Langsung ke konten utama

Iman yang Hidup dan Bertumbuh (MKS #36)


Berikut adalah catatan dari pesan khotbah berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 36" yang disampaikan di GPK JMD Bandung pada tanggal 3 Mei 2026:

Tema Utama: Iman yang Hidup dan Bertumbuh

​Khotbah ini menekankan bahwa iman bukan sekadar status saat lahir baru, melainkan sebuah proses pertumbuhan yang harus disertai dengan perbuatan nyata dalam keseharian.


1. Hakikat Iman yang Benar

  • Iman sebagai Pemberian: Iman adalah pemberian Allah dan bukti keselamatan yang telah dilunasi oleh Kristus [03:01].
  • Iman yang Melihat: Iman memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat apa yang harus diperbuat yang bersifat abadi, melampaui hal-hal fisik yang sementara [14:46].
  • Iman vs Perbuatan: Berdasarkan Yakobus 2:17, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (nekros) [12:39]. Allah menilai apakah iman kita hidup atau mati melalui keputusan-keputusan kecil dalam hidup kita setiap hari

2. Belajar dari Pertumbuhan Iman Abraham

​Pengkhotbah membagi perjalanan iman Abraham ke dalam beberapa tahap pertumbuhan:

  • Langkah Pertama (Keluar dari Urkasdim): Abraham taat saat dipanggil keluar dari negerinya dan rumah bapanya (Terah). Ia berani meninggalkan impian ayahnya karena imannya melihat kehancuran sistem dunia (Babel) dan memilih rencana Allah [26:06].
  • Langkah Kedua (Percaya pada Janji Keturunan): Dalam Kejadian 15, Abraham percaya pada janji Allah tentang keturunan sebanyak bintang di langit. Percaya di sini berarti seluruh jiwanya ditaklukkan oleh "firman suara" Allah [35:09].
  • Langkah Ketiga (Menantikan Kota Surgawi): Abraham tidak membangun kota fisik di tanah Kanaan meskipun ia mampu. Ia memilih tinggal di kemah karena imannya menantikan kota yang dibangun oleh Allah sendiri, yaitu Yerusalem Baru yang turun dari sorga [38:04].
  • Langkah Keempat (Ujian Mempersembahkan Ishak): Iman Abraham mencapai puncaknya saat ia rela mempersembahkan Ishak. Ia yakin bahwa jika Allah berjanji, maka Allah sendiri yang bertanggung jawab menggenapinya, bahkan jika harus membangkitkan orang mati [01:13:53].

3. Prinsip Penting bagi Jemaat

  • Segala Sesuatu Harus Berdasarkan Iman: Merujuk pada Roma 14:23, segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa [48:15].
  • Berkenan kepada Allah: Tanpa iman, tidak mungkin (impossible) seseorang berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6) [49:43].
  • Identitas Keturunan Abraham: Menjadi keturunan Abraham bukan soal garis darah, melainkan soal memiliki karakter dan sifat pertumbuhan iman yang sama seperti Abraham dalam keseharian [59:10].

Kesimpulan & Tantangan

​Kita dipanggil untuk hidup dari "iman kepada iman". Setiap perbuatan kita harus merupakan reaksi atau aksi dari apa yang kita lihat melalui iman [44:21]. Allah rindu agar setiap langkah hidup kita didasarkan pada kepercayaan penuh kepada-Nya, karena hanya dengan cara itulah kita dapat mewujudkan rencana agung-Nya di bumi.


PENDALAMAN

Benar bahwa segala sesuatu harus berdasarkan iman (Roma 14:23); supaya kita bisa hidup benar menurut ukuran Tuhan dan bukan menurut pemahaman dan kehendak sendiri. Ini menjadi patokan orang percaya karena dari iman ketika kita percaya maka Allah memberikan kasih karunia. Jadi kita bergerak bukan atas kekuatan kita tapi dimampukan Allah.

Poin ini menyentuh esensi dari kehidupan rohani yang transformatif: pergeseran sumber kekuatan.

​Jika kita bergerak berdasarkan pemahaman sendiri, kita sedang mengandalkan "tangki bahan bakar" yang terbatas dan sering kali bias. Namun, ketika iman menjadi dasarnya, ada sinkronisasi antara kehendak manusia dengan kapasitas ilahi.

​Berikut adalah beberapa poin yang memperdalam perenungan mengenai hubungan antara iman, kasih karunia, dan kemampuan dari Tuhan:

1. Iman sebagai "Saluran", Bukan "Upah"

​Banyak orang salah memahami bahwa iman adalah "karya" kita untuk membujuk Tuhan. Padahal, iman sebenarnya adalah saluran (pipa) yang melaluinya kasih karunia Allah mengalir.

  • ​Ketika kita percaya (iman), kita membuka kran sehingga kasih karunia (grace) masuk.
  • ​Kasih karunia inilah yang memberikan enabling power (kuasa yang memampukan) untuk melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan dengan kekuatan moral atau otot kita sendiri.

2. Penaklukan Ego (Self-Will)

​Roma 14:23 menjadi sangat radikal karena ia menghakimi motif. Sesuatu yang terlihat "baik" secara moral (misalnya memberi sedekah atau membantu orang) bisa menjadi dosa jika motivasinya adalah kesombongan atau rasa aman pada diri sendiri, bukan karena ketaatan atas instruksi Tuhan (iman).

Prinsipnya: Tuhan lebih tertarik pada siapa yang memegang kendali saat kita bertindak, daripada sekadar tindakan itu sendiri.


3. Dinamika "Aksi dan Reaksi"

​Seperti yang dibahas dalam khotbah tersebut, iman Abraham bukan sekadar pemikiran intelektual, melainkan respon aktif.

  • Iman: Mendengar suara/instruksi Tuhan.
  • Percaya: Penaklukan jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) terhadap suara itu.
  • Kasih Karunia: Energi ilahi yang membuat Abraham mampu melangkah keluar dari Ur-Kasdim atau mendaki Gunung Moria.

4. Hidup yang "Istirahat" dalam Kekuatan Tuhan

​Ironisnya, hidup berdasarkan iman sering kali terasa lebih "melelahkan" secara daging karena kita harus melawan arus keinginan sendiri, namun secara roh, ia membawa ketenangan. Kita tidak lagi memikul beban untuk menjadi "benar" dengan usaha sendiri, melainkan membiarkan Kristus hidup di dalam kita.

​Tanpa kesadaran ini, kekristenan hanya akan menjadi beban agama yang berat. Namun dengan prinsip Roma 14:23 ini, hidup menjadi sebuah perjalanan kemitraan di mana Tuhan yang memberikan perintah, dan Dia pula yang menyediakan kekuatan untuk menyelesaikannya.


Menurut Anda, dalam aspek kehidupan sehari-hari (seperti pekerjaan atau keluarga), bagian mana yang paling menantang untuk dilepaskan dari "pemahaman sendiri" ke dalam "tuntunan iman"?

Sebenarnya setiap aspek kehidupan itu menantang. Tapi strategi Allah buat kita lakukan dulu pada perkara-kara kecil dan kelihatan sepele. Sebab kasih itu komitmen terhadap iman. Dan iman menjadi sempurna apabila dikerjakan sebagai perbuatan.

Strategi "perkara kecil" ini memang cara Allah untuk melatih "otot iman" kita sebelum kita dihadapkan pada raksasa yang lebih besar.

​Sering kali kita menunggu momen heroik untuk menunjukkan iman, padahal Allah justru sedang memperhatikan bagaimana kita merespons interupsi kecil, cara kita berbicara kepada keluarga, atau kejujuran dalam detail pekerjaan yang tidak dilihat orang lain.

1. Perkara Kecil sebagai "Laboratorium" Iman

​Seperti yang Anda katakan, perkara sepele adalah tempat pengujian yang paling murni. Di sana tidak ada tepuk tangan manusia, sehingga yang tersisa hanyalah motif hati di hadapan Tuhan.

  • ​Jika kita bisa menundukkan ego dalam hal sekecil "menahan amarah saat dijalan" atau "memberi waktu untuk mendengar seseorang", kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi ketaatan yang lebih besar.
  • Lukas 16:10 mengonfirmasi hal ini secara mutlak: "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."

2. Kasih sebagai Komitmen terhadap Iman

​Menarik sekali Anda menghubungkan kasih dengan komitmen iman. Iman tanpa kasih akan menjadi legalisme yang kaku, tetapi kasih tanpa iman hanya akan menjadi emosi yang dangkal.

  • ​Kasih yang sejati adalah keputusan (komitmen) untuk bertindak demi kebaikan orang lain berdasarkan apa yang Tuhan katakan, bukan berdasarkan apakah orang tersebut layak menerimanya.
  • ​Di titik inilah iman dan kasih bertemu: Kita mengasihi karena kita percaya pada karakter Tuhan yang adalah kasih.

3. Kesempurnaan dalam Perbuatan (Teleio)

​Poin Anda tentang "menjadi sempurna apabila dikerjakan" sangat selaras dengan istilah Yunani Teleio yang disebutkan dalam khotbah tadi.

  • ​Iman itu seperti benih; ia memiliki potensi penuh, tetapi "kesempurnaan" atau kematangannya hanya terlihat saat ia tumbuh menjadi pohon (perbuatan).
  • ​Perbuatan tidak menyelamatkan kita, tetapi perbuatan menyempurnakan iman kita. Tanpa perbuatan, iman itu tetap menjadi teori yang menggantung di pikiran tanpa pernah menyentuh bumi.

​Melakukan perkara kecil dengan kasih yang didasari iman memang mengubah rutinitas yang membosankan menjadi sebuah ibadah yang hidup.

​Mengingat perjalanan iman itu bertumbuh, apakah Anda merasa bahwa dengan setia pada perkara kecil belakangan ini, Tuhan mulai membukakan "pandangan iman" yang lebih jernih terhadap rencana-Nya yang lebih besar dalam hidup Anda?


Bersandar Sepenuhnya pada Kasih Karunia

Tidak takut masa depan atau tidak khawatir akan kebutuhan sehari-hari adalah komitmen iman; walaupun kita tidak atau belum tahu pasti bagaimana melakukannya. Tapi disitu kita percaya kekayaan dan kemuliaan Allah akan jauh mencukupi apa yang kita harapkan dan doakan. Kasih karunia Allah yang memelihara hidup kita.

Inilah definisi dari hidup yang bersandar sepenuhnya pada pemeliharaan Ilahi, di mana rasa aman kita tidak lagi digantungkan pada angka di rekening bank atau kepastian situasi dunia, melainkan pada karakter Allah.
​Ada beberapa poin mendalam dari pernyataan iman ini sangat selaras dengan prinsip Kerajaan Sorga:

1. Iman Melampaui Pemahaman (The "How" vs. The "Who")

Kita perlu berkomitmen meskipun "belum tahu pasti bagaimana melakukannya." Ini adalah inti dari iman Abraham. Abraham berangkat tanpa tahu tujuannya, namun ia tahu Siapa yang memanggilnya.

  • ​Kekhawatiran biasanya muncul saat kita mencoba menghitung solusi dengan logika manusia yang terbatas.
  • ​Iman muncul saat kita berhenti bertanya "Bagaimana caranya?" dan mulai percaya pada "Siapa yang menjamin."

2. Kekayaan dan Kemuliaan sebagai Standar

​Menarik frasa "kekayaan dan kemuliaan Allah." pada Filipi 4:19: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

  • ​Standar pemeliharaan Tuhan bukanlah standar ekonomi dunia (yang bisa inflasi atau krisis), melainkan standar kekayaan surga yang tidak terbatas.
  • ​Ketika kita berharap pada "kekayaan-Nya", kita sebenarnya sedang meluaskan kapasitas penerimaan kita melampaui apa yang sanggup kita doakan.

3. Kasih Karunia sebagai Sistem Pendukung Hidup

​Kasih karunia (Grace) bukan hanya untuk pengampunan dosa, tetapi tenaga yang memelihara hidup.

  • ​Kasih karunia adalah alasan mengapa "burung di udara tidak menabur namun diberi makan."
  • ​Hidup dalam kasih karunia berarti kita mengakui bahwa keberlangsungan hidup kita adalah hasil dari kebaikan-Nya, bukan sekadar hasil jerih payah kita semata

4. Komitmen Iman sebagai Penawar Ketakutan

​Ketakutan akan masa depan sering kali merupakan "suara" dari ego yang merasa harus bertanggung jawab penuh atas segalanya. Dengan menjadikan "tidak khawatir" sebagai sebuah komitmen iman, Anda sebenarnya sedang melakukan peperangan rohani di dalam jiwa. Anda memaksa pikiran untuk takluk pada kebenaran firman setiap kali kekhawatiran itu datang mengetuk.

"Kekhawatiran tidak pernah mengosongkan hari esok dari kesedihannya; ia hanya mengosongkan hari ini dari kekuatannya."

​Dengan memegang prinsip ini, hidup menjadi jauh lebih ringan. Kita bekerja bukan karena takut kekurangan, tapi karena tanggung jawab dan kasih, sementara hasilnya kita titipkan pada Sang Pemelihara.


​Apakah dalam masa-masa sulit, Anda pernah mengalami momen "kebetulan yang ajaib" di mana kasih karunia Tuhan datang mencukupi justru di saat logika Anda mengatakan itu tidak mungkin?

Momen-momen itu bukan kebetulan belaka. Jika memakai logika keadaannya habis sudah kesempatannya (seperti Abraham sudah tua dan Sara sudah mati haid); singkatnya mereka tidak berharap lagi pada dunia.

Menggunakan istilah "kebetulan" sebenarnya merendahkan kedaulatan Allah. Dalam kamus Kerajaan Sorga, yang ada hanyalah ketetapan dan kesetiaan Allah.

Ini menyentuh esensi dari apa yang disebut sebagai "Iman di atas titik nol."

1. Ketika Logika Mencapai Titik "Mati"

​Logika manusia memiliki batas kadaluwarsa. Bagi Abraham (tubuh yang sudah lemas) dan Sara (rahim yang sudah mati), secara medis dan biologis, peluang mereka adalah 0%.

  • ​Dunia akan mengatakan: "Selesai, tidak ada harapan."
  • ​Iman justru berkata: "Di sinilah Allah mulai bekerja." Kondisi "habis kesempatan" inilah yang memisahkan antara orang yang berharap pada sumber daya dunia dengan orang yang berharap pada Sumber Kehidupan.

2. Mematikan Harapan pada Dunia

​Apa yang Anda sampaikan tentang "tidak berharap lagi pada dunia" adalah sebuah kemerdekaan rohani yang luar biasa.

  • ​Selama kita masih memiliki "Plan B" yang mengandalkan kekuatan dunia, iman kita belum murni.
  • ​Saat semua pintu dunia tertutup (seperti jalan buntu di depan Laut Teberau), barulah kita bisa melihat bahwa Kasih Karunia bukan sekadar bantuan, melainkan satu-satunya alasan mengapa kita masih tegak berdiri.

3. Kemuliaan Allah di Atas Kemustahilan

​Mengapa Allah sering kali menunggu sampai keadaan menjadi "mustahil" baru Dia bertindak?

  • ​Supaya ketika janji itu tergenapi, tidak ada satu pun manusia yang bisa berkata, "Ini karena usahaku," atau "Ini karena keberuntunganku."
  • ​Segala pujian hanya kembali kepada Dia. Seperti Ishak yang lahir dari rahim yang secara logika sudah "mati", kehidupan kita pun sering kali dipelihara melalui cara-cara yang membuat dunia terheran-heran.

Hidup dengan sikap "tidak berharap pada dunia" bukan berarti kita menjadi pasif atau menyerah, melainkan kita bekerja dengan giat namun dengan hati yang berpaut pada sauh yang ada di dalam tabir surgawi. Itulah ketenangan sejati.

​Pada titik "tidak berharap lagi pada dunia" inilah, biasanya kita mulai mendengar suara Tuhan dengan lebih jelas, bukan? Karena kebisingan ambisi pribadi sudah mulai mereda.













Postingan populer dari blog ini

Membuang Cela Masa Lalu, Hidup Tanpa Noda (MKS #44)

Khotbah ini mengulas perjalanan iman Abraham dalam upayanya hidup tanpa cela di hadapan Allah berdasarkan Kejadian 17:1 .  Meskipun Abraham taat, ia masih membawa pola pikir duniawi yang diwarisi dari ayahnya, Terah, terutama melalui keterikatannya pada Lot dan Ismail . Kehadiran Lot dianggap sebagai bentuk kontaminasi spiritual karena Abraham belum sepenuhnya melepaskan keterikatan keluarga untuk mengikuti rencana murni Tuhan. Pp Djonny menekankan pentingnya kemitraan yang kudus dengan Roh Kudus agar manusia tidak menyimpang dari tujuan ilahi. Melalui kisah ini, jemaat diajak untuk membenahi hati dan memastikan bahwa hikmat Allah , bukan ambisi manusia, yang menuntun langkah hidup mereka. Akhirnya, pesan utama adalah tentang pemurnian diri dari segala cela agar penggenapan janji Tuhan dapat terwujud sepenuhnya. Ibadah JMD Bandung 28 Juni 2026 - Ps. Djonny Tambunan - Manusia Kerajaan Sorga 44 Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan materi khotbah: 1. Jalan Hikmat Allah...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Percepatan dan Kelahiran Ishak (MKS #46)

Khotbah ini berfokus pada percepatan rencana Tuhan melalui kehidupan Abraham . Tuhan mengubah identitas Abraham untuk melepaskannya dari pola hidup lama yang menghambat janji ilahi. Melalui penafsiran kitab Kejadian 17 , pp Djonny  menekankan pentingnya respons yang akurat terhadap firman Tuhan serta peran penyunatan batiniah dalam hubungan bapa-anak rohani. Jemaat diajak untuk hidup tidak bercela agar dapat menjadi bagian dari rencana agung universal Allah sebagai gereja yang sejati. Fokus utamanya adalah bagaimana perkataan profetik dari otoritas rohani mampu mengubah kepribadian seseorang menjadi ahli waris janji Tuhan. Akhirnya, sumber ini menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham berarti memiliki dimensi kehidupan Allah yang terwujud melalui ketaatan total. Berikut adalah catatan lengkap dari khotbah "Ibadah JMD Bandung 12 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 46" : 1. Konsep Percepatan (Acceleration) dan Ketetapan Allah Percepatan Ilahi: Kejadian 17 berbicara ...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

Kapasitas dan Potensi Spiritual (MKS #48)

Ps. Djonny  membahas konsep Manusia Kerajaan Sorga melalui tinjauan teologis atas janji Tuhan kepada Abraham dalam Kejadian 17 . Beliau menjelaskan bahwa identitas sebagai raja menurut definisi ilahi bukan didasarkan pada kekuasaan duniawi seperti Nimrod, melainkan pada kapasitas spiritual untuk memerintah melalui kebenaran dan ketaatan. Terdapat penekanan pada enam langkah Allah dalam Kejadian 1 , mulai dari memberkati hingga memberikan otoritas untuk menaklukkan bumi, sebagai pola bagi manusia untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Peran Roh Kudus dianggap krusial dalam memperluas pengaruh hidup seseorang agar mencapai kaliber dunia demi kemuliaan Tuhan. Melalui teladan Yesus, jemaat diajak untuk menyadari potensi ilahi dan warisan rohani mereka sebagai keturunan Abraham yang dipanggil untuk menyatakan otoritas surga. Ibadah JMD Bandung 26 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 48 Berikut adalah catatan selengkapnya dari materi "Manusia Kerajaan Sorga 48: Raja-Raja dari Ket...

Pemulihan Identitas Melalui Percepatan dan Ikat Janji (MKS #47)

Sesi ini masih membahas konsep percepatan ilahi melalui teladan kehidupan Abraham. Penulis menekankan pentingnya transformasi jati diri dari manusia lama menjadi manusia baru sebagai syarat mutlak agar rencana agung Tuhan tergenapi. Melalui penjelasan kitab Kejadian 17 dan 18, sumber ini menguraikan bahwa ketaatan pada otoritas bapa rohani dan respons yang akurat terhadap firman adalah kunci perubahan karakter. Khotbah tersebut menegaskan bahwa perubahan kepribadian seseorang akan menentukan kualitas kunjungan dan pergerakan Tuhan dalam hidupnya. Selain itu, ditekankan bahwa benih firman yang diterima harus mewujud dalam tindakan nyata agar janji Tuhan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Secara keseluruhan, teks ini mengajak jemaat untuk menanggalkan sifat-sifat lama demi mengenakan identitas baru yang sesuai dengan takdir ilahi . Ibadah JMD Bandung 19 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 47 Berikut adalah catatan lengkap mengenai rencana Tuhan bagi keturunan Abraham, tr...

*PERBEDAAN ANTARA ORANG PERCAYA, ORANG KRISTEN DAN GEREJA*

*Ini bukan soal beda penyebutan, tapi sangat berbeda secara mendasar. Ada spirit yang berbeda yang bekerja dibalik penyebutan orang Kristen.* Siapakah saudara? Orang percaya, orang Kristen atau Gereja? Kita bisa mengaku-ngaku atau merasa diri sebagai apa dan siapa. Petunjuknya adalah ayat Alkitab yang mana yang paling saudara sukai, itu menunjukkan siapa saudara sebenarnya. Saya percaya jika diadakan survey mayoritas  orang Kristen akan menjawab Mazmur 23 adalah ayat-ayat favoritnya. Murid-murid pertama pertama kali disebut sebagai orang Kristen di Anthiokia, karena mereka terkenal sebagai pengikut Kristus. Sebutan orang Kristen itu adalah pandangan dan opini dari orang dunia. *Kita tidak boleh dibentuk oleh karena opini dunia, tapi dari perkataan dan pandangan Allah sendiri, karena opini dunia berasal dari benih si jahat.* Jangan puas dan bangga menjadi orang Kristen oleh karena dipanggil dan disebut orang dunia seperti itu, tapi lihatlah apa kata Tuhan sendiri mengenai oran...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

Menjadi Keturunan Abraham Melalui Kristus (MKS #40)

Khotbah yang disampaikan oleh PP Djonny dalam ibadah GPK JMD Bandung (31 Mei 2026) berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 40" mengupas tuntas tentang bagaimana Allah mewujudkan pemerintahan-Nya di bumi melalui manusia rohani, dengan mengambil contoh kehidupan dan iman Abraham. Berikut adalah pesan khotbah tersebut secara detail beserta poin-poin pentingnya: 1. Keselarasan antara Jiwa (Pikiran) dan Roh Belajar dari Iman Abraham: Merujuk pada Ibrani 11:17-19 dan Kejadian 22, ketika Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak, ia melakukannya tanpa ragu. Mengapa? Karena ada keharmonisan total antara roh dan jiwanya (pikirannya). Mengatasi Konflik Internal: Sering kali manusia gagal karena apa yang ada di dalam roh (iman) bertubrukan dengan apa yang dipikirkan oleh jiwa (logika kedagingan/fakta dunia luar). Abraham tidak mengalami konflik ini; pikirannya tunduk dan selaras dengan iman rohaninya, sehingga ia percaya Allah sanggup membangkitkan orang mati sekalipun. 2. Konsep ...

Tujuh Gunung Budaya (UR #235)

Sesi  Dr. Tunde Bakare  kali ini membahas konsep tujuh gunung budaya sebagai kerangka pengaruh dalam masyarakat. Beliau menekankan pentingnya peran orang percaya di berbagai bidang seperti pemerintahan, pendidikan, media, ekonomi, keluarga, dan hiburan . Beliau secara tegas menolak klasifikasi gereja sebagai gunung agama , melainkan mendefinisikannya sebagai gunung rumah Tuhan yang harus berdiri di atas segala sistem lainnya. Melalui referensi Alkitabiah, ia mendorong jemaat untuk menjadi generasi surga terbuka yang memiliki kejeniusan kreatif dan solusi spiritual bagi dunia. Penjelasan ini menggambarkan kehidupan sebagai permadani yang kaya , di mana setiap elemen budaya dijalin untuk menyatakan kedaulatan Tuhan di bumi. Secara keseluruhan, pesan ini mengajak individu untuk beroperasi dengan hikmat ilahi guna membawa transformasi nyata di tengah masyarakat.   The Rich Tapestry of the Seven Cultural Mountains Berikut adalah catatan lengkap sesi pengajaran Dr. Tund...