Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan sesi pengajaran Dr. Tunde Bakare mengenai "Gunung Politik Pemerintahan":
1. Prinsip Pola Ilahi (Cetak Biru)
Segala sesuatu yang dibangun untuk Tuhan harus mengikuti pola atau cetak biru yang diberikan-Nya di atas gunung.
- Musa: Menerima pola Kemah Suci di puncak gunung (Keluaran 25:9, 40).
- Daud: Menerima rancangan Bait Suci yang ditulis oleh Roh Allah di dalam hatinya, kemudian ia membeli Gunung Moria sebagai lokasinya.
- Gereja: Berbeda dengan Musa dan Daud, gereja tidak memiliki pola tertulis melainkan memiliki patron manusia yaitu para rasul dan nabi sebagai fondasi. Tanpa fondasi kerasulan dan kenabian, gereja hanya akan menghasilkan petobat, bukan murid yang mampu menjalankan misi.
2. Realita Tantangan: Dominasi Babel
Dr. Bakare menjelaskan bahwa saat ini, ketujuh gunung budaya (termasuk politik) didominasi oleh Babel, "ibu dari segala pelacur".
- Babel duduk di atas "banyak air" yang melambangkan bangsa-bangsa, rakyat banyak, dan kaum bahasa.
- Babel "mabuk oleh darah orang-orang kudus," yang berarti musuh menggunakan hidup dan jerih payah umat Tuhan untuk membangun kerajaannya sendiri.
- Di gunung politik, terdapat "preman-preman" yang bersatu untuk menjarah bangsa. Seseorang harus benar-benar matang, kuat, dan memiliki karakter yang teruji sebelum masuk ke gunung ini agar tidak dimakan mentah-mentah atau tercemar oleh sistemnya.
3. Strategi Penaklukan Gunung
Untuk menggulingkan Babel dari gunung-gunung tersebut, Tuhan memberikan strategi melalui kitab Mikha dan Yehezkiel:
- Tujuh Gembala dan Delapan Pemimpin: Berdasarkan Mikha 5, Tuhan akan membangkitkan tujuh gembala yang kuat untuk membongkar pekerjaan Babel, dan delapan pemimpin (pangeran) yang belajar dari mereka untuk ditempatkan secara strategis.
- Bernubuat kepada Gunung: Umat Tuhan dipanggil untuk bernubuat kepada gunung-gunung, bukit-bukit, sungai, dan lembah di wilayah mereka (Yehezkiel 36). Tujuannya adalah agar gunung-gunung tersebut "bertunas kembali" dan menghasilkan buah bagi umat-Nya.
- Menjadi Raja Gunung: Melalui ujian iman, seseorang dapat naik posisi menjadi "raja dari gunung" dan mulai menyampaikan firman nubuatan untuk membebaskan bangsanya.
4. Hakikat Pemerintahan dan Kedaulatan
- Tujuan Pemerintahan: Pemerintahan yang benar diletakkan di atas bahu Kristus dan bertujuan untuk kesejahteraan serta keamanan rakyat. Segala sesuatu yang kurang dari itu dianggap sebagai agenda setan.
- Kedaulatan: Kedaulatan suatu bangsa berada di tangan Tuhan dan rakyat, bukan di tangan penguasa semata. Mengabaikan hak pilih atau dipilih berarti menjadi bagian dari musuh bangsa.
- Warisan Bangsa: Tuhan telah memberikan warisan dan sumber daya kepada setiap bangsa di bumi (Ulangan 32:7-8). Masalah utama yang membedakan negara maju dan berkembang bukanlah sumber daya, melainkan kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia.
5. Mandat bagi Orang Percaya
- Melawan Penindasan: Orang percaya harus memiliki roh yang menolak penindasan dan berani bersuara bagi mereka yang lemah.
- Karakter yang Sempurna: Sebelum terlibat dalam politik, seseorang harus menjadi "Israel sejati yang tidak ada tipu daya di dalamnya".
- Doa Strategis: Kita diperintahkan mendoakan para penguasa agar tercipta kedamaian sebagai fondasi pertumbuhan. Namun, ada kalanya doa juga dipanjatkan agar penguasa yang jahat dan menindas disingkirkan oleh Tuhan.
- Pengabdian Total: Dr. Bakare menekankan pentingnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, seperti pengalamannya kembali ke Nigeria meskipun harus meninggalkan kenyamanan di Amerika demi menjalankan tugas kenabiannya.
Catatan ini menunjukkan bahwa penguasaan "Gunung Politik" memerlukan kombinasi antara ketaatan pada pola ilahi, keberanian nubuatan, dan integritas karakter untuk membebaskan bangsa dari penindasan.
Q&A Page
1. Bagaimana strategi "tujuh gembala dan delapan pemimpin" diterapkan?
Strategi "tujuh gembala dan delapan pemimpin" merupakan rancangan strategis yang diambil dari kitab Mikha 5 untuk menggulingkan dominasi sistem "Babel" di atas gunung-gunung budaya, termasuk gunung politik.
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai penerapan strategi tersebut berdasarkan sumber:
1. Membangkitkan Tujuh Gembala yang Kuat
Tuhan akan membangkitkan tujuh gembala yang memiliki kekuatan rohani untuk menghadapi "Asyur" atau sistem penindasan yang masuk ke wilayah umat Tuhan.
- Peran: Setiap gembala bertugas untuk menyerang, membongkar, dan menghancurkan pekerjaan Babel di atas tujuh gunung budaya.
- Tujuan: Menghentikan operasi musuh yang selama ini menjarah bangsa dan "mabuk oleh darah orang kudus" (menggunakan hidup umat Tuhan untuk membangun kerajaan dunia).
2. Menyiapkan Delapan Pemimpin (Pangeran)
Bersamaan dengan tujuh gembala, Tuhan membangkitkan delapan pemimpin atau pangeran manusia.
- Proses Belajar: Delapan pemimpin ini harus belajar dari ketujuh gembala tersebut. Mereka dibentuk melalui proses pemuridan agar memiliki karakter yang teruji dan tidak tercemar oleh sistem dunia.
- Penempatan Strategis: Setelah belajar, kedelapan pemimpin ini akan ditempatkan secara strategis di berbagai posisi di dalam gunung-gunung budaya tersebut.
3. Eksekusi Nubuatan kepada Gunung-Gunung
Strategi ini tidak hanya berhenti pada penempatan orang, tetapi juga melibatkan tindakan nubuatan yang aktif.
- Bernubuat: Umat Tuhan diperintahkan untuk berdiri di hadapan gunung-gunung, bukit-bukit, sungai, dan lembah untuk menyampaikan firman Tuhan.
- Memulihkan Produktivitas: Tujuan dari nubuatan ini adalah agar gunung-gunung yang sebelumnya dikuasai musuh mulai "bertunas kembali" dan menghasilkan buah (kesejahteraan) bagi umat Tuhan.
- Menyingkirkan Penindasan: Strategi ini diterapkan untuk menghentikan penindasan, di mana hukum dan keadilan sering kali diperkosa oleh pejabat tinggi yang saling melindungi.
4. Membawa Transformasi Pemerintahan
Hasil akhir dari penerapan strategi ini adalah pergeseran kekuasaan dari Babel kepada umat Tuhan yang memiliki hikmat dan integritas.
- Kesejahteraan Rakyat: Strategi ini bertujuan untuk memastikan fungsi pemerintahan kembali pada tujuan aslinya, yaitu kesejahteraan dan keamanan rakyat.
- Kepemimpinan yang Benar: Perbedaan antara negara maju dan berkembang terletak pada kepemimpinannya; melalui strategi ini, diharapkan muncul pemimpin yang menggunakan sumber daya bangsa demi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.
Secara ringkas, strategi ini diterapkan dengan cara membesarkan gembala-gembala yang kuat untuk meruntuhkan struktur yang lama, lalu mencetak pemimpin-pemimpin baru melalui pemuridan untuk mengambil alih posisi strategis di gunung pemerintahan melalui doa dan nubuatan yang konsisten.
2. Apa yang dimaksud dengan menjadi 'raja dari gunung'?
Berdasarkan khotbah tersebut, menjadi 'raja dari gunung' (king of the mountain) adalah sebuah posisi otoritas rohani dan kepemimpinan yang dicapai setelah seseorang melewati ujian iman yang berat. Istilah ini merujuk pada kitab Habakuk 3:17-19 dalam versi The Message (MSG).
Berikut adalah penjelasan lebih mendalam mengenai maknanya menurut sumber tersebut:
- Hasil dari Ujian Iman: Seseorang menjadi 'raja dari gunung' ketika ia tetap teguh di dalam Tuhan meskipun situasi di sekitarnya tampak gagal, seperti saat pohon ara tidak berbunga, pohon zaitun tidak berbuah, atau ketika uang habis.
- Otoritas Nubuatan: Menjadi raja gunung berarti memiliki kapasitas untuk bernubuat kepada gunung-gunung, bukit-bukit, sungai, dan lembah di wilayah kekuasaan Anda. Seseorang dalam posisi ini berdiri dan menyatakan firman Tuhan untuk mengubah keadaan wilayahnya.
- Kematangan Karakter: Untuk menduduki posisi ini di gunung politik atau budaya, seseorang harus matang sempurna, kuat, dan utuh secara karakter. Hal ini penting agar saat muncul di puncak gunung, musuh (sistem Babel) tidak menemukan celah untuk mencemari atau "memakan mentah-mentah" orang tersebut.
- Misi Pembebasan: Sebagai 'raja dari gunung', tujuannya adalah untuk mengusir pengaruh Babel dan memastikan gunung-gunung tersebut mulai "bertunas kembali" serta menghasilkan buah demi kesejahteraan dan keamanan rakyat.
- Melawan Penindasan: Posisi ini menuntut seseorang untuk membawa roh yang menolak penindasan dan berani bersuara untuk membebaskan mereka yang lemah di wilayahnya.
Secara ringkas, menjadi 'raja dari gunung' bukan sekadar tentang posisi jabatan, melainkan tentang otoritas yang lahir dari integritas dan ketaatan kepada Tuhan, yang digunakan untuk membawa transformasi nyata bagi bangsa.
3. Bagaimana cara bernubuat kepada gunung untuk memulihkan produktivitas bangsa?
Bernubuat kepada gunung untuk memulihkan produktivitas bangsa melibatkan langkah-langkah strategis dan spiritual sebagai berikut:
1. Menetapkan Otoritas sebagai "Raja dari Gunung"
Sebelum bernubuat, seseorang harus mencapai posisi otoritas rohani yang disebut "raja dari gunung". Posisi ini diraih setelah seseorang melewati ujian iman yang berat—tetap teguh meskipun keadaan ekonomi atau situasi di sekitarnya tampak gagal. Hanya orang yang telah matang, kuat, dan memiliki karakter tanpa tipu daya yang mampu berdiri di puncak gunung tanpa dicemari oleh sistem dunia.
2. Berbicara Langsung kepada Gunung dan Elemen Wilayah
Bernubuat bukan sekadar berdoa secara umum, melainkan menyampaikan firman Tuhan secara spesifik kepada struktur kekuasaan dan wilayah geografis. Berdasarkan Yehezkiel 36, Anda diperintahkan untuk:
- Menyebut nama wilayah secara spesifik, baik itu kota, negara bagian, maupun bangsa.
- Berbicara kepada elemen fisik dan sistemik: Tidak hanya kepada "gunung" (pemerintahan), tetapi juga kepada bukit-bukit, alur-sungai, lembah-lembah, reruntuhan, dan kota-kota yang telah ditinggalkan.
3. Memerintahkan Pemulihan Produktivitas (Bertunas Kembali)
Inti dari nubuatan ini adalah memerintahkan gunung-gunung budaya tersebut untuk "bertunas kembali" dan menghasilkan buah bagi umat Tuhan.
- Deklarasikan bahwa gunung-gunung tersebut akan menjadi tanah yang subur dan mulai menghasilkan sumber daya yang selama ini tertahan atau dijarah.
- Gunakan nubuatan untuk mengusir "Babel" (sistem pelacuran/korupsi) dan para "preman politik" yang selama ini menjarah kekayaan bangsa.
4. Menerapkan Strategi "Tujuh Gembala dan Delapan Pemimpin"
Nubuatan harus didukung dengan strategi penempatan orang yang tepat:
- Membangkitkan tujuh gembala yang kuat untuk membongkar pekerjaan Babel di tujuh gunung budaya.
- Mempersiapkan delapan pemimpin (pangeran) yang belajar dari para gembala tersebut untuk ditempatkan secara strategis di posisi pemerintahan.
- Tujuannya adalah menggeser penguasa yang fasik karena saat orang benar berada dalam otoritas, rakyat akan bersukacita.
5. Menegaskan Tujuan Pemerintahan yang Benar
Dalam nubuatan Anda, tegaskan kembali pola ilahi bahwa tujuan pemerintahan adalah kesejahteraan dan keamanan rakyat.
- Nyatakan bahwa segala bentuk penindasan harus berakhir karena keuntungan dari hasil tanah adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk para politisi atau penguasa.
- Berdoa agar Tuhan menyingkirkan penguasa yang jahat dan membangkitkan pemimpin yang menggunakan sumber daya untuk kepentingan rakyat.
6. Keteguhan dalam Menyampaikan Pesan
Jangan takut bahwa firman yang Anda sampaikan akan gagal., karena firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Seperti pengalaman Dr. Bakare saat bernubuat mengenai kegagalan masa jabatan ketiga seorang presiden di Nigeria melalui tanda hujan, ketaatan pada instruksi Tuhan yang spesifik adalah kunci keberhasilan nubuatan.
4. Jelaskan peran 'patron manusia' dalam membangun fondasi gereja dan misi.
Berdasarkan input dari Dr. Bakare, patron manusia memiliki peran yang sangat krusial dalam membangun fondasi gereja karena, tidak seperti Kemah Suci Musa atau Bait Suci Daud yang memiliki cetak biru tertulis, gereja tidak memiliki pola tertulis,.
Berikut adalah peran spesifik patron manusia dalam membangun fondasi gereja menurut sumber tersebut:
- Sebagai Pola atau Cetak Biru Hidup: Karena tidak ada instruksi tertulis yang mendetail seperti di era Perjanjian Lama, Tuhan memberikan para rasul dan nabi sebagai patron manusia agar gereja dapat dibangun dengan tepat. Para rasul ini bertindak sebagai pola hidup yang dapat dilihat dan diikuti oleh jemaat.
- Fondasi untuk Melahirkan Murid, Bukan Sekadar Petobat: Tanpa fondasi kerasulan dan kenabian dari patron manusia, sebuah gereja mungkin bisa mengumpulkan kerumunan besar atau jemaat yang pandai bernyanyi, namun hanya akan menghasilkan petobat yang tidak pernah menjadi murid. Patron manusia memastikan jemaat bertumbuh menjadi murid yang sanggup menjalankan misi.
- Menjadi Teladan bagi Kawanan Domba: Para patron manusia (seperti rasul Paulus, Timotius, dan Titus) dipanggil untuk menjadi teladan atau contoh nyata bagi orang lain. Mereka yang dibesarkan melalui kekuatan apostolik ini kemudian menjadi patron bagi generasi berikutnya.
- Pola bagi Dunia: Patron manusia digambarkan sebagai "para bapa dan anak yang berdiri dengan akurat" yang berfungsi sebagai pola bagi dunia. Mereka adalah manusia yang telah teruji dan terbukti kualitasnya sehingga mampu menguasai berbagai "gunung" atau bidang kehidupan.
Secara ringkas, peran patron manusia adalah memastikan gereja tidak hanya berjalan sebagai organisasi formal, melainkan sebagai organisme yang memiliki fondasi kepemimpinan yang kuat dan pola yang akurat untuk mengubah dunia,.