Langsung ke konten utama

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)


Khotbah Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan. Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya.



Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan sesi pengajaran Dr. Tunde Bakare mengenai "Gunung Politik Pemerintahan":

1. Prinsip Pola Ilahi (Cetak Biru)

Segala sesuatu yang dibangun untuk Tuhan harus mengikuti pola atau cetak biru yang diberikan-Nya di atas gunung.

  • Musa: Menerima pola Kemah Suci di puncak gunung (Keluaran 25:9, 40).
  • Daud: Menerima rancangan Bait Suci yang ditulis oleh Roh Allah di dalam hatinya, kemudian ia membeli Gunung Moria sebagai lokasinya.
  • Gereja: Berbeda dengan Musa dan Daud, gereja tidak memiliki pola tertulis melainkan memiliki patron manusia yaitu para rasul dan nabi sebagai fondasi. Tanpa fondasi kerasulan dan kenabian, gereja hanya akan menghasilkan petobat, bukan murid yang mampu menjalankan misi.

2. Realita Tantangan: Dominasi Babel

Dr. Bakare menjelaskan bahwa saat ini, ketujuh gunung budaya (termasuk politik) didominasi oleh Babel, "ibu dari segala pelacur".

  • Babel duduk di atas "banyak air" yang melambangkan bangsa-bangsa, rakyat banyak, dan kaum bahasa.
  • Babel "mabuk oleh darah orang-orang kudus," yang berarti musuh menggunakan hidup dan jerih payah umat Tuhan untuk membangun kerajaannya sendiri.
  • Di gunung politik, terdapat "preman-preman" yang bersatu untuk menjarah bangsa. Seseorang harus benar-benar matang, kuat, dan memiliki karakter yang teruji sebelum masuk ke gunung ini agar tidak dimakan mentah-mentah atau tercemar oleh sistemnya.

3. Strategi Penaklukan Gunung

Untuk menggulingkan Babel dari gunung-gunung tersebut, Tuhan memberikan strategi melalui kitab Mikha dan Yehezkiel:

  • Tujuh Gembala dan Delapan Pemimpin: Berdasarkan Mikha 5, Tuhan akan membangkitkan tujuh gembala yang kuat untuk membongkar pekerjaan Babel, dan delapan pemimpin (pangeran) yang belajar dari mereka untuk ditempatkan secara strategis.
  • Bernubuat kepada Gunung: Umat Tuhan dipanggil untuk bernubuat kepada gunung-gunung, bukit-bukit, sungai, dan lembah di wilayah mereka (Yehezkiel 36). Tujuannya adalah agar gunung-gunung tersebut "bertunas kembali" dan menghasilkan buah bagi umat-Nya.
  • Menjadi Raja Gunung: Melalui ujian iman, seseorang dapat naik posisi menjadi "raja dari gunung" dan mulai menyampaikan firman nubuatan untuk membebaskan bangsanya.

4. Hakikat Pemerintahan dan Kedaulatan

  • Tujuan Pemerintahan: Pemerintahan yang benar diletakkan di atas bahu Kristus dan bertujuan untuk kesejahteraan serta keamanan rakyat. Segala sesuatu yang kurang dari itu dianggap sebagai agenda setan.
  • Kedaulatan: Kedaulatan suatu bangsa berada di tangan Tuhan dan rakyat, bukan di tangan penguasa semata. Mengabaikan hak pilih atau dipilih berarti menjadi bagian dari musuh bangsa.
  • Warisan Bangsa: Tuhan telah memberikan warisan dan sumber daya kepada setiap bangsa di bumi (Ulangan 32:7-8). Masalah utama yang membedakan negara maju dan berkembang bukanlah sumber daya, melainkan kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia.

5. Mandat bagi Orang Percaya

  • Melawan Penindasan: Orang percaya harus memiliki roh yang menolak penindasan dan berani bersuara bagi mereka yang lemah.
  • Karakter yang Sempurna: Sebelum terlibat dalam politik, seseorang harus menjadi "Israel sejati yang tidak ada tipu daya di dalamnya".
  • Doa Strategis: Kita diperintahkan mendoakan para penguasa agar tercipta kedamaian sebagai fondasi pertumbuhan. Namun, ada kalanya doa juga dipanjatkan agar penguasa yang jahat dan menindas disingkirkan oleh Tuhan.
  • Pengabdian Total: Dr. Bakare menekankan pentingnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, seperti pengalamannya kembali ke Nigeria meskipun harus meninggalkan kenyamanan di Amerika demi menjalankan tugas kenabiannya.

Catatan ini menunjukkan bahwa penguasaan "Gunung Politik" memerlukan kombinasi antara ketaatan pada pola ilahi, keberanian nubuatan, dan integritas karakter untuk membebaskan bangsa dari penindasan.

Q&A Page

1. Bagaimana strategi "tujuh gembala dan delapan pemimpin" diterapkan?

Strategi "tujuh gembala dan delapan pemimpin" merupakan rancangan strategis yang diambil dari kitab Mikha 5 untuk menggulingkan dominasi sistem "Babel" di atas gunung-gunung budaya, termasuk gunung politik.

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai penerapan strategi tersebut berdasarkan sumber:

1. Membangkitkan Tujuh Gembala yang Kuat

Tuhan akan membangkitkan tujuh gembala yang memiliki kekuatan rohani untuk menghadapi "Asyur" atau sistem penindasan yang masuk ke wilayah umat Tuhan.

  • Peran: Setiap gembala bertugas untuk menyerang, membongkar, dan menghancurkan pekerjaan Babel di atas tujuh gunung budaya.
  • Tujuan: Menghentikan operasi musuh yang selama ini menjarah bangsa dan "mabuk oleh darah orang kudus" (menggunakan hidup umat Tuhan untuk membangun kerajaan dunia).

2. Menyiapkan Delapan Pemimpin (Pangeran)

Bersamaan dengan tujuh gembala, Tuhan membangkitkan delapan pemimpin atau pangeran manusia.

  • Proses Belajar: Delapan pemimpin ini harus belajar dari ketujuh gembala tersebut. Mereka dibentuk melalui proses pemuridan agar memiliki karakter yang teruji dan tidak tercemar oleh sistem dunia.
  • Penempatan Strategis: Setelah belajar, kedelapan pemimpin ini akan ditempatkan secara strategis di berbagai posisi di dalam gunung-gunung budaya tersebut.

3. Eksekusi Nubuatan kepada Gunung-Gunung

Strategi ini tidak hanya berhenti pada penempatan orang, tetapi juga melibatkan tindakan nubuatan yang aktif.

  • Bernubuat: Umat Tuhan diperintahkan untuk berdiri di hadapan gunung-gunung, bukit-bukit, sungai, dan lembah untuk menyampaikan firman Tuhan.
  • Memulihkan Produktivitas: Tujuan dari nubuatan ini adalah agar gunung-gunung yang sebelumnya dikuasai musuh mulai "bertunas kembali" dan menghasilkan buah (kesejahteraan) bagi umat Tuhan.
  • Menyingkirkan Penindasan: Strategi ini diterapkan untuk menghentikan penindasan, di mana hukum dan keadilan sering kali diperkosa oleh pejabat tinggi yang saling melindungi.

4. Membawa Transformasi Pemerintahan

Hasil akhir dari penerapan strategi ini adalah pergeseran kekuasaan dari Babel kepada umat Tuhan yang memiliki hikmat dan integritas.

  • Kesejahteraan Rakyat: Strategi ini bertujuan untuk memastikan fungsi pemerintahan kembali pada tujuan aslinya, yaitu kesejahteraan dan keamanan rakyat.
  • Kepemimpinan yang Benar: Perbedaan antara negara maju dan berkembang terletak pada kepemimpinannya; melalui strategi ini, diharapkan muncul pemimpin yang menggunakan sumber daya bangsa demi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.

Secara ringkas, strategi ini diterapkan dengan cara membesarkan gembala-gembala yang kuat untuk meruntuhkan struktur yang lama, lalu mencetak pemimpin-pemimpin baru melalui pemuridan untuk mengambil alih posisi strategis di gunung pemerintahan melalui doa dan nubuatan yang konsisten.


2. Apa yang dimaksud dengan menjadi 'raja dari gunung'?

Berdasarkan khotbah tersebut, menjadi 'raja dari gunung' (king of the mountain) adalah sebuah posisi otoritas rohani dan kepemimpinan yang dicapai setelah seseorang melewati ujian iman yang berat. Istilah ini merujuk pada kitab Habakuk 3:17-19 dalam versi The Message (MSG).

Berikut adalah penjelasan lebih mendalam mengenai maknanya menurut sumber tersebut:

  • Hasil dari Ujian Iman: Seseorang menjadi 'raja dari gunung' ketika ia tetap teguh di dalam Tuhan meskipun situasi di sekitarnya tampak gagal, seperti saat pohon ara tidak berbunga, pohon zaitun tidak berbuah, atau ketika uang habis.
  • Otoritas Nubuatan: Menjadi raja gunung berarti memiliki kapasitas untuk bernubuat kepada gunung-gunung, bukit-bukit, sungai, dan lembah di wilayah kekuasaan Anda. Seseorang dalam posisi ini berdiri dan menyatakan firman Tuhan untuk mengubah keadaan wilayahnya.
  • Kematangan Karakter: Untuk menduduki posisi ini di gunung politik atau budaya, seseorang harus matang sempurna, kuat, dan utuh secara karakter. Hal ini penting agar saat muncul di puncak gunung, musuh (sistem Babel) tidak menemukan celah untuk mencemari atau "memakan mentah-mentah" orang tersebut.
  • Misi Pembebasan: Sebagai 'raja dari gunung', tujuannya adalah untuk mengusir pengaruh Babel dan memastikan gunung-gunung tersebut mulai "bertunas kembali" serta menghasilkan buah demi kesejahteraan dan keamanan rakyat.
  • Melawan Penindasan: Posisi ini menuntut seseorang untuk membawa roh yang menolak penindasan dan berani bersuara untuk membebaskan mereka yang lemah di wilayahnya.

Secara ringkas, menjadi 'raja dari gunung' bukan sekadar tentang posisi jabatan, melainkan tentang otoritas yang lahir dari integritas dan ketaatan kepada Tuhan, yang digunakan untuk membawa transformasi nyata bagi bangsa.

3. Bagaimana cara bernubuat kepada gunung untuk memulihkan produktivitas bangsa?

Bernubuat kepada gunung untuk memulihkan produktivitas bangsa melibatkan langkah-langkah strategis dan spiritual sebagai berikut:

1. Menetapkan Otoritas sebagai "Raja dari Gunung"

Sebelum bernubuat, seseorang harus mencapai posisi otoritas rohani yang disebut "raja dari gunung". Posisi ini diraih setelah seseorang melewati ujian iman yang berat—tetap teguh meskipun keadaan ekonomi atau situasi di sekitarnya tampak gagal. Hanya orang yang telah matang, kuat, dan memiliki karakter tanpa tipu daya yang mampu berdiri di puncak gunung tanpa dicemari oleh sistem dunia.

2. Berbicara Langsung kepada Gunung dan Elemen Wilayah

Bernubuat bukan sekadar berdoa secara umum, melainkan menyampaikan firman Tuhan secara spesifik kepada struktur kekuasaan dan wilayah geografis. Berdasarkan Yehezkiel 36, Anda diperintahkan untuk:

  • Menyebut nama wilayah secara spesifik, baik itu kota, negara bagian, maupun bangsa.
  • Berbicara kepada elemen fisik dan sistemik: Tidak hanya kepada "gunung" (pemerintahan), tetapi juga kepada bukit-bukit, alur-sungai, lembah-lembah, reruntuhan, dan kota-kota yang telah ditinggalkan.

3. Memerintahkan Pemulihan Produktivitas (Bertunas Kembali)

Inti dari nubuatan ini adalah memerintahkan gunung-gunung budaya tersebut untuk "bertunas kembali" dan menghasilkan buah bagi umat Tuhan.

  • Deklarasikan bahwa gunung-gunung tersebut akan menjadi tanah yang subur dan mulai menghasilkan sumber daya yang selama ini tertahan atau dijarah.
  • Gunakan nubuatan untuk mengusir "Babel" (sistem pelacuran/korupsi) dan para "preman politik" yang selama ini menjarah kekayaan bangsa.

4. Menerapkan Strategi "Tujuh Gembala dan Delapan Pemimpin"

Nubuatan harus didukung dengan strategi penempatan orang yang tepat:

  • Membangkitkan tujuh gembala yang kuat untuk membongkar pekerjaan Babel di tujuh gunung budaya.
  • Mempersiapkan delapan pemimpin (pangeran) yang belajar dari para gembala tersebut untuk ditempatkan secara strategis di posisi pemerintahan.
  • Tujuannya adalah menggeser penguasa yang fasik karena saat orang benar berada dalam otoritas, rakyat akan bersukacita.

5. Menegaskan Tujuan Pemerintahan yang Benar

Dalam nubuatan Anda, tegaskan kembali pola ilahi bahwa tujuan pemerintahan adalah kesejahteraan dan keamanan rakyat.

  • Nyatakan bahwa segala bentuk penindasan harus berakhir karena keuntungan dari hasil tanah adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk para politisi atau penguasa.
  • Berdoa agar Tuhan menyingkirkan penguasa yang jahat dan membangkitkan pemimpin yang menggunakan sumber daya untuk kepentingan rakyat.

6. Keteguhan dalam Menyampaikan Pesan

Jangan takut bahwa firman yang Anda sampaikan akan gagal., karena firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Seperti pengalaman Dr. Bakare saat bernubuat mengenai kegagalan masa jabatan ketiga seorang presiden di Nigeria melalui tanda hujan, ketaatan pada instruksi Tuhan yang spesifik adalah kunci keberhasilan nubuatan.


4. Jelaskan peran 'patron manusia' dalam membangun fondasi gereja dan misi.

Berdasarkan input dari Dr. Bakare, patron manusia memiliki peran yang sangat krusial dalam membangun fondasi gereja karena, tidak seperti Kemah Suci Musa atau Bait Suci Daud yang memiliki cetak biru tertulis, gereja tidak memiliki pola tertulis,.

Berikut adalah peran spesifik patron manusia dalam membangun fondasi gereja menurut sumber tersebut:

  • Sebagai Pola atau Cetak Biru Hidup: Karena tidak ada instruksi tertulis yang mendetail seperti di era Perjanjian Lama, Tuhan memberikan para rasul dan nabi sebagai patron manusia agar gereja dapat dibangun dengan tepat. Para rasul ini bertindak sebagai pola hidup yang dapat dilihat dan diikuti oleh jemaat.
  • Fondasi untuk Melahirkan Murid, Bukan Sekadar Petobat: Tanpa fondasi kerasulan dan kenabian dari patron manusia, sebuah gereja mungkin bisa mengumpulkan kerumunan besar atau jemaat yang pandai bernyanyi, namun hanya akan menghasilkan petobat yang tidak pernah menjadi murid. Patron manusia memastikan jemaat bertumbuh menjadi murid yang sanggup menjalankan misi.
  • Menjadi Teladan bagi Kawanan Domba: Para patron manusia (seperti rasul Paulus, Timotius, dan Titus) dipanggil untuk menjadi teladan atau contoh nyata bagi orang lain. Mereka yang dibesarkan melalui kekuatan apostolik ini kemudian menjadi patron bagi generasi berikutnya.
  • Pola bagi Dunia: Patron manusia digambarkan sebagai "para bapa dan anak yang berdiri dengan akurat" yang berfungsi sebagai pola bagi dunia. Mereka adalah manusia yang telah teruji dan terbukti kualitasnya sehingga mampu menguasai berbagai "gunung" atau bidang kehidupan.

Secara ringkas, peran patron manusia adalah memastikan gereja tidak hanya berjalan sebagai organisasi formal, melainkan sebagai organisme yang memiliki fondasi kepemimpinan yang kuat dan pola yang akurat untuk mengubah dunia,.


Postingan populer dari blog ini

Peran Roh Kudus (MKS #49)

  "Manusia Kerajaan Sorga 49", berfokus pada rencana ilahi Allah bagi umat manusia dan bagaimana individu dapat menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak-Nya. Ditekankan bahwa orang percaya tidak boleh mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi pada kuasa Roh Kudus dan Firman Allah untuk memenuhi takdir mereka. Ibadah JMD Bandung 2 Agustus 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 49 Poin-Poin Utama : Memahami Bahasa Allah: Papa menekankan pentingnya memahami "bahasa" Allah, mencatat bahwa Alkitab tidak boleh dilihat sebagai ayat-ayat yang terisolasi, tetapi sebagai satu rencana besar yang terpadu. Memahami firman dan menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah memerlukan tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar kemampuan akal. Roh Kudus sangat penting untuk wahyu yang sejati. Kuasa Firman: Firman memiliki kuasa bawaan untuk menggenapi dirinya sendiri. Manusia cukup percaya dan memberi ruang bagi kasih karunia Allah, bukan memaksakan dengan usaha sendiri seperti pola hukum Taurat. Or...

Kapasitas dan Potensi Spiritual (MKS #48)

Ps. Djonny  membahas konsep Manusia Kerajaan Sorga melalui tinjauan teologis atas janji Tuhan kepada Abraham dalam Kejadian 17 . Beliau menjelaskan bahwa identitas sebagai raja menurut definisi ilahi bukan didasarkan pada kekuasaan duniawi seperti Nimrod, melainkan pada kapasitas spiritual untuk memerintah melalui kebenaran dan ketaatan. Terdapat penekanan pada enam langkah Allah dalam Kejadian 1 , mulai dari memberkati hingga memberikan otoritas untuk menaklukkan bumi, sebagai pola bagi manusia untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Peran Roh Kudus dianggap krusial dalam memperluas pengaruh hidup seseorang agar mencapai kaliber dunia demi kemuliaan Tuhan. Melalui teladan Yesus, jemaat diajak untuk menyadari potensi ilahi dan warisan rohani mereka sebagai keturunan Abraham yang dipanggil untuk menyatakan otoritas surga. Ibadah JMD Bandung 26 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 48 Berikut adalah catatan selengkapnya dari materi "Manusia Kerajaan Sorga 48: Raja-Raja dari Ket...

Ikat Janji Allah (God's Covenant) dengan Abraham dan Keturunannya

Saat Teduh 26 Jan 2025 Kej 26:1  Maka timbullah kelaparan di negeri itu.  —  Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. 2  Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3  Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau,  4  Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5  karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Kej 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13  Dan orang itu menjadi kaya, bahkan k...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

The Unstoppable Generation and Strategies for Leadership Succession (UR #238)

Artikel ini bersumber dari materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai konsep suksesi kepemimpinan dan pembentukan generasi "Manusia yang Tak Terhentikan."  Beliau menekankan bahwa kekuatan sebuah pelayanan sangat bergantung pada ketangguhan spiritual pemimpinnya dalam menghadapi berbagai hambatan seperti pola pikir negatif dan pergaulan yang salah. Fokus utamanya adalah pentingnya membangun hubungan bapa-anak yang sejati untuk mewariskan takdir ilahi, bukan sekadar membagi tanggung jawab struktural. Melalui rujukan kitab Kisah Para Rasul 16 dan Pengkhotbah 2 , dijelaskan bahwa suksesi yang akurat harus direncanakan dengan hati-hati agar warisan rohani tetap berlanjut tanpa perubahan arah. Tujuan akhirnya adalah melahirkan gereja apostolik yang tak tergoyahkan dan murni dari pengaruh duniawi atau denominasi. Strategi ini menuntut penggunaan hikmat, pengetahuan, dan keterampilan ilahi untuk menerjemahkan kehendak Tuhan ke dalam realitas di bumi. 30 06 2026, ...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...