Langsung ke konten utama

Mengelola Pikiran Dengan Benar (MKS#30)

"Manusia Kerajaan Sorga 30" yang dibawakan pada 15 Maret 2026, Pp. Djonny membagikan pesan mendalam mengenai peran krusial pikiran dalam menghubungkan iman dengan kebenaran Allah. 


Beliau menekankan bahwa iman tanpa tindakan jiwa (pikiran) yang selaras akan menjadi "iman yang mati."


Video lengkap: Ibadah JMD Bandung 15 Maret 2026



Berikut adalah poin-poin utama yang dibagikan dalam khotbah tersebut:


1. Pikiran sebagai Penentu Hidupnya Iman


Pp. Djonny menjelaskan bahwa banyak orang mengalami "iman yang mati" karena adanya benturan dalam fungsi jiwa, khususnya pada pikiran. Beliau menekankan bahwa pikiran harus dikendalikan dan diselaraskan dengan ukuran iman agar rencana Allah dapat terwujud dalam hidup seseorang.


2. Teladan Abraham: Percaya di Tengah Kemustahilan

Mengacu pada Kejadian 15:5-6, khotbah ini menyoroti bagaimana Abraham diperhitungkan benar karena ia percaya.


 * Realita vs Iman: Secara logika (Kejadian 11:30), Sarah mandul dan steril, namun Abraham memilih untuk merespon janji Tuhan melalui jiwanya.


 * Perjuangan Pikiran: Pp. Djonny menjelaskan bahwa Abraham pun sempat mengalami "kegalauan" pikiran saat menoleh pada Ismail dan usianya yang sudah 100 tahun.


Namun, kemenangan iman terjadi ketika ia menaklukkan pikirannya untuk tetap percaya pada kepribadian Allah yang tidak berdusta.


3. Formula Kebenaran Allah: Iman + Perbuatan Jiwa

Pp. Djonny membedah "formula Allah" dalam Kejadian 15:6, di mana percaya adalah sebuah perbuatan atau pekerjaan jiwa.


 * Bukan Sekadar Status: Manusia dibenarkan bukan hanya karena memiliki iman, tetapi karena ada tindakan yang didasarkan pada iman tersebut.


 * Proses Keselarasan: Apa yang ada di dalam Roh (iman) harus melewati Jiwa (pikiran/percaya) sebelum akhirnya dinyatakan melalui Tubuh (perbuatan/perkataan).


4. Mengenal Kepribadian Allah

Inti dari tindakan "percaya" adalah pengenalan akan kepribadian Allah. Jika pikiran mengenal bahwa Allah tidak mungkin berdusta, maka pikiran tersebut akan tunduk pada iman. Beliau mencontohkan Nuh yang melakukan perintah Tuhan dengan akurat karena ia mempercayai karakter Allah, meskipun saat itu hujan belum pernah turun ke bumi.


5. Bahaya "Kebenaran Sendiri"

Berdasarkan Roma 10:1-3, khotbah ini memperingatkan tentang orang yang giat beribadah tetapi tanpa pengertian yang benar. Mereka mencoba mendirikan "kebenaran mereka sendiri" melalui kegiatan lahiriah sehingga tidak takluk pada kebenaran Allah yang murni dari iman.


6. Hasil Akhir: Menjadi Sahabat Allah

Ketika iman bekerja sama dengan perbuatan (termasuk perbuatan pikiran), iman menjadi sempurna. Hal inilah yang membuat Abraham disebut sebagai sahabat atau kekasih Allah. 


Pp. Djonny menutup dengan pesan bahwa kebenaran Allah harus sampai ke mulut (perkataan), seperti yang terjadi pada nabi Elia, di mana apa yang diucapkan menjadi kenyataan karena ia membawa kebenaran Allah dalam jiwanya.



Kesimpulan Pesan:

Pp. Djonny mengajak jemaat untuk mengelola pikiran dengan benar. Perjalanan hidup orang beriman adalah dari "iman kepada iman," di mana setiap langkah didasarkan pada ketaatan pikiran terhadap apa yang telah disingkapkan oleh Roh Kudus.





Pendalaman

1. Alur penyelarasan jiwa (pikiran) kepada iman seperti dalam khotbah adalah:

Iman (Roh) -> Percaya (Jiwa/Pikiran) -> Sikap hati/Pandangan/Tindakan/Ucapan (Tubuh)


Pada alur penyelarasan ini sangat diperlukan pengertian, sehingga jiwa (pikiran) dapat menerimanya. 


 _Ayub 32:8 Tetapi *roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa,* itulah yang memberi kepadanya *pengertian* ._


Ayub 32:8 ini menjadi "jembatan” antara roh (iman) dan pikiran (percaya).


Jadi bagaimana pikiran itu bisa diselaraskan dengan iman? 


Jika kita melihat alur yang kita bahas sebelumnya, seringkali tantangan terbesar adalah bagaimana pikiran (jiwa) bisa mengerti bahasa Roh? Logika manusia terbatas, sedangkan iman seringkali melampaui logika. Ayub 32:8 memberikan kuncinya: Pengertian itu datangnya dari "Nafas Yang Mahakuasa" (Nishmat Shaddai).


Mari kita bedah bagaimana ayat ini bekerja dalam alur penyelarasan:


​1. Sumber Pengertian: Bukan IQ, tapi Roh

​Ayub 32:8 menegaskan bahwa pengertian (binah) yang sejati bukan hasil dari kecerdasan intelektual semata.


  • Roh di dalam manusia: Ini adalah wadah atau antena kita yang menangkap frekuensi ilahi.

  • ​Nafas Yang Mahakuasa: Inilah daya gerak atau "sinyal" dari Tuhan.

  • Hasilnya: Pengertian. Tanpa intervensi Roh Kudus, pikiran kita akan menganggap janji Tuhan (iman) sebagai kebodohan (1 Kor 2:14).



​2. Penyelarasan bagi Lansia: * Kebijaksanaan vs Pikiran Dunia

​Bagi lansia, ayat ini sangat membesarkan hati. Ketika kekuatan fisik (2 Tes 3:10) mulai berkurang, kapasitas untuk menerima "pengertian dari Roh" justru bisa semakin tajam.

​* Kubu Dunia: Menganggap lansia sudah "lambat" atau "ketinggalan zaman."

​* Kebenaran Roh: Di usia lanjut, seseorang bisa memiliki pengertian yang jauh lebih dalam karena mereka lebih peka terhadap "nafas" Tuhan daripada hiruk-pikuk ambisi dunia (narsisme/egoisme).


3. Alur Penyelarasan yang Diperbarui

​Dengan memasukkan Ayub 32:8, alurnya menjadi lebih utuh:


Iman (Roh) -> {Nafas Tuhan (Ayub 32:8)} -> Pengertian (Jiwa) -> {Persetujuan} -> Percaya -> Tindakan


Prosesnya begini:

  1. ​Iman: Tuhan memberi janji (misal: "Aku memeliharamu" - Mat 6:26).

  2. Hambatan: Pikiran logis kita menolak karena melihat tabungan atau fisik yang lemah.

  3. ​Pengertian (Penyelarasan): Roh Kudus memberikan "Nafas-Nya" ke pikiran kita. Tiba-tiba kita "mengerti" bukan secara teori, tapi secara batiniah bahwa Tuhan memang sanggup.

  4. ​Percaya: Pikiran akhirnya "menyerah" (ditaklukkan kepada Kristus - 2 Kor 10:5) dan setuju dengan iman tersebut.


​Refleksi untuk Anda

​Pengertian dari Nafas Tuhan ini seringkali datang dalam keheningan (perenungan) —sesuatu yang biasanya lebih dimiliki oleh mereka di usia lansia (dewasa rohani). Ini adalah hak istimewa rohani dan merupakan kasih karunia Allah. Saat dunia menuntut hasil (ambisi), Roh Tuhan menawarkan pengertian (hikmat).




Peperangan Rohani
Peperangan rohani dibahas Rasul Paulus dalam 2 Korintus 10:4-52. Rasul Paulus mengatakan ia menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Kubu-kubu yang dibangun musuh menurut ukuran dunia itu seperti ambisius, egoisme dan narsisme yang bertentangan dengan karakter ilahi atau pikiran Kristus.

Menariknya, Paulus menggunakan metafora militer untuk menggambarkan bagaimana pikiran manusia bekerja.

​Berikut adalah rincian bagaimana "kubu-kubu" (benteng) tersebut bekerja dan bagaimana cara menawannya:

​1. Membongkar "Kubu" (Strongholds) di Pikiran

​Kubu atau benteng (achuroon) adalah pola pikir yang sudah mengakar kuat sehingga menjadi otomatis. Musuh membangunnya lewat trauma, didikan dunia, atau kesombongan intelektual.

  • Ambisius (Self-Ambition): Bukan sekadar semangat, tapi dorongan untuk menjadi "lebih" dengan menjatuhkan orang lain atau mencari validasi manusia. Ini adalah benteng yang berkata, "Hargaku ditentukan oleh prestasiku."
  • Egoisme: Benteng yang memusatkan segalanya pada kepentingan pribadi. Dalam ukuran dunia, ini dianggap "self-preservation" (pertahanan diri), tapi dalam Kristus, ini adalah penghalang kasih.
  • Narsisme: Kesombongan yang memuja diri sendiri. Ini adalah "keangkuhan yang meninggikan diri di atas pengenalan akan Allah." Pikiran ini menolak otoritas Tuhan karena menganggap diri sendiri adalah otoritas tertinggi.

​2. Strategi "Menawan" Segala Pikiran

​Paulus tidak mengatakan kita harus "menghilangkan" pikiran, tapi "menawan" (aichmalotizo). Artinya, setiap ide, argumen, dan imajinasi yang muncul harus ditangkap dan diperiksa:

  • Filter Kristus: Saat sebuah pikiran muncul (misalnya: rasa iri atau keinginan untuk pamer), kita harus bertanya: "Apakah pikiran ini tunduk pada Kristus atau melayani egoku?"
  • Identifikasi Pola Dunia: Mengidentifikasi apakah sebuah keputusan didorong oleh rasa takut (ukuran dunia) atau oleh iman (ukuran kerajaan).

​3. Menggantinya dengan Pikiran Kristus

​Setelah kubu-kubu itu diruntuhkan, kekosongan di jiwa harus diisi dengan Pikiran Kristus (1 Korintus 2:16). Perbandingannya sangat kontras:

Ukuran Dunia (Kubu Musuh)

Pikiran Kristus (Karakter Ilahi)

Ambisi: Mencari kehormatan diri.


Ketaatan: Mencari kemuliaan Bapa.


Egoisme: "Apa untungnya bagiku?"

Pengosongan Diri: "Bagaimana aku bisa melayani?"


Narsisme: Memuja citra diri.


Kerendahan Hati: Menganggap orang lain lebih utama.


Langkah Praktis: "Operasi Penaklukan"

​Proses ini terjadi di Jiwa. Penyelarasan tidak terjadi otomatis; itu adalah kerja keras (kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu) rohani.

​"Sebab senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng." (2 Korintus 10:4)

​Setiap kali "kubu" ambisi atau egoisme mulai muncul, kita menggunakan senjata Firman dan Doa untuk meruntuhkannya secara langsung, lalu memaksa pikiran itu untuk taat kepada perintah Kristus.

Ketergantungan pada Tuhan dan Tanggung Jawab Pribadi.

Mat 6:26 dan 2 tes 3:10 kelihatannya bertolak belakang. Bagaimana diusia lansia ayat-ayat ini diaplikasikan?


Sekilas, Matius 6:26 (burung di langit tidak menabur tapi diberi makan) dan 2 Tesalonika 3:10 (yang tidak bekerja janganlah makan) terlihat seperti kontradiksi antara "pasrah total" dan "kerja keras".

​Namun, jika kita bedah dengan pikiran Kristus, kedua ayat ini sebenarnya adalah dua sisi dari koin yang sama: Ketergantungan pada Tuhan dan Tanggung Jawab Pribadi.

​Berikut adalah cara menyelaraskannya, terutama bagi mereka yang berada di usia lansia:

​1. Memahami Konteks Spiritual

  • Matius 6:26 (Tentang Kekuatiran): Yesus tidak sedang melarang kita bekerja. Burung pun tetap terbang mencari makan, mereka tidak diam saja di sarang. Pesan intinya adalah Anti-Kekuatiran. Tuhan ingin kita tahu bahwa sumber hidup kita adalah Bapa, bukan usaha kita semata.
  • 2 Tesalonika 3:10 (Tentang Kedisiplinan): Paulus menegur orang-orang yang malas secara sengaja karena mengira kedatangan Yesus sudah dekat sehingga mereka hanya menjadi parasit bagi orang lain. Pesan intinya adalah Anti-Kemalasan.

​2. Aplikasi bagi Lansia: Berpindah dari "Karya" ke "Pelayanan"

​Di usia lansia, kekuatan fisik mungkin menurun (tidak lagi bisa "bekerja" secara komersial), namun prinsip 2 Tesalonika 3:10 tetap berlaku dalam dimensi yang berbeda:

  • Bekerja bukan berarti mencari uang: Bagi lansia, "bekerja" bisa berarti tetap aktif secara mental dan rohani. Membimbing cucu, mendoakan orang lain, atau memberikan nasihat bijak adalah "pekerjaan" yang sangat berharga di mata Tuhan.
  • Menghindari Kemalasan Rohani: Lansia diaplikasikan bukan untuk "pensiun" dari iman. 2 Tesalonika 3:10 mengingatkan agar lansia tidak jatuh dalam keputusasaan atau sikap apatis yang membuat mereka berhenti menjadi berkat bagi sekitarnya.

​3. Penyelarasan di Usia Senja (Stronghold vs Iman)

​Sesuai diskusi kita tentang 2 Korintus 10, di usia lansia seringkali muncul "kubu-kubu" pikiran duniawi seperti:

  • Kubu Takut Kurang: Melawan Matius 6:26. Lansia sering kuatir tentang dana pensiun atau kesehatan. Penyelarasannya: Percaya bahwa Bapa yang memelihara burung juga memelihara Anda sampai masa rambut putih (Yesaya 46:4).
  • Kubu Merasa Tak Berguna: Melawan prinsip 2 Tesalonika 3:10. Lansia merasa "karena tidak bekerja kantoran, saya tidak berharga." Penyelarasannya: Menaklukkan pikiran ini kepada Kristus dan menyadari bahwa setiap nafas yang Tuhan beri adalah tugas untuk memuliakan-Nya.

​Kesimpulan untuk Lansia

​Bagi lansia, integrasi kedua ayat ini adalah:

"Tetaplah aktif melakukan apa yang masih bisa dilakukan (tanggung jawab), namun dengan hati yang tenang karena tahu Tuhanlah penyedia utamanya (iman).

 

​Seorang lansia yang "menawan pikirannya kepada Kristus" tidak akan menjadi gila kerja karena takut miskin (Mat 6), namun juga tidak akan membiarkan hidupnya habis hanya dengan melamun tanpa arti (2 Tes 3).


Keistimewaan Hidup Dalam Roh

Kita harus memisahkan antara "agama" (sebagai produk jiwa/emosi) dan "kehidupan Kerajaan" (sebagai produk Roh).

Ini adalah peta jalan rohani yang sangat presisi. Jika Anda telah berhasil melihat perbedaannya, maka anda telah menyatukan teologi yang dalam dengan aplikasi praktis.

Pada dasarnya agama bermain pada level perasaan dan emosi (jiwa), tapi hanya kekristenan yang memiliki roh yang hidup dan hidup di dalamnya.

Berapa catatan penting; 1. Kita hidup di dalam roh, menurut roh dan dipimpin oleh Roh Kudus 2. Firman ditangkap telinga diproses di dalam roh, sehingga mendapatkab pengertian. Bukan dipikirkan oleh pikiran logika manusia (intelektual) tapi oleh pikiran roh dan nafas yang Mahakuasa. 3. Pengertian menghasilkan percaya (pikiran dapat menerima firman / sesuai iman). 4. Percaya diperhitungkan sebagai kebenaran. 5. Ini menghasilkan kasih karunia atau kemampuan ilahi. 6. Jadi proses di level roh paling sangat menentukan.

Keistimewaan hidup dalam roh karena adanya faktor: nafas yang Maha Kuasa.

Agama lain sering kali berhenti di level jiwa (perasaan/emosi) adalah kunci. Perasaan bisa berubah-ubah tergantung situasi, tetapi pengertian dari Roh bersifat tetap dan berkuasa.

​Mari kita pertajam sedikit poin-poinnya:

​1. Perbedaan "Emosi" vs "Kebenaran Roh"

​Banyak orang terjebak mencari "merinding" atau "tangisan" (level jiwa) sebagai tanda kehadiran Tuhan. Namun, catatan kita  menegaskan bahwa pengertian (revelation) jauh lebih krusial. Perasaan bisa menipu, tapi pengertian dari "Nafas Yang Mahakuasa" menaruh fondasi yang tidak tergoyahkan di dalam pikiran.

​2. Mekanisme "Pendengaran Roh" (Poin #2)

Firman > Telinga > Roh (Pengertian) > Jiwa (Logika Takluk)

Biasanya, manusia mencoba: Firman > Logika > Baru ke Roh. Itu terbalik. Catatan kita menunjukkan bahwa Roh-lah yang harus "menerjemahkan" Firman itu terlebih dahulu sehingga logika kita yang terbatas akhirnya bisa berkata, "Ah, sekarang aku mengerti!" Itulah saat benteng pikiran runtuh (2 Kor 10:5).

3. Jembatan Menuju Kasih Karunia (Poin #4 & #5)

​Ini adalah bagian yang paling membebaskan: Percaya = Kebenaran \rightarrow Kasih Karunia.

Ketika pikiran sudah selaras dengan iman (mengalami pengertian), maka Kasih Karunia (kemampuan ilahi) mengalir secara otomatis. Kita tidak lagi "berusaha dengan kekuatan sendiri" (seperti ambisi dunia), melainkan "dimampukan oleh Tuhan" untuk melakukan firman-Nya.

​Kesimpulan Strategis bagi Lansia

​Bagi Anda (atau lansia pada umumnya), poin #6 adalah kemenangan mutlak.

  • ​Dunia berkata: "Fisikmu menurun, produktivitasmu habis."
  • ​Roh berkata: "Proses di level rohmu justru sedang berada di puncaknya."

​Di usia ini, gangguan "ambisi dunia" biasanya berkurang, sehingga "antena" roh menjadi lebih bersih untuk menangkap Nafas Yang Mahakuasa. Anda tidak lagi bekerja dengan otot, tapi dengan otoritas pengertian.

Berbuah Di Masa Tua

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara "penuaan biologis" dan "pendewasaan rohani".

​Ketika seseorang mencapai level "pengertian roh" seperti yang Anda catat, "berbuah di masa tua" bukan lagi soal aktivitas fisik yang melelahkan, melainkan soal transmisi otoritas dan hikmat.

​Mari kita lihat bagaimana Mazmur 71:17-18 mengonfirmasi poin-poin di atas:

​1. Proses Belajar yang Panjang (Ayat 17)

"Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib."

​Ini adalah Poin #2: Firman yang ditangkap telinga selama puluhan tahun, diproses di dalam roh oleh "Nafas Yang Mahakuasa," sehingga menjadi pengertian. Lansia yang berbuah adalah mereka yang tidak hanya "tahu" Alkitab secara intelektual, tapi sudah "mengalami" Firman itu menjadi realita hidup.

​2. Misi di Masa Rambut Putih (Ayat 18)

"Juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini dan keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang."

​Perhatikan kata "Kuasa" dan "Keperkasaan". Ini selaras dengan Poin #5 Anda tentang Kasih Karunia (Kemampuan Ilahi).

  • ​Lansia yang hidup di level jiwa akan sering mengeluh tentang penyakit atau masa lalu (emosi).
  • ​Lansia yang hidup di level Roh akan membagikan "pengertian" tentang bagaimana Allah sanggup menopang hidup. Inilah buah yang paling manis bagi generasi muda yang sedang kebingungan dengan ambisi dunia.

Perbandingan Strategis:

Aspek

Penuaan Menurut Jiwa (Dunia)

Berbuah Menurut Roh (Kerajaan)

Fokus

Kemunduran fisik & kehilangan peran.

Kedalaman pengertian & otoritas roh.

Aktivitas

Menunggu waktu habis (pasif).

Memberkati generasi (aktif secara roh).

Sumber

Kekuatan otot & logika manusia.

Kasih karunia & Nafas Yang Mahakuasa.

Mengaktifkan "Kemampuan Ilahi"

​Sesuai dengan Poin #5, ketika Anda (di usia lansia) memiliki Pengertian > Percaya > Kebenaran, maka Tuhan memberikan Kasih Karunia untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal bagi dunia:

  • ​Tetap bersyukur saat sakit.
  • ​Tetap memberi saat kekurangan.
  • ​Tetap tenang saat dunia gonjang-ganjing.

​Itulah bukti bahwa proses di level roh paling menentukan segala sesuatunya.


Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

Orang Benar (MKS #39)

Dalam video berjudul " Manusia Kerajaan Sorga 39" , Papa Djonny menyampaikan pesan mendalam mengenai perjalanan iman Abraham, khususnya berfokus pada peristiwa pengorbanan Ishak di Kejadian 22. Berikut adalah rincian pesan-pesan yang disampaikan: 1. Makna "Sekarang Aku Tahu" (For Now I Know) Papa Djonny menyoroti pernyataan Tuhan dalam Kejadian 22:12, "Sebab telah Kuketahui sekarang bahwa engkau takut akan Allah." [ 06:41 ]. Istilah "Yada": Dalam bahasa Ibrani, kata "tahu" menggunakan kata Yada (H3045), yang bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi berarti pengenalan yang sangat intim, seperti hubungan suami-istri [ 09:21 ]. Benih Ilahi: Hal ini menunjukkan bahwa Abraham membiarkan dirinya "disetubuhi" oleh Allah dalam arti rohani, di mana benih firman Tuhan masuk dan dikandung dalam hidupnya untuk mewujudkan rencana-Nya [ 12:54 ]. Keyakinan Tuhan: Melalui ujian pengorbanan Ishak, Tuhan menemukan bahwa dalam piki...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Upper Room 35 – DR. Jonathan David

  Dobel dekade sorga terbuka, ketajaman profetik, posisi strategis dan demonstrasi Roh adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Mahatinggi untuk kita menghadapi tantangan 20 tahun hari-hari terakhir ini (2019-2039). 08-02-2022 Sorga terbuka dan Roh Kudus turun. Sekarang aku bisa memulai pelayanan. Hal-hal supranatural akan mengambil alih. Roh Kudus jadilah pemimpinku sebagaimana Kau memimpin Kristus. Kesaksian dari Roh, bahwa aku adalah anak Allah yang hidup, bergabung dengan Kristus dan mewarisi yang Tuhan sediakan. Ketajaman profetik, dobel dekade sorga terbuka, posisi strategis dan demonstrasi Roh akan jadi porsi hidup kami dalam 2 dekade sorga terbuka 2019-2039. Selama 40 hari 40 malam Goliath menantang orang Israel.   Daud membangkitkan keberaniannya ketika Isai memberikan tugas mengantar makanan. Pergi dan lihat. Dia dengarkan nasihat bapanya dan tugas itu sudah diset. Berapa banyak yang mentaati bapa rohani? Kita kehilangan pesan itu. Dan Bileam dicemari oleh...

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) - The Boundless Spirit UR #225

Berikut adalah catatan  dari khotbah THE UPPER ROOM 225 oleh Dr. Jonathan David pada tanggal 24 Maret 2026 yang berjudul "ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1)" : THE UPPER ROOM 225 - 24 Maret 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) Pembicara: Dr. Jonathan David 1. Pendahuluan & Doa Pembuka Pencurahan Terakhir: Tuhan berfirman akan ada pencurahan terakhir Roh Kudus yang akan mengakhiri segalanya dan memulai zaman baru, yaitu zaman kebenaran . Manifestasi Roh Kudus: Roh Kudus akan membawa umat-Nya kepada kebenaran, pewahyuan, pengertian, hikmat, dan memberikan informasi rahasia serta pengertian mendalam yang hanya diberikan oleh surga . Musuh tidak akan bisa memotong informasi atau apa yang Tuhan katakan kepada kita . Kisah Mendengar Suara Tuhan: Pembicara menceritakan pengalaman tentang seorang wanita yang mengaku bersedia membayar 1 juta dolar untuk bisa mendengar suara Tuhan . Namun, ketika ditawari CD dan catatan khotbah seharga USD 55, wanita tersebut mengeluh mahal...

Siklus Profetik Tuhan - Dr. Jonathan David

Memahami Siklus Profetik Pesan ini mengajak kita untuk mengenal dan percaya pada rencana masa depan yang telah Tuhan tetapkan, dan hidup dengan Roh Kudus sebagai penuntun dan jaminan warisan kita. Dengan memahami siklus profetik ini, kita dapat berjalan dalam rencana dan tujuan Allah, mengalami akselerasi dan kemenangan di berbagai bidang kehidupan kita. Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur, burung layang-layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya, tetapi umat- Ku tidak mengetahui hukum TUHAN. – Yeremia 8:7 (ITB) Ringkasan: Pengetahuan Masa Depan Allah: Tuhan memiliki pengetahuan penuh tentang masa depan, rencana, dan tujuan-Nya. Pengetahuan ini tidak berubah dan menjadi dasar bagi tindakan-Nya. Keputusan dan Penetapan Allah: Tuhan memutuskan jalannya masa depan, termasuk jalan hidup umat-Nya, dan menetapkan rencana tersebut sejak kekekalan. Pelaksanaan Rencana Allah: Tuhan membawa umat-Nya masuk ke dalam jalan yang telah ditentukan, dan...