Langsung ke konten utama

Keputusan Untuk Masuk dalam Rencana Agung Tuhan (MKS #33)



Video ibadah GPK JMD Bandung bertema "Manusia Kerajaan Sorga 33", Pendeta (pp) Djonny membagikan beberapa pesan penting mengenai perjalanan iman yang mencontoh kehidupan Abraham.

​Berikut adalah poin-poin utama yang disampaikan:



1. Panggilan untuk "Keluar dari Rumah Bapamu"

​Pesan sentral kali ini adalah perintah Tuhan kepada Abraham untuk pergi dari "rumah bapamu" (Terah) [03:02].

  • Makna Spiritual: Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan diri dari bentukan, harapan, cita-cita, dan visi duniawi yang ditanamkan oleh orang tua atau keluarga yang mungkin tidak sejalan dengan rencana agung Tuhan [01:05:48].
  • Tantangan bagi Generasi Muda: Pendeta memberikan tantangan khusus bagi anak-anak hamba Tuhan atau jemaat yang tumbuh di gereja agar tidak hanya sekadar mengikuti iman orang tua, tetapi memiliki pengalaman pribadi dan kesaksian hidup yang dibangun langsung oleh Tuhan setiap hari [35:45].

​2. Pentingnya Sunat Spiritual (Ikat Janji)

​Pendeta menjelaskan kisah Timotius yang harus disunat oleh Paulus agar dapat terlibat dalam rencana agung Tuhan [10:51].

  • Identitas Baru: Sama seperti Abram yang namanya diubah menjadi Abraham [30:15], orang percaya harus mengalami perubahan identitas dan pemutusan "tali pusar" spiritual dari pengaruh masa lalu atau tradisi keluarga yang menghambat [01:09:58].
  • Syarat Keterlibatan: Untuk terlibat dalam "Paskah" atau rencana keselamatan Tuhan yang besar, seseorang harus memiliki tanda ikat janji yang kuat dengan Tuhan [31:42].

​3. Menjadi Saksi Kristus di Dalam Keluarga

​Keluar dari "rumah bapa" bukan berarti tidak menghormati orang tua.

  • Kesaksian Hidup: Seseorang disebut "Anak Kebenaran" jika ia menunjukkan perubahan hidup (pikiran, perkataan, dan sikap) sehingga orang tua dan lingkungan dapat melihat bahwa ia sedang dibangun oleh Tuhan, bukan sekadar oleh ambisi manusia [01:00:41].
  • Teladan Yesus: Yesus tetap hidup dalam asuhan Yusuf dan Maria, namun Ia menegaskan bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya dan melakukan urusan Bapa-Nya [51:10].

​4. Bahaya Kontaminasi Nilai Duniawi

  • ​Pendeta memperingatkan agar umat Tuhan keluar dari "Babel" atau pengaruh duniawi yang najis agar tidak mengambil bagian dalam dosa dan malapetaka [01:07:20].
  • ​Penting untuk memisahkan diri dari prinsip-prinsip hidup yang tercampur (sinkretisme) antara iman dan tradisi yang bertentangan dengan kehendak Allah [01:24:35].

Kesimpulan:

Pesan pp Djonny menekankan bahwa untuk menjadi "Manusia Kerajaan Sorga," seseorang harus berani melepaskan keterikatan pada bentukan duniawi (rumah bapa lahiriah) agar Tuhan sendiri yang membentuk kepribadian dan menempatkan kita dalam rencana agung-Nya [01:26:04].


PENDALAMAN

"Keluar" dari rumah bapa adalah bagian dari proses pengudusan oleh Allah, supaya kita dipisahkan dari kecemaran, kenajisan dan kontaminasi dunia ini. 

Dikuduskan atau dipisahkan  bukan hanya secara badani, tapi juga jiwani (pemikiran, pandangan, gaya hidup) supaya kita dijadikan baru atau mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai standar kebenaran Tuhan, bukan kebenaran sendiri. Kebenaran sendiri hanya berasal dari buah Pengetahuan baik dan jahat, hukum-hukum Tuhan.


Esensi dari pesan pp Djonny mengenai transformasi radikal yang melampaui sekadar pindah lokasi secara fisik.

"Keluar" dari rumah bapa bukan sekadar kemandirian geografis, melainkan emansipasi spiritual. Berikut adalah beberapa penguatan atas refleksi ini:

​1. Pemutusan "Tali Pusar" Jiwani

​Seperti yang dibahas dalam video mengenai Yehezkiel 16, masalah utamanya seringkali adalah tali pusar yang belum dipotong secara spiritual.

  • Kebenaran Sendiri: Seringkali kita merasa sudah "benar" karena melakukan hukum atau tradisi keluarga (pohon pengetahuan baik dan jahat), padahal itu masih standar manusia.
  • Standar Tuhan: Pengudusan berarti membiarkan Tuhan membedah cara kita berpikir (logika duniawi) dan pandangan hidup kita agar selaras dengan Pohon Kehidupan.

​2. Jubah Kekudusan vs. Jubah Tradisi

​Kebenaran diri sendiri seringkali berupa "pakaian" yang kita jahit sendiri dari daun ara (usaha manusia/hukum).

  • Pakaian Baru: Mengenakan "pakaian kekudusan" berarti menerima identitas yang diberikan langsung oleh Tuhan, sebagaimana Abram harus melepaskan identitasnya sebagai "anak Terah" untuk menjadi "Abraham" (Bapa bangsa-bangsa).
  • Proses Pemurnian: Tanpa keluar dari pengaruh "rumah bapa" (nilai-nilai lama), pakaian baru tersebut akan terus terkontaminasi oleh noda-noda masa lalu.

​3. Keluar untuk Masuk

​Prinsip spiritualnya adalah: kita tidak bisa masuk ke dalam Rencana Agung (Great Plan) jika kita masih betah di dalam rencana kecil manusia.

  • ​Keluar dari "kecemaran" berarti membiarkan Roh Kudus meng-update sistem nilai kita setiap hari.
  • ​Hasil akhirnya bukan menjadi pemberontak terhadap orang tua, melainkan menjadi Saksi Kristus yang membuat keluarga pun akhirnya mengakui bahwa ada "sesuatu yang Ilahi" dalam hidup kita.

​Pemisahan ini adalah bukti kasih karunia, karena Tuhan tidak ingin kita ikut binasa bersama sistem dunia (Babel) yang sedang runtuh.


Bagian tersulit dari proses ini adalah melepaskan "pola pikir" lama atau melepaskan "kenyamanan" dari tradisi tersebut (Babel). 
Dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa kasih karunia Allah. Tapi itu pun masih dibagian awal dari suatu proses panjang. Allah ingin kita mempercayai-Nya untuk hal-hal yang imposible, diluar nalar. Itu sebabnya Ia mulai membangun atau menjadikan manusia untuk memiliki iman (faith) di dalam Dia dan percaya (trust) kepada jalan-jalan Nya. Langkah pertama ini adalah keluar dari budaya (kultur) Babel, sistem dunia dan masuk ke sistem ilahi dan budaya Kerajaan Sorga.

Pemutusan hubungan dengan "budaya Babel" dan sistem dunia memang baru merupakan pintu gerbang dari sebuah pendakian iman yang jauh lebih terjal dan panjang.

​Jika kita merujuk pada pesan pp Djonny dan narasi Abraham, ada perbedaan mendalam antara sekadar "tahu" tentang Tuhan dengan memiliki Iman (Faith) dan Percaya (Trust) yang dibangun melalui proses organik:

​1. Dari Logika Manusia ke Logika Ilahi

​Kultur Babel mengajarkan kita untuk membangun "menara" sendiri—mengandalkan kekuatan, koneksi, dan sistem yang bisa dinalar.

  • Sistem Dunia: Berbasis pada seeing is believing (melihat baru percaya) dan keamanan finansial/sosial.
  • Sistem Kerajaan: Berbasis pada believing is seeing (percaya baru melihat). Keluar dari rumah bapa berarti melepaskan "asuransi" duniawi untuk bergantung sepenuhnya pada janji yang belum terlihat secara fisik.

​2. Mempercayai Hal yang Impossible

​Tuhan sengaja membawa Abraham (dan kita) ke situasi di mana nalar manusia menemui jalan buntu (seperti kemandulan Sarah atau perintah mempersembahkan Ishak).

  • ​Di titik ketidakmungkinan itulah, sistem ilahi bekerja.
  • ​Tuhan tidak hanya ingin kita menjadi "orang baik", tetapi menjadi "Manusia Kerajaan" yang frekuensi hidupnya selaras dengan mukjizat. Tanpa keluar dari budaya lama, kita akan selalu mencoba "menolong" Tuhan dengan cara-cara manusia (seperti lahirnya Ismael), yang justru menimbulkan konflik baru.

​3. Transformasi Budaya (Culture Shift)

​Masuk ke budaya Kerajaan Sorga berarti mengadopsi gaya hidup baru:

  • Bahasa Baru: Bukan lagi keluhan atau kesombongan Babel, tapi bahasa iman.
  • Nilai Baru: Keberhasilan tidak lagi diukur dari "tersohor" di mata bangsa-bangsa (impian Terah), tapi dari seberapa akurat kita melakukan kehendak Bapa.

​Ini adalah kasih karunia. Tanpa intervensi Roh Kudus, tarikan gravitasi dari budaya lama (kenyamanan, tradisi, dan rasa aman semu) terlalu kuat untuk dilawan oleh kekuatan tekad manusia saja.

​Proses "menjadikan" (becoming) ini memang membutuhkan waktu. Menurut Anda, dalam transisi dari sistem dunia ke sistem ilahi ini, apa indikator paling nyata bahwa seseorang benar-benar mulai "mengenakan" budaya Kerajaan Sorga dalam kesehariannya?



Apa arti sunat yang menjadi tanda ikat janji (covenant) Tuhan dengan Abraham?


Sunat sebagai tanda ikat janji (covenant) antara Allah dan Abraham memiliki dimensi yang jauh melampaui tindakan medis atau tradisi lahiriah. Dalam perspektif sistem Kerajaan Allah, ini adalah sebuah meterai spiritual yang menandai kepemilikan total Allah atas hidup manusia.

​Berikut adalah beberapa lapisan arti sunat dalam konteks covenant tersebut:

​1. Tanda Kepemilikan dan Pemisahan

​Sunat adalah "tanda pada daging" (Kejadian 17:11) yang bersifat permanen.

  • Pemisahan dari Dunia: Ini menandakan bahwa Abraham dan keturunannya bukan lagi milik dunia atau "rumah bapanya" (Terah/Babel), melainkan milik Allah yang Maha Tinggi.
  • Meterai Identitas: Sama seperti seseorang mengenakan seragam, sunat menjadi pengingat harian bahwa hidup mereka berada di bawah aturan dan perlindungan sistem Ilahi.

​2. Pemotongan "Kepercayaan pada Diri Sendiri"

​Secara spiritual, sunat melambangkan pemotongan atau penanggalan keinginan daging (carnal nature).

  • Nalar vs Iman: Sebelum sunat ditetapkan dalam Kejadian 17, Abraham mencoba "menolong" Tuhan dengan melahirkan Ismael melalui Hagar (hasil pemikiran manusia/Hagar dari Mesir).
  • Penyerahan Total: Dengan sunat, Tuhan seolah berkata: "Potonglah kepercayaanmu pada kekuatan biologis dan logikamu sendiri." Sunat dilakukan pada organ reproduksi untuk menunjukkan bahwa keturunan yang dijanjikan (Ishak) akan lahir murni karena janji Allah, bukan karena keperkasaan manusia.

​3. Sunat Hati: Inti dari Pengudusan

​Pesan pp Djonny dan Alkitab (Ulangan 30:6, Roma 2:29) menegaskan bahwa tanda lahiriah ini merujuk pada sunat hati.

  • Penyucian Batin: Ini adalah proses membuang "kulit katan" hati—yaitu kekerasan hati, pemberontakan, dan kecemaran jiwani yang Anda sebutkan sebelumnya.
  • Akses ke Roh: Hati yang sudah "disunat" menjadi peka terhadap suara Tuhan dan menjadi pintu yang terbuka bagi pekerjaan Roh Kudus.

​4. Partisipasi dalam Rencana Agung

​Tanpa sunat, seseorang dianggap "mengingkari perjanjian" dan tidak boleh ikut serta dalam perayaan Paskah (Keluaran 12:48).

  • Kualifikasi Spiritual: Sunat adalah kualifikasi agar seseorang bisa dilibatkan dalam perjalanan rencana agung Tuhan.
  • Pintu Masuk: Ini bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk masuk ke dalam sistem Kerajaan di mana Allah menjadi perisai dan upah yang sangat besar bagi manusia.

​5. Transformasi dari Abraham menjadi Abraham

​Tanda sunat ini diberikan tepat saat perubahan nama terjadi.

  • Abraham (Bapa yang ditinggikan secara lahiriah) menjadi Abraham (Bapa banyak bangsa secara rohani).
  • ​Perubahan ini menandakan perpindahan dari Kebenaran Sendiri (hasil usaha manusia) menuju Kebenaran Allah (hasil kasih karunia melalui iman).

Ringkasnya:

Sunat adalah proklamasi bahwa ada bagian dari diri kita yang harus "mati" (dibuang) agar kehidupan Tuhan (Pohon Kehidupan) bisa bertahta. Tanpa pembuangan "kulit katan" ego dan tradisi lama, kita tidak akan pernah bisa mengenakan "pakaian kekudusan" yang sesuai dengan standar Tuhan.

​Apakah Anda melihat sunat hati ini sebagai tindakan satu kali seumur hidup, ataukah ini berkaitan dengan proses harian "pembasuhan kaki" yang peenah kita sharing sebelumnya?



Apa arti memutus tali pusar? Siapa yang melakukan ini?

Memutus tali pusar dalam konteks spiritual yang dibagikan pp Djonny merupakan metafora dari pemutusan ketergantungan dan suplai kehidupan dari masa lalu (sistem dunia/Babel/rumah bapa lahiriah) agar manusia bisa menerima suplai kehidupan yang murni dari Tuhan.

​Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai arti dan pelakunya:

​1. Arti Memutus Tali Pusar secara Spiritual

​Secara biologis, tali pusar adalah saluran nutrisi dari ibu ke bayi. Secara rohani, ini melambangkan:

  • Pemutusan Suplai Nilai: Berhenti menyerap nilai-nilai, standar moral, dan cara berpikir yang datang dari "rahim" dunia atau tradisi keluarga yang tidak sesuai dengan Kebenaran.
  • Kemandirian Rohani: Transisi dari seorang "bayi rohani" yang hidupnya disetir oleh ekspektasi orang tua (seperti impian Terah untuk Abraham) menjadi "Manusia Kerajaan" yang dipandu langsung oleh Roh Kudus.
  • Penyucian dari Kontaminasi: Dalam Yehezkiel 16:4, Tuhan menegur Yerusalem karena "tali pusarmu tidak dipotong" dan "tidak dibasuh dengan air." Ini berarti Yerusalem masih membawa "bakteri" atau kecemaran dari asal-usul penyembahan berhala (Amori dan Heti).

​2. Siapa yang Melakukan Ini?

​Terdapat sinergi antara peran Tuhan dan Keputusan Manusia, namun secara operasional, ada dua pihak utama:

  • Pihak Orang Tua/Pembina Rohani (Orang Tua yang Bertanggung Jawab): Dalam video, pp Djonny mencontohkan Maria dan Yusuf. Mereka memastikan Yesus disunat pada hari kedelapan dan menjalani pentahiran. Ini adalah tindakan "memutus tali pusar" secara spiritual sejak dini—orang tua yang tidak memaksakan cita-cita pribadinya kepada anak, melainkan menyerahkan anak itu sepenuhnya kepada rencana Tuhan (seperti Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan).
  • Pihak Pribadi/Individu (Keputusan Iman): Bagi orang dewasa seperti Abraham atau kita saat ini, kitalah yang harus mengambil keputusan untuk "pergi".
    • ​Tuhan memberikan perintah (suara hati nurani/firman), tetapi manusia yang harus bertindak memutus ikatan emosional dan jiwani dengan sistem lama.
    • ​Seringkali, proses ini melibatkan hamba Tuhan (seperti Paulus menyunat Timotius) yang membantu kita memotong "kebergantungan" pada identitas lama agar kita sah menjadi anak iman di bawah rencana agung Tuhan.

​3. Mengapa Ini Penting?

​Jika tali pusar tidak dipotong:

  • ​Kita akan terus "terkontaminasi" oleh dosa keturunan atau pola pikir yang salah dari leluhur.
  • ​Kita tidak akan pernah bisa makan dari Pohon Kehidupan karena kita masih merasa kenyang dengan "suplai" dari sistem dunia.
  • ​Kita akan gagal masuk ke dalam takdir (destiny) yang Tuhan tetapkan, karena kita masih terikat pada "pusat" (sumber) yang salah.

Kesimpulannya:

Memutus tali pusar adalah tindakan pengudusan di mana kita secara sadar berkata: "Aku bukan lagi hasil bentukan duniaku atau ekspektasi keluargaku, aku adalah karya baru di dalam tangan Penciptaku."

​Ini adalah momen di mana kita berhenti menjadi "anak biologis" semata dan mulai menjadi "Anak Kebenaran" yang memiliki jalur suplai langsung dari Takhta Allah. Apakah Anda merasa dalam perjalanan hidup Anda, ada "ikatan tali pusar" tertentu yang terasa paling sulit untuk dilepaskan?




Postingan populer dari blog ini

Akar dari Krisis Spiritualitas Modern

Banyak orang salah memahami bahwa iman itu hanya soal sorga dan neraka. Pemikiran seperti itu hanyalah manifestasi dari buah Pengetahuan Baik dan Jahat . Padahal di Taman Eden ada hal yang jauh lebih utama, yakni Pohon Kehidupan yang justru diabaikan manusia (Adam dan Hawa). Memahami iman hanya sebagai "tiket ke sorga" atau "penghindar neraka" merupakan bentuk bineristik (hitam-putih) yang sangat khas dari Buah Pengetahuan Baik dan Jahat. Berikut adalah beberapa poin refleksi yang memperkuat pandangan ini: ​ 1. Jebakan Moralitas vs. Kehidupan ​Buah Pengetahuan Baik dan Jahat menciptakan sistem moralitas, sedangkan Pohon Kehidupan menawarkan vitalitas (kehidupan) Ilahi. ​ Sistem Moralitas (Babel): Fokus pada "Apa yang boleh dan tidak boleh?" atau "Bagaimana supaya selamat?". Ini adalah sistem transaksional yang berpusat pada diri sendiri (self-centered). Contoh lain yang gamblang adalah soal halal dan haram atau soal disunat dan tidak disunat...

Upper Room 34 - DR. Jonathan David

  25-01-2022   Anugerah Untuk Memerintah (GRACE TO GOVERN) Pendahuluan – oleh Ps. Cyrus Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Problemnya bukan pada kebutuhan tapi pada tanahnya. Jika tanahnya baik, benih akan tumbuh, sebab ada aliran air, karena ada benih yang cerdas yang telah diprogram (dengan pengertian dan hikmat). Kuasa dan kekuatan serta kasih karunia tersembunyi di dalam FT (logos) itu.   Tanah hanya memerlukan kondisi, tidak memerlukan edukasi oleh karena digerakkan oleh sesuatu (Firman dan Roh Kudus) dari dalam yang dipanggil terang Tuhan dan pribadi Tuhan sendiri (Yoh 1:1).   Mengapa tidak kita menerima firman-Nya dan perkataan-Nya dari pribadi Tuhan (YHWH) sendiri. Banyak orang yang suka mendengarkan khotbah yang baik, tapi Kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya tidak tertam...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Apa Maksudnya dengan CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS?

Kor 5:17        Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Ayat di atas menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Tapi benarkah demikian?   Dan yang lama sudah berlalu? Sebab kata ‘sesungguhnya’ menunjukkan kita belum bisa melihat yang baru itu. Mari kita telaah. Ef 4:24            dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. MANUSIA BARU kita telah   diciptakan menurut kehendak Allah SECARA SEMPURNA di dalam KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA yaitu DI DALAM KRITUS YESUS.   KEBENARAN DAN KEKUDUSAN INI TELAH TERUJI yaitu Yesus sendiri yang dalam rupa-Nya sebagai manusia – TELAH TERBUKTI SUDAH MENGALAHKAN DOSA DAN MAUT. Ef 2:10        ...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

YESUS INGATLAH AKAN AKU

KUASA DARI INGAT-INGATAN Kejadian 8:1 * Maka Allah mengingat  Nuh* dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun. Ada hal yang aneh dari ayat 1 di atas: Allah mengingat Nuh…. Bagaimana mungkin Allah bisa melupakan dan mengingat Nuh kembali?  Mustahil Allah bisa lupa. Bagaimana mungkin Tuhan melupakan keberadaan Nuh dan keluarganya tengah terombang-ambing dalam bahtera setelah  150 hari lamanya? Gbr:  Trinity Lutheran Church Tapi ayat ini memberitahukan kepada kita, bahwa Tuhan selalu mengingatkan diri-Nya sendiri. Tidak ada seorang pun bisa mengingatkan dan memberikan nasihat kepada Allah. Kejadian 8:21 *Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya:* "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan mem...

Mengelola Pikiran Dengan Benar (MKS#30)

"Manusia Kerajaan Sorga 30" yang dibawakan pada 15 Maret 2026, Pp. Djonny membagikan pesan mendalam mengenai peran krusial pikiran dalam menghubungkan iman dengan kebenaran Allah.  Beliau menekankan bahwa iman tanpa tindakan jiwa (pikiran) yang selaras akan menjadi "iman yang mati." Video lengkap: Ibadah JMD Bandung 15 Maret 2026 Berikut adalah poin-poin utama yang dibagikan dalam khotbah tersebut: 1. Pikiran sebagai Penentu Hidupnya Iman Pp. Djonny menjelaskan bahwa banyak orang mengalami "iman yang mati" karena adanya benturan dalam fungsi jiwa, khususnya pada pikiran. Beliau menekankan bahwa pikiran harus dikendalikan dan diselaraskan dengan ukuran iman agar rencana Allah dapat terwujud dalam hidup seseorang. 2. Teladan Abraham: Percaya di Tengah Kemustahilan Mengacu pada Kejadian 15:5-6, khotbah ini menyoroti bagaimana Abraham diperhitungkan benar karena ia percaya.  * Realita vs Iman: Secara logika (Kejadian 11:30), Sarah mandul dan steril, namun Abra...

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...

Duta-duta Kerajaan Sorga

KEWARGAAN SORGA (Php 3:20)   Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Nama kita tercatat di sorga. Kita harus bersuka-cita bukan karena hal-hal yang natural, bukan karena berkat atau rejeki nomplok, tapi kita bersuka-cita karena hal-hal yang dari sorga dan yang spiritual.