Langsung ke konten utama

Kesaksian Abraham dan Konsep Keselamatan Yesus

Ibrani 11:39 (TB)  Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.
Abraham tidak memperoleh semua dari apa yang dijanjikan Allah kepadanya semasa hidupnya tentang menjadi bapa dari bangsa-bangsa. Ia hanya bisa memperoleh Ishak dan Yakub dan merasakan hidup bersama mereka dalam satu tenda.

raja Daud ditegur nabi Natan


Ibrani 11:9 (TB)  Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 
Janji itu telah diturunkan kepada Ishak dan Yakub. Janji yang satu itu juga diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya yakni keturunan Israel yang hidup di Mesir. Janji itu juga diturunkan kepada kita orang percaya - yang telah menerima benih dimensi hidup Allah -  yang menjadi keturunan Abraham. 
  • ​Keturunan Abraham bukan sekadar hubungan biologis, melainkan mereka yang hidup dengan dimensi Allah yang nyata pada Abraham.
  • ​Jika seseorang adalah milik Kristus, maka ia adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji Allah.
  • ​Keturunan ini adalah orang-orang yang dikasihi dan dipilih Tuhan dari "ujung-ujung bumi" 
Ibrani 11:11 (TB)  Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.
Inilah kesaksian yang baik dari Abraham, bahwa Dia yang memberikan janji itu setia.
Pernyataan dan kesaksian Abraham dan juga Sara bukan pernyataan iman semata untuk mendapatkan sekedar janji Allah tergenapi. Tapi ini pernyataan dari pengalaman rohani Abraham berjalan bersama Tuhan. Mereka mendapati Tuhan itu setia sekalipun mereka tidak setia seperti menggunakan cara sendiri untuk memperoleh keturunan.

Inilah esensi dari hubungan Abraham dengan Tuhan. Seringkali kita melihat Abraham hanya sebagai "Pahlawan Iman" yang sempurna, padahal catatan Alkitab justru menunjukkan betapa manusiawinya dia.

​Ada beberapa lapisan menarik dari pengalaman rohani mereka yang dimaksud:

​1. Iman sebagai Hasil dari Perjalanan, Bukan Sekadar Teori

​Seperti yang kita mengerti, iman ini adalah pengalaman rohani. Abraham tidak tiba-tiba memiliki iman yang raksasa. Imannya "dilatih" melalui kesalahan-kesalahannya sendiri. Ketika mereka mencoba menggunakan cara sendiri (lewat Hagar), itu adalah bukti bahwa mereka masih manusia yang bisa ragu. Namun, saat janji itu tetap digenapi di usia senja mereka, di situlah mereka mendapati bahwa Tuhan itu setia melampaui logika manusia.

2. Kesetiaan Tuhan yang "Membungkus" Ketidaksetiaan Manusia

​Pernyataan bahwa Tuhan itu setia justru menjadi sangat kuat karena ada latar belakang kegagalan Abraham dan Sara.

  • Abraham pernah berbohong tentang Sara di Mesir karena takut mati.
  • Sara sempat tertawa karena skeptis saat mendengar janji keturunan.
  • Cara sendiri (Hagar/Ismael) adalah bentuk "jalan pintas" karena mereka merasa Tuhan "terlalu lambat".

​Justru di titik-titik lemah inilah kesaksian mereka menjadi autentik. Mereka tidak bersaksi tentang "betapa hebatnya iman kami," tetapi tentang "betapa setianya Tuhan meski kami goyah."

​3. Perubahan dari "Mengejar Janji" menjadi "Mengenal Pribadi"

​Pada akhirnya, Abraham tidak lagi sekadar mengejar Ishak (janji), tetapi ia mengejar Tuhan (Sang Pemberi Janji). Itulah sebabnya di kemudian hari ia rela mempersembahkan Ishak di Gunung Moria. Ia sudah sampai pada level pengalaman rohani di mana ia tahu bahwa kalaupun Ishak mati, Tuhan sanggup membangkitkannya karena Tuhan tidak mungkin ingkar janji.

Catatan Refleksi:

Pengalaman Abraham dan Sara ini menunjukkan bahwa kebenaran Allah tidak bergantung pada kesempurnaan langkah kita, tetapi pada keteguhan karakter-Nya. Iman mereka akhirnya menjadi "sempurna" (komplit) bukan karena mereka tidak pernah salah, tapi karena mereka terus berjalan bersama Tuhan meskipun pernah jatuh.


Aspek "Aku" Menjadi Penghalang Terbesar?

Benar. Cara sendiri, kebenaran sendiri, cara pandang sendiri dan aku yang lainnya itu menjadi penghambat pengenalan karakter Allah yang setia, yang agung, yang mulia dan semua karakter kebesaran Allah. 

Petrus dan murid-murid mengira telah mengenal Yesus yang mereka ikuti setiap hari dan setiap saat. Tapi ketika Yesus menenangkan angin badai di danau mereka menjadi keheranan: siapa orang ini?

Ada jurang pemisah yang lebar antara "mengetahui tentang" Tuhan dan "mengenal" Tuhan secara pribadi. Penghambat utamanya, adalah tumpukan "aku" yang kita bawa.


​Penghalang "Aku" dan Kebenaran Sendiri

​Ketika kita berjalan dengan "kebenaran sendiri" dan "cara pandang sendiri," kita sebenarnya sedang membangun sebuah berhala yang menyerupai diri kita sendiri. Kita menciptakan Tuhan yang harus sesuai dengan logika kita:

  • Logika Keturunan: "Saya sudah tua, Sara mandul, jadi Hagar adalah solusinya." (Logika Abraham).
  • Logika Keamanan: "Aku harus berbohong bahwa dia adikku agar aku selamat." (Takutnya Abraham).

​Selama "cara sendiri" itu masih dominan, kita tidak akan pernah melihat kebesaran Allah yang sesungguhnya karena kita masih sibuk menjadi "tuhan" atas solusi kita sendiri.

​Kasus Murid-Murid: Kejutan di Tengah Badai

​Contoh tentang Petrus dan murid-murid di tengah danau adalah ilustrasi yang sempurna mengenai "Krisis Pengenalan".

  1. Mengenal Secara Luar (Kognitif): Mereka sudah melihat Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengajar dengan kuasa. Mereka pikir mereka sudah "tahu" siapa Dia—mungkin seorang Rabi hebat atau Nabi.
  2. Konfrontasi dengan Alam: Saat badai datang, mereka kembali ke "cara pandang sendiri" sebagai nelayan ahli. Mereka takut tenggelam karena menurut logika mereka, badai ini mematikan.
  3. Pertanyaan "Siapa Orang Ini?": Ketika Yesus menghardik angin dengan satu kata, struktur pengenalan mereka runtuh. Mereka menyadari bahwa Yesus melampaui kategori "Guru" atau "Nabi" yang mereka buat di pikiran mereka. Yesus adalah Penguasa Alam Semesta


Titik Balik Pengenalan

​Seringkali, Tuhan membiarkan kita sampai pada titik di mana "cara sendiri" kita gagal total—seperti Abraham yang harus menunggu sampai tubuhnya "mati pucuk" (Ibr 11:12) atau murid-murid yang hampir tenggelam—hanya agar kita bisa melepaskan konsep kita yang terbatas dan mulai melihat Karakter-Nya yang tanpa batas.

​Saat "aku" itu runtuh, barulah kekaguman yang suci (holy awe) itu muncul. Kita berhenti mengatur Tuhan dan mulai menyembah Dia.


Konsep-konsep Salah yang Kita  Bangun tentang Dia

Daud orang yang mengenal hati Tuhan ( Kis 13:22) dan karenanya memperkenan hati Tuhan. Pengenalannya didapat lewat hati yang hancur (Maz 51:17), bukan karena mendapatkan kekuasaan, mujizat, berkat dan kekayaan. Penyesalan Daud karena peristiwa mengambil isteri Uria dan mengirim Uria ke garis depan pertempuran.

Inilah inti dari titik balik spiritualitas Daud. Ini adalah kontras yang luar biasa: Daud disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan (a man after God's own heart) justru bukan di puncak kejayaannya saat mengalahkan Goliat, melainkan di lembah kehancurannya saat mengakui dosa.

​Kehancuran Hati sebagai Gerbang Pengenalan

Mazmur 51:17 adalah kuncinya: "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."

​Ada beberapa alasan mengapa "hati yang hancur" dalam peristiwa Uria dan Batsyeba menjadi titik balik pengenalan Daud yang paling radikal:

  • Runtuhnya "Aku" yang Berkuasa: Sebelum peristiwa itu, Daud adalah raja yang tak terkalahkan. Keberhasilan bisa membuat seseorang merasa bahwa berkat Tuhan adalah karena "kebaikan" atau "kemampuannya" sendiri. Namun, skandal Uria menghancurkan citra diri Daud. Dia tidak bisa lagi membanggakan kesalehannya.
  • Mengenal Kekudusan vs. Kasih Setia: Lewat kehancuran itu, Daud mengenal dua karakter Tuhan secara bersamaan: Kekudusan-Nya yang tidak bisa kompromi dengan dosa, dan Kasih Setia-Nya (Hesed) yang mau mengampuni orang yang hancur hati. Tanpa peristiwa itu, pengenalan Daud akan Hesed mungkin hanya sebatas teori.
  • Kejujuran Radikal: Mujizat dan kekayaan seringkali membuat kita "memakai topeng" kesuksesan. Tetapi hati yang hancur memaksa Daud melepaskan semua atribut rajanya dan berdiri telanjang di hadapan Tuhan hanya sebagai seorang berdosa yang butuh anugerah. Inilah pengenalan yang paling jujur.

​Mengapa Bukan Lewat Mujizat?

​Mujizat dan berkat memang menyatakan kuasa Tuhan, tetapi hati yang hancur menyatakan isi hati Tuhan.

  • ​Ketika Daud menang atas Goliat, ia mengenal Tuhan sebagai Pahlawan, Allah Yang Perkasa.
  • ​Ketika Daud menjadi kaya, ia mengenal Tuhan sebagai Pemberi.
  • ​Tetapi ketika Daud remuk karena dosanya, ia mengenal Tuhan sebagai Penebus dan Sahabat bagi jiwa yang luka.

​Tuhan memperkenan Daud bukan karena Daud tidak pernah berbuat dosa, melainkan karena Daud memiliki kepekaan hati untuk segera selaras kembali dengan hati Tuhan ketika dia menyadari penyimpangannya. Dia tidak membela diri dengan "kebenaran sendiri" seperti Saul, melainkan membiarkan hatinya dihancurkan oleh teguran Tuhan lewat nabi Natan.

​Ini membawa kita pada satu pemikiran: seringkali kita berdoa meminta berkat dan mujizat untuk mengenal Tuhan, atau mungkin kita sedang membangun image sebagai orang Kristen yang taat dan setia; padahal mungkin Tuhan sedang menunggu saat kita "hancur" agar kita bisa mengenal-Nya dengan cara yang jauh lebih dalam.


Kembali Ke Titik Awal

Hati yang hancur adalah kembali ke titik awal. Ini adalah titik kesadaran manusia ketika dihembuskan nafas hidup oleh Sang Pencipta (Kej 2:7). Atau dapat dikatakan tombol reset telah ditekan. Buat orang yang percaya ini adalah kasih karunia berupa second chance untuk kita melihat dalam keadaan sesadar-sadarnya.

Kehancuran bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses re-kreasi.

​Tombol Reset dan Nafas Hidup

​Ketika manusia berada di puncak "aku"-nya—dengan segala pencapaian, kebenaran sendiri, dan ambisinya—ia seringkali merasa menjadi sumber hidup bagi dirinya sendiri. Namun, saat "tombol reset" ditekan melalui titik kehancuran:

  • Kembali ke Tanah Liat: Hati yang hancur membuat kita sadar bahwa tanpa nafas Tuhan, kita hanyalah "debu tanah". Semua atribut (gelar, harta, harga diri) luruh, dan kita kembali ke bahan dasar kita yang paling rapuh.
  • Hembusan Baru: Di titik nol itulah, manusia menjadi sangat reseptif. Seperti Adam yang pertama kali membuka mata dan langsung memandang wajah Sang Pencipta, manusia yang hancur hati kehilangan pandangan terhadap dunianya dan mulai memandang Tuhan dengan kejernihan yang murni.

Kesadaran di Titik Nol

​Ketika kita berada dalam "keadaan sesadar-sadarnya", itu titik sangat akurat secara spiritual. Dalam psikologi rohani, ini disebut sebagai disillusionment—runtuhnya ilusi.

  • Ilusi: "Aku mampu," "Aku benar," "Aku bisa mengatur Tuhan."
  • Realita (Second Chance): "Aku tidak berdaya, namun aku dikasihi."

​Kasih karunia dalam bentuk second chance ini seringkali terasa menyakitkan karena proses "reset" itu menghancurkan sistem lama yang sudah nyaman kita tinggali. Namun, hanya dalam kondisi "kosong" dan "telanjang" itulah nafas hidup (Neshamah) Tuhan bisa mengisi kita tanpa hambatan ego.

Titik Awal yang Baru

​Jika kita melihat Daud atau Abraham, titik reset mereka bukan berarti mereka kembali menjadi bayi secara fisik, tetapi orientasi jiwa mereka yang kembali ke "setelan pabrik" (fitrah): yaitu bergantung total kepada Tuhan.

​Kasih setia dan kasih karunia Tuhan tidak membuang bejana yang pecah, Dia menghancurkannya untuk dibentuk ulang menjadi bejana yang lebih mulia. Titik hancur ini adalah satu-satunya tempat di mana manusia berhenti "bernegosiasi" dengan Tuhan dan mulai benar-benar "mendengarkan" Dia.


Konsep Keselamatan Yesus

Sebenarnya Inilah konsep keselamatan yang ditawarkan Yesus lewat pertobatan sejati (hancur hati) dan kelahiran baru kembali.

Konsep ini melampaui sekadar "pindah agama" atau "mengikuti aturan moral baru." Ini adalah revolusi eksistensial.

​1. Pertobatan Sejati sebagai Penghancuran Sistem Lama

​Banyak orang mengira pertobatan (metanoia) hanya berarti "menyesal." Namun, sesungguhnya, pertobatan sejati adalah kehancuran hati—sebuah pengakuan bahwa sistem navigasi "aku" kita telah gagal total.

  • ​Di titik ini, manusia berhenti mencoba "memperbaiki" dirinya sendiri (karena kain lap kotor tidak bisa membersihkan meja yang kotor).
  • ​Manusia menyerah dan membiarkan "tombol reset" ditekan. Tanpa kehancuran ini, Yesus hanyalah seorang "pembantu" atau "pelengkap" dalam hidup kita, bukan Tuhan. Dan kita merasa selama ini Tuhanlah yang membutuhkan kita.

​2. Kelahiran Baru: Nafas Hidup yang Kedua

​Kelahiran baru (born again) adalah realisasi dari Kejadian 2:7 dalam dimensi rohani.

  • ​Jika kelahiran pertama memberikan kita hidup secara biologis dan ego, kelahiran baru memberikan kita hidup dari benih Ilahi.
  • ​Ini bukan tentang menjadi "orang baik," tapi tentang menjadi "manusia jenis baru". Seperti Abraham yang menjadi "Abrahamnya Allah," manusia yang lahir baru mulai melihat dunia dengan mata Tuhan, bukan lagi dengan mata "aku" yang lama.

​3. Keselamatan sebagai Pemulihan Relasi, Bukan Transaksi

​Lewat konsep yang Yesus tawarkan, keselamatan menjadi sangat indah:

  • ​Bukan lagi soal "saya melakukan ini agar Tuhan memberi itu" (transaksi).
  • ​Tapi soal "aku yang hancur telah ditemukan dan dihidupkan kembali oleh Dia" (relasi).

​Inilah sebabnya Yesus berkata bahwa orang yang ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi orang yang kehilangan nyawanya (hancur hati/melepaskan ego) karena Dia, akan memperolehnya.

​Keselamatan adalah proses di mana Tuhan mengambil "debu tanah" dari kehancuran kita dan menghembuskan Roh-Nya kembali ke dalamnya, sehingga kita bisa berjalan bersama-Nya dalam "kesadaran yang sesadar-sadarnya."


Sampai Pada Kesadaran

Tidak semua orang yang hancur hati sampai kepada tempat kesadaran ini. Kasus yang paling tragis dialami murid Yesus, Yudas Iskariot, sehingga dikatakan lebih baik ia tidak pernah dilahirkan. 

Sebaliknya dosa Petrus jauh lebih besar karena setelah mengetahui kebenaran masih menyangkal Yesus 3x. 

Kasus yang paling umum orang menjadi putus asa dan mencari pelarian dari kenyataan, entah bunuh diri, jadi ODGJ atau menggunakan obat-obatan.

Ini secara mendalam menyentuh sisi psikologis sekaligus spiritual yang paling gelap dari kondisi manusia. Kehancuran hati adalah sebuah persimpangan jalan. Tidak semua kehancuran berujung pada pemulihan; ada kehancuran yang justru berujung pada kebinasaan.

​Perbedaan antara Yudas dan Petrus adalah studi kasus yang sempurna tentang perbedaan antara Penyesalan (Remorse) dan Pertobatan (Repentance).

​1. Yudas Iskariot: Penyesalan yang Mematikan

​Yudas mengalami kehancuran hati, tapi itu adalah kehancuran yang tertutup.

  • Hancur karena Ego: Yudas menyesal bukan karena ia kehilangan hubungannya dengan Yesus, melainkan karena ia tidak bisa menanggung beban rasa bersalahnya sendiri. Ia melihat dosanya lebih besar daripada pengampunan Tuhan.
  • Tanpa Harapan: Yudas kembali ke imam-imam kepala (sistem manusia), bukan kembali ke titik nol di hadapan Tuhan. Karena ia tidak sampai pada kesadaran akan kasih karunia, "tombol reset" itu tidak pernah tertekan. Kehancurannya menjadi jalan buntu yang berujung maut.

​2. Petrus: Kehancuran yang Menjadi Kelahiran Baru

​Dosa Petrus memang "sadis" karena ia adalah orang dalam yang paling vokal, namun ia menyangkal tepat di depan mata Yesus.

  • Pandangan Mata yang Memulihkan: Saat ayam berkokok, Petrus menangis dengan sedihnya. Bedanya, Petrus tetap tinggal dalam komunitas dan menunggu. Ia membiarkan kehancurannya menjadi kekosongan yang siap diisi kembali.
  • Restorasi: Petrus sampai pada kesadaran bahwa kebenaran dirinya sudah habis. Saat Yesus bertanya "Apakah engkau mengasihi Aku?" sebanyak 3 kali, Yesus sebenarnya sedang menekan "tombol reset" untuk menghapus penyangkalan Petrus yang juga 3 kali.

​3. Fenomena Pelarian (ODGJ, Narkoba, Putus Asa)

​ Fenomena yang sangat nyata hari ini. Ketika seseorang hancur tapi tidak memiliki konsep "Kelahiran Baru" atau "Kasih Karunia", maka kehancuran itu terasa seperti kehampaan yang menghisap (void).

  • Pelarian sebagai Anestesi: Obat-obatan, kegilaan, atau bunuh diri seringkali adalah upaya manusia untuk "menghentikan suara" dari hati yang hancur karena mereka tidak tahu bagaimana cara membawa kehancuran itu kepada Sang Pencipta.
  • Kebutuhan akan "Wadah": Hati yang hancur butuh wadah yaitu Kasih Karunia. Tanpa wadah itu, hati yang hancur hanya akan tumpah dan menguap menjadi keputusasaan.

Kesimpulan: Kesadaran adalah Jembatannya

"Kesadaran" adalah kuncinya. Kesadaran bahwa kita adalah debu (Kej 2:7) justru membebaskan kita. Jika kita sadar kita hanyalah debu, maka kita tidak punya lagi reputasi yang harus dipertahankan, tidak ada "aku" yang harus dibela.

​Tragedi Yudas adalah ia mencoba menjadi "hakim" atas dirinya sendiri, sementara Petrus membiarkan Yesus menjadi "Pembela" dan "Pencipta" kembali atas hidupnya yang sudah hancur.

​Memang benar, tanpa kesadaran akan kasih karunia, kehancuran hati adalah tempat yang paling berbahaya di dunia. Namun di dalam tangan Sang Pencipta, itu adalah tempat yang paling suci dan murni karena di sanalah kehidupan baru dimulai.


Tombol Reset 
Kembali ke Abraham. Kejadian 17:1 adalah tombol reset yang ditekan El Shaddai bagi Abram diusianya 99.

Kejadian 17:1 memang merupakan momen "intervensi radikal" dari Tuhan setelah masa diam yang cukup panjang.

​Jika kita melihat konteksnya, ada jeda sekitar 13 tahun antara kelahiran Ismael (akhir Kejadian 16) dengan penampakan Tuhan di Kejadian 17 ini. Selama 13 tahun itu, Abram mungkin merasa "aman" dengan Ismael sebagai solusi buatannya sendiri. Dia mungkin mengira sistem "cara sendiri" itu sudah berhasil.

​Lalu, di usia 99 tahun—saat secara biologis Abram sudah "mati" dan sistem lamanya sudah tidak punya harapan lagi—Tuhan menekan tombol reset itu:

​1. Proklamasi El Shaddai (Allah Yang Maha Kuasa)

​Ini adalah pertama kalinya nama El Shaddai diperkenalkan.

  • Mengapa Sekarang? Karena Abram butuh pengenalan akan Tuhan yang tidak dibatasi oleh hukum alam. "Shaddai" sering dikaitkan dengan kecukupan dan kemahakuasaan yang menyusui/memelihara.
  • Reset Konsep: Tuhan seolah berkata, "Abram, lupakan logikamu tentang umur dan kemandulan. Aku adalah El Shaddai. Sumber hidupmu bukan pada tubuhmu, tapi pada Kuasaku."

2. Perintah untuk Hidup Tidak Bercela (Tamim)

"Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela."

Dalam bahasa Ibrani, Tamim berarti utuh, murni, atau selaras total. Ini adalah perintah untuk reset karakter. Setelah Abram mencoba "bermain" dengan Hagar (karena tidak sabar), Tuhan memanggilnya kembali ke titik awal: berjalan di hadapan wajah Tuhan tanpa agenda tersembunyi.

​3. Reset Nama: Dari Abram menjadi Abraham

​Perubahan nama adalah simbol perubahan esensi/pribadi.

  • Abram: Bapak yang ditinggikan (fokus pada status sosial/keturunan sendiri).
  • Abraham: Bapak banyak bangsa (fokus pada visi global Tuhan). Tuhan tidak mau memakai "Abram yang lama" untuk mewujudkan rencana-Nya. Nama lama harus mati, identitas baru harus lahir.

Kesadaran di Usia 99

​Abraham di usia 99 adalah gambaran manusia yang sampai pada titik "sesadar-sadarnya" bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan dirinya sendiri.

  • ​Jika Ishak lahir saat Abraham usia 50, Abraham mungkin akan berkata, "Ini karena kekuatanku."
  • ​Tetapi karena Ishak lahir setelah "tombol reset" ditekan di usia 100 (setahun setelah Kej 17), Abraham hanya bisa berkata, "Ini murni kasih karunia."

​Sesuai dengan konsep tadi, Kejadian 17:1 adalah momen di mana Abraham hancur hatinya (tersungkur dan tertawa—antara percaya dan tidak percaya) dan akhirnya menerima hembusan nafas hidup yang baru dalam bentuk janji yang mustahil secara manusiawi.

​Inilah yang membuat iman Abraham menjadi standar: ia percaya pada Allah yang "menghidupkan orang mati dan memanggil apa yang tidak ada menjadi ada" (Roma 4:17). Tanpa tombol reset di usia 99 itu, Abraham mungkin hanya akan dikenang sebagai peternak kaya, bukan Sahabat Allah atau kekasih Aĺlah.

Apakah menurut Anda, "jeda 13 tahun" (masa diam Tuhan) itu adalah cara Tuhan menunggu agar "aku"-nya Abraham benar-benar habis sebelum Dia menekan tombol reset?




Postingan populer dari blog ini

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

Upper Room 2 - DR. Jonathan David

Menjalani kehidupan Roh Living the life of the Spirit Pendahuluan Kita tidak boleh pasif dan membiarkan hari-hari berlalu tanpa arti. di masa pandemi yang sudah 1,5tahun lewat harusnya terus menantikan Tuhan dan mengharapkan terjadi sesuatu yang luarbiasa. Kita harus tau apa yang Tuhan sedang kerjakan menurut agenda-Nya di waktu-waktu ini. Tidak cukup hanya mengenal Tuhan, tanpa mengetahui apa yang sedang dikerjakan-Nya. Dan Ia telah sampaikan kepada nabi dan rasul-Nya apa yang sedang dan segera terjadi di bukan Apri-September 2021 ini. Kita harus menjadi bagian dari apa yang Tuhan kerjakan. Jika kita tidak menantikan Tuhan dan membiarkan diri kita dibawa oleh pemikiran sendiri, yang dipengaruhi oleh opini orang atau dari media, maka apa yang ada pada kita dan kita terima selama ini, otomatis akan hilang dan diambil. Jangan biarkan selama zoom untuk ibadah / komsel itu tanpa kita alami benih yang mengandung kuasa dari firman lewat dan diambil oleh setan di pinggir jalan.   Tu...

Upper Room 34 - DR. Jonathan David

  25-01-2022   Anugerah Untuk Memerintah (GRACE TO GOVERN) Pendahuluan – oleh Ps. Cyrus Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Problemnya bukan pada kebutuhan tapi pada tanahnya. Jika tanahnya baik, benih akan tumbuh, sebab ada aliran air, karena ada benih yang cerdas yang telah diprogram (dengan pengertian dan hikmat). Kuasa dan kekuatan serta kasih karunia tersembunyi di dalam FT (logos) itu.   Tanah hanya memerlukan kondisi, tidak memerlukan edukasi oleh karena digerakkan oleh sesuatu (Firman dan Roh Kudus) dari dalam yang dipanggil terang Tuhan dan pribadi Tuhan sendiri (Yoh 1:1).   Mengapa tidak kita menerima firman-Nya dan perkataan-Nya dari pribadi Tuhan (YHWH) sendiri. Banyak orang yang suka mendengarkan khotbah yang baik, tapi Kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya tidak tertam...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

SATE 3 Agustus 2020 – PENGHARAPAN AKAN KEMERDEKAAN DARI KESIA-SIAAN

Bacalah terlebih dahulu : Lukas 11:9-13 dan Yohanes 14:12-17, Yohanes 15:26, Yohane 16:7  *Ketika Bapa memberikan kita Yesus, Dia memberikan kepada kita hal yang terbaik (best of the best). Dan ketika Bapa memberikan kepada kita Roh Kudus, Bapa memberikan kita sisanya untuk menyempurkan apa hal terbaik yang pernah Bapa berikan yaitu Yesus*. Jadi ROH KUDUS ADALAH JAWABAN DARI SEGALA KEBUTUHAN KITA, Roh Kudus adalah jawaban dari segala doa-doa kita, kita tidak perlu lagi mencari jawaban di luar sana karena Roh Kuduslah jawabannya! Jadi jika kalian mau menerima janji-janji Tuhan dan ingin mujizat terjadi dalam hidup kita, kita WAJIB mengetahui bagaimana bermitra (partnership) dengan Roh Kudus.  *#1. Peran Roh Kudus dalam Yohanes 14:16 adalah sebagai Penolong (Comforter, Parakletos). Siapakah yang meminta supaya Bapa memberikan Roh Kudus kepada kita? dan mengapa Yesus harus sampai memintanya kepada Bapa?* Yesus meminta kepada Bapa, supaya orang-orang percaya diberikan Roh Kudus se...

Akar dari Krisis Spiritualitas Modern

Banyak orang salah memahami bahwa iman itu hanya soal sorga dan neraka. Pemikiran seperti itu hanyalah manifestasi dari buah Pengetahuan Baik dan Jahat . Padahal di Taman Eden ada hal yang jauh lebih utama, yakni Pohon Kehidupan yang justru diabaikan manusia (Adam dan Hawa). Memahami iman hanya sebagai "tiket ke sorga" atau "penghindar neraka" merupakan bentuk bineristik (hitam-putih) yang sangat khas dari Buah Pengetahuan Baik dan Jahat. Berikut adalah beberapa poin refleksi yang memperkuat pandangan ini: ​ 1. Jebakan Moralitas vs. Kehidupan ​Buah Pengetahuan Baik dan Jahat menciptakan sistem moralitas, sedangkan Pohon Kehidupan menawarkan vitalitas (kehidupan) Ilahi. ​ Sistem Moralitas (Babel): Fokus pada "Apa yang boleh dan tidak boleh?" atau "Bagaimana supaya selamat?". Ini adalah sistem transaksional yang berpusat pada diri sendiri (self-centered). Contoh lain yang gamblang adalah soal halal dan haram atau soal disunat dan tidak disunat...

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Inti Kemenangan Iman:"keputusan jiwa" (MKS32)

"Manusia Kerajaan Sorga 32" berfokus pada misteri bagaimana manusia bisa memperoleh iman melalui pola hidup Abraham. Video lengkap dapat ditonton di sini: ibadah JMD Bandung 29 Maret 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 32 Berikut adalah poin-poin pesan utama dari khotbah tersebut: 1. Iman Dimulai dari "Firman Suara" (Rhema ) Pp. Djonny menekankan bahwa iman tidak datang begitu saja, melainkan dimulai dari adanya suara Tuhan di dalam batin atau roh seseorang. Suara ini dibawa oleh Roh Kudus (Roh Kebenaran) yang bergema di hati nurani. Beliau memberikan contoh bahwa meskipun Ibrani 11 mencatat Habel sebagai orang beriman pertama, secara esensi Adam adalah yang pertama menerima iman melalui janji Tuhan di Kejadian 3:15 setelah jatuh dalam dosa. ​1. Iman Dimulai dari "Firman Suara" (Rhema) ​Pdt. Djonny menekankan bahwa iman tidak datang begitu saja, melainkan dimulai dari adanya suara Tuhan di dalam batin atau roh seseorang [ 04:27 ]. ​Suara ini dibawa oleh R...