Sesi ini membahas tentang rencana agung Tuhan dalam membentuk manusia kerajaan surga di tengah upaya iblis yang terus mencemari bumi. Pp Djonny menyoroti perbedaan antara manusia natural yang mengandalkan jiwa serta hikmat duniawi, seperti pada era Nimrod dan Babel, dengan mereka yang hidup dalam tuntunan Roh Allah. Melalui kisah Abraham, dijelaskan bahwa Tuhan melakukan operasi senyap dengan menyelidiki hati dan menguji batin untuk menemukan individu yang benar-benar siap dipanggil keluar dari kegelapan. Abraham dipilih bukan karena inisiatif manusiawi ayahnya, Terah, melainkan karena memiliki kecenderungan hati yang tulus kepada Allah. Fokus utamanya adalah ajakan bagi setiap orang beriman untuk memiliki kelembutan hati agar layak mewarisi bumi dan terlibat dalam penggenapan rencana ilahi. Ketaatan yang murni dan ketergantungan pada kasih karunia menjadi kunci untuk menangkal kontaminasi roh duniawi di masa kini.
Berikut adalah catatan lengkap mengenai konsep Manusia Kerajaan Surga dan rencana agung Allah:
1. Hakikat Manusia Kerajaan Surga dan Rencana Agung Allah
Topik utama ini membahas tentang bagaimana Allah ingin memulihkan kembali kerajaan-Nya di bumi agar menjadi milik-Nya sepenuhnya.
Rencana agung Allah ini melibatkan keterlibatan manusia dalam penggenapannya, di mana manusia harus berjalan menurut jalan-jalan dan hikmat Tuhan, bukan pengertian sendiri atau hikmat dunia,. Allah sedang melakukan apa yang disebut sebagai "operasi senyap", yaitu sebuah misi yang berjalan berdasarkan hukum dan jalan-jalan-Nya sehingga iblis tidak dapat melakukan intervensi,.
2. Pertentangan: Roh Babel dan Nimrod vs. Karakter Kristus
Pp Djonny menjelaskan adanya konflik spiritual yang terus berlangsung sejak zaman dahulu:
Roh Nimrod dan Babel: Nimrod membangun kerajaan pertama di bumi tanpa kasih karunia Tuhan dan memunggungi Allah. Ia membangun peradaban yang luar biasa untuk kesejahteraan manusia agar mereka tidak lagi menoleh kepada Allah. Karakteristik ini—ingin mencapai langit tanpa Tuhan dan meninggikan diri di atas Allah—adalah karakteristik antikristus.
Karakter Kristus: Sebaliknya, Kristus, meskipun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba. Kristus merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib, sehingga Allah sangat meninggikan-Nya.
Manusia Duniawi (Natural Man): Alkitab menyebut manusia yang mengandalkan jiwanya sendiri sebagai psukikos atau manusia natural. Manusia seperti ini tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah karena dianggap kebodohan. Kecenderungan ini masih sering ditemukan di dalam gereja, di mana orang mengandalkan talenta, pendidikan, dan kemampuan manusiawi daripada Roh Allah.
3. Operasi Senyap Allah: Panggilan Abraham
Setelah peristiwa Babel yang merusak peradaban, Allah menemukan Abraham untuk memulai kembali rencana-Nya. Terdapat perbedaan penting antara Abraham dan ayahnya, Terah:
Terah: Meskipun Terah membawa Abraham keluar dari Urkasdim menuju Kanaan, ia berhenti dan mati di Haran. Secara spiritual, Terah mati di Haran karena ia tetap menjadi penyembah ilah-ilah lain,.
Abraham: Allah memanggil Abraham seorang diri untuk keluar dari kegelapan menuju terang-Nya,. Abraham dipilih karena Allah menyelidiki hati dan menguji batinnya. Allah menemukan kecenderungan hati yang benar pada Abraham, yang membuatnya siap meninggalkan segalanya demi rencana Allah.
4. Kesiapan Hati dan Perwujudan Iman
Allah terus bekerja dengan menyelidiki hati (heart) dan menguji batin (mind/kilyah) setiap manusia,,. Beberapa poin penting mengenai hal ini adalah:
Kecenderungan Hati: Allah mencari manusia yang memiliki kecenderungan hati kepada-Nya, seperti doa Daud untuk Salomo agar memiliki hati yang tulus,.
Iman dan Perbuatan: Iman yang benar tidak boleh mati, melainkan harus disertai perbuatan agar menjadi sempurna,. Perbuatan Abraham yang meninggalkan Haran dan mengalahkan raja-raja (seperti Kedorlaomer) adalah wujud nyata dari imannya yang bergantung pada kasih karunia Allah,,.
Melkisedek (Sem): Setelah kemenangan Abraham, ia diberkati oleh Melkisedek (yang merujuk pada Sem), seorang Imam Allah Yang Maha Tinggi. Melkisedek menyebutnya sebagai "Abrahamnya Allah Yang Maha Tinggi", sebuah nubuatan bahwa Allah akan menjadikan Abraham sebagai kunci awal penggenapan rencana-Nya di bumi,.
5. Kesimpulan: Mewarisi Bumi
Tujuan akhir dari rencana ini adalah agar kehendak surga terwujud di bumi dan iblis serta orang berdosa tersingkir untuk selamanya. Sesuai dengan Matius 5:5, bumi ini dijanjikan bagi mereka yang lemah lembut, yaitu orang-orang yang hatinya mudah dibentuk oleh karya Roh Kudus dan firman Tuhan,. Manusia kerajaan surga adalah mereka yang layak bagi Tuhan dan akan mewarisi bumi untuk selama-lamanya.