Langsung ke konten utama

Pertanyaan Kritis tentang Iman, Percaya dan Ego (MKS #34)


Dalam video berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 34", Bapak Pdt. Djonny (PP Djonny) menyampaikan khotbah mengenai proses iman dan bagaimana seseorang bisa dibenarkan oleh Allah melalui teladan kehidupan Abraham.

​Berikut adalah poin-poin penting beserta penjelasannya:

​1. Keluar dari "Rumah Bapak" (Pola Pikir Lama)

  • Penjelasan: Pdt. Djonny menekankan pentingnya Abraham keluar dari rumah ayahnya, Terah, di Ur-Kasdim. Ini bukan sekadar pindah lokasi geografis, melainkan keluar dari pengaruh cita-cita, impian, dan bentukan hidup orang tua/duniawi yang mungkin terlihat benar secara rohani namun belum tentu sejalan dengan rencana agung Allah.
  • Poin Utama: Jika seseorang terus bergantung pada visi orang lain (termasuk orang tua) dan bukan visi Tuhan, maka rencana Allah dalam hidupnya bisa "gugur" atau tidak maksimal.


​2. Perbedaan antara "Iman" dan "Percaya"

  • Penjelasan: Pdt. Djonny menjelaskan bahwa iman adalah pemberian Allah (anugerah), sedangkan "percaya" adalah tindakan atau respon jiwa (pikiran) manusia terhadap iman tersebut.
  • Poin Utama: Abraham sudah memiliki iman ketika dia taat keluar dari Ur-Kasdim (Ibrani 11:8). Namun di Kejadian 15:6, ketika dia "percaya" bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit meski istrinya (Sarai) mandul, itu adalah tindakan jiwanya yang menyambut perkataan Tuhan meskipun bertentangan dengan fakta medis dan logika.

​3. Firman Suara (Rhema) sebagai Dasar Iman

  • Penjelasan: Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus (Rhema), yang dijelaskan sebagai "firman suara" yang bersifat pribadi (private).
  • Poin Utama: Roh Kudus bersuara secara pribadi di dalam hati nurani manusia. Seseorang mendapatkan iman saat ia mengakui dan meyakini bahwa suara batin dari Roh Kudus itulah kebenaran sejati, meskipun suara tersebut berlawanan dengan fakta realita atau pengalaman hidup.

​4. Menghadapi "Pikiran Ganda" (Double Minded)

  • Penjelasan: Seringkali manusia mengalami pergumulan antara dua suara: suara fakta realita (pengetahuan/pengalaman) dan suara Roh Kudus.
  • Poin Utama: Pdt. Djonny menyebut bahwa "galau" tidak selalu negatif; itu bisa menjadi tanda adanya tanding suara di dalam diri. Kita harus memutuskan untuk memenangkan suara Tuhan di atas fakta duniawi agar langkah hidup kita diperhitungkan sebagai kebenaran oleh Allah.

​5. Konsep "Ego" yang Menghidupi Iman

  • Penjelasan: Mengutip Galatia 2:19-20, dijelaskan bahwa meskipun "aku" (ego) telah disalibkan, manusia tetap hidup di dalam daging.
  • Poin Utama: Peran ego sekarang adalah memutuskan untuk hidup berdasarkan iman kepada Anak Allah. Abraham memutuskan untuk mengabaikan fakta bahwa ia sudah tua dan istrinya mandul, lalu memilih untuk meyakini perkataan Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran.

Kesimpulan:

Pesan utama dari khotbah ini adalah ajakan untuk menjadi "Manusia Kerajaan Sorga" yang peka terhadap suara Roh Kudus dan berani mengambil keputusan iman untuk mengikuti rencana agung Allah, melampaui segala batasan logika dan pengalaman manusiawi.


PENDALAMAN

Ego Sebagai pusat kendali pengambilan keputusan dalam diri manusia

​Dalam khotbah tersebut, PP Djonny menjelaskan bahwa "Ego" (diri kita) memiliki peran krusial sebagai penentu arah. Berikut adalah penjelasan lebih detailnya:

​1. Ego sebagai "Hakim" di Tengah Dua Suara

​Manusia sering kali berada di antara dua tarikan:

  • Suara Fakta/Logika: "Saya sudah tua, istri saya mandul, secara medis tidak mungkin punya anak."
  • Suara Iman (Rhema): "Tuhan bilang keturunan saya akan sebanyak bintang di langit."

​Di sinilah Ego berperan. Ego adalah bagian dari jiwa yang harus memutuskan: Suara mana yang akan saya akui sebagai kebenaran? Abraham menggunakan egonya untuk memutus rantai logika kemandulan dan memilih untuk mengamini perkataan Tuhan.

​2. Konsep "Mati namun Hidup" (Galatia 2:19-20)

​PP Djonny mengutip ayat ini untuk menjelaskan transformasi ego:

  • Aku telah disalibkan: Artinya, ego yang lama (yang hanya bersandar pada kekuatan sendiri, aturan hukum Taurat, dan logika dunia) sudah tidak lagi memegang kendali.
  • Namun aku hidup: Kita tetaplah manusia yang bernapas dan memiliki kehendak. Namun, kehendak ini sekarang "diabdikan" untuk menghidupi iman.

​3. Keputusan untuk "Menghidupi" Iman

​Iman adalah pemberian Allah (anugerah), tetapi menghidupi iman tersebut adalah keputusan kita.

Analogi: Tuhan memberikan "bahan bakar" berupa iman, tetapi kita yang harus menginjak "pedal gas"-nya melalui keputusan ego kita untuk melangkah.


​4. Ringkasan Proses Poin 5


Unsur

Peran

Roh Kudus

Memberikan suara kebenaran (Rhema).

Iman

Anugerah/kemampuan dari Tuhan untuk percaya hal yang mustahil.

Ego (Aku)

Mengambil keputusan untuk mengakui suara Tuhan dan mengabaikan fakta duniawi.

Tindakan

Abraham melangkah keluar dan percaya, sehingga ia dibenarkan.



Jadi, maksud dari poin 5 adalah: Ego kita tidak dihilangkan oleh Tuhan, melainkan diberikan tugas baru untuk memilih tunduk pada iman daripada tunduk pada fakta-fakta yang terlihat oleh mata.


Bagaimana menjelaskan "ego" ini dihubungkan dengan ibr 11:6?

Hubungan antara konsep "Ego" yang dijelaskan oleh PP Djonny dengan Ibrani 11:6 dapat dipahami melalui proses pengambilan keputusan untuk "mendekat" dan "percaya" kepada Allah di tengah kemustahilan.

​Berikut adalah penjelasan bagaimana keduanya saling bertautan:

​1. Ego sebagai Penentu Kepercayaan (Ibrani 11:6a)

"Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada..."


​Dalam Ibrani 11:6, syarat utama untuk berkenan kepada Allah adalah percaya. Seperti yang dijelaskan dalam poin 5 sebelumnya, "percaya" adalah tindakan jiwa atau ego.

  • Hubungannya: Iman adalah "bahan baku" yang Tuhan berikan di dalam roh, tetapi Ego adalah pihak yang harus memutuskan untuk menggunakan bahan baku tersebut. Saat seseorang "berpaling kepada Allah", egonya membuat keputusan sadar untuk mengakui bahwa eksistensi dan firman Tuhan lebih nyata daripada fakta duniawi.

​2. Ego Memutuskan untuk Mengabaikan "Suara Fakta"

​Ibrani 11:6 menekankan bahwa kita harus percaya bahwa Allah itu ada, meskipun Dia tidak terlihat secara fisik.

  • Hubungannya: PP Djonny menjelaskan bahwa ego manusia sering dibombardir oleh suara fakta (misalnya: "Saya tidak punya uang", "Saya sakit", "Saya sudah tua"). Ego yang menghidupi Ibrani 11:6 adalah ego yang memilih untuk menolak kendali suara fakta tersebut dan memilih tunduk pada suara Roh. Ini adalah bentuk penundukan ego kepada otoritas Tuhan.

​3. Ego Mengejar Upah dari Allah (Ibrani 11:6b)

"...dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."


​Mencari Allah dengan "sungguh-sungguh" melibatkan seluruh keberadaan manusia, termasuk keinginan dan kehendak (ego).

  • Hubungannya: PP Djonny menyebutkan bahwa ego kita memutuskan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan iman. Ketika ego kita memutuskan untuk "sungguh-sungguh mencari Dia"—artinya memilih jalan Tuhan daripada jalan sendiri—di situlah Allah bekerja memberikan upah atau penggenapan janji-Nya, sama seperti yang dialami Abraham.

​Kesimpulan Hubungan Ego dan Ibrani 11:6:

​Ibrani 11:6 adalah hukum spiritual yang menyatakan bahwa tanpa keputusan untuk percaya (tindakan ego), kita tidak bisa terhubung dengan Allah.

​Ego berfungsi sebagai "jembatan":

  1. Roh Kudus memberikan benih iman (Anugerah).
  2. Ego (berdasarkan Ibrani 11:6) mengambil langkah untuk percaya dan mencari Tuhan.
  3. Hasilnya, manusia menjadi "berkenan kepada Allah" dan mengalami penggenapan rencana agung-Nya (Manusia Kerajaan Sorga).

​Dengan kata lain, Ego adalah instrumen yang kita gunakan untuk mempraktikkan Ibrani 11:6. Tanpa keputusan ego untuk percaya, iman yang Tuhan berikan hanya akan menjadi potensi yang tidak pernah terwujud dalam tindakan nyata.


Ego menjadi pusat kendali dari keputusan untuk percaya apa yang dikatakan Firman (rhema). Ibr 11 menyatakan iman sebagai bahan bakunya untuk mendapatkan upah karena kesungguhan hati.  Ada faktor manusia di sini yang merupakan keputusan jiwanya. Terkesan iman ini tidak gratis. Yang gratis hanya kasih karunia seperti dikatakan Ef 2:8. Bagaimana menurutmu?

Ini adalah pemikiran yang sangat kritis dan tajam. Ini menyentuh sebuah paradoks yang sering menjadi perdebatan dalam teologi: Jika iman adalah pemberian Allah, mengapa manusia seolah-olah harus "membayarnya" dengan ketaatan atau keputusan jiwanya?

​Mari kita bedah secara perlahan menggunakan logika ilahi (logizomai) agar kita bisa melihat bagaimana Kasih Karunia, Iman, dan Keputusan Jiwa (Ego) bekerja dalam satu kesatuan.

​1. Membedakan "Harga" dan "Respon"

​Dalam Efesus 2:8, kasih karunia adalah pemberian cuma-cuma (free gift). Bayangkan kasih karunia sebagai sebuah paket hadiah.

  • Kasih Karunia: Paket hadiah itu sendiri (keselamatan, pemulihan, janji Tuhan).
  • Iman: Tangan yang Tuhan berikan kepada kita agar kita bisa menerima paket itu.
  • Keputusan Ego: Keputusan kita untuk mengulurkan tangan tersebut.

​Apakah mengulurkan tangan berarti hadiah itu tidak gratis? Tetap gratis. Mengulurkan tangan bukanlah "pembayaran", melainkan respon yang diperlukan agar hadiah tersebut berpindah tangan. Hadiahnya gratis, tapi tidak bisa dipaksakan jika tangan kita mengepal (menolak).

​2. Iman sebagai "Investasi" atau "Instrumen"?

​Anda benar bahwa Ibrani 11:6 menyebutkan tentang "upah" bagi yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Ini bisa mengesankan adanya "transaksi". Namun, mari kita lihat dari sudut pandang ini:

  • ​Iman bukan mata uang untuk membeli berkat Tuhan.
  • ​Iman adalah saluran atau pipa.

​Keputusan jiwa kita untuk tunduk pada rhema adalah tindakan "membuka keran". Airnya (kasih karunia) tetap gratis dan melimpah, tetapi tanpa keputusan ego untuk membuka keran, air itu tidak mengalir ke hidup kita. "Kesungguhan hati" dalam Ibrani 11:6 adalah tentang fokus, bukan tentang usaha keras daging (self-effort).

​3. Mengapa Terkesan "Tidak Gratis"?

​Iman terkesan "mahal" atau "tidak gratis" karena untuk menghidupinya, kita harus membayar dengan ego kita.

"Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup..." (Galatia 2:20)


​Harga yang kita bayar bukan untuk membeli kasih karunia Tuhan, melainkan untuk mematikan logika Babel kita. Itulah sebabnya terasa berat. Tuhan memberikan iman secara gratis, tetapi untuk memakai iman itu, kita harus membuang "logika lama" kita. Membuang logika lama inilah yang sering kita rasakan sebagai "biaya".

​4. Sinergi Ilahi: Tuhan yang Memberi, Manusia yang Memutuskan

​Tuhan menyediakan "bahan baku" (iman), tetapi Dia menghormati kebebasan manusia.

  • ​Jika Tuhan melakukan semuanya tanpa keputusan kita, kita hanyalah robot.
  • ​Jika kita melakukan semuanya tanpa iman dari Tuhan, kita adalah penganut Babel.

Kesimpulannya:

Kasih karunia tetaplah fondasi yang 100% gratis. Iman adalah alat yang juga diberikan secara gratis. Namun, penggunaan alat itu (keputusan ego) adalah area di mana Tuhan mengundang kemitraan kita. Tuhan tidak complicated; Dia memberikan modalnya, Dia memberikan jalannya, kita hanya perlu memutuskan untuk berhenti mengatur sendiri dan mulai berjalan bersama-sama dengan-Nya.


Apakah menurut Anda bagian tersulit adalah saat "suara fakta" terasa jauh lebih logis daripada "suara iman" tersebut?

Ya. Ketika kita memakai pikiran atau logika manusia itulah cara paling logis. Misalkan Abram masih menuruti perkataan Sarai untuk menghampiri Hagar. Faktanya lahir Ismail. Tapi Ismail bukan anak perjanjian dan tindakan itu menuruti ego yang "self-will" bukan "sprit-led" atau bukan tindakan iman.

Inilah esensi dari konflik antara sistem Babel (logika manusia/kemampuan diri) dan sistem Kerajaan (iman/tuntunan Roh).

​Peristiwa Hagar adalah contoh nyata di mana Abraham dan Sarai mencoba "membantu" Tuhan dengan menggunakan logika yang paling masuk akal saat itu. Jika kita bedah menggunakan kerangka poin-poin tadi, situasinya menjadi seperti ini:

​1. Logika Manusia vs. Janji Tuhan

​Secara logika, Sarai mandul dan mereka sudah tua. Maka, solusi paling "logis" dalam budaya saat itu adalah menggunakan hamba untuk mendapatkan keturunan. Ini adalah tindakan yang didasarkan pada fakta nyata dan pengetahuan.

​2. Ego yang Self-Will

​Ketika Abraham menyetujui usul Sarai, egonya sedang bekerja dalam mode self-will. Dia tidak sedang mengendalikan dirinya untuk tunduk pada rhema ("anak kandungmu sendiri"), melainkan membiarkan egonya dikuasai oleh tekanan situasi dan saran manusiawi.

  • Ismail adalah hasil dari usaha daging (logika).
  • Ishak adalah hasil dari iman (janji yang mustahil).

​3. Pentingnya Penguasaan Diri (Egkrateia)

​Kasus Hagar menunjukkan bahwa tanpa penguasaan diri yang kuat, ego kita akan selalu mencari "jalan pintas" yang terlihat masuk akal.

  • Penguasaan diri seharusnya membuat Abraham berkata: "Tunggu, Tuhan sudah berfirman secara pribadi kepada saya. Meskipun secara logika Hagar adalah solusi, itu bukan suara Tuhan."
  • ​Karena penguasaan diri tersebut absen, ego Abraham menjadi "liar" dan mengikuti arus logika duniawi.

​4. Keluar dari "Budaya Babel"

​Seperti yang Anda sempat singgung di percakapan lain, langkah pertama memang harus keluar dari sistem dunia (Babel) yang mengandalkan strategi manusiawi. Tindakan menghampiri Hagar adalah bukti bahwa saat itu Abraham masih memiliki residu "budaya Babel" atau pola pikir Ur-Kasdim yang mencoba menyelesaikan masalah ilahi dengan cara-cara bumi.

Poin Renungan:

Tindakan iman sering kali terlihat "tidak logis" dan "imposibel" bagi pikiran kita. Itulah sebabnya, seperti yang disampaikan PP Djonny, Allah sedang membangun iman (faith) dan percaya (trust) agar kita tidak lagi dikendalikan oleh apa yang terlihat, melainkan oleh apa yang disuarakan-Nya di dalam roh.

​Proses panjang yang Anda jalani sekarang—belajar membedakan mana yang merupakan tuntunan Roh dan mana yang sekadar logika self-will—adalah inti dari menjadi "Manusia Kerajaan Sorga."


Dalam pengalaman Anda sehari-hari, apakah Anda merasakan bahwa suara "logika" itu sering kali datang dalam bentuk kekhawatiran yang sangat mendesak?

Ya, tepat sekali. Imajinasi seseorang itu seringkali melahirkan hal yang negatif, merenungkan fakta negatif; karena ada dorongan atas keinginan hati sampai malah timbul kekhawatiran yang mendesaknya segera memenuhi keinginan itu. Padahal kata Daud: takkan kekurangan aku, karena Tuhan adalah gembalaku.

Ketika kita masuk ke hadirat Tuhan mungkin akhirnya kita menemukan hal yang sama dan berkata: I shall not want.

Mekanisme "pikiran ganda" (double minded) yang sangat nyata. Imajinasi yang didorong oleh keinginan hati sering kali berubah menjadi skenario ketakutan. Kita mulai merenungkan fakta negatif sampai akhirnya kita merasa "terdesak" untuk segera melakukan sesuatu dengan kekuatan sendiri—persis seperti Abraham yang merasa terdesak untuk segera memiliki anak melalui Hagar.

​Pergeseran Fokus: Dari "Kekurangan" ke "Gembala"

​Kalimat Daud dalam Mazmur 23:1 adalah obat yang paling ampuh untuk ego yang sedang gelisah. Ada perbedaan frekuensi yang besar di sini:

  • Pikiran Logika/Dunia: Bertanya "Bagaimana kalau..." (fokus pada skenario buruk).
  • Pikiran Iman/Kerajaan: Berkata "Tuhan adalah..." (fokus pada pribadi-Nya).

​Ketika Anda berkata, "I shall not want" (Takkan kekurangan aku), itu bukan berarti semua masalah Anda hilang seketika secara fisik, melainkan ego Anda telah berhenti memberontak. ### "I Shall Not Want" sebagai Bentuk Penyerahan Ego

​Saat kita masuk ke hadirat Tuhan dan sampai pada titik di mana kita bisa berkata "I shall not want," di situlah terjadi apa yang disampaikan dalam khotbah PP Djonny tadi:

  1. Suara fakta diredam: Suara kekhawatiran yang mendesak itu kehilangan otoritasnya di depan kebesaran Tuhan.
  2. Harmonisasi Jiwa: Ego kita tidak lagi "kelenger" karena ia sudah memilih untuk berlabuh pada satu suara saja, yaitu suara Gembala.
  3. Kepuasan di Dalam: "Takkan kekurangan" berarti kita merasa cukup dengan janji-Nya, meskipun secara fisik bintang-bintang yang dijanjikan itu belum terlihat.
  4. ​"Sebab itu Ia mulai membangun atau menjadikan manusia untuk memiliki iman (faith) di dalam Dia dan percaya (trust) kepada jalan-jalan Nya."


    ​Keluar dari "budaya Babel" berarti berhenti menggunakan imajinasi untuk membangun menara keselamatan kita sendiri, dan mulai menggunakan imajinasi kita untuk melihat bahwa di dalam Gembala, segala sesuatu sudah genap.

    ​Memang benar, saat kita sungguh-sungguh berada di hadirat-Nya, kebutuhan untuk "segera melakukan sesuatu secara daging" itu luruh, dan kita menemukan ketenangan karena tahu Dia sedang bekerja di balik layar.


​Apakah dalam kesederhanaan ketaatan saat ini, Anda merasa beban hidup menjadi jauh lebih ringan dibandingkan saat masih mencoba mengatur segala sesuatunya dengan "ide" sendiri?

Ya, sebenarnya Tuhan tidak pernah menuntut yang tidak-tidak. Bukan dari yang tidak ada (walaupun belum terlihat) tapi Dia sudah sediakan (walaupun belum terbukti). Ketika Abraham diminta mengorbankan Ishak, Tuhan sudah sediakan seekor domba jantan. Tuhan tidak complicated, sederhana. Kita harus terus belajar jalan-jalan Tuhan dan logika ilahi (logizomai) untuk mengerti cara-cara Tuhan. Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup.

Ini menyentuh inti dari logika ilahi, yaitu logizomai—sebuah perhitungan iman yang bukan didasarkan pada apa yang tampak, melainkan pada karakter Sang Pemberi janji.

​Sering kali kita yang membuat hubungan dengan Tuhan menjadi rumit (complicated) karena kita mencoba membawa "kalkulator dunia" ke dalam kerajaan-Nya. Padahal, seperti yang Anda katakan, prinsip-Nya sangat sederhana:

​1. Logizomai vs Logika Dunia

​Dalam Roma 4:3, kata logizomai digunakan ketika iman Abraham "diperhitungkan" sebagai kebenaran.

  • Logika Dunia: 1 + 1 = 2. Jika tidak ada domba, maka anak harus mati.
  • Logika Ilahi (Logizomai): Tuhan adalah Kasih + Tuhan adalah Setia = Tuhan pasti menyediakan (Yehovah Jireh).

​Abraham bisa melangkah naik ke gunung Moria bukan karena dia kejam, tapi karena dia sedang melakukan kalkulasi logizomai. Dia memperhitungkan bahwa jika Tuhan menjanjikan keturunan melalui Ishak, maka sekalipun Ishak mati, Tuhan sanggup membangkitkannya (Ibrani 11:19).

​2. "Sudah Sedia" Sebelum "Terbukti"

​Kisah domba di gunung Moria adalah bukti bahwa solusi Tuhan tidak datang terlambat; domba itu sudah ada di sana, mungkin sedang berjalan mendaki dari sisi gunung yang lain saat Abraham sedang mendaki dari sisi satunya.

  • Masalah kita: Kita sering menunggu "bukti" baru mau "percaya".
  • Jalan Tuhan: Kita "percaya" (mengakui rhema-Nya), maka mata rohani kita terbuka untuk melihat apa yang sebenarnya sudah Dia "sediakan".

​3. Sederhananya Berjalan Bersama Sang Jalan

​Ketika Yesus berkata "Akulah Jalan", itu berarti kita tidak perlu lagi pusing mencari arah atau menciptakan peta sendiri. Tugas kita hanya melekat pada Si Jalan itu. Keluar dari sistem Babel berarti berhenti menjadi "arsitek" bagi hidup sendiri dan mulai menjadi "penurut" (seperti hamba) yang hanya melakukan apa yang diperintahkan Tuan-Nya.

​Pikiran yang tenang dan luluh di hadirat-Nya memungkinkan kita untuk menangkap kesederhanaan ini. Saat ego tidak lagi menuntut bukti, saat itulah ketaatan menjadi ringan.


​Ini adalah proses pembelajaran yang indah. Di usia dan pengalaman Anda saat ini, apakah Anda merasa bahwa memahami "jalan-jalan Tuhan" terasa lebih bermakna daripada sekadar meminta "berkat-berkat-Nya"?

Ya, jelas begitu. Yang terpenting adalah realitas kehadiran Tuhan dalam hidup ini. Sekalipun badai menerjang atau dalam lembah kelam, aku tidak takut bahaya sebab Kau bersertaku. Ia adalah Allah Emmanuel.

Itulah puncak dari segala pencarian manusia: Realitas Kehadiran-Nya.

​Ketika fokus kita bergeser dari "apa yang Tuhan berikan" menjadi "siapa yang menyertai aku," maka keadaan di luar tidak lagi memiliki kuasa untuk mendikte kedamaian di dalam. Lembah kelam tidak berubah menjadi taman bunga seketika, dan badai mungkin tidak langsung teduh, tetapi ketidaktakutan itu muncul karena ada kesadaran bahwa Sang Pencipta badai ada di dalam perahu yang sama.

Allah Emmanuel bukan sekadar doktrin atau nama, melainkan realitas mekanis dalam sistem Kerajaan:

  • ​Di Babel, manusia harus berjuang sendirian untuk naik ke atas menemui "tuhan" atau kesuksesan.
  • ​Di Sistem Eden/Kerajaan, Allah yang turun ke bawah untuk berjalan bersama manusia di sejuknya hari.

​Kehadiran-Nya itulah yang membuat ego kita bisa beristirahat. Kita tidak lagi perlu menjadi "penjaga" bagi hidup kita sendiri karena ada Penjaga Israel yang tidak terlelap. Kesederhanaan iman ini memang sering kali baru bisa kita hargai sepenuhnya setelah melewati berbagai proses panjang dan "benturan" logika.

Bahan Diskusi: Logika Ilahi vs Logika Dunia

​1. Pertanyaan: Mana yang lebih sering menjadi nakhoda dalam keputusan kita: Logika "Andai Kata" atau Logika "Logizomai"?

  • Jawaban: Logika "Andai Kata" bersumber dari imajinasi negatif dan kekhawatiran atas fakta yang belum terjadi. Sebaliknya, "Logizomai" adalah logika ilahi; perhitungan iman yang mengandalkan karakter Allah yang setia dan janji-Nya sebagai variabel utama, bukan situasi fisik.

​2. Pertanyaan: Apa pelajaran penting dari peristiwa Abraham, Sarai, dan Hagar terkait "Ego"?

  • Jawaban: Peristiwa itu menunjukkan ego yang self-will (kehendak sendiri). Abraham mencoba membantu Tuhan melalui jalan pintas yang masuk akal secara budaya/logika saat itu. Hasilnya adalah Ismail (hasil usaha daging), bukan Ishak (hasil iman). Ini mengajarkan bahwa niat baik yang tidak berasal dari perintah Tuhan bukanlah tindakan iman.

​3. Pertanyaan: Mengapa penguasaan diri (egkrateia) sangat penting dalam memproses iman?

  • Jawaban: Penguasaan diri adalah "buah Roh" yang menjaga ego kita agar tetap tenang. Tanpa penguasaan diri, ego kita akan "kelenger" atau panik saat mendengar suara fakta yang mendesak. Penguasaan diri memungkinkan kita berkata "tidak" pada desakan logika duniawi dan tetap tunduk pada otoritas Rhema (suara Tuhan).

​4. Pertanyaan: Apa rahasia di balik pernyataan Daud, "I shall not want" (Takkan kekurangan aku)?

  • Jawaban: Rahasianya adalah Realitas Kehadiran Tuhan. "I shall not want" bukan berarti semua masalah sudah selesai, melainkan pengakuan bahwa kehadiran Sang Gembala sudah lebih dari cukup. Saat kita merasa cukup di dalam Dia, ego kita berhenti memberontak dan berhenti mencari "jalan pintas" di luar kehendak-Nya.

​5. Pertanyaan: Bagaimana kita bisa tetap melangkah saat "domba" penyediaan Tuhan belum terlihat?

  • Jawaban: Dengan memahami bahwa Tuhan itu sederhana dan tidak rumit. Dia tidak menuntut dari yang tidak ada, karena bagi-Nya segala sesuatu sudah disediakan (Yehovah Jireh), meskipun belum terbukti secara fisik. Tugas kita bukan menyediakan domba, tapi menaati langkah yang diperintahkan hari ini.

​6. Pertanyaan: Apa perbedaan mendasar antara sistem "Babel" dan sistem "Eden/Kerajaan"?

  • Jawaban: Sistem Babel mengandalkan kemampuan diri untuk membangun "menara" menuju keselamatan. Sistem Eden/Kerajaan mengandalkan relasi dan kehadiran Allah (Emmanuel). Hidup dalam Kerajaan berarti berhenti menjadi "arsitek" hidup sendiri dan mulai berjalan bersama Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
  • Poin Penutup untuk Diskusi:

    "Tuhan tidak mencari kemampuan kita, tapi ketaatan kita untuk berjalan dalam pekerjaan baik yang sudah disiapkan-Nya sebelumnya."








Postingan populer dari blog ini

Misteri Penciptaan, Kejatuhan, dan Pengadilan Akhir Diungkapkan

Pengantar Seluruh teka-teki penciptaan, kejatuhan, dan pengadilan akhir diungkapkan lewat kisah Ayub. Tuhan berhasil memancing iblis lewat gagasannya sendiri untuk mencobai Ayub. Dari situ terungkap motifnya, bagaimana ia berusaha menawan dan mengunci sistem peradilan sorga untuk pemberontakannya. Anda sedang melihat cetak biru alam semesta dari sudut pandang ruang kendali utama (The Master Plan) atau Rencana Agung Tuhan.  Monumen Iman Tokoh iman yang luarbiasa kesalehannya adalah Ayub. Ia nyaris memiliki iman yang sempura. Kesalehannya justru terbukti ketika berada di titik nol. Walaupun teman-temannya bukan memberi nasehat yang positif; melainkan menuduhnya menyembunyikan dosa besar, sehingga mengalami banyak malapetaka, Ayub tidak teralihkan.  Meskipun isterinya juga mengecamnya dengan kasar, tapi Ayub tetap teguh imannya. Seakan Ayub sudah sempurna. Dalam peristiwa tragis ini tidak ada ucapan Ayub yang salah. Ayub memang berdiri sebagai monumen iman yang luar biasa di dal...

Upper Room 2 - DR. Jonathan David

Menjalani kehidupan Roh Living the life of the Spirit Pendahuluan Kita tidak boleh pasif dan membiarkan hari-hari berlalu tanpa arti. di masa pandemi yang sudah 1,5tahun lewat harusnya terus menantikan Tuhan dan mengharapkan terjadi sesuatu yang luarbiasa. Kita harus tau apa yang Tuhan sedang kerjakan menurut agenda-Nya di waktu-waktu ini. Tidak cukup hanya mengenal Tuhan, tanpa mengetahui apa yang sedang dikerjakan-Nya. Dan Ia telah sampaikan kepada nabi dan rasul-Nya apa yang sedang dan segera terjadi di bukan Apri-September 2021 ini. Kita harus menjadi bagian dari apa yang Tuhan kerjakan. Jika kita tidak menantikan Tuhan dan membiarkan diri kita dibawa oleh pemikiran sendiri, yang dipengaruhi oleh opini orang atau dari media, maka apa yang ada pada kita dan kita terima selama ini, otomatis akan hilang dan diambil. Jangan biarkan selama zoom untuk ibadah / komsel itu tanpa kita alami benih yang mengandung kuasa dari firman lewat dan diambil oleh setan di pinggir jalan.   Tu...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

Siklus Profetik Tuhan - Dr. Jonathan David

Memahami Siklus Profetik Pesan ini mengajak kita untuk mengenal dan percaya pada rencana masa depan yang telah Tuhan tetapkan, dan hidup dengan Roh Kudus sebagai penuntun dan jaminan warisan kita. Dengan memahami siklus profetik ini, kita dapat berjalan dalam rencana dan tujuan Allah, mengalami akselerasi dan kemenangan di berbagai bidang kehidupan kita. Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur, burung layang-layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya, tetapi umat- Ku tidak mengetahui hukum TUHAN. – Yeremia 8:7 (ITB) Ringkasan: Pengetahuan Masa Depan Allah: Tuhan memiliki pengetahuan penuh tentang masa depan, rencana, dan tujuan-Nya. Pengetahuan ini tidak berubah dan menjadi dasar bagi tindakan-Nya. Keputusan dan Penetapan Allah: Tuhan memutuskan jalannya masa depan, termasuk jalan hidup umat-Nya, dan menetapkan rencana tersebut sejak kekekalan. Pelaksanaan Rencana Allah: Tuhan membawa umat-Nya masuk ke dalam jalan yang telah ditentukan, dan...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Kesaksian Abraham dan Konsep Keselamatan Yesus

Ibrani 11:39 (TB)  Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Abraham tidak memperoleh semua dari apa yang dijanjikan Allah kepadanya semasa hidupnya tentang menjadi bapa dari bangsa-bangsa. Ia hanya bisa memperoleh Ishak dan Yakub dan merasakan hidup bersama mereka dalam satu tenda. Ibrani 11:9 (TB)  Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.  Janji itu telah diturunkan kepada Ishak dan Yakub. Janji yang satu itu juga diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya yakni keturunan Israel yang hidup di Mesir. Janji itu juga diturunkan kepada kita orang percaya - yang telah menerima benih dimensi hidup Allah -  yang menjadi keturunan Abraham.  ​Keturunan Abraham bukan sekadar hubungan biologis, melainkan mereka yang hidup de...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...