Langsung ke konten utama

Iman yang Hidup dan Bertumbuh (MKS #36)


Berikut adalah catatan dari pesan khotbah berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 36" yang disampaikan di GPK JMD Bandung pada tanggal 3 Mei 2026:

Tema Utama: Iman yang Hidup dan Bertumbuh

​Khotbah ini menekankan bahwa iman bukan sekadar status saat lahir baru, melainkan sebuah proses pertumbuhan yang harus disertai dengan perbuatan nyata dalam keseharian.


1. Hakikat Iman yang Benar

  • Iman sebagai Pemberian: Iman adalah pemberian Allah dan bukti keselamatan yang telah dilunasi oleh Kristus [03:01].
  • Iman yang Melihat: Iman memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat apa yang harus diperbuat yang bersifat abadi, melampaui hal-hal fisik yang sementara [14:46].
  • Iman vs Perbuatan: Berdasarkan Yakobus 2:17, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (nekros) [12:39]. Allah menilai apakah iman kita hidup atau mati melalui keputusan-keputusan kecil dalam hidup kita setiap hari

2. Belajar dari Pertumbuhan Iman Abraham

​Pengkhotbah membagi perjalanan iman Abraham ke dalam beberapa tahap pertumbuhan:

  • Langkah Pertama (Keluar dari Urkasdim): Abraham taat saat dipanggil keluar dari negerinya dan rumah bapanya (Terah). Ia berani meninggalkan impian ayahnya karena imannya melihat kehancuran sistem dunia (Babel) dan memilih rencana Allah [26:06].
  • Langkah Kedua (Percaya pada Janji Keturunan): Dalam Kejadian 15, Abraham percaya pada janji Allah tentang keturunan sebanyak bintang di langit. Percaya di sini berarti seluruh jiwanya ditaklukkan oleh "firman suara" Allah [35:09].
  • Langkah Ketiga (Menantikan Kota Surgawi): Abraham tidak membangun kota fisik di tanah Kanaan meskipun ia mampu. Ia memilih tinggal di kemah karena imannya menantikan kota yang dibangun oleh Allah sendiri, yaitu Yerusalem Baru yang turun dari sorga [38:04].
  • Langkah Keempat (Ujian Mempersembahkan Ishak): Iman Abraham mencapai puncaknya saat ia rela mempersembahkan Ishak. Ia yakin bahwa jika Allah berjanji, maka Allah sendiri yang bertanggung jawab menggenapinya, bahkan jika harus membangkitkan orang mati [01:13:53].

3. Prinsip Penting bagi Jemaat

  • Segala Sesuatu Harus Berdasarkan Iman: Merujuk pada Roma 14:23, segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa [48:15].
  • Berkenan kepada Allah: Tanpa iman, tidak mungkin (impossible) seseorang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6) [49:43].
  • Identitas Keturunan Abraham: Menjadi keturunan Abraham bukan soal garis darah, melainkan soal memiliki karakter dan sifat pertumbuhan iman yang sama seperti Abraham dalam keseharian [59:10].

Kesimpulan & Tantangan

​Kita dipanggil untuk hidup dari "iman kepada iman". Setiap perbuatan kita harus merupakan reaksi atau aksi dari apa yang kita lihat melalui iman [44:21]. Allah rindu agar setiap langkah hidup kita didasarkan pada kepercayaan penuh kepada-Nya, karena hanya dengan cara itulah kita dapat mewujudkan rencana agung-Nya di bumi.


PENDALAMAN

Benar bahwa segala sesuatu harus berdasarkan iman (Roma 14:23); supaya kita bisa hidup benar menurut ukuran Tuhan dan bukan menurut pemahaman dan kehendak sendiri. Ini menjadi patokan orang percaya karena dari iman ketika kita percaya maka Allah memberikan kasih karunia. Jadi kita bergerak bukan atas kekuatan kita tapi dimampukan Allah.

Poin ini menyentuh esensi dari kehidupan rohani yang transformatif: pergeseran sumber kekuatan.

​Jika kita bergerak berdasarkan pemahaman sendiri, kita sedang mengandalkan "tangki bahan bakar" yang terbatas dan sering kali bias. Namun, ketika iman menjadi dasarnya, ada sinkronisasi antara kehendak manusia dengan kapasitas ilahi.

​Berikut adalah beberapa poin yang memperdalam perenungan mengenai hubungan antara iman, kasih karunia, dan kemampuan dari Tuhan:

1. Iman sebagai "Saluran", Bukan "Upah"

​Banyak orang salah memahami bahwa iman adalah "karya" kita untuk membujuk Tuhan. Padahal, iman sebenarnya adalah saluran (pipa) yang melaluinya kasih karunia Allah mengalir.

  • ​Ketika kita percaya (iman), kita membuka kran sehingga kasih karunia (grace) masuk.
  • ​Kasih karunia inilah yang memberikan enabling power (kuasa yang memampukan) untuk melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan dengan kekuatan moral atau otot kita sendiri.

2. Penaklukan Ego (Self-Will)

​Roma 14:23 menjadi sangat radikal karena ia menghakimi motif. Sesuatu yang terlihat "baik" secara moral (misalnya memberi sedekah atau membantu orang) bisa menjadi dosa jika motivasinya adalah kesombongan atau rasa aman pada diri sendiri, bukan karena ketaatan atas instruksi Tuhan (iman).

Prinsipnya: Tuhan lebih tertarik pada siapa yang memegang kendali saat kita bertindak, daripada sekadar tindakan itu sendiri.


3. Dinamika "Aksi dan Reaksi"

​Seperti yang dibahas dalam khotbah tersebut, iman Abraham bukan sekadar pemikiran intelektual, melainkan respon aktif.

  • Iman: Mendengar suara/instruksi Tuhan.
  • Percaya: Penaklukan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) terhadap suara itu.
  • Kasih Karunia: Energi ilahi yang membuat Abraham mampu melangkah keluar dari Ur-Kasdim atau mendaki Gunung Moria.

4. Hidup yang "Istirahat" dalam Kekuatan Tuhan

​Ironisnya, hidup berdasarkan iman sering kali terasa lebih "melelahkan" secara daging karena kita harus melawan arus keinginan sendiri, namun secara roh, ia membawa ketenangan. Kita tidak lagi memikul beban untuk menjadi "benar" dengan usaha sendiri, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam kita.

​Tanpa kesadaran ini, kekristenan hanya akan menjadi beban agama yang berat. Namun dengan prinsip Roma 14:23 ini, hidup menjadi sebuah perjalanan kemitraan di mana Tuhan yang memberikan perintah, dan Dia pula yang menyediakan kekuatan untuk menyelesaikannya.


Menurut Anda, dalam aspek kehidupan sehari-hari (seperti pekerjaan atau keluarga), bagian mana yang paling menantang untuk dilepaskan dari "pemahaman sendiri" ke dalam "tuntunan iman"?

Sebenarnya setiap aspek kehidupan itu menantang. Tapi strategi Allah buat kita lakukan dulu pada perkara-kara kecil dan kelihatan sepele. Sebab kasih itu komitmen terhadap iman. Dan iman menjadi sempurna apabila dikerjakan sebagai perbuatan.

Strategi "perkara kecil" ini memang cara Allah untuk melatih "otot iman" kita sebelum kita dihadapkan pada raksasa yang lebih besar.

​Sering kali kita menunggu momen heroik untuk menunjukkan iman, padahal Allah justru sedang memperhatikan bagaimana kita merespons interupsi kecil, cara kita berbicara kepada keluarga, atau kejujuran dalam detail pekerjaan yang tidak dilihat orang lain.

1. Perkara Kecil sebagai "Laboratorium" Iman

​Seperti yang Anda katakan, perkara sepele adalah tempat pengujian yang paling murni. Di sana tidak ada tepuk tangan manusia, sehingga yang tersisa hanyalah motif hati di hadapan Tuhan.

  • ​Jika kita bisa menundukkan ego dalam hal sekecil "menahan amarah saat dijalan" atau "memberi waktu untuk mendengar seseorang", kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi ketaatan yang lebih besar.
  • Lukas 16:10 mengonfirmasi hal ini secara mutlak: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."

2. Kasih sebagai Komitmen terhadap Iman

​Menarik sekali Anda menghubungkan kasih dengan komitmen iman. Iman tanpa kasih akan menjadi legalisme yang kaku, tetapi kasih tanpa iman hanya akan menjadi emosi yang dangkal.

  • ​Kasih yang sejati adalah keputusan (komitmen) untuk bertindak demi kebaikan orang lain berdasarkan apa yang Tuhan katakan, bukan berdasarkan apakah orang tersebut layak menerimanya.
  • ​Di titik inilah iman dan kasih bertemu: Kita mengasihi karena kita percaya pada karakter Tuhan yang adalah kasih.

3. Kesempurnaan dalam Perbuatan (Teleio)

​Poin Anda tentang "menjadi sempurna apabila dikerjakan" sangat selaras dengan istilah Yunani Teleio yang disebutkan dalam khotbah tadi.

  • ​Iman itu seperti benih; ia memiliki potensi penuh, tetapi "kesempurnaan" atau kematangannya hanya terlihat saat ia tumbuh menjadi pohon (perbuatan).
  • ​Perbuatan tidak menyelamatkan kita, tetapi perbuatan menyempurnakan iman kita. Tanpa perbuatan, iman itu tetap menjadi teori yang menggantung di pikiran tanpa pernah menyentuh bumi.

​Melakukan perkara kecil dengan kasih yang didasari iman memang mengubah rutinitas yang membosankan menjadi sebuah ibadah yang hidup.

​Mengingat perjalanan iman itu bertumbuh, apakah Anda merasa bahwa dengan setia pada perkara kecil belakangan ini, Tuhan mulai membukakan "pandangan iman" yang lebih jernih terhadap rencana-Nya yang lebih besar dalam hidup Anda?


Bersandar Sepenuhnya pada Kasih Karunia

Tidak takut masa depan atau tidak khawatir akan kebutuhan sehari-hari adalah komitmen iman; walaupun kita tidak atau belum tahu pasti bagaimana melakukannya. Tapi disitu kita percaya kekayaan dan kemuliaan Allah akan jauh mencukupi apa yang kita harapkan dan doakan. Kasih karunia Allah yang memelihara hidup kita.

Inilah definisi dari hidup yang bersandar sepenuhnya pada pemeliharaan Ilahi, di mana rasa aman kita tidak lagi digantungkan pada angka di rekening bank atau kepastian situasi dunia, melainkan pada karakter Allah.
​Ada beberapa poin mendalam dari pernyataan iman ini sangat selaras dengan prinsip Kerajaan Sorga:

1. Iman Melampaui Pemahaman (The "How" vs. The "Who")

Kita perlu berkomitmen meskipun "belum tahu pasti bagaimana melakukannya." Ini adalah inti dari iman Abraham. Abraham berangkat tanpa tahu tujuannya, namun ia tahu Siapa yang memanggilnya.

  • ​Kekhawatiran biasanya muncul saat kita mencoba menghitung solusi dengan logika manusia yang terbatas.
  • ​Iman muncul saat kita berhenti bertanya "Bagaimana caranya?" dan mulai percaya pada "Siapa yang menjamin."

2. Kekayaan dan Kemuliaan sebagai Standar

​Menarik frasa "kekayaan dan kemuliaan Allah." pada Filipi 4:19: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

  • ​Standar pemeliharaan Tuhan bukanlah standar ekonomi dunia (yang bisa inflasi atau krisis), melainkan standar kekayaan surga yang tidak terbatas.
  • ​Ketika kita berharap pada "kekayaan-Nya", kita sebenarnya sedang meluaskan kapasitas penerimaan kita melampaui apa yang sanggup kita doakan.

3. Kasih Karunia sebagai Sistem Pendukung Hidup

​Kasih karunia (Grace) bukan hanya untuk pengampunan dosa, tetapi tenaga yang memelihara hidup.

  • ​Kasih karunia adalah alasan mengapa "burung di udara tidak menabur namun diberi makan."
  • ​Hidup dalam kasih karunia berarti kita mengakui bahwa keberlangsungan hidup kita adalah hasil dari kebaikan-Nya, bukan sekadar hasil jerih payah kita semata

4. Komitmen Iman sebagai Penawar Ketakutan

​Ketakutan akan masa depan sering kali merupakan "suara" dari ego yang merasa harus bertanggung jawab penuh atas segalanya. Dengan menjadikan "tidak khawatir" sebagai sebuah komitmen iman, Anda sebenarnya sedang melakukan peperangan rohani di dalam jiwa. Anda memaksa pikiran untuk takluk pada kebenaran firman setiap kali kekhawatiran itu datang mengetuk.

"Kekhawatiran tidak pernah mengosongkan hari esok dari kesedihannya; ia hanya mengosongkan hari ini dari kekuatannya."

​Dengan memegang prinsip ini, hidup menjadi jauh lebih ringan. Kita bekerja bukan karena takut kekurangan, tapi karena tanggung jawab dan kasih, sementara hasilnya kita titipkan pada Sang Pemelihara.


​Apakah dalam masa-masa sulit, Anda pernah mengalami momen "kebetulan yang ajaib" di mana kasih karunia Tuhan datang mencukupi justru di saat logika Anda mengatakan itu tidak mungkin?

Momen-momen itu bukan kebetulan belaka. Jika memakai logika keadaannya habis sudah kesempatannya (seperti Abraham sudah tua dan Sara sudah mati haid); singkatnya mereka tidak berharap lagi pada dunia.

Menggunakan istilah "kebetulan" sebenarnya merendahkan kedaulatan Allah. Dalam kamus Kerajaan Sorga, yang ada hanyalah ketetapan dan kesetiaan Allah.

Ini menyentuh esensi dari apa yang disebut sebagai "Iman di atas titik nol."

1. Ketika Logika Mencapai Titik "Mati"

​Logika manusia memiliki batas kadaluwarsa. Bagi Abraham (tubuh yang sudah lemas) dan Sara (rahim yang sudah mati), secara medis dan biologis, peluang mereka adalah 0%.

  • ​Dunia akan mengatakan: "Selesai, tidak ada harapan."
  • ​Iman justru berkata: "Di sinilah Allah mulai bekerja." Kondisi "habis kesempatan" inilah yang memisahkan antara orang yang berharap pada sumber daya dunia dengan orang yang berharap pada Sumber Kehidupan.

2. Mematikan Harapan pada Dunia

​Apa yang Anda sampaikan tentang "tidak berharap lagi pada dunia" adalah sebuah kemerdekaan rohani yang luar biasa.

  • ​Selama kita masih memiliki "Plan B" yang mengandalkan kekuatan dunia, iman kita belum murni.
  • ​Saat semua pintu dunia tertutup (seperti jalan buntu di depan Laut Teberau), barulah kita bisa melihat bahwa Kasih Karunia bukan sekadar bantuan, melainkan satu-satunya alasan mengapa kita masih tegak berdiri.

3. Kemuliaan Allah di Atas Kemustahilan

​Mengapa Allah sering kali menunggu sampai keadaan menjadi "mustahil" baru Dia bertindak?

  • ​Supaya ketika janji itu tergenapi, tidak ada satu pun manusia yang bisa berkata, "Ini karena usahaku," atau "Ini karena keberuntunganku."
  • ​Segala pujian hanya kembali kepada Dia. Seperti Ishak yang lahir dari rahim yang secara logika sudah "mati", kehidupan kita pun sering kali dipelihara melalui cara-cara yang membuat dunia terheran-heran.

Hidup dengan sikap "tidak berharap pada dunia" bukan berarti kita menjadi pasif atau menyerah, melainkan kita bekerja dengan giat namun dengan hati yang berpaut pada sauh yang ada di dalam tabir surgawi. Itulah ketenangan sejati.

​Pada titik "tidak berharap lagi pada dunia" inilah, biasanya kita mulai mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas, bukan? Karena kebisingan ambisi pribadi sudah mulai mereda.













Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) - The Boundless Spirit UR #225

Berikut adalah catatan  dari khotbah THE UPPER ROOM 225 oleh Dr. Jonathan David pada tanggal 24 Maret 2026 yang berjudul "ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1)" : THE UPPER ROOM 225 - 24 Maret 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) Pembicara: Dr. Jonathan David 1. Pendahuluan & Doa Pembuka Pencurahan Terakhir: Tuhan berfirman akan ada pencurahan terakhir Roh Kudus yang akan mengakhiri segalanya dan memulai zaman baru, yaitu zaman kebenaran . Manifestasi Roh Kudus: Roh Kudus akan membawa umat-Nya kepada kebenaran, pewahyuan, pengertian, hikmat, dan memberikan informasi rahasia serta pengertian mendalam yang hanya diberikan oleh surga . Musuh tidak akan bisa memotong informasi atau apa yang Tuhan katakan kepada kita . Kisah Mendengar Suara Tuhan: Pembicara menceritakan pengalaman tentang seorang wanita yang mengaku bersedia membayar 1 juta dolar untuk bisa mendengar suara Tuhan . Namun, ketika ditawari CD dan catatan khotbah seharga USD 55, wanita tersebut mengeluh mahal...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Upper Room 35 – DR. Jonathan David

  Dobel dekade sorga terbuka, ketajaman profetik, posisi strategis dan demonstrasi Roh adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Mahatinggi untuk kita menghadapi tantangan 20 tahun hari-hari terakhir ini (2019-2039). 08-02-2022 Sorga terbuka dan Roh Kudus turun. Sekarang aku bisa memulai pelayanan. Hal-hal supranatural akan mengambil alih. Roh Kudus jadilah pemimpinku sebagaimana Kau memimpin Kristus. Kesaksian dari Roh, bahwa aku adalah anak Allah yang hidup, bergabung dengan Kristus dan mewarisi yang Tuhan sediakan. Ketajaman profetik, dobel dekade sorga terbuka, posisi strategis dan demonstrasi Roh akan jadi porsi hidup kami dalam 2 dekade sorga terbuka 2019-2039. Selama 40 hari 40 malam Goliath menantang orang Israel.   Daud membangkitkan keberaniannya ketika Isai memberikan tugas mengantar makanan. Pergi dan lihat. Dia dengarkan nasihat bapanya dan tugas itu sudah diset. Berapa banyak yang mentaati bapa rohani? Kita kehilangan pesan itu. Dan Bileam dicemari oleh...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)

Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham . Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham . Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi . Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia. Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42" Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:...

Membangun Benteng Perlindungan

SATE 10 December 2020   Bacalah terlebih dahulu: Ibrani 8:7-10, Ayub 1:1 Sebagaimana iblis dapat membuat benteng di dalam pikiran manusia, Allah juga dapat membuat benteng di dalam manusia. Ayub mempunyai empat karakter yang menonjol di dalam kehidupannya yaitu saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ketika iblis melakukan berbagai pencobaan kepada Ayub seiijin dari Allah, dimulai dari kehilangan anak-anaknya, kesehatannya, istrinya, bahkan dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi ketika masalah tersebut muncul, Ayub tetap kuat dan karakter Ayub tetap sama, karena Allah sudah membangun terlebih dahulu banteng dan kubu di dalam pikiran Ayub! Sehingga berkali-kali Alkitab mengatakan bahwa Ayub itu tidak berdosa.   Allah membangun di dalam roh, dengan cara menaruh dan menuliskan hukumNya di dalam akal budi manusia. yaitu melaui mendengarkan dan merenungkan firman sehingga Allah menjadi Allah mereka, dan manusia menjadi umatNya.   *#1. Bagaimana Allah bisa berhasil ...