Khotbah ini menjelaskan rencana agung Allah untuk memulihkan otoritas manusia sebagai pewaris bumi yang sah melalui hikmat dan suara firman-Nya. Penulis membandingkan kondisi spiritual antara iblis yang sombong dengan manusia yang rendah hati, menegaskan bahwa iblis hanyalah entitas yang terbuang dan bukan pemilik dunia ini.
Melalui analisis kitab Kejadian hingga Wahyu, dipaparkan bahwa tujuan akhir Tuhan adalah menghapus dominasi kegelapan dan menghadirkan langit dan bumi yang baru. Dalam kondisi ideal tersebut, terang ilahi akan menggantikan matahari sepenuhnya sehingga malam tidak lagi ada. Kehidupan orang beriman dipandang sebagai instrumen penting dalam mewujudkan visi kekekalan ini di dunia. Seluruh narasi menekankan bahwa ketaatan pada Kristus adalah kunci bagi manusia untuk memerintah dengan otoritas penuh sesuai rancangan semula.
1. Peran Roh Kudus dalam Penyingkapan Rahasia Allah
Manusia kerajaan surga diajak untuk memiliki kebergantungan penuh kepada Roh Kudus.
Penyingkapan (revelasi) mengenai rahasia dan misteri Allah adalah anugerah yang diberikan kepada mereka yang menjadi bagian dari rencana kehendak-Nya.
Tujuan dari penyingkapan ini adalah agar orang beriman dapat hidup dan berjalan sesuai dengan maksud serta tujuan agung Allah.
2. Status Hukum Bumi: Manusia sebagai Pewaris Utama
Bukan Iblis, melainkan manusia yang telah ditetapkan Allah sebagai pewaris bumi.
Matius 5:5 menyatakan bahwa orang yang lemah lembut (praus) akan memiliki atau mewarisi bumi. Karakter praus mencakup sifat rendah hati, lembut, dan tidak keras hati—berlawanan dengan Iblis yang sombong.
Iblis sebagai Buangan: Berdasarkan Yehezkiel 28:17, Iblis dilempar ke bumi karena kesombongannya. Bumi bagi Iblis adalah tempat buangan, bukan warisan.
Hubungan Spesial (Kleronomeo): Kata "mewarisi" (kleronomeo) menunjukkan adanya hubungan khusus antara pemberi warisan (Bapa di surga) dan penerimanya (saudara).
3. Otoritas dan Hikmat dalam Menghadapi Iblis
Perbedaan Strata: Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sementara Iblis adalah makhluk ciptaan yang telah diturunkan stratanya.
Otoritas Melalui Ketaatan: Mengusir setan bukan sekadar peperangan rohani biasa, melainkan bentuk ketaatan kepada perintah Yesus. Ketaatan ini merupakan hikmat Allah yang membuat seseorang menjadi bijaksana atau prudent.
Kekalahan Hikmat Iblis: Iblis telah kehilangan hikmat Allah. Iblis sering kali bertindak berdasarkan dugaan atau hikmat duniawinya sendiri, namun tidak mampu memahami rencana Allah yang dijalankan melalui ketaatan Kristus dan para pengikut-Nya.
4. Suara Firman sebagai Jalan di Masa Sekarang
Transisi Komunikasi Allah: Dahulu Allah berbicara melalui nabi-nabi, namun di zaman akhir ini Ia berbicara melalui Anak-Nya (Kristus).
Definisi "Jalan": Di masa sekarang, "jalan" Tuhan diwujudkan melalui suara firman (rhema) dan hikmat Allah.
Tujuan Suara Firman: Melalui manusia yang mengeluarkan "suara firman," rencana Allah dalam Kejadian 1:26-29 (manusia berkuasa dan menaklukkan bumi) dapat tergenapi. Hal ini secara bertahap menyingkirkan kekuasaan Iblis dari bumi.
5. Pola Penciptaan: Dari Kejadian Menuju Kesempurnaan
Jeda Kejadian 1:1 dan 1:2: Terdapat jeda waktu yang sangat lama antara penciptaan awal yang baik dengan kondisi bumi yang menjadi kacau dan gelap gulita akibat Iblis dilempar ke bumi.
Terang Allah vs Terang Matahari:
Pada hari ke-1 hingga ke-3, bumi diterangi langsung oleh terang pribadi Allah (Allah adalah terang), yang menyingkirkan kegelapan.
Benda-benda penerang (matahari, bulan, bintang) baru dijadikan pada hari ke-4 sebagai penanda waktu (hari, bulan, tahun).
Hari Ketujuh dan Masuknya Iblis: Ketika Allah berhenti bekerja (beristirahat) pada hari ketujuh untuk membiarkan ekosistem berjalan melalui hukum alam (rotasi/revolusi), Iblis masuk kembali untuk merusak hubungan manusia dengan Allah di Taman Eden.
6. Visi Akhir: Langit dan Bumi yang Baru
Restorasi Total: Allah akan memproses kembali bumi hingga mencapai tahap "sempurna" sesuai harapan-Nya, bukan sekadar "amat baik".
Kondisi di Wahyu 21 & 22:
Iblis akan dibuang selamanya ke lautan api (Wahyu 20:10) sehingga tidak memiliki akses lagi ke bumi.
Akan ada langit baru dan bumi baru.
Tidak ada malam lagi: Bumi tidak akan lagi membutuhkan cahaya lampu atau matahari karena Tuhan Allah sendiri yang akan menerangi mereka.
Manusia akan memerintah sebagai raja di bumi dalam situasi kekekalan, di mana waktu (tanggal/tahun) tidak lagi berlaku.
Sesi ini juga meninjau ulang narasi penciptaan di Kejadian 1, menyoroti bahwa terang Allah (yang adalah Allah sendiri) menyingkirkan kegelapan selama enam hari pertama dan bertujuan mengembalikan bumi ke kondisi yang baik dan sangat baik, yang pada akhirnya mengarah pada langit baru dan bumi baru (Wahyu 21-22) di mana manusia memerintah dan malam tiada lagi. Ketaatan manusia diposisikan sebagai kunci untuk mewujudkan rencana agung Allah ini, menyingkirkan Iblis secara permanen.
Pertanyaan:
Bagaimana urutan penciptaan, dari hari pertama hingga ketujuh, mengungkapkan pola rencana Allah yang belum sempurna?
Urutan penciptaan dari hari pertama hingga ketujuh mengungkapkan pola rencana Allah yang, meskipun sudah "sangat baik," masih belum mencapai kesempurnaan mutlak sesuai harapan-Nya.
Berikut adalah pola yang disingkapkan oleh urutan penciptaan tersebut, khususnya mengenai transisi dari kondisi yang sangat baik menuju potensi ketidaksempurnaan:
1. Pola Allah Sudah Ada Sebelum Waktu Ada yang Ditandai Matahari dan Bulan
Penciptaan ini menunjukkan pola atau prinsip Allah yang bisa diterapkan dalam segala aspek kehidupan. Rencana Allah (niatan dan rencana Allah) sudah ditetapkan pada diri-Nya sendiri di alam kekekalan, jauh sebelum langit dan bumi diciptakan.
Penciptaan di Kejadian 1 ayat 1 adalah baik, tetapi belum sempurna sesuai dengan kehendak dan harapan-Nya.
2. Hari 1 hingga Hari 3: Terang Allah yang Menyingkirkan Kegelapan
Pada periode awal, bumi diterangi secara eksklusif oleh Terang Allah:
Hari Pertama: Allah berfirman, "Jadilah terang," dan terang itu jadi. Terang ini adalah pribadi Allah sendiri. Kehadiran Terang Allah ini menyingkirkan kuasa kegelapan dan menerangi seluruh bumi.
Hari Kedua dan Ketiga: Selama periode ini, bumi tetap diterangi oleh Terang Allah, dan Allah melihat hasil pekerjaannya sebagai baik. Sepanjang hari pertama hingga keenam, tidak ada campur tangan iblis.
3. Hari 4: Peralihan Terjadi dari Terang Tuhan Langsung ke Benda-benda Penerang
Pola rencana yang belum sempurna mulai terlihat jelas pada Hari Keempat:
Penciptaan Benda Penerang: Allah menciptakan benda-benda penerang (matahari, bulan, bintang) untuk menguasai siang dan malam, serta untuk memisahkan terang dari gelap.
Awal Pengukuran Waktu: Benda-benda penerang ini ditetapkan menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap, hari-hari, dan tahun-tahun. Ini adalah awal mula kalender manusia.
Kondisi yang Tidak Disebut "Baik": Sumber menunjukkan bahwa Hari Keempat mungkin merupakan satu-satunya hari di mana Allah tidak berkomentar bahwa itu baik seperti pada ayat sebelumnya.
4. Bayangan dan Penghalang: Benda penerang (seperti cakrawala) dapat menghalangi terang dan menciptakan "bayangan" (shadows), yang berbeda dari terang langsung Allah. Hukum Taurat dan ritual, misalnya, disebut sebagai bayangan dari hakikat yang akan datang (Kristus).
5. Hari 6 dan 7: Titik Rawan Masuknya Iblis
Hari Keenam: Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah untuk berotoritas penuh di bumi. Karena kehadiran manusia, Allah melihat segala yang dijadikan itu sungguh amat baik (very very good). Keadaan ini sudah sangat baik, tetapi belum mencapai sempurna sesuai harapan Tuhan.
Hari Ketujuh (Istirahat): Allah beristirahat (berhenti) dari segala pekerjaan penciptaan. Pada saat inilah bumi mulai dipelihara oleh sistem ciptaan-Nya (matahari, rotasi, revolusi tata surya), bukan lagi oleh terang langsung Allah secara eksklusif.
Masuknya Iblis: Sumber menyatakan bahwa iblis masuk ke Bumi (Taman Eden) pada saat ini, setelah hari keenam, menjelang hari ketujuh, ketika bumi diterangi oleh benda penerang ciptaan Allah (matahari, bulan, bintang). Hanya Terang Allah yang dapat menyingkirkan iblis.
Kesimpulan Pola Rencana yang Belum Sempurna
Pola ini mengungkapkan bahwa kondisi "sangat baik" yang dicapai pada Hari Keenam menjadi tidak stabil ketika:
Allah berhenti bekerja (beristirahat).
Bumi beralih bergantung pada benda-benda penerang (yang menciptakan siklus hari, tanggal, dan bayangan) sebagai pengganti terang langsung Allah.
Karena belum mencapai kesempurnaan, keadaan "sangat baik" ini rentan terhadap kerusakan. Iblis yang sebelumnya sudah dibuang ke bumi (menurut Yehezkiel 28 ayat 17) menemukan kesempatan untuk masuk kembali karena Terang Allah tidak lagi menerangi bumi secara total seperti Hari Pertama hingga Ketiga.
Rencana Allah yang agung adalah mengembalikan situasi itu dan bahkan menyempurnakannya (lebih lagi disempurnakan) melalui manusia sebagai instrumen-Nya. Tujuan akhir Allah adalah menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru di mana malam tidak akan ada lagi dan manusia tidak memerlukan cahaya lampu atau matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka — sebuah kondisi yang mirip dengan Hari Pertama, tetapi kekal dan sempurna.
2. Apa tujuan perkataan Yesus pada Matius 5:5?
Tujuan Matius 5:5, yaitu firman yang menyatakan, "Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi", adalah untuk menyingkapkan niatan dan rencana Allah yang telah ditetapkan sejak kekekalan.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai tujuan Matius 5:5, berdasarkan sumber yang tersedia:
1. Menyingkapkan Niatan dan Rencana Allah yang Kekal
Matius 5:5 adalah penyingkapan dari niatan dan rencana Allah yang sudah ditetapkan pada diri-Nya di alam kekekalan.
Rencana ini sudah ada jauh sebelum langit dan bumi diciptakan.
Rencana ini sudah ada jauh sebelum iblis dilempar ke bumi.
Meskipun Yehezkiel 28 ayat 17 (mengenai iblis dilempar ke bumi) dicatat ribuan tahun sebelum Yesus mengucapkan Matius 5:5, Matius 5:5 berasal dari Logos (Sang Firman) sehingga semuanya sudah ada dari kekekalan pada diri Allah.
2. Menetapkan Manusia sebagai Pewaris Bumi
Tujuan utama ayat ini adalah untuk menyatakan secara eksplisit bahwa saudara (manusia) adalah pewaris daripada bumi ini.
Ini merupakan penetapan dari Allah sendiri, yang menegaskan bahwa bukan iblis yang akan menerima bumi.
Kata "mewarisi" (kleronomeo, G2816) menunjukkan bahwa kepemilikan bumi adalah warisan. Warisan ini didapat karena adanya hubungan yang spesial dan khusus dengan Bapa di surga, yang adalah pencipta langit dan bumi.
3. Menggarisbawahi Sifat yang Layak Menerima Warisan
Matius 5:5 menunjukkan kriteria karakter yang ditetapkan Allah untuk menerima warisan ini:
Lemah Lembut (Praus): Ayat ini berbicara tentang orang yang "lemah lembut". Kata Yunani yang digunakan adalah praus (G4239), yang merujuk pada orang yang gentle, rendah hati, lembut, dan tidak mau segala sesuatu itu dilakukan dengan keras.
Kontras dengan Iblis: Sifat "lemah lembut" ini sangat bertolak belakang dengan sifat iblis yang penuh kesombongan (sombong karena kecantikanmu) dan kekerasan. Iblis dilempar ke bumi karena kesombongannya dan tidak mewarisi bumi.
Dengan demikian, Matius 5:5 bertujuan untuk meyakinkan manusia tentang hak waris mereka atas bumi, yang diberikan oleh Allah melalui hubungan khusus, dengan syarat ketaatan dan memiliki karakter yang lembut, bertolak belakang dengan karakter iblis. Ini adalah bagian dari rencana agung Allah untuk mewujudkan langit baru dan bumi baru di mana manusia akan memerintah sebagai raja selamanya.