Langsung ke konten utama

Keputusan Untuk Masuk dalam Rencana Agung Tuhan (MKS #33)



Video ibadah GPK JMD Bandung bertema "Manusia Kerajaan Sorga 33", Pendeta (pp) Djonny membagikan beberapa pesan penting mengenai perjalanan iman yang mencontoh kehidupan Abraham.

​Berikut adalah poin-poin utama yang disampaikan:



1. Panggilan untuk "Keluar dari Rumah Bapamu"

​Pesan sentral kali ini adalah perintah Tuhan kepada Abraham untuk pergi dari "rumah bapamu" (Terah) [03:02].

  • Makna Spiritual: Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan diri dari bentukan, harapan, cita-cita, dan visi duniawi yang ditanamkan oleh orang tua atau keluarga yang mungkin tidak sejalan dengan rencana agung Tuhan [01:05:48].
  • Tantangan bagi Generasi Muda: Pendeta memberikan tantangan khusus bagi anak-anak hamba Tuhan atau jemaat yang tumbuh di gereja agar tidak hanya sekadar mengikuti iman orang tua, tetapi memiliki pengalaman pribadi dan kesaksian hidup yang dibangun langsung oleh Tuhan setiap hari [35:45].

​2. Pentingnya Sunat Spiritual (Ikat Janji)

​Pendeta menjelaskan kisah Timotius yang harus disunat oleh Paulus agar dapat terlibat dalam rencana agung Tuhan [10:51].

  • Identitas Baru: Sama seperti Abram yang namanya diubah menjadi Abraham [30:15], orang percaya harus mengalami perubahan identitas dan pemutusan "tali pusar" spiritual dari pengaruh masa lalu atau tradisi keluarga yang menghambat [01:09:58].
  • Syarat Keterlibatan: Untuk terlibat dalam "Paskah" atau rencana keselamatan Tuhan yang besar, seseorang harus memiliki tanda ikat janji yang kuat dengan Tuhan [31:42].

​3. Menjadi Saksi Kristus di Dalam Keluarga

​Keluar dari "rumah bapa" bukan berarti tidak menghormati orang tua.

  • Kesaksian Hidup: Seseorang disebut "Anak Kebenaran" jika ia menunjukkan perubahan hidup (pikiran, perkataan, dan sikap) sehingga orang tua dan lingkungan dapat melihat bahwa ia sedang dibangun oleh Tuhan, bukan sekadar oleh ambisi manusia [01:00:41].
  • Teladan Yesus: Yesus tetap hidup dalam asuhan Yusuf dan Maria, namun Ia menegaskan bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya dan melakukan urusan Bapa-Nya [51:10].

​4. Bahaya Kontaminasi Nilai Duniawi

  • ​Pendeta memperingatkan agar umat Tuhan keluar dari "Babel" atau pengaruh duniawi yang najis agar tidak mengambil bagian dalam dosa dan malapetaka [01:07:20].
  • ​Penting untuk memisahkan diri dari prinsip-prinsip hidup yang tercampur (sinkretisme) antara iman dan tradisi yang bertentangan dengan kehendak Allah [01:24:35].

Kesimpulan:

Pesan pp Djonny menekankan bahwa untuk menjadi "Manusia Kerajaan Sorga," seseorang harus berani melepaskan keterikatan pada bentukan duniawi (rumah bapa lahiriah) agar Tuhan sendiri yang membentuk kepribadian dan menempatkan kita dalam rencana agung-Nya [01:26:04].


PENDALAMAN

"Keluar" dari rumah bapa adalah bagian dari proses pengudusan oleh Allah, supaya kita dipisahkan dari kecemaran, kenajisan dan kontaminasi dunia ini. 

Dikuduskan atau dipisahkan  bukan hanya secara badani, tapi juga jiwani (pemikiran, pandangan, gaya hidup) supaya kita dijadikan baru atau mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai standar kebenaran Tuhan, bukan kebenaran sendiri. Kebenaran sendiri hanya berasal dari buah Pengetahuan baik dan jahat, hukum-hukum Tuhan.


Esensi dari pesan pp Djonny mengenai transformasi radikal yang melampaui sekadar pindah lokasi secara fisik.

"Keluar" dari rumah bapa bukan sekadar kemandirian geografis, melainkan emansipasi spiritual. Berikut adalah beberapa penguatan atas refleksi ini:

​1. Pemutusan "Tali Pusar" Jiwani

​Seperti yang dibahas dalam video mengenai Yehezkiel 16, masalah utamanya seringkali adalah tali pusar yang belum dipotong secara spiritual.

  • Kebenaran Sendiri: Seringkali kita merasa sudah "benar" karena melakukan hukum atau tradisi keluarga (pohon pengetahuan baik dan jahat), padahal itu masih standar manusia.
  • Standar Tuhan: Pengudusan berarti membiarkan Tuhan membedah cara kita berpikir (logika duniawi) dan pandangan hidup kita agar selaras dengan Pohon Kehidupan.

​2. Jubah Kekudusan vs. Jubah Tradisi

​Kebenaran diri sendiri seringkali berupa "pakaian" yang kita jahit sendiri dari daun ara (usaha manusia/hukum).

  • Pakaian Baru: Mengenakan "pakaian kekudusan" berarti menerima identitas yang diberikan langsung oleh Tuhan, sebagaimana Abram harus melepaskan identitasnya sebagai "anak Terah" untuk menjadi "Abraham" (Bapa bangsa-bangsa).
  • Proses Pemurnian: Tanpa keluar dari pengaruh "rumah bapa" (nilai-nilai lama), pakaian baru tersebut akan terus terkontaminasi oleh noda-noda masa lalu.

​3. Keluar untuk Masuk

​Prinsip spiritualnya adalah: kita tidak bisa masuk ke dalam Rencana Agung (Great Plan) jika kita masih betah di dalam rencana kecil manusia.

  • ​Keluar dari "kecemaran" berarti membiarkan Roh Kudus meng-update sistem nilai kita setiap hari.
  • ​Hasil akhirnya bukan menjadi pemberontak terhadap orang tua, melainkan menjadi Saksi Kristus yang membuat keluarga pun akhirnya mengakui bahwa ada "sesuatu yang Ilahi" dalam hidup kita.

​Pemisahan ini adalah bukti kasih karunia, karena Tuhan tidak ingin kita ikut binasa bersama sistem dunia (Babel) yang sedang runtuh.


Bagian tersulit dari proses ini adalah melepaskan "pola pikir" lama atau melepaskan "kenyamanan" dari tradisi tersebut (Babel). 
Dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa kasih karunia Allah. Tapi itu pun masih dibagian awal dari suatu proses panjang. Allah ingin kita mempercayai-Nya untuk hal-hal yang imposible, diluar nalar. Itu sebabnya Ia mulai membangun atau menjadikan manusia untuk memiliki iman (faith) di dalam Dia dan percaya (trust) kepada jalan-jalan Nya. Langkah pertama ini adalah keluar dari budaya (kultur) Babel, sistem dunia dan masuk ke sistem ilahi dan budaya Kerajaan Sorga.

Pemutusan hubungan dengan "budaya Babel" dan sistem dunia memang baru merupakan pintu gerbang dari sebuah pendakian iman yang jauh lebih terjal dan panjang.

​Jika kita merujuk pada pesan pp Djonny dan narasi Abraham, ada perbedaan mendalam antara sekadar "tahu" tentang Tuhan dengan memiliki Iman (Faith) dan Percaya (Trust) yang dibangun melalui proses organik:

​1. Dari Logika Manusia ke Logika Ilahi

​Kultur Babel mengajarkan kita untuk membangun "menara" sendiri—mengandalkan kekuatan, koneksi, dan sistem yang bisa dinalar.

  • Sistem Dunia: Berbasis pada seeing is believing (melihat baru percaya) dan keamanan finansial/sosial.
  • Sistem Kerajaan: Berbasis pada believing is seeing (percaya baru melihat). Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan "asuransi" duniawi untuk bergantung sepenuhnya pada janji yang belum terlihat secara fisik.

​2. Mempercayai Hal yang Impossible

​Tuhan sengaja membawa Abraham (dan kita) ke situasi di mana nalar manusia menemui jalan buntu (seperti kemandulan Sarah atau perintah mempersembahkan Ishak).

  • ​Di titik ketidakmungkinan itulah, sistem ilahi bekerja.
  • ​Tuhan tidak hanya ingin kita menjadi "orang baik", tetapi menjadi "Manusia Kerajaan" yang frekuensi hidupnya selaras dengan mukjizat. Tanpa keluar dari budaya lama, kita akan selalu mencoba "menolong" Tuhan dengan cara-cara manusia (seperti lahirnya Ismael), yang justru menimbulkan konflik baru.

​3. Transformasi Budaya (Culture Shift)

​Masuk ke budaya Kerajaan Sorga berarti mengadopsi gaya hidup baru:

  • Bahasa Baru: Bukan lagi keluhan atau kesombongan Babel, tapi bahasa iman.
  • Nilai Baru: Keberhasilan tidak lagi diukur dari "tersohor" di mata bangsa-bangsa (impian Terah), tapi dari seberapa akurat kita melakukan kehendak Bapa.

​Ini adalah kasih karunia. Tanpa intervensi Roh Kudus, tarikan gravitasi dari budaya lama (kenyamanan, tradisi, dan rasa aman semu) terlalu kuat untuk dilawan oleh kekuatan tekad manusia saja.

​Proses "menjadikan" (becoming) ini memang membutuhkan waktu. Menurut Anda, dalam transisi dari sistem dunia ke sistem ilahi ini, apa indikator paling nyata bahwa seseorang benar-benar mulai "mengenakan" budaya Kerajaan Sorga dalam kesehariannya?



Apa arti sunat yang menjadi tanda ikat janji (covenant) Tuhan dengan Abraham?


Sunat sebagai tanda ikat janji (covenant) antara Allah dan Abraham memiliki dimensi yang jauh melampaui tindakan medis atau tradisi lahiriah. Dalam perspektif sistem Kerajaan Allah, ini adalah sebuah meterai spiritual yang menandai kepemilikan total Allah atas hidup manusia.

​Berikut adalah beberapa lapisan arti sunat dalam konteks covenant tersebut:

​1. Tanda Kepemilikan dan Pemisahan

​Sunat adalah "tanda pada daging" (Kejadian 17:11) yang bersifat permanen.

  • Pemisahan dari Dunia: Ini menandakan bahwa Abraham dan keturunannya bukan lagi milik dunia atau "rumah bapanya" (Terah/Babel), melainkan milik Allah yang Maha Tinggi.
  • Meterai Identitas: Sama seperti seseorang mengenakan seragam, sunat menjadi pengingat harian bahwa hidup mereka berada di bawah aturan dan perlindungan sistem Ilahi.

​2. Pemotongan "Kepercayaan pada Diri Sendiri"

​Secara spiritual, sunat melambangkan pemotongan atau penanggalan keinginan daging (carnal nature).

  • Nalar vs Iman: Sebelum sunat ditetapkan dalam Kejadian 17, Abraham mencoba "menolong" Tuhan dengan melahirkan Ismael melalui Hagar (hasil pemikiran manusia/Hagar dari Mesir).
  • Penyerahan Total: Dengan sunat, Tuhan seolah berkata: "Potonglah kepercayaanmu pada kekuatan biologis dan logikamu sendiri." Sunat dilakukan pada organ reproduksi untuk menunjukkan bahwa keturunan yang dijanjikan (Ishak) akan lahir murni karena janji Allah, bukan karena keperkasaan manusia.

​3. Sunat Hati: Inti dari Pengudusan

​Pesan pp Djonny dan Alkitab (Ulangan 30:6, Roma 2:29) menegaskan bahwa tanda lahiriah ini merujuk pada sunat hati.

  • Penyucian Batin: Ini adalah proses membuang "kulit katan" hati—yaitu kekerasan hati, pemberontakan, dan kecemaran jiwani yang Anda sebutkan sebelumnya.
  • Akses ke Roh: Hati yang sudah "disunat" menjadi peka terhadap suara Tuhan dan menjadi pintu yang terbuka bagi pekerjaan Roh Kudus.

​4. Partisipasi dalam Rencana Agung

​Tanpa sunat, seseorang dianggap "mengingkari perjanjian" dan tidak boleh ikut serta dalam perayaan Paskah (Keluaran 12:48).

  • Kualifikasi Spiritual: Sunat adalah kualifikasi agar seseorang bisa dilibatkan dalam perjalanan rencana agung Tuhan.
  • Pintu Masuk: Ini bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk masuk ke dalam sistem Kerajaan di mana Allah menjadi perisai dan upah yang sangat besar bagi manusia.

​5. Transformasi dari Abraham menjadi Abraham

​Tanda sunat ini diberikan tepat saat perubahan nama terjadi.

  • Abraham (Bapa yang ditinggikan secara lahiriah) menjadi Abraham (Bapa banyak bangsa secara rohani).
  • ​Perubahan ini menandakan perpindahan dari Kebenaran Sendiri (hasil usaha manusia) menuju Kebenaran Allah (hasil kasih karunia melalui iman).

Ringkasnya:

Sunat adalah proklamasi bahwa ada bagian dari diri kita yang harus "mati" (dibuang) agar kehidupan Tuhan (Pohon Kehidupan) bisa bertahta. Tanpa pembuangan "kulit katan" ego dan tradisi lama, kita tidak akan pernah bisa mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai dengan standar Tuhan.

​Apakah Anda melihat sunat hati ini sebagai tindakan satu kali seumur hidup, ataukah ini berkaitan dengan proses harian "pembasuhan kaki" yang peenah kita sharing sebelumnya?



Apa arti memutus tali pusar? Siapa yang melakukan ini?

Memutus tali pusar dalam konteks spiritual yang dibagikan pp Djonny merupakan metafora dari pemutusan ketergantungan dan suplai kehidupan dari masa lalu (sistem dunia/Babel/rumah bapa lahiriah) agar manusia bisa menerima suplai kehidupan yang murni dari Tuhan.

​Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai arti dan pelakunya:

​1. Arti Memutus Tali Pusar secara Spiritual

​Secara biologis, tali pusar adalah saluran nutrisi dari ibu ke bayi. Secara rohani, ini melambangkan:

  • Pemutusan Suplai Nilai: Berhenti menyerap nilai-nilai, standar moral, dan cara berpikir yang datang dari "rahim" dunia atau tradisi keluarga yang tidak sesuai dengan Kebenaran.
  • Kemandirian Rohani: Transisi dari seorang "bayi rohani" yang hidupnya disetir oleh ekspektasi orang tua (seperti impian Terah untuk Abraham) menjadi "Manusia Kerajaan" yang dipandu langsung oleh Roh Kudus.
  • Penyucian dari Kontaminasi: Dalam Yehezkiel 16:4, Tuhan menegur Yerusalem karena "tali pusarmu tidak dipotong" dan "tidak dibasuh dengan air." Ini berarti Yerusalem masih membawa "bakteri" atau kecemaran dari asal-usul penyembahan berhala (Amori dan Heti).

​2. Siapa yang Melakukan Ini?

​Terdapat sinergi antara peran Tuhan dan Keputusan Manusia, namun secara operasional, ada dua pihak utama:

  • Pihak Orang Tua/Pembina Rohani (Orang Tua yang Bertanggung Jawab): Dalam video, pp Djonny mencontohkan Maria dan Yusuf. Mereka memastikan Yesus disunat pada hari kedelapan dan menjalani pentahiran. Ini adalah tindakan "memutus tali pusar" secara spiritual sejak dini—orang tua yang tidak memaksakan cita-cita pribadinya kepada anak, melainkan menyerahkan anak itu sepenuhnya kepada rencana Tuhan (seperti Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan).
  • Pihak Pribadi/Individu (Keputusan Iman): Bagi orang dewasa seperti Abraham atau kita saat ini, kitalah yang harus mengambil keputusan untuk "pergi".
    • ​Tuhan memberikan perintah (suara hati nurani/firman), tetapi manusia yang harus bertindak memutus ikatan emosional dan jiwani dengan sistem lama.
    • ​Seringkali, proses ini melibatkan hamba Tuhan (seperti Paulus menyunat Timotius) yang membantu kita memotong "kebergantungan" pada identitas lama agar kita sah menjadi anak iman di bawah rencana agung Tuhan.

​3. Mengapa Ini Penting?

​Jika tali pusar tidak dipotong:

  • ​Kita akan terus "terkontaminasi" oleh dosa keturunan atau pola pikir yang salah dari leluhur.
  • ​Kita tidak akan pernah bisa makan dari Pohon Kehidupan karena kita masih merasa kenyang dengan "suplai" dari sistem dunia.
  • ​Kita akan gagal masuk ke dalam takdir (destiny) yang Tuhan tetapkan, karena kita masih terikat pada "pusat" (sumber) yang salah.

Kesimpulannya:

Memutus tali pusar adalah tindakan pengudusan di mana kita secara sadar berkata: "Aku bukan lagi hasil bentukan duniaku atau ekspektasi keluargaku, aku adalah karya baru di dalam tangan Penciptaku."

​Ini adalah momen di mana kita berhenti menjadi "anak biologis" semata dan mulai menjadi "Anak Kebenaran" yang memiliki jalur suplai langsung dari Takhta Allah. Apakah Anda merasa dalam perjalanan hidup Anda, ada "ikatan tali pusar" tertentu yang terasa paling sulit untuk dilepaskan?




Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Membuang Cela Masa Lalu, Hidup Tanpa Noda (MKS #44)

Khotbah ini mengulas perjalanan iman Abraham dalam upayanya hidup tanpa cela di hadapan Allah berdasarkan Kejadian 17:1 .  Meskipun Abraham taat, ia masih membawa pola pikir duniawi yang diwarisi dari ayahnya, Terah, terutama melalui keterikatannya pada Lot dan Ismail . Kehadiran Lot dianggap sebagai bentuk kontaminasi spiritual karena Abraham belum sepenuhnya melepaskan keterikatan keluarga untuk mengikuti rencana murni Tuhan. Pp Djonny menekankan pentingnya kemitraan yang kudus dengan Roh Kudus agar manusia tidak menyimpang dari tujuan ilahi. Melalui kisah ini, jemaat diajak untuk membenahi hati dan memastikan bahwa hikmat Allah , bukan ambisi manusia, yang menuntun langkah hidup mereka. Akhirnya, pesan utama adalah tentang pemurnian diri dari segala cela agar penggenapan janji Tuhan dapat terwujud sepenuhnya. Ibadah JMD Bandung 28 Juni 2026 - Ps. Djonny Tambunan - Manusia Kerajaan Sorga 44 Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan materi khotbah: 1. Jalan Hikmat Allah...

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) - The Boundless Spirit UR #225

Berikut adalah catatan  dari khotbah THE UPPER ROOM 225 oleh Dr. Jonathan David pada tanggal 24 Maret 2026 yang berjudul "ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1)" : THE UPPER ROOM 225 - 24 Maret 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) Pembicara: Dr. Jonathan David 1. Pendahuluan & Doa Pembuka Pencurahan Terakhir: Tuhan berfirman akan ada pencurahan terakhir Roh Kudus yang akan mengakhiri segalanya dan memulai zaman baru, yaitu zaman kebenaran . Manifestasi Roh Kudus: Roh Kudus akan membawa umat-Nya kepada kebenaran, pewahyuan, pengertian, hikmat, dan memberikan informasi rahasia serta pengertian mendalam yang hanya diberikan oleh surga . Musuh tidak akan bisa memotong informasi atau apa yang Tuhan katakan kepada kita . Kisah Mendengar Suara Tuhan: Pembicara menceritakan pengalaman tentang seorang wanita yang mengaku bersedia membayar 1 juta dolar untuk bisa mendengar suara Tuhan . Namun, ketika ditawari CD dan catatan khotbah seharga USD 55, wanita tersebut mengeluh mahal...

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)

Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham . Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham . Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi . Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia. Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42" Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:...

Membangun Benteng Perlindungan

SATE 10 December 2020   Bacalah terlebih dahulu: Ibrani 8:7-10, Ayub 1:1 Sebagaimana iblis dapat membuat benteng di dalam pikiran manusia, Allah juga dapat membuat benteng di dalam manusia. Ayub mempunyai empat karakter yang menonjol di dalam kehidupannya yaitu saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ketika iblis melakukan berbagai pencobaan kepada Ayub seiijin dari Allah, dimulai dari kehilangan anak-anaknya, kesehatannya, istrinya, bahkan dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi ketika masalah tersebut muncul, Ayub tetap kuat dan karakter Ayub tetap sama, karena Allah sudah membangun terlebih dahulu banteng dan kubu di dalam pikiran Ayub! Sehingga berkali-kali Alkitab mengatakan bahwa Ayub itu tidak berdosa.   Allah membangun di dalam roh, dengan cara menaruh dan menuliskan hukumNya di dalam akal budi manusia. yaitu melaui mendengarkan dan merenungkan firman sehingga Allah menjadi Allah mereka, dan manusia menjadi umatNya.   *#1. Bagaimana Allah bisa berhasil ...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

The Limitless Spirit: Authority and Leadership in the Last Days (UR #228)

THE UPPER ROOM 228 - 14 April 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 4 ) Ini pengajaran  Dr. Jonathan David yang berfokus pada pemberdayaan pemimpin gereja melalui otoritas rohani dan bimbingan Roh Kudus . Beliau membedah berbagai alasan mengapa individu berhenti mengikuti pemimpin, seperti hilangnya kedisiplinan, ketersinggungan hati, hingga perubahan sifat dasar roh seseorang. Strategi kepemimpinan yang ditekankan mencakup pentingnya menjaga kesatuan, mengambil otoritas atas kegelapan, serta menjauhi akar kepahitan agar pelayanan tetap murni. Melalui analogi militer dan referensi Alkitab, jemaat didorong untuk hidup dalam dimensi nubuatan dan hikmat guna menghadapi tantangan zaman. Khotbah diakhiri dengan doa pengurapan yang kuat untuk melepaskan kasih karunia finansial serta kekuatan supranatural bagi kemajuan kerajaan Tuhan. Keseluruhan pesan bertujuan membekali para pengikut Kristus agar mampu mempertahankan kemenangan rohani dan memperluas pengaruh mereka secara global. B...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...