Langsung ke konten utama

Orang Benar (MKS #39)



Dalam video berjudul " Manusia Kerajaan Sorga 39", Papa Djonny menyampaikan pesan mendalam mengenai perjalanan iman Abraham, khususnya berfokus pada peristiwa pengorbanan Ishak di Kejadian 22.

Berikut adalah rincian pesan-pesan yang disampaikan:


1. Makna "Sekarang Aku Tahu" (For Now I Know)

Papa Djonny menyoroti pernyataan Tuhan dalam Kejadian 22:12, "Sebab telah Kuketahui sekarang bahwa engkau takut akan Allah." [06:41].

  • Istilah "Yada": Dalam bahasa Ibrani, kata "tahu" menggunakan kata Yada (H3045), yang bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi berarti pengenalan yang sangat intim, seperti hubungan suami-istri [09:21].

  • Benih Ilahi: Hal ini menunjukkan bahwa Abraham membiarkan dirinya "disetubuhi" oleh Allah dalam arti rohani, di mana benih firman Tuhan masuk dan dikandung dalam hidupnya untuk mewujudkan rencana-Nya [12:54].

  • Keyakinan Tuhan: Melalui ujian pengorbanan Ishak, Tuhan menemukan bahwa dalam pikiran dan jiwa Abraham tidak ada lagi konflik atau perlawanan terhadap kehendak-Nya [14:35].




2. Korban Pengganti (Tahat)

Ketika Abraham hendak menyembelih Ishak, Tuhan menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti [21:34].

  • Nilai yang Sama: Kata "pengganti" (Tahat) dalam mata Allah memiliki bobot dan kualitas yang berimbang. Sebagaimana Set menjadi pengganti Habel, domba ini menjadi pengganti Ishak [23:23].

  • Firman Tidak Batal: Perintah Tuhan untuk mengorbankan Ishak tidak batal, tetapi digenapi melalui domba pengganti tersebut. Hal ini menunjukkan tanggung jawab Allah agar Abraham tidak menjadi pembunuh, namun ketaatannya tetap terpenuhi [25:30].

3. Pemahaman Benar tentang Jehovah Jireh

Papa Djonny meluruskan pemahaman umum mengenai Jehovah Jireh (Tuhan Menyediakan).

  • Bukan Teologi Kemakmuran: Jehovah Jireh bukan berarti Tuhan sekadar menyediakan kebutuhan materi atau uang [33:31].

  • Posisi Rohani: Nama ini berbicara tentang posisi rohani di mana seseorang bertemu dan mengenal Allah melalui ketaatan yang radikal. Ini adalah keteguhan hati yang membuat seseorang tidak akan kecewa meskipun keadaan di sekitarnya mengecewakan [35:05].

4. Kekuatan Penggenapan melalui Sumpah Allah

Setelah ujian tersebut, Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri untuk memberkati Abraham [01:02:06].

  • Sumpah Tertinggi: Tidak ada kekuatan penggenapan yang lebih tinggi daripada saat Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri. Ini menjamin bahwa rencana-Nya melalui keturunan Abraham tidak akan gagal [46:49].

  • Keturunan sebagai Berkat Bangsa-bangsa: Melalui keturunan Abraham, semua bangsa akan mendapat berkat (Barak). Kata Barak berarti Allah "menekuk lutut-Nya" untuk melayani bangsa-bangsa agar kembali kepada tujuan-Nya [01:06:59].

5. Panggilan menjadi Keturunan Abraham

Pesan utama di akhir khotbah adalah tantangan bagi jemaat untuk menyadari identitas mereka.

  • Menduduki Kota Musuh: Keturunan Abraham dipanggil untuk menduduki kota-kota yang dibangun oleh sistem dunia (seperti yang dibangun Nimrod atau Kain) dan menggantinya dengan peradaban Allah [01:02:56].

  • Iman yang Hidup: Jemaat diingatkan agar jangan memiliki "iman yang mati". Iman yang hidup harus terwujud melalui perbuatan dan keselarasan jiwa dengan kehendak Allah [01:14:08].

Video lengkapnya dapat Anda saksikan di sini: https://www.youtube.com/watch?v=N4RAmTLnUCc


PENDALAMAN


Siapa yang disebut sebagai orang benar? Apa kriterianya? Mengapa Lot disebut Petrus sebagai orang benar?

Dalam teologi Alkitab, konsep "orang benar" (the righteous / tzaddik) bukanlah tentang manusia yang sempurna tanpa dosa, melainkan tentang hubungan yang selaras dengan Allah.

Berikut adalah penjelasan detail mengenai definisi, kriteria, dan alasan mengapa Lot secara spesifik disebut sebagai orang benar oleh Rasul Petrus.

​1. Siapa dan Apa Kriteria "Orang Benar"?

​Secara alkitabiah, seseorang disebut sebagai orang benar bukan karena kekuatan moralitasnya sendiri, melainkan karena dua dimensi utama: iman (posisi rohani) dan ketaatan (melakukan firman, praktik hidup).

​Kriteria Utama Orang Benar:

  • Dibenarkan oleh Iman (Kriteria Posisi): Kriteria dasar menjadi orang benar adalah percaya pada Allah dan firman-Nya. Seperti Abraham, yang imannya diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15:6). Seseorang menjadi "benar" karena status yang diberikan Allah melalui iman.
  • Memiliki Jiwa yang Responsif terhadap Kebenaran (Kriteria Internal): Orang benar bukan hanya memiliki hati yang peka dan gelisah terhadap dosa. Jiwanya tidak nyaman dengan kefasikan di sekitarnya karena ia menyelaraskan pikirannya dengan firman. Lebih dari itu ia harus menyelaraskan jiwa dengan dimensi Allah dan mengalami pembaharuan akal budi.
  • Melakukan Kebenaran (Kriteria Eksternal): Iman tersebut membuahkan perbuatan. Orang benar membuat keputusan jiwa (didasarkan keselarasan dengan roh) dan bertindak dengan keadilan, menunjukkan ketaatan pada perintah Tuhan, dan memisahkan diri dari cara hidup duniawi yang rusak.

2. Mengapa Lot Disebut Petrus sebagai Orang Benar?

​Dalam 2 Petrus 2:7-8, Rasul Petrus menulis pernyataan yang sering kali mengejutkan pembaca Perjanjian Lama:

"...tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang cabul itu — sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa."


​Jika membaca kisah Lot di kitab Kejadian, ia sering terlihat berkompromi (memilih tinggal di Sodom, menawarkan anaknya kepada massa, hingga insiden di gua bersama putri-putrinya). Namun, Petrus menegaskan Lot adalah orang benar karena alasan berikut:

​A. Jiwanya Tersiksa oleh Kefasikan (Peka terhadap Dosa)

​Meskipun Lot tinggal di Sodom (lingkungan yang sangat korup dan cabul), jiwanya tidak menjadi mati rasa. Petrus mencatat bahwa setiap hari melihat dan mendengar kejahatan Sodom membuat "jiwanya yang benar itu tersiksa." Ini adalah kriteria penting: orang benar tidak menikmati kefasikan; ada konflik dan penderitaan batin di dalam dirinya ketika melihat kebenaran diinjak-injak.

​B. Memiliki Fondasi Iman dari Abraham

​Lot menghabiskan sebagian besar hidupnya berjalan bersama Abraham. Melalui kedekatan itu, ia menerima pengajaran dan proteksi rohani yang sama. Di mata Allah, Lot dihitung sebagai orang benar karena ia memegang esensi iman yang ia pelajari dari Abraham, bukan karena ia sempurna, melainkan karena posisinya yang berada di pihak Allah.

Kesimpulan

​Lot disebut orang benar bukan karena rekam jejak hidupnya tanpa cacat, melainkan karena orientasi hatinya. Ketika seluruh Sodom bersatu dalam pemberontakan melawan Allah, Lot tetap menjaga agar jiwanya tidak terasimilasi oleh dosa.


Lot Meniru Sifat Kakeknya

Ps. Djonny mengatakan Lot meniru sifat kakeknya yang memilih berimigrasi ke wilayah Babel (tanah keturunan Ham) di Ur.  Lot terbukti  memilih pindah ke dekat Sodom (Kej 13) yang seperti taman Tuhan, seperti tanah Mesir. Namun akhirnya ia semakin mendekat dan tinggal di Sodom menjadi kota tua-tua. Ini berbicara tentang kecenderungan hati. 

Seperti Terah, kakeknya, seorang keturunan Sem, memutuskan berimigrasi ke Babel. Babel menarik tentang kemajuan peradabannya & teknologinya tetapi membangun peradaban tanpa Tuhan dan cenderung mau meninggikan diri (mencari reputasi). Menara Babel Dibangun supaya tidak berpencar, menentang rencana Tuhan: beranak cuculah dan penuhi bumi. Lot tidak selaras dengan apa yang sedang dibangun Tuhan tentang iman dan cenderung pada apa yang akan dihancurkan Tuhan.


Esensi Krusial dari Kecenderungan Hati

Di sini kita bisa melihat dan belajar soal "kecenderungan hati" (orientasi jiwa) dalam teologi perjalanan iman.

Ini menguliti paradoks kehidupan Lot: mengapa seseorang yang jiwanya disebut "benar" oleh Petrus, secara praktis justru hidup terikat di ambang kehancuran.

Lot tidak bisa dikatakan sebagai keturunan rohani Abraham karena dia TIDAK HIDUP dgn DIMENSI ILAHI, tidak memiliki SIKAP HATI yang FEAREST GOD, tidak hidup dalam IMAN dan KETAATAN seperti Abraham.

Jika ditarik benang merahnya dengan pesan-pesan eksposisi iman, ada beberapa poin teologis mendalam dari narasi yang disampaikan:

​1. Warisan "Kecenderungan Babel" (Genetika Jiwa)

​Menarik sekali melihat paralel antara keputusan kakek Abraham (Terah) yang membawa keluarganya keluar ke Ur-Kasdim (wilayah Babel/tanah keturunan Ham) dengan keputusan Lot. Babel secara arsitektural, peradaban, dan teknologi adalah puncak pencapaian manusia pada zamannya. Namun, motif utamanya cacat secara rohani:

  • Mencari Reputasi: "Marilah kita cari nama" (Kejadian 11:4) — membangun menara untuk meninggikan diri.
  • Menolak Rencana Agung: Tuhan memerintahkan manusia untuk memenuhi bumi, tetapi Babel membangun batasan supaya tidak berpencar.

​Ketika Lot memilih lembah Yordan karena terlihat seperti "taman Tuhan" dan "tanah Mesir" (Kejadian 13:10), matanya sedang bekerja dengan kacamata Babel. Ia terpikat pada sistem peradaban yang menawarkan kemakmuran, kenyamanan, dan jaminan hidup, tanpa menimbang apakah di sana ada kehadiran Tuhan atau tidak.

​2. Dekadensi Geografis Menuju "Tua-Tua Kota"

​Alkitab mencatat kemunduran Lot secara bertahap yang sangat mengerikan bagi seorang orang benar:

  1. ​Ia memilih Lembah Yordan.
  2. ​Ia berkemah dekat Sodom.
  3. ​Ia akhirnya tinggal di dalam Sodom.
  4. ​Ia duduk di pintu gerbang Sodom (Kejadian 19:1), yang berarti ia telah diangkat menjadi salah satu tua-tua kota atau hakim di dalam sistem yang korup tersebut.

​Ini adalah peringatan keras tentang bahaya kompromi. Seseorang bisa saja memiliki status "orang benar" (seperti kesaksian Petrus), tetapi jika kecenderungan hatinya terus mendekat kepada apa yang dunia tawarkan, ia akan berakhir menjadi bagian dari struktur peradaban yang tidak dibangun oleh Allah.

​3. Salah Fokus: Cenderung pada Apa yang Akan Dihancurkan

​Peradaban yang dibangun Nimrod, Kain, atau Nebukadnezar—semua peradaban yang dibangun tanpa Allah pada akhirnya akan diakhiri dan ditaklukkan oleh keturunan Abraham yang sejati.

​Tragedi terbesar Lot adalah ketidakselarasan fokus. Di saat Abraham sedang membangun fondasi bagi kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10), Lot justru menginvestasikan hidup, keluarga, dan masa depannya untuk membangun reputasi di kota yang sudah masuk dalam daftar penghakiman Allah. Ia menyelamatkan jiwanya, tetapi kehilangan seluruh jerih payahnya karena ia membangun di atas tanah yang akan dibakar.

​Kesimpulan Jiwa

​Kecenderungan hati Lot menunjukkan bahwa seseorang bisa saja "menderita batin" melihat dosa di sekitarnya, tetapi tetap memilih tinggal di sana karena keuntungan fasilitas atau status yang ditawarkan oleh sistem dunia tersebut. Ini adalah teguran kuat agar setiap orang yang mengaku sebagai keturunan Abraham memeriksa ulang: Apakah pikiran kita sedang menyelaraskan diri dengan kota Allah yang abadi, atau diam-diam hati kita masih terpikat oleh kemegahan Babel dan Sodom yang sedang menuju kehancuran?


Perbedaan Hidup dalam "Fantasi Jiwa" dan hidup dalam Fondasi Iman

​1. Menetap di Kemah vs. Membangun Fantasi

​Ibrani 11:9-10 mencatat bahwa Abraham tinggal di kemah-kemah sebagai orang asing. Kemah adalah simbol dari kediaman yang sementara, mudah dibongkar, dan tidak memiliki fondasi permanen di bumi.

  • Abraham membiarkan Allah yang membangun: Dengan tetap tinggal di kemah, Abraham menolak untuk menancapkan akarnya di bumi berdasarkan kekuatan atau ambisinya sendiri. Ia menanti dengan sabar karena ia tahu bahwa Arsitek dan Pembangun kota yang sejati adalah Allah, bukan dirinya.
  • Lot membangun berdasarkan fantasi: Kebalikan dari Abraham, Lot melihat Lembah Yordan yang subur lalu jiwanya mulai berfantasi tentang kemakmuran, stabilitas, dan kenyamanan lahiriah. Lot buru-buru menukar kemahnya dengan rumah permanen di Sodom, mengira ia sedang membangun masa depan, padahal ia sedang membangun di atas tanah yang sedang menghitung hari menuju pemusnahan.

​2. Realitas Tanah Kanaan yang Terkutuk vs. Janji Berkat

​Poin mengenai Kanaan sangatlah krusial. Kanaan adalah keturunan Ham, yang telah dikutuk oleh Nuh ("Terkutuklah Kanaan, ia akan menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya," Kejadian 9:25).

​Di sinilah letak ujian iman Abraham yang sesungguhnya:

  • ​Secara lahiriah, Tuhan membawa Abraham ke tanah yang secara rohani memiliki rekam jejak kutuk (Kanaan).
  • ​Secara janji, Tuhan justru berkata bahwa di tanah itulah Abraham akan dijadikan bangsa yang besar dan menjadi sumber berkat.

​Jika Abraham menggunakan pikiran logisnya, ini sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sumber berkat harus tinggal menetap di tanah yang terkutuk? Namun, Abraham tidak mengizinkan realitas lahiriah Kanaan mendikte responsnya. Ia tetap tinggal di sana sebagai "orang asing" karena ia tahu identitas dan berkatnya tidak bersumber dari tanah Kanaan, melainkan dari Perkataan Allah yang diimaninya.

​3. Bahaya Memutuskan Berdasarkan "Kecenderungan Hati"

​Kekeliruan terbesar manusia—yang diwakili dengan sempurna oleh figur Lot—adalah ketika kita membuat keputusan penting dalam hidup berdasarkan apa yang "kelihatan bagus dan baik secara lahiriah" (kecenderungan hati).

​Lembah Yordan di mata Lot kelihatan seperti Taman Tuhan dan seperti tanah Mesir (Kejadian 13:10). Secara visual, itu adalah pilihan yang 100% benar dan menguntungkan. Namun, apa yang baik bagi mata dan ambisi manusia sering kali merupakan jerat maut bagi rohnya.


​Ketika kita sudah menetapkan keinginan di dalam hati terlebih dahulu berdasarkan kalkulasi pikiran sendiri, kita cenderung akan memanipulasi keadaan agar selaras dengan kemauan kita. Kita mulai memalsukan tuntunan Tuhan demi membenarkan fantasi kita.

​Kesimpulan Hidup yang Diselaraskan

​Perintah Tuhan sering kali tidak masuk akal karena Tuhan tidak sedang bekerja di dalam dimensi logika manusia, melainkan di dalam dimensi rencana agung-Nya. Seperti yang Papa Djonny sampaikan dalam khotbahnya, Allah sedang mencari orang-orang yang jiwanya dan pikirannya tidak mengalami konflik atau tanda tanya ketika diperintahkan untuk melakukan sesuatu.

​Respons iman yang sejati adalah menyerah total dan menyelaraskan diri dengan Firman-Nya, bahkan ketika keadaan di sekitar kita terlihat mustahil atau sekering tanah Kanaan. Jangan biarkan jiwa kita menuntun kita berjalan ke "Sodom" hanya karena tempat itu terlihat subur, sementara roh kita perlahan-lahan tersiksa dan mati di sana.


Kemunafikan Rohani (spiritual hypocrisy)

Anatomi manipulasi jiwa: bagaimana manusia menggunakan terminologi ilahi untuk membungkus ambisi kedagingan.

​Dalam Kejadian 13:10, urutan pandangan Lot dicatat dengan sangat spesifik:

  1. Seperti taman Tuhan... (Topeng Rohani)
  2. ...seperti tanah Mesir. (Motif Sebenarnya)

​1. Topeng Rohani: Mengapa "Taman Tuhan" Disebut Duluan?

​Lot membutuhkan justifikasi moral dan spiritual agar keputusannya memisahkan diri dari Abraham tidak terlihat egois. Jika ia langsung berkata, "Saya memilih tempat ini karena mirip Mesir (pusat kapitalisme, kemakmuran, dan kedagingan saat itu)," maka egonya akan merasa bersalah karena meninggalkan bapa rohaninya.

​Maka, jiwa manusia yang licik akan mencari kemiripan yang tampak suci: "Wah, lembah ini subur sekali, suburnya luar biasa... ini pasti berkat Tuhan, ini seperti Taman Eden (Taman Tuhan)!"

​Ini adalah bentuk rasionalisasi. Kita sering kali membumbui keputusan egois kita dengan bahasa-bahasa langit—mengutip ayat, membawa-bawa nama "tuntunan Tuhan", atau berkata "ini demi pelayanan"—hanya agar fantasi pribadi kita mendapatkan stempel legalitas ilahi.


​2. Motif Sebenarnya: Daya Tarik "Tanah Mesir"

​Mesir dalam Alkitab adalah simbol dari sistem dunia yang mengandalkan kekuatan manusia, teknologi, irigasi buatan, dan kemakmuran tanpa perlu bergantung pada hujan dari langit (iman).

​Inilah yang sebetulnya dicari oleh Lot: keamanan finansial dan kenyamanan hidup yang bisa dikontrol oleh kekuatannya sendiri. Ia lelah hidup di kemah bersama Abraham, berpindah-pindah, dan harus selalu menanti-nanti firman Tuhan yang tidak pasti kapan digenapi. Lembah Yordan menawarkan kepastian instan seperti Mesir, dan Sodom menawarkan fasilitasnya.

​3. Peringatan Keras: "Cocokologi" Ayat Demi Keuntungan

​Ini adalah penyakit rohani yang sangat kronis di zaman sekarang, yang juga sering dikritik oleh Papa Djonny sebagai "Injil Palsu" atau Teologi Kemakmuran.

​Banyak orang mengutip ayat Alkitab bukan untuk menyelaraskan hidup mereka dengan dimensi Allah, melainkan untuk:

  • Memaksa Tuhan menyetujui rencana bisnis atau ambisi pribadi mereka.
  • Memanipulasi sesama agar terlihat saleh, padahal di baliknya ada kalkulasi keuntungan, reputasi, atau materi.
  • Menghibur diri sendiri atas pilihan-pilihan hidup yang sebetulnya kompromi dengan dosa, dengan dalih "Tuhan kan tahu kelemahan saya" atau "Tuhan pasti berkati lewat jalan ini."

​Jika motif utamanya adalah keuntungan semata, maka ayat Alkitab tidak lagi berfungsi sebagai pedoman ketaatan, melainkan hanya sebagai alat transaksional.


Kesimpulan: Memeriksa Urutan Hati

​Pesan ini harus menjadi cermin yang tajam bagi kita. Setiap kali kita diperhadapkan pada pilihan hidup, kita harus berani bertanya dengan jujur di hadapan Tuhan:

"Apakah saya memilih ini karena benar-benar ingin membangun fondasi iman bersama Tuhan (meski harus tinggal di kemah asing), atau saya sedang menuju Sodom dengan alasan rohani 'seperti taman Tuhan', padahal mata saya sedang mendamba kemewahan 'tanah Mesir'?"


​Tuhan tidak bisa dikecoh oleh kemasan luar. Abraham membiarkan Allah yang bekerja dan menata hidupnya, sedangkan Lot menata hidupnya sendiri dengan mencatut nama Tuhan. Pada akhirnya, sejarah membuktikan mana yang bertahan sampai kekekalan dan mana yang habis menjadi abu.














Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) - The Boundless Spirit UR #225

Berikut adalah catatan  dari khotbah THE UPPER ROOM 225 oleh Dr. Jonathan David pada tanggal 24 Maret 2026 yang berjudul "ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1)" : THE UPPER ROOM 225 - 24 Maret 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 1) Pembicara: Dr. Jonathan David 1. Pendahuluan & Doa Pembuka Pencurahan Terakhir: Tuhan berfirman akan ada pencurahan terakhir Roh Kudus yang akan mengakhiri segalanya dan memulai zaman baru, yaitu zaman kebenaran . Manifestasi Roh Kudus: Roh Kudus akan membawa umat-Nya kepada kebenaran, pewahyuan, pengertian, hikmat, dan memberikan informasi rahasia serta pengertian mendalam yang hanya diberikan oleh surga . Musuh tidak akan bisa memotong informasi atau apa yang Tuhan katakan kepada kita . Kisah Mendengar Suara Tuhan: Pembicara menceritakan pengalaman tentang seorang wanita yang mengaku bersedia membayar 1 juta dolar untuk bisa mendengar suara Tuhan . Namun, ketika ditawari CD dan catatan khotbah seharga USD 55, wanita tersebut mengeluh mahal...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Upper Room 35 – DR. Jonathan David

  Dobel dekade sorga terbuka, ketajaman profetik, posisi strategis dan demonstrasi Roh adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Mahatinggi untuk kita menghadapi tantangan 20 tahun hari-hari terakhir ini (2019-2039). 08-02-2022 Sorga terbuka dan Roh Kudus turun. Sekarang aku bisa memulai pelayanan. Hal-hal supranatural akan mengambil alih. Roh Kudus jadilah pemimpinku sebagaimana Kau memimpin Kristus. Kesaksian dari Roh, bahwa aku adalah anak Allah yang hidup, bergabung dengan Kristus dan mewarisi yang Tuhan sediakan. Ketajaman profetik, dobel dekade sorga terbuka, posisi strategis dan demonstrasi Roh akan jadi porsi hidup kami dalam 2 dekade sorga terbuka 2019-2039. Selama 40 hari 40 malam Goliath menantang orang Israel.   Daud membangkitkan keberaniannya ketika Isai memberikan tugas mengantar makanan. Pergi dan lihat. Dia dengarkan nasihat bapanya dan tugas itu sudah diset. Berapa banyak yang mentaati bapa rohani? Kita kehilangan pesan itu. Dan Bileam dicemari oleh...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)

Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham . Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham . Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi . Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia. Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42" Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:...

Membangun Benteng Perlindungan

SATE 10 December 2020   Bacalah terlebih dahulu: Ibrani 8:7-10, Ayub 1:1 Sebagaimana iblis dapat membuat benteng di dalam pikiran manusia, Allah juga dapat membuat benteng di dalam manusia. Ayub mempunyai empat karakter yang menonjol di dalam kehidupannya yaitu saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ketika iblis melakukan berbagai pencobaan kepada Ayub seiijin dari Allah, dimulai dari kehilangan anak-anaknya, kesehatannya, istrinya, bahkan dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi ketika masalah tersebut muncul, Ayub tetap kuat dan karakter Ayub tetap sama, karena Allah sudah membangun terlebih dahulu banteng dan kubu di dalam pikiran Ayub! Sehingga berkali-kali Alkitab mengatakan bahwa Ayub itu tidak berdosa.   Allah membangun di dalam roh, dengan cara menaruh dan menuliskan hukumNya di dalam akal budi manusia. yaitu melaui mendengarkan dan merenungkan firman sehingga Allah menjadi Allah mereka, dan manusia menjadi umatNya.   *#1. Bagaimana Allah bisa berhasil ...