Langsung ke konten utama

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib, memiliki karakter yang baik, serta dipenuhi oleh Roh Kudus. Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik. Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan.

14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3)

Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3)

Sesi: The Upper Room 240 (14 Juli 2026)
Pembicara: Dr. Jonathan David


I. Konsep Benih dan Masa Depan (The Seed and Destiny)

  • Masa Depan Ada di Dalam Benih
    Tanpa kemampuan untuk melihat apa yang ditabur Tuhan ke dalam hati, seseorang tidak memiliki masa depan. Masa depan tidak ditentukan oleh situasi saat ini, melainkan tersimpan di dalam benih yang kita bawa. Hal ini diilustrasikan melalui kisah seorang pemuda yang diajarkan untuk memandang sebuah biji/benih hingga ia dapat melihat pohon, buah, dan seluruh kebun buah di dalamnya.
  • Manusia Sebagai Wadah Pembawa Benih
    Ishak dijadikan contoh sebagai wadah yang membawa benih, tetapi Ishak bukanlah benih itu sendiri. Benih utama yang dimaksud merujuk kepada Yesus Kristus (Kejadian 22:18). Manusia hanyalah tubuh atau bejana tanah liat yang dipercayakan untuk membawa benih kehidupan Allah demi menanamkannya ke dalam kehidupan orang lain.
  • Identitas Pembawa Kehidupan
    Orang percaya bukan sekadar "pembuat roti" atau pihak yang hanya memberikan berkat sementara, melainkan pembawa kehidupan dan benih Allah.

II. Enam Sifat Utama Benih Allah

1. Benih yang Penuh Kekerasan (Kuat dan Dahsyat)

  • Berdasarkan Kejadian 3:15, benih yang ditanamkan Allah memiliki sifat agresif dan penuh kekuatan untuk menolak serta mengusir pekerjaan musuh, sehingga tidak akan takluk kepada iblis.
  • Benih ini menolak penggunaan trauma atau luka masa lalu sebagai alasan untuk hidup dalam kelemahan.
  • Ilustrasi Konseling: Seorang wanita mengira ia memiliki "roh penolakan" karena ibunya pernah mencoba mengaborsinya saat dalam kandungan. Dr. Jonathan David menegaskan bahwa fakta ia bertahan hidup selama 35 tahun membuktikan ia sebenarnya membawa "roh kekuatan" dan benih pemenang yang tidak dapat dihancurkan.
  • Contoh Yusuf: Yusuf ditolak dan dijual oleh saudara-saudaranya pada usia 17 tahun. Selama 14 tahun penderitaan berikutnya, hatinya tetap bersih tanpa dendam karena Tuhan memenuhi hatinya, sehingga ia memahami bahwa Allah yang mengutusnya terlebih dahulu untuk memelihara kehidupan (Kejadian 45:4–8).

2. Benih Dijanjikan kepada Bejana yang Kalah

  • Janji bahwa benih akan meremukkan kepala ular (Kejadian 3:15) diberikan Allah kepada perempuan tepat setelah ia jatuh ke dalam dosa dan berada dalam kondisi kalah.
  • Pada titik terlemah dan paling rentan dalam hidup manusia, Allah memberikan janji terbesar-Nya. Manusia tidak dapat jatuh lebih rendah dari tangan Allah, karena berada di tangan-Nya (Mazmur 31:16) adalah tempat yang aman untuk dibangkitkan kembali.

3. Benih Memisahkan Takdir Ilahi dari Orang Lain

  • Jenis benih yang dibawa menentukan takdir yang dijalani, sehingga secara alami akan memisahkan seseorang dari cara jalan dan pergaulan orang umum (diilustrasikan tidak berjalan bersama "kalkun").
  • Benih yang dibawa adalah benih yang tidak dapat binasa (1 Petrus 1:23). Kehadiran benih Kristus di dalam bejana tanah liat (2 Korintus 4:7) mengubah pribadi biasa menjadi luar biasa dan mendapat perkenanan Allah.

4. Benih Memenuhi Tujuannya (Dabar)

  • Firman Allah disebut Dabar (H1697), yaitu kekuatan terpendam Allah yang tersembunyi di dalam firman yang mendorong dirinya sendiri menuju penggenapan (Yesaya 55:11).
  • Firman tidak memiliki "gigi mundur" dan pasti bergerak maju. Rintangan seperti gunung dan manusia seperti pohon pada akhirnya akan bertepuk tangan menyemangati penggenapan firman tersebut (Yesaya 55:12).

5. Benih Membayar Harga untuk Memenuhi Panggilannya

  • Pernyataan "ia akan meremukkan tumitmu" menunjukkan adanya harga kecil yang harus dibayar berupa ketidaknyamanan, rasa sakit, atau penderitaan fisik dalam menjalankan tugas ilahi.
  • Iman tidak digunakan untuk melarikan diri dari penderitaan, melainkan memberi kekuatan untuk melewati setiap masalah dan rintangan.
  • Perspektif Doa Yabes (1 Tawarikh 4:9–10): Doa Yabes bukanlah doa untuk mendapatkan kemudahan tanpa rasa sakit, melainkan permohonan agar saat daerahnya diperluas dan diberkati berlimpah, berkat tersebut tidak berubah menjadi bahaya atau menyebabkan hatinya tersandung dan jatuh.
  • Prinsip Menabur dan Menuai (2 Korintus 9:6): Seseorang tidak dapat menabur sedikit lalu mengharapkan hasil yang besar tanpa pengorbanan (menolak mentalitas perjudian).

6. Benih Tersebut Adalah Benih Laki-Laki (He)

  • Benih ini menggunakan kata ganti laki-laki (he) karena merujuk kepada kehidupan Sang Putra (Jesus Christ) yang dibentuk dan diwujudnyatakan di dalam diri orang percaya (Galatia 2:20, Yohanes 1:1, 4, 14).

III. Ciri Kehidupan yang Layak Diteruskan / Direproduksi

Dalam proses suksesi kepemimpinan, kehidupan seorang pemimpin yang layak direproduksi harus memenuhi kriteria berikut:

  1. Prototipe bagi Generasi Baru: Kehidupan yang dibentuk Tuhan untuk melahirkan generasi baru yang berbicara, bertindak, dan bergerak dalam standar ilahi yang sama.
  2. Berpusat pada Salib dan Berdiri di Takhta: Memikul salib (Matius 16:24) untuk mematikan kedagingan, hawa nafsu, serta agenda keuntungan pribadi. Orang yang berjalan dengan salib di bumi diberikan posisi rohani untuk berdiri di hadapan takhta Allah.
  3. Manusia Baik dengan Hati yang Baik: Mengekspresikan kebaikan Allah seperti Barnabas (Kisah Para Rasul 11:22–24) dan Yesus (Kisah Para Rasul 10:38). Gereja lebih membutuhkan "batu bata yang baik" (orang yang berkarakter dan berintegritas) daripada sekadar orang yang diurapi tetapi tidak memiliki karakter.
  4. Firman Allah Ada di Dalam Mulut: Senantiasa memperkatakan dan menyampaikan firman Allah, bukan sekadar teori atau filosofi manusia (Yesaya 59:21, Roma 10:8, 1 Korintus 2:1).
  5. Dipenuhi Roh Kudus (Satu Roh): Beroperasi murni hanya dengan satu Roh (Roh Allah), bukan memadukan pengurapan dengan roh penolakan, kepahitan, atau motif tersembunyi. Pemimpin harus mampu membedakan antara performa urapan luar dengan realitas pribadi sejati dalam roh (Matius 7:22–23).

IV. Kualifikasi Membangkitkan Generasi Kedua (Para Timotius)

Untuk mendidik dan membesarkan generasi kedua (para Timotius), bahan yang dipilih haruslah material yang dapat dilatih (trainable).

3 Faktor Bahaya untuk Menghentikan Pelatihan (Faktor Osama)

Berdasarkan pola di Kisah Para Rasul 19:8–10, jika tiga indikator berikut muncul pada peserta pelatihan, proses pelatihan harus segera dihentikan karena mereka berpotensi berbalik menyerang pelatihnya:

  1. Berhati Keras: Menolak perubahan, tidak lagi mudah dibentuk, dan tidak terpengaruh oleh hadirat Tuhan (diilustrasikan seperti bebek yang melompat ke air tetapi keluar tetap dalam keadaan kering).
  2. Tidak Taat: Memiliki pengetahuan kebenaran atau teori, tetapi tidak mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
  3. Mengatakan yang Jahat (Menjelek-jelekkan Jalan Tuhan): Menggunakan mulutnya untuk mengkritik, menyerang, dan berpotensi memakai materi ajaran yang diterimanya sebagai amunisi untuk melawan pemimpinnya.

Q&A Page

1. bagaimana konsep benih menentukan masa depan dan takdir ilahi seseorang?


Dalam ajaran ini, konsep benih menentukan masa depan dan takdir ilahi seseorang melalui beberapa prinsip utama:

  • Masa Depan Tersimpan di Dalam Benih yang Dibawa
    Masa depan seseorang tidak ditentukan oleh situasi atau kondisi saat ini, melainkan tersimpan di dalam benih yang Tuhan taburkan ke dalam hatinya. Manusia hanyalah bejana atau wadah tanah liat yang dipercayakan untuk membawa benih kehidupan Allah, di mana benih utama tersebut merujuk kepada Yesus Kristus. Biji atau benih itulah yang memuat seluruh potensi pertumbuhan dan menentukan segala sesuatu di masa depan.

  • Jenis Benih Menentukan Jenis Takdir dan Memisahkan dari Orang Lain
    Jenis benih yang dibawa secara langsung menentukan jenis takdir yang akan dijalani. Karena membawa benih ilahi yang tidak dapat binasa, perjalanan hidup seseorang akan secara alami terpisah dari cara jalan dan pergaulan orang pada umumnya (diilustrasikan tidak berjalan bersama "kalkun"). Kehadiran benih Kristus di dalam bejana tanah liat yang biasa mengubah pribadi tersebut menjadi luar biasa dan mendapat perkenanan Allah.

  • Memiliki Daya Dorong Ilahi (Dabar) Menuju Penggenapan
    Benih firman Allah adalah Dabar, yaitu kekuatan terpendam Allah yang tersembunyi di dalam firman yang mendorong dirinya sendiri menuju penggenapan tanpa memiliki "gigi mundur". Ketika seseorang berpegang pada benih tersebut, benih itu akan memegang dan membimbingnya melewati setiap rintangan—bahkan membuat hal-hal yang tadinya menghalangi berbalik menyemangatinya—hingga mencapai tujuan ilahinya.

  • Memberikan Ketahanan Pemenang di Titik Terlemah
    Benih Allah bersifat kuat, agresif, dan menolak untuk takluk kepada musuh maupun jebakan trauma dan alasan masa lalu. Janji tentang benih sering kali diberikan justru saat seseorang berada dalam keadaan terlemah atau dalam posisi kalah, untuk membuktikan bahwa takdir ilahinya tidak dapat dihancurkan dan sanggup memberi kekuatan melewati setiap harga penderitaan yang harus dibayar.

  • Membentuk Karakter Kristus di Dalam Diri
    Benih yang ditanamkan adalah benih kehidupan Sang Putra (He / Kristus). Seiring berjalannya waktu, benih ini membentuk sifat dasar Kristus di dalam diri orang percaya, sehingga takdir yang dihidupi bukan lagi milik pribadi, melainkan Kristus yang hidup dan memancar dari dalam dirinya.


2. bagaimana cara rasul Paulus melatih Timotius?

Berdasarkan pengajaran ini, pola dan kualifikasi rasul Paulus dalam melatih generasi kedua (para Timotius) mencakup beberapa prinsip utama:

  • Memilih Bahan yang Dapat Dilatih (Trainable Material)
    Seorang Timotius harus merupakan materi yang dapat dilatih, yaitu memiliki hati yang lembut, mau dibentuk, dan terbuka terhadap perubahan. Paulus tidak membuang waktu melatih orang-orang yang menolak perubahan atau tetap bertahan pada kebiasaan lama mereka.

  • Memisahkan Murid dari Lingkungan yang Merusak
    Berdasarkan pola di Kisah Para Rasul 19:8–10, ketika Paulus mengajar di rumah ibadat dan menemui orang-orang yang berhati keras serta tidak taat, ia memutuskan untuk menjauh dan membawa pergi para murid dari antara mereka. Pelatihan membutuhkan lingkungan yang terpisah agar fokus murid tidak terganggu oleh pengaruh buruk.

  • Memberikan Pengajaran yang Intensif dan Konsisten (Sekolah Tiranus)
    Setelah memisahkan murid-muridnya, Paulus mengajar dan melatih mereka setiap hari di sekolah Tiranus selama dua tahun. Pelatihan yang dilakukan secara rutin dan konsisten ini berdampak pada tersebarnya firman Tuhan ke seluruh wilayah.

  • Menyampaikan Firman Allah yang Murni, Bukan Teori Manusia
    Dalam mendidik murid-muridnya, Paulus tidak datang dengan kata-kata indah atau hikmat filosofi manusia, melainkan memperkatakan firman Allah yang hidup (1 Korintus 2:1). Pelatihan berfokus pada penanaman firman yang nyata dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar teori akademis.

  • Menghentikan Pelatihan Jika Muncul Tanda Bahaya (Faktor Osama)
    Proses pelatihan harus segera dihentikan apabila peserta pelatihan menunjukkan tiga indikator buruk: berhati keras (menolak dibentuk), tidak taat (mengetahui kebenaran tetapi tidak melakukannya), dan suka menjelek-jelekkan/mengkritik Jalan Tuhan. Jika orang dengan tiga sifat ini terus dilatih, pengetahuan yang mereka dapatkan berpotensi digunakan sebagai amunisi untuk berbalik menyerang pemimpinnya.


3. Apa ciri-ciri orang yang layak untuk dilatih menjadi pemimpin baru?

Berdasarkan pengajaran suksesi kepemimpinan oleh Dr. Jonathan David, kandidat yang layak untuk dilatih dan dibesarkan menjadi pemimpin baru (generasi kedua atau "para Timotius") harus memenuhi dua kelompok kriteria utama: memiliki bahan yang dapat dilatih (trainable material) dan memiliki kualitas kehidupan yang layak direproduksi.

Berikut adalah ciri-ciri lengkapnya:

1. Kriteria Bahan yang Dapat Dilatih (Trainable Material)

Seorang pemimpin baru harus merupakan materi yang siap dibentuk, yang ditandai dengan tiga hal utama:

  • Memiliki Hati yang Lembut (Tidak Keras Hati): Mereka memiliki kemampuan untuk dibentuk, mau berubah, dan tidak kaku terpaku pada tradisi atau kebiasaan lama. Orang yang keras hati menolak perubahan dan tidak akan terpengaruh oleh pembentukan maupun hadirat Tuhan.
  • Taat dalam Praktik Nyata: Mereka bukan sekadar memiliki teori atau pengetahuan tentang kebenaran, melainkan mempraktikkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari (seperti dalam hal doa dan ketaatan memberi).
  • Menjaga Mulut dan Perkataan (Tidak Mengatakan yang Jahat): Mereka tidak menggunakan mulutnya untuk mengomentari, mengkritik, menyerang, atau menjelek-jelekkan Jalan Tuhan dan kepemimpinan.

2. Kualitas Kehidupan yang Layak Direproduksi

Sebelum direproduksi ke dalam diri orang lain, calon pemimpin harus memiliki karakter dan posisi rohani yang benar:

  • Hidup Berpusat pada Salib: Daging dan agenda keuntungan pribadinya telah mati. Mereka tidak mencari ketenaran, uang, atau kepentingan diri sendiri di balik pelayanan. Orang yang memikul salib di bumi diberikan otoritas rohani untuk berdiri di hadapan takhta Allah.
  • Manusia Baik dengan Integritas ("Batu Bata yang Baik"): Memiliki karakter, kebaikan, dan hati yang murni seperti Barnabas. Dalam kepemimpinan, memiliki "batu bata yang baik" (orang berintegritas dan setia) jauh lebih berharga daripada sekadar orang berbakat atau diurapi yang tidak stabil dan beragenda.
  • Beroperasi Murni Hanya dengan Satu Roh: Dipenuhi oleh Roh Kudus dan tidak memadukan pengurapan Allah dengan roh penolakan, kepahitan, atau frustrasi. Pemimpin sejati diukur dari realitas pribadi rohnya di hadapan Tuhan, bukan sekadar performa urapan di luar.
  • Firman Allah Ada di Dalam Mulutnya: Senantiasa memperkatakan firman Allah yang hidup dan penuh iman, bukan sekadar menyampaikan teori, filsafat manusia, atau kata-kata indah.
  • Membawa Benih Kristus dan Rela Membayar Harga: Memiliki mentalitas pemenang yang menolak takluk pada trauma masa lalu, serta menggunakan imannya untuk melewati penderitaan dan membayar harga demi menyelesaikan panggilan ilahinya.

4. Mengapa penderitaan dianggap sebagai harga kecil dalam memenuhi panggilan Tuhan?

Dalam pengajaran ini, penderitaan dianggap sebagai harga yang kecil (a small price to pay) dalam memenuhi panggilan Tuhan karena beberapa alasan utama:

  • Luka Sementara Dibanding Kemenangan Mutlak
    Penderitaan atau kesusahan diibaratkan seperti musuh yang hanya bisa "meremukkan tumit". Rasa sakit atau ketidaknyamanan di tumit tersebut merupakan harga yang sangat kecil jika dibandingkan dengan dampak kemenangan benih ilahi, yaitu meremukkan kepala musuh serta menggenapi takdir Allah.

  • Membentuk Sikap dan Memberikan Pelajaran Terbaik
    Masalah dan cobaan diizinkan terjadi karena bermanfaat untuk memperbaiki sikap (attitude) serta memberikan pelajaran-pelajaran hidup terbaik yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Penderitaan mematikan sifat kedagingan dan mendewasakan karakter sebelum seseorang dipercayakan tanggung jawab yang lebih besar.

  • Tidak Ada Perluasan Panggilan Tanpa Rasa Sakit
    Sebagaimana proses melahirkan atau perluasan daerah pada Doa Yabes, tidak ada pertumbuhan, kemajuan, maupun perluasan wilayah panggilan yang terjadi tanpa rasa sakit. Melewati penderitaan justru menjaga hati tetap lembut dan mulia, sehingga ketika seseorang diberkati dan mencapai keberhasilan, kemakmuran tersebut tidak berubah menjadi ancaman atau membuat hatinya tersandung.

  • Fungsi Iman Adalah Melewati, Bukan Menghindari
    Iman sejati tidak digunakan untuk melarikan diri dari ketidaknyamanan atau mencari kemudahan. Fungsi utama iman adalah memberikan kekuatan, ketahanan, dan kemampuan untuk melewati (go through) setiap rintangan dan penderitaan hingga seluruh panggilan Allah selesai.


Postingan populer dari blog ini

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

Kapasitas dan Potensi Spiritual (MKS #48)

Ps. Djonny  membahas konsep Manusia Kerajaan Sorga melalui tinjauan teologis atas janji Tuhan kepada Abraham dalam Kejadian 17 . Beliau menjelaskan bahwa identitas sebagai raja menurut definisi ilahi bukan didasarkan pada kekuasaan duniawi seperti Nimrod, melainkan pada kapasitas spiritual untuk memerintah melalui kebenaran dan ketaatan. Terdapat penekanan pada enam langkah Allah dalam Kejadian 1 , mulai dari memberkati hingga memberikan otoritas untuk menaklukkan bumi, sebagai pola bagi manusia untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Peran Roh Kudus dianggap krusial dalam memperluas pengaruh hidup seseorang agar mencapai kaliber dunia demi kemuliaan Tuhan. Melalui teladan Yesus, jemaat diajak untuk menyadari potensi ilahi dan warisan rohani mereka sebagai keturunan Abraham yang dipanggil untuk menyatakan otoritas surga. Ibadah JMD Bandung 26 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 48 Berikut adalah catatan selengkapnya dari materi "Manusia Kerajaan Sorga 48: Raja-Raja dari Ket...

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

Membangun Rumah Perbendaharaan Tuhan

How to Live as a Storehouse Tujuan rumah perbendaharaan Tuhan supaya ada makanan Tuhan . Makanan Tuhan beda dengan makanan saudara . Makanan Tuhan ialah  melakukan pekerjaanNya dan menyelesaikannya. Bagaimana kau bersikap ketika memberikan persembahan. Itu yang lebih penting.  Bangunlah dulu perkenanan Tuhan dalam hidupmu. Bangun hidupmu sebagai rumah Tuhan terlebih dulu, bangun sebagai storehouse. Sebab hal yang sering mengganggu adalah masalah uang. Apa pun kondisi segala sesuatu untuk Tuhan itu tidak pernah boleh diubah. Itu tidak pernah diubah oleh kondisi hidup, karena Tuhan tidak pernah dikondisikan. Kewajiban saudara tidak pernah diubah walau pun krisis ekonomi terjadi. Jangan sekali-sekali kau mengubahnya. Ketetapan itu adalah sebuah hukum. Jika kau melanggar itu berarti kau akan dihukum. Ps.DjonnyTambunan_28Feb2016 Jangan berharap berkat, berharaplah akan perkenanan Tuhan.   Ini adalah prinsip untuk hidup sebagai Rumah Perbendaharaan Tuhan. Ruma...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

Peran Roh Kudus (MKS #49)

  "Manusia Kerajaan Sorga 49", berfokus pada rencana ilahi Allah bagi umat manusia dan bagaimana individu dapat menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak-Nya. Ditekankan bahwa orang percaya tidak boleh mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi pada kuasa Roh Kudus dan Firman Allah untuk memenuhi takdir mereka. Ibadah JMD Bandung 2 Agustus 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 49 Poin-Poin Utama : Memahami Bahasa Allah: Papa menekankan pentingnya memahami "bahasa" Allah, mencatat bahwa Alkitab tidak boleh dilihat sebagai ayat-ayat yang terisolasi, tetapi sebagai satu rencana besar yang terpadu. Memahami firman dan menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah memerlukan tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar kemampuan akal. Roh Kudus sangat penting untuk wahyu yang sejati. Kuasa Firman: Firman memiliki kuasa bawaan untuk menggenapi dirinya sendiri. Manusia cukup percaya dan memberi ruang bagi kasih karunia Allah, bukan memaksakan dengan usaha sendiri seperti pola hukum Taurat. Or...