Sesi ini membahas peran **orang benar** dalam menggenapi rencana ilahi untuk memulihkan bumi dari dominasi kejahatan. Melalui kisah **Nuh**, dijelaskan bahwa satu pribadi yang hidup bergaul dengan Tuhan mampu membalikkan kutuk menjadi berkat serta menyelamatkan seluruh keluarganya. Ditekankan pentingnya peran **Roh Kudus** agar manusia tidak sekadar hidup dalam kedagingan, melainkan menjadi representasi rupa Allah. Papa meyakini bahwa saat ini sedang muncul **generasi Kristus** yang telah dinubuatkan sejak zaman dahulu untuk menghadirkan kebenaran tanpa batas. Kehidupan Nuh yang terhubung langsung dengan **takhta surga** menjadi teladan bagi orang percaya untuk memahami hati Tuhan dan menyelesaikan rancangan-Nya di dunia. Narasi ini mengajak pembaca untuk hidup optimis sebagai ahli waris bumi yang bertugas menyapu bersih pengaruh iblis melalui ketaatan iman.
1. Batasan Kejahatan dan Intervensi Allah
Allah tidak pernah membiarkan dosa atau kejahatan mencapai puncaknya tanpa kendali. Melalui firman-Nya, Allah memberikan pijakan agar ruang gerak iblis semakin sempit hingga akhirnya iblis tidak bisa hidup karena bumi hanya dipenuhi kebenaran.
Karakteristik Iblis: Manifestasi si jahat terlihat dari kekacauan, kondisi tidak berbentuk, dan gelap gulita, seperti keadaan bumi sebelum ditata kembali.
Pembatasan Malaikat Jahat: Allah membatasi kekuasaan malaikat-malaikat yang tidak taat. Berdasarkan kitab Wahyu dan Yudas, ada empat malaikat jahat yang dibelenggu di sungai Efrat dan akan dilepaskan pada sangkakala keenam untuk mengeksekusi penghakiman.
Takaran Kedurjanaan: Kejahatan memiliki takaran; misalnya, Allah menunggu hingga kedurjanaan orang Amori "genap" sebelum melakukan tindakan.
2. Kondisi Zaman Nuh: Manusia sebagai "Daging"
Pada zaman Nuh, Allah melihat bahwa kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata, yang memilukan hati-Nya.
Roh Tidak Berguna: Allah menyatakan bahwa Roh-Nya tidak akan selama-lamanya tinggal dalam manusia karena manusia adalah "daging". Kata "strive" (berjuang/bertengkar) dalam bahasa Ibraninya adalah din atau dun, yang berarti pekerjaan Roh selalu menimbulkan konflik dengan keinginan daging manusia.
Tujuan Tubuh: Padahal, tujuan Allah memberikan nafas hidup adalah agar tubuh manusia menjadi sarana untuk mengekspresikan rupa Allah. Ketika manusia hanya hidup menuruti kedagingan, fungsi Roh Kudus untuk menginsafkan dan memimpin pada kebenaran menjadi tidak berguna.
3. Nuh: Orang Benar yang Membalikkan Kutuk
Nuh adalah sosok yang mendapat kasih karunia karena ia hidup benar, tidak bercela, dan bergaul dengan Allah.
Nubuatan Lamek: Ayah Nuh, Lamek, bernubuat bahwa Nuh akan memberikan penghiburan di tengah susah payah akibat tanah yang telah dikutuk Tuhan sejak zaman Adam.
Membalikkan Kutuk Menjadi Berkat: Setelah air bah, Nuh mendirikan mezbah dan mempersembahkan korban yang harum. Hal ini membuat Allah "berbalik hati" dan berjanji tidak akan mengutuk bumi lagi karena manusia.
Mengenal Hati Tuhan: Nuh memberikan persembahan bukan karena diperintah, melainkan karena ia mengenal hati Tuhan dan tahu apa yang menyenangkan-Nya.
4. Prinsip Keselamatan Keluarga dan Takhta Allah
Kebenaran satu orang dapat berdampak besar bagi lingkungannya:
Satu Bahtera: Meskipun hanya Nuh yang benar, seluruh keluarganya diselamatkan. Ini menjadi prinsip bagi Paulus di Perjanjian Baru: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu". Orang benar adalah titik akses atau masuknya Allah ke dalam sebuah rumah tangga.
Terhubung dengan Takhta: Nuh hidup di bumi tetapi terhubung dengan takhta Allah di surga. Pelangi atau "busur" Tuhan adalah bukti fisik dari perjanjian yang berasal langsung dari takhta-Nya.
5. Generasi yang Dinubuatkan (Generasi Kristus)
Sumber ini menekankan bahwa kita saat ini adalah bagian dari rencana jangka panjang Allah:
Penyempurnaan Iman: Tokoh-tokoh iman di masa lalu (seperti Daud, para nabi, dll.) tidak menerima apa yang dijanjikan pada masa hidup mereka agar mereka mencapai kesempurnaan bersama-sama dengan kita.
Generasi ke-42: Kita disebut sebagai "Generasi Kristus" atau keturunan ke-42 dari Abraham yang dinubuatkan untuk muncul pada masa pemulihan dan penggenapan. Sebagai orang benar, kita memiliki otoritas untuk menghukum atau membatasi kerusakan di bumi.
Optimisme: Kita tidak boleh pesimis melihat kejahatan saat ini, melainkan harus yakin bahwa kita adalah harapan Tuhan untuk mewujudkan apa yang telah dilihat oleh para leluhur dalam iman.
Analogi Sederhana: Memahami peran orang benar di bumi seperti sebuah "jangkar" di tengah badai. Meskipun seluruh lautan (dunia) bergejolak dan kacau, keberadaan satu jangkar yang tertanam kuat pada dasar karang (takhta Allah) mampu menahan seluruh kapal (keluarga dan lingkungan) agar tidak hanyut binasa, bahkan memberikan harapan bahwa badai tersebut akan segera berakhir dan laut akan tenang kembali.