Langsung ke konten utama

Keputusan Untuk Masuk dalam Rencana Agung Tuhan (MKS #33)



Video ibadah GPK JMD Bandung bertema "Manusia Kerajaan Sorga 33", Pendeta (pp) Djonny membagikan beberapa pesan penting mengenai perjalanan iman yang mencontoh kehidupan Abraham.

​Berikut adalah poin-poin utama yang disampaikan:



1. Panggilan untuk "Keluar dari Rumah Bapamu"

​Pesan sentral kali ini adalah perintah Tuhan kepada Abraham untuk pergi dari "rumah bapamu" (Terah) [03:02].

  • ​Makna Spiritual: Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan diri dari bentukan, harapan, cita-cita, dan visi duniawi yang ditanamkan oleh orang tua atau keluarga yang mungkin tidak sejalan dengan rencana agung Tuhan [01:05:48].
  • ​Tantangan bagi Generasi Muda: Pendeta memberikan tantangan khusus bagi anak-anak hamba Tuhan atau jemaat yang tumbuh di gereja agar tidak hanya sekadar mengikuti iman orang tua, tetapi memiliki pengalaman pribadi dan kesaksian hidup yang dibangun langsung oleh Tuhan setiap hari [35:45].

​2. Pentingnya Sunat Spiritual (Ikat Janji)

​Pendeta menjelaskan kisah Timotius yang harus disunat oleh Paulus agar dapat terlibat dalam rencana agung Tuhan [10:51].

  • ​Identitas Baru: Sama seperti Abram yang namanya diubah menjadi Abraham [30:15], orang percaya harus mengalami perubahan identitas dan pemutusan "tali pusar" spiritual dari pengaruh masa lalu atau tradisi keluarga yang menghambat [01:09:58].
  • ​Syarat Keterlibatan: Untuk terlibat dalam "Paskah" atau rencana keselamatan Tuhan yang besar, seseorang harus memiliki tanda ikat janji yang kuat dengan Tuhan [31:42].

​3. Menjadi Saksi Kristus di Dalam Keluarga

​Keluar dari "rumah bapa" bukan berarti tidak menghormati orang tua.

  • ​Kesaksian Hidup: Seseorang disebut "Anak Kebenaran" jika ia menunjukkan perubahan hidup (pikiran, perkataan, dan sikap) sehingga orang tua dan lingkungan dapat melihat bahwa ia sedang dibangun oleh Tuhan, bukan sekadar oleh ambisi manusia [01:00:41].
  • ​Teladan Yesus: Yesus tetap hidup dalam asuhan Yusuf dan Maria, namun Ia menegaskan bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya dan melakukan urusan Bapa-Nya [51:10].

​4. Bahaya Kontaminasi Nilai Duniawi

  • ​Pendeta memperingatkan agar umat Tuhan keluar dari "Babel" atau pengaruh duniawi yang najis agar tidak mengambil bagian dalam dosa dan malapetaka [01:07:20].
  • ​Penting untuk memisahkan diri dari prinsip-prinsip hidup yang tercampur (sinkretisme) antara iman dan tradisi yang bertentangan dengan kehendak Allah [01:24:35].

​Kesimpulan:

Pesan pp Djonny menekankan bahwa untuk menjadi "Manusia Kerajaan Sorga," seseorang harus berani melepaskan keterikatan pada bentukan duniawi (rumah bapa lahiriah) agar Tuhan sendiri yang membentuk kepribadian dan menempatkan kita dalam rencana agung-Nya [01:26:04].


PENDALAMAN

"Keluar" dari rumah bapa adalah bagian dari proses pengudusan oleh Allah, supaya kita dipisahkan dari kecemaran, kenajisan dan kontaminasi dunia ini. 

Dikuduskan atau dipisahkan  bukan hanya secara badani, tapi juga jiwani (pemikiran, pandangan, gaya hidup) supaya kita dijadikan baru atau mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai standar kebenaran Tuhan, bukan kebenaran sendiri. Kebenaran sendiri hanya berasal dari buah Pengetahuan baik dan jahat, hukum-hukum Tuhan.


Esensi dari pesan pp Djonny mengenai transformasi radikal yang melampaui sekadar pindah lokasi secara fisik.

​"Keluar" dari rumah bapa bukan sekadar kemandirian geografis, melainkan emansipasi spiritual. Berikut adalah beberapa penguatan atas refleksi ini:

​1. Pemutusan "Tali Pusar" Jiwani

​Seperti yang dibahas dalam video mengenai Yehezkiel 16, masalah utamanya seringkali adalah tali pusar yang belum dipotong secara spiritual.

  • ​Kebenaran Sendiri: Seringkali kita merasa sudah "benar" karena melakukan hukum atau tradisi keluarga (pohon pengetahuan baik dan jahat), padahal itu masih standar manusia.
  • ​Standar Tuhan: Pengudusan berarti membiarkan Tuhan membedah cara kita berpikir (logika duniawi) dan pandangan hidup kita agar selaras dengan Pohon Kehidupan.

​2. Jubah Kekudusan vs. Jubah Tradisi

​Kebenaran diri sendiri seringkali berupa "pakaian" yang kita jahit sendiri dari daun ara (usaha manusia/hukum).

  • ​Pakaian Baru: Mengenakan "pakaian kekudusan" berarti menerima identitas yang diberikan langsung oleh Tuhan, sebagaimana Abram harus melepaskan identitasnya sebagai "anak Terah" untuk menjadi "Abraham" (Bapa bangsa-bangsa).
  • ​Proses Pemurnian: Tanpa keluar dari pengaruh "rumah bapa" (nilai-nilai lama), pakaian baru tersebut akan terus terkontaminasi oleh noda-noda masa lalu.

​3. Keluar untuk Masuk

​Prinsip spiritualnya adalah: kita tidak bisa masuk ke dalam Rencana Agung (Great Plan) jika kita masih betah di dalam rencana kecil manusia.

  • ​Keluar dari "kecemaran" berarti membiarkan Roh Kudus meng-update sistem nilai kita setiap hari.
  • ​Hasil akhirnya bukan menjadi pemberontak terhadap orang tua, melainkan menjadi Saksi Kristus yang membuat keluarga pun akhirnya mengakui bahwa ada "sesuatu yang Ilahi" dalam hidup kita.

​Pemisahan ini adalah bukti kasih karunia, karena Tuhan tidak ingin kita ikut binasa bersama sistem dunia (Babel) yang sedang runtuh.


Bagian tersulit dari proses ini adalah melepaskan "pola pikir" lama atau melepaskan "kenyamanan" dari tradisi tersebut (Babel). 
Dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa kasih karunia Allah. Tapi itu pun masih dibagian awal dari suatu proses panjang. Allah ingin kita mempercayai-Nya untuk hal-hal yang imposible, diluar nalar. Itu sebabnya Ia mulai membangun atau menjadikan manusia untuk memiliki iman (faith) di dalam Dia dan percaya (trust) kepada jalan-jalan Nya. Langkah pertama ini adalah keluar dari budaya (kultur) Babel, sistem dunia dan masuk ke sistem ilahi dan budaya Kerajaan Sorga.

Pemutusan hubungan dengan "budaya Babel" dan sistem dunia memang baru merupakan pintu gerbang dari sebuah pendakian iman yang jauh lebih terjal dan panjang.

​Jika kita merujuk pada pesan pp Djonny dan narasi Abraham, ada perbedaan mendalam antara sekadar "tahu" tentang Tuhan dengan memiliki Iman (Faith) dan Percaya (Trust) yang dibangun melalui proses organik:

​1. Dari Logika Manusia ke Logika Ilahi

​Kultur Babel mengajarkan kita untuk membangun "menara" sendiri—mengandalkan kekuatan, koneksi, dan sistem yang bisa dinalar.

  • ​Sistem Dunia: Berbasis pada seeing is believing (melihat baru percaya) dan keamanan finansial/sosial.
  • ​Sistem Kerajaan: Berbasis pada believing is seeing (percaya baru melihat). Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan "asuransi" duniawi untuk bergantung sepenuhnya pada janji yang belum terlihat secara fisik.

​2. Mempercayai Hal yang Impossible

​Tuhan sengaja membawa Abraham (dan kita) ke situasi di mana nalar manusia menemui jalan buntu (seperti kemandulan Sarah atau perintah mempersembahkan Ishak).

  • ​Di titik ketidakmungkinan itulah, sistem ilahi bekerja.
  • ​Tuhan tidak hanya ingin kita menjadi "orang baik", tetapi menjadi "Manusia Kerajaan" yang frekuensi hidupnya selaras dengan mukjizat. Tanpa keluar dari budaya lama, kita akan selalu mencoba "menolong" Tuhan dengan cara-cara manusia (seperti lahirnya Ismael), yang justru menimbulkan konflik baru.

​3. Transformasi Budaya (Culture Shift)

​Masuk ke budaya Kerajaan Sorga berarti mengadopsi gaya hidup baru:

  • ​Bahasa Baru: Bukan lagi keluhan atau kesombongan Babel, tapi bahasa iman.
  • ​Nilai Baru: Keberhasilan tidak lagi diukur dari "tersohor" di mata bangsa-bangsa (impian Terah), tapi dari seberapa akurat kita melakukan kehendak Bapa.

​Ini adalah kasih karunia. Tanpa intervensi Roh Kudus, tarikan gravitasi dari budaya lama (kenyamanan, tradisi, dan rasa aman semu) terlalu kuat untuk dilawan oleh kekuatan tekad manusia saja.

​Proses "menjadikan" (becoming) ini memang membutuhkan waktu. Menurut Anda, dalam transisi dari sistem dunia ke sistem ilahi ini, apa indikator paling nyata bahwa seseorang benar-benar mulai "mengenakan" budaya Kerajaan Sorga dalam kesehariannya?



Apa arti sunat yang menjadi tanda ikat janji (covenant) Tuhan dengan Abraham?


Sunat sebagai tanda ikat janji (covenant) antara Allah dan Abraham memiliki dimensi yang jauh melampaui tindakan medis atau tradisi lahiriah. Dalam perspektif sistem Kerajaan Allah, ini adalah sebuah meterai spiritual yang menandai kepemilikan total Allah atas hidup manusia.

​Berikut adalah beberapa lapisan arti sunat dalam konteks covenant tersebut:

​1. Tanda Kepemilikan dan Pemisahan

​Sunat adalah "tanda pada daging" (Kejadian 17:11) yang bersifat permanen.

  • ​Pemisahan dari Dunia: Ini menandakan bahwa Abraham dan keturunannya bukan lagi milik dunia atau "rumah bapanya" (Terah/Babel), melainkan milik Allah yang Maha Tinggi.
  • ​Meterai Identitas: Sama seperti seseorang mengenakan seragam, sunat menjadi pengingat harian bahwa hidup mereka berada di bawah aturan dan perlindungan sistem Ilahi.

​2. Pemotongan "Kepercayaan pada Diri Sendiri"

​Secara spiritual, sunat melambangkan pemotongan atau penanggalan keinginan daging (carnal nature).

  • ​Nalar vs Iman: Sebelum sunat ditetapkan dalam Kejadian 17, Abraham mencoba "menolong" Tuhan dengan melahirkan Ismael melalui Hagar (hasil pemikiran manusia/Hagar dari Mesir).
  • ​Penyerahan Total: Dengan sunat, Tuhan seolah berkata: "Potonglah kepercayaanmu pada kekuatan biologis dan logikamu sendiri." Sunat dilakukan pada organ reproduksi untuk menunjukkan bahwa keturunan yang dijanjikan (Ishak) akan lahir murni karena janji Allah, bukan karena keperkasaan manusia.

​3. Sunat Hati: Inti dari Pengudusan

​Pesan pp Djonny dan Alkitab (Ulangan 30:6, Roma 2:29) menegaskan bahwa tanda lahiriah ini merujuk pada sunat hati.

  • ​Penyucian Batin: Ini adalah proses membuang "kulit katan" hati—yaitu kekerasan hati, pemberontakan, dan kecemaran jiwani yang Anda sebutkan sebelumnya.
  • ​Akses ke Roh: Hati yang sudah "disunat" menjadi peka terhadap suara Tuhan dan menjadi pintu yang terbuka bagi pekerjaan Roh Kudus.

​4. Partisipasi dalam Rencana Agung

​Tanpa sunat, seseorang dianggap "mengingkari perjanjian" dan tidak boleh ikut serta dalam perayaan Paskah (Keluaran 12:48).

  • ​Kualifikasi Spiritual: Sunat adalah kualifikasi agar seseorang bisa dilibatkan dalam perjalanan rencana agung Tuhan.
  • ​Pintu Masuk: Ini bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk masuk ke dalam sistem Kerajaan di mana Allah menjadi perisai dan upah yang sangat besar bagi manusia.

​5. Transformasi dari Abraham menjadi Abraham

​Tanda sunat ini diberikan tepat saat perubahan nama terjadi.

  • ​Abraham (Bapa yang ditinggikan secara lahiriah) menjadi Abraham (Bapa banyak bangsa secara rohani).
  • ​Perubahan ini menandakan perpindahan dari Kebenaran Sendiri (hasil usaha manusia) menuju Kebenaran Allah (hasil kasih karunia melalui iman).

​Ringkasnya:

Sunat adalah proklamasi bahwa ada bagian dari diri kita yang harus "mati" (dibuang) agar kehidupan Tuhan (Pohon Kehidupan) bisa bertahta. Tanpa pembuangan "kulit katan" ego dan tradisi lama, kita tidak akan pernah bisa mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai dengan standar Tuhan.

​Apakah Anda melihat sunat hati ini sebagai tindakan satu kali seumur hidup, ataukah ini berkaitan dengan proses harian "pembasuhan kaki" yang peenah kita sharing sebelumnya?



Apa arti memutus tali pusar? Siapa yang melakukan ini?

Memutus tali pusar dalam konteks spiritual yang dibagikan pp Djonny merupakan metafora dari pemutusan ketergantungan dan suplai kehidupan dari masa lalu (sistem dunia/Babel/rumah bapa lahiriah) agar manusia bisa menerima suplai kehidupan yang murni dari Tuhan.

​Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai arti dan pelakunya:

​1. Arti Memutus Tali Pusar secara Spiritual

​Secara biologis, tali pusar adalah saluran nutrisi dari ibu ke bayi. Secara rohani, ini melambangkan:

  • ​Pemutusan Suplai Nilai: Berhenti menyerap nilai-nilai, standar moral, dan cara berpikir yang datang dari "rahim" dunia atau tradisi keluarga yang tidak sesuai dengan Kebenaran.
  • ​Kemandirian Rohani: Transisi dari seorang "bayi rohani" yang hidupnya disetir oleh ekspektasi orang tua (seperti impian Terah untuk Abraham) menjadi "Manusia Kerajaan" yang dipandu langsung oleh Roh Kudus.
  • ​Penyucian dari Kontaminasi: Dalam Yehezkiel 16:4, Tuhan menegur Yerusalem karena "tali pusarmu tidak dipotong" dan "tidak dibasuh dengan air." Ini berarti Yerusalem masih membawa "bakteri" atau kecemaran dari asal-usul penyembahan berhala (Amori dan Heti).

​2. Siapa yang Melakukan Ini?

​Terdapat sinergi antara peran Tuhan dan Keputusan Manusia, namun secara operasional, ada dua pihak utama:

  • ​Pihak Orang Tua/Pembina Rohani (Orang Tua yang Bertanggung Jawab): Dalam video, pp Djonny mencontohkan Maria dan Yusuf. Mereka memastikan Yesus disunat pada hari kedelapan dan menjalani pentahiran. Ini adalah tindakan "memutus tali pusar" secara spiritual sejak dini—orang tua yang tidak memaksakan cita-cita pribadinya kepada anak, melainkan menyerahkan anak itu sepenuhnya kepada rencana Tuhan (seperti Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan).
  • ​Pihak Pribadi/Individu (Keputusan Iman): Bagi orang dewasa seperti Abraham atau kita saat ini, kitalah yang harus mengambil keputusan untuk "pergi".
    • ​Tuhan memberikan perintah (suara hati nurani/firman), tetapi manusia yang harus bertindak memutus ikatan emosional dan jiwani dengan sistem lama.
    • ​Seringkali, proses ini melibatkan hamba Tuhan (seperti Paulus menyunat Timotius) yang membantu kita memotong "kebergantungan" pada identitas lama agar kita sah menjadi anak iman di bawah rencana agung Tuhan.

​3. Mengapa Ini Penting?

​Jika tali pusar tidak dipotong:

  • ​Kita akan terus "terkontaminasi" oleh dosa keturunan atau pola pikir yang salah dari leluhur.
  • ​Kita tidak akan pernah bisa makan dari Pohon Kehidupan karena kita masih merasa kenyang dengan "suplai" dari sistem dunia.
  • ​Kita akan gagal masuk ke dalam takdir (destiny) yang Tuhan tetapkan, karena kita masih terikat pada "pusat" (sumber) yang salah.

​Kesimpulannya:

Memutus tali pusar adalah tindakan pengudusan di mana kita secara sadar berkata: "Aku bukan lagi hasil bentukan duniaku atau ekspektasi keluargaku, aku adalah karya baru di dalam tangan Penciptaku."

​Ini adalah momen di mana kita berhenti menjadi "anak biologis" semata dan mulai menjadi "Anak Kebenaran" yang memiliki jalur suplai langsung dari Takhta Allah. Apakah Anda merasa dalam perjalanan hidup Anda, ada "ikatan tali pusar" tertentu yang terasa paling sulit untuk dilepaskan?




Postingan populer dari blog ini

Membangun Sion Membentuk Ulang Kota - oleh Dr. Jonathan David

Ringkasan Khotbah: "Membangun Sion Membentuk Ulang Kota"  16082022  the Upper Room Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.  Yeremia 3:14   Khotbah ini membahas visi tentang pembangunan kembali Sion sebagai inti dari pemulihan kota dan kehidupan umat Tuhan. Dr. Jonathan David menguraikan bagaimana Tuhan sedang bergerak secara aktif untuk membangun Sion, yang bukan hanya sekadar tempat, melainkan juga sebuah dimensi rohani di mana kehadiran, kuasa, dan otoritas Allah termanifestasi. Khotbah dimulai dengan penekanan pada pentingnya mendengar suara Tuhan dan mengasihi kebenaran-Nya. Dr. Jonathan David menyatakan bahwa tanpa kedua hal ini, akan ada kekacauan. Ia juga menekankan tentang karunia-karunia Roh Kudus yang diperlukan, seperti pewahyuan, pengertian, dan hikmat  untuk dapat menge...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

The Seed of God and the Character of Abraham (MKS #53)

Khotbah ini membahas proses rohani di mana Allah menabur benih ilahi ke dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan kerajaan-Nya di bumi. Melalui teladan Abraham , dijelaskan bahwa hubungan intim dengan Tuhan dimulai dari panggilan pribadi dan ikatan janji (covenant) yang teguh . Ketaatan mutlak Abraham dalam menjaga ketetapan Allah menjadi dasar bagi Tuhan untuk mempercayakan otoritas-Nya kepada generasi berikutnya. Di sini ditekankan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki kepribadian yang selaras dengan karakter Allah melalui bimbingan Roh Kudus. Akhirnya, sumber ini menantang umat untuk hidup dalam kesetiaan dan kasih yang radikal agar janji Tuhan dapat tergenapi secara turun-temurun. Ibadah JMD Bandung 6 September 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 53 Catatan Khotbah: Manusia Kerajaan Sorga (Bagian 53) Pelayanan: GPK JMD Bandung, Ps. Djonny Tambunan Tanggal: 6 September 2026 1. Landasan Rencana Agung Allah & Benih Sejati Keturunan Raja-Raja: Allah menetapk...

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib , memiliki karakter yang baik , serta dipenuhi oleh Roh Kudus . Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik . Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan . 14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3) Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3) Sesi: The Upper Room 240 (1...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Apa Maksudnya dengan CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS?

Kor 5:17        Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Ayat di atas menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Tapi benarkah demikian?   Dan yang lama sudah berlalu? Sebab kata ‘sesungguhnya’ menunjukkan kita belum bisa melihat yang baru itu. Mari kita telaah. Ef 4:24            dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. MANUSIA BARU kita telah   diciptakan menurut kehendak Allah SECARA SEMPURNA di dalam KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA yaitu DI DALAM KRITUS YESUS.   KEBENARAN DAN KEKUDUSAN INI TELAH TERUJI yaitu Yesus sendiri yang dalam rupa-Nya sebagai manusia – TELAH TERBUKTI SUDAH MENGALAHKAN DOSA DAN MAUT. Ef 2:10        ...

ROMA 15:1-7

MENANGGUNG KELEMAHAN ORANG YANG TIDAK KUAT 15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku." 15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. 15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemulia...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

Yesus dan Rahasia Kerajaan Sorga

Saat Teduh 4 Feb 2025 BACA dan RENUNGKAN Matius 13:10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan (kiasan, perbandingan, METAFORA)?" 11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. 12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. 13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. 14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. 15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan mata...