Kasih Karunia

Efesus 2:8 (TB)  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,  Peristiwa wanita yang sakit pendarahan sangat tepat untuk menjelaskan Sinergi: Diselamatkan "Oleh" Kasih Karunia "Melalui" Iman Dalam kasus wanita yang sakit pendarahan, iman dianalogikan sebagai akun bank. Percaya dalam jiwa wanita adalah ceknya. Jumlahnya adalah "asal kujamah ujung jubah Yesus, maka aku sembuh." Kasih karunia adalah hasil yang keluar dari Yesus, ditarik dari akun bank itu (iman pada Yesus). Namun jumlah yang ditarik ternyata bukan seperti yang tertulis pada cek wanita itu, tapi jauh berlebih. Wanita itu bukan saja menerima kesembuhan, tapi Yesus juga berkata:  " Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" M arkus 5:34 (TB)  Analogi akun bank dan cek  menggambarkan sisi "legal-spiritual" dari mukjizat tersebut. Ini memperlihatkan bagaimana...

Kasih Karunia Untuk Mengejar Takdir (Bagian 2 - UR #218)

THE UPPER ROOM 218 – 27 Januari 2026 Kasih Karunia Untuk Mengejar Takdir Tanpa Gangguan (Bagian 2) 1. Panggilan untuk Membangun Mezbah dan Menyelami Roh ​ Membangun Mezbah : Setiap orang percaya dipanggil untuk membangun mezbah dan mempersembahkan korban agar Allah turun dengan api-Nya. ​ Sungai yang Dalam : Tuhan sedang mengukur "seribu hasta lagi" agar kita dapat menjelajahi sungai Allah yang semakin dalam, sehingga tidak ada lagi pergumulan di dalam hati. ​ Pola Pikir Kerajaan : Tuhan ingin kita memiliki pola pikir, gaya hidup, dan perilaku yang sesuai dengan pola Kerajaan Allah. ​2. Belajar dari Tokoh Alkitab: Ketaatan dan Identitas ​ Daniel : Ia bangkit di tengah budaya asing karena mengenal Tuhan, mengetahui panggilannya, dan memahami apa yang perlu dilakukan. ​ Ester : Tuhan memiliki kasih karunia yang berbeda untuk orang yang berbeda; Ester dipakai melalui cara yang bagi sebagian orang dianggap "tidak rohani". ​ Elia : ​Kekua...

Upper Room 34 - DR. Jonathan David

  25-01-2022   Anugerah Untuk Memerintah (GRACE TO GOVERN) Pendahuluan – oleh Ps. Cyrus Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Problemnya bukan pada kebutuhan tapi pada tanahnya. Jika tanahnya baik, benih akan tumbuh, sebab ada aliran air, karena ada benih yang cerdas yang telah diprogram (dengan pengertian dan hikmat). Kuasa dan kekuatan serta kasih karunia tersembunyi di dalam FT (logos) itu.   Tanah hanya memerlukan kondisi, tidak memerlukan edukasi oleh karena digerakkan oleh sesuatu (Firman dan Roh Kudus) dari dalam yang dipanggil terang Tuhan dan pribadi Tuhan sendiri (Yoh 1:1).   Mengapa tidak kita menerima firman-Nya dan perkataan-Nya dari pribadi Tuhan (YHWH) sendiri. Banyak orang yang suka mendengarkan khotbah yang baik, tapi Kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya tidak tertam...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...