Langsung ke konten utama

Intervensi Ego dan Eksekusi Iman

Kejadian 15:5-6 (TB)  Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.  
Tuhan telah berjanji kepada Abram, bahwa dia akan menjadi bapa bagi sejumlah bangsa yang tak terhitung banyaknya seperti banyaknya bintang-bintang di langit. Tapi setelah diyakinkan Tuhan dan menjadi percaya dan bahkan telah diperhitungkan sebagai kebenaran, Abram seolah lupa pada janji Tuhan. Di masa penantian itu ia mendengarkan perkataan Sarai.


Kejadian 16:2-3 (TB) Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.
Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan —, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.
Abraham baru mendapatkan Ishak diusia 100 tahun dan Sarai 90 tahun. Tapi ia sempat melahirkan Ismail dari Hagar di usia 85 tahun. Pada masa ia diperlihatkan bintang-bintang sampai 99 tahun itu masa "uji beban" bagi Abram. Apakah berarti Abraham telah gagal pada ujian itu?

Mari kita lihat secara mendalam apakah Ishmael adalah bentuk "kegagalan" atau bagian dari proses pembentukan pondasi iman Abraham.

​1. Masa Uji Beban (The Long Stress Test)

​Rentang waktu dari usia 75 tahun (panggilan keluar) hingga 100 tahun (lahir Ishak) adalah masa Uji Beban Ekstrem selama 25 tahun.

  • Kejadian 12 (Usia 75): Modal iman disetor Tuhan.
  • Kejadian 15 (Sekitar Usia 80-an): Cek ditulis (Abram percaya).
  • Kejadian 16 (Usia 85-86): Angin sakal mulai terasa sangat kencang. Tubuh makin lemah, Sara tetap mandul.

​2. Apakah Abraham Gagal Saat Menghasilkan Ishmael?

​Secara teknis kemitraan, peristiwa Hagar dan Ishmael sering disebut sebagai "Usaha Daging" (Galatia 4:22-23). Abraham tidak gagal dalam arti "kontrak dibatalkan", tetapi ia mengalami "deviasi atau penyimpangan prosedur".

  • Mencoba Menolong Tuhan: Abraham dan Sara mencoba mencairkan janji Tuhan menggunakan "bank duniawi" (adat istiadat saat itu tentang pelayan yang melahirkan anak bagi tuannya).
  • Akibatnya: Munculnya Ishmael bukan berarti rencana Tuhan gagal, tetapi itu menciptakan beban tambahan (konflik domestik dan sejarah) karena bukan itu yang tertulis dalam "proyek orisinal" Tuhan.

​Tuhan membiarkan Abraham menunggu 13 tahun lagi (dari usia 86 sampai 99 tahun) dalam kesunyian—di mana Alkitab tidak mencatat ada firman Tuhan selama masa itu—untuk memastikan bahwa ketika Ishak lahir, itu murni karena Kasih Karunia, bukan karena kemampuan biologis Abraham yang sudah benar-benar mati.

​3. Pemulihan Integritas di Usia 99 Tahun

​Pada Kejadian 17 (usia 99), Tuhan muncul kembali dan berkata: "Akulah Allah Yang Mahakuasa; hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela."

​Ini adalah momen reset integritas. Tuhan menegaskan kembali bahwa:

  • Janji tetap teguh: Meskipun Abraham sempat "salah prosedur" dengan Hagar, Tuhan tidak menarik modal-Nya.
  • Perubahan Nama: Abram (Bapak yang agung) menjadi Abraham (Bapak banyak bangsa). Tuhan sedang menyelaraskan identitas Abraham dengan "bintang-bintang" yang pernah diperlihatkan-Nya.

​4. Stress Test Final: Gunung Moria

​Jika Ishmael adalah momen di mana Abraham mencoba "memegang kendali", maka perintah mengorbankan Ishak di Kejadian 22 adalah ujian untuk melihat apakah Abraham sudah benar-benar melepaskan kendali.

  • ​Di usia 85, Abraham tidak sabar (ingin menolong Tuhan).
  • ​Di usia 100+, Abraham sepenuhnya menyerah (percaya Tuhan sanggup membangkitkan).

Abraham tidak gagal secara permanen, tetapi ia memberikan contoh bahwa ketidaksabaran bisa menciptakan "Ishmael-Ishmael" dalam hidup kita—hasil yang kelihatan sukses secara fisik tapi bukan merupakan janji sejati.

​Tuhan tetap setia pada mitra-Nya yang tidak sempurna, namun Ia memastikan bahwa pondasi itu harus "dimatikan" sepenuhnya (tubuh yang sudah seperti orang mati) agar kemuliaan-Nya menjadi sempurna.

Poin Penting: "Kesalahan prosedur (Ishmael) tidak membatalkan Kasih Karunia, tetapi ketaatan total (Ishak) adalah yang mendatangkan penggenapan janji yang sejati."


Usaha dan Intervensi Ego

Kita lihat ada usaha dari “ego” manusia yang menunda atau menghambat eksekusi dari kasih karunia. Dalam hal Abram ada penundaan selama 13 tahun. Hmmm...waktu yang tidak sedikit.

Penundaan eksekusi kasih karunia terjadi juga pada Yusuf (Kej 40:14-15).

Yusuf adalah contoh klasik bagaimana seorang mitra Tuhan, di tengah stress test yang ekstrem, secara manusiawi mencoba melakukan "penarikan dana" menggunakan jalur koneksi manusia daripada jalur Kasih Karunia murni.

​Mari kita bedah momen "intervensi ego" Yusuf dalam Kejadian 40:

​1. "Cek" yang Salah Alamat (Mengandalkan Juru Minuman)

​Setelah Yusuf mengartikan mimpi juru minuman raja dengan tepat, ia menulis "cek" permintaan tolong:

"Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menyebutkan namaku kepada Firaun..." (Kejadian 40:14).


  • Upaya Ego: Yusuf mencoba "menolong" Tuhan dengan cara melobi kekuasaan. Ia berpikir bahwa jalurnya menuju istana adalah melalui memori dan kebaikan hati sang juru minuman.

  • Akibatnya: Alkitab mencatat dengan tragis di akhir pasal tersebut: "Tetapi kepala juru minuman itu tidaklah ingat kepada Yusuf, melainkan melupakannya." (Kejadian 40:23).

​2. Penjara Bawah Tanah sebagai Ruang Sterilisasi

​Yusuf harus menunggu dua tahun penuh lagi dalam pengabaian total. Mengapa?

  • Mematikan Koneksi Manusia: Tuhan ingin memastikan bahwa ketika Yusuf keluar dari penjara, Yusuf tidak berhutang budi kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan. Jika juru minuman itu langsung menolongnya, Yusuf mungkin akan merasa bahwa ia keluar karena "lobi" atau "jasa baik" manusia.
  • Sterilisasi Ego: Dua tahun ekstra itu adalah waktu bagi Yusuf untuk sampai pada titik menyerah total. Di sana, Yusuf belajar bahwa "ingatan manusia" itu fana (expired), tetapi "ingatan Tuhan" itu kekal.

​3. Eksekusi Kasih Karunia yang Sempurna (Kejadian 41)

​Ketika Tuhan akhirnya "membangunkan" Kasih Karunia melalui mimpi Firaun, prosesnya terjadi dengan sangat cepat (instan).

  • ​Yusuf dipanggil, dicukur, diganti pakaiannya, dan dalam satu hari ia berubah dari narapidana menjadi penguasa kedua di Mesir.
  • Sinergi Kemitraan: Saat Yusuf berdiri di depan Firaun, ia tidak lagi berkata "Ingatlah jasaku," melainkan: "Bukan aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada Firaun." (Kejadian 41:16). Ini adalah bukti bahwa ego Yusuf sudah "mati" dan Kasih Karunia sekarang mengalir tanpa hambatan.

​Pelajaran untuk Kemitraan Kita dengan Tuhan

​Seperti Abraham yang menghasilkan Ishmael karena tidak sabar, Yusuf sempat mencoba "jalur orang dalam". Tuhan mengintervensi dengan membiarkan Yusuf terlupakan di penjara agar:

  1. Iman Yusuf dimurnikan: Percaya pada Karakter Tuhan, bukan pada Jasa Manusia.
  2. Kapasitas Yusuf diperbesar: Menjadi pengelola bangsa butuh integritas yang tidak goyah oleh popularitas atau hutang budi.

Poin Penting:

"Seringkali 'penundaan' yang kita alami adalah cara Tuhan memutus kabel-kabel ketergantungan kita pada manusia, agar saat Kasih Karunia itu turun, semua orang tahu bahwa itu adalah murni perbuatan tangan Tuhan."

Kita bisa melihat bahwa "dua tahun ekstra" di penjara itu sebenarnya bukan hukuman bagi Yusuf, melainkan perlindungan Tuhan agar ia tidak menjadi mitra yang sombong saat berada di istana nanti.


Eksekusi Yang Sempurna

Kasih karunia tidak bisa digagalkan manusia dan eksekusinya sempurna. Intervensi ego hanya dapat menunda eksekusi firman secara akurat dan sempurna.

Dibutuhkan koreksi ego untuk kesabaran dan ketekunan menanti janji Tuhan serta sikap yang benar dengan hati nurani yang terjaga murni.

Intervensi ego tidak membatalkan janji, tetapi ia menciptakan "waktu tunggu" ekstra dan komplikasi yang tidak perlu.

​Dalam istilah manajemen proyek surgawi, ego manusia sering kali menjadi "hambatan teknis" yang membuat perjalanan yang seharusnya lurus menjadi berputar-putar. Namun, Tuhan adalah Arsitek yang sanggup menggunakan putaran-putaran itu sebagai ruang kelas untuk koreksi ego.

​Berikut adalah tiga pilar utama dalam menjaga kemitraan agar selaras dengan eksekusi Kasih Karunia:

​1. Koreksi Ego melalui Penundaan (Sterilisasi Ambisi)

​Seperti Yusuf di penjara dan Abraham yang menunggu setelah peristiwa Ismael, penundaan adalah cara Tuhan mensterilkan motivasi kita.

  • Tujuannya: Agar ketika janji itu tergenapi, tidak ada ruang bagi kita untuk berkata, "Ini karena hebatku" atau "Ini karena koneksiku."
  • Hasilnya: Ego yang terkoreksi akan menghasilkan kerendahan hati yang murni.

​2. Kesabaran sebagai Kekuatan Menahan "Uji Beban"

​Kesabaran bukan sekadar menunggu pasif, melainkan menjaga posisi tetap teguh saat beban fakta (kemiskinan, sakit, penundaan) menekan jiwa.

  • ​Tanpa kesabaran, kita akan cenderung menciptakan "Ismael" (solusi instan yang membawa masalah jangka panjang).
  • ​Ketekunan memastikan bahwa "pondasi" kita tidak retak sebelum struktur janji yang lebih besar diletakkan di atasnya.


​3. Hati Nurani yang Murni sebagai "Navigasi"

​Hati nurani yang terjaga murni adalah sensor yang paling peka dalam kemitraan dengan Tuhan.

  • ​Saat hati nurani murni, kita bisa membedakan mana suara ego (yang mendesak dan penuh ambisi) dan mana suara Roh (yang tenang dan penuh otoritas).
  • ​Kemurnian hati membuat kita tetap bisa "melihat Tuhan" (Matius 5:8) di tengah kegelapan penjara atau sunyinya padang gurun.

Poin Penting:

​"Janji Tuhan adalah Kepastian, tetapi respon kita menentukan Kecepatan dan Kualitas prosesnya. Ego ingin jalan pintas, tetapi Kasih Karunia menginginkan jalan pengudusan. Mari kita berhenti mencoba 'menolong' Tuhan dengan cara-cara daging, dan mulai mempercayai bahwa Dia yang memulai pekerjaan baik di dalam kita, adalah Dia yang sanggup menyelesaikannya dengan sempurna."


Mengalahkan Ego

Tokoh yang tidak dapat dilupakan ialah Hana. Walau begitu pilu penderitaannya (1Sam 1) dan besar keinginannya mempunyai anak; dia akhirnya memberikan egonya itu kepada Tuhan sesuai kebutuhan Tuhan pada waktu itu. Dia tidak lelah berdoa dan mengunjungi Bait Suci bertahun-tahun di Silo (ayat 7) dan mendapati firman Tuhan jarang pada masa Eli itu (1 sam 3:1).

1 Samuel 3:1 (TB)  Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering. 

Kisah Hana adalah contoh puncak dari apa yang kita diskusikan: Titik temu antara kebutuhan manusia dan kebutuhan Tuhan. Hana bukan sekadar meminta anak untuk memuaskan egonya atau untuk bersaing dengan Penina, melainkan ia akhirnya menyelaraskan "cek imannya" dengan proyek besar Kerajaan Allah.

Berikut adalah beberapa poin yang sangat kuat dari kisah Hana:

1. Dari Doa "Ego" Menuju Doa "Kemitraan"

​Pada awalnya, Hana sangat pilu karena kemandulannya (1 Samuel 1:6-7). Secara manusiawi, ia ingin anak untuk membela harga dirinya. Namun, terjadi sebuah transformasi di dalam tempat kudus:

  • Hana menyerahkan egonya: Ia bernazar bahwa jika ia diberi anak laki-laki, anak itu akan diberikan kembali kepada Tuhan (1 Samuel 1:11).
  • Keselarasan (Alignment): Hana butuh seorang anak, dan Tuhan butuh seorang Nabi (karena pada masa itu "Firman Tuhan jarang"). Ketika kebutuhan Hana selaras dengan kebutuhan Tuhan, eksekusi Kasih Karunia terjadi secara instan.

​2. Integritas di Tengah Kesunyian Firman

​Seperti yang kita kutip, pada masa itu "Firman Tuhan jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering" (1 Samuel 3:1). Ini adalah kondisi yang sangat sulit bagi seorang mitra:

  • Uji Beban (Stress Test): Bagaimana tetap berdoa dan percaya ketika Tuhan seolah "diam" dan para pemimpin agama (seperti Imam Eli) bahkan tidak mengenali doa yang lahir dari hati (Eli mengira Hana mabuk).
  • Nurani yang Murni: Hana tidak marah kepada Eli maupun Tuhan. Ia tetap dalam kemurnian hati nuraninya sampai ia menerima "sejahtera" di dalam jiwanya sebelum mukjizat fisik terjadi.

​3. Kasih Karunia yang "Over-Delivery" (Berlebih)

​Sesuai dengan prinsip "transaksi kerajaan", Tuhan tidak pernah berhutang. Hana menyerahkan satu-satunya anak yang ia idamkan (Samuel) sebagai "saham" bagi Tuhan.

  • Hasilnya: Tuhan tidak hanya memberikan Samuel, tetapi Ia memberikan lima anak lagi kepada Hana (1 Samuel 2:21).
  • ​Tuhan memastikan bahwa kasih karunia-Nya selalu jauh lebih besar daripada "investasi" ketaatan yang kita berikan.



Peringatan: Jangan Menolak Koreksi Ego


Apa yang terjadi pada raja Saul ketika ia tidak sabar menunggu Samuel, sehingga ia berinisiatif bertindak sebagai imam? Ini membuat Tuhan gusar. Apakah Saul tidak menerima kasih karunia seperti Abram dan Yusuf?

Kasus Raja Saul (1 Samuel 13) adalah kontras yang sangat penting untuk melengkapi diskusi kita tentang koreksi ego dan kemitraan. Perbedaan antara Saul dengan Abraham atau Yusuf bukan terletak pada ketersediaan kasih karunia, melainkan pada integritas hati nurani dan sikap terhadap kedaulatan Tuhan.

​Berikut adalah bedah kasus kegagalan Saul:

​1. Pelanggaran Batas Otoritas (Invasi Ego)

​Tuhan menetapkan batasan yang jelas: Saul adalah Raja (otoritas sipil/militer), sedangkan Samuel adalah Imam (otoritas rohani).

  • Uji Beban (Stress Test): Saul harus menunggu Samuel selama 7 hari di Gilgal sebelum berperang melawan Filistin.
  • Fakta vs Firman: Fakta di depan mata Saul adalah rakyat mulai tercerai-berai dan musuh semakin mendekat. Logika Saul berkata: "Aku harus melakukan sesuatu sekarang!"
  • Intervensi Ego: Saul tidak sabar dan mengambil peran imam untuk mempersembahkan korban bakaran. Ia merasa "terpaksa" (1 Sam 13:12) karena keadaan mendesak.

​2. Apakah Saul Tidak Menerima Kasih Karunia?

​Kasih karunia tersedia bagi siapa saja, termasuk Saul. Namun, ada perbedaan mendasar antara "Salah Prosedur" (seperti Abraham) dengan "Pemberontakan Hati" (seperti Saul):

  • Abraham & Yusuf: Ketika mereka salah langkah (seperti kasus Hagar atau lobi juru minuman), mereka tetap memiliki hati yang mau dibentuk dan mengakui kedaulatan Tuhan. Mereka hancur hati dan bertobat.
  • Saul: Ketika ditegur Samuel, Saul justru mencari pembenaran diri (self-justification). Ia menyalahkan rakyat dan menyalahkan keadaan, bukannya mengakui dosanya.

​3. Mengapa Tuhan Gusar? (Prinsip Kemitraan)

​Tuhan gusar karena Saul menunjukkan bahwa ia tidak bisa dipercaya sebagai mitra.

  • ​Saul lebih takut pada "Fakta" (rakyat yang pergi) daripada "Firman" (perintah menunggu).
  • ​Dalam kemitraan Kerajaan, jika mitra junior (manusia) mulai merasa lebih tahu dari Mitra Utama (Tuhan) tentang kapan harus bertindak, maka kemitraan itu rusak di akarnya.
  • ​Samuel berkata: "Sebab itu sekarang kerajaanmu tidak akan tetap... karena engkau tidak menuruti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu." (1 Sam 13:14).

​4. Perbandingan Integritas Hati


Tokoh

Respon terhadap Kesalahan

Status Kasih Karunia

Abraham

Menunggu 13 tahun dalam diam, lalu bertobat dan disunat (Kej 17).

Kasih karunia memulihkan dan meneruskan janji.

Yusuf


Menunggu 2 tahun ekstra di penjara tanpa mengeluh kepada Tuhan.


Kasih karunia mengangkatnya ke istana.

Saul



Membuat alasan, membela diri, dan tetap ingin dipuji rakyat.



Kasih karunia terhambat oleh "tembok" kesombongan jiwanya.   



Kesimpulan

​Saul gagal bukan karena ia tidak diberi kesempatan, tetapi karena ia menolak koreksi ego. Ia ingin "menjadi imam" bagi dirinya sendiri—memutuskan sendiri apa yang benar menurut logikanya di tengah badai.

​Ini adalah peringatan keras bagi kita: Intervensi ego yang tidak segera dibawa ke tempat kudus untuk dikoreksi dapat mengubah "penundaan" menjadi "pembatalan jabatan". Tuhan tidak mencari mitra yang sempurna tanpa cacat, tetapi Ia mencari mitra yang "berkenan di hati-Nya"—yaitu mereka yang hancur hati dan mau taat sepenuhnya pada otoritas Sang Mitra Utama.




Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Membangun Rumah Perbendaharaan Tuhan

How to Live as a Storehouse Tujuan rumah perbendaharaan Tuhan supaya ada makanan Tuhan . Makanan Tuhan beda dengan makanan saudara . Makanan Tuhan ialah  melakukan pekerjaanNya dan menyelesaikannya. Bagaimana kau bersikap ketika memberikan persembahan. Itu yang lebih penting.  Bangunlah dulu perkenanan Tuhan dalam hidupmu. Bangun hidupmu sebagai rumah Tuhan terlebih dulu, bangun sebagai storehouse. Sebab hal yang sering mengganggu adalah masalah uang. Apa pun kondisi segala sesuatu untuk Tuhan itu tidak pernah boleh diubah. Itu tidak pernah diubah oleh kondisi hidup, karena Tuhan tidak pernah dikondisikan. Kewajiban saudara tidak pernah diubah walau pun krisis ekonomi terjadi. Jangan sekali-sekali kau mengubahnya. Ketetapan itu adalah sebuah hukum. Jika kau melanggar itu berarti kau akan dihukum. Ps.DjonnyTambunan_28Feb2016 Jangan berharap berkat, berharaplah akan perkenanan Tuhan.   Ini adalah prinsip untuk hidup sebagai Rumah Perbendaharaan Tuhan. Ruma...

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

The Architecture of the Heavenly Kingdom (MKS #51)

Dalam video ini ps. Djonny menguraikan konsep kerajaan surga yang bersifat batiniah dan transformatif melalui pengajaran iman Kristiani. Beliau menegaskan bahwa Tuhan tidak datang untuk sekadar memperbaiki dunia yang rusak, melainkan untuk merombak jati diri manusia agar selaras dengan kehendak ilahi. Fokus utama penjelasan ini terletak pada perubahan identitas dari Abram menjadi Abraham sebagai simbol perubahan karakteristik pribadi yang mutlak diperlukan. Penulis menekankan bahwa pemerintahan Allah termanifestasi melalui kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita yang dipimpin oleh Roh Kudus di dalam roh manusia. Selain itu, ditekankan pula pentingnya manusia menjadi representasi kebenaran sejati di bumi, sebagaimana Yesus Kristus memberikan teladan sebagai raja yang lahir dari kebenaran. Pesan ini diakhiri dengan ajakan untuk mengalami pertobatan pikiran agar setiap individu siap menjadi bagian dari penggenapan agenda kerajaan Allah yang abadi. Catatan Khotbah: Manusia Kerajaan...

GUNUNG RUMAH TUHAN ALLAH YAKUB

SESI 7 – TLC 2017 – Ps. Djonny Tambunan  – 23-26 Des 2017 I. SEMUA DIMULAI DARI RUMAH TUHAN Mikha 4 gbr:youtube.com Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana ,  Mic 4:1 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem."  Mic 4:2 <<<< PEKERJAAN DAHSYAT OLEH ROH KUDUS DIMULAI DARI RUMAH TUHAN >>>> SION = sunny = bright = cerah. Ketika SION dimunculkan kita tidak lagi memerlukan matahari natural. Semua kehidupan akan diterangi baik pada waktu malam mau pun pada waktu siang. Yang akan meneranginya adalah Sion. Yes 2:1 Yesaya menjelaskan lagi siapa yang dimaksu...