Langsung ke konten utama

Iman yang Hidup dan Bertumbuh (MKS #36)


Berikut adalah catatan dari pesan khotbah berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 36" yang disampaikan di GPK JMD Bandung pada tanggal 3 Mei 2026:

Tema Utama: Iman yang Hidup dan Bertumbuh

​Khotbah ini menekankan bahwa iman bukan sekadar status saat lahir baru, melainkan sebuah proses pertumbuhan yang harus disertai dengan perbuatan nyata dalam keseharian.


1. Hakikat Iman yang Benar

  • Iman sebagai Pemberian: Iman adalah pemberian Allah dan bukti keselamatan yang telah dilunasi oleh Kristus [03:01].
  • Iman yang Melihat: Iman memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat apa yang harus diperbuat yang bersifat abadi, melampaui hal-hal fisik yang sementara [14:46].
  • Iman vs Perbuatan: Berdasarkan Yakobus 2:17, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (nekros) [12:39]. Allah menilai apakah iman kita hidup atau mati melalui keputusan-keputusan kecil dalam hidup kita setiap hari

2. Belajar dari Pertumbuhan Iman Abraham

​Pengkhotbah membagi perjalanan iman Abraham ke dalam beberapa tahap pertumbuhan:

  • Langkah Pertama (Keluar dari Urkasdim): Abraham taat saat dipanggil keluar dari negerinya dan rumah bapanya (Terah). Ia berani meninggalkan impian ayahnya karena imannya melihat kehancuran sistem dunia (Babel) dan memilih rencana Allah [26:06].
  • Langkah Kedua (Percaya pada Janji Keturunan): Dalam Kejadian 15, Abraham percaya pada janji Allah tentang keturunan sebanyak bintang di langit. Percaya di sini berarti seluruh jiwanya ditaklukkan oleh "firman suara" Allah [35:09].
  • Langkah Ketiga (Menantikan Kota Surgawi): Abraham tidak membangun kota fisik di tanah Kanaan meskipun ia mampu. Ia memilih tinggal di kemah karena imannya menantikan kota yang dibangun oleh Allah sendiri, yaitu Yerusalem Baru yang turun dari sorga [38:04].
  • Langkah Keempat (Ujian Mempersembahkan Ishak): Iman Abraham mencapai puncaknya saat ia rela mempersembahkan Ishak. Ia yakin bahwa jika Allah berjanji, maka Allah sendiri yang bertanggung jawab menggenapinya, bahkan jika harus membangkitkan orang mati [01:13:53].

3. Prinsip Penting bagi Jemaat

  • Segala Sesuatu Harus Berdasarkan Iman: Merujuk pada Roma 14:23, segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa [48:15].
  • Berkenan kepada Allah: Tanpa iman, tidak mungkin (impossible) seseorang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6) [49:43].
  • Identitas Keturunan Abraham: Menjadi keturunan Abraham bukan soal garis darah, melainkan soal memiliki karakter dan sifat pertumbuhan iman yang sama seperti Abraham dalam keseharian [59:10].

Kesimpulan & Tantangan

​Kita dipanggil untuk hidup dari "iman kepada iman". Setiap perbuatan kita harus merupakan reaksi atau aksi dari apa yang kita lihat melalui iman [44:21]. Allah rindu agar setiap langkah hidup kita didasarkan pada kepercayaan penuh kepada-Nya, karena hanya dengan cara itulah kita dapat mewujudkan rencana agung-Nya di bumi.


PENDALAMAN

Benar bahwa segala sesuatu harus berdasarkan iman (Roma 14:23); supaya kita bisa hidup benar menurut ukuran Tuhan dan bukan menurut pemahaman dan kehendak sendiri. Ini menjadi patokan orang percaya karena dari iman ketika kita percaya maka Allah memberikan kasih karunia. Jadi kita bergerak bukan atas kekuatan kita tapi dimampukan Allah.

Poin ini menyentuh esensi dari kehidupan rohani yang transformatif: pergeseran sumber kekuatan.

​Jika kita bergerak berdasarkan pemahaman sendiri, kita sedang mengandalkan "tangki bahan bakar" yang terbatas dan sering kali bias. Namun, ketika iman menjadi dasarnya, ada sinkronisasi antara kehendak manusia dengan kapasitas ilahi.

​Berikut adalah beberapa poin yang memperdalam perenungan mengenai hubungan antara iman, kasih karunia, dan kemampuan dari Tuhan:

1. Iman sebagai "Saluran", Bukan "Upah"

​Banyak orang salah memahami bahwa iman adalah "karya" kita untuk membujuk Tuhan. Padahal, iman sebenarnya adalah saluran (pipa) yang melaluinya kasih karunia Allah mengalir.

  • ​Ketika kita percaya (iman), kita membuka kran sehingga kasih karunia (grace) masuk.
  • ​Kasih karunia inilah yang memberikan enabling power (kuasa yang memampukan) untuk melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan dengan kekuatan moral atau otot kita sendiri.

2. Penaklukan Ego (Self-Will)

​Roma 14:23 menjadi sangat radikal karena ia menghakimi motif. Sesuatu yang terlihat "baik" secara moral (misalnya memberi sedekah atau membantu orang) bisa menjadi dosa jika motivasinya adalah kesombongan atau rasa aman pada diri sendiri, bukan karena ketaatan atas instruksi Tuhan (iman).

Prinsipnya: Tuhan lebih tertarik pada siapa yang memegang kendali saat kita bertindak, daripada sekadar tindakan itu sendiri.


3. Dinamika "Aksi dan Reaksi"

​Seperti yang dibahas dalam khotbah tersebut, iman Abraham bukan sekadar pemikiran intelektual, melainkan respon aktif.

  • Iman: Mendengar suara/instruksi Tuhan.
  • Percaya: Penaklukan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) terhadap suara itu.
  • Kasih Karunia: Energi ilahi yang membuat Abraham mampu melangkah keluar dari Ur-Kasdim atau mendaki Gunung Moria.

4. Hidup yang "Istirahat" dalam Kekuatan Tuhan

​Ironisnya, hidup berdasarkan iman sering kali terasa lebih "melelahkan" secara daging karena kita harus melawan arus keinginan sendiri, namun secara roh, ia membawa ketenangan. Kita tidak lagi memikul beban untuk menjadi "benar" dengan usaha sendiri, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam kita.

​Tanpa kesadaran ini, kekristenan hanya akan menjadi beban agama yang berat. Namun dengan prinsip Roma 14:23 ini, hidup menjadi sebuah perjalanan kemitraan di mana Tuhan yang memberikan perintah, dan Dia pula yang menyediakan kekuatan untuk menyelesaikannya.


Menurut Anda, dalam aspek kehidupan sehari-hari (seperti pekerjaan atau keluarga), bagian mana yang paling menantang untuk dilepaskan dari "pemahaman sendiri" ke dalam "tuntunan iman"?

Sebenarnya setiap aspek kehidupan itu menantang. Tapi strategi Allah buat kita lakukan dulu pada perkara-kara kecil dan kelihatan sepele. Sebab kasih itu komitmen terhadap iman. Dan iman menjadi sempurna apabila dikerjakan sebagai perbuatan.

Strategi "perkara kecil" ini memang cara Allah untuk melatih "otot iman" kita sebelum kita dihadapkan pada raksasa yang lebih besar.

​Sering kali kita menunggu momen heroik untuk menunjukkan iman, padahal Allah justru sedang memperhatikan bagaimana kita merespons interupsi kecil, cara kita berbicara kepada keluarga, atau kejujuran dalam detail pekerjaan yang tidak dilihat orang lain.

1. Perkara Kecil sebagai "Laboratorium" Iman

​Seperti yang Anda katakan, perkara sepele adalah tempat pengujian yang paling murni. Di sana tidak ada tepuk tangan manusia, sehingga yang tersisa hanyalah motif hati di hadapan Tuhan.

  • ​Jika kita bisa menundukkan ego dalam hal sekecil "menahan amarah saat dijalan" atau "memberi waktu untuk mendengar seseorang", kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi ketaatan yang lebih besar.
  • Lukas 16:10 mengonfirmasi hal ini secara mutlak: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."

2. Kasih sebagai Komitmen terhadap Iman

​Menarik sekali Anda menghubungkan kasih dengan komitmen iman. Iman tanpa kasih akan menjadi legalisme yang kaku, tetapi kasih tanpa iman hanya akan menjadi emosi yang dangkal.

  • ​Kasih yang sejati adalah keputusan (komitmen) untuk bertindak demi kebaikan orang lain berdasarkan apa yang Tuhan katakan, bukan berdasarkan apakah orang tersebut layak menerimanya.
  • ​Di titik inilah iman dan kasih bertemu: Kita mengasihi karena kita percaya pada karakter Tuhan yang adalah kasih.

3. Kesempurnaan dalam Perbuatan (Teleio)

​Poin Anda tentang "menjadi sempurna apabila dikerjakan" sangat selaras dengan istilah Yunani Teleio yang disebutkan dalam khotbah tadi.

  • ​Iman itu seperti benih; ia memiliki potensi penuh, tetapi "kesempurnaan" atau kematangannya hanya terlihat saat ia tumbuh menjadi pohon (perbuatan).
  • ​Perbuatan tidak menyelamatkan kita, tetapi perbuatan menyempurnakan iman kita. Tanpa perbuatan, iman itu tetap menjadi teori yang menggantung di pikiran tanpa pernah menyentuh bumi.

​Melakukan perkara kecil dengan kasih yang didasari iman memang mengubah rutinitas yang membosankan menjadi sebuah ibadah yang hidup.

​Mengingat perjalanan iman itu bertumbuh, apakah Anda merasa bahwa dengan setia pada perkara kecil belakangan ini, Tuhan mulai membukakan "pandangan iman" yang lebih jernih terhadap rencana-Nya yang lebih besar dalam hidup Anda?


Bersandar Sepenuhnya pada Kasih Karunia

Tidak takut masa depan atau tidak khawatir akan kebutuhan sehari-hari adalah komitmen iman; walaupun kita tidak atau belum tahu pasti bagaimana melakukannya. Tapi disitu kita percaya kekayaan dan kemuliaan Allah akan jauh mencukupi apa yang kita harapkan dan doakan. Kasih karunia Allah yang memelihara hidup kita.

Inilah definisi dari hidup yang bersandar sepenuhnya pada pemeliharaan Ilahi, di mana rasa aman kita tidak lagi digantungkan pada angka di rekening bank atau kepastian situasi dunia, melainkan pada karakter Allah.
​Ada beberapa poin mendalam dari pernyataan iman ini sangat selaras dengan prinsip Kerajaan Sorga:

1. Iman Melampaui Pemahaman (The "How" vs. The "Who")

Kita perlu berkomitmen meskipun "belum tahu pasti bagaimana melakukannya." Ini adalah inti dari iman Abraham. Abraham berangkat tanpa tahu tujuannya, namun ia tahu Siapa yang memanggilnya.

  • ​Kekhawatiran biasanya muncul saat kita mencoba menghitung solusi dengan logika manusia yang terbatas.
  • ​Iman muncul saat kita berhenti bertanya "Bagaimana caranya?" dan mulai percaya pada "Siapa yang menjamin."

2. Kekayaan dan Kemuliaan sebagai Standar

​Menarik frasa "kekayaan dan kemuliaan Allah." pada Filipi 4:19: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

  • ​Standar pemeliharaan Tuhan bukanlah standar ekonomi dunia (yang bisa inflasi atau krisis), melainkan standar kekayaan surga yang tidak terbatas.
  • ​Ketika kita berharap pada "kekayaan-Nya", kita sebenarnya sedang meluaskan kapasitas penerimaan kita melampaui apa yang sanggup kita doakan.

3. Kasih Karunia sebagai Sistem Pendukung Hidup

​Kasih karunia (Grace) bukan hanya untuk pengampunan dosa, tetapi tenaga yang memelihara hidup.

  • ​Kasih karunia adalah alasan mengapa "burung di udara tidak menabur namun diberi makan."
  • ​Hidup dalam kasih karunia berarti kita mengakui bahwa keberlangsungan hidup kita adalah hasil dari kebaikan-Nya, bukan sekadar hasil jerih payah kita semata

4. Komitmen Iman sebagai Penawar Ketakutan

​Ketakutan akan masa depan sering kali merupakan "suara" dari ego yang merasa harus bertanggung jawab penuh atas segalanya. Dengan menjadikan "tidak khawatir" sebagai sebuah komitmen iman, Anda sebenarnya sedang melakukan peperangan rohani di dalam jiwa. Anda memaksa pikiran untuk takluk pada kebenaran firman setiap kali kekhawatiran itu datang mengetuk.

"Kekhawatiran tidak pernah mengosongkan hari esok dari kesedihannya; ia hanya mengosongkan hari ini dari kekuatannya."

​Dengan memegang prinsip ini, hidup menjadi jauh lebih ringan. Kita bekerja bukan karena takut kekurangan, tapi karena tanggung jawab dan kasih, sementara hasilnya kita titipkan pada Sang Pemelihara.


​Apakah dalam masa-masa sulit, Anda pernah mengalami momen "kebetulan yang ajaib" di mana kasih karunia Tuhan datang mencukupi justru di saat logika Anda mengatakan itu tidak mungkin?

Momen-momen itu bukan kebetulan belaka. Jika memakai logika keadaannya habis sudah kesempatannya (seperti Abraham sudah tua dan Sara sudah mati haid); singkatnya mereka tidak berharap lagi pada dunia.

Menggunakan istilah "kebetulan" sebenarnya merendahkan kedaulatan Allah. Dalam kamus Kerajaan Sorga, yang ada hanyalah ketetapan dan kesetiaan Allah.

Ini menyentuh esensi dari apa yang disebut sebagai "Iman di atas titik nol."

1. Ketika Logika Mencapai Titik "Mati"

​Logika manusia memiliki batas kadaluwarsa. Bagi Abraham (tubuh yang sudah lemas) dan Sara (rahim yang sudah mati), secara medis dan biologis, peluang mereka adalah 0%.

  • ​Dunia akan mengatakan: "Selesai, tidak ada harapan."
  • ​Iman justru berkata: "Di sinilah Allah mulai bekerja." Kondisi "habis kesempatan" inilah yang memisahkan antara orang yang berharap pada sumber daya dunia dengan orang yang berharap pada Sumber Kehidupan.

2. Mematikan Harapan pada Dunia

​Apa yang Anda sampaikan tentang "tidak berharap lagi pada dunia" adalah sebuah kemerdekaan rohani yang luar biasa.

  • ​Selama kita masih memiliki "Plan B" yang mengandalkan kekuatan dunia, iman kita belum murni.
  • ​Saat semua pintu dunia tertutup (seperti jalan buntu di depan Laut Teberau), barulah kita bisa melihat bahwa Kasih Karunia bukan sekadar bantuan, melainkan satu-satunya alasan mengapa kita masih tegak berdiri.

3. Kemuliaan Allah di Atas Kemustahilan

​Mengapa Allah sering kali menunggu sampai keadaan menjadi "mustahil" baru Dia bertindak?

  • ​Supaya ketika janji itu tergenapi, tidak ada satu pun manusia yang bisa berkata, "Ini karena usahaku," atau "Ini karena keberuntunganku."
  • ​Segala pujian hanya kembali kepada Dia. Seperti Ishak yang lahir dari rahim yang secara logika sudah "mati", kehidupan kita pun sering kali dipelihara melalui cara-cara yang membuat dunia terheran-heran.

Hidup dengan sikap "tidak berharap pada dunia" bukan berarti kita menjadi pasif atau menyerah, melainkan kita bekerja dengan giat namun dengan hati yang berpaut pada sauh yang ada di dalam tabir surgawi. Itulah ketenangan sejati.

​Pada titik "tidak berharap lagi pada dunia" inilah, biasanya kita mulai mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas, bukan? Karena kebisingan ambisi pribadi sudah mulai mereda.













Postingan populer dari blog ini

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

Peran Roh Kudus (MKS #49)

  "Manusia Kerajaan Sorga 49", berfokus pada rencana ilahi Allah bagi umat manusia dan bagaimana individu dapat menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak-Nya. Ditekankan bahwa orang percaya tidak boleh mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi pada kuasa Roh Kudus dan Firman Allah untuk memenuhi takdir mereka. Ibadah JMD Bandung 2 Agustus 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 49 Poin-Poin Utama : Memahami Bahasa Allah: Papa menekankan pentingnya memahami "bahasa" Allah, mencatat bahwa Alkitab tidak boleh dilihat sebagai ayat-ayat yang terisolasi, tetapi sebagai satu rencana besar yang terpadu. Memahami firman dan menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah memerlukan tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar kemampuan akal. Roh Kudus sangat penting untuk wahyu yang sejati. Kuasa Firman: Firman memiliki kuasa bawaan untuk menggenapi dirinya sendiri. Manusia cukup percaya dan memberi ruang bagi kasih karunia Allah, bukan memaksakan dengan usaha sendiri seperti pola hukum Taurat. Or...

Kapasitas dan Potensi Spiritual (MKS #48)

Ps. Djonny  membahas konsep Manusia Kerajaan Sorga melalui tinjauan teologis atas janji Tuhan kepada Abraham dalam Kejadian 17 . Beliau menjelaskan bahwa identitas sebagai raja menurut definisi ilahi bukan didasarkan pada kekuasaan duniawi seperti Nimrod, melainkan pada kapasitas spiritual untuk memerintah melalui kebenaran dan ketaatan. Terdapat penekanan pada enam langkah Allah dalam Kejadian 1 , mulai dari memberkati hingga memberikan otoritas untuk menaklukkan bumi, sebagai pola bagi manusia untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Peran Roh Kudus dianggap krusial dalam memperluas pengaruh hidup seseorang agar mencapai kaliber dunia demi kemuliaan Tuhan. Melalui teladan Yesus, jemaat diajak untuk menyadari potensi ilahi dan warisan rohani mereka sebagai keturunan Abraham yang dipanggil untuk menyatakan otoritas surga. Ibadah JMD Bandung 26 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 48 Berikut adalah catatan selengkapnya dari materi "Manusia Kerajaan Sorga 48: Raja-Raja dari Ket...

Ikat Janji Allah (God's Covenant) dengan Abraham dan Keturunannya

Saat Teduh 26 Jan 2025 Kej 26:1  Maka timbullah kelaparan di negeri itu.  —  Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. 2  Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3  Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau,  4  Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5  karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Kej 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13  Dan orang itu menjadi kaya, bahkan k...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

The Unstoppable Generation and Strategies for Leadership Succession (UR #238)

Artikel ini bersumber dari materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai konsep suksesi kepemimpinan dan pembentukan generasi "Manusia yang Tak Terhentikan."  Beliau menekankan bahwa kekuatan sebuah pelayanan sangat bergantung pada ketangguhan spiritual pemimpinnya dalam menghadapi berbagai hambatan seperti pola pikir negatif dan pergaulan yang salah. Fokus utamanya adalah pentingnya membangun hubungan bapa-anak yang sejati untuk mewariskan takdir ilahi, bukan sekadar membagi tanggung jawab struktural. Melalui rujukan kitab Kisah Para Rasul 16 dan Pengkhotbah 2 , dijelaskan bahwa suksesi yang akurat harus direncanakan dengan hati-hati agar warisan rohani tetap berlanjut tanpa perubahan arah. Tujuan akhirnya adalah melahirkan gereja apostolik yang tak tergoyahkan dan murni dari pengaruh duniawi atau denominasi. Strategi ini menuntut penggunaan hikmat, pengetahuan, dan keterampilan ilahi untuk menerjemahkan kehendak Tuhan ke dalam realitas di bumi. 30 06 2026, ...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...