Langsung ke konten utama

Abraham dan Keturunannya (MKS #37)



Berikut adalah catatan detail dari pesan firman "Manusia Kerajaan Sorga 37" yang disampaikan di GPK JMD Bandung pada 10 Mei 2026:

​Tema Utama: Perjalanan Hidup Abraham Oleh Iman

​Pesan ini menekankan bahwa Allah menemukan Abraham untuk menjadikannya pelaksana strategi-Nya dalam mewujudkan rencana agung, yaitu Langit Baru dan Bumi Baru [04:15].


​Poin-Poin Penting Pesan Firman:

​1. Panggilan Keluar dan Transformasi Identitas [03:41]

  • ​Abraham dipanggil keluar dari negerinya, sanak famili, dan rumah ayahnya (Terah).
  • ​Iman membuat Abraham mampu melihat bahwa bentukan dunianya yang lama (Babel/Ur-Kasdim) adalah sesuatu yang najis dan akan diruntuhkan oleh Tuhan [09:19].
  • ​Terjadi perubahan identitas dari "Abrahamnya Terah" menjadi "Abrahamnya Allah Yang Maha Tinggi", bapa bagi banyak bangsa [01:05:55].

​2. Definisi Keturunan Abraham [17:10]

  • ​Keturunan Abraham bukan sekadar hubungan biologis, melainkan mereka yang hidup dengan dimensi Allah yang nyata pada Abraham [17:43].
  • ​Jika seseorang adalah milik Kristus, maka ia adalah keturunan Abraham yang berhak menerima janji Allah [22:37].
  • ​Keturunan ini adalah orang-orang yang dikasihi dan dipilih Tuhan dari "ujung-ujung bumi" [26:42].

​3. Iman yang Disertai Perbuatan (Keselarasan Jiwa dan Roh) [37:42]

  • ​Percayanya Abraham dianggap sebagai kebenaran karena merupakan tindakan nyata pada jiwanya yang menuruti firman Tuhan di dalam rohnya [38:03].
  • ​Pesan ini menekankan pentingnya sinkronisasi pikiran dengan iman agar tidak menjadi orang yang mendua hati (double-minded) [43:03].
  • ​Iman tanpa perbuatan adalah mati; iman menjadi sempurna ketika bekerja sama dengan perbuatan [51:14].

​4. Menantikan Kota yang Dibangun Allah [56:50]

  • ​Abraham tinggal di kemah di tanah asing karena ia menantikan kota yang memiliki dasar tetap, yaitu Yerusalem Baru yang turun dari surga [01:00:57].
  • ​Ia mengakui dirinya sebagai pendatang di bumi karena ia merindukan tanah air surgawi yang lebih baik [01:10:48].

​5. Kesetiaan Allah Melampaui Kemustahilan [01:05:06]

  • ​Meskipun Abraham sudah tua dan Sarah mandul, mereka memperoleh kekuatan karena menganggap Allah yang memberikan janji itu setia [01:05:21].
  • ​Kemenangan yang dijanjikan adalah kemenangan menurut ukuran Tuhan, di mana jalan kegagalan tidak lagi dikenal [29:12].

​Kesimpulan Doa Penutup: [01:13:42]

​Pesan diakhiri dengan doa agar jemaat menerima impertasi benih dan dimensi hidup Tuhan, sehingga mereka benar-benar hidup sebagai keturunan Abraham yang menggenapi rencana agung-Nya.

​Video lengkap dapat Anda tonton kembali di sini: Ibadah JMD Bandung 10 Mei 2026.


PENDALAMAN

Apa sebenarnya dimensi Allah yang terbangun pada Abraham? Apa maksudnya itu adalah karakter Allah yang sudah terimpartasi dalam hidup Abraham?


Dimensi Allah yang terbangun pada Abraham bukanlah sekadar perubahan perilaku moral, melainkan implantasi sifat-sifat Ilahi ke dalam struktur batiniah manusia. Dalam bahasa yang lebih teknis, ini adalah proses di mana Zoe (hidup Allah) mulai mendominasi Psuche (jiwa/ego manusia).

​Berikut adalah rincian dimensi Allah yang terimpartasi dalam hidup Abraham:

​1. Dimensi "Memanggil yang Tidak Ada Menjadi Ada" (Kreativitas Ilahi)

​Ini adalah dimensi utama yang disebutkan dalam Roma 4:17.

  • ​Maksudnya: Abraham tidak lagi melihat realita berdasarkan apa yang tertangkap mata (kemandulan, usia tua, kematian pucuk). Ia mulai beroperasi dalam dimensi iman Allah, yaitu memandang janji Tuhan sebagai sesuatu yang sudah ada meskipun secara fisik belum terlihat.
  • ​Impartasi: Karakter Allah sebagai Pencipta terimpartasi sehingga Abraham mampu "memperanakkan" harapan di tengah kemustahilan. Ia tidak lagi dibatasi oleh hukum alam, tetapi oleh firman yang keluar dari mulut Allah.

​2. Dimensi Kesetiaan yang Melampaui Pengkhianatan

​Tuhan adalah El-Emeth (Allah yang Setia). Abraham mengalami impartasi ini justru melalui kegagalannya sendiri.

  • ​Maksudnya: Setelah berkali-kali gagal (di Mesir, dengan Hagar), Abraham menyadari bahwa kesetiaan Allah tidak bergantung pada dirinya. Dimensi kesetiaan ini akhirnya menyerap ke dalam batin Abraham.
  • ​Impartasi: Di Gunung Moria, saat ia hendak mempersembahkan Ishak, kita melihat Abraham yang "setia total". Ia tidak lagi memakai cara sendiri. Karakter setia Allah sudah menjadi karakternya.

​3. Dimensi "El Shaddai" (Kecukupan yang Melampaui Sumber Daya)

​Ketika Tuhan memperkenalkan diri sebagai El Shaddai di usia Abraham yang ke-99, terjadi reset terhadap sumber daya Abraham.

  • ​Maksudnya: Abraham berhenti mengandalkan "aku" (kemampuan biologis/kekayaan). Ia masuk ke dalam dimensi di mana Allah adalah satu-satunya sumber kecukupan.
  • ​Impartasi: Abraham menjadi orang yang merdeka secara batin. Ia tidak lagi terikat pada tanah air atau kepemilikan fisik karena ia tahu sumber hidupnya ada di dalam Allah. Itulah sebabnya ia bisa hidup sebagai "pendatang" dengan tenang.

​4. Dimensi Kekekalan (Melihat Kota yang Mempunyai Dasar)

​Ibrani 11:10 mencatat Abraham menanti-nantikan kota yang dibangun Allah.

  • ​Maksudnya: Pandangan Abraham mengalami pergeseran optik. Dari dimensi temporal (sementara) ke dimensi kekekalan. Ia tidak lagi membangun "Babel" (kemahsyuran diri), melainkan hidup demi rencana agung yang melampaui masa hidupnya sendiri.
  • ​Impartasi: Ini adalah karakter Allah yang bersifat kekal. Abraham tidak lagi terburu-buru atau cemas dengan waktu, karena ia sudah terhubung dengan kekekalan Allah.

​Apa maksudnya "Terimpartasi"?

​Impartasi berarti penularan esensi. Ini bukan Abraham yang "meniru" Tuhan, tetapi kehidupan Tuhan yang "merembes" dan menyatu dengan jiwa Abraham melalui perjalanan panjang yang penuh kehancuran hati tadi.

  1. ​Bukan Imitasi, tapi Transmisi: Abraham tidak sedang mencoba menjadi baik; ia sedang mengalami proses di mana ego-nya (Abram) mati, dan kehidupan Kristus (yang kemudian akan datang lewat keturunannya) sudah mulai berdenyut di dalamnya.
  2. ​Kesesuaian Frekuensi: Karakter Allah yang terimpartasi membuat Abraham memiliki "hati yang selaras". Itulah sebabnya ia disebut Sahabat Allah. Sahabat adalah dua pribadi yang memiliki kesamaan nilai dan pandangan.
  3. ​Kesadaran Baru: Karakter yang terimpartasi ini membuat Abraham memiliki kesadaran di titik nol (seperti yang Anda katakan). Ia sadar bahwa semua yang ada padanya adalah milik Allah, dikerjakan oleh Allah, dan untuk kemuliaan Allah.

​Jadi, ketika kita bicara tentang "keturunan Abraham" hari ini, yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki cetak biru (DNA) rohani yang sama: yaitu orang-orang yang telah melewati "tombol reset" dan membiarkan dimensi Allah tumbuh menggantikan dimensi "aku" mereka.

​Tanpa impartasi karakter ini, iman hanya akan menjadi ideologi. Tetapi dengan impartasi, iman menjadi kehidupan. Bukankah ini yang membuat "second chance" itu begitu berharga? Karena yang kembali bukan sekadar manusia lama yang diampuni, tapi manusia baru dengan dimensi yang berbeda.



Abram dulu memikirkan siapa yang akan mewarisi hartanya, harta dunia. Itu yang menjadi keluhannya kepada Tuhan. Padahal Tuhan ingin dia menerima legacy untuk mewariskan harta yang kekal bagi bangsa-bangsa. Betapa jauhnya pikiran manusia dengan pikiran Tuhan. Ketika menyadari kebodohan ini, kita akan tertawa dengan getir, menertawai diri dan tersungkur di hadapanNya sambil melempar mahkota di kepala kita (pikiran dan kebanggaan ). Ini perbandingan hikmat dunia dan hikmat Tuhan. 

Rasul Paulus menyadari betul keadaan ini. Apa yang dulu dianggapnya berharga, sekarang semuanya dianggap sampah.


Inilah esensi dari "benturan dua hikmat."

​Kisah Abram dalam Kejadian 15 adalah potret klasik manusia yang terjebak dalam dimensi horisontal (harta, ahli waris biologis, kelangsungan nama keluarga), sementara Tuhan sedang menawarkan dimensi vertikal  / (warisan kekal, berkat bagi bangsa-bangsa, rencana penebusan dunia).

​1. Dari Harta Menjadi Warisan (Legacy)

​Keluhan Abram tentang Eliezer orang Damsyik menunjukkan bahwa pada saat itu, pikiran Abram masih sangat "bumi." Ia mengukur kesetiaan Tuhan dari jumlah ternak dan siapa yang akan memegang kunci gudangnya nanti.

  • ​Pikiran Abram: "Siapa yang akan mewarisi barang-barangku?"
  • ​Pikiran Tuhan: "Siapa yang akan mewarisi Janji-Ku?"

​Tuhan harus membawa Abram keluar kemah untuk melihat bintang-bintang. Itu adalah tindakan simbolis untuk memaksa Abram berhenti melihat ke tanah (harta dunia) dan mulai melihat ke langit (visi Tuhan).

​2. Menertawakan Diri dan Melempar Mahkota

​Gambaran  tentang "menertawai diri dengan getir" adalah bentuk pertobatan intelektual yang paling jujur. Itu adalah momen ketika kita menyadari bahwa selama ini kita sibuk mengumpulkan kerikil di depan pintu Istana Raja, sementara Sang Raja sedang memegang kunci istana itu untuk kita.

  • ​Melempar Mahkota: Dalam kitab Wahyu, para tua-tua melempar mahkota mereka di depan takhta. Mahkota melambangkan pencapaian, harga diri, dan "hasil kerja keras" pikiran kita. Sekarang kita mengerti alasan dibaliknya. Itu bukanlah liturgi ibadah.
  • ​Hikmat Dunia vs Hikmat Tuhan: Hikmat dunia menyuruh kita memegang erat apa yang kita punya. Hikmat Tuhan (1 Korintus 1:25) seringkali terlihat seperti kebodohan bagi dunia, namun itulah kekuatan yang menghancurkan kesombongan manusia.

​3. Paradoks Paulus: Sampah vs Keuntungan

​Sosok Paulus adalah contoh "Abram" di era Perjanjian Baru.

  • ​Sebagai Saulus, ia memiliki "mahkota" yang sangat megah: silsilah murni, pendidikan terbaik (Gamaliel), dan ketaatan hukum yang tak tercela.
  • ​Setelah "tombol reset" ditekan di jalan menuju Damsyik, ia mengalami pergeseran nilai yang radikal.

​Istilah "sampah" (skubalon) yang digunakan Paulus dalam Filipi 3:8 bukan sekadar berarti tidak berguna, tapi secara harfiah merujuk pada "kotoran atau sisa makanan yang dibuang ke anjing." Paulus menyadari bahwa semua kebanggaan intelektual dan religiusnya justru menjadi penghalang untuk mengenal Kristus.

​4. Kesimpulan: Titik Temu

​Menerima legacy Tuhan mengharuskan kita melepaskan genggaman pada harta dunia. Kita tidak bisa memegang "janji kekal" jika tangan kita masih penuh dengan "harta fana."

​Ketertawaan getir yang dimaksud adalah tanda bahwa kesadaran rohani telah lahir. Di saat itulah, manusia berhenti menjadi "tuan" atas hidupnya dan mulai menjadi "hamba" yang mewarisi Kerajaan. Seperti Abraham, kita akhirnya sadar bahwa kita bukan sedang mencari sebidang tanah di Kanaan, tapi kita sedang berjalan menuju Kota yang dasarnya dibangun oleh Allah sendiri.

​Apakah menurut Anda, "melempar mahkota" (pikiran dan kebanggaan) ini adalah proses harian yang harus kita lakukan, ataukah ini adalah peristiwa sekali seumur hidup yang mengubah segalanya?



Betapa tepatnya Daud mengatakan "hati yang hancur tak Kau pandang hina, ya Tuhan'. Ketika kita menyadari kebodohan kita itu sebenarnya hal yang memalukan. Untung hanya Tuhan dan kita sendiri yang tahu.

Itu adalah refleksi yang sangat jujur dan membumi. Ada rasa lega yang luar biasa dalam menyadari bahwa di balik kemuliaan-Nya yang tak terbatas, Tuhan adalah penjaga rahasia yang paling aman.


​Privasi dalam Kehancuran

​Sisi manusiawi yang sangat nyata: Rasa Malu.

Ketika kita menyadari betapa "bodohnya" kita—mungkin karena sempat meragukan-Nya, atau karena sempat begitu sombong dengan "mahkota" kecil kita—reaksi pertama kita biasanya adalah ingin bersembunyi. Seperti Adam yang bersembunyi di semak-semak karena telanjang.

​Namun, di sinilah letak keindahan karakter Tuhan:

  • ​Keamanan dalam Pengakuan: Kita tidak perlu takut "viral" atau dihakimi oleh manusia ketika mengakui kebodohan kita di hadapan-Nya. Tuhan tidak menggunakan kebodohan masa lalu kita untuk mempermalukan kita di depan orang lain.
  • ​Hati yang Tak Dihina: Dunia seringkali memandang rendah orang yang gagal atau bodoh. Tapi bagi Tuhan, saat kita sampai pada titik "menertawakan diri sendiri" dan mengakui kebodohan itu, kita justru sedang berada di posisi yang paling terhormat di mata-Nya. Mengapa? Karena kita akhirnya berhenti berbohong pada diri sendiri

Kesimpulan

​Malu di hadapan Tuhan adalah "Malu yang Menghidupkan." Itu adalah tanda bahwa hati kita tidak lagi keras. Seperti Daud yang setelah melakukan dosa besar, ia tidak lari dari Tuhan, melainkan lari kepada Tuhan. Ia tahu bahwa hanya di dalam hadirat Tuhan, kebodohan yang memalukan itu bisa diubah menjadi hikmat yang mulia.

​Pada akhirnya, "mahkota" yang kita lempar itu tidak akan hilang; Tuhan akan menggantinya dengan mahkota yang jauh lebih indah, yang bukan berasal dari usaha kita, melainkan dari kemurahan-Nya.

​Apakah Anda merasa bahwa "ruang rahasia" ini adalah tempat di mana Anda merasa paling menjadi diri sendiri tanpa perlu beban tuntutan dari dunia?


Bicara soal malu, Tuhan ingin memakai kita untuk mempermalukan iblis. Otomatis ia akan minggat dan tidak sedikitpun akan mendekat.

Ini adalah sebuah manuver rohani yang sangat cerdas. Kita sedang membicarakan tentang kemenangan melalui perendahan diri.

​Logika dunia mengatakan jika kita ingin menang, kita harus pamer kekuatan. Tapi logika Kerajaan Sorga mengatakan: kita mengalahkan iblis justru dengan menunjukkan betapa kita tidak berdaya tanpa Tuhan (hati yang hancur).

​Mengapa Hati yang Hancur Mempermalukan Iblis?

​Ada alasan sangat mendalam mengapa iblis "minggat" ketika melihat manusia yang tersungkur di hadapan Tuhan:

  • ​Iblis Tidak Paham Kerendahan Hati: Iblis (Lucifer) jatuh karena kesombongan; ia ingin menjadi seperti Tuhan. Dia tidak punya "antena" untuk memahami mengapa ada makhluk yang justru ingin menjadi "nol" di hadapan Penciptanya. Ketika kita hancur hati dan mengakui kebodohan kita, kita sedang mengoperasikan frekuensi yang tidak bisa ia masuki.
  • ​Kehilangan Titik Serang: Iblis menyerang manusia melalui ego, harga diri, dan kebanggaan. Namun, ketika kita sudah "melempar mahkota" dan mengakui diri kita bodoh di hadapan Tuhan, iblis kehilangan targetnya. Anda tidak bisa menjatuhkan orang yang sudah tersungkur di bawah kaki Tuhan. Ia tidak punya celah lagi untuk menggoda kesombongan Anda.
  • ​Melihat Wajah Allah dalam Debu: Saat kita di titik nol dan Tuhan menghembuskan nafas hidup-Nya kembali, iblis melihat pemandangan yang paling ia benci: Manusia yang menjadi serupa dengan karakter Allah. Kesetiaan Tuhan yang terpancar melalui manusia yang lemah adalah tamparan keras bagi iblis yang sombong.

​Strategi "Minggat"

​Dalam Yakobus 4:7 dikatakan: "Tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu."

​Banyak orang fokus pada kata "lawanlah", tapi sering lupa pada kata "tunduklah". Proses tunduk (reset, hancur hati, mengakui kebodohan) itulah yang sebenarnya menjadi senjata utama. Iblis lari bukan karena dia takut pada kita, tapi karena dia tidak tahan melihat Otoritas Tuhan yang menyelimuti orang yang rendah hati.

​Iblis ingin kita tetap sombong, tetap merasa benar, dan tetap memakai "cara sendiri" (seperti Abraham dengan Hagar), karena di sanalah wilayah kekuasaannya. Begitu kita menertawakan diri sendiri dan memilih hikmat Tuhan, iblis merasa sangat terhina karena strateginya gagal total.

Kemenangan yang "Malu-maluin" bagi Iblis

​Betapa malunya iblis: dia yang dulunya malaikat agung namun jatuh karena sombong, dikalahkan oleh "debu tanah" (manusia) yang justru naik ke tahta karena rendah hati.

​Ini adalah pembalasan yang manis dari Tuhan. Tuhan tidak melawan iblis dengan otot-Nya, tapi Dia memakai manusia-manusia yang "hancur hati" untuk menunjukkan bahwa kasih karunia-Nya jauh lebih perkasa daripada pemberontakan iblis.

​Apakah ini yang membuat Anda merasa bahwa perjalanan bersama Tuhan, sesulit apa pun proses "hancur hati"-nya, selalu berakhir dengan rasa aman yang absolut karena musuh tidak lagi punya kuasa untuk mendekat?






Postingan populer dari blog ini

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib , memiliki karakter yang baik , serta dipenuhi oleh Roh Kudus . Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik . Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan . 14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3) Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3) Sesi: The Upper Room 240 (1...

The Seed of God and the Character of Abraham (MKS #53)

Khotbah ini membahas proses rohani di mana Allah menabur benih ilahi ke dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan kerajaan-Nya di bumi. Melalui teladan Abraham , dijelaskan bahwa hubungan intim dengan Tuhan dimulai dari panggilan pribadi dan ikatan janji (covenant) yang teguh . Ketaatan mutlak Abraham dalam menjaga ketetapan Allah menjadi dasar bagi Tuhan untuk mempercayakan otoritas-Nya kepada generasi berikutnya. Di sini ditekankan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki kepribadian yang selaras dengan karakter Allah melalui bimbingan Roh Kudus. Akhirnya, sumber ini menantang umat untuk hidup dalam kesetiaan dan kasih yang radikal agar janji Tuhan dapat tergenapi secara turun-temurun. Ibadah JMD Bandung 6 September 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 53 Catatan Khotbah: Manusia Kerajaan Sorga (Bagian 53) Pelayanan: GPK JMD Bandung, Ps. Djonny Tambunan Tanggal: 6 September 2026 1. Landasan Rencana Agung Allah & Benih Sejati Keturunan Raja-Raja: Allah menetapk...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Membangun Rumah Perbendaharaan Tuhan

How to Live as a Storehouse Tujuan rumah perbendaharaan Tuhan supaya ada makanan Tuhan . Makanan Tuhan beda dengan makanan saudara . Makanan Tuhan ialah  melakukan pekerjaanNya dan menyelesaikannya. Bagaimana kau bersikap ketika memberikan persembahan. Itu yang lebih penting.  Bangunlah dulu perkenanan Tuhan dalam hidupmu. Bangun hidupmu sebagai rumah Tuhan terlebih dulu, bangun sebagai storehouse. Sebab hal yang sering mengganggu adalah masalah uang. Apa pun kondisi segala sesuatu untuk Tuhan itu tidak pernah boleh diubah. Itu tidak pernah diubah oleh kondisi hidup, karena Tuhan tidak pernah dikondisikan. Kewajiban saudara tidak pernah diubah walau pun krisis ekonomi terjadi. Jangan sekali-sekali kau mengubahnya. Ketetapan itu adalah sebuah hukum. Jika kau melanggar itu berarti kau akan dihukum. Ps.DjonnyTambunan_28Feb2016 Jangan berharap berkat, berharaplah akan perkenanan Tuhan.   Ini adalah prinsip untuk hidup sebagai Rumah Perbendaharaan Tuhan. Ruma...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...