Langsung ke konten utama

Iman yang Hidup dan Bertumbuh (MKS #36)


Berikut adalah catatan dari pesan khotbah berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 36" yang disampaikan di GPK JMD Bandung pada tanggal 3 Mei 2026:

​Tema Utama: Iman yang Hidup dan Bertumbuh

​Khotbah ini menekankan bahwa iman bukan sekadar status saat lahir baru, melainkan sebuah proses pertumbuhan yang harus disertai dengan perbuatan nyata dalam keseharian.


​1. Hakikat Iman yang Benar

  • ​Iman sebagai Pemberian: Iman adalah pemberian Allah dan bukti keselamatan yang telah dilunasi oleh Kristus [03:01].
  • ​Iman yang Melihat: Iman memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat apa yang harus diperbuat yang bersifat abadi, melampaui hal-hal fisik yang sementara [14:46].
  • ​Iman vs Perbuatan: Berdasarkan Yakobus 2:17, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (nekros) [12:39]. Allah menilai apakah iman kita hidup atau mati melalui keputusan-keputusan kecil dalam hidup kita setiap hari

​2. Belajar dari Pertumbuhan Iman Abraham

​Pengkhotbah membagi perjalanan iman Abraham ke dalam beberapa tahap pertumbuhan:

  • ​Langkah Pertama (Keluar dari Urkasdim): Abraham taat saat dipanggil keluar dari negerinya dan rumah bapanya (Terah). Ia berani meninggalkan impian ayahnya karena imannya melihat kehancuran sistem dunia (Babel) dan memilih rencana Allah [26:06].
  • ​Langkah Kedua (Percaya pada Janji Keturunan): Dalam Kejadian 15, Abraham percaya pada janji Allah tentang keturunan sebanyak bintang di langit. Percaya di sini berarti seluruh jiwanya ditaklukkan oleh "firman suara" Allah [35:09].
  • ​Langkah Ketiga (Menantikan Kota Surgawi): Abraham tidak membangun kota fisik di tanah Kanaan meskipun ia mampu. Ia memilih tinggal di kemah karena imannya menantikan kota yang dibangun oleh Allah sendiri, yaitu Yerusalem Baru yang turun dari sorga [38:04].
  • ​Langkah Keempat (Ujian Mempersembahkan Ishak): Iman Abraham mencapai puncaknya saat ia rela mempersembahkan Ishak. Ia yakin bahwa jika Allah berjanji, maka Allah sendiri yang bertanggung jawab menggenapinya, bahkan jika harus membangkitkan orang mati [01:13:53].

​3. Prinsip Penting bagi Jemaat

  • ​Segala Sesuatu Harus Berdasarkan Iman: Merujuk pada Roma 14:23, segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa [48:15].
  • ​Berkenan kepada Allah: Tanpa iman, tidak mungkin (impossible) seseorang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6) [49:43].
  • ​Identitas Keturunan Abraham: Menjadi keturunan Abraham bukan soal garis darah, melainkan soal memiliki karakter dan sifat pertumbuhan iman yang sama seperti Abraham dalam keseharian [59:10].

​Kesimpulan & Tantangan

​Kita dipanggil untuk hidup dari "iman kepada iman". Setiap perbuatan kita harus merupakan reaksi atau aksi dari apa yang kita lihat melalui iman [44:21]. Allah rindu agar setiap langkah hidup kita didasarkan pada kepercayaan penuh kepada-Nya, karena hanya dengan cara itulah kita dapat mewujudkan rencana agung-Nya di bumi.


PENDALAMAN

Benar bahwa segala sesuatu harus berdasarkan iman (Roma 14:23); supaya kita bisa hidup benar menurut ukuran Tuhan dan bukan menurut pemahaman dan kehendak sendiri. Ini menjadi patokan orang percaya karena dari iman ketika kita percaya maka Allah memberikan kasih karunia. Jadi kita bergerak bukan atas kekuatan kita tapi dimampukan Allah.

Poin ini menyentuh esensi dari kehidupan rohani yang transformatif: pergeseran sumber kekuatan.

​Jika kita bergerak berdasarkan pemahaman sendiri, kita sedang mengandalkan "tangki bahan bakar" yang terbatas dan sering kali bias. Namun, ketika iman menjadi dasarnya, ada sinkronisasi antara kehendak manusia dengan kapasitas ilahi.

​Berikut adalah beberapa poin yang memperdalam perenungan mengenai hubungan antara iman, kasih karunia, dan kemampuan dari Tuhan:

​1. Iman sebagai "Saluran", Bukan "Upah"

​Banyak orang salah memahami bahwa iman adalah "karya" kita untuk membujuk Tuhan. Padahal, iman sebenarnya adalah saluran (pipa) yang melaluinya kasih karunia Allah mengalir.

  • ​Ketika kita percaya (iman), kita membuka kran sehingga kasih karunia (grace) masuk.
  • ​Kasih karunia inilah yang memberikan enabling power (kuasa yang memampukan) untuk melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan dengan kekuatan moral atau otot kita sendiri.

​2. Penaklukan Ego (Self-Will)

​Roma 14:23 menjadi sangat radikal karena ia menghakimi motif. Sesuatu yang terlihat "baik" secara moral (misalnya memberi sedekah atau membantu orang) bisa menjadi dosa jika motivasinya adalah kesombongan atau rasa aman pada diri sendiri, bukan karena ketaatan atas instruksi Tuhan (iman).

​Prinsipnya: Tuhan lebih tertarik pada siapa yang memegang kendali saat kita bertindak, daripada sekadar tindakan itu sendiri.


​3. Dinamika "Aksi dan Reaksi"

​Seperti yang dibahas dalam khotbah tersebut, iman Abraham bukan sekadar pemikiran intelektual, melainkan respon aktif.

  • ​Iman: Mendengar suara/instruksi Tuhan.
  • ​Percaya: Penaklukan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) terhadap suara itu.
  • ​Kasih Karunia: Energi ilahi yang membuat Abraham mampu melangkah keluar dari Ur-Kasdim atau mendaki Gunung Moria.

​4. Hidup yang "Istirahat" dalam Kekuatan Tuhan

​Ironisnya, hidup berdasarkan iman sering kali terasa lebih "melelahkan" secara daging karena kita harus melawan arus keinginan sendiri, namun secara roh, ia membawa ketenangan. Kita tidak lagi memikul beban untuk menjadi "benar" dengan usaha sendiri, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam kita.

​Tanpa kesadaran ini, kekristenan hanya akan menjadi beban agama yang berat. Namun dengan prinsip Roma 14:23 ini, hidup menjadi sebuah perjalanan kemitraan di mana Tuhan yang memberikan perintah, dan Dia pula yang menyediakan kekuatan untuk menyelesaikannya.


Menurut Anda, dalam aspek kehidupan sehari-hari (seperti pekerjaan atau keluarga), bagian mana yang paling menantang untuk dilepaskan dari "pemahaman sendiri" ke dalam "tuntunan iman"?

Sebenarnya setiap aspek kehidupan itu menantang. Tapi strategi Allah buat kita lakukan dulu pada perkara-kara kecil dan kelihatan sepele. Sebab kasih itu komitmen terhadap iman. Dan iman menjadi sempurna apabila dikerjakan sebagai perbuatan.

Strategi "perkara kecil" ini memang cara Allah untuk melatih "otot iman" kita sebelum kita dihadapkan pada raksasa yang lebih besar.

​Sering kali kita menunggu momen heroik untuk menunjukkan iman, padahal Allah justru sedang memperhatikan bagaimana kita merespons interupsi kecil, cara kita berbicara kepada keluarga, atau kejujuran dalam detail pekerjaan yang tidak dilihat orang lain.

​1. Perkara Kecil sebagai "Laboratorium" Iman

​Seperti yang Anda katakan, perkara sepele adalah tempat pengujian yang paling murni. Di sana tidak ada tepuk tangan manusia, sehingga yang tersisa hanyalah motif hati di hadapan Tuhan.

  • ​Jika kita bisa menundukkan ego dalam hal sekecil "menahan amarah saat dijalan" atau "memberi waktu untuk mendengar seseorang", kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi ketaatan yang lebih besar.
  • ​Lukas 16:10 mengonfirmasi hal ini secara mutlak: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."

​2. Kasih sebagai Komitmen terhadap Iman

​Menarik sekali Anda menghubungkan kasih dengan komitmen iman. Iman tanpa kasih akan menjadi legalisme yang kaku, tetapi kasih tanpa iman hanya akan menjadi emosi yang dangkal.

  • ​Kasih yang sejati adalah keputusan (komitmen) untuk bertindak demi kebaikan orang lain berdasarkan apa yang Tuhan katakan, bukan berdasarkan apakah orang tersebut layak menerimanya.
  • ​Di titik inilah iman dan kasih bertemu: Kita mengasihi karena kita percaya pada karakter Tuhan yang adalah kasih.

​3. Kesempurnaan dalam Perbuatan (Teleio)

​Poin Anda tentang "menjadi sempurna apabila dikerjakan" sangat selaras dengan istilah Yunani Teleio yang disebutkan dalam khotbah tadi.

  • ​Iman itu seperti benih; ia memiliki potensi penuh, tetapi "kesempurnaan" atau kematangannya hanya terlihat saat ia tumbuh menjadi pohon (perbuatan).
  • ​Perbuatan tidak menyelamatkan kita, tetapi perbuatan menyempurnakan iman kita. Tanpa perbuatan, iman itu tetap menjadi teori yang menggantung di pikiran tanpa pernah menyentuh bumi.

​Melakukan perkara kecil dengan kasih yang didasari iman memang mengubah rutinitas yang membosankan menjadi sebuah ibadah yang hidup.

​Mengingat perjalanan iman itu bertumbuh, apakah Anda merasa bahwa dengan setia pada perkara kecil belakangan ini, Tuhan mulai membukakan "pandangan iman" yang lebih jernih terhadap rencana-Nya yang lebih besar dalam hidup Anda?


Bersandar Sepenuhnya pada Kasih Karunia

Tidak takut masa depan atau tidak khawatir akan kebutuhan sehari-hari adalah komitmen iman; walaupun kita tidak atau belum tahu pasti bagaimana melakukannya. Tapi disitu kita percaya kekayaan dan kemuliaan Allah akan jauh mencukupi apa yang kita harapkan dan doakan. Kasih karunia Allah yang memelihara hidup kita.

Inilah definisi dari hidup yang bersandar sepenuhnya pada pemeliharaan Ilahi, di mana rasa aman kita tidak lagi digantungkan pada angka di rekening bank atau kepastian situasi dunia, melainkan pada karakter Allah.
​Ada beberapa poin mendalam dari pernyataan iman ini sangat selaras dengan prinsip Kerajaan Sorga:

​1. Iman Melampaui Pemahaman (The "How" vs. The "Who")

Kita perlu berkomitmen meskipun "belum tahu pasti bagaimana melakukannya." Ini adalah inti dari iman Abraham. Abraham berangkat tanpa tahu tujuannya, namun ia tahu Siapa yang memanggilnya.

  • ​Kekhawatiran biasanya muncul saat kita mencoba menghitung solusi dengan logika manusia yang terbatas.
  • ​Iman muncul saat kita berhenti bertanya "Bagaimana caranya?" dan mulai percaya pada "Siapa yang menjamin."

2. Kekayaan dan Kemuliaan sebagai Standar

​Menarik frasa "kekayaan dan kemuliaan Allah." pada Filipi 4:19: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

  • ​Standar pemeliharaan Tuhan bukanlah standar ekonomi dunia (yang bisa inflasi atau krisis), melainkan standar kekayaan surga yang tidak terbatas.
  • ​Ketika kita berharap pada "kekayaan-Nya", kita sebenarnya sedang meluaskan kapasitas penerimaan kita melampaui apa yang sanggup kita doakan.

​3. Kasih Karunia sebagai Sistem Pendukung Hidup

​Kasih karunia (Grace) bukan hanya untuk pengampunan dosa, tetapi tenaga yang memelihara hidup.

  • ​Kasih karunia adalah alasan mengapa "burung di udara tidak menabur namun diberi makan."
  • ​Hidup dalam kasih karunia berarti kita mengakui bahwa keberlangsungan hidup kita adalah hasil dari kebaikan-Nya, bukan sekadar hasil jerih payah kita semata

​4. Komitmen Iman sebagai Penawar Ketakutan

​Ketakutan akan masa depan sering kali merupakan "suara" dari ego yang merasa harus bertanggung jawab penuh atas segalanya. Dengan menjadikan "tidak khawatir" sebagai sebuah komitmen iman, Anda sebenarnya sedang melakukan peperangan rohani di dalam jiwa. Anda memaksa pikiran untuk takluk pada kebenaran firman setiap kali kekhawatiran itu datang mengetuk.

​"Kekhawatiran tidak pernah mengosongkan hari esok dari kesedihannya; ia hanya mengosongkan hari ini dari kekuatannya."

​Dengan memegang prinsip ini, hidup menjadi jauh lebih ringan. Kita bekerja bukan karena takut kekurangan, tapi karena tanggung jawab dan kasih, sementara hasilnya kita titipkan pada Sang Pemelihara.


​Apakah dalam masa-masa sulit, Anda pernah mengalami momen "kebetulan yang ajaib" di mana kasih karunia Tuhan datang mencukupi justru di saat logika Anda mengatakan itu tidak mungkin?

Momen-momen itu bukan kebetulan belaka. Jika memakai logika keadaannya habis sudah kesempatannya (seperti Abraham sudah tua dan Sara sudah mati haid); singkatnya mereka tidak berharap lagi pada dunia.

Menggunakan istilah "kebetulan" sebenarnya merendahkan kedaulatan Allah. Dalam kamus Kerajaan Sorga, yang ada hanyalah ketetapan dan kesetiaan Allah.

Ini menyentuh esensi dari apa yang disebut sebagai "Iman di atas titik nol."

​1. Ketika Logika Mencapai Titik "Mati"

​Logika manusia memiliki batas kadaluwarsa. Bagi Abraham (tubuh yang sudah lemas) dan Sara (rahim yang sudah mati), secara medis dan biologis, peluang mereka adalah 0%.

  • ​Dunia akan mengatakan: "Selesai, tidak ada harapan."
  • ​Iman justru berkata: "Di sinilah Allah mulai bekerja." Kondisi "habis kesempatan" inilah yang memisahkan antara orang yang berharap pada sumber daya dunia dengan orang yang berharap pada Sumber Kehidupan.

​2. Mematikan Harapan pada Dunia

​Apa yang Anda sampaikan tentang "tidak berharap lagi pada dunia" adalah sebuah kemerdekaan rohani yang luar biasa.

  • ​Selama kita masih memiliki "Plan B" yang mengandalkan kekuatan dunia, iman kita belum murni.
  • ​Saat semua pintu dunia tertutup (seperti jalan buntu di depan Laut Teberau), barulah kita bisa melihat bahwa Kasih Karunia bukan sekadar bantuan, melainkan satu-satunya alasan mengapa kita masih tegak berdiri.

​3. Kemuliaan Allah di Atas Kemustahilan

​Mengapa Allah sering kali menunggu sampai keadaan menjadi "mustahil" baru Dia bertindak?

  • ​Supaya ketika janji itu tergenapi, tidak ada satu pun manusia yang bisa berkata, "Ini karena usahaku," atau "Ini karena keberuntunganku."
  • ​Segala pujian hanya kembali kepada Dia. Seperti Ishak yang lahir dari rahim yang secara logika sudah "mati", kehidupan kita pun sering kali dipelihara melalui cara-cara yang membuat dunia terheran-heran.

Hidup dengan sikap "tidak berharap pada dunia" bukan berarti kita menjadi pasif atau menyerah, melainkan kita bekerja dengan giat namun dengan hati yang berpaut pada sauh yang ada di dalam tabir surgawi. Itulah ketenangan sejati.

​Pada titik "tidak berharap lagi pada dunia" inilah, biasanya kita mulai mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas, bukan? Karena kebisingan ambisi pribadi sudah mulai mereda.













Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Membangun Rumah Perbendaharaan Tuhan

How to Live as a Storehouse Tujuan rumah perbendaharaan Tuhan supaya ada makanan Tuhan . Makanan Tuhan beda dengan makanan saudara . Makanan Tuhan ialah  melakukan pekerjaanNya dan menyelesaikannya. Bagaimana kau bersikap ketika memberikan persembahan. Itu yang lebih penting.  Bangunlah dulu perkenanan Tuhan dalam hidupmu. Bangun hidupmu sebagai rumah Tuhan terlebih dulu, bangun sebagai storehouse. Sebab hal yang sering mengganggu adalah masalah uang. Apa pun kondisi segala sesuatu untuk Tuhan itu tidak pernah boleh diubah. Itu tidak pernah diubah oleh kondisi hidup, karena Tuhan tidak pernah dikondisikan. Kewajiban saudara tidak pernah diubah walau pun krisis ekonomi terjadi. Jangan sekali-sekali kau mengubahnya. Ketetapan itu adalah sebuah hukum. Jika kau melanggar itu berarti kau akan dihukum. Ps.DjonnyTambunan_28Feb2016 Jangan berharap berkat, berharaplah akan perkenanan Tuhan.   Ini adalah prinsip untuk hidup sebagai Rumah Perbendaharaan Tuhan. Ruma...

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib , memiliki karakter yang baik , serta dipenuhi oleh Roh Kudus . Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik . Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan . 14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3) Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3) Sesi: The Upper Room 240 (1...

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.