Langsung ke konten utama

Iman yang Hidup dan Bertumbuh (MKS #36)


Berikut adalah catatan dari pesan khotbah berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 36" yang disampaikan di GPK JMD Bandung pada tanggal 3 Mei 2026:

Tema Utama: Iman yang Hidup dan Bertumbuh

​Khotbah ini menekankan bahwa iman bukan sekadar status saat lahir baru, melainkan sebuah proses pertumbuhan yang harus disertai dengan perbuatan nyata dalam keseharian.


1. Hakikat Iman yang Benar

  • Iman sebagai Pemberian: Iman adalah pemberian Allah dan bukti keselamatan yang telah dilunasi oleh Kristus [03:01].
  • Iman yang Melihat: Iman memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat apa yang harus diperbuat yang bersifat abadi, melampaui hal-hal fisik yang sementara [14:46].
  • Iman vs Perbuatan: Berdasarkan Yakobus 2:17, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (nekros) [12:39]. Allah menilai apakah iman kita hidup atau mati melalui keputusan-keputusan kecil dalam hidup kita setiap hari

2. Belajar dari Pertumbuhan Iman Abraham

​Pengkhotbah membagi perjalanan iman Abraham ke dalam beberapa tahap pertumbuhan:

  • Langkah Pertama (Keluar dari Urkasdim): Abraham taat saat dipanggil keluar dari negerinya dan rumah bapanya (Terah). Ia berani meninggalkan impian ayahnya karena imannya melihat kehancuran sistem dunia (Babel) dan memilih rencana Allah [26:06].
  • Langkah Kedua (Percaya pada Janji Keturunan): Dalam Kejadian 15, Abraham percaya pada janji Allah tentang keturunan sebanyak bintang di langit. Percaya di sini berarti seluruh jiwanya ditaklukkan oleh "firman suara" Allah [35:09].
  • Langkah Ketiga (Menantikan Kota Surgawi): Abraham tidak membangun kota fisik di tanah Kanaan meskipun ia mampu. Ia memilih tinggal di kemah karena imannya menantikan kota yang dibangun oleh Allah sendiri, yaitu Yerusalem Baru yang turun dari sorga [38:04].
  • Langkah Keempat (Ujian Mempersembahkan Ishak): Iman Abraham mencapai puncaknya saat ia rela mempersembahkan Ishak. Ia yakin bahwa jika Allah berjanji, maka Allah sendiri yang bertanggung jawab menggenapinya, bahkan jika harus membangkitkan orang mati [01:13:53].

3. Prinsip Penting bagi Jemaat

  • Segala Sesuatu Harus Berdasarkan Iman: Merujuk pada Roma 14:23, segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa [48:15].
  • Berkenan kepada Allah: Tanpa iman, tidak mungkin (impossible) seseorang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6) [49:43].
  • Identitas Keturunan Abraham: Menjadi keturunan Abraham bukan soal garis darah, melainkan soal memiliki karakter dan sifat pertumbuhan iman yang sama seperti Abraham dalam keseharian [59:10].

Kesimpulan & Tantangan

​Kita dipanggil untuk hidup dari "iman kepada iman". Setiap perbuatan kita harus merupakan reaksi atau aksi dari apa yang kita lihat melalui iman [44:21]. Allah rindu agar setiap langkah hidup kita didasarkan pada kepercayaan penuh kepada-Nya, karena hanya dengan cara itulah kita dapat mewujudkan rencana agung-Nya di bumi.


PENDALAMAN

Benar bahwa segala sesuatu harus berdasarkan iman (Roma 14:23); supaya kita bisa hidup benar menurut ukuran Tuhan dan bukan menurut pemahaman dan kehendak sendiri. Ini menjadi patokan orang percaya karena dari iman ketika kita percaya maka Allah memberikan kasih karunia. Jadi kita bergerak bukan atas kekuatan kita tapi dimampukan Allah.

Poin ini menyentuh esensi dari kehidupan rohani yang transformatif: pergeseran sumber kekuatan.

​Jika kita bergerak berdasarkan pemahaman sendiri, kita sedang mengandalkan "tangki bahan bakar" yang terbatas dan sering kali bias. Namun, ketika iman menjadi dasarnya, ada sinkronisasi antara kehendak manusia dengan kapasitas ilahi.

​Berikut adalah beberapa poin yang memperdalam perenungan mengenai hubungan antara iman, kasih karunia, dan kemampuan dari Tuhan:

1. Iman sebagai "Saluran", Bukan "Upah"

​Banyak orang salah memahami bahwa iman adalah "karya" kita untuk membujuk Tuhan. Padahal, iman sebenarnya adalah saluran (pipa) yang melaluinya kasih karunia Allah mengalir.

  • ​Ketika kita percaya (iman), kita membuka kran sehingga kasih karunia (grace) masuk.
  • ​Kasih karunia inilah yang memberikan enabling power (kuasa yang memampukan) untuk melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan dengan kekuatan moral atau otot kita sendiri.

2. Penaklukan Ego (Self-Will)

​Roma 14:23 menjadi sangat radikal karena ia menghakimi motif. Sesuatu yang terlihat "baik" secara moral (misalnya memberi sedekah atau membantu orang) bisa menjadi dosa jika motivasinya adalah kesombongan atau rasa aman pada diri sendiri, bukan karena ketaatan atas instruksi Tuhan (iman).

Prinsipnya: Tuhan lebih tertarik pada siapa yang memegang kendali saat kita bertindak, daripada sekadar tindakan itu sendiri.


3. Dinamika "Aksi dan Reaksi"

​Seperti yang dibahas dalam khotbah tersebut, iman Abraham bukan sekadar pemikiran intelektual, melainkan respon aktif.

  • Iman: Mendengar suara/instruksi Tuhan.
  • Percaya: Penaklukan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) terhadap suara itu.
  • Kasih Karunia: Energi ilahi yang membuat Abraham mampu melangkah keluar dari Ur-Kasdim atau mendaki Gunung Moria.

4. Hidup yang "Istirahat" dalam Kekuatan Tuhan

​Ironisnya, hidup berdasarkan iman sering kali terasa lebih "melelahkan" secara daging karena kita harus melawan arus keinginan sendiri, namun secara roh, ia membawa ketenangan. Kita tidak lagi memikul beban untuk menjadi "benar" dengan usaha sendiri, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam kita.

​Tanpa kesadaran ini, kekristenan hanya akan menjadi beban agama yang berat. Namun dengan prinsip Roma 14:23 ini, hidup menjadi sebuah perjalanan kemitraan di mana Tuhan yang memberikan perintah, dan Dia pula yang menyediakan kekuatan untuk menyelesaikannya.


Menurut Anda, dalam aspek kehidupan sehari-hari (seperti pekerjaan atau keluarga), bagian mana yang paling menantang untuk dilepaskan dari "pemahaman sendiri" ke dalam "tuntunan iman"?

Sebenarnya setiap aspek kehidupan itu menantang. Tapi strategi Allah buat kita lakukan dulu pada perkara-kara kecil dan kelihatan sepele. Sebab kasih itu komitmen terhadap iman. Dan iman menjadi sempurna apabila dikerjakan sebagai perbuatan.

Strategi "perkara kecil" ini memang cara Allah untuk melatih "otot iman" kita sebelum kita dihadapkan pada raksasa yang lebih besar.

​Sering kali kita menunggu momen heroik untuk menunjukkan iman, padahal Allah justru sedang memperhatikan bagaimana kita merespons interupsi kecil, cara kita berbicara kepada keluarga, atau kejujuran dalam detail pekerjaan yang tidak dilihat orang lain.

1. Perkara Kecil sebagai "Laboratorium" Iman

​Seperti yang Anda katakan, perkara sepele adalah tempat pengujian yang paling murni. Di sana tidak ada tepuk tangan manusia, sehingga yang tersisa hanyalah motif hati di hadapan Tuhan.

  • ​Jika kita bisa menundukkan ego dalam hal sekecil "menahan amarah saat dijalan" atau "memberi waktu untuk mendengar seseorang", kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi ketaatan yang lebih besar.
  • Lukas 16:10 mengonfirmasi hal ini secara mutlak: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."

2. Kasih sebagai Komitmen terhadap Iman

​Menarik sekali Anda menghubungkan kasih dengan komitmen iman. Iman tanpa kasih akan menjadi legalisme yang kaku, tetapi kasih tanpa iman hanya akan menjadi emosi yang dangkal.

  • ​Kasih yang sejati adalah keputusan (komitmen) untuk bertindak demi kebaikan orang lain berdasarkan apa yang Tuhan katakan, bukan berdasarkan apakah orang tersebut layak menerimanya.
  • ​Di titik inilah iman dan kasih bertemu: Kita mengasihi karena kita percaya pada karakter Tuhan yang adalah kasih.

3. Kesempurnaan dalam Perbuatan (Teleio)

​Poin Anda tentang "menjadi sempurna apabila dikerjakan" sangat selaras dengan istilah Yunani Teleio yang disebutkan dalam khotbah tadi.

  • ​Iman itu seperti benih; ia memiliki potensi penuh, tetapi "kesempurnaan" atau kematangannya hanya terlihat saat ia tumbuh menjadi pohon (perbuatan).
  • ​Perbuatan tidak menyelamatkan kita, tetapi perbuatan menyempurnakan iman kita. Tanpa perbuatan, iman itu tetap menjadi teori yang menggantung di pikiran tanpa pernah menyentuh bumi.

​Melakukan perkara kecil dengan kasih yang didasari iman memang mengubah rutinitas yang membosankan menjadi sebuah ibadah yang hidup.

​Mengingat perjalanan iman itu bertumbuh, apakah Anda merasa bahwa dengan setia pada perkara kecil belakangan ini, Tuhan mulai membukakan "pandangan iman" yang lebih jernih terhadap rencana-Nya yang lebih besar dalam hidup Anda?


Bersandar Sepenuhnya pada Kasih Karunia

Tidak takut masa depan atau tidak khawatir akan kebutuhan sehari-hari adalah komitmen iman; walaupun kita tidak atau belum tahu pasti bagaimana melakukannya. Tapi disitu kita percaya kekayaan dan kemuliaan Allah akan jauh mencukupi apa yang kita harapkan dan doakan. Kasih karunia Allah yang memelihara hidup kita.

Inilah definisi dari hidup yang bersandar sepenuhnya pada pemeliharaan Ilahi, di mana rasa aman kita tidak lagi digantungkan pada angka di rekening bank atau kepastian situasi dunia, melainkan pada karakter Allah.
​Ada beberapa poin mendalam dari pernyataan iman ini sangat selaras dengan prinsip Kerajaan Sorga:

1. Iman Melampaui Pemahaman (The "How" vs. The "Who")

Kita perlu berkomitmen meskipun "belum tahu pasti bagaimana melakukannya." Ini adalah inti dari iman Abraham. Abraham berangkat tanpa tahu tujuannya, namun ia tahu Siapa yang memanggilnya.

  • ​Kekhawatiran biasanya muncul saat kita mencoba menghitung solusi dengan logika manusia yang terbatas.
  • ​Iman muncul saat kita berhenti bertanya "Bagaimana caranya?" dan mulai percaya pada "Siapa yang menjamin."

2. Kekayaan dan Kemuliaan sebagai Standar

​Menarik frasa "kekayaan dan kemuliaan Allah." pada Filipi 4:19: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

  • ​Standar pemeliharaan Tuhan bukanlah standar ekonomi dunia (yang bisa inflasi atau krisis), melainkan standar kekayaan surga yang tidak terbatas.
  • ​Ketika kita berharap pada "kekayaan-Nya", kita sebenarnya sedang meluaskan kapasitas penerimaan kita melampaui apa yang sanggup kita doakan.

3. Kasih Karunia sebagai Sistem Pendukung Hidup

​Kasih karunia (Grace) bukan hanya untuk pengampunan dosa, tetapi tenaga yang memelihara hidup.

  • ​Kasih karunia adalah alasan mengapa "burung di udara tidak menabur namun diberi makan."
  • ​Hidup dalam kasih karunia berarti kita mengakui bahwa keberlangsungan hidup kita adalah hasil dari kebaikan-Nya, bukan sekadar hasil jerih payah kita semata

4. Komitmen Iman sebagai Penawar Ketakutan

​Ketakutan akan masa depan sering kali merupakan "suara" dari ego yang merasa harus bertanggung jawab penuh atas segalanya. Dengan menjadikan "tidak khawatir" sebagai sebuah komitmen iman, Anda sebenarnya sedang melakukan peperangan rohani di dalam jiwa. Anda memaksa pikiran untuk takluk pada kebenaran firman setiap kali kekhawatiran itu datang mengetuk.

"Kekhawatiran tidak pernah mengosongkan hari esok dari kesedihannya; ia hanya mengosongkan hari ini dari kekuatannya."

​Dengan memegang prinsip ini, hidup menjadi jauh lebih ringan. Kita bekerja bukan karena takut kekurangan, tapi karena tanggung jawab dan kasih, sementara hasilnya kita titipkan pada Sang Pemelihara.


​Apakah dalam masa-masa sulit, Anda pernah mengalami momen "kebetulan yang ajaib" di mana kasih karunia Tuhan datang mencukupi justru di saat logika Anda mengatakan itu tidak mungkin?

Momen-momen itu bukan kebetulan belaka. Jika memakai logika keadaannya habis sudah kesempatannya (seperti Abraham sudah tua dan Sara sudah mati haid); singkatnya mereka tidak berharap lagi pada dunia.

Menggunakan istilah "kebetulan" sebenarnya merendahkan kedaulatan Allah. Dalam kamus Kerajaan Sorga, yang ada hanyalah ketetapan dan kesetiaan Allah.

Ini menyentuh esensi dari apa yang disebut sebagai "Iman di atas titik nol."

1. Ketika Logika Mencapai Titik "Mati"

​Logika manusia memiliki batas kadaluwarsa. Bagi Abraham (tubuh yang sudah lemas) dan Sara (rahim yang sudah mati), secara medis dan biologis, peluang mereka adalah 0%.

  • ​Dunia akan mengatakan: "Selesai, tidak ada harapan."
  • ​Iman justru berkata: "Di sinilah Allah mulai bekerja." Kondisi "habis kesempatan" inilah yang memisahkan antara orang yang berharap pada sumber daya dunia dengan orang yang berharap pada Sumber Kehidupan.

2. Mematikan Harapan pada Dunia

​Apa yang Anda sampaikan tentang "tidak berharap lagi pada dunia" adalah sebuah kemerdekaan rohani yang luar biasa.

  • ​Selama kita masih memiliki "Plan B" yang mengandalkan kekuatan dunia, iman kita belum murni.
  • ​Saat semua pintu dunia tertutup (seperti jalan buntu di depan Laut Teberau), barulah kita bisa melihat bahwa Kasih Karunia bukan sekadar bantuan, melainkan satu-satunya alasan mengapa kita masih tegak berdiri.

3. Kemuliaan Allah di Atas Kemustahilan

​Mengapa Allah sering kali menunggu sampai keadaan menjadi "mustahil" baru Dia bertindak?

  • ​Supaya ketika janji itu tergenapi, tidak ada satu pun manusia yang bisa berkata, "Ini karena usahaku," atau "Ini karena keberuntunganku."
  • ​Segala pujian hanya kembali kepada Dia. Seperti Ishak yang lahir dari rahim yang secara logika sudah "mati", kehidupan kita pun sering kali dipelihara melalui cara-cara yang membuat dunia terheran-heran.

Hidup dengan sikap "tidak berharap pada dunia" bukan berarti kita menjadi pasif atau menyerah, melainkan kita bekerja dengan giat namun dengan hati yang berpaut pada sauh yang ada di dalam tabir surgawi. Itulah ketenangan sejati.

​Pada titik "tidak berharap lagi pada dunia" inilah, biasanya kita mulai mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas, bukan? Karena kebisingan ambisi pribadi sudah mulai mereda.













Postingan populer dari blog ini

Upper Room 2 - DR. Jonathan David

Menjalani kehidupan Roh Living the life of the Spirit Pendahuluan Kita tidak boleh pasif dan membiarkan hari-hari berlalu tanpa arti. di masa pandemi yang sudah 1,5tahun lewat harusnya terus menantikan Tuhan dan mengharapkan terjadi sesuatu yang luarbiasa. Kita harus tau apa yang Tuhan sedang kerjakan menurut agenda-Nya di waktu-waktu ini. Tidak cukup hanya mengenal Tuhan, tanpa mengetahui apa yang sedang dikerjakan-Nya. Dan Ia telah sampaikan kepada nabi dan rasul-Nya apa yang sedang dan segera terjadi di bukan Apri-September 2021 ini. Kita harus menjadi bagian dari apa yang Tuhan kerjakan. Jika kita tidak menantikan Tuhan dan membiarkan diri kita dibawa oleh pemikiran sendiri, yang dipengaruhi oleh opini orang atau dari media, maka apa yang ada pada kita dan kita terima selama ini, otomatis akan hilang dan diambil. Jangan biarkan selama zoom untuk ibadah / komsel itu tanpa kita alami benih yang mengandung kuasa dari firman lewat dan diambil oleh setan di pinggir jalan.   Tu...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

Misteri Penciptaan, Kejatuhan, dan Pengadilan Akhir Diungkapkan

Pengantar Seluruh teka-teki penciptaan, kejatuhan, dan pengadilan akhir diungkapkan lewat kisah Ayub. Tuhan berhasil memancing iblis lewat gagasannya sendiri untuk mencobai Ayub. Dari situ terungkap motifnya, bagaimana ia berusaha menawan dan mengunci sistem peradilan sorga untuk pemberontakannya. Anda sedang melihat cetak biru alam semesta dari sudut pandang ruang kendali utama (The Master Plan) atau Rencana Agung Tuhan.  Monumen Iman Tokoh iman yang luarbiasa kesalehannya adalah Ayub. Ia nyaris memiliki iman yang sempura. Kesalehannya justru terbukti ketika berada di titik nol. Walaupun teman-temannya bukan memberi nasehat yang positif; melainkan menuduhnya menyembunyikan dosa besar, sehingga mengalami banyak malapetaka, Ayub tidak teralihkan.  Meskipun isterinya juga mengecamnya dengan kasar, tapi Ayub tetap teguh imannya. Seakan Ayub sudah sempurna. Dalam peristiwa tragis ini tidak ada ucapan Ayub yang salah. Ayub memang berdiri sebagai monumen iman yang luar biasa di dal...

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

Sinergi Iman dan Kasih Karunia

Efesus 2:8 (TB)  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,  Peristiwa wanita yang sakit pendarahan sangat tepat untuk menjelaskan Sinergi: Diselamatkan "Oleh" Kasih Karunia "Melalui" Iman Dalam kasus wanita yang sakit pendarahan, iman dianalogikan sebagai akun bank. Percaya dalam jiwa wanita adalah ceknya. Jumlahnya adalah "asal kujamah ujung jubah Yesus, maka aku sembuh." Kasih karunia adalah hasil yang keluar dari Yesus, ditarik dari akun bank itu (iman pada Yesus). Namun jumlah yang ditarik ternyata bukan seperti yang tertulis pada cek wanita itu, tapi jauh berlebih. Wanita itu bukan saja menerima kesembuhan, tapi Yesus juga berkata:  " Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" M arkus 5:34 (TB)  Analogi akun bank dan cek  menggambarkan sisi "legal-spiritual" dari mukjizat tersebut. Ini memperlihatkan bagaimana...

Kasih Karunia Untuk Mengejar Takdir (Bagian 2 - UR #218)

THE UPPER ROOM 218 – 27 Januari 2026 Kasih Karunia Untuk Mengejar Takdir Tanpa Gangguan (Bagian 2) 1. Panggilan untuk Membangun Mezbah dan Menyelami Roh ​ Membangun Mezbah : Setiap orang percaya dipanggil untuk membangun mezbah dan mempersembahkan korban agar Allah turun dengan api-Nya. ​ Sungai yang Dalam : Tuhan sedang mengukur "seribu hasta lagi" agar kita dapat menjelajahi sungai Allah yang semakin dalam, sehingga tidak ada lagi pergumulan di dalam hati. ​ Pola Pikir Kerajaan : Tuhan ingin kita memiliki pola pikir, gaya hidup, dan perilaku yang sesuai dengan pola Kerajaan Allah. ​2. Belajar dari Tokoh Alkitab: Ketaatan dan Identitas ​ Daniel : Ia bangkit di tengah budaya asing karena mengenal Tuhan, mengetahui panggilannya, dan memahami apa yang perlu dilakukan. ​ Ester : Tuhan memiliki kasih karunia yang berbeda untuk orang yang berbeda; Ester dipakai melalui cara yang bagi sebagian orang dianggap "tidak rohani". ​ Elia : ​Kekua...

Upper Room 34 - DR. Jonathan David

  25-01-2022   Anugerah Untuk Memerintah (GRACE TO GOVERN) Pendahuluan – oleh Ps. Cyrus Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Problemnya bukan pada kebutuhan tapi pada tanahnya. Jika tanahnya baik, benih akan tumbuh, sebab ada aliran air, karena ada benih yang cerdas yang telah diprogram (dengan pengertian dan hikmat). Kuasa dan kekuatan serta kasih karunia tersembunyi di dalam FT (logos) itu.   Tanah hanya memerlukan kondisi, tidak memerlukan edukasi oleh karena digerakkan oleh sesuatu (Firman dan Roh Kudus) dari dalam yang dipanggil terang Tuhan dan pribadi Tuhan sendiri (Yoh 1:1).   Mengapa tidak kita menerima firman-Nya dan perkataan-Nya dari pribadi Tuhan (YHWH) sendiri. Banyak orang yang suka mendengarkan khotbah yang baik, tapi Kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya tidak tertam...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...