Pesan penting dari khotbah Pdt. Djonny dalam sesi "Manusia Kerajaan Sorga 28" (1 Maret 2026) berfokus pada panggilan Allah kepada orang percaya untuk keluar dari pengaruh lama dan masuk ke dalam takdir ilahi, mengambil contoh dari kehidupan Abraham.
Berikut adalah poin-poin utama pesan yang disampaikan:
*Satu Kesatuan Langit dan Bumi:* Pdt. Djonny menjelaskan bahwa pada mulanya, langit (surga) dan bumi diciptakan sebagai satu kesatuan alam ilahi, bukan dua tempat yang terpisah secara total [10:23]. Pemisahan terjadi karena pemberontakan iblis, dan rencana agung Allah adalah menyatukan kembali keduanya dalam "Langit Baru dan Bumi Baru" yang dipenuhi kebenaran [14:56].
*Panggilan untuk Keluar dari Pengaruh Biologis (Rumah Bapa):* Sebagaimana Abraham dipanggil keluar dari Ur-Kasdim dan rumah ayahnya (Terah), orang percaya dipanggil untuk keluar dari pembentukan, harapan, dan pengaruh masa lalu keluarga yang tidak akurat di hadapan Tuhan [31:21].
* Beliau menekankan pentingnya "memotong tali pusar rohani" [39:01].
* Menghormati orang tua bukan berarti harus menuruti impian mereka jika impian tersebut menyembah "dewa lain" seperti kemakmuran (Mamon) atau reputasi [26:05].
*Abrahamnya Allah vs Abrahamnya Terah:* Ada perbedaan antara "Abraham bentukan dunia/orang tua" dengan "Abrahamnya Allah yang Maha Tinggi" [01:04:26]. Pesan utamanya adalah agar kita dikenal sebagai pribadi baru di tengah keluarga, yang merepresentasikan Kristus, bukan sekadar harapan biologis orang tua [01:07:04].
*Iman sebagai Kemampuan Melihat yang Kekal: ibr 11:1⁸* Abraham mampu meninggalkan kemapanan karena ia memiliki iman—kemampuan ilahi untuk melihat "kota yang dibangun oleh Allah" (Yerusalem Baru) yang jauh lebih mulia daripada Babel yang akan runtuh [52:49].
*Menjadi Saluran Kerajaan Surga:* Melalui keturunan Abraham, Allah membangkitkan raja-raja yang membawa pemerintahan surga ke bumi. Hal ini bukan soal makanan atau minuman, melainkan soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus [01:16:13].
*Kesimpulan:* Pesan khotbah ini menantang jemaat untuk memiliki ketetapan hati (~ karakter) mentaati Allah di atas segalanya, melepaskan diri dari pengaruh keduniawian, dan berjalan dalam iman untuk mewujudkan rencana agung Allah di bumi.
Video selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=NGrUo2D5-os
Telaah dan perenungan:
Apa maksud dari satu kesatuan langit dan bumi dan karakteristiknya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Maksud dari Satu Kesatuan Langit dan Bumi
Pdt. Djonny menjelaskan bahwa pada dasarnya, dalam teks asli Ibrani Kejadian 1:1, tidak ada kata sambung "dan" yang memisahkan antara langit dan bumi sebagai dua entitas yang berbeda total.
* Bukan Dua Tempat Terpisah: Awalnya, Allah menciptakan alam semesta sebagai satu kesatuan "alam ilahi". Langit (surga) dan bumi bukanlah dua dimensi yang saling tertutup satu sama lain.
* Akibat Pemberontakan: Pemisahan antara langit dan bumi terjadi karena pemberontakan iblis. Iblis dilemparkan ke bumi, sehingga bumi menjadi tempat yang terpisah dari kekudusan surga dan menjadi tempat "berkeliarannya" iblis.
* Pemulihan di Masa Depan: Rencana akhir Allah adalah menyatukan kembali keduanya menjadi "Langit Baru dan Bumi Baru", di mana surga (tempat takhta Allah) dan bumi kembali menjadi satu kesatuan alam yang utuh.
2. Karakteristik dari Kesatuan Tersebut
Karakteristik utama dari kesatuan langit dan bumi yang dimaksud dalam khotbah tersebut adalah:
* Hanya Tinggal Kebenaran (Alam Kebenaran): Karakteristik yang paling menonjol adalah tidak adanya lagi dosa atau kejahatan. Pdt. Djonny menyebutnya sebagai "Alam Kebenaran", di mana hanya kebenaran Allah yang tinggal di dalamnya.
* Manifestasi Nyata Allah di Dunia: Dalam kesatuan ini, Allah yang hidup bukan hanya tinggal jauh di surga, tetapi kehadiran-Nya menjadi nyata dan dapat dirasakan dalam setiap aspek kehidupan di bumi.
* Kekekalan: Apa yang Allah ciptakan dalam kesatuan ini bersifat kekal. Bumi tidak akan dihancurkan (lenyap dalam arti musnah), melainkan diubah atau diperbaharui menjadi satu dengan kualitas surgawi yang abadi.
* Pemerintahan Kerajaan Sorga: Kesatuan ini ditandai dengan hadirnya pemerintahan Allah (Kerajaan Sorga) yang karakteristiknya adalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (mengutip Roma 14:17).
* Representasi Gambar Allah: Manusia dalam kesatuan ini berfungsi sebagai representasi atau gambar dari rupa Allah di dunia alamiah, menunjukkan bahwa Allah berdiam di tengah-tengah ciptaan-Nya.
Singkatnya, karakteristik utamanya adalah pemulihan total di mana batas antara yang ilahi (surga) dan yang alamiah (bumi) hilang, dan segalanya dipenuhi oleh kebenaran serta kemuliaan Allah.
Yesaya 51:2 (TB) Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu, dan Sara yang melahirkan kamu; ketika Abraham seorang diri, Aku memanggil dia, lalu Aku memberkati dan memperbanyak dia.
Yosua 24:2
Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.
Kisah Para Rasul 7:2-3 (TB) Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran,
dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.
Kejadian 11:31 (TB) Lalu Terah membawa (laqach) Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana.
Bagaimana proses Tuhan memotong "tali pusar" untuk membentuk Abramnya Allah (sosok Abram yang sesuai takdir Tuhan, bukan harapan manusia) dilakukan melalui beberapa tahap yang tegas:
1. Perintah untuk "Keluar" (Pemisahan Total)
Langkah pertama Tuhan memotong tali pusar adalah dengan memberikan perintah di Kejadian 12:1: "Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapakmu."
* Makna: Ini bukan sekadar pindah lokasi geografis, melainkan memutus pengaruh batiniah dan pembentukan karakter yang berasal dari figur otoritas lama (Terah/orang tua).
* Tujuan: Agar Abram tidak lagi dibentuk oleh ambisi Terah (yang menyembah berhala/ilah lain), melainkan dibentuk murni oleh firman Allah.
2. Membasuh dengan "Air" dan Menggosok dengan "Garam"
Mengacu pada metafora dalam Yehezkiel 16, Pdt. Djonny menjelaskan bahwa proses kelahiran baru secara rohani memerlukan tindakan pembersihan yang drastis:
* Membasuh dengan Air: Membersihkan "air ketuban" atau pengaruh-pengaruh yang melekat dari "sang ibu" (asal-usul biologis/budaya duniawi).
* Menggosok dengan Garam: Garam berfungsi untuk mematikan "bakteri-bakteri" atau residu dosa dan pola pikir lama yang membuat hidup seseorang rentan terhadap godaan dunia setelah mereka "lahir" keluar.
Yehezkiel 16:4 (TB) Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu (tali pusarmu) tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garam pun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin.
3. Pemberian Kasih Karunia melalui Iman
Tuhan tidak memotong tali pusar itu dengan paksaan fisik, melainkan dengan memberikan Iman sebagai kasih karunia.
* Visi Baru: Iman memberikan Abram kemampuan untuk melihat "Kota yang dibangun oleh Allah" di masa depan.
* Kekuatan Menolak: Seperti Musa yang menolak disebut anak putri Firaun, iman memberikan Abram kekuatan untuk menolak takdir lama (menjadi orang populer di Babel seperti keinginan Terah) dan memilih takdir Allah yang jauh lebih besar.
4. Perubahan Identitas (Abram menjadi Abraham)
Tuhan mengganti namanya dari Abram (Bapa yang ditinggikan) menjadi Abraham (Bapa sejumlah besar bangsa).
* Tali pusar diputus dengan cara memberikan identitas baru yang sifatnya bukan "akan menjadi", tetapi "telah ditetapkan" oleh Allah.
* Di sini, Abraham tidak lagi bergantung pada kekuatan manusia, melainkan pada Allah El-Shaddai (Allah Yang Maha Cukup/Payudara Ibu), di mana Abraham belajar bergantung sepenuhnya pada suplai ilahi, bukan suplai dari "rumah bapaknya".
Inti Pesannya:
Tuhan memotong tali pusar tersebut agar kita tidak lagi membawa "DNA rohani" dari dunia atau tradisi keluarga yang salah, sehingga kita bisa menjadi saksi yang murni dan mewujudkan rencana Allah atas langit baru dan bumi baru.
Bagaimana kita tetap bisa "menghormati orang tua" meski tali pusar rohaninya sudah diputus?
Ini adalah bagian yang paling menantang karena sering kali dianggap sebagai sebuah kontradiksi. Pdt. Djonny memberikan perspektif yang menarik tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara ketaatan kepada Allah dan penghormatan kepada orang tua.
Berikut adalah cara praktis dan prinsipil untuk menghormati orang tua tanpa harus terikat oleh "tali pusar" rohani mereka:
1. Membedakan antara "Hormat" dan "Setuju"
Menghormati orang tua adalah perintah Tuhan, tetapi itu tidak berarti Anda harus setuju atau mengikuti takdir/impian yang mereka tetapkan jika hal itu tidak akurat di dalam Tuhan.
* Sikap Hormat: Tidak merendahkan, tetap bersikap santun, dan tidak menghina mereka meskipun mereka menyembah "ilah lain" (seperti Mamon atau reputasi).
* Ketaatan Utama: Ketaatan tertinggi tetap diberikan kepada Allah. Pdt. Djonny menekankan bahwa ketaatan kepada Allah sebenarnya sudah mencakup penghormatan kepada orang tua, karena Tuhanlah yang memberi perintah untuk menghormati mereka.
2. Memiliki "Seni" dan "Skill" dalam Berkomunikasi
Memutus pengaruh orang tua memerlukan bantuan Roh Kudus agar tidak berubah menjadi pemberontakan yang kasar.
* Komunikasi yang Berhikmat: Belajarlah menyampaikan kata-kata hormat sambil tetap menunjukkan ketetapan hati untuk mentaati Tuhan.
* Contoh dari Yesus: Saat Yesus berkata kepada Maria, "Ibu (perempuan), mau apakah engkau dari Aku?", itu bukan bentuk penghinaan. Yesus sedang menegaskan bahwa meskipun Maria adalah ibu biologis-Nya, Ia harus tunduk pada takdir Bapa-Nya di surga. Maria tidak tersinggung karena ia memahami identitas Yesus yang sebenarnya.
3. Menjadi Saksi Identitas Baru
Kesalahan sering kali bukan pada orang tua, melainkan pada diri kita yang tidak pernah bersaksi atau menunjukkan siapa kita di dalam Tuhan.
* Jika Anda terus bersikap seperti "anak kecil" yang butuh arahan duniawi mereka, mereka akan terus memegang tali pusar itu.
* Anda harus dikenal di tengah keluarga sebagai "Abrahamnya Allah"—pribadi yang sudah memiliki prinsip kerajaan surga, sehingga orang tua bisa melihat bahwa Anda bukan lagi milik mereka sepenuhnya, melainkan milik Tuhan.
4. Melindungi Generasi Berikutnya
Menghormati orang tua bukan berarti membiarkan pola pikir salah mereka "menulari" anak-anak Anda (generasi setelah Anda).
* Contohnya adalah Abraham yang sangat menghormati keluarganya di Padan Aram, tetapi ia dengan tegas melarang Ishak dibawa kembali ke sana. Ia memutus "bakteri" masa lalu agar tidak menjangkiti masa depan keturunannya.
Langkah Praktis untuk Anda:
Pdt. Djonny menyarankan agar kita menggunakan Iman sebagai alat untuk memilah. Iman memberikan "kasih karunia" untuk melihat mana yang merupakan kasih sayang orang tua yang tulus dan mana yang merupakan "tali pusar" yang mencoba menarik kita kembali ke Babel (dunia).
> "Engkau harus keluar dari pengharapan ayah ibumu, meskipun mereka satu gereja denganmu, agar engkau bisa masuk ke dalam pengharapan Tuhan."
>
Iman yang hidup (krn percaya) itu memberikan kasih karunia.
Abram melihat dan menjadi percaya. Ini memberikan kasih karunia untuk dia keluar dan menyeberang.
JAWABAN PERTANYAAN KOMSEL 6 Maret 2026
1. Apa hubungan antara penciptaan awal langit dan bumi dengan rencana Allah untuk masa depan, serta faktor apa yang menyebabkan keduanya terpisah.
Jawab:
Hubungan langit (sorga) dan bumi itu sebagai satu kesatuan.
Bumi adalah alam "alamiah" atau "lahiriah", sedangkan sorga adalah alam "ilahi" atau tempat tahta Allah. Karakteristik bumi memang bersifat materi karena di sanalah manusia menjadi "gambar dari rupa Allah" dalam dunia fisik. Materi seharusnya menjadi "tubuh", merefleksikan kebenaran dan kemuliaan Allah yang rohani.
Sorga adalah dimensi di mana Allah berdiam dalam diri-Nya sendiri (Bapa, Firman, dan Roh).
Kemudian terjadi pemisahan, karena kenajisan (ketidak kudusan) iblis. Bahwa pemisahan dimensi ini terjadi karena pemberontakan iblis.
Ketika iblis (malaikat yang sombong) berdosa, ia dilempar ke bumi.
Sejak saat itu, bumi menjadi tempat yang "terpisah" atau menjadi tempat berkeliarannya roh-roh jahat.
Jadi, karakter bumi yang kita kenal sekarang (penuh dosa dan penderitaan) bukanlah karakter aslinya, melainkan akibat dari masuknya "roh" pemberontakan tersebut.
Aslinya karakter bumi sama dengan sorga: apa yang terjadi di sorga terjadi pula di bumi, karena sorga bumi bekerja pada frekuensi yang sama.
Artinya, materi (bumi) diciptakan bukan untuk menjadi sesuatu yang "tidak rohani" atau terpisah dari Allah, melainkan sebagai wadah fisik di mana kemuliaan rohani Allah dinyatakan secara nyata (jasmaniah).
Apa yang Allah ciptakan pada dasarnya bersifat kekal. Kekudusan dan kebenaran adalah "bahan dasar" dari alam ilahi tersebut. Itulah sebabnya Allah tidak menghancurkan bumi secara total, melainkan memulihkannya kembali ke status aslinya sebagai bagian dari alam kebenaran-Nya.
Manusia Kerajaan Sorga" adalah panggilan untuk hidup dalam standar kebenaran ilahi itu sekarang juga, untuk menyatukan kembali sorga dan bumi ke status awal.
2. Apa makna iman menurut Alkitab dan bagaimana peran iman dalam perjalanan hidup Abraham (Ibrani 11:8-10) ?
Iman itu semata anugerah Allah untuk manusia dapat berjalan bersama Allah dalam Kristus.
Iman perlu direspon dengan percaya dan dihidupi dengan tindakan ketaatan serta dieksekusi dengan akurat.
Abram menerima anugerah ketika masih di Mesopotamia (Kis 7:2-3). Iman itu diterima di dalam rohnya.
Abram melihat apa yang ditunjukkan Allah (Kej 15:5,6) dan responnya positif, dia percaya Allah. Maka Allah memperhitungkan itu sebagai kebenaran.
Namun itu hanya sebatas dibenarkan. Respon dan sikap Abraham selaras dengan imannya, maka iman itu menghasilkan kasih karunia. Ketika sikap ini terus dipertahankan akan menjadi karakter dan ketetapan hati.
Suatu hari iman itu akan mengalami ujian. Abraham pernah gagal mengeksekusi imannya. Tidak seperti Nuh, yang mengeksekusi iman dan percayanya dengan akurat. Ia membangun bahtera dengan ukuran yang tepat sesuai instruksi Allah dan sesuai dengan selera Allah, tanpa improvisasi sama sekali.
Dalam hal Abraham yang membuat improvisasi adalah nyonya Sarai dan Abram mendengarkan perkataan Sarai(Kej 16:2), sehingga Ismael lahir dari Hagar, budaknya.
Barulah setelah Aĺlah El Shaddai
menemukannya setelah 13 tahun kemudian, Abraham tidak pernah goyah lagi.
Iman tidak spontan bertumbuh walaupun instan tersedia karena Allah yang menganugerahkannya, tapi pertumbuhannya bertahap dan progresif serta akumulatif.
Progresivitas iman bisa dilihat selangkah demi selangkah. Iman seperti benih bertumbuh menjadi tanaman kebun. Harus disirami dan dipupuk.
Firman itu benih dan Roh Kudus seperti air. Pupuknya adalah kasih karunia, yang dihasilkan oleh sikap, respon dan langkah pertama dari ketaatan firman. Kasih karunia itu menghasilkan mujizat, karena hanya Tuhan yang dapat mengerjakannya. Ia menyebabkan pertumbuhan buah, bukan akar. Akarnya adalah ketaatan, yang berperan menyedot nutrisi pertumbuhan dan air dari kedalaman. Akar ini yang menjadikan pertumbuhan iman yang memiliki karakternya dan ketetapan hati yang semakin teguh, dari percaya kepadanya menjadi penyerahan diri (surrender it all) ke dalam tangan Tuhan. Ini langkah penting dan strategis yang membawa kita ke tingkat hubungan selanjutnya (next level). Pada tingkatan ini kita dibawa masuk dalam Tuhan, bukan hanya Tuhan di dalam kita.
Setiap saat di tengah-tengah progresivitas ini Roh Kudus akan mendorong kita masuk ke tempat
peristirahatan Tuhan, ketika kita merasa lemah dan lelah. Ia adalah penolong yang setia, adil dan benar. Itu sebabnya kita harus masuk semakin dalam ke dalam aliran sungai air kehidupan, sehingga makin ringan kita melangkah, tidak cepat lelah dan makin mudah Roh membawa kita.
Ini berbeda dari rajawali yang terbang tinggi. Ada saatnya Tuhan mengaruniakan hal itu, bilamana Ia merasa perlu melakukannya.
Yesaya 40:31
tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
Apa yang Yesus puji tentang Natanael adalah sikapnya yang mudah percaya, karena kemurnian hatinya (Yoh 1:47-51). Iman Natanael menghasilkan kasih karunia pewahyuan serta pengenalan akan Kristus (ay 49) dan sorga yang terbuka.
Apa yang membuat Yesus takjub melihat iman perwira di Kapernaum (Mat 8:5-13) adalah besar iman perwira itu diukur dari kapasitas dan dimensi iman yang bisa membawa banyak orang datang kepada Tuhan.
Perwira itu percaya dan mengerti mekanisme dan cara kerja iman, tanpa keraguan, karena ia belajar banyak tentang iman kasih karunia. Ia berhasil memanfaatkan imannya untuk menghasilkan banyak (huge) kasih karunia dari benih yang sedikit dan terbatas. Baginya iman itu tentang kepraktisan dan bertindak, bukan hanya potensi atau terus tinggal sebagai benih. Ini jenis iman yang Yesus lihat bisa meledak-ledak memanggil dan menarik orang dari Timur dan Barat (ayat 11), sedangkan mereka yang melempem dan membiarkan imannya tidak bertumbuh akan menyesalinya dan meratapinya (ay 12) di tempat gelap sambil menggertakkan gigi.
Saya langsung membayangkan Lot, sebagai orang benar namun hidupnya terus menderita di tengah-tengah kota Sodom (2 Pet 2:7-9).
Ini menjadi peringatan bagi kita masing-masing untuk menyikapi, merespon dan bagaimana memaknai dan melakukan iman itu dengan tepat. Jangan memasung iman tetap sebagai benih atau potensi saja. Kita harus melakukan segala hal untuk iman kita menjadi nyata di dalam hidup kita.
Jika iman dibiarkan, tidak direspon dan tidak disikapi, iman menjadi mati. Bayangkan, semakin banyak kita mendengar firman, membicarakan firman, tapi benih-benih itu semakin menumpuk, menjadi ekspire karena tidak sesuai waktu (momentum) Tuhan. Gudang roh akan semakin menumpuk dengan benih yang mati. Otomatis roh juga menjadi tempat yang gelap, membuat kita mudah lelah dan megap-megap.
Aktifkan dan keluarkan benih itu lewat sikap, perkataan dan perbuatan atau tindakan, jangan melempem dan membiarkan iman menjadi lemah dan mati.
Jangan menjadi orang benar, hanya karena percaya dan dibenarkan. Kita harus mempunyai dimensi iman Abraham (duduk di pangkuan bapa Abraham).
Abraham bersedia dan bertindak untuk mengorbankan Ishak dan Allah mendapatkan bukti dan Abraham sudah terbukti sebagai orang benar dihadapan Allah.
*Iman dikaruniakan > percaya > dibenarkan > bertindak > orang benar (hidup oleh iman).*
Firman > iman > respon > percaya > dibenarkan > kasih karunia > pikiran diselaraskan > bertindak > terbukti benar
3. Apa persamaan antara panggilan Tuhan kepada Abram untuk keluar dari Ur Kasdim dengan perintah kepada umat Tuhan untuk keluar dari Babel dalam Kitab Wahyu 18:1-5?
Menyeberang bukan hanya secara lahiriah, tapi lebih merupakan keputusan iman untuk keluar dari keterikatan dari sistem dunia (Babel), memegang kebenaran Tuhan dan tidak memakai kebenaran sendiri, sedemikian sehingga, hanya percaya pada janji Tuhan.
Persamaannya adalah keluar dari kenajisan.
Definisi Najis: Hal najis bukan hanya soal moral, tetapi segala sesuatu yang didasarkan pada pemikiran duniawi atau diri sendiri yang tidak berasal dari pimpinan Roh Kudus.
4. Apa perbedaan antara sikap Terah, Abram, dan Lot terhadap pengharapan kehidupan yang lebih baik, serta dampaknya bagi diri mereka dan keturunannya?
Terah tidak merespon panggilan Tuhan. Dia tidak memiliki frekuensi ilahi dan hanya memakai kebenaran sendir, memakai agenda sendiri, jalan sendiri dan maunya sendiri.
Abram memikirkan masa depan, optimis walaupun memiliki banyak kekurangan dan tidak fokus pada kelemahan. Hatinya terbuka dan merespon baik panggilan Tuhan dan sigap bertindak. Dia belajar banyak dari setiap proses perjalanan imannya, mengalami progresivitas iman, berserah penuh pada pembentukan El Shaddai dan hidup dari iman kepada iman. Dari Abramnya Terah menjadi Abramnya El Shaddai. Tuhan mengubah jati dirinya menjadi Abraham, menjadi bapa orang beriman dan menjadi berkat bagi banyak bangsa.
5. Apa makna "memutus tali pusar" dalam konteks hubungan orang tua dan anak serta apa tanggung jawab orang tua dan anak dalam mewujudkannya? Yehezkiel 16:1-4
Jiwa manusia duniawi biasanya terikat pada "harapan Terah" (ambisi manusiawi/biologis).
Tuhan tidak memotong tali pusar itu dengan paksaan fisik, melainkan dengan memberikan Iman sebagai kasih karunia.
Penyelamatan Jiwa: Tuhan memotong tali pusar tersebut agar jiwa Anda tidak lagi disuplai oleh keinginan dunia, melainkan disuplai oleh Allah El-Shaddai.
Ketika jiwa (bumi diri kita) tunduk pada roh (sorga diri kita), maka terciptalah "Alam Kebenaran" di dalam diri kita. Inilah yang disebut sebagai Ciptaan Baru.
Fase Pemutusan (Mendeteksi "Tali Pusar")
Tanyakan pada diri sendiri dengan jujur:
Keamanan Batin: "Hari ini, apakah rasa amanku bergantung pada janji Tuhan atau pada 'Haran' (kenyamanan materi/uang)?"
Harapan Terah: "Apakah aku sedang mengejar prestasi hari ini karena ambisi 'rumah bapak' (ingin membuktikan diri/reputasi) atau karena aku adalah 'Abrahamnya Allah' yang sedang mengerjakan tugas Kerajaan?”
Membasuh dengan "Air" dan Menggosok dengan "Garam"
Mengacu pada metafora dalam Yehezkiel 16, proses kelahiran baru secara rohani memerlukan tindakan pembersihan yang drastis:
* Membasuh dengan Air: Membersihkan "air ketuban" atau pengaruh-pengaruh yang melekat dari "sang ibu" (asal-usul biologis/budaya duniawi).
* Menggosok dengan Garam: Garam berfungsi untuk mematikan "bakteri-bakteri" atau residu dosa dan pola pikir lama yang membuat hidup seseorang rentan terhadap godaan dunia setelah mereka "lahir" keluar.
Yehezkiel 16:4 (TB) Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu (tali pusarmu) tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garam pun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin.