Khotbah ini membahas tentang strategi iblis dalam menghambat rencana Allah untuk mewujudkan langit dan bumi yang baru melalui sosok Nimrod dan simbolisme menara Babel. Pp Djonny menjelaskan bahwa Nimrod merupakan prototipe antikristus yang membangun kekuasaan berdasarkan keperkasaan manusia dan pemberontakan terhadap Tuhan. Melalui pembangunan Babel, manusia berusaha mencari kemuliaan sendiri dan membangun kesatuan yang tidak tunduk kepada Allah, yang akhirnya justru membawa kekacauan serta perpecahan.
Berbeda dengan Babel yang mencerai-beraikan, Kristus datang untuk menyatukan kembali umat manusia melalui perdamaian dalam tubuh-Nya. Secara keseluruhan, pembaca diingatkan untuk waspada terhadap spirit duniawi yang mengandalkan kekuatan daging dan tetap setia pada kebenaran ilahi. Penjelasan ditutup dengan keyakinan bahwa rencana agung Allah tidak akan pernah gagal meskipun iblis terus berusaha menggunakan pola-pola pemberontakan yang sama sepanjang sejarah.
Berikut adalah catatan lengkap mengenai konsep manusia kerajaan surga, fokus pada era pasca-air bah, sosok Nimrod, dan spirit Babel:
1. Konsekuensi Pasca-Air Bah: Masuknya Kembali Dosa
Meskipun air bah telah membinasakan keturunan Kain, dosa masuk kembali dengan cepat melalui Ham yang tidak menghormati Allah dan ayahnya (Nuh).
Iblis memanifestasikan dirinya kembali melalui keturunan Ham karena ia belum sepenuhnya tersingkir dari bumi dan terus mencoba mengklaim otoritas sebagai penguasa dunia.
Tuhan memiliki tujuan akhir untuk mewujudkan langit baru dan bumi baru, di mana kepenuhan Allah bisa berdiam di dalam diri manusia secara jasmaniah.
2. Nimrod: Sosok Penguasa Pertama di Bumi
Identitas: Nimrod adalah keturunan Ham melalui Kus. Ia dikenal sebagai orang pertama yang sangat berkuasa di bumi.
Arti Nama: Kata "Nimrod" sebenarnya adalah sebuah julukan, bukan nama asli, yang dalam bahasa Ibrani berarti pemberontakan, pendurhakan, atau kegagahan.
Karakteristik:
Ia adalah seorang pemburu manusia yang gagah perkasa; ia memburu manusia untuk dikuasai dan membangun kekuasaannya sendiri di atas mereka.
Nimrod membangun struktur sosial mulai dari klan kecil hingga menjadi kerajaan besar seperti Babel, Erekh, dan Akad di tanah Sinear.
Ia dipandang sebagai dewa oleh manusia pada zamannya karena kehebatan dan daya pikirnya.
3. Analisis Istilah "Di Hadapan Tuhan"
Dalam teks Kejadian 10:9, Nimrod disebut pemburu gagah perkasa "di hadapan Tuhan". Namun, dalam bahasa Ibrani asli (Panim atau Paneh), istilah ini berarti bertentangan dengan Allah, membalikkan badan, atau memunggungi Allah.
Hal ini menggambarkan seseorang yang bersembunyi di balik benteng keperkasaannya sendiri dan merasa hebat tanpa memerlukan Tuhan.
4. Spirit Babel dan Pemberontakan Manusia
Tujuan Menara Babel: Pembangunan menara ini bertujuan untuk menciptakan kesatuan manusia yang tidak tunduk pada Tuhan, melainkan demi keagungan manusia dan kelompoknya sendiri.
Pelanggaran Perintah: Allah memerintahkan manusia untuk memenuhi bumi, namun mereka justru ingin berkumpul di satu tempat agar tidak terserak.
Pola Antikristus: Strategi iblis melalui Nimrod disebut sebagai pola antikristus yang bekerja dengan cara yang sama sepanjang zaman—mengandalkan kekuatan daging dan menentang kebenaran Allah. Pola ini juga terlihat pada Raja Nebukadnezar yang menyombongkan Babel sebagai hasil kekuatannya sendiri.
Dampak Babel: Babel menjadi pusat pencemaran rohani yang menularkan benih pemberontakan kepada bangsa-bangsa.
5. Kontras Antara Babel dan Kristus
Babel (Mencerai-beraikan): Nama Babel berarti kekacauan atau kebingungan. Babel mencerai-beraikan manusia karena mereka kehilangan pengertian dan tidak lagi mengandalkan Allah.
Kristus (Menyatukan): Kristus datang untuk mengumpulkan dan mendekatkan kembali manusia yang jauh dari Allah.
Melalui kematian-Nya, Kristus merubuhkan tembok pemisah dan menciptakan satu manusia baru di dalam diri-Nya, mendamaikan manusia dengan Allah melalui salib.
6. Ketetapan Rencana Allah
Meskipun iblis terus mencoba menggagalkan rencana Allah melalui strategi yang sama (Babel, Kanaan, dsb.), Allah tidak pernah gagal.
Allah memanggil Abraham pada waktu yang tepat sebagai bagian dari perwujudan rencana-Nya yang digenapi dalam Kristus.
Proses menuju langit dan bumi yang baru terus berjalan, di mana gereja (sebagai pengantin perempuan) menjadi perwujudan Yerusalem surgawi di bumi.