Konsep "manusia kerajaan surga" dan peran Yesus Kristus dalam mewujudkan rencana agung Allah di bumi. Pembicara menekankan bahwa Yesus, meskipun dalam rupa Allah, mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia untuk memenuhi hukum Allah, terutama menggenapi Roma 5:17-19, serta menunjukkan keadilan-Nya. Khotbah ini juga menjelaskan lima poin penting mengenai Yesus, termasuk bahwa Dia adalah Raja dari kerajaan yang bukan dari dunia ini, membawa kerajaan kebenaran, adalah Firman yang menjadi manusia, dan merupakan Pencipta segala sesuatu, yang semuanya dirancang oleh hikmat Allah. Tujuan akhir dari semua ini adalah untuk mengusir iblis dari bumi selamanya dan membenarkan umat manusia melalui Kristus.
I. Konteks dan Dasar Hukum Allah
Topik pembahasan ini adalah tentang manusia kerajaan surga yang hidup di bumi, meskipun kerajaan surga awalnya ada di surga.
Rencana Agung dan Hikmat Allah: Tuhan memiliki rencana agung yang telah direncanakan sebelum dunia dijadikan. Rencana ini melibatkan penyingkapan misteri yang tidak dipahami oleh penguasa-penguasa zaman ini maupun hikmat dunia.
Dasar Hukum Roma 5:17-19: Allah harus memiliki dasar yang kuat untuk menerapkan hukum Allah di Roma 5:17-19. Ayat ini menyatakan bahwa melalui ketidaktaatan satu orang (Adam), semua menjadi orang berdosa; tetapi melalui ketaatan satu orang (Yesus Kristus), semua menjadi orang benar. Hal ini memungkinkan mereka yang menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran untuk hidup dan berkuasa melalui Yesus Kristus.
Keadilan Allah: Agar Allah tetap adil dan benar, Dia harus berpijak pada hukum-Nya yang sudah ada sebelum dunia ini dijadikan dan sebelum iblis memberontak. Tanpa penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus, Allah akan bertindak tidak adil.
Iblis yang Bodoh: Iblis, meskipun mengetahui hukum Allah, telah kehilangan hikmat Allah sama sekali. Iblis (yang memiliki hikmat dunia) berusaha menuntut dan menyerang Allah dalam hal ketidakadilan.(karena iblis menyangkal telah berbuat dosa terhadap Allah oleh sebab dia telah meninggikan dirinya dan hendak menyamai yang Maha Tinggi.
II. Tahapan dan Pembatasan Otoritas Iblis
Proses pengembalian bumi kepada orang-orang benar melibatkan tahapan perbaikan atau pembaharuan langit dan bumi.
Keadaan Dunia Sebelum Kristus: Sejak masa Nuh (pasca-air bah) hingga Kristus, iblis telah kembali menjadi penguasa dunia ini (kosmos - yang mencakup bumi dan kehidupan di atasnya, G2889).
Penghakiman yang Dimulai Kristus: Yesus sendiri menyatakan bahwa penghakiman atas dunia sedang berlangsung, dan penguasa dunia ini akan dilemparkan keluar (Yohanes 12:31).
Keterbatasan Iblis pada Diri Yesus: Yesus menegaskan bahwa penguasa dunia ini datang tetapi tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Nya; ia tidak mendapati apa-apa dalam pemikiran Yesus (Yohanes 14:30).
Hukuman Melalui Roh Kudus: Ketika Roh Kudus turun, Ia akan meyakinkan dunia (kosmos) akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.
Perubahan Status Iblis: Karena Roh Kudus telah dicurahkan dan Yesus telah menggenapi Roma 5:17-19, status iblis berubah. Ia tidak lagi disebut penguasa bumi, tetapi penguasa zaman ini (aion - G165, penguasa zaman dosa) (1 Korintus 2:6).
Ruang Gerak yang Terbatas: Iblis kini dibatasi ruang lingkupnya, seperti dipenjara. Ia hanya bisa bekerja di kalangan orang-orang durhaka, pemberontak, dan orang-orang berdosa (Efesus 2:2-3). Semakin banyak orang berdosa berbalik dan diselamatkan, semakin sempit ruang gerak iblis.
III. Lima Peranan Utama Yesus Kristus
Allah mengutus Yesus ke dunia ini untuk menggenapi hukum keadilan-Nya. Kedudukan Yesus di surga dan peranan-Nya di bumi sangat penting untuk mewujudkan Manusia Kerajaan Surga.
1. Raja dari Kerajaan yang Bukan dari Dunia Ini
Yesus adalah Raja dari kerajaan yang bukan berasal dari dunia ini (Yohanes 18:36-37). Kelahiran-Nya bertujuan untuk menegaskan diri-Nya sebagai Raja. Ketika Raja (Yesus) datang, Ia membawa kerajaannya. Inilah mengapa Yohanes Pembaptis menyerukan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat" (Matius 3:2).
2. Pembawa Kerajaan Kebenaran
Yesus datang untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Kerajaan yang Ia bawa adalah Kerajaan Kebenaran. Sifat utama Kerajaan Surga adalah perkara kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh (Roma 14:17). Kerajaan ini akan didirikan Allah di bumi ini, tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan akan meremukkan serta menghabisi segala kerajaan lain (Daniel 2:44). Hal ini menepis kesimpulan bahwa bumi akan dilenyapkan; sebaliknya, bumi akan tetap ada, tetapi dihuni oleh orang-orang benar.
3. Firman yang Menjadi Manusia
Yesus adalah Firman (Logos) yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Yohanes 1:1). Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara manusia. Yesus harus menjadi manusia agar cara Allah mengusir iblis untuk selama-lamanya dari bumi menjadi adil. Sebab, jika manusia pertama (Adam) diusir karena dosa, maka iblis harus diusir oleh Manusia (Yesus).
Melalui Yesus, Allah kini menaruh hukum-Nya (Taurat/Firman) di dalam akal budi (pikiran/otak) dan menuliskannya di hati (roh, jiwa, hati nurani) manusia. Akhirnya, Firman ditaruh di mulut orang percaya (Yesaya 59:21), memastikan bahwa otoritas firman yang kekal berkuasa di seluruh keberadaan manusia kerajaan surga.
4. Yang Menjadikan Segala Sesuatu
Yesus adalah yang menjadikan segala sesuatu (termasuk iblis) dan segala sesuatu ada di dalam Dia (Yohanes 1:3). Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan dan yang sulung (lebih utama) dari segala yang diciptakan, termasuk singgasana, kerajaan, pemerintahan, dan penguasa (Kolose 1:15-17). Mengetahui hal ini berarti Manusia Kerajaan Surga memiliki otoritas yang jauh lebih tinggi daripada iblis.
5. Dipenuhi Seluruh Kepenuhan Allah
Jalan yang ditempuh Yesus sebagai Manusia Kristus adalah hikmat Allah. Walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri, mengambil rupa hamba, dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Tindakan kerendahan hati dan ketaatan ini bertentangan dengan sifat iblis yang meninggikan diri.
Karena ketaatan-Nya, seluruh kepenuhan Allah berdiam dalam diri Yesus sebagai Anak Manusia. Hal ini memastikan bahwa si jahat tidak memiliki ruang sedikit pun dalam diri-Nya. Rasul Paulus mendoakan agar orang-orang kudus juga dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (Efesus 3:19) agar mereka juga tidak dapat dijamah oleh iblis. Ini adalah kelayakan yang perlu disiapkan dan diterima oleh Manusia Kerajaan Surga.