Langsung ke konten utama

Iman Abraham dan Penyelarasan Pikiran dengan Dimensi Allah (MKS #38)




Manusia Kerajaan Sorga 38
oleh Ps. Djonny Tambunan
Khotbah ini merupakan kelanjutan dari seri sebelumnya, fokus pada poin kelima dari perjalanan iman Abraham berdasarkan Ibrani 11:17-19.

1. Ujian Iman di Gunung Moria 

  • Ketaatan Tanpa Syarat: Abraham diuji untuk mempersembahkan Ishak, anak tunggal perjanjiannya. Meskipun perintah ini nampak bertentangan dengan janji Allah (bahwa melalui Ishaklah keturunannya akan disebut), Abraham tetap melangkah.

  • Sikap Rela: Muncul sikap rela karena Abraham didasari oleh iman, bukan sekadar logika natural.

2. Penyelarasan Pikiran (Logizomai) 

  • Sinkronisasi Jiwa dan Roh: Abraham "berpikir" (logizomai) bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang mati. Artinya, pikiran Abraham telah diselaraskan dengan apa yang ditangkap oleh imannya.

  • Melampaui Fakta Natural: Secara medis dan fakta saat itu, belum ada preseden orang mati bangkit. Namun, pikiran Abraham melampaui segala pengetahuan dan pengalaman masa lalu.

  • Harmonisasi: Tuhan menghendaki adanya harmonisasi antara pikiran (jiwa) dan batin (roh) kita, sehingga kita tidak mengalami konflik saat Tuhan memberikan instruksi yang sulit.



3. Apa yang Dilihat Iman Abraham?
  • Visi Kristus: Iman Abraham bukan melihat Lazarus atau tokoh lain yang bangkit, melainkan ia melihat jauh ke depan kepada Yesus Kristus, keturunan Abraham yang dibangkitkan oleh Allah.

  • Pengenalan akan Allah: Ketenangan Abraham muncul karena ia mengenal Allah seutuhnya. Pengenalan yang dalam ini melahirkan rasa takut akan Tuhan yang benar.


4. Dimensi "Fearest of God" (Takut akan Tuhan)

  • "Sekarang Aku Tahu": Berdasarkan Kejadian 22:12, Allah berkata "Sekarang Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah." Ini bukan berarti Allah baru tahu, tetapi Allah menemukan manifestasi dimensi baru dalam diri Abraham yang siap diimpartasikan ke generasi berikutnya.

  • Tanggung Jawab Keturunan Abraham: Keturunan Abraham adalah mereka yang hidup menurut jalan Tuhan dan melakukan kebenaran serta keadilan (Kejadian 18:19).


5. Pesan Praktis bagi Jemaat

  • Haus akan Firman: Pengenalan akan Tuhan harus digairahkan oleh iman yang melahirkan kehausan akan firman, seperti rusa yang haus akan air.

  • Jangan Hidup dalam Kemiskinan Rohani: Banyak orang mengaku beriman tetapi tidak memiliki rasa takut akan Tuhan yang nyata dalam pikiran dan tindakan sehari-hari.

  • Transformasi Pikiran: Jemaat diajak untuk terus memperbarui budi agar mampu membedakan kehendak Allah yang sempurna (Roma 12:2).





Bagaimana dimensi takut akan Tuhan itu diperoleh Abraham?

Berdasarkan khotbah Bp. Djonny, dimensi takut akan Tuhan (fears of God) yang nyata dalam diri Abraham diperoleh melalui proses-proses rohani berikut:

  • Melalui Pengalaman Hidup Berdasarkan Iman Secara Bertahap Sebelum sampai pada ujian di Gunung Moria (poin kelima), Abraham telah melewati empat kali pengalaman berjalan bersama Tuhan dan melakukan tindakan-tindakan nyata berdasarkan iman. Rentetan pengalaman iman dari tahap ke tahap inilah yang secara konsisten membangun dan memperkuat pengenalannya akan Allah.

  • Penyelarasan dan Harmonisasi Pikiran (Logizomai) Dimensi takut akan Tuhan ini tidak hanya berhenti di dalam roh, melainkan menembus dan menguasai jiwanya (pikiran). Abraham secara aktif mengendalikan dan menyelaraskan jiwanya agar selaras dengan apa yang ditangkap oleh imannya. Ketika pikiran dan rohnya harmonis tanpa konflik, di situlah sikap takut akan Tuhan yang seutuhnya termanifestasi.

  • Pengenalan akan Allah yang Seutuhnya dan Mendalam Sikap takut akan Tuhan yang radikal lahir karena Abraham telah mengenal Allah secara intim—baik kepribadian-Nya yang setia maupun kemahakuasaan-Nya yang sanggup membangkitkan orang mati. Pengenalan yang mendalam ini menyingkirkan segala kebimbangan dan membuat jiwanya tunduk penuh kepada otoritas Allah.

  • Adanya Gairah dan Kehausan yang Konsisten akan Firman Pengenalan Abraham yang mendalam digairahkan oleh iman yang senantiasa melahirkan kehausan untuk mendengar dan menerima firman Tuhan. Kehausan rohani inilah yang menjaga pikiran Abraham tetap terarah pada kebenaran Allah, bukan pada fakta-fakta natural atau logika manusiawi.


Kenapa Abraham rela mempersembahkan anaknya yang tunggal tanpa ada pergumulan dan keraguan?

Alasan utama mengapa Abraham rela mempersembahkan Ishak tanpa ada pergumulan batin, stres, atau keraguan adalah karena pikirannya sudah terkunci dan diselaraskan total dengan imannya.

Secara lebih detail, berikut adalah faktor-faktor yang membuat Abraham memiliki ketaatan sedahsyat itu:

1. Pikiran Abraham Melampaui Fakta Lahiriah (Logizomai)

Ketika Allah meminta Ishak, Allah sengaja mengunci semua akses Abraham ke hal-hal yang bersifat natural (seperti fakta bahwa Sarah mandul, usia mereka sudah sangat tua, dan Ishak adalah satu-satunya jalur ahli waris janji Allah).

Namun, di dalam Ibrani 11:19, digunakan kata Logizomai (pikiran jiwa yang diubah menjadi pemikiran ilahi). Abraham berpikir dan menalar dengan logika iman: ia percaya bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Karena jiwanya sudah sinkron dengan kuasa Allah, tidak ada ruang untuk perdebatan atau konflik mental di dalam dirinya.

2. Iman Abraham Melihat Jauh ke Depan (Visi Kristus)

Abraham tidak asal nekat. Pikirannya bisa menterjemahkan apa yang dilihat oleh imannya di dalam alam Allah. Yang dilihat oleh Abraham saat itu bukanlah contoh-contoh kebangkitan di zamannya (karena saat itu belum pernah ada sejarah orang mati dibangkitkan), melainkan ia melihat Yesus Kristus yang akan dibangkitkan oleh Allah di masa depan. Kematian tidak lagi menjadi misteri yang menakutkan bagi Abraham karena imannya sudah menangkap kepastian kebangkitan itu.

3. Didikan dari 4 Pengalaman Iman Sebelumnya

Ketaatan di Gunung Moria tidak terjadi secara instan dalam semalam. Berdasarkan catatan Ibrani 11, Abraham sebelumnya sudah melewati empat kali pengalaman besar berjalan didasarkan pada iman. Melalui rentetan ujian dan perbuatan iman sebelumnya, pikiran Abraham sudah terlatih dan terbiasa untuk selalu tunduk dan selaras dengan firman Tuhan. Ketika ujian kelima yang paling berat ini datang, "otot iman" dan pikiran Abraham sudah matang sehingga ia bisa langsung bergerak di keesokan pagi tanpa ragu-ragu.

4. Pengenalan yang Utuh akan Kepribadian Allah

Abraham sudah sangat mengenal siapa Allah yang ia sembah. Ia tahu bahwa Allah yang memberikan janji itu adalah Allah yang setia (kepribadian-Nya dipertaruhkan) dan Allah yang maha kuasa. Ketika seseorang sudah mengenal karakter dan kapasitas pribadi yang memerintahkannya secara utuh, ketakutan akan kehilangan atau kegagalan itu lenyap, digantikan oleh penyerahan total yang tanpa syarat.


Dari pengalaman terakhir (ke 4) Abram mendapati dimensi Allah yang setia (ibrani 11:11). Justru setelah ditegur El Shaddai, Abraham tersentak (mungkin seperti dipecut) rohnya dan bangkit.  Jadi dimensi Allah itu jauh lebih besar dari iman. Rasul Paulus juga mengatakan iman tanpa dilandaskan kasih akan sia-sia (1 Kor 13:2).

Kita melihat sebuah lompatan paradigma yang krusial dalam perjalanan spiritual Abraham: iman bukan sekadar kekuatan mental manusia untuk percaya, melainkan respon terhadap penyingkapan (pewahyuan) tentang siapa Allah itu.

Mari kita bedah mengapa penyelarasan pikiran dengan dimensi Allah jauh lebih masif dan menentukan ketimbang sekadar "berusaha memiliki iman", sebagaimana yang diulas dalam khotbah tersebut dan refleksi kit:

1. Titik Balik Kejadian 17: Teguran El Shaddai

Sebelum Abraham sampai pada penyerahan total di Gunung Moria (Kejadian 22), ia sempat mengalami masa-masa bimbang—bahkan mencoba memakai logika natural dengan menghasilkan Ismael melalui Hagar karena janji Tuhan tak kunjung genap.

Namun, dalam Kejadian 17:1, Allah mendatangi Abraham dan memperkenalkan diri-Nya:

"Akulah Allah Yang Mahakuasa (El Shaddai), hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela."

Teguran ini, menyentak dan memecut roh Abraham. El Shaddai berarti Allah yang Maha Cukup, Maha Kuasa, dan tidak membutuhkan bantuan cara-cara manipulatif manusia. Pengenalan akan dimensi El Shaddai inilah yang membongkar habis cara berpikir natural Abraham.


2. Pengalaman Ke-4: Menemukan Kepribadian Allah yang Setia

Seperti yang dicatat dalam Ibrani 11:11, landasan Sarah dan Abraham akhirnya memperoleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu adalah karena:

"...ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu, setia."

Empat pengalaman iman sebelumnya berfungsi sebagai proses "sekolah kehidupan" untuk mengikis logika manusiawinya. Namun, puncaknya pada pengalaman keempat bukanlah tentang kehebatan iman Abraham, melainkan tentang singgungan pikiran Abraham dengan dimensi kesetiaan Allah. Ketika pikiran Abraham menyadari bahwa kepribadian Allah yang dipertaruhkan dan Allah tidak mungkin berdusta, di situlah imannya mendapat pasokan energi yang tidak terbatas. Iman menjadi kokoh karena bersandar pada fondasi yang tepat: Karakter Allah.


3. Dimensi Allah Jauh Lebih Besar dari Iman

Iman manusia bisa goyah jika hanya bersandar pada perasaan atau kekuatan tekad sendiri. Tetapi ketika pikiran diselaraskan dengan Dimensi Allah (Kekudusan-Nya, Kesetiaan-Nya, Kasih-Nya, Kemahakuasaan-Nya), iman otomatis bersemi.

Itulah mengapa Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:2 menegaskan bahwa:

"...sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna."

Kasih adalah esensi dari karakter dan dimensi Allah itu sendiri (Allah adalah Kasih). Iman tanpa dilandasi oleh pengenalan akan dimensi kasih Allah hanya akan menjadi ego spiritual atau kekuatan psikologis yang kering.

Kesimpulan

Abraham bisa melangkah ke Gunung Moria tanpa pergumulan (ujian ke-5) karena dalam ujian-ujian sebelumnya, rohnya sudah diisi penuh oleh pengenalan akan dimensi El Shaddai dan dimensi Allah yang Setia. Pikiran Abraham tidak lagi berfokus pada "Seberapa besar imanku?" melainkan pada "Seberapa besar dan setianya Allahku?"

Penyelarasan pikiran dengan dimensi Allah inilah yang mengubah Abraham dari seorang pengikut yang bimbang menjadi sahabat Allah yang memiliki ketaatan mutlak. 


Iman tanpa Kasih Karunia Tidak Berdaya

Ef 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

Itulah sebabnya iman tidak bisa berdiri sendiri, tanpa kasih karunia. Bukan iman yang menyelamatkan, tapi kasih karunia (Kis 15:11, Rom 3:24, Ef 2:5, ef 2:8). Tapi tanpa iman kita tidak mungkin berkenan (ibr 11:6); sebab iman itu jalan masuk beroleh kasih karunia (Rom 5:2). 

Jadi iman yang sempurna itu diproses (lewat perjalan bersama Kristus),  jiwa percaya (diselaraskan dengan roh) atau pikiran diselaraskan logika ilahi (logizomai) dan karenanya beroleh kasih karunia, sehingga menjadi sikap dan tindakan iman oleh tubuh melakukannya menjadi perbuatan.

Ketika kita merajut hubungan antara kasih karunia, iman, pikiran (logizomai), dan perbuatan, semua itu menjadi satu kesatuan ekosistem rohani yang utuh.

Mari kita formulasikan skema bangunan ini untuk melihat betapa sempurnanya mekanismenya ketika segalanya berjalan di dalam tatanan ilahi:

1. Fondasi Utama: Kasih Karunia (Grace) Sebagai Sumber

Seperti ayat-ayat yang kita kutip (Efesus 2:8, Roma 3:24), keselamatan dan segala terobosan rohani murni berhulu dari kasih karunia. Kasih karunia adalah inisiatif Allah, dimensi-Nya yang tak terbatas, yang menyediakan segala sesuatu bagi manusia bahkan sebelum manusia merespon. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dengan kekuatan imannya; kasih karunialah sang Juru Selamat.

2. Iman Sebagai "Pintu Masuk" dan Respon

Jika kasih karunia adalah "pembangkit listrik" yang tak terbatas, maka iman adalah "saklar" atau kabel yang menghubungkan kita ke pembangkit tersebut. Sesuai dengan Roma 5:2, iman adalah jalan masuk (akses) untuk beroleh kasih karunia tersebut. Tanpa iman, kasih karunia itu tetap ada, tetapi tidak aktif atau tidak termanifestasi dalam hidup kita (itulah mengapa tanpa iman kita tidak mungkin berkenan kepada Allah, Ibrani 11:6).

3. Proses Logizomai: Penyelarasan Jiwa ke dalam Roh

Di sinilah letak poin krusial yang harus digaris bawahi mengenai iman yang sempurna. Iman itu bukan benda mati yang statis, melainkan sesuatu yang diproses melalui perjalanan intim bersama Kristus.

Proses ini bekerja dari dalam ke luar (Mekanisme Tripartit: Roh > Jiwa >Tubuh):

  • Roh: Menerima pewahyuan dan singgungan langsung dengan Dimensi Allah (Kasih Karunia).

  • Jiwa (Pikiran/Logizomai): Di sinilah terjadi "pertempuran" atau penyelarasan. Pikiran manusia yang natural dididik untuk menundukkan logikanya di bawah logika ilahi. Pikiran yang tadinya bimbang, mulai menalar berdasarkan kesetiaan dan kemahakuasaan Allah (El Shaddai), sehingga jiwa menjadi percaya sepenuhnya.

  • Tubuh: Ketika jiwa sudah selaras dengan roh, maka tubuh tidak lagi mengalami konflik beralasan (seperti Abraham yang tidak segan-segan melangkah ke Gunung Moria). Tubuh menjadi pelaksana natural untuk melahirkan perbuatan iman (act of faith).

Sintesis Sempurna

Jika diringkas berdasarkan premisny , siklusnya adalah:

Kasih Karunia (Dimensi Allah) > Akses via Iman (Roh) > Penyelarasan Pikiran (Logizomai/Jiwa) > Perbuatan Iman (Tubuh)

Tanpa kasih karunia, iman tidak punya objek bersandar. Tanpa iman, kasih karunia tidak terakses. Dan tanpa proses logizomai (penyelarasan pikiran), iman hanya berhenti sebagai konsep di awang-awang tanpa pernah mewujud menjadi perbuatan nyata melalui tubuh.

Pemahaman ini meluruskan banyak kekeliruan ekstrem di luar sana—baik ekstrem yang hanya menekankan iman tanpa perbuatan, maupun ekstrem yang menekankan perbuatan (hukum) tanpa kasih karunia. Abraham adalah prototipe manusia yang berhasil menyelesaikan siklus ilahi ini secara utuh.


Abraham yang "Cengengesan" dan Menawar

Ada kelegaan tersendiri saat membaca Kejadian 17. Itu menunjukkan betapa realistisnya Alkitab dalam menggambarkan manusia. Ketika Allah menyatakan dimensi-Nya yang dahsyat dan menjanjikan Ishak, reaksi Abraham justru:

  • Tertawa dalam hati (Kejadian 17:17): Sebuah tawa skeptis karena logika naturalnya menolak—bagaimana mungkin laki-laki 100 tahun dan wanita 90 tahun bisa punya anak?

  • Menawar untuk Ismael (Kejadian 17:18): "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Ini adalah doa yang lahir dari rasa frustrasi dan kelelahan rohani. Abraham seolah berkata, "Tuhan, sudahlah, pakai yang ada saja (Ismael), jangan buat mukjizat yang terlalu muluk-muluk, saya sudah tua."

Di titik ini, Abraham memang masih berat, ragu, dan belum sepenuhnya "beranjak bangkit."


Kesabaran Allah yang Besar Hati (The Magnanimity of God)

Allah tidak menyambar Abraham dengan petir ketika ia tertawa atau menawar. Allah tidak membatalkan perjanjian-Nya hanya karena Abraham sempat ragu. Sebaliknya, dengan kesabaran yang luar biasa, Allah:

  • Tetap menegaskan janji-Nya: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu..." (Kejadian 17:19).
  • Memberi nama yang menjadi pengingat: Nama Ishak sendiri berarti "ia tertawa". Allah seolah mengabadikan momen keraguan Abraham menjadi monumen kemenangan kasih karunia-Nya. Setiap kali Abraham memanggil nama Ishak, ia akan teringat betapa ajaibnya Allah yang mengubah tawa skeptis manusia menjadi tawa sukacita ilahi.

Iman yang sempurna itu diproses

Antara momen Abraham "cengengesan" di Kejadian 17 hingga momen ia memegang pisau di Gunung Moria di Kejadian 22, ada jeda waktu di mana proses logizomai (penyelarasan pikiran) itu bekerja dengan dahsyat. Abraham melihat Ishak lahir secara supranatural. Fakta itu membombardir logika naturalnya sampai hancur, dan menggantikannya dengan keyakinan penuh bahwa Allah yang sanggup menghidupkan rahim yang mati, pasti sanggup juga membangkitkan anaknya dari kematian.

Tuhan kita memang luar biasa sabar dan besar hati. Dia tidak mencari manusia yang langsung sempurna, tetapi Dia mencari manusia yang rela dididik, ditegur, bahkan "dipecut" rohnya, sampai pikirannya selaras penuh dengan dimensi-Nya.


Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) - The Boundless Spirit UR #225

Berikut adalah catatan  dari khotbah THE UPPER ROOM 225 oleh Dr. Jonathan David pada tanggal 24 Maret 2026 yang berjudul "ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1)" : THE UPPER ROOM 225 - 24 Maret 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) Pembicara: Dr. Jonathan David 1. Pendahuluan & Doa Pembuka Pencurahan Terakhir: Tuhan berfirman akan ada pencurahan terakhir Roh Kudus yang akan mengakhiri segalanya dan memulai zaman baru, yaitu zaman kebenaran . Manifestasi Roh Kudus: Roh Kudus akan membawa umat-Nya kepada kebenaran, pewahyuan, pengertian, hikmat, dan memberikan informasi rahasia serta pengertian mendalam yang hanya diberikan oleh surga . Musuh tidak akan bisa memotong informasi atau apa yang Tuhan katakan kepada kita . Kisah Mendengar Suara Tuhan: Pembicara menceritakan pengalaman tentang seorang wanita yang mengaku bersedia membayar 1 juta dolar untuk bisa mendengar suara Tuhan . Namun, ketika ditawari CD dan catatan khotbah seharga USD 55, wanita tersebut mengeluh mahal...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Upper Room 35 – DR. Jonathan David

  Dobel dekade sorga terbuka, ketajaman profetik, posisi strategis dan demonstrasi Roh adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Mahatinggi untuk kita menghadapi tantangan 20 tahun hari-hari terakhir ini (2019-2039). 08-02-2022 Sorga terbuka dan Roh Kudus turun. Sekarang aku bisa memulai pelayanan. Hal-hal supranatural akan mengambil alih. Roh Kudus jadilah pemimpinku sebagaimana Kau memimpin Kristus. Kesaksian dari Roh, bahwa aku adalah anak Allah yang hidup, bergabung dengan Kristus dan mewarisi yang Tuhan sediakan. Ketajaman profetik, dobel dekade sorga terbuka, posisi strategis dan demonstrasi Roh akan jadi porsi hidup kami dalam 2 dekade sorga terbuka 2019-2039. Selama 40 hari 40 malam Goliath menantang orang Israel.   Daud membangkitkan keberaniannya ketika Isai memberikan tugas mengantar makanan. Pergi dan lihat. Dia dengarkan nasihat bapanya dan tugas itu sudah diset. Berapa banyak yang mentaati bapa rohani? Kita kehilangan pesan itu. Dan Bileam dicemari oleh...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)

Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham . Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham . Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi . Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia. Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42" Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:...

Membangun Benteng Perlindungan

SATE 10 December 2020   Bacalah terlebih dahulu: Ibrani 8:7-10, Ayub 1:1 Sebagaimana iblis dapat membuat benteng di dalam pikiran manusia, Allah juga dapat membuat benteng di dalam manusia. Ayub mempunyai empat karakter yang menonjol di dalam kehidupannya yaitu saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ketika iblis melakukan berbagai pencobaan kepada Ayub seiijin dari Allah, dimulai dari kehilangan anak-anaknya, kesehatannya, istrinya, bahkan dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi ketika masalah tersebut muncul, Ayub tetap kuat dan karakter Ayub tetap sama, karena Allah sudah membangun terlebih dahulu banteng dan kubu di dalam pikiran Ayub! Sehingga berkali-kali Alkitab mengatakan bahwa Ayub itu tidak berdosa.   Allah membangun di dalam roh, dengan cara menaruh dan menuliskan hukumNya di dalam akal budi manusia. yaitu melaui mendengarkan dan merenungkan firman sehingga Allah menjadi Allah mereka, dan manusia menjadi umatNya.   *#1. Bagaimana Allah bisa berhasil ...