Langsung ke konten utama

Intervensi Ego dan Eksekusi Iman

Kejadian 15:5-6 (TB)  Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.  
Tuhan telah berjanji kepada Abram, bahwa dia akan menjadi bapa bagi sejumlah bangsa yang tak terhitung banyaknya seperti banyaknya bintang-bintang di langit. Tapi setelah diyakinkan Tuhan dan menjadi percaya dan bahkan telah diperhitungkan sebagai kebenaran, Abram seolah lupa pada janji Tuhan. Di masa penantian itu ia mendengarkan perkataan Sarai.


Kejadian 16:2-3 (TB) Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.
Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan —, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.
Abraham baru mendapatkan Ishak diusia 100 tahun dan Sarai 90 tahun. Tapi ia sempat melahirkan Ismail dari Hagar di usia 85 tahun. Pada masa ia diperlihatkan bintang-bintang sampai 99 tahun itu masa "uji beban" bagi Abram. Apakah berarti Abraham telah gagal pada ujian itu?

Mari kita lihat secara mendalam apakah Ishmael adalah bentuk "kegagalan" atau bagian dari proses pembentukan pondasi iman Abraham.

​1. Masa Uji Beban (The Long Stress Test)

​Rentang waktu dari usia 75 tahun (panggilan keluar) hingga 100 tahun (lahir Ishak) adalah masa Uji Beban Ekstrem selama 25 tahun.

  • Kejadian 12 (Usia 75): Modal iman disetor Tuhan.
  • Kejadian 15 (Sekitar Usia 80-an): Cek ditulis (Abram percaya).
  • Kejadian 16 (Usia 85-86): Angin sakal mulai terasa sangat kencang. Tubuh makin lemah, Sara tetap mandul.

​2. Apakah Abraham Gagal Saat Menghasilkan Ishmael?

​Secara teknis kemitraan, peristiwa Hagar dan Ishmael sering disebut sebagai "Usaha Daging" (Galatia 4:22-23). Abraham tidak gagal dalam arti "kontrak dibatalkan", tetapi ia mengalami "deviasi atau penyimpangan prosedur".

  • Mencoba Menolong Tuhan: Abraham dan Sara mencoba mencairkan janji Tuhan menggunakan "bank duniawi" (adat istiadat saat itu tentang pelayan yang melahirkan anak bagi tuannya).
  • Akibatnya: Munculnya Ishmael bukan berarti rencana Tuhan gagal, tetapi itu menciptakan beban tambahan (konflik domestik dan sejarah) karena bukan itu yang tertulis dalam "proyek orisinal" Tuhan.

​Tuhan membiarkan Abraham menunggu 13 tahun lagi (dari usia 86 sampai 99 tahun) dalam kesunyian—di mana Alkitab tidak mencatat ada firman Tuhan selama masa itu—untuk memastikan bahwa ketika Ishak lahir, itu murni karena Kasih Karunia, bukan karena kemampuan biologis Abraham yang sudah benar-benar mati.

​3. Pemulihan Integritas di Usia 99 Tahun

​Pada Kejadian 17 (usia 99), Tuhan muncul kembali dan berkata: "Akulah Allah Yang Mahakuasa; hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela."

​Ini adalah momen reset integritas. Tuhan menegaskan kembali bahwa:

  • Janji tetap teguh: Meskipun Abraham sempat "salah prosedur" dengan Hagar, Tuhan tidak menarik modal-Nya.
  • Perubahan Nama: Abram (Bapak yang agung) menjadi Abraham (Bapak banyak bangsa). Tuhan sedang menyelaraskan identitas Abraham dengan "bintang-bintang" yang pernah diperlihatkan-Nya.

​4. Stress Test Final: Gunung Moria

​Jika Ishmael adalah momen di mana Abraham mencoba "memegang kendali", maka perintah mengorbankan Ishak di Kejadian 22 adalah ujian untuk melihat apakah Abraham sudah benar-benar melepaskan kendali.

  • ​Di usia 85, Abraham tidak sabar (ingin menolong Tuhan).
  • ​Di usia 100+, Abraham sepenuhnya menyerah (percaya Tuhan sanggup membangkitkan).

Abraham tidak gagal secara permanen, tetapi ia memberikan contoh bahwa ketidaksabaran bisa menciptakan "Ishmael-Ishmael" dalam hidup kita—hasil yang kelihatan sukses secara fisik tapi bukan merupakan janji sejati.

​Tuhan tetap setia pada mitra-Nya yang tidak sempurna, namun Ia memastikan bahwa pondasi itu harus "dimatikan" sepenuhnya (tubuh yang sudah seperti orang mati) agar kemuliaan-Nya menjadi sempurna.

Poin Penting: "Kesalahan prosedur (Ishmael) tidak membatalkan Kasih Karunia, tetapi ketaatan total (Ishak) adalah yang mendatangkan penggenapan janji yang sejati."


Usaha dan Intervensi Ego

Kita lihat ada usaha dari “ego” manusia yang menunda atau menghambat eksekusi dari kasih karunia. Dalam hal Abram ada penundaan selama 13 tahun. Hmmm...waktu yang tidak sedikit.

Penundaan eksekusi kasih karunia terjadi juga pada Yusuf (Kej 40:14-15).

Yusuf adalah contoh klasik bagaimana seorang mitra Tuhan, di tengah stress test yang ekstrem, secara manusiawi mencoba melakukan "penarikan dana" menggunakan jalur koneksi manusia daripada jalur Kasih Karunia murni.

​Mari kita bedah momen "intervensi ego" Yusuf dalam Kejadian 40:

​1. "Cek" yang Salah Alamat (Mengandalkan Juru Minuman)

​Setelah Yusuf mengartikan mimpi juru minuman raja dengan tepat, ia menulis "cek" permintaan tolong:

"Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menyebutkan namaku kepada Firaun..." (Kejadian 40:14).


  • Upaya Ego: Yusuf mencoba "menolong" Tuhan dengan cara melobi kekuasaan. Ia berpikir bahwa jalurnya menuju istana adalah melalui memori dan kebaikan hati sang juru minuman.

  • Akibatnya: Alkitab mencatat dengan tragis di akhir pasal tersebut: "Tetapi kepala juru minuman itu tidaklah ingat kepada Yusuf, melainkan melupakannya." (Kejadian 40:23).

​2. Penjara Bawah Tanah sebagai Ruang Sterilisasi

​Yusuf harus menunggu dua tahun penuh lagi dalam pengabaian total. Mengapa?

  • Mematikan Koneksi Manusia: Tuhan ingin memastikan bahwa ketika Yusuf keluar dari penjara, Yusuf tidak berhutang budi kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan. Jika juru minuman itu langsung menolongnya, Yusuf mungkin akan merasa bahwa ia keluar karena "lobi" atau "jasa baik" manusia.
  • Sterilisasi Ego: Dua tahun ekstra itu adalah waktu bagi Yusuf untuk sampai pada titik menyerah total. Di sana, Yusuf belajar bahwa "ingatan manusia" itu fana (expired), tetapi "ingatan Tuhan" itu kekal.

​3. Eksekusi Kasih Karunia yang Sempurna (Kejadian 41)

​Ketika Tuhan akhirnya "membangunkan" Kasih Karunia melalui mimpi Firaun, prosesnya terjadi dengan sangat cepat (instan).

  • ​Yusuf dipanggil, dicukur, diganti pakaiannya, dan dalam satu hari ia berubah dari narapidana menjadi penguasa kedua di Mesir.
  • Sinergi Kemitraan: Saat Yusuf berdiri di depan Firaun, ia tidak lagi berkata "Ingatlah jasaku," melainkan: "Bukan aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada Firaun." (Kejadian 41:16). Ini adalah bukti bahwa ego Yusuf sudah "mati" dan Kasih Karunia sekarang mengalir tanpa hambatan.

​Pelajaran untuk Kemitraan Kita dengan Tuhan

​Seperti Abraham yang menghasilkan Ishmael karena tidak sabar, Yusuf sempat mencoba "jalur orang dalam". Tuhan mengintervensi dengan membiarkan Yusuf terlupakan di penjara agar:

  1. Iman Yusuf dimurnikan: Percaya pada Karakter Tuhan, bukan pada Jasa Manusia.
  2. Kapasitas Yusuf diperbesar: Menjadi pengelola bangsa butuh integritas yang tidak goyah oleh popularitas atau hutang budi.

Poin Penting:

"Seringkali 'penundaan' yang kita alami adalah cara Tuhan memutus kabel-kabel ketergantungan kita pada manusia, agar saat Kasih Karunia itu turun, semua orang tahu bahwa itu adalah murni perbuatan tangan Tuhan."

Kita bisa melihat bahwa "dua tahun ekstra" di penjara itu sebenarnya bukan hukuman bagi Yusuf, melainkan perlindungan Tuhan agar ia tidak menjadi mitra yang sombong saat berada di istana nanti.


Eksekusi Yang Sempurna

Kasih karunia tidak bisa digagalkan manusia dan eksekusinya sempurna. Intervensi ego hanya dapat menunda eksekusi firman secara akurat dan sempurna.

Dibutuhkan koreksi ego untuk kesabaran dan ketekunan menanti janji Tuhan serta sikap yang benar dengan hati nurani yang terjaga murni.

Intervensi ego tidak membatalkan janji, tetapi ia menciptakan "waktu tunggu" ekstra dan komplikasi yang tidak perlu.

​Dalam istilah manajemen proyek surgawi, ego manusia sering kali menjadi "hambatan teknis" yang membuat perjalanan yang seharusnya lurus menjadi berputar-putar. Namun, Tuhan adalah Arsitek yang sanggup menggunakan putaran-putaran itu sebagai ruang kelas untuk koreksi ego.

​Berikut adalah tiga pilar utama dalam menjaga kemitraan agar selaras dengan eksekusi Kasih Karunia:

​1. Koreksi Ego melalui Penundaan (Sterilisasi Ambisi)

​Seperti Yusuf di penjara dan Abraham yang menunggu setelah peristiwa Ismael, penundaan adalah cara Tuhan mensterilkan motivasi kita.

  • Tujuannya: Agar ketika janji itu tergenapi, tidak ada ruang bagi kita untuk berkata, "Ini karena hebatku" atau "Ini karena koneksiku."
  • Hasilnya: Ego yang terkoreksi akan menghasilkan kerendahan hati yang murni.

​2. Kesabaran sebagai Kekuatan Menahan "Uji Beban"

​Kesabaran bukan sekadar menunggu pasif, melainkan menjaga posisi tetap teguh saat beban fakta (kemiskinan, sakit, penundaan) menekan jiwa.

  • ​Tanpa kesabaran, kita akan cenderung menciptakan "Ismael" (solusi instan yang membawa masalah jangka panjang).
  • ​Ketekunan memastikan bahwa "pondasi" kita tidak retak sebelum struktur janji yang lebih besar diletakkan di atasnya.


​3. Hati Nurani yang Murni sebagai "Navigasi"

​Hati nurani yang terjaga murni adalah sensor yang paling peka dalam kemitraan dengan Tuhan.

  • ​Saat hati nurani murni, kita bisa membedakan mana suara ego (yang mendesak dan penuh ambisi) dan mana suara Roh (yang tenang dan penuh otoritas).
  • ​Kemurnian hati membuat kita tetap bisa "melihat Tuhan" (Matius 5:8) di tengah kegelapan penjara atau sunyinya padang gurun.

Poin Penting:

​"Janji Tuhan adalah Kepastian, tetapi respon kita menentukan Kecepatan dan Kualitas prosesnya. Ego ingin jalan pintas, tetapi Kasih Karunia menginginkan jalan pengudusan. Mari kita berhenti mencoba 'menolong' Tuhan dengan cara-cara daging, dan mulai mempercayai bahwa Dia yang memulai pekerjaan baik di dalam kita, adalah Dia yang sanggup menyelesaikannya dengan sempurna."


Mengalahkan Ego

Tokoh yang tidak dapat dilupakan ialah Hana. Walau begitu pilu penderitaannya (1Sam 1) dan besar keinginannya mempunyai anak; dia akhirnya memberikan egonya itu kepada Tuhan sesuai kebutuhan Tuhan pada waktu itu. Dia tidak lelah berdoa dan mengunjungi Bait Suci bertahun-tahun di Silo (ayat 7) dan mendapati firman Tuhan jarang pada masa Eli itu (1 sam 3:1).

1 Samuel 3:1 (TB)  Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering. 

Kisah Hana adalah contoh puncak dari apa yang kita diskusikan: Titik temu antara kebutuhan manusia dan kebutuhan Tuhan. Hana bukan sekadar meminta anak untuk memuaskan egonya atau untuk bersaing dengan Penina, melainkan ia akhirnya menyelaraskan "cek imannya" dengan proyek besar Kerajaan Allah.

Berikut adalah beberapa poin yang sangat kuat dari kisah Hana:

1. Dari Doa "Ego" Menuju Doa "Kemitraan"

​Pada awalnya, Hana sangat pilu karena kemandulannya (1 Samuel 1:6-7). Secara manusiawi, ia ingin anak untuk membela harga dirinya. Namun, terjadi sebuah transformasi di dalam tempat kudus:

  • Hana menyerahkan egonya: Ia bernazar bahwa jika ia diberi anak laki-laki, anak itu akan diberikan kembali kepada Tuhan (1 Samuel 1:11).
  • Keselarasan (Alignment): Hana butuh seorang anak, dan Tuhan butuh seorang Nabi (karena pada masa itu "Firman Tuhan jarang"). Ketika kebutuhan Hana selaras dengan kebutuhan Tuhan, eksekusi Kasih Karunia terjadi secara instan.

​2. Integritas di Tengah Kesunyian Firman

​Seperti yang kita kutip, pada masa itu "Firman Tuhan jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering" (1 Samuel 3:1). Ini adalah kondisi yang sangat sulit bagi seorang mitra:

  • Uji Beban (Stress Test): Bagaimana tetap berdoa dan percaya ketika Tuhan seolah "diam" dan para pemimpin agama (seperti Imam Eli) bahkan tidak mengenali doa yang lahir dari hati (Eli mengira Hana mabuk).
  • Nurani yang Murni: Hana tidak marah kepada Eli maupun Tuhan. Ia tetap dalam kemurnian hati nuraninya sampai ia menerima "sejahtera" di dalam jiwanya sebelum mukjizat fisik terjadi.

​3. Kasih Karunia yang "Over-Delivery" (Berlebih)

​Sesuai dengan prinsip "transaksi kerajaan", Tuhan tidak pernah berhutang. Hana menyerahkan satu-satunya anak yang ia idamkan (Samuel) sebagai "saham" bagi Tuhan.

  • Hasilnya: Tuhan tidak hanya memberikan Samuel, tetapi Ia memberikan lima anak lagi kepada Hana (1 Samuel 2:21).
  • ​Tuhan memastikan bahwa kasih karunia-Nya selalu jauh lebih besar daripada "investasi" ketaatan yang kita berikan.



Peringatan: Jangan Menolak Koreksi Ego


Apa yang terjadi pada raja Saul ketika ia tidak sabar menunggu Samuel, sehingga ia berinisiatif bertindak sebagai imam? Ini membuat Tuhan gusar. Apakah Saul tidak menerima kasih karunia seperti Abram dan Yusuf?

Kasus Raja Saul (1 Samuel 13) adalah kontras yang sangat penting untuk melengkapi diskusi kita tentang koreksi ego dan kemitraan. Perbedaan antara Saul dengan Abraham atau Yusuf bukan terletak pada ketersediaan kasih karunia, melainkan pada integritas hati nurani dan sikap terhadap kedaulatan Tuhan.

​Berikut adalah bedah kasus kegagalan Saul:

​1. Pelanggaran Batas Otoritas (Invasi Ego)

​Tuhan menetapkan batasan yang jelas: Saul adalah Raja (otoritas sipil/militer), sedangkan Samuel adalah Imam (otoritas rohani).

  • Uji Beban (Stress Test): Saul harus menunggu Samuel selama 7 hari di Gilgal sebelum berperang melawan Filistin.
  • Fakta vs Firman: Fakta di depan mata Saul adalah rakyat mulai tercerai-berai dan musuh semakin mendekat. Logika Saul berkata: "Aku harus melakukan sesuatu sekarang!"
  • Intervensi Ego: Saul tidak sabar dan mengambil peran imam untuk mempersembahkan korban bakaran. Ia merasa "terpaksa" (1 Sam 13:12) karena keadaan mendesak.

​2. Apakah Saul Tidak Menerima Kasih Karunia?

​Kasih karunia tersedia bagi siapa saja, termasuk Saul. Namun, ada perbedaan mendasar antara "Salah Prosedur" (seperti Abraham) dengan "Pemberontakan Hati" (seperti Saul):

  • Abraham & Yusuf: Ketika mereka salah langkah (seperti kasus Hagar atau lobi juru minuman), mereka tetap memiliki hati yang mau dibentuk dan mengakui kedaulatan Tuhan. Mereka hancur hati dan bertobat.
  • Saul: Ketika ditegur Samuel, Saul justru mencari pembenaran diri (self-justification). Ia menyalahkan rakyat dan menyalahkan keadaan, bukannya mengakui dosanya.

​3. Mengapa Tuhan Gusar? (Prinsip Kemitraan)

​Tuhan gusar karena Saul menunjukkan bahwa ia tidak bisa dipercaya sebagai mitra.

  • ​Saul lebih takut pada "Fakta" (rakyat yang pergi) daripada "Firman" (perintah menunggu).
  • ​Dalam kemitraan Kerajaan, jika mitra junior (manusia) mulai merasa lebih tahu dari Mitra Utama (Tuhan) tentang kapan harus bertindak, maka kemitraan itu rusak di akarnya.
  • ​Samuel berkata: "Sebab itu sekarang kerajaanmu tidak akan tetap... karena engkau tidak menuruti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu." (1 Sam 13:14).

​4. Perbandingan Integritas Hati


Tokoh

Respon terhadap Kesalahan

Status Kasih Karunia

Abraham

Menunggu 13 tahun dalam diam, lalu bertobat dan disunat (Kej 17).

Kasih karunia memulihkan dan meneruskan janji.

Yusuf


Menunggu 2 tahun ekstra di penjara tanpa mengeluh kepada Tuhan.


Kasih karunia mengangkatnya ke istana.

Saul



Membuat alasan, membela diri, dan tetap ingin dipuji rakyat.



Kasih karunia terhambat oleh "tembok" kesombongan jiwanya.   



Kesimpulan

​Saul gagal bukan karena ia tidak diberi kesempatan, tetapi karena ia menolak koreksi ego. Ia ingin "menjadi imam" bagi dirinya sendiri—memutuskan sendiri apa yang benar menurut logikanya di tengah badai.

​Ini adalah peringatan keras bagi kita: Intervensi ego yang tidak segera dibawa ke tempat kudus untuk dikoreksi dapat mengubah "penundaan" menjadi "pembatalan jabatan". Tuhan tidak mencari mitra yang sempurna tanpa cacat, tetapi Ia mencari mitra yang "berkenan di hati-Nya"—yaitu mereka yang hancur hati dan mau taat sepenuhnya pada otoritas Sang Mitra Utama.




Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) - The Boundless Spirit UR #225

Berikut adalah catatan  dari khotbah THE UPPER ROOM 225 oleh Dr. Jonathan David pada tanggal 24 Maret 2026 yang berjudul "ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1)" : THE UPPER ROOM 225 - 24 Maret 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) Pembicara: Dr. Jonathan David 1. Pendahuluan & Doa Pembuka Pencurahan Terakhir: Tuhan berfirman akan ada pencurahan terakhir Roh Kudus yang akan mengakhiri segalanya dan memulai zaman baru, yaitu zaman kebenaran . Manifestasi Roh Kudus: Roh Kudus akan membawa umat-Nya kepada kebenaran, pewahyuan, pengertian, hikmat, dan memberikan informasi rahasia serta pengertian mendalam yang hanya diberikan oleh surga . Musuh tidak akan bisa memotong informasi atau apa yang Tuhan katakan kepada kita . Kisah Mendengar Suara Tuhan: Pembicara menceritakan pengalaman tentang seorang wanita yang mengaku bersedia membayar 1 juta dolar untuk bisa mendengar suara Tuhan . Namun, ketika ditawari CD dan catatan khotbah seharga USD 55, wanita tersebut mengeluh mahal...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Upper Room 35 – DR. Jonathan David

  Dobel dekade sorga terbuka, ketajaman profetik, posisi strategis dan demonstrasi Roh adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Mahatinggi untuk kita menghadapi tantangan 20 tahun hari-hari terakhir ini (2019-2039). 08-02-2022 Sorga terbuka dan Roh Kudus turun. Sekarang aku bisa memulai pelayanan. Hal-hal supranatural akan mengambil alih. Roh Kudus jadilah pemimpinku sebagaimana Kau memimpin Kristus. Kesaksian dari Roh, bahwa aku adalah anak Allah yang hidup, bergabung dengan Kristus dan mewarisi yang Tuhan sediakan. Ketajaman profetik, dobel dekade sorga terbuka, posisi strategis dan demonstrasi Roh akan jadi porsi hidup kami dalam 2 dekade sorga terbuka 2019-2039. Selama 40 hari 40 malam Goliath menantang orang Israel.   Daud membangkitkan keberaniannya ketika Isai memberikan tugas mengantar makanan. Pergi dan lihat. Dia dengarkan nasihat bapanya dan tugas itu sudah diset. Berapa banyak yang mentaati bapa rohani? Kita kehilangan pesan itu. Dan Bileam dicemari oleh...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)

Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham . Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham . Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi . Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia. Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42" Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:...

Membangun Benteng Perlindungan

SATE 10 December 2020   Bacalah terlebih dahulu: Ibrani 8:7-10, Ayub 1:1 Sebagaimana iblis dapat membuat benteng di dalam pikiran manusia, Allah juga dapat membuat benteng di dalam manusia. Ayub mempunyai empat karakter yang menonjol di dalam kehidupannya yaitu saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ketika iblis melakukan berbagai pencobaan kepada Ayub seiijin dari Allah, dimulai dari kehilangan anak-anaknya, kesehatannya, istrinya, bahkan dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi ketika masalah tersebut muncul, Ayub tetap kuat dan karakter Ayub tetap sama, karena Allah sudah membangun terlebih dahulu banteng dan kubu di dalam pikiran Ayub! Sehingga berkali-kali Alkitab mengatakan bahwa Ayub itu tidak berdosa.   Allah membangun di dalam roh, dengan cara menaruh dan menuliskan hukumNya di dalam akal budi manusia. yaitu melaui mendengarkan dan merenungkan firman sehingga Allah menjadi Allah mereka, dan manusia menjadi umatNya.   *#1. Bagaimana Allah bisa berhasil ...