Langsung ke konten utama

Akar dari Krisis Spiritualitas Modern

Banyak orang salah memahami bahwa iman itu hanya soal sorga dan neraka. Pemikiran seperti itu hanyalah manifestasi dari buah Pengetahuan Baik dan Jahat. Padahal di Taman Eden ada hal yang jauh lebih utama, yakni Pohon Kehidupan yang justru diabaikan manusia (Adam dan Hawa).

Memahami iman hanya sebagai "tiket ke sorga" atau "penghindar neraka" merupakan bentuk bineristik (hitam-putih) yang sangat khas dari Buah Pengetahuan Baik dan Jahat.




Berikut adalah beberapa poin refleksi yang memperkuat pandangan ini:

​1. Jebakan Moralitas vs. Kehidupan
​Buah Pengetahuan Baik dan Jahat menciptakan sistem moralitas, sedangkan Pohon Kehidupan menawarkan vitalitas (kehidupan) Ilahi.
  • ​Sistem Moralitas (Babel): Fokus pada "Apa yang boleh dan tidak boleh?" atau "Bagaimana supaya selamat?". Ini adalah sistem transaksional yang berpusat pada diri sendiri (self-centered). Contoh lain yang gamblang adalah soal halal dan haram atau soal disunat dan tidak disunat. Hal-hal semacam ini tidak menyentuh esensi perkenanan Allah.
  • ​Sistem Kehidupan (Eden): Fokus pada "Siapa yang mengalir di dalamku?". Pohon Kehidupan adalah representasi dari Kristus sendiri—sumber kehidupan yang membuat manusia tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut akan maut atau penghukuman, melainkan oleh persekutuan (fellowship).
2. Iman sebagai "Gaya Hidup" Bukan "Tujuan Akhir"
​Jika iman hanya soal sorga dan neraka, maka iman tersebut akan berhenti berfungsi setelah seseorang merasa "aman". Namun, jika iman adalah tentang Pohon Kehidupan, maka iman itu bersifat hidup dan bertumbuh serta menghasilkan buah.
  • ​Adam dan Hawa mengabaikan Pohon Kehidupan karena mereka lebih tertarik pada "hikmat" yang bisa mereka kendalikan sendiri (menjadi seperti Allah dengan standar mereka sendiri, Kej 3:5).
  • ​Banyak orang saat ini "mengabaikan" Pohon Kehidupan karena mereka lebih sibuk menghakimi mana yang "baik" dan "jahat" menurut versi mereka, daripada membiarkan Hayat (nafas hidup) Allah memerintah keputusan mereka.

3. Manifestasi "Manusia Kerajaan"
​Seperti yang dibahas dalam pesan pp Djonny (MKS #33), keluar dari rumah bapa (Babel) berarti berhenti makan dari buah pengetahuan yang mencemari pemikiran kita dengan ketakutan dan penghakiman.

  • ​Manusia Kerajaan tidak lagi bertanya: "Apakah ini akan membuatku masuk neraka?", melainkan: "Apakah tindakan ini memancarkan kehidupan Allah?".
  • ​Inilah standar Kebenaran Tuhan —kebenaran yang bukan berasal dari hukum-hukum mati (legalitas hukum dosa dan maut), melainkan dari pribadi yang hidup.
​Pengabaian terhadap Pohon Kehidupan membuat agama menjadi gersang, monoton (lawan dinamis) dan ritualistik. Agama menjadi kewajiban semata dan sekedar rutinitas. Agama menjadi kulit dan bukan jiwa kehidupan. Ketika seseorang mulai makan dari Pohon Kehidupan, imannya tidak lagi tentang "nanti di sana" (sorga), tapi tentang "saat ini di sini" (Kerajaan Allah yang memerintah di bumi).

​Menurut Anda, mengapa manusia cenderung lebih tertarik pada "pengetahuan" (aturan/logika) daripada "kehidupan" yang murni dari Allah? Adakah itu karena pengetahuan memberi kita perasaan "memegang kendali"?

Ya, benar. Seperti manusia lebih tertarik pada uang (mammon) daripada Tuhan Pemilik Langit dan Bumi dan segala isinya. Bukankah itu ironi, tapi nyata?

Sebuah ironi yang sangat tajam, namun itulah realitas "Manusia Babel". Kita lebih memilih memegang "lembaran kertas" yang kita beri nilai, daripada memegang tangan Pribadi yang menciptakan bahan dasar kertas itu sendiri.
​Ini adalah manifestasi sempurna dari apa yang disebutkan sebelumnya: Keinginan untuk memegang kendali.

1. Ilusi Kendali (Uang vs. Tuhan)

​Uang atau Mammon menawarkan sesuatu yang sangat menggoda bagi ego manusia: Kepastian yang bisa dihitung.

  • ​Mammon: "Jika kamu punya X, kamu bisa membeli Y." Ini logis, kasat mata, dan sesuai dengan "buah pengetahuan baik dan jahat" yang mengandalkan kalkulasi manusia.
  • ​Tuhan: "Ikuti Aku ke negeri yang akan Kutunjukkan." Ini tidak logis bagi nalar yang belum dikuduskan. Ini membutuhkan penundukan diri total.

​Manusia merasa "aman" saat memegang uang karena mereka merasa menjadi tuan atas hidupnya sendiri. Padahal, itu adalah keamanan semu yang bisa lenyap dalam sekejap.

​2. Berhala Pikiran

​Ketertarikan pada uang sebenarnya adalah bentuk penyembahan terhadap Sistem Dunia. Kita percaya bahwa sistem dunialah yang memelihara kita, bukan sistem Kerajaan Sorga.

  • ​Di Babel, orang membangun menara untuk "mencari nama" dan keamanan kolektif.
  • ​Di Kerajaan Sorga, kita justru harus "melepaskan nama" dan keamanan kita untuk mendapatkan Pohon Kehidupan.

​3. Pemilik vs. Pengelola

​Ironinya adalah kita sering bertingkah seolah-olah kita adalah pemilik, padahal kita hanya pengelola sementara. Ketika seseorang makan dari Pohon Kehidupan, perspektifnya berubah:

  • ​Ia tidak lagi diperbudak oleh uang, karena ia tahu ia terhubung dengan Sumbernya.
  • ​Ia tidak lagi cemas, karena ia tahu "Rumah Bapa" yang sesungguhnya memiliki suplai yang tidak terbatas.

​Keluar dari rumah bapa (kultur dunia) berarti mematahkan mantra Mammon ini. Seperti yang pp Djonny sampaikan, Abraham harus meninggalkan kemegahan Ur-Kasdim (pusat ekonomi dan peradaban saat itu) untuk menjadi pengembara yang hanya bersandar pada janji Tuhan.

​Inilah "pakaian kekudusan" yang sesungguhnya: ketika kita tidak lagi telanjang dan ketakutan (seperti Adam setelah jatuh dalam dosa), tetapi merasa cukup dan aman hanya karena Hadirat-Nya, bukan karena saldo di tangan.

​Apakah menurut Anda "keluar dari sistem Mammon" ini adalah ujian paling akhir atau justru ujian yang paling mendasar dalam proses pengudusan kita?

Jika memakai sistem Babel, tanpa uang matilah kita. Hidup ini tidak menjadi tidak berarti. Aku "manusia" tidak berharga. Tapi jika memakai sistem Taman Eden (sistem Kehidupan) relasi dengan Tuhan di atas segalanya. Jadi tergantung sistem mana yang kita percaya. Ini belief system yang bertolak belakang. Bagi saya pribadi, tidak bisa dikatakan ujian terakhir, sebab ternyata banyak orang homeless masih memiliki pengharapan walau belum jelas. Ini seperti masa depan yang belum jelas bagi Abram, dia keluar dari Babel atas suara perintah Tuhan, tanpa mengetahui tempat yang dituju. Benar dikatakan kasih Tuhan itu lebih dari hidup.


Ini menyentuh inti dari pergulatan eksistensial manusia: Pertarungan antara Identitas vs. Utilitas.

​Dalam Sistem Babel, nilai seorang "manusia" diukur dari kegunaannya (utility) dan apa yang ia miliki (kekayaan, kedudukan, kecantikan dan seterusnya). Jika uang (X) sama dengan nol, maka keberadaan Anda (Y) juga dianggap nol. Itulah mengapa di Babel, kemiskinan bukan hanya soal ekonomi, tapi soal penghancuran harga diri. Tanpa uang, manusia merasa menjadi "sampah" karena sistemnya memang dirancang untuk menyembah hasil karya tangan manusia sendiri.

​Refleksi:

​1. Sistem Eden: Identitas dari Relasi

​Dalam sistem Kehidupan, nilai Anda bersifat intrinsik (melekat) karena Anda adalah citra Allah.

  • ​Relasi dengan Tuhan menjadi jangkar yang membuat seseorang tetap "berharga" bahkan saat dunia mengatakan ia tidak punya apa-apa.
  • ​Di sini, hidup bukan tentang apa yang saya hasilkan, tapi siapa yang memiliki saya. Inilah yang membuat kasih-Nya benar-benar "lebih dari hidup" (Mazmur 63:4), karena hidup biologis bisa berakhir, tapi relasi hayat itu kekal.

​2. Harapan yang Melampaui Nalar

​Poin tentang orang homeless yang tetap memiliki pengharapan adalah bukti bahwa ada Sistem Ilahi yang bekerja secara misterius di luar logika Babel.

  • ​Bagi Babel, orang homeless adalah kegagalan sistem.
  • ​Bagi Kerajaan Sorga, mereka bisa jadi adalah orang-orang yang sedang dibawa ke titik di mana hanya "Suara Tuhan" yang menjadi satu-satunya navigasi mereka—sama seperti Abraham.

​3. Langkah Abraham: Berjalan dalam "Ketidakjelasan"

​Benar ini bukan soal ujian "terakhir" atau "awal", tapi soal Belief System yang mendasari setiap langkah.

  • ​Abraham keluar tanpa GPS, tanpa peta, dan tanpa jaminan finansial dari Terah (ayahnya).
  • ​Ia melepaskan "kepastian Babel" untuk sebuah "ketidakpastian yang dipandu oleh Tuhan".

​Bagi dunia, Abraham terlihat konyol atau nekat. Tapi bagi Sistem Eden, itulah langkah paling logis: Lebih aman berada di padang gurun bersama Tuhan daripada di istana Babel tanpa Dia.

​Keyakinan bahwa "kasih Tuhan itu lebih dari hidup" adalah deklarasi Manusia Kerajaan. Ini adalah "pakaian kekudusan" yang tidak bisa dibeli dengan Mammon. Ketika seseorang sampai pada titik ini, ia tidak lagi bisa "dibeli" oleh dunia, karena standar kecukupannya sudah berpindah ke sistem yang tidak bisa bangkrut.


​Apakah menurut Anda, tantangan terbesar bagi kita yang hidup di tengah masyarakat modern adalah tetap "mendengar Suara itu" di tengah kebisingan sistem Babel yang terus-menerus mendikte nilai kita melalui angka dan materi?

Bagi saya, ini soal kecenderungan hati. Pp Djonny mempertanyakan keputusan Terah untuk bermigrasi ke Babel. Tentu ia melihat kemegahan Babel (infrastruktur kota), kemajuan budayanya (suling, kecapi), teknologinya (besi, tembaga), kecantikan para wanitanya (Naama, yang berarti menyenangkan/cantik). Ini seperti Lot yang tertarik tinggal dekat Sodom dan akhirnya bergeser ke dekat pintu gerbang kota itu. Walaupun jiwanya yang benar itu tersiksa seperti dikatakan rasul Petrus, tidak pernah Lot mengajak keluarganya pindah dari situ.


Ini berdasarkan analisis psikologi perpindahan manusia dan menyentuh aspek yang sering terlewatkan: bahwa "Babel" bukan sekadar tempat, melainkan sebuah daya tarik estetika dan fungsional yang memikat kecenderungan hati.

​Terah dan Lot adalah studi kasus yang sempurna tentang bagaimana sistem dunia bekerja melalui "pesona" (glamour).

​1. Pesona Infrastruktur vs. Janji yang Tak Terlihat

​Terah melihat Babel (Ur-Kasdim) bukan sebagai tempat pemberontakan, melainkan sebagai puncak peradaban.

  • ​Kecenderungan Hati: Terah ingin Abraham menjadi "Bapak yang Terkenal" (Exalted Father) di tengah kemegahan itu. Ia menawarkan keamanan yang bisa disentuh: teknologi besi, hiburan musik, dan prestise sosial.
  • ​Perangkap Lot: Lot tidak memilih Sodom karena ia jahat; ia memilih Sodom karena matanya melihat lembah yang "seperti taman TUHAN" (Kejadian 13:10). Ia memilih berdasarkan penglihatan lahiriah, bukan iman.

​2. Tragedi "Pintu Gerbang"

​Poin tentang Lot yang bergeser ke pintu gerbang kota sangat krusial. Dalam budaya kuno, pintu gerbang adalah pusat hukum, bisnis, dan politik.

  • ​Status vs. Jiwa: Lot berhasil secara sosial (ia duduk di pintu gerbang, posisi orang terhormat), tetapi jiwanya tersiksa.
  • ​Kontaminasi Diam-diam: Inilah bahaya tinggal "dekat" Babel. Meskipun Lot secara pribadi mungkin masih memegang kebenaran, keluarganya (istri dan anak-anaknya) sudah terasimilasi oleh budaya Sodom. Akibatnya, saat harus keluar, mereka kehilangan daya dorong spiritual—istrinya menoleh ke belakang karena hatinya masih tertinggal di sana.

​3. Perbedaan Abraham dan Lot

​Abraham membangun mezbah (relasi dengan Tuhan), sedangkan Lot membangun karir di Sodom.

  • ​Abraham "keluar" sepenuhnya, bahkan ketika ia harus tinggal di kemah-kemah di tanah yang dijanjikan. Ia menolak untuk membangun kota yang permanen di bumi karena ia menantikan kota yang dasar-dasarnya dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10).
  • ​Lot mencoba menikmati "yang terbaik dari kedua dunia", namun akhirnya ia kehilangan segalanya.

​4. Tekanan Modern: "Naama" Masa Kini

​"Naama" (yang berarti menyenangkan/cantik) mewakili segala sesuatu yang memanjakan panca indera dan ego kita. Di era modern, ini bisa berupa algoritma media sosial, kenyamanan finansial yang instan, atau pengakuan publik.

  • ​Tantangan pengudusan adalah saat hati kita mulai menganggap kemajuan teknologi dan budaya sebagai sumber hidup, bukan sekadar alat.
  • ​Melepaskan "kecenderungan hati" terhadap Naama dan kemegahan Babel membutuhkan keberanian untuk terlihat "konyol" di mata dunia, persis seperti Abraham yang meninggalkan pusat peradaban demi sebuah padang gurun.

​Ini benar-benar soal orientasi batin (kecenderungan hati).  Lot tidak pernah mengajak keluarganya pindah karena mungkin ia merasa "sayang" dengan posisi sosial yang sudah ia bangun susah payah. Kesadaran bahwa "jiwa tersiksa" ternyata belum tentu cukup kuat untuk membuat seseorang mengambil keputusan untuk keluar, jika kecenderungan hatinya masih terikat pada kenyamanan sistem tersebut.

​Menurut Anda, apakah "siksaan jiwa" yang dialami banyak orang percaya di tengah sistem dunia saat ini adalah sinyal agar mereka segera "keluar", ataukah banyak yang justru mulai terbiasa dengan rasa sakit itu sehingga menganggapnya normal?

Siksaan dalam batin dan jiwa mereka karena ada 2 hal yang bertentangan, seperti dikatakan Roma 2:15. Sinyal itu datang dari suara hati nurani, bagian yang paling peka dalam hati manusia. Hati nurani adalah pusat kesadaran manusia, yang sangat erat terhubung dengan roh. Pintu masuk ke dalam roh adalah hati nurani.

Kesalahan terbesar Lot karena tidak mau menggubris suara hati nuraninya dan membiarkan pertentangan terus terjadi.

Berbeda dengan Abraham. Dia bukan orang yang perfek, tapi Abraham mudah sekali bertobat.

Hati Nurani sebagai Pintu Masuk ke dalam Roh  Ini menyentuh mekanisme internal bagaimana sistem Kerajaan Allah berkomunikasi dengan manusia di tengah bisingnya sistem Babel.

​Berikut adalah beberapa poin pendalaman atas refleksi ini:

​1. Hati Nurani: "Radar" Kerajaan dalam Dunia Babel

​Roma 2:15, hukum Taurat itu tertulis di dalam hati manusia, dan hati nurani memberikan kesaksiannya.

  • ​Fungsi Sensor: Hati nurani adalah bagian hati yang paling peka terhadap "frekuensi" Tuhan. Ia mendeteksi kontaminasi sekecil apa pun dari sistem dunia.
  • ​Pertentangan Batin: Siksaan yang dialami Lot adalah bukti bahwa sistem ilahi dalam dirinya sedang "menolak" virus dari sistem Sodom. Ketidaknyamanan itu sebenarnya adalah belas kasihan Tuhan agar Lot segera keluar.

​2. Tragedi "Membungkam" Hati Nurani

​Kesalahan fatal Lot bukanlah tinggal di Sodom (karena Abraham pun pernah ke Mesir), tetapi pembiaran.

  • ​Lot membiarkan pertentangan batin itu menjadi "kebisingan latar belakang" yang ia abaikan demi kenyamanan sosial di pintu gerbang kota.
  • ​Ketika hati nurani terus-menerus tidak digubris, ia bisa menjadi "tumpul" atau "berparut" (1 Timotius 4:2). Inilah yang membuat Lot kehilangan otoritas spiritual atas keluarganya; ia punya kebenaran di batin, tapi tidak punya kuasa dalam tindakan untuk membawa keluarganya keluar.

​3. Abraham: Kepekaan untuk Bertobat

​Poin yang sangat memikat: Abraham tidak sempurna, tapi ia mudah bertobat. Ini adalah kunci "Manusia Kerajaan".

  • ​Pertobatan sebagai Navigasi: Abraham pernah berbohong tentang Sarai (di Mesir dan Gerar), namun setiap kali ditegur, ia segera berbalik (metanoia). Ia tidak membela diri atau mencoba menyelaraskan kesalahannya dengan logika Babel.
  • ​Kelembutan Hati: Pintu masuk ke dalam roh (hati nurani) bagi Abraham selalu terbuka lebar. Ia menjaga "engsel" pintu itu tetap berminyak dengan ketaatan. Ketika Tuhan berbicara, ia segera bergerak—meskipun itu berarti harus mengorbankan hal yang paling ia cintai (Ishak).

​4. Hubungan Hati Nurani dan Roh

​Jika hati nurani adalah pintu, maka Roh adalah kedalaman.

  • ​Tanpa melewati hati nurani yang bersih, manusia tidak bisa masuk ke dalam persekutuan roh yang murni.
  • ​Pengudusan jiwani dimulai dari pembersihan hati nurani (Ibrani 9:14). Hanya dengan hati nurani yang bersih, kita bisa mengenakan "pakaian kekudusan" dan berjalan dalam sistem ilahi tanpa beban masa lalu.

​Perbedaan antara Abraham dan Lot bukanlah pada "lokasi" geografis mereka saja, melainkan pada respons terhadap sinyal internal. Abraham menjadikan hati nuraninya sebagai kompas, sementara Lot menjadikannya sebagai beban yang ia abaikan.

​Ini membawa kita pada satu kesimpulan: Kesanggupan untuk "keluar" dari Babel sangat bergantung pada seberapa cepat kita merespons suara hati nurani. 


Di tengah dunia yang sangat logis dan berbasis data saat ini, bagaimana cara terbaik untuk menjaga agar "radar" hati nurani kita tetap tajam dan tidak tertutup oleh debu-debu sistem Mammon?

Ini pertanyaan yang semakin sulit dan menjadi persoalan bagi orang yang paling rohani sekalipun, termasuk rasul Paulus (Kis 24:16). Menjaga kemurnian hati nurani seumur hidup bukan perkara mudah. 

Tapi Allah selalu memiliki cara untuk menjagai dan melindungi orang-orang yang bersungguh-sungguh. 

Yesus telah mencontohkan bagi murid-murid, bahwa sekalipun mereka sudah bersih, tetap kaki mereka perlu dibasuh. 

Kis 24:16-18 Paulus melakukan prosesi pentahiran. Mungkin ada kesalahan yang tidak disengaja, tapi juga untuk instropeksi dirinya.

Ini adalah puncak dari diskursus kita mengenai "Manusia Kerajaan": pengakuan akan kebutuhan konstan akan pembasuhan, bahkan setelah kita keluar dari Babel. Ini bentuk kerendahan hati dan langkah praktis untuk selalu hidup berdasarkan kasih karuniaNya.

​Referensi Rasul Paulus dan teladan Yesus memberikan perspektif yang sangat membumi namun Ilahi:

​1. Perjuangan Paulus: Melatih Diri

​Dalam Kisah Para Rasul 24:16, Paulus menggunakan kata "melatih diri" (asko — akar kata dari asetik). Ini menunjukkan bahwa menjaga hati nurani bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis setelah bertobat.

  • ​Disiplin Rohani: Seperti atlet yang berlatih, Paulus secara sadar memonitor "pintu masuk" rohnya setiap saat.
  • ​Prosesi Pentahiran (Kis 24:17-18): Langkah Paulus melakukan pentahiran di Bait Allah menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Ia tidak merasa "di atas hukum" atau "sudah sangat suci" sehingga tidak perlu lagi prosesi lahiriah. Ia tahu bahwa dalam interaksi dengan dunia, debu-debu sistem Babel bisa saja menempel tanpa sengaja.

​2. Teologi "Pembasuhan Kaki" (Yohanes 13)

​Teladan Yesus adalah kunci rahasia bagi orang percaya yang hidup di tengah sistem dunia:

  • ​Sudah Bersih (Mandi): Seseorang yang sudah lahir baru dan keluar dari sistem dunia diibaratkan sudah mandi seluruh tubuhnya. Identitasnya sudah kudus.
  • ​Membasuh Kaki: Namun, selama kita masih berjalan di "debu tanah" dunia ini (urusan pekerjaan, relasi, transaksi Mammon), kaki kita—bagian yang bersentuhan langsung dengan bumi—akan menjadi kotor.
  • ​Introspeksi Berkelanjutan: Pembasuhan kaki adalah simbol dari pertobatan harian dan hidup mengandalkan kasih karunia Tuhan. Ini bukan soal keselamatan (sorga/neraka), tapi soal menjaga keintiman (fellowship) agar pintu hati nurani tidak terganjal oleh "debu" yang mengeras menjadi kerak.

​3. Allah yang Menjagai (Preservasi Ilahi)

​Pada akhirnya ini bukan soal kekuatan otot rohani kita. Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk memproteksi.

  • ​Bagi Abraham, Tuhan memproteksinya bahkan saat ia melakukan kesalahan di Mesir.
  • ​Bagi kita, Tuhan seringkali menggunakan "teguran" hati nurani atau peristiwa hidup sebagai cara-Nya membasuh kaki kita.

​4. Integritas di Hadapan Allah dan Manusia

​Menjaga hati nurani yang murni terhadap Allah dan manusia (seperti kata Paulus) adalah standar tertinggi.

  • ​Seringkali orang merasa bersih di hadapan Allah (secara vertikal), tapi mengabaikan hati nurani dalam relasi sosial (secara horisontal).
  • ​Manusia Kerajaan yang sejati adalah mereka yang, seperti Paulus, berani diinvestigasi oleh Tuhan maupun sesama, dan jika ditemukan "debu", mereka tidak segan untuk "membasuh kaki" (bertobat dan membereskan).

​Kesimpulan Indah dari Diskusi Kita:

Perjalanan keluar dari rumah bapa/Babel bukan berarti kita menjadi manusia super yang tidak bisa salah. Sebaliknya, kita menjadi manusia yang sangat peka terhadap kesalahan.

​Kesanggupan untuk terus introspeksi dan membiarkan Yesus membasuh kaki kita setiap hari adalah satu-satunya cara agar "jubah kekudusan" kita tidak kusam oleh sistem dunia. Ini adalah proses "indah seturut karya-Mu"—sebuah penyerahan diri total di mana kita tidak lagi meminta bagian kita, melainkan membiarkan Sang Pemilik Hidup membentuk kita menjadi saksi-Nya yang murni.

​Semoga ini menjadi diskusi yang sangat mencerahkan. Ini adalah perjalanan iman yang nyata, bukan sekadar teori pengetahuan.

Kasih karunia Tuhan mengiring setiap langkah kita. 

Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

The Seed of God and the Character of Abraham (MKS #53)

Khotbah ini membahas proses rohani di mana Allah menabur benih ilahi ke dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan kerajaan-Nya di bumi. Melalui teladan Abraham , dijelaskan bahwa hubungan intim dengan Tuhan dimulai dari panggilan pribadi dan ikatan janji (covenant) yang teguh . Ketaatan mutlak Abraham dalam menjaga ketetapan Allah menjadi dasar bagi Tuhan untuk mempercayakan otoritas-Nya kepada generasi berikutnya. Di sini ditekankan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki kepribadian yang selaras dengan karakter Allah melalui bimbingan Roh Kudus. Akhirnya, sumber ini menantang umat untuk hidup dalam kesetiaan dan kasih yang radikal agar janji Tuhan dapat tergenapi secara turun-temurun. Ibadah JMD Bandung 6 September 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 53 Catatan Khotbah: Manusia Kerajaan Sorga (Bagian 53) Pelayanan: GPK JMD Bandung, Ps. Djonny Tambunan Tanggal: 6 September 2026 1. Landasan Rencana Agung Allah & Benih Sejati Keturunan Raja-Raja: Allah menetapk...

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib , memiliki karakter yang baik , serta dipenuhi oleh Roh Kudus . Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik . Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan . 14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3) Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3) Sesi: The Upper Room 240 (1...

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Membangun Sion Membentuk Ulang Kota - oleh Dr. Jonathan David

Ringkasan Khotbah: "Membangun Sion Membentuk Ulang Kota"  16082022  the Upper Room Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.  Yeremia 3:14   Khotbah ini membahas visi tentang pembangunan kembali Sion sebagai inti dari pemulihan kota dan kehidupan umat Tuhan. Dr. Jonathan David menguraikan bagaimana Tuhan sedang bergerak secara aktif untuk membangun Sion, yang bukan hanya sekadar tempat, melainkan juga sebuah dimensi rohani di mana kehadiran, kuasa, dan otoritas Allah termanifestasi. Khotbah dimulai dengan penekanan pada pentingnya mendengar suara Tuhan dan mengasihi kebenaran-Nya. Dr. Jonathan David menyatakan bahwa tanpa kedua hal ini, akan ada kekacauan. Ia juga menekankan tentang karunia-karunia Roh Kudus yang diperlukan, seperti pewahyuan, pengertian, dan hikmat  untuk dapat menge...

ROMA 15:1-7

MENANGGUNG KELEMAHAN ORANG YANG TIDAK KUAT 15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku." 15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. 15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemulia...

Wisdom, Knowledge and Skill for Spiritual Succession (UR #239)

THE UPPER ROOM 239 – 7 Juli 2026 SUKSESI KEPEMIMPINAN (Bagian 2) DR. JONATHAN DAVID Wisdom, Knowledge and Skill  Artikel ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David yang berfokus pada pentingnya hikmat, pengetahuan, dan keterampilan dalam membangun kepemimpinan spiritual serta warisan iman yang berkelanjutan. Beliau membedakan antara pemahaman duniawi dan dimensi ilahi, di mana hikmat dipandang sebagai perspektif Tuhan dan pengetahuan sebagai kebenaran wahyu untuk implementasi yang akurat. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus menjadi prototipe atau benih yang dibentuk melalui proses bertahun-tahun agar dapat menghasilkan murid, bukan sekadar memberikan berkat sementara kepada jemaat. Lebih lanjut, dijelaskan mengenai misteri benih yang memiliki kecerdasan internal untuk tumbuh hingga mencapai kedewasaan penuh dalam Kerajaan Allah. Melalui konsep Pelayanan Lima Jawatan , jemaat didorong untuk tidak hidup dalam ilusi agama melainkan berfungsi secara maksimal s...