Khotbah Dr. Tunde Bakare pada sesi kedua konferensi ISC 2025 yang mengusung tema tentang mengaktifkan dan melepaskan generasi (legacy) untuk transfer warisan rohani. Beliau menekankan pentingnya stamina spiritual dan kehadiran Tuhan sebagai fondasi utama sebelum seseorang diutus untuk memanifestasikan kehidupan ilahi di berbagai ranah duniawi (penguasaan domain atau "gunung budaya"). Melalui rujukan kitab Hagai, dijelaskan bahwa aktivasi sejati terjadi ketika roh manusia digerakkan oleh firman Tuhan yang disampaikan melalui utusan-Nya. Dr. Bakare juga menyoroti pentingnya rasa takut akan Tuhan dan hubungan kebapaan rohani yang akurat agar proses transfer legasi tidak terhambat. Selain itu, narasi ini memberikan penghormatan kepada tokoh pelayanan lokal sembari mengingatkan bahwa kedaulatan Tuhan tetap melampaui segala situasi sulit yang dihadapi manusia. Penjelasan ini ditutup dengan penegasan bahwa kemakmuran sejati terletak pada penyertaan Tuhan, bukan sekadar kepemilikan materi.
Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan sesi Dr. Tunde Bakare pada Konferensi Strategi ISAAC 2025 mengenai tema “Mengaktifkan dan Melepaskan Generasi Surga Terbuka untuk Transfer Legacy dalam Mengejar Warisan (Inheritance) Mereka”:
1. Pendahuluan dan Penghormatan
- Kasih Melampaui Jarak: Dr. Tunde Bakare menekankan bahwa dalam kasih, jarak tidak menjadi masalah, dan dampaknya kini terasa secara mendunia.
- Penghormatan kepada Pemimpin: Ia memberikan penghormatan khusus kepada Dr. Jonathan David (Papa JD) atas dedikasi hidupnya dan kepada Mum Helen sebagai "malaikat" yang dikirim Tuhan untuk menguatkan pelayanan Papa JD.
- Sinergi Apostolik: Menekankan pentingnya pelayanan berpasangan (dua-dua) untuk menghindari kesepian dalam tugas pelayanan.
2. Definisi Tema Utama
Tema sentral konferensi ini adalah pengulangan dan pendalaman dari tahun sebelumnya untuk memastikan akurasi dan pemahaman yang mendalam. Komponen pentingnya adalah:
- Mengaktifkan (Activating)
- Melepaskan (Releasing)
- Generasi Surga Terbuka
- Transfer Legacy (Warisan Rohani)
- Mengejar Inheritance (Warisan Pusaka).
3. Poin Penting 1: Mengaktifkan dan Melepaskan
- Stamina Spiritual: Aktivasi membutuhkan seseorang yang telah mengembangkan "otot-otot spiritual" dan memperoleh kasih karunia dari Tuhan untuk dibagikan kepada orang lain.
- Prinsip Nemo Dat Quod Non Habet: Artinya, "Kau tidak dapat memberi apa yang tidak kau miliki". Seseorang harus teraktivasi terlebih dahulu sebelum bisa mengaktivasi orang lain.
- Pentingnya Identitas dan Bapa Rohani: Aktivasi berkaitan erat dengan mengetahui siapa bapa rohanimu. Peran seorang bapa bukanlah hanya memiliki putra, melainkan membangkitkan bapa-bapa baru.
- Tujuan Aktivasi adalah Pelepasan: Tidak ada gunanya mengaktifkan umat tanpa melepaskan mereka untuk mencapai tujuan aktivasi tersebut. Melepaskan bukan berarti menyuruh pergi, melainkan memperluas jangkauan rumah bapa.
- Definisi Alkitabiah Aktivasi (Hagai 1:14): Mengaktifkan umat berarti "menggerakkan roh mereka" (pemimpin dan jemaat) melalui firman Tuhan yang disampaikan oleh utusan-Nya agar mereka menjalankan mandat Allah.
4. Poin Penting 2: Kehadiran Tuhan
- Faktor Kunci: Aktivasi dan pelepasan tidak dapat terjadi tanpa kehadiran Tuhan.
- Kehadiran dan Takut akan Tuhan: Kehadiran Tuhan tidak dapat ditemukan tanpa rasa takut akan Tuhan. Rasa takut akan Tuhan adalah rahasia Yesus dalam segala hal.
- Manifestasi Kehadiran: Kehadiran Tuhanlah yang memerintahkan terjadinya mujizat dan meneguhkan firman dengan tanda-tanda.
- Definisi Kemakmuran Sejati: Kemakmuran bukanlah jumlah uang di bank, melainkan kehadiran Tuhan dalam hidup seseorang, seperti yang dialami Yusuf.
5. Menghadapi Ujian dan Kesedihan (Refleksi atas Ps. Gomez)
Dr. Tunde berbagi empat prinsip untuk mengatasi kesedihan atau situasi sulit bagi anak Tuhan:
- Izin Tuhan: Tidak ada sesuatu pun, baik atau buruk, yang terjadi pada anak Tuhan tanpa izin atau arahan Tuhan.
- Tuhan Tidak Tidur: Tuhan tidak pernah tidur saat bertugas dan selalu memelihara umat-Nya.
- Kepentingan Terbaik: Tuhan selalu bertindak demi kepentingan terbaik dan kebaikan kita.
- Perspektif Surga: Kita harus naik ke jalan dan pikiran Tuhan untuk memahami segala sesuatu, karena rancangan-Nya lebih tinggi dari rancangan manusia.
6. Strategi dan Akurasi
- Menemukan Tempat di Dunia: Setiap orang harus menemukan tempat dan jalur spesifik yang ditentukan Tuhan agar tidak frustrasi.
- Proses Bertahap: Tidak ada "lift" di Kerajaan Tuhan; yang ada adalah anak tangga yang harus dilalui selangkah demi selangkah (seperti Yusuf dari lubang ke istana).
- Kontak Tanpa Kontaminasi: Pentingnya memahami cara menjaga integritas saat terjun ke dunia pemerintahan dan politik.
- Penyampaian yang Sederhana: Pesan harus sederhana dan mudah dipahami agar roh orang-orang dapat tergerak secara efektif.
Apa saja empat tingkatan ujian yang harus dilalui seperti Yusuf?
Dr. Tunde Bakare menjelaskan bahwa dalam perjalanan menuju "istana" atau penggenapan janji Tuhan, seseorang harus melewati proses bertahap, karena di dalam Kerajaan Tuhan tidak ada "lift", melainkan anak tangga yang harus dilalui satu demi satu,.
Empat tingkatan ujian yang harus dilalui seperti Yusuf adalah:
- Di dalam lubang: Ini merupakan tahap awal ujian yang harus dihadapi.
- Di antara orang Midian (para pedagang): Pada tahap ini, seseorang mulai melihat sekilas tentang dunia perdagangan dan ekonomi.
- Di rumah Potifar: Tahap selanjutnya adalah ujian di lingkungan rumah tangga atau kepemimpinan orang lain.
- Di dalam penjara: Tahap ini digambarkan bukan sebagai kurungan isolasi biasa, melainkan sebagai "isolasi pemurnian diri",. Melalui ujian di penjara ini, sifat-sifat manusia yang mementingkan diri sendiri ("aku, milikku, diriku") dimatikan hingga akhirnya siap untuk melangkah ke istana,.
Dr. Tunde menekankan bahwa langkah-langkah ini ditentukan oleh Tuhan dan bertujuan agar seseorang memiliki akurasi serta ketahanan dalam mengemban tanggung jawab di berbagai domain atau "gunung" budaya.
Apa maksud dari konsep "surga terbuka" dalam tema tersebut?
Konsep "surga terbuka" dalam tema konferensi tersebut merujuk pada kondisi spiritual di mana umat Tuhan hidup dalam kelimpahan, otoritas, dan kehadiran Tuhan yang nyata.
Berikut adalah rincian mengenai maksud konsep tersebut:
- Hari-hari Surga di Bumi: Konsep ini dikontraskan dengan kondisi di mana "surga terbuat dari perunggu" dan "bumi terbuat dari besi", yaitu keadaan di mana doa-doa seolah tidak terjawab dan usaha tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, "surga terbuka" berkaitan dengan "hari-hari surga di bumi", di mana langit tidak menahan embunnya dan bumi memberikan hasilnya.
- Posisi Otoritas di Surga: Dr. Tunde menjelaskan bahwa umat Tuhan sebenarnya sudah "duduk bersama Kristus di surga", jauh di atas segala pemerintah dan penguasa. Generasi surga terbuka adalah mereka yang menyadari posisi ini—sebuah tingkatan di mana tidak ada kuasa iblis yang dapat menghalangi.
- Kehadiran Tuhan yang Memerintahkan Mujizat: Konsep ini berkaitan erat dengan poin mengenai Kehadiran Tuhan. Dalam kondisi surga terbuka, kehadiran Tuhan ada di tengah jemaat, memerintahkan terjadinya mujizat, dan meneguhkan firman dengan tanda-tanda yang menyertainya.
- Aktivasi Roh: "Surga terbuka" juga dimanifestasikan melalui aktivasi atau penggerakan roh oleh Allah. Ketika Allah menggerakkan roh pemimpin dan umat melalui pesan dari utusan-Nya, mereka diaktifkan untuk menjalankan mandat dan tugas pembangunan rumah Tuhan dengan penuh ketaatan dan rasa takut akan Tuhan.
- Transfer Warisan (Legacy): Generasi ini adalah generasi yang dipersiapkan untuk menerima transfer legacy dan mengejar warisan (inheritance) mereka secara akurat di berbagai domain atau "gunung budaya".
Secara ringkas, generasi surga terbuka adalah generasi yang rohnya telah digerakkan (diaktivasi) dan dilepaskan untuk beroperasi dari posisi otoritas surgawi guna membawa dampak nyata di bumi melalui kehadiran Tuhan.
Apa arti mengaktifkan dan melepaskan generasi dalam konteks transfer warisan?
Dalam konteks transfer warisan (legacy), konsep mengaktifkan dan melepaskan merupakan satu kesatuan proses spiritual yang bertujuan untuk memperluas Kerajaan Allah melalui generasi yang telah dipersiapkan.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai arti kedua istilah tersebut berdasarkan sumber:
1. Mengaktifkan (Activating)
Mengaktifkan berarti "menggerakkan roh" seseorang agar mereka dapat menjalankan mandat dan tugas yang diberikan oleh Allah.
- Stamina Spiritual: Aktivasi membutuhkan seseorang yang telah mengembangkan "otot-otot spiritual" dan memperoleh kasih karunia dari Tuhan untuk dibagikan kepada orang lain.
- Prinsip Nemo Dat Quod Non Habet: Seseorang tidak dapat mengaktifkan orang lain jika ia sendiri belum memilikinya ("Kau tidak dapat memberi apa yang tidak kau miliki").
- Peran Pesan dan Utusan: Tuhan mengaktifkan roh umat-Nya melalui perkataan seorang utusan (nabi atau pemimpin) yang menyampaikan pesan Allah. Ketika pesan tersebut meresap, rasa takut akan Tuhan muncul, dan roh mereka tergerak untuk membangun "Rumah Tuhan".
2. Melepaskan (Releasing)
Pelepasan adalah tindakan strategis setelah aktivasi agar tujuan dari aktivasi tersebut dapat tercapai.
- Memperluas Batas Kerajaan: Aktivasi tanpa pelepasan tidak akan bisa memperluas jangkauan Kerajaan Tuhan.
- Bukan Mengusir, Tapi Memperluas: Melepaskan bukan berarti menyuruh orang pergi atau meninggalkan bapa rohaninya. Sebaliknya, ini adalah "perpanjangan dari rumah bapa" di mana mereka yang dilepaskan tetap membawa esensi dan nilai dari bapa mereka ke tempat-tempat baru.
- Identitas sebagai "Surat": Generasi yang dilepaskan menjadi "surat yang ditulis oleh bapa kepada dunia", sehingga ketika dunia melihat mereka, dunia melihat pengaruh dan didikan bapa rohaninya.
3. Hubungan dengan Transfer Warisan (Legacy)
Dalam konteks warisan, tujuan akhir dari aktivasi dan pelepasan adalah agar putra-putra menjadi bapa-bapa baru.
- Mencegah Kelemahan: Jika seorang bapa hanya memiliki putra tanpa membangkitkan bapa-bapa baru, maka generasi berikutnya akan menjadi lemah.
- Keberlanjutan Generasi: Seperti Abraham, Ishak, dan Yakub, setiap generasi harus diaktifkan untuk memegang warisannya sendiri agar "suku Israel" (umat Tuhan) tetap eksis dan berkembang.
- Mengejar Inheritance: Proses ini memampukan generasi tersebut untuk tidak hanya menerima warisan rohani (legacy) dari pendahulunya, tetapi juga mengejar warisan pusaka (inheritance) mereka sendiri di berbagai domain atau "gunung budaya" secara akurat.
Jelaskan perbedaan antara 'Legacy' dan 'Inheritance' dalam konteks ini.
Dalam konteks pesan yang disampaikan oleh Dr. Tunde Bakare, terdapat perbedaan mendasar antara Legacy (Warisan Rohani) dan Inheritance (Warisan Pusaka) yang saling berkaitan dalam proses pertumbuhan sebuah generasi:
-
Legacy (Warisan Rohani/Transfer Legacy):
- Sifatnya adalah pemberian atau transfer dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Fokus utamanya adalah pembentukan kapasitas dan identitas. Dr. Tunde menekankan bahwa peran seorang bapa rohani bukanlah sekadar memiliki putra, melainkan membangkitkan bapa-bapa baru melalui transfer legacy agar generasi berikutnya tidak menjadi lemah.
- Legacy adalah apa yang telah diterima dengan cuma-cuma dari bapa rohani dan harus diberikan kembali dengan cuma-cuma kepada orang lain. Dalam hal ini, generasi tersebut menjadi "surat yang ditulis oleh bapa kepada dunia".
-
Inheritance (Warisan Pusaka/Mengejar Inheritance):
- Sifatnya adalah sesuatu yang harus dikejar dan diraih secara aktif oleh generasi yang telah diaktifkan dan dilepaskan tersebut.
- Fokus utamanya adalah penguasaan domain atau "gunung budaya". Jika legacy adalah apa yang diberikan kepada mereka, maka inheritance adalah wilayah atau jalur spesifik yang ditentukan Tuhan bagi setiap individu untuk dikuasai di dunia ini.
- Mengejar inheritance berarti menemukan tempat yang tepat di dunia agar tidak mengalami frustrasi, seperti "ikan yang berada di dalam laut". Ini melibatkan pergerakan ke berbagai domain manusia seperti pemerintahan, politik, dan ekonomi.
Perbedaan Utama: Legacy adalah bekal rohani, stamina, dan karakter bapa yang ditransfer ke dalam diri seseorang agar mereka menjadi matang, sedangkan Inheritance adalah tujuan akhir atau mandat spesifik yang dikejar oleh individu tersebut di berbagai bidang kehidupan setelah mereka memiliki stamina rohani tersebut. Dr. Tunde menyatakan bahwa faktor "mengejar warisan (inheritance) mereka" adalah poin penting yang menyempurnakan tema konferensi tersebut agar umat Tuhan tidak hanya berhenti pada menerima warisan rohani, tetapi juga berdampak secara nyata di dunia.
Apa peran bapa rohani dalam mengaktifkan potensi generasi ini?
Peran bapa rohani dalam mengaktifkan potensi generasi ini sangatlah krusial dan multifungsi. Berikut adalah rincian peran-peran tersebut:
- Membangkitkan Bapa-Bapa Baru: Dr. Tunde menekankan bahwa peran utama seorang bapa bukanlah sekadar memiliki putra, melainkan membangkitkan bapa-bapa baru. Jika seorang bapa rohani gagal melakukan hal ini, maka generasi putra tersebut akan menjadi lemah. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan warisan (legacy) dari generasi ke generasi, seperti pola Abraham, Ishak, dan Yakub.
- Menyalurkan Kasih Karunia dan Stamina Spiritual: Seorang bapa rohani harus terlebih dahulu mengembangkan "otot-otot spiritual" dan memiliki kasih karunia dari Tuhan sebelum bisa mengaktifkan orang lain. Berdasarkan prinsip Nemo dat quod non habet ("kau tidak dapat memberi apa yang tidak kau miliki"), seorang bapa berperan memberikan stamina spiritual yang telah ia miliki kepada putra-putranya.
- Memperlengkapi untuk Mencapai Level yang Sama: Tugas seorang bapa adalah memperlengkapi generasi di bawahnya agar mereka dapat mencapai tingkat atau level spiritual yang sama dengan bapa mereka. Bapa rohani tidak boleh membatasi atau menghalangi perkembangan orang-orang yang belajar darinya.
- Menggerakkan Roh melalui Pesan Tuhan: Aktivasi terjadi ketika Tuhan menggerakkan roh umat-Nya melalui perkataan seorang utusan atau bapa rohani. Ketika seorang bapa menyampaikan pesan Allah secara sederhana dan akurat, hal itu menimbulkan rasa takut akan Tuhan yang menggerakkan roh jemaat untuk menjalankan mandat pembangunan rumah Tuhan.
- Memberikan Identitas dan Kepastian: Mengetahui siapa bapa rohanimu adalah titik awal dari aktivasi dan pelepasan. Bapa rohani berperan memberikan identitas, sehingga generasi tersebut menjadi "surat yang ditulis oleh bapa kepada dunia"—artinya, kehidupan dan ucapan putra mencerminkan pengaruh dan didikan bapanya.
- Melepaskan sebagai Perpanjangan Rumah: Setelah mengaktifkan, bapa rohani berperan melepaskan generasi tersebut untuk mencapai tujuan aktivasi mereka. Pelepasan ini bukan berarti mengusir, melainkan menjadikan putra-putra tersebut sebagai perpanjangan dari rumah bapa yang membawa pengaruh bapa mereka ke berbagai tempat di dunia.
Secara ringkas, bapa rohani berperan sebagai saluran aktif yang mentransfer identitas, stamina, dan mandat (legacy yang berkelanjutan) Tuhan kepada generasi berikutnya agar mereka mampu mengejar warisan (inheritance) mereka sendiri.