Khotbah ini masih bertema Manusia Kerajaan Sorga sesi ke 16, menyajikan sebuah analisis mendalam mengenai peran umat percaya dalam mewujudkan **rencana agung Allah** di bumi. Berfokus pada perjanjian ilahi yang menempatkan **Firman dan Roh Allah** dalam diri orang yang telah lahir baru, menegaskan identitas mereka sebagai **terang dunia** yang berkuasa. Pengajaran ini berulang kali menyoroti **kebodohan Iblis**, yang meskipun mengetahui rencana Allah, tetap mengulangi "jalan lama" pemberontakan yang gagal, sebuah pola yang terlihat jelas sejak zaman Nuh.
Peringatan keras diberikan terhadap bahaya **pemikiran manusiawi** yang menyusup ke dalam gereja, seperti contoh Rasul Petrus, yang berupaya menolak **hikmat Allah** demi agenda yang dangkal. Melalui Kristus, umat percaya didorong untuk memahami bahwa mereka adalah sarana Allah untuk menyingkirkan Iblis secara permanen, mengakhiri **zaman dosa**, dan memulihkan bumi sepenuhnya.
Catatan lengkap:
I. Pewahyuan dan Rencana Agung Allah
Umat percaya diajak untuk menerima pewahyuan dan impartasi dari Tuhan. Benih yang diimpartasikan dan ditanam oleh Tuhan akan termanifestasi dalam kehidupan.
Allah telah memiliki dan mengungkapkan rencana agung-Nya, di mana hidup umat percaya terlibat dan dilibatkan untuk berpartisipasi dalam mewujudkannya.
Kepada orang percaya disingkapkan wahyu misteri agar dapat melangkah, terlibat, dan masuk sebagai tokoh atau pemeran pada masa yang telah ditentukan Tuhan.
Rencana Allah mencakup langit baru dan bumi baru, di mana bumi ini akan menjadi milik orang-orang benar.
II. Perjanjian Firman di Mulut Umat Percaya
Orang yang sudah lahir baru memiliki Roh Kudus dan Roh Kristus.
Allah berkeinginan menaruh perkataan-Nya pada mulut saudara, bukan pada batin.
Perjanjian (ikat janji) Allah dengan "mereka" (orang-orang gereja khusus, kecintaan Tuhan, dan orang-orang Yakub yang bertobat), termuat dalam Yesaya 59:21: "Roh-Ku yang menghinggapi Engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu",.
Roh Kristus, yaitu firman yang telah menjadi daging dan telah teruji, ada pada diri orang percaya.
Firman ini ditaruh dalam mulut oleh Allah untuk diperkatakan, dan tidak akan meninggalkan mulut umat percaya, mulut keturunan, dan mulut keturunan mereka dari sekarang sampai selama-lamanya.
Allah akan memproses firman yang dibawa oleh Roh Kudus (yang ada di dalam roh saudara) hingga menembus jiwa, diaplikasikan dalam jiwa, dan mencapai tubuh melalui suara yang dikeluarkan,. Hal ini bertujuan agar orang yang mendengar dapat mengerti dengan jelas bahwa itu adalah suara Tuhan yang berkata-kata kepada mereka.
III. Orang Percaya sebagai Terang Dunia
Seruan Yesaya 60 adalah: "Bangkitlah menjadi teranglah sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu".
Meskipun kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa, terang Tuhan terbit atas umat percaya.
Bangsa-bangsa (penduduk dunia dari berbagai macam bangsa) akan berduyun-duyun datang kepada terang umat percaya, dan raja-raja datang kepada cahaya yang terbit.
Ketika bangsa-bangsa datang kepada terang, mereka meninggalkan kegelapan, yang berarti iblis tidak lagi memiliki ruang yang luas di bumi; ruangnya makin sempit,.
Yesus berkata di Matius 5:14: "Kamu adalah terang dunia". Orang percaya menyadari bahwa mereka membawa sesuatu yang berasal dari Allah.
Terang pribadi Allah (yang pernah digunakan Allah untuk menata bumi) ada pada orang percaya. Kehadiran orang percaya sebagai terang menghentikan dan melumpuhkan semua upaya iblis untuk merusak dan menguasai bumi.
Hidup zoe (hidup Allah) di dalam orang yang sudah lahir baru adalah terang manusia. Terang itu berjaya dalam kegelapan, dan kegelapan tidak akan menguasainya.
Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Terang Dunia (Yohanes 8:12, Yohanes 9:5). Namun, Matius 5:14 mempertegas bahwa setelah Yesus duduk di tahta surga, orang percaya adalah terang dunia.
IV. Kebodohan Iblis dan Pola Kerja Allah
Pola kerja Allah (sejak Kejadian 1) tetap sama: Dia memulainya dengan terang. Allah menghadirkan terang kepribadian-Nya di bumi, maka kegelapan segera menyingkir.
Iblis tahu tentang pola kerja Tuhan ini, tetapi iblis bodoh dan tidak bisa memahaminya.
Iblis kehilangan hikmat Allah. Hikmat Allah dimusnahkan dari iblis karena kesombongan, keinginannya akan semarak/kemegahan, dan keinginan melampaui Yang Maha Tinggi (Yehezkiel 28, Yesaya 14).
Iblis yang dilempar ke bumi dan menyebabkan dosa adalah iblis yang sudah tidak memiliki hikmat Allah lagi.
Iblis terus melakukan upaya "jalan lama" (The old way) yang dilalui orang-orang jahat, seperti yang terjadi dari Kain sampai air bah,. "Jalan lama" ini mencakup pemikiran seperti: "Pergilah daripada kami" kepada Allah, dan "Yang Mahakuasa dapat berbuat apa terhadap kami?",. Iblis tidak menyadari bahwa Allah akan membinasakan mereka (dengan air bah).
Iblis tetap tidak percaya bahwa Allah akan menggenapkan rencana-Nya dengan cara yang sama seperti yang telah sukses dilakukan pada zaman Nuh, dan ini adalah kebodohan iblis atau hikmat dunia.
V. Kehidupan pada Zaman Nuh dan Kesudahan Zaman
Yesus mengatakan bahwa kedatangan Anak Manusia (akhir zaman/kesudahan zaman dosa) akan sama seperti halnya pada zaman Nuh,. Allah akan menggunakan jalan dan cara yang sama,.
Pada zaman Nuh (Kejadian 6):
Anak-anak Allah (keturunan Set) mulai merosot, menilai kehidupan secara daging (tertarik pada kecantikan perempuan),. Mereka mengambil istri sesuai kesukaan mereka, tidak lagi terpesona pada hidup ilahi, dan tidak menjaga janji tentang Mesias,.
Tuhan berfirman bahwa Roh-Nya tidak akan selamanya tinggal dalam manusia karena manusia itu daging, dan umurnya dibatasi 120 tahun (seperti masa Nuh menyelesaikan bahtera dalam ketaatannya).
Kejahatan manusia besar di bumi, dan kecenderungan hati mereka selalu membuahkan kejahatan semata-mata.
Allah menghapuskan (menciptakan/bara) manusia dari muka bumi karena menyesal telah menjadikan (asah) manusia.
Meskipun demikian, Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.
VI. Konflik Hikmat: Petrus dan Iblis
Iblis berupaya melumpuhkan fungsi dan peran gereja sebagai garam dan terang dunia melalui penyusupan pemikiran manusia,.
Kasus Petrus (Matius 16): Setelah Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias (pewahyuan dari Bapa),, Yesus menyatakan bahwa Dia harus menderita dan dibunuh di Yerusalem.
Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya, mengatakan, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu, hal itu sekali-kali tak akan menimpa engkau".
Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah engkau iblis. Engkau satu batu sandungan bagiku. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia".
Petrus menolak hikmat Allah karena dia terikat pada hikmat dunia (konsep Mesias menurut pemikiran manusia). Petrus berharap Mesias menjadi solusi atas penderitaan lahiriah dan mengembalikan reputasi kerajaan Daud,.
Pemikiran iblis yang masuk ke dalam manusia adalah: ingin berjalan tanpa Tuhan, menganggap pikiran sendiri sanggup mengambil keputusan tanpa membandingkan dengan kehendak Tuhan, dan mengejar kepuasan serta kebahagiaan dalam kedagingan,.
Pemikiran yang berasal dari iblis juga termasuk tidak mengharapkan kebaikan dari Tuhan dan tidak takut akan kejahatan yang diperbuat di hadapan Tuhan. Mereka menganggap kebaikan yang dimiliki berasal dari kepedulian/kerajinan mereka sendiri.
Hikmat dunia atau hikmat penguasa zaman ini tidak mengenal hikmat Allah yang tersembunyi,. Sebab kalau sekiranya mereka (penguasa zaman ini) mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia (1 Korintus 2:8),.
VII. Penggenapan Hukum Allah
Menderita, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah jalan untuk menggenapi penggenapan yang dikehendaki Bapa dan menggenapi hukum Allah,.
Oleh dosa satu orang, maut berkuasa, tetapi oleh satu perbuatan kebenaran (Yesus Kristus), semua orang beroleh pembenaran untuk hidup,.
Sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang, semua orang menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang, semua orang menjadi orang benar.
Allah Bapa ingin menerapkan dan bertindak sesuai hukum ini. Mesias akan menyelesaikan hal-hal yang abadi pada diri manusia, termasuk menyingkirkan iblis secara abadi, agar bumi menjadi baru dan hanya berisi kebenaran.