Langsung ke konten utama

Kesaksian Abraham dan Konsep Keselamatan Yesus

Ibrani 11:39 (TB)  Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.
Abraham tidak memperoleh semua dari apa yang dijanjikan Allah kepadanya semasa hidupnya tentang menjadi bapa dari bangsa-bangsa. Ia hanya bisa memperoleh Ishak dan Yakub dan merasakan hidup bersama mereka dalam satu tenda.

raja Daud ditegur nabi Natan


Ibrani 11:9 (TB)  Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 
Janji itu telah diturunkan kepada Ishak dan Yakub. Janji yang satu itu juga diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya yakni keturunan Israel yang hidup di Mesir. Janji itu juga diturunkan kepada kita orang percaya - yang telah menerima benih dimensi hidup Allah -  yang menjadi keturunan Abraham. 
  • ​Keturunan Abraham bukan sekadar hubungan biologis, melainkan mereka yang hidup dengan dimensi Allah yang nyata pada Abraham.
  • ​Jika seseorang adalah milik Kristus, maka ia adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji Allah.
  • ​Keturunan ini adalah orang-orang yang dikasihi dan dipilih Tuhan dari "ujung-ujung bumi" 
Ibrani 11:11 (TB)  Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.
Inilah kesaksian yang baik dari Abraham, bahwa Dia yang memberikan janji itu setia.
Pernyataan dan kesaksian Abraham dan juga Sara bukan pernyataan iman semata untuk mendapatkan sekedar janji Allah tergenapi. Tapi ini pernyataan dari pengalaman rohani Abraham berjalan bersama Tuhan. Mereka mendapati Tuhan itu setia sekalipun mereka tidak setia seperti menggunakan cara sendiri untuk memperoleh keturunan.

Inilah esensi dari hubungan Abraham dengan Tuhan. Seringkali kita melihat Abraham hanya sebagai "Pahlawan Iman" yang sempurna, padahal catatan Alkitab justru menunjukkan betapa manusiawinya dia.

​Ada beberapa lapisan menarik dari pengalaman rohani mereka yang dimaksud:

​1. Iman sebagai Hasil dari Perjalanan, Bukan Sekadar Teori

​Seperti yang kita mengerti, iman ini adalah pengalaman rohani. Abraham tidak tiba-tiba memiliki iman yang raksasa. Imannya "dilatih" melalui kesalahan-kesalahannya sendiri. Ketika mereka mencoba menggunakan cara sendiri (lewat Hagar), itu adalah bukti bahwa mereka masih manusia yang bisa ragu. Namun, saat janji itu tetap digenapi di usia senja mereka, di situlah mereka mendapati bahwa Tuhan itu setia melampaui logika manusia.

2. Kesetiaan Tuhan yang "Membungkus" Ketidaksetiaan Manusia

​Pernyataan bahwa Tuhan itu setia justru menjadi sangat kuat karena ada latar belakang kegagalan Abraham dan Sara.

  • Abraham pernah berbohong tentang Sara di Mesir karena takut mati.
  • Sara sempat tertawa karena skeptis saat mendengar janji keturunan.
  • Cara sendiri (Hagar/Ismael) adalah bentuk "jalan pintas" karena mereka merasa Tuhan "terlalu lambat".

​Justru di titik-titik lemah inilah kesaksian mereka menjadi autentik. Mereka tidak bersaksi tentang "betapa hebatnya iman kami," tetapi tentang "betapa setianya Tuhan meski kami goyah."

​3. Perubahan dari "Mengejar Janji" menjadi "Mengenal Pribadi"

​Pada akhirnya, Abraham tidak lagi sekadar mengejar Ishak (janji), tetapi ia mengejar Tuhan (Sang Pemberi Janji). Itulah sebabnya di kemudian hari ia rela mempersembahkan Ishak di Gunung Moria. Ia sudah sampai pada level pengalaman rohani di mana ia tahu bahwa kalaupun Ishak mati, Tuhan sanggup membangkitkannya karena Tuhan tidak mungkin ingkar janji.

Catatan Refleksi:

Pengalaman Abraham dan Sara ini menunjukkan bahwa kebenaran Allah tidak bergantung pada kesempurnaan langkah kita, tetapi pada keteguhan karakter-Nya. Iman mereka akhirnya menjadi "sempurna" (komplit) bukan karena mereka tidak pernah salah, tapi karena mereka terus berjalan bersama Tuhan meskipun pernah jatuh.


Aspek "Aku" Menjadi Penghalang Terbesar?

Benar. Cara sendiri, kebenaran sendiri, cara pandang sendiri dan aku yang lainnya itu menjadi penghambat pengenalan karakter Allah yang setia, yang agung, yang mulia dan semua karakter kebesaran Allah. 

Petrus dan murid-murid mengira telah mengenal Yesus yang mereka ikuti setiap hari dan setiap saat. Tapi ketika Yesus menenangkan angin badai di danau mereka menjadi keheranan: siapa orang ini?

Ada jurang pemisah yang lebar antara "mengetahui tentang" Tuhan dan "mengenal" Tuhan secara pribadi. Penghambat utamanya, adalah tumpukan "aku" yang kita bawa.


​Penghalang "Aku" dan Kebenaran Sendiri

​Ketika kita berjalan dengan "kebenaran sendiri" dan "cara pandang sendiri," kita sebenarnya sedang membangun sebuah berhala yang menyerupai diri kita sendiri. Kita menciptakan Tuhan yang harus sesuai dengan logika kita:

  • Logika Keturunan: "Saya sudah tua, Sara mandul, jadi Hagar adalah solusinya." (Logika Abraham).
  • Logika Keamanan: "Aku harus berbohong bahwa dia adikku agar aku selamat." (Takutnya Abraham).

​Selama "cara sendiri" itu masih dominan, kita tidak akan pernah melihat kebesaran Allah yang sesungguhnya karena kita masih sibuk menjadi "tuhan" atas solusi kita sendiri.

​Kasus Murid-Murid: Kejutan di Tengah Badai

​Contoh tentang Petrus dan murid-murid di tengah danau adalah ilustrasi yang sempurna mengenai "Krisis Pengenalan".

  1. Mengenal Secara Luar (Kognitif): Mereka sudah melihat Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengajar dengan kuasa. Mereka pikir mereka sudah "tahu" siapa Dia—mungkin seorang Rabi hebat atau Nabi.
  2. Konfrontasi dengan Alam: Saat badai datang, mereka kembali ke "cara pandang sendiri" sebagai nelayan ahli. Mereka takut tenggelam karena menurut logika mereka, badai ini mematikan.
  3. Pertanyaan "Siapa Orang Ini?": Ketika Yesus menghardik angin dengan satu kata, struktur pengenalan mereka runtuh. Mereka menyadari bahwa Yesus melampaui kategori "Guru" atau "Nabi" yang mereka buat di pikiran mereka. Yesus adalah Penguasa Alam Semesta


Titik Balik Pengenalan

​Seringkali, Tuhan membiarkan kita sampai pada titik di mana "cara sendiri" kita gagal total—seperti Abraham yang harus menunggu sampai tubuhnya "mati pucuk" (Ibr 11:12) atau murid-murid yang hampir tenggelam—hanya agar kita bisa melepaskan konsep kita yang terbatas dan mulai melihat Karakter-Nya yang tanpa batas.

​Saat "aku" itu runtuh, barulah kekaguman yang suci (holy awe) itu muncul. Kita berhenti mengatur Tuhan dan mulai menyembah Dia.


Konsep-konsep Salah yang Kita  Bangun tentang Dia

Daud orang yang mengenal hati Tuhan ( Kis 13:22) dan karenanya memperkenan hati Tuhan. Pengenalannya didapat lewat hati yang hancur (Maz 51:17), bukan karena mendapatkan kekuasaan, mujizat, berkat dan kekayaan. Penyesalan Daud karena peristiwa mengambil isteri Uria dan mengirim Uria ke garis depan pertempuran.

Inilah inti dari titik balik spiritualitas Daud. Ini adalah kontras yang luar biasa: Daud disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan (a man after God's own heart) justru bukan di puncak kejayaannya saat mengalahkan Goliat, melainkan di lembah kehancurannya saat mengakui dosa.

​Kehancuran Hati sebagai Gerbang Pengenalan

Mazmur 51:17 adalah kuncinya: "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."

​Ada beberapa alasan mengapa "hati yang hancur" dalam peristiwa Uria dan Batsyeba menjadi titik balik pengenalan Daud yang paling radikal:

  • Runtuhnya "Aku" yang Berkuasa: Sebelum peristiwa itu, Daud adalah raja yang tak terkalahkan. Keberhasilan bisa membuat seseorang merasa bahwa berkat Tuhan adalah karena "kebaikan" atau "kemampuannya" sendiri. Namun, skandal Uria menghancurkan citra diri Daud. Dia tidak bisa lagi membanggakan kesalehannya.
  • Mengenal Kekudusan vs. Kasih Setia: Lewat kehancuran itu, Daud mengenal dua karakter Tuhan secara bersamaan: Kekudusan-Nya yang tidak bisa kompromi dengan dosa, dan Kasih Setia-Nya (Hesed) yang mau mengampuni orang yang hancur hati. Tanpa peristiwa itu, pengenalan Daud akan Hesed mungkin hanya sebatas teori.
  • Kejujuran Radikal: Mujizat dan kekayaan seringkali membuat kita "memakai topeng" kesuksesan. Tetapi hati yang hancur memaksa Daud melepaskan semua atribut rajanya dan berdiri telanjang di hadapan Tuhan hanya sebagai seorang berdosa yang butuh anugerah. Inilah pengenalan yang paling jujur.

​Mengapa Bukan Lewat Mujizat?

​Mujizat dan berkat memang menyatakan kuasa Tuhan, tetapi hati yang hancur menyatakan isi hati Tuhan.

  • ​Ketika Daud menang atas Goliat, ia mengenal Tuhan sebagai Pahlawan, Allah Yang Perkasa.
  • ​Ketika Daud menjadi kaya, ia mengenal Tuhan sebagai Pemberi.
  • ​Tetapi ketika Daud remuk karena dosanya, ia mengenal Tuhan sebagai Penebus dan Sahabat bagi jiwa yang luka.

​Tuhan memperkenan Daud bukan karena Daud tidak pernah berbuat dosa, melainkan karena Daud memiliki kepekaan hati untuk segera selaras kembali dengan hati Tuhan ketika dia menyadari penyimpangannya. Dia tidak membela diri dengan "kebenaran sendiri" seperti Saul, melainkan membiarkan hatinya dihancurkan oleh teguran Tuhan lewat nabi Natan.

​Ini membawa kita pada satu pemikiran: seringkali kita berdoa meminta berkat dan mujizat untuk mengenal Tuhan, atau mungkin kita sedang membangun image sebagai orang Kristen yang taat dan setia; padahal mungkin Tuhan sedang menunggu saat kita "hancur" agar kita bisa mengenal-Nya dengan cara yang jauh lebih dalam.


Kembali Ke Titik Awal

Hati yang hancur adalah kembali ke titik awal. Ini adalah titik kesadaran manusia ketika dihembuskan nafas hidup oleh Sang Pencipta (Kej 2:7). Atau dapat dikatakan tombol reset telah ditekan. Buat orang yang percaya ini adalah kasih karunia berupa second chance untuk kita melihat dalam keadaan sesadar-sadarnya.

Kehancuran bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses re-kreasi.

​Tombol Reset dan Nafas Hidup

​Ketika manusia berada di puncak "aku"-nya—dengan segala pencapaian, kebenaran sendiri, dan ambisinya—ia seringkali merasa menjadi sumber hidup bagi dirinya sendiri. Namun, saat "tombol reset" ditekan melalui titik kehancuran:

  • Kembali ke Tanah Liat: Hati yang hancur membuat kita sadar bahwa tanpa nafas Tuhan, kita hanyalah "debu tanah". Semua atribut (gelar, harta, harga diri) luruh, dan kita kembali ke bahan dasar kita yang paling rapuh.
  • Hembusan Baru: Di titik nol itulah, manusia menjadi sangat reseptif. Seperti Adam yang pertama kali membuka mata dan langsung memandang wajah Sang Pencipta, manusia yang hancur hati kehilangan pandangan terhadap dunianya dan mulai memandang Tuhan dengan kejernihan yang murni.

Kesadaran di Titik Nol

​Ketika kita berada dalam "keadaan sesadar-sadarnya", itu titik sangat akurat secara spiritual. Dalam psikologi rohani, ini disebut sebagai disillusionment—runtuhnya ilusi.

  • Ilusi: "Aku mampu," "Aku benar," "Aku bisa mengatur Tuhan."
  • Realita (Second Chance): "Aku tidak berdaya, namun aku dikasihi."

​Kasih karunia dalam bentuk second chance ini seringkali terasa menyakitkan karena proses "reset" itu menghancurkan sistem lama yang sudah nyaman kita tinggali. Namun, hanya dalam kondisi "kosong" dan "telanjang" itulah nafas hidup (Neshamah) Tuhan bisa mengisi kita tanpa hambatan ego.

Titik Awal yang Baru

​Jika kita melihat Daud atau Abraham, titik reset mereka bukan berarti mereka kembali menjadi bayi secara fisik, tetapi orientasi jiwa mereka yang kembali ke "setelan pabrik" (fitrah): yaitu bergantung total kepada Tuhan.

​Kasih setia dan kasih karunia Tuhan tidak membuang bejana yang pecah, Dia menghancurkannya untuk dibentuk ulang menjadi bejana yang lebih mulia. Titik hancur ini adalah satu-satunya tempat di mana manusia berhenti "bernegosiasi" dengan Tuhan dan mulai benar-benar "mendengarkan" Dia.


Konsep Keselamatan Yesus

Sebenarnya Inilah konsep keselamatan yang ditawarkan Yesus lewat pertobatan sejati (hancur hati) dan kelahiran baru kembali.

Konsep ini melampaui sekadar "pindah agama" atau "mengikuti aturan moral baru." Ini adalah revolusi eksistensial.

​1. Pertobatan Sejati sebagai Penghancuran Sistem Lama

​Banyak orang mengira pertobatan (metanoia) hanya berarti "menyesal." Namun, sesungguhnya, pertobatan sejati adalah kehancuran hati—sebuah pengakuan bahwa sistem navigasi "aku" kita telah gagal total.

  • ​Di titik ini, manusia berhenti mencoba "memperbaiki" dirinya sendiri (karena kain lap kotor tidak bisa membersihkan meja yang kotor).
  • ​Manusia menyerah dan membiarkan "tombol reset" ditekan. Tanpa kehancuran ini, Yesus hanyalah seorang "pembantu" atau "pelengkap" dalam hidup kita, bukan Tuhan. Dan kita merasa selama ini Tuhanlah yang membutuhkan kita.

​2. Kelahiran Baru: Nafas Hidup yang Kedua

​Kelahiran baru (born again) adalah realisasi dari Kejadian 2:7 dalam dimensi rohani.

  • ​Jika kelahiran pertama memberikan kita hidup secara biologis dan ego, kelahiran baru memberikan kita hidup dari benih Ilahi.
  • ​Ini bukan tentang menjadi "orang baik," tapi tentang menjadi "manusia jenis baru". Seperti Abraham yang menjadi "Abrahamnya Allah," manusia yang lahir baru mulai melihat dunia dengan mata Tuhan, bukan lagi dengan mata "aku" yang lama.

​3. Keselamatan sebagai Pemulihan Relasi, Bukan Transaksi

​Lewat konsep yang Yesus tawarkan, keselamatan menjadi sangat indah:

  • ​Bukan lagi soal "saya melakukan ini agar Tuhan memberi itu" (transaksi).
  • ​Tapi soal "aku yang hancur telah ditemukan dan dihidupkan kembali oleh Dia" (relasi).

​Inilah sebabnya Yesus berkata bahwa orang yang ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi orang yang kehilangan nyawanya (hancur hati/melepaskan ego) karena Dia, akan memperolehnya.

​Keselamatan adalah proses di mana Tuhan mengambil "debu tanah" dari kehancuran kita dan menghembuskan Roh-Nya kembali ke dalamnya, sehingga kita bisa berjalan bersama-Nya dalam "kesadaran yang sesadar-sadarnya."


Sampai Pada Kesadaran

Tidak semua orang yang hancur hati sampai kepada tempat kesadaran ini. Kasus yang paling tragis dialami murid Yesus, Yudas Iskariot, sehingga dikatakan lebih baik ia tidak pernah dilahirkan. 

Sebaliknya dosa Petrus jauh lebih besar karena setelah mengetahui kebenaran masih menyangkal Yesus 3x. 

Kasus yang paling umum orang menjadi putus asa dan mencari pelarian dari kenyataan, entah bunuh diri, jadi ODGJ atau menggunakan obat-obatan.

Ini secara mendalam menyentuh sisi psikologis sekaligus spiritual yang paling gelap dari kondisi manusia. Kehancuran hati adalah sebuah persimpangan jalan. Tidak semua kehancuran berujung pada pemulihan; ada kehancuran yang justru berujung pada kebinasaan.

​Perbedaan antara Yudas dan Petrus adalah studi kasus yang sempurna tentang perbedaan antara Penyesalan (Remorse) dan Pertobatan (Repentance).

​1. Yudas Iskariot: Penyesalan yang Mematikan

​Yudas mengalami kehancuran hati, tapi itu adalah kehancuran yang tertutup.

  • Hancur karena Ego: Yudas menyesal bukan karena ia kehilangan hubungannya dengan Yesus, melainkan karena ia tidak bisa menanggung beban rasa bersalahnya sendiri. Ia melihat dosanya lebih besar daripada pengampunan Tuhan.
  • Tanpa Harapan: Yudas kembali ke imam-imam kepala (sistem manusia), bukan kembali ke titik nol di hadapan Tuhan. Karena ia tidak sampai pada kesadaran akan kasih karunia, "tombol reset" itu tidak pernah tertekan. Kehancurannya menjadi jalan buntu yang berujung maut.

​2. Petrus: Kehancuran yang Menjadi Kelahiran Baru

​Dosa Petrus memang "sadis" karena ia adalah orang dalam yang paling vokal, namun ia menyangkal tepat di depan mata Yesus.

  • Pandangan Mata yang Memulihkan: Saat ayam berkokok, Petrus menangis dengan sedihnya. Bedanya, Petrus tetap tinggal dalam komunitas dan menunggu. Ia membiarkan kehancurannya menjadi kekosongan yang siap diisi kembali.
  • Restorasi: Petrus sampai pada kesadaran bahwa kebenaran dirinya sudah habis. Saat Yesus bertanya "Apakah engkau mengasihi Aku?" sebanyak 3 kali, Yesus sebenarnya sedang menekan "tombol reset" untuk menghapus penyangkalan Petrus yang juga 3 kali.

​3. Fenomena Pelarian (ODGJ, Narkoba, Putus Asa)

​ Fenomena yang sangat nyata hari ini. Ketika seseorang hancur tapi tidak memiliki konsep "Kelahiran Baru" atau "Kasih Karunia", maka kehancuran itu terasa seperti kehampaan yang menghisap (void).

  • Pelarian sebagai Anestesi: Obat-obatan, kegilaan, atau bunuh diri seringkali adalah upaya manusia untuk "menghentikan suara" dari hati yang hancur karena mereka tidak tahu bagaimana cara membawa kehancuran itu kepada Sang Pencipta.
  • Kebutuhan akan "Wadah": Hati yang hancur butuh wadah yaitu Kasih Karunia. Tanpa wadah itu, hati yang hancur hanya akan tumpah dan menguap menjadi keputusasaan.

Kesimpulan: Kesadaran adalah Jembatannya

"Kesadaran" adalah kuncinya. Kesadaran bahwa kita adalah debu (Kej 2:7) justru membebaskan kita. Jika kita sadar kita hanyalah debu, maka kita tidak punya lagi reputasi yang harus dipertahankan, tidak ada "aku" yang harus dibela.

​Tragedi Yudas adalah ia mencoba menjadi "hakim" atas dirinya sendiri, sementara Petrus membiarkan Yesus menjadi "Pembela" dan "Pencipta" kembali atas hidupnya yang sudah hancur.

​Memang benar, tanpa kesadaran akan kasih karunia, kehancuran hati adalah tempat yang paling berbahaya di dunia. Namun di dalam tangan Sang Pencipta, itu adalah tempat yang paling suci dan murni karena di sanalah kehidupan baru dimulai.


Tombol Reset 
Kembali ke Abraham. Kejadian 17:1 adalah tombol reset yang ditekan El Shaddai bagi Abram diusianya 99.

Kejadian 17:1 memang merupakan momen "intervensi radikal" dari Tuhan setelah masa diam yang cukup panjang.

​Jika kita melihat konteksnya, ada jeda sekitar 13 tahun antara kelahiran Ismael (akhir Kejadian 16) dengan penampakan Tuhan di Kejadian 17 ini. Selama 13 tahun itu, Abram mungkin merasa "aman" dengan Ismael sebagai solusi buatannya sendiri. Dia mungkin mengira sistem "cara sendiri" itu sudah berhasil.

​Lalu, di usia 99 tahun—saat secara biologis Abram sudah "mati" dan sistem lamanya sudah tidak punya harapan lagi—Tuhan menekan tombol reset itu:

​1. Proklamasi El Shaddai (Allah Yang Maha Kuasa)

​Ini adalah pertama kalinya nama El Shaddai diperkenalkan.

  • Mengapa Sekarang? Karena Abram butuh pengenalan akan Tuhan yang tidak dibatasi oleh hukum alam. "Shaddai" sering dikaitkan dengan kecukupan dan kemahakuasaan yang menyusui/memelihara.
  • Reset Konsep: Tuhan seolah berkata, "Abram, lupakan logikamu tentang umur dan kemandulan. Aku adalah El Shaddai. Sumber hidupmu bukan pada tubuhmu, tapi pada Kuasaku."

2. Perintah untuk Hidup Tidak Bercela (Tamim)

"Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela."

Dalam bahasa Ibrani, Tamim berarti utuh, murni, atau selaras total. Ini adalah perintah untuk reset karakter. Setelah Abram mencoba "bermain" dengan Hagar (karena tidak sabar), Tuhan memanggilnya kembali ke titik awal: berjalan di hadapan wajah Tuhan tanpa agenda tersembunyi.

​3. Reset Nama: Dari Abram menjadi Abraham

​Perubahan nama adalah simbol perubahan esensi/pribadi.

  • Abram: Bapak yang ditinggikan (fokus pada status sosial/keturunan sendiri).
  • Abraham: Bapak banyak bangsa (fokus pada visi global Tuhan). Tuhan tidak mau memakai "Abram yang lama" untuk mewujudkan rencana-Nya. Nama lama harus mati, identitas baru harus lahir.

Kesadaran di Usia 99

​Abraham di usia 99 adalah gambaran manusia yang sampai pada titik "sesadar-sadarnya" bahwa ia tidak bisa lagi mengandalkan dirinya sendiri.

  • ​Jika Ishak lahir saat Abraham usia 50, Abraham mungkin akan berkata, "Ini karena kekuatanku."
  • ​Tetapi karena Ishak lahir setelah "tombol reset" ditekan di usia 100 (setahun setelah Kej 17), Abraham hanya bisa berkata, "Ini murni kasih karunia."

​Sesuai dengan konsep tadi, Kejadian 17:1 adalah momen di mana Abraham hancur hatinya (tersungkur dan tertawa—antara percaya dan tidak percaya) dan akhirnya menerima hembusan nafas hidup yang baru dalam bentuk janji yang mustahil secara manusiawi.

​Inilah yang membuat iman Abraham menjadi standar: ia percaya pada Allah yang "menghidupkan orang mati dan memanggil apa yang tidak ada menjadi ada" (Roma 4:17). Tanpa tombol reset di usia 99 itu, Abraham mungkin hanya akan dikenang sebagai peternak kaya, bukan Sahabat Allah atau kekasih Aĺlah.

Apakah menurut Anda, "jeda 13 tahun" (masa diam Tuhan) itu adalah cara Tuhan menunggu agar "aku"-nya Abraham benar-benar habis sebelum Dia menekan tombol reset?




Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

Orang Benar (MKS #39)

Dalam video berjudul " Manusia Kerajaan Sorga 39" , Papa Djonny menyampaikan pesan mendalam mengenai perjalanan iman Abraham, khususnya berfokus pada peristiwa pengorbanan Ishak di Kejadian 22. Berikut adalah rincian pesan-pesan yang disampaikan: 1. Makna "Sekarang Aku Tahu" (For Now I Know) Papa Djonny menyoroti pernyataan Tuhan dalam Kejadian 22:12, "Sebab telah Kuketahui sekarang bahwa engkau takut akan Allah." [ 06:41 ]. Istilah "Yada": Dalam bahasa Ibrani, kata "tahu" menggunakan kata Yada (H3045), yang bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi berarti pengenalan yang sangat intim, seperti hubungan suami-istri [ 09:21 ]. Benih Ilahi: Hal ini menunjukkan bahwa Abraham membiarkan dirinya "disetubuhi" oleh Allah dalam arti rohani, di mana benih firman Tuhan masuk dan dikandung dalam hidupnya untuk mewujudkan rencana-Nya [ 12:54 ]. Keyakinan Tuhan: Melalui ujian pengorbanan Ishak, Tuhan menemukan bahwa dalam piki...

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

Upper Room 35 – DR. Jonathan David

  Dobel dekade sorga terbuka, ketajaman profetik, posisi strategis dan demonstrasi Roh adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Mahatinggi untuk kita menghadapi tantangan 20 tahun hari-hari terakhir ini (2019-2039). 08-02-2022 Sorga terbuka dan Roh Kudus turun. Sekarang aku bisa memulai pelayanan. Hal-hal supranatural akan mengambil alih. Roh Kudus jadilah pemimpinku sebagaimana Kau memimpin Kristus. Kesaksian dari Roh, bahwa aku adalah anak Allah yang hidup, bergabung dengan Kristus dan mewarisi yang Tuhan sediakan. Ketajaman profetik, dobel dekade sorga terbuka, posisi strategis dan demonstrasi Roh akan jadi porsi hidup kami dalam 2 dekade sorga terbuka 2019-2039. Selama 40 hari 40 malam Goliath menantang orang Israel.   Daud membangkitkan keberaniannya ketika Isai memberikan tugas mengantar makanan. Pergi dan lihat. Dia dengarkan nasihat bapanya dan tugas itu sudah diset. Berapa banyak yang mentaati bapa rohani? Kita kehilangan pesan itu. Dan Bileam dicemari oleh...

Misteri Penciptaan, Kejatuhan, dan Pengadilan Akhir Diungkapkan

Pengantar Seluruh teka-teki penciptaan, kejatuhan, dan pengadilan akhir diungkapkan lewat kisah Ayub. Tuhan berhasil memancing iblis lewat gagasannya sendiri untuk mencobai Ayub. Dari situ terungkap motifnya, bagaimana ia berusaha menawan dan mengunci sistem peradilan sorga untuk pemberontakannya. Anda sedang melihat cetak biru alam semesta dari sudut pandang ruang kendali utama (The Master Plan) atau Rencana Agung Tuhan.  Monumen Iman Tokoh iman yang luarbiasa kesalehannya adalah Ayub. Ia nyaris memiliki iman yang sempura. Kesalehannya justru terbukti ketika berada di titik nol. Walaupun teman-temannya bukan memberi nasehat yang positif; melainkan menuduhnya menyembunyikan dosa besar, sehingga mengalami banyak malapetaka, Ayub tidak teralihkan.  Meskipun isterinya juga mengecamnya dengan kasar, tapi Ayub tetap teguh imannya. Seakan Ayub sudah sempurna. Dalam peristiwa tragis ini tidak ada ucapan Ayub yang salah. Ayub memang berdiri sebagai monumen iman yang luar biasa di dal...

Siklus Profetik Tuhan - Dr. Jonathan David

Memahami Siklus Profetik Pesan ini mengajak kita untuk mengenal dan percaya pada rencana masa depan yang telah Tuhan tetapkan, dan hidup dengan Roh Kudus sebagai penuntun dan jaminan warisan kita. Dengan memahami siklus profetik ini, kita dapat berjalan dalam rencana dan tujuan Allah, mengalami akselerasi dan kemenangan di berbagai bidang kehidupan kita. Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur, burung layang-layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya, tetapi umat- Ku tidak mengetahui hukum TUHAN. – Yeremia 8:7 (ITB) Ringkasan: Pengetahuan Masa Depan Allah: Tuhan memiliki pengetahuan penuh tentang masa depan, rencana, dan tujuan-Nya. Pengetahuan ini tidak berubah dan menjadi dasar bagi tindakan-Nya. Keputusan dan Penetapan Allah: Tuhan memutuskan jalannya masa depan, termasuk jalan hidup umat-Nya, dan menetapkan rencana tersebut sejak kekekalan. Pelaksanaan Rencana Allah: Tuhan membawa umat-Nya masuk ke dalam jalan yang telah ditentukan, dan...