Video lengkap dapat ditonton di sini: ibadah JMD Bandung 29 Maret 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 32
1. Iman Dimulai dari "Firman Suara" (Rhema)
Pdt. Djonny menekankan bahwa iman tidak datang begitu saja, melainkan dimulai dari adanya suara Tuhan di dalam batin atau roh seseorang [04:27].
- Suara ini dibawa oleh Roh Kudus (Roh Kebenaran) yang bergema di hati nurani [06:06].
- Beliau memberikan contoh bahwa meskipun Ibrani 11 mencatat Habel sebagai orang beriman pertama, secara esensi Adam adalah yang pertama menerima iman melalui janji Tuhan di Kejadian 3:15 setelah jatuh dalam dosa [16:18].
2. Firman Harus Menjadi "Pemikiran" (Mindset)
Poin kedua yang ditekankan adalah firman suara tersebut harus bisa "terbaca" atau dipahami oleh pikiran dan jiwa manusia hingga menjadi sebuah pemikiran [31:48].
- Proses Penetrasi: Firman Tuhan harus masuk dari roh ke jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) hingga ke tubuh [36:13].
- Analisis Abraham: Abraham mulai merenungkan kondisinya (mengapa dia menyembah berhala bersama ayahnya, Terah, padahal dia keturunan Sem yang diberkati) berdasarkan suara batin dari Tuhan [53:32].
3. Konflik Antara Hati Nurani dan Pikiran
Pdt. Djonny menjelaskan bahwa sering kali terjadi konflik antara apa yang disuarakan Roh Kudus di hati nurani dengan logika atau pikiran manusia [41:12].
- Jika pikiran setuju dan takluk pada suara roh tersebut, maka Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran [41:55].
- Beliau merujuk pada Perumpamaan Penabur (Matius 13), di mana benih (firman) yang jatuh di tanah yang baik adalah mereka yang mendengar, mengerti, dan membiarkan firman itu berbuah di dalam jiwa [01:04:16].
4. Ketaatan sebagai Keputusan Jiwa
Iman yang benar selalu diikuti dengan tindakan nyata atau ketaatan yang dimulai dari keputusan jiwa [01:11:22].
- Abraham taat pergi ke tempat yang tidak diketahuinya karena dia sudah mengambil keputusan di jiwanya untuk mengikuti suara Tuhan [01:11:41].
- Buah Roh: Ketaatan ini menghasilkan "Buah Roh" (Galatia 5:22), di mana salah satu unsurnya adalah kesetiaan atau iman itu sendiri [01:08:41].
5. Menaklukkan Realitas dengan Iman
Iman memungkinkan seseorang untuk mengabaikan fakta duniawi atau medis yang bertentangan dengan janji Tuhan. Contohnya, Abraham tidak lagi mempedulikan kondisi tubuhnya yang tua atau kemandulan Sara karena dia percaya pada kesetiaan Tuhan yang memberi janji [01:12:35].
Kesimpulan:
Pesan utama khotbah ini adalah mengajak jemaat untuk hidup dipimpin oleh Roh, peka terhadap suara Tuhan di dalam batin, dan berani mengambil keputusan untuk taat meskipun pikiran atau keadaan sekitar tampak bertentangan [01:17:56].
PENDALAMAN
Mengapa pp Djonny mengatakan Adamlah yang pertama menerima iman?
Pdt. Djonny menjelaskan hal ini dalam khotbahnya dengan menghubungkan konsep "Firman Suara" (Rhema) dengan peristiwa setelah kejatuhan manusia dalam dosa di Taman Eden.
Berikut adalah alasan mengapa beliau menyebut Adam sebagai orang pertama yang menerima iman:
1. Adanya Janji Pengharapan (Kejadian 3:15)
Meskipun Adam dan Hawa telah berdosa dan seharusnya mati, Tuhan memberikan janji bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan kepala ular (iblis). Pdt. Djonny menjelaskan bahwa janji ini adalah tentang Kristus. Adam mendengar firman ini sebagai suara yang memberikan harapan di tengah hukuman mati yang ia hadapi.
2. Tindakan Iman: Memberi Nama "Hawa"
Bukti bahwa Adam memiliki iman terlihat dari tindakannya segera setelah mendengar hukuman dan janji Tuhan.
- Keputusan Jiwa: Walaupun Tuhan mengatakan dia akan kembali menjadi debu (mati), Adam justru memberi nama istrinya "Hawa", yang berarti "ibu semua yang hidup".
- Melihat yang Tidak Terlihat: Dalam pandangan Pdt. Djonny, pemberian nama ini adalah tindakan iman. Adam "melihat" adanya kehidupan ilahi (Zoe) yang akan berlanjut melalui keturunannya, alih-alih hanya berfokus pada kematian fisiknya.
3. Skema Iman yang Sama dengan Abraham
Pdt. Djonny berargumen bahwa proses iman Adam sama dengan pola yang dialami Abraham dan yang dijelaskan oleh Rasul Paulus:
- Mendengar: Ada firman suara dari Tuhan.
- Percaya: Mengakui firman itu benar di dalam batin.
- Bertindak: Melakukan sesuatu berdasarkan kepercayaan tersebut (dalam hal ini, memberi nama Hawa).
4. Mengapa Alkitab Mencatat Habel (Ibrani 11)?
Beliau mengakui bahwa dalam Ibrani 11, Rasul Paulus mencatat Habel sebagai orang beriman yang pertama. Namun, Pdt. Djonny berpendapat bahwa secara logis, Habel bisa memiliki iman karena ia mendengar "firman suara" yang diceritakan oleh ayahnya, Adam. Dengan demikian, Adamlah sumber awal di mana iman itu pertama kali termanifestasi dalam sejarah manusia setelah kejatuhan.
Jadi, menurut Pdt. Djonny, Adam adalah prototipe pertama dari manusia yang dibenarkan karena iman, karena ia memilih untuk percaya pada janji kehidupan dari Tuhan di tengah realitas kematian.
Berdasarkan khotbah Pdt. Djonny dalam video tersebut, terdapat tiga bukti utama perbuatan atau ketaatan yang muncul dari keputusan iman Abraham:
1. Meninggalkan Negeri dan Sanak Saudara
Bukti pertama adalah keputusan Abraham untuk berangkat ke negeri yang asing.
- Abraham taat ketika dipanggil Tuhan untuk keluar dari negerinya menuju tempat yang akan diterimanya sebagai milik pusaka.
- Hebatnya, ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju. Ini menunjukkan ketaatan yang didasarkan sepenuhnya pada "firman suara" yang ia dengar di batinnya, bukan pada kepastian logis.
2. Mempercayai Janji Keturunan di Usia Tua
Bukti kedua adalah iman Abraham (dan Sara) untuk memperoleh kekuatan menurunkan anak cucu meskipun usia mereka sudah sangat lanjut.
- Pdt. Djonny menekankan bahwa Abraham mengambil keputusan iman untuk mengabaikan fakta medis (bahwa Sara mandul dan dia sendiri sudah tua) karena ia menganggap Tuhan yang memberikan janji itu setia.
- Iman inilah yang kemudian memanifestasikan kekuatan fisik pada tubuh mereka untuk memiliki keturunan.
3. Rela Mempersembahkan Ishak
Bukti ketiga dan yang paling ekstrem adalah ketika Abraham rela mempersembahkan Ishak saat dicobai oleh Tuhan.
- Ketaatan ini muncul dari sebuah pemikiran iman yang mendalam: Abraham berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang mati.
- Ia begitu yakin pada janji Tuhan sehingga ia rela melepaskan apa yang paling berharga, karena di dalam imannya, ia seakan-akan sudah menerima anaknya kembali dari kematian.
Kesimpulan:
Ketiga perbuatan ini membuktikan bahwa iman bagi Abraham bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan jiwa yang menaklukkan pikiran dan realitas fisik demi menuruti suara Tuhan.
Bagaimana prosesi iman terbangun dari mendengar firman sampai melahirkan keputusan jiwa?
prosesi terbangunnya iman hingga melahirkan keputusan jiwa mengikuti tahapan-tahapan yang sistematis dan saling berkaitan:
1. Munculnya "Firman Suara" (Rhema) dalam Batin
Proses ini dimulai ketika Roh Kudus (Roh Kebenaran) menyuarakan firman Tuhan langsung ke dalam batin atau roh manusia.
- Pdt. Djonny menyebut ini sebagai firman suara yang dibawa oleh Roh Kudus.
- Iman timbul dari pendengaran akan suara ini di dalam hati nurani.
2. Penetrasi Firman ke dalam Pikiran (Jiwa)
Agar iman menjadi kuat, firman suara yang ada di roh harus "terbaca" atau diketahui oleh jiwa dan pikiran.
- Firman tersebut masuk menembus jiwa hingga menjadi sebuah pemikiran (mindset).
- Pada tahap ini, sering terjadi konflik atau "benturan" antara suara hati nurani dengan logika pikiran (seperti yang dijelaskan dalam Roma 2:15).
3. Pengakuan akan Kebenaran (Iman Terbentuk)
Iman benar-benar terwujud ketika pikiran dan jiwa akhirnya setuju dan mengakui bahwa suara Tuhan itu benar.
- Jika seseorang memilih untuk mempercayai suara roh tersebut di atas logikanya sendiri, maka Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran.
- Pada saat yang bersamaan, muncul kasih karunia yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk taat.
4. Pengambilan Keputusan Jiwa
Tahap akhir adalah ketika iman tersebut dimanifestasikan melalui keputusan jiwa yang bulat.
- Keputusan inilah yang akan "menghantam" atau menaklukkan semua pikiran-pikiran yang bertentangan dengan firman Tuhan.
- Sebagai contoh, Abraham mengambil keputusan untuk rela mempersembahkan Ishak karena ia memiliki pemikiran iman bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati.
5. Tindakan Ketaatan (Buah Roh)
Setelah keputusan jiwa diambil, maka lahirlah perbuatan nyata (ketaatan). Pdt. Djonny menjelaskan bahwa perbuatan yang didasarkan pada iman ini akan menghasilkan Buah Roh di dalam jiwa, seperti kasih, sukacita, dan kesetiaan.
Kesimpulan:
Prosesnya adalah: Suara Roh > Pemikiran Jiwa > Pengakuan Benar (Iman) > Keputusan Jiwa > Tindakan Ketaatan.
Sering kali terjadi konflik antara apa yang disuarakan Roh Kudus di hati nurani dengan logika atau pikiran manusia. Apa yang dilakukan Roh Kudus dan bagaimana peran manusia itu supaya selalu mengalami kemenangan atas pikiran (logika)?
konflik antara Roh Kudus dan logika manusia adalah bagian dari proses pembentukan iman. Beliau menjelaskan dinamika ini melalui rujukan pada Roma 2:15 dan Perumpamaan Penabur.
Berikut adalah apa yang dilakukan oleh Roh Kudus dan bagaimana peran manusia untuk mencapai kemenangan tersebut:
1. Peran Roh Kudus: Menyuarakan dan Menuntun
Roh Kudus tidak memaksa, tetapi bekerja secara aktif melalui beberapa cara:
- Menyuarakan "Rhema": Roh Kudus membawa firman suara langsung ke hati nurani manusia sebagai benih iman.
- Bersaksi Bersama Hati Nurani: Roh Kudus bekerja sama dengan hati nurani untuk memberikan kesaksian tentang apa yang benar di mata Allah.
- Menyingkapkan Misteri: Roh Kudus memberikan "kasih karunia untuk melihat" hal-hal yang tidak terlihat oleh logika manusia (seperti Abraham yang bisa melihat runtuhnya Babel dan kota yang dibangun Allah).
- Menuntun pada Seluruh Kebenaran: Roh Kudus terus-menerus memberikan pengertian agar manusia tidak berjalan menurut pengertiannya sendiri.
2. Peran Manusia: Memilih untuk "Mengerti" dan "Menaklukkan"
Untuk mengalami kemenangan atas pikiran atau logika yang bertentangan, manusia perlu mengambil langkah-langkah aktif berikut:
- Jangan Mengandalkan Pengertian Sendiri: Pdt. Djonny memperingatkan bahwa banyak orang mendengar suara Tuhan tetapi tidak mengerti karena mereka memulai dari pengertian jiwa atau logikanya sendiri. Kemenangan dimulai saat kita berhenti membenarkan logika kita yang bertentangan dengan firman.
- Menaklukkan Pikiran (Decision of the Soul): Manusia harus berani mengambil keputusan jiwa yang bulat untuk menyetujui suara Roh. Keputusan inilah yang bertugas "menghantam habis" dan menaklukkan pikiran yang tidak benar.
- Memberi Diri Dipimpin (Submission): Kemenangan terjadi saat kita memberi diri dipimpin oleh Roh. Jika kita menuruti suara-Nya, maka akan dihasilkan Buah Roh (termasuk iman/kesetiaan) yang membuat kita kuat menghadapi realitas luar.
- Mengakui Firman sebagai "Benar": Saat terjadi benturan (konflik), peran manusia adalah mengakui bahwa firman suara itu benar. Ketika kita mengakuinya sebagai kebenaran, iman akan termanifestasi dan memberikan kekuatan (kasih karunia) untuk bertindak.
- Fokus pada Janji, Bukan Fakta: Seperti Abraham yang mengabaikan kondisi medis (fakta) demi janji Tuhan, manusia harus menjaga pikirannya tetap tertuju pada kesetiaan Allah.
Inti Kemenangan: Kemenangan atas logika bukan berarti mematikan otak, melainkan menempatkan pikiran di bawah otoritas suara Roh Kudus melalui sebuah keputusan jiwa yang rela untuk taat.
Menerapkan Keputusan Jiwa
Menerapkan "keputusan jiwa" dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar masalah kemauan keras, melainkan sebuah mekanisme rohani yang praktis.
Berikut adalah langkah-langkah penerapan praktis untuk memenangkan pikiran atas logika dalam situasi sehari-hari:
1. Identifikasi "Benturan" (Konflik Internal)
Langkah pertama adalah menyadari saat terjadi konflik antara Logika Dunia dan Suara Roh di batin Anda.
- Logika: "Keadaan ekonomi sedang sulit, saya harus menahan semua pengeluaran dan merasa khawatir."
- Suara Roh (Rhema): "Tuhan adalah gembalaku, aku tidak akan kekurangan."
- Penerapan: Jangan menekan rasa khawatir Anda, tapi kenali itu sebagai "logika jiwa" yang sedang berbenturan dengan "suara roh".
2. Melakukan "Pembacaan" Ulang (Mindset Shift)
Pdt. Djonny menekankan bahwa firman harus menjadi pemikiran. Artinya, Anda harus memaksa pikiran Anda untuk memproses janji Tuhan tersebut sampai "masuk akal" di dalam iman.
- Caranya: Ucapkan firman itu berulang kali sampai pikiran Anda (jiwa) mulai selaras dengan roh. Seperti Abraham yang merenungkan mengapa dia ada di Babel padahal dia keturunan Sem yang diberkati, Anda harus mulai mempertanyakan logika ketakutan Anda.
3. Eksekusi "Keputusan Jiwa" yang Radikal
Setelah Anda tahu mana yang benar (suara Roh), Anda harus mengambil keputusan untuk rela. Ini adalah titik kemenangan.
- Contoh Situasi: Anda merasa ragu untuk membantu orang lain karena merasa diri sendiri sedang sulit.
- Keputusan Jiwa: "Saya memutuskan untuk tetap memberi (taat), karena saya percaya sumber hidup saya adalah Tuhan, bukan tabungan saya."
- Hasil: Keputusan ini akan "menghantam" pikiran ragu Anda sampai takluk.
4. Mengabaikan "Fakta Medis/Dunia" (Iman vs Realita)
Abraham mengabaikan kondisi tubuhnya yang sudah tua karena ia lebih percaya pada kesetiaan Tuhan.
- Penerapan: Dalam menghadapi masalah kesehatan atau hambatan karier, jangan biarkan fakta (laporan medis, angka saldo, atau kata orang) menjadi kata putus dalam hidup Anda.
- Tindakan: Tetaplah melangkah sesuai instruksi Tuhan, seolah-olah masalah itu sudah selesai. Itulah yang disebut "melihat yang tidak terlihat".
5. Membiarkan "Buah Roh" Mengambil Alih
Kemenangan harian bukan tentang merasa menang, tapi tentang ketenangan.
- Jika keputusan jiwa sudah diambil, maka akan muncul damai sejahtera dan penguasaan diri (Buah Roh).
- Jika Anda masih merasa "galau" atau rapuh, kembalilah ke langkah pertama dan mintalah Roh Kudus untuk memberikan pengertian yang lebih kuat pada batin Anda.
Langkah Praktis Hari Ini:
Adakah satu kekhawatiran atau logika yang sedang mengganggu Anda saat ini? Anda bisa mencoba melakukan "pembacaan ulang" terhadap masalah tersebut melalui kacamata janji Tuhan.
Mengenai "mindset shifting" kita harus memaksa menyelaraskan pikiran dengan firman. Proses mikronya bahwa firman itu harus menjadi Kebenaran yang membebaskan pikiran dari belenggu. Caranya bukanlah menggunakan logika manusia tetapi logika ilahi (logizomai) diproses di di dalam roh berserta nafas yang Mahakuasa (Ayub 32:8), yaitu kuasa yang terkandung dalam firman itu, sehingga diperoleh pengertian.
Cara kedua seperti kata Paulus 2 Kor 10:5, dengan menawan pikiran negatif (walaupun itu adalah realita) dan menaklukkanmya pada Kristus.
Apakah masih ada cara lain?
Meniru dan mengadopsi "LOGIZOMAI" menyentuh aspek "Logos" yang bertemu dengan "Pneuma" (Roh).
Menggunakan istilah logizomai (memperhitungkan/mempertimbangkan secara ilahi) sebagaimana Abraham "memperhitungkan" bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati (Ibrani 11:19) adalah kunci transformasi mental yang radikal.
Berdasarkan khotbah Pdt. Djonny dan prinsip-prinsip biblika yang selaras, masih ada tiga cara lain yang bersifat "mikro" untuk memperkuat proses mindset shifting tersebut:
1. Sinkronisasi Suara Hati Nurani dan Kesaksian Roh (Roma 2:15 & 8:16)
Pdt. Djonny menekankan bahwa hati nurani adalah bagian dari fungsi roh yang harus "turut bersaksi" bersama Roh Kudus.
- Prosesnya: Bukan sekadar memikirkan ayat, tetapi mendengarkan resonansi antara suara Roh Kudus dengan hati nurani Anda.
- Aksinya: Ketika pikiran negatif (realita) menyerang, berhentilah sejenak dan tanyakan pada batin Anda: "Apa yang dikatakan Roh-Mu di dalamku saat ini?" Kemenangan terjadi ketika hati nurani Anda "setuju" dengan suara Roh tersebut, sehingga Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran dalam diri Anda.
2. Imajinasi Iman: Melihat yang Tidak Terlihat (The Power of "Seeing")
Abraham memperoleh iman bukan hanya dari mendengar, tetapi karena ia diberi kasih karunia untuk melihat (1 Yohanes 1:1 & Ibrani 11:10).
- Logika Ilahi: Iman memiliki "mata". Pdt. Djonny menyebutkan Abraham "menanti-nantikan" kota yang dibangun Allah sementara ia melihat Babel runtuh.
- Proses Mikro: Gunakan imajinasi yang dikuduskan untuk memvisualisasikan janji Tuhan sebagai realitas yang lebih nyata daripada masalah Anda. Jika realita mengatakan "sakit", imajinasi iman (berdasarkan janji-Nya) melihat "kesembuhan yang sudah selesai". Ini adalah cara memindahkan Zoe (hidup ilahi) ke dalam kesadaran jiwa.
3. "The Confession of Name" (Pemberian Nama/Identitas Baru)
Ini adalah cara yang dilakukan Adam. Di tengah vonis kematian, ia justru memberikan nama Hawa (Ibu semua yang hidup).
- Mekanisme: Mengubah bahasa verbal Anda untuk merefleksikan keputusan jiwa. Memberi "nama baru" pada situasi Anda.
- Aksinya: Jika logikanya adalah "kegagalan", jangan sebut itu kegagalan; sebutlah itu "persiapan untuk kemuliaan Tuhan". Dengan memberi "nama" yang selaras dengan firman, Anda sedang memanifestasikan iman ke dalam dimensi fisik.
Perbandingan Strategi Mindset Shifting
|
Strategi |
Sumber Kekuatan |
Metode |
|---|---|---|
|
Logizomai (Ayub 32:8) |
Nafas Yang Mahakuasa |
Mengolah firman dalam roh untuk mendapat pengertian ilahi. |
|
Menawan Pikiran (2 Kor 10:5) |
Otoritas Kristus |
Agresi rohani untuk mematahkan setiap logika yang melawan Kristus. |
|
Imajinasi Iman (1 Yoh 1:1) |
Kasih Karunia |
"Melihat" dan "meraba" wujud firman secara rohani sebelum terjadi. |
|
Pemberian Nama (Kej 3:20) |
Keputusan Jiwa |
Mendeklarasikan identitas baru di atas realitas yang rusak. |
Bagaimana "Imajinasi Iman" ini bekerja dalam proses doa atau meditasi firman?
Berdasarkan prinsip "melihat dan meraba" yang disampaikan Pdt. Djonny dari 1 Yohanes 1:1, proses imajinasi iman ini bukanlah sekadar visualisasi psikologis (positivisme), melainkan partisipasi roh dalam realitas kerajaan surga.
Berikut adalah rincian "proses mikro" bagaimana imajinasi iman bekerja dalam doa dan meditasi firman:
1. Tahap Pendengaran ke Penglihatan (Hearing to Seeing)
Iman timbul dari pendengaran (Rhema), tetapi tujuan akhirnya adalah agar batin bisa "melihat" wujud firman tersebut.
- Proses Mikro: Saat bermeditasi, jangan hanya membaca teks. Mintalah kasih karunia agar Roh Kudus menyingkapkan "skenario ilahi" di balik teks tersebut.
- Contoh: Jika Anda merenungkan janji penyertaan, jangan hanya membayangkan kata-kata, tetapi biarkan Roh Kudus memperlihatkan gambar diri Anda yang sedang berjalan bersama Kristus di tengah badai. Pdt. Djonny menyebut ini sebagai kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak kekal (Babel) runtuh dan kota yang dibangun Allah teguh berdiri.
2. "Meraba" Substansi Firman (The Tangibility of Faith)
Pdt. Djonny mengutip Rasul Yohanes yang mengatakan, "...yang telah kami lihat dengan mata kami... dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman Hidup".
- Proses Mikro: Dalam doa, iman harus mencapai titik di mana janji Tuhan terasa "padat" dan nyata bagi jiwa Anda, lebih nyata daripada kursi yang Anda duduki.
- Logika Ilahi: Ini adalah proses memindahkan Zoe (hidup ilahi) ke dalam perasaan batin. Anda "merasakan" damai sejahtera itu seolah-olah masalah sudah selesai, bahkan sebelum fakta fisik berubah. Ini adalah bentuk tertinggi dari logizomai—memperhitungkan janji Tuhan sebagai aset yang sudah ada di tangan.
3. Membangun "Cetak Biru" (Blueprint) di Dalam Roh
Abraham tidak hanya sekadar "berpikir" tentang Ishak yang bangkit, ia secara mental sudah menerimanya kembali dari antara orang mati.
- Proses Mikro: Gunakan imajinasi iman untuk menyusun blueprint atau kerangka masa depan yang selaras dengan firman Tuhan.
- Aksinya: Jika Anda sedang dalam pergumulan, jangan habiskan waktu membayangkan skenario kegagalan. Sebaliknya, gunakan imajinasi untuk membangun skenario kemenangan Tuhan. Pdt. Djonny menjelaskan bahwa ketika pikiran Anda "setuju" dengan gambar ilahi ini, maka iman telah termanifestasi pada jiwa.
4. Menghancurkan "Benteng Imajinasi" Negatif
Pikiran manusia sering kali memiliki "layar bioskop" yang memutar film-film ketakutan (realita negatif).
- Proses Mikro: Imajinasi iman bertindak sebagai proyektor baru. Ketika pikiran negatif muncul sebagai realita yang menekan, gunakan otoritas iman untuk mematikan "film" tersebut dan menggantinya dengan "penglihatan iman".
- Kuncinya: Fokus pada kesetiaan Tuhan yang memberikan janji, bukan pada kemustahilan situasi (seperti Abraham yang tidak fokus pada kemandulan Sara).
Perbedaan Imajinasi Pikiran vs. Imajinasi Iman
|
Fitur |
Imajinasi Pikiran (Jiwa) |
Imajinasi Iman (Roh) |
|---|---|---|
|
Sumber |
Keinginan diri atau ketakutan. |
Rhema / Suara Roh Kudus. |
|
Fokus |
Cara-cara manusiawi/logika. |
Kesetiaan dan Kuasa Allah. |
|
Hasil |
Perasaan gembira sesaat/semu. |
Kekuatan batin yang tak tergoyahkan (Zoe). |
|
Dampak |
Sering kali murtad saat ada tekanan. |
Berbuah 30x, 60x, 100x lipat di dalam jiwa. |
Langkah Penutup:
Pdt. Djonny menekankan bahwa iman adalah zat roh. Melalui imajinasi iman, Anda sedang "memadatkannya" menjadi keputusan yang nyata.