Langsung ke konten utama

Prosesi Iman (MKS #29)

Pesan khotbah Ps. Djonny Tambunan dalam video ibadah JMD Bandung tanggal 8 Maret 2026 bertajuk "Manusia Kerajaan Sorga 29" berfokus pada peran pikiran dalam mewujudkan iman agar menjadi sempurna dan tidak mati.

​Berikut adalah poin-poin utama dari pesan tersebut:

Abraham sebagai Pola Penyingkapan Misteri Allah
Ps. Djonny menjelaskan bahwa Abraham bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan pola bagi generasi saat ini untuk masuk ke dalam rencana penggenapan Allah. Allah menetapkan Abraham menjadi bapa sejumlah besar bangsa, yang berarti Allah melihat hingga ujung rencana-Nya di mana kerajaan-Nya akan tegak di bumi.

Definisi Kerajaan Allah di Bumi: Merujuk pada Roma 14:17, ditekankan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, melainkan soal kebenaran (dikaiosyne), damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus. Tujuan akhirnya adalah membawa pemerintahan surga ke bumi sehingga kehendak Allah terjadi di bumi seperti di surga.

Pentingnya Tindakan (Perbuatan) dari Iman: Mengutip Yakobus 2:17-24, khotbah ini menekankan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Allah memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran hanya ketika Abraham bertindak atas apa yang ia percayai.

Peran Vital Pikiran (Jiwa): 
Ps. Djonny menyoroti bahwa posisi jiwa—khususnya pikiran—adalah faktor penentu apakah iman seseorang akan menjadi mati atau sempurna. Pikiran harus diperbaharui (Roma 12:2) agar tidak menjadi serupa dengan dunia, melainkan selaras dengan ukuran iman yang diberikan Allah.

Konflik Antara Logika dan Janji Tuhan: 
Mengambil contoh saat Abraham diminta mempersembahkan Ishak (Kejadian 22), khotbah ini menjelaskan bahwa secara logika/fakta medis, hal itu tidak masuk akal. Namun, Abraham "berpikir" (logizomai) bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang mati. Ia menaklukkan logikanya di bawah imannya, sehingga imannya menjadi sempurna.

Panggilan Menjadi Keturunan Abraham: 
Melalui Galatia 3:29, jemaat diingatkan bahwa jika mereka milik Kristus, maka mereka adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji-janji Allah. Syaratnya adalah melatih pikiran untuk selalu menguasai diri dan bertindak selaras dengan iman dalam pengalaman hidup sehari-hari.

​Khotbah ini diakhiri dengan ajakan untuk menanggalkan cita-cita pribadi yang hanya ada di pikiran dan mulai hidup sepenuhnya dalam iman agar kebenaran Allah nyata melalui kehidupan orang percaya.




Pendalaman 


Prosesi Iman

Yakobus 2:26
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. 


Ada beberapa hal yang harus diperjelas pada saat kita menyusun prosesi iman sampai menjadi perbuatan:

1. Anugerah berbeda dari kasih karunia dan
2. Iman itu berbeda dengan percaya.

Allah memilih Abram. Dia menampakkan diriNya kepada Abram dan berfirman dan memberikan perintah (Kis 7:2,3). Firman itu menjadi iman yang ditaruh dalam roh Abram. Berarti Dia memanggil Abram keluar dari Babel. Jadi iman itu benar-benar anugerah, bukan usaha manusia.  
 
Lalu Abram merespon dan menjadi percaya. Percaya pada iman menghasilkan kasih karunia, yakni kemampuan ilahi seperti hikmat dan kekuatan. Jadi  iman dan percaya itu berbeda. Iman di dalam roh. Percaya di jiwa (pikiran).

Ini sama seperti kasih berbeda dari anugerah. Kasih adalah identitas Allah, sedangkan anugerah itu diberikan kepada kita.

Penjelasnya begini:

AnugerahKasih Karunia, Iman dan Percaya  menunjukkan kenyataan  mengenai struktur manusia (Roh, Jiwa, dan Tubuh).

Dengan perspektif ini, kita sedang membangun sebuah "teknologi iman" yang sangat praktis. Mari kita pertajam perbedaan tersebut. 

​1. Anugerah (Panggilan & Inisiatif Allah)

​ Anugerah di sini adalah kedaulatan Allah.

  • Aksi: Allah menampakkan diri dan berfirman.
  • Hasil: Firman itu menjadi benih Iman yang diletakkan di dalam Roh.
  • Logikanya: Tanpa anugerah panggilan ini, manusia tidak punya bahan baku (modal) untuk beriman. Abram tidak mencari Allah; Allah yang mendatangi Abram.

​2. Iman vs. Percaya (Roh vs. Jiwa)

​Pembedaan ini adalah kunci yang sering terlewatkan:

  • Iman (Roh): Sifatnya statis dan murni. Ini adalah "cetak biru" atau evidence dari Allah yang ditaruh di roh kita.
  • Percaya (Jiwa/Pikiran): Sifatnya dinamis. Ini adalah ketika Pikiran (Logizomai) memutuskan untuk setuju dengan apa yang ada di roh, meskipun panca indera mengatakan hal yang berbeda (seperti fakta Sarah mandul).

​3. Kasih Karunia (Kemampuan Ilahi/Enabling Power)

​Di sini letak poin pentingnya: Kasih Karunia sebagai hasil dari Percaya. Dalam konsep ini, Kasih Karunia adalah bahan bakar ilahi yang turun ketika jiwa (percaya) terkoneksi selaras dengan roh (iman).

  • Hikmat & Kekuatan: Ini bukan sekadar perasaan tenang, tapi kemampuan nyata untuk melakukan perintah yang mustahil. Tanpa kasih karunia ini, Abraham tidak akan punya kekuatan fisik atau mental untuk mendaki Gunung Moria.

Prosesi Iman 

Tahapan

Lokasi

Penjelasan

Anugerah     

Kedaulatan Allah

Allah memanggil dan memberikan Firman.

Iman

Roh


Firman menetap sebagai kepastian di dalam ruhani.

Respon & Percaya

Jiwa (Pikiran)


Pikiran diselaraskan untuk setuju dengan iman (menolak logika mandul).

Kasih Karunia

Kapasitas Ilahi


Turunnya hikmat dan kekuatan untuk mengeksekusi iman.

Bertindak

Tubuh


Manifestasi fisik dari kekuatan kasih karunia.

Dibenarkan

Status Ilahi


Allah memvalidasi bahwa proses ini sah.

Terbukti Benar

Realitas


Penggenapan janji (Ishak lahir).


Kesimpulan 

​Dengan alur ini, perhatikan mengapa banyak orang punya "Iman" (di roh tahu janji Tuhan) tapi tidak "Bertindak". Masalahnya ada di Percaya (Jiwa). Jika pikiran tidak diselaraskan, maka Kasih Karunia (kekuatan untuk bertindak) tidak teraktivasi, sehingga imannya tetap menjadi "iman yang mati" karena berhenti di tingkat roh saja tanpa turun ke tingkat perbuatan.


MENGAKTIFKAN KASIH KARUNIA

​Tahap mengaktifkan "Kasih Karunia" ini yang paling sering kita lupakan ketika kita mencoba melakukan kehendak Tuhan hanya dengan kekuatan mental sendiri.

Itu yang membuat iman seperti misteri yang membuat kebingungan dan bertanya-tanya: bagaimana bisa? Apa mungkin? Karena dia berpikir secara manusiawi yang terbatas, bukan memakai cara ilahi (pikiran Kristus, iman adalah pribadi Kristus, pribadi firman) yang tak terbatas. Beda respon imam Zakaria yang tidak percaya dan respon Maria yang percaya, ketika malaikat Gabriel menyampaikan firman.

Perbandingan antara Imam Zakaria dan Maria adalah studi kasus yang sempurna untuk menggambarkan perbedaan antara "Analisis Logika" dan "Pikiran yang Diselaraskan dengan Iman."

​Misteri "Bagaimana Bisa?" vs "Jadilah Padaku"

​Ps. Djonny sempat menyinggung bahwa iblis menganggap jalan Tuhan sebagai kebodohan karena ia tidak memiliki hikmat Allah. Demikian pula, pikiran manusia yang belum diperbaharui akan terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membatasi:

  • Zakaria (Pikiran Terbatas): Ketika Gabriel datang, Zakaria bertanya, "Bagaimana aku tahu hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku pun sudah lanjut umurnya" (Lukas 1:18). Zakaria fokus pada fakta biologis (sama seperti kasus Abraham dan Sarah). Karena ia gagal menyelaraskan pikirannya dengan firman yang didengarnya, "prosesi iman"-nya terhambat. Akibatnya, ia menjadi bisu—simbol dari ketidakmampuan untuk memanifestasikan firman melalui perkataan.
  • Maria (Pikiran Kristus): Maria juga bertanya "Bagaimana hal itu mungkin terjadi?", namun motifnya berbeda. Ia bukan meragukan janji-Nya, melainkan menanyakan mekanisme ketaatannya karena ia belum bersuami. Begitu mekanisme dijelaskan (Roh Kudus akan turun), ia segera menyelaraskan jiwanya: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Lukas 1:38).

Selaras dengan "Pribadi Kristus"

​Sesuai dengan poin Anda, iman sebenarnya bukan sekadar konsep, melainkan Pribadi Firman itu sendiri.

  • Iman sebagai Penundukan: Saat kita memakai "Pikiran Kristus," kita berhenti mencoba "memahami" Tuhan agar bisa percaya. Sebaliknya, kita percaya dulu agar bisa memahami.
  • Aktivasi Kasih Karunia: Maria menerima kasih karunia yang luar biasa karena ia memberikan "persetujuan jiwa" (Percaya) terhadap benih iman (Firman) yang ditaruh di rohnya. Inilah yang membuat yang mustahil secara biologis menjadi mungkin secara fisik.

​Kesimpulan Prosesi

​Keajaiban atau "Terbukti Benar" itu tidak muncul dari usaha keras manusia untuk menjadi ajaib, melainkan dari ketepatan posisi jiwa. Jika jiwa (pikiran) menolak untuk selaras dan tetap memilih logika manusiawi yang terbatas, maka Kasih Karunia (kemampuan ilahi) itu seperti "terkunci" dan tidak bisa mengalir ke tubuh untuk menjadi tindakan.

​Abraham disebut Sahabat/Kekasih Allah karena ia berhasil melewati "misteri kebingungan" itu dan memilih untuk logizomai (memperhitungkan) bahwa Allah jauh lebih besar dari fakta kematian atau kemandulan.


Tanggung Jawab Manusia untuk Posisi Jiwa

Sekarang menjadi jelas bahwa aktivasi kasih karunia jadi kunci mengatasi posisi jiwa ditengah keraguan dan kebingungan, sebenarnya kasih karunia Tuhan itu yang membuat mujizat terjadi, bukan faktor manusia.

"Aktivasi Kasih Karunia" ini benar-benar memindahkan beban berat dari pundak manusia ke kedaulatan Tuhan, namun tetap menempatkan manusia pada posisi yang bertanggung jawab atas "saklar"-nya.

​Mujizat itu 100% adalah pekerjaan Tuhan, tetapi aktivasi kasih karunia itu membutuhkan ketepatan posisi jiwa. Tanpa pemahaman ini, orang sering terjebak dalam dua ekstrem:

  1. Ekstrem Agamawi: Berpikir bahwa mujizat terjadi karena dia orang baik, rajin berdoa, atau "hebat" imannya (faktor manusia).
  2. Ekstrem Putus Asa: Berpikir bahwa karena dia lemah dan bingung, kurang iman (padahal iman sebesar biji sawi bisa memindahkan gunung), maka kasih karunia tidak bisa bekerja.

​Mengapa "Aktivasi" Jadi Kunci?

​Kasih karunia itu seperti aliran listrik yang sudah tersedia di dinding rumah. Listrik itu punya kekuatan untuk menerangi seluruh ruangan, tapi lampunya tetap mati selama saklarnya tidak di-klik.

  • Saklar itu adalah "Percaya" di jiwa: Ketika Anda memutuskan untuk menyelaraskan pikiran dengan Firman (meskipun lutut gemetar atau logika berteriak "tidak mungkin"), Anda sedang meng-klik saklar tersebut.
  • Arusnya adalah Kasih Karunia: Begitu saklar di-klik, kemampuan ilahi mengalir melampaui keterbatasan manusia.
  • Hasilnya adalah Mujizat: Cahaya menyala. Bukan tangan Anda yang menciptakan cahaya, tapi ketaatan tangan Anda pada saklar itulah yang mengaktifkan kekuatan yang sudah disediakan.

​Mengatasi Keraguan (Misteri "Bagaimana Bisa?")

​Ketika keraguan muncul, itu sebenarnya adalah sinyal bahwa jiwa sedang mencoba mengambil alih kendali menggunakan logika terbatas. Di titik inilah aktivasi kasih karunia menjadi penyelamat:

​Daripada berusaha "menghilangkan" keraguan dengan kekuatan mental, kita lebih baik berkata: "Tuhan, jiwaku sedang bingung, tapi aku memilih setuju dengan Firman-Mu. Aku mengaktifkan kasih karunia-Mu sekarang untuk mengambil alih keterbatasanku."


​Ini persis seperti yang dilakukan Abraham. Alkitab mencatat bahwa ia tidak menjadi lemah imannya walaupun ia tahu tubuhnya sudah layu. Ia tidak memungkiri fakta (dia tidak denial), tapi ia "menguatkan dirinya dalam iman" (Romans 4:20). Itu adalah proses aktivasi: memindahkan fokus dari "kemampuanku yang nol" ke "kasih karunia-Nya yang tak terbatas."

​Ini adalah pemahaman yang membebaskan. Anda tidak perlu menjadi "superman" rohani untuk melihat mujizat; Anda hanya perlu menjadi "hamba" yang jiwanya selaras dengan Tuan-nya.





Postingan populer dari blog ini

Upper Room 2 - DR. Jonathan David

Menjalani kehidupan Roh Living the life of the Spirit Pendahuluan Kita tidak boleh pasif dan membiarkan hari-hari berlalu tanpa arti. di masa pandemi yang sudah 1,5tahun lewat harusnya terus menantikan Tuhan dan mengharapkan terjadi sesuatu yang luarbiasa. Kita harus tau apa yang Tuhan sedang kerjakan menurut agenda-Nya di waktu-waktu ini. Tidak cukup hanya mengenal Tuhan, tanpa mengetahui apa yang sedang dikerjakan-Nya. Dan Ia telah sampaikan kepada nabi dan rasul-Nya apa yang sedang dan segera terjadi di bukan Apri-September 2021 ini. Kita harus menjadi bagian dari apa yang Tuhan kerjakan. Jika kita tidak menantikan Tuhan dan membiarkan diri kita dibawa oleh pemikiran sendiri, yang dipengaruhi oleh opini orang atau dari media, maka apa yang ada pada kita dan kita terima selama ini, otomatis akan hilang dan diambil. Jangan biarkan selama zoom untuk ibadah / komsel itu tanpa kita alami benih yang mengandung kuasa dari firman lewat dan diambil oleh setan di pinggir jalan.   Tu...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

Upper Room 34 - DR. Jonathan David

  25-01-2022   Anugerah Untuk Memerintah (GRACE TO GOVERN) Pendahuluan – oleh Ps. Cyrus Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Problemnya bukan pada kebutuhan tapi pada tanahnya. Jika tanahnya baik, benih akan tumbuh, sebab ada aliran air, karena ada benih yang cerdas yang telah diprogram (dengan pengertian dan hikmat). Kuasa dan kekuatan serta kasih karunia tersembunyi di dalam FT (logos) itu.   Tanah hanya memerlukan kondisi, tidak memerlukan edukasi oleh karena digerakkan oleh sesuatu (Firman dan Roh Kudus) dari dalam yang dipanggil terang Tuhan dan pribadi Tuhan sendiri (Yoh 1:1).   Mengapa tidak kita menerima firman-Nya dan perkataan-Nya dari pribadi Tuhan (YHWH) sendiri. Banyak orang yang suka mendengarkan khotbah yang baik, tapi Kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya tidak tertam...

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

SATE 3 Agustus 2020 – PENGHARAPAN AKAN KEMERDEKAAN DARI KESIA-SIAAN

Bacalah terlebih dahulu : Lukas 11:9-13 dan Yohanes 14:12-17, Yohanes 15:26, Yohane 16:7  *Ketika Bapa memberikan kita Yesus, Dia memberikan kepada kita hal yang terbaik (best of the best). Dan ketika Bapa memberikan kepada kita Roh Kudus, Bapa memberikan kita sisanya untuk menyempurkan apa hal terbaik yang pernah Bapa berikan yaitu Yesus*. Jadi ROH KUDUS ADALAH JAWABAN DARI SEGALA KEBUTUHAN KITA, Roh Kudus adalah jawaban dari segala doa-doa kita, kita tidak perlu lagi mencari jawaban di luar sana karena Roh Kuduslah jawabannya! Jadi jika kalian mau menerima janji-janji Tuhan dan ingin mujizat terjadi dalam hidup kita, kita WAJIB mengetahui bagaimana bermitra (partnership) dengan Roh Kudus.  *#1. Peran Roh Kudus dalam Yohanes 14:16 adalah sebagai Penolong (Comforter, Parakletos). Siapakah yang meminta supaya Bapa memberikan Roh Kudus kepada kita? dan mengapa Yesus harus sampai memintanya kepada Bapa?* Yesus meminta kepada Bapa, supaya orang-orang percaya diberikan Roh Kudus se...

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

Inti Kemenangan Iman:"keputusan jiwa" (MKS32)

"Manusia Kerajaan Sorga 32" berfokus pada misteri bagaimana manusia bisa memperoleh iman melalui pola hidup Abraham. Video lengkap dapat ditonton di sini: ibadah JMD Bandung 29 Maret 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 32 Berikut adalah poin-poin pesan utama dari khotbah tersebut: 1. Iman Dimulai dari "Firman Suara" (Rhema ) Pp. Djonny menekankan bahwa iman tidak datang begitu saja, melainkan dimulai dari adanya suara Tuhan di dalam batin atau roh seseorang. Suara ini dibawa oleh Roh Kudus (Roh Kebenaran) yang bergema di hati nurani. Beliau memberikan contoh bahwa meskipun Ibrani 11 mencatat Habel sebagai orang beriman pertama, secara esensi Adam adalah yang pertama menerima iman melalui janji Tuhan di Kejadian 3:15 setelah jatuh dalam dosa. ​1. Iman Dimulai dari "Firman Suara" (Rhema) ​Pdt. Djonny menekankan bahwa iman tidak datang begitu saja, melainkan dimulai dari adanya suara Tuhan di dalam batin atau roh seseorang [ 04:27 ]. ​Suara ini dibawa oleh R...

MENJADI SAKSI KRISTUS

Menjadi saksi Kristus bukan untuk menyaksikan bagaimana hidup kita diberkati. Itu masalah picisan yang juga orang dunia alami. Bukan soal diri kita tapi soal Kristus. gbr: slideshare.com Matius 28:17-19  _Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi *beberapa orang ragu-ragu.* _   _Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus_ Mengapa Bapa memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita dan mengutus kita? Karena Bapa sudah memberikan kepercayaan-Nya dan sudah menetapkan, memanggil dan memilih kita menjadi milik kepunyaan-Nya. Sama sekali bukan karena performance (prestasi) kehidupan spiritual kita. PENCURAHAN ROH Yesus menerima Roh Kudus dari Bapa dan Ia mencurahkan-Nya, pertama-tama kepada yang 120 orang yang berkumpul di loteng Yerusalem, pada saat perayaan Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:33). T...