Penyingkapan dari khotbah PP Djonny hari ini (22 Februari 2026) yang bertema "Manusia Kerajaan Sorga 27" berfokus pada misteri bagaimana manusia dibenarkan oleh Allah melalui pola hidup Abraham.
Berikut adalah poin-poin utama penyingkapannya:
1. Rahasia Kebenaran Allah melalui Iman dan Perbuatan
Iman sebagai Anugerah: Khotbah menekankan bahwa iman bukanlah hasil usaha manusia (Efesus 2:8-9), melainkan anugerah yang ditaruh Allah di dalam roh manusia.
Percaya sebagai Tindakan: Ada perbedaan antara "iman" (pada roh) dan "percaya" (pada jiwa/pikiran). Percaya adalah respons atau perbuatan yang timbul dari iman yang sudah ada.
Kebenaran Allah vs Kebenaran Diri: Abraham dibenarkan bukan karena kebenaran menurut standarnya sendiri, melainkan karena Allah memperhitungkan "tindakan percaya"-nya sebagai kebenaran Allah.
2. Pola "Keluar dari Kenajisan"
Pola Abraham: Seperti Abraham yang disuruh keluar dari neggʻerinya, umat Tuhan saat ini dipanggil untuk "keluar" dari segala sesuatu yang najis.
Definisi Najis: Hal najis bukan hanya soal moral, tetapi segala sesuatu yang didasarkan pada pemikiran duniawi atau diri sendiri yang tidak berasal dari pimpinan Roh Kudus.
3. Iman yang Progresif (Dari Iman kepada Iman)
Ketaatan Nuh dan Abraham: Khotbah membandingkan Nuh dan Abraham yang melakukan segala sesuatu "tepat sesuai" (akurat) dengan petunjuk Tuhan.
Iman yang Hidup: Iman tanpa perbuatan adalah mati. Kebenaran Allah menjadi nyata melalui perjalanan hidup yang bertolak dari satu tingkat iman ke tingkat iman berikutnya melalui ketaatan praktis.
4. Status sebagai Keturunan Abraham
Kita disebut keturunan Abraham jika kita menjadi milik Kristus. Sebagai keturunan, kita berhak menerima janji-janji Allah yang pernah diberikan kepada Abraham.
Dibaptis dalam Kristus berarti mengenakan kepribadian Kristus dan mengikuti pengajaran serta kehidupan-Nya secara nyata.
Kesimpulan: Khotbah ini menyingkapkan bahwa untuk menjadi "Manusia Kerajaan Sorga", seseorang harus memiliki iman yang diekspresikan melalui perbuatan taat yang tepat, sehingga hidupnya diakui oleh Allah sebagai kebenaran.
Catatan tambahan mengenai Abraham:
*1. Keluar dari negerimu.*
Abram mendapat anugrah iman, kasih karunia Tuhan ketika masih di Ur-Kasdim, Mesopotamia.
Yosua 24:2 (TB) Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.
Kisah Para Rasul 7:2 (TB) Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,
3 dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Efesus 2:8-9 (TB) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
*Jadi iman benar-benar karna kasih karunia, pemberian Allah; tapi iman yang diterima harus dibuktikan lewat perbuatan oleh karna percaya.*
*Iman dikaruniakan > percaya > dibenarkan > bertindak > orang benar (hidup oleh iman).*
*2. Keluar dari rumah ayahmu.*
Kej 12:1-3
Allah memanggil Abram keluar dari rumah ayahnya di Haran. Tapi mungkin atas saran ayahnya, Abram masih membawa ‘bagasi ekstra’, yakni Lot.
*3. Keluar dari sanak saudaramu.* Ini bukan hanya hubungan lahiriah dengan sanak-saudara, tapi pertalian atau keterikatan dengan anggota keluarga yang lain, misalkan suami/istri, anak dan orangtua. Kau harus berani keluar dari bentukan dan pengaruh atau ikatan itu.
Keterikatan keluarga berarti masih ada bagasi ekstra, karena tidak mandiri secara spiritual.
Yesus mengatakan bahwa Ia memisahkan hubungan keluarga.
Matius 10:35
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
Tanpa pemisahan dan mengambil keputusan mandiri kita tidak dapat mengenakan kebenaran Allah, melain masih mengambil keuntungan dari keterikatan itu dan belum bergantung sepenuhnya kepada Allah.
*4. Di rumah Terah (orang tua/tradisi) kau terima keamanan emosional dan sosial (kenyamanan dan berkat dan warisan).*
Tapi menjadi Abramnya Allah yang Mahatinggi kau menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. IA membawamu ke seberang, di mana ada ikat-janji Allah tentang keselamatan, perlindungan, berkat bangsa-bangsa lewat pengurapan dari Melkisedek. Ia adalah imamnya Allah Yang Mahatinggi.
*5. Jangan kembali kepada Terah.*
Yesaya terikat kembali kepada Uzia.
Abram kembali terikat kepada Ismail.
Kita yang sudah percaya, bukan tidak mustahil kembali kepada kebenaran lama, kepada budaya dan tradisi lama.
*6..Jangan toleransi pada kelemahan, kekuranganmu: kemiskinan, sakit penyakit, kelumpuhan, dan sebagainya.*
Itu membuat mentalitas, moral dan kepercayaanmu terganggu.
Pertanyaan Komsel:
1. Galatia 3:29 (TB) Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.
Apakah yang dimaksud dengan milik Kristus? Bagaimana saudara menjadi milik Kristus? Mengapa mereka yang sudah menjadi milik Kristus juga berhak menerima seluruh janji Allah yang dijanjikan kepada Abraham?
Milik Kristus berarti Dia berdaulat atas hidup kita, tanpa keberatan atau mengeluh.
Sebagai bukti Tuhan memeteraikan roh kita dengan Roh Kudus. Kita harus hidup menurut roh, dipimpin oleh Roh Kudus dan terus mengalami dinamika iman dan pertumbuhan iman ke arah kedewasaa, sehingga memiliki ketetapan hati, keteguhan, hidup yang makin berbuah dan menjadi serupa dengan karakter Kristus.
2. Kejadian 12:1-3, Mengapa keluar atau menyeberang dari sungai Efrat ini menjadi faktor yang sangat penting sekali bagi Abram untuk dapat menerima seluruh janji Allah tersebut?
Menyeberang bukan hanya secara lahiriah, tapi lebih merupakan keputusan iman untuk keluar dari keterikatan dari sistem dunia (Babel), memegang kebenaran Tuhan dan tidak memakai kebenaran sendiri, sedemikian sehingga, hanya percaya pada janji Tuhan.
Sebagai keturunan Abraham, dari hal apa saja saudara harus keluar dalam kehidupan pribadi saudara?
*1. Keluar dari negerimu.*
Abram mendapat kasih karunia Tuhan ketika masih di Ur-Kasdim, Mesopotamia.
Kisah Para Rasul 7:2 (TB) Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,
Efesus 2:8-9 (TB) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
*Jadi iman benar-benar karna kasih karunia, pemberian Allah; tapi iman yang diterima harus dibuktikan lewat perbuatan oleh karna percaya.*
*Iman dikaruniakan > percaya > dibenarkan > bertindak > orang benar (hidup oleh iman).*
*2. Keluar dari rumah ayahmu.*
Kej 12:1-3
Allah memanggil Abram keluar dari rumah ayahnya di Haran. Tapi mungkin atas saran ayahnya, Abram masih membawa ‘bagasi ekstra’, yakni Lot.
*3. Keluar dari sanak saudaramu.* Ini bukan hanya hubungan lahiriah dengan sanak-saudara, tapi pertalian atau keterikatan dengan anggota keluarga yang lain, misalkan suami/istri, anak dan orangtua. Kau harus berani keluar dari bentukan dan pengaruh atau ikatan itu.
Keterikatan keluarga berarti masih ada bagasi ekstra, karena tidak mandiri secara spiritual.
Yesus mengatakan bahwa Ia memisahkan hubungan keluarga.
Matius 10:35
Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
Tanpa pemisahan dan mengambil keputusan mandiri kita tidak dapat mengenakan kebenaran Allah, melain masih mengambil keuntungan dari keterikatan itu dan belum bergantung sepenuhnya kepada Allah.
*4. Di rumah Terah (orang tua/tradisi) kau terima keamanan emosional dan sosial (kenyamanan dan berkat dan warisan).*
Tapi menjadi Abramnya Allah yang Mahatinggi kau menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. IA membawamu ke seberang, di mana ada ikat-janji Allah tentang keselamatan, perlindungan, berkat bangsa-bangsa lewat pengurapan dari Melkisedek. Ia adalah imamnya Allah Yang Mahatinggi.
*5. Jangan kembali kepada Terah.*
Yesaya terikat kembali kepada Uzia.
Abram kembali terikat kepada Ismail.
Kita yang sudah percaya, bukan tidak mustahil kembali kepada kebenaran lama, kepada budaya dan tradisi lama.
*6..Jangan toleransi pada kelemahan, kekuranganmu: kemiskinan, sakit penyakit, kelumpuhan, dan sebagainya.*
Itu membuat mentalitas, moral dan kepercayaanmu terganggu.
3. Apakah perbedaan antara iman dengan percaya?
perbedaan antara Pistis dan Pisteo:
1. Pistis (Iman) – Sisi Ilahi di dalam Roh, "biji benih" yang ditanamkan Tuhan di dalam tanah (roh) Anda.
2. Sumber: Berasal dari kasih karunia (grace). Anda tidak bisa membuat pistis sendiri;
3. Ibrani 11:1, pistis adalah bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat oleh mata jasmani.
4. Setan tidak punya pistis, hanya percaya (pisteo), sebab setan itu roh dan tidak ada tubuh jasmani.
Yakobus 2:19 menyebutkan setan-setan pun "percaya" (pisteo) bahwa Allah itu satu, bahkan mereka gemetar. Namun, mereka tidak memiliki pistis (iman yang menyelamatkan) karena mereka tidak tunduk pada otoritas Allah.
Pisteo
Pisteo (Percaya) – Sisi Manusia di dalam Jiwa.
1. Respon / ekspresi manusia terhadap iman yang sudah ada, sudah dikaruniakan.
2. Fungsi: Menyetujui apa yang Tuhan katakan.
3. Sumber: Berasal dari jiwa (pikiran, emosi, dan kehendak). Ketika pikiran Anda berkata, "Ya, saya setuju dan akan bertindak sesuai firman itu," itulah pisteo.
4. pisteo adalah proses biji itu mulai bertunas dan menembus tanah karena disirami oleh ketaatan.
Iman yang "Mati": Jika seseorang mengklaim punya pistis (iman di roh), tetapi jiwanya tidak melakukan pisteo (tindakan percaya/perbuatan nyata), maka iman itu tinggal sendirian dan "mati" atau tidak aktif.
Sejak kapan Abram memiliki iman dalam rohnya sehingga dia taat untuk keluar dari negerinya ke tempat yang belum dia ketahui?
Abram mendapat kasih karunia Tuhan ketika masih di Ur-Kasdim, Mesopotamia.
Kisah Para Rasul 7:2 (TB) Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran
Kisah Para Rasul 7:3 (TB) dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Jadi bagaimanakah proses iman itu timbul dalam roh kita?
Skema besar:
Firman rhema > iman > respon > percaya > dibenarkan > bertindak / taat > orang benar.
1. Inisiasi: Suara Tuhan
Tuhan bersuara (Suara Roh Kudus).
Sebelum telinga lahiriah mendengar, Roh Kudus melepaskan firman suara (Rhema) ke dalam roh manusia.
"Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rhema).”
"Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rhema).”
Roh Menerima (Iman ditanamkan sebagai anugerah).
Anugerah di dalam Roh
Iman bukan hasil usaha atau diproduksi oleh pikiran manusia. Allah menaruh "Iman" tersebut langsung ke dalam roh manusia sebagai kasih karunia (anugerah).
Letak Iman: Ada di dalam roh, bukan di jiwa atau pikiran.
Sifatnya: Pemberian cuma-cuma agar tidak ada orang yang memegahkan diri.
Jiwa Bereaksi / merespon (Pikiran memutuskan untuk Percaya).
Suara harus ditangkap di dalam roh (telinga rohani), bukan hanya secara jasmani, sehingga roh memberikan pengertian atau kebenaran firman (bukan akal budi, logika berpikir). Kebenaran bekerjasama dengan iman yang sudah ada, sehingga jiwa (pikiran) bisa diselaraskan dengan dan menerima pengertian itu dan percaya.
Ayub 32:8
Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.
Pada Praktiknya: "kebenaran diri sendiri" (logika yang didasarkan pada pengalaman pahit atau ketakutan) harus disingkirkan.
Visualisasi: Gunakan pola Abraham; saat ia melihat tubuhnya yang sudah tua (fakta), ia memutuskan lebih percaya janji Tuhan dengan
melihat bintang-bintang.
Tubuh Bertindak (Perbuatan nyata/Ketaatan).
Eksekusi Akurat (The Precise Action)
Ini adalah tahap paling krusial. Perbuatan Anda harus tepat sesuai instruksi, bukan "kira-kira".
Contoh Akurasi Nuh: Tuhan memberikan ukuran bahtera yang sangat spesifik (panjang, lebar, tinggi). Nuh tidak mengubah ukurannya menjadi lebih kecil atau besar karena alasan efisiensi.
Mengapa Nuh menjadi contoh eksekusi yang akurat? Abram belum akurat, karena mendengar istrinya, Sarai (Kej 16:2).