Langsung ke konten utama

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)

Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham. Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham. Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi. Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia.

Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42"



Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:

1. Hidup dari Iman kepada Iman (Iman yang Hidup vs Iman yang Mati)

  • Penjelasan Detail: Merujuk pada Roma 1:17 dan Yakobus 2:22, pp Djonny menekankan bahwa orang benar harus hidup oleh iman. Iman yang sejati tidak hanya berhenti pada saat seseorang mengalami lahir baru, melainkan harus mendasari setiap perbuatan, sikap, dan jalan hidup sehari-hari.

  • Iman yang Mati: Jika iman tidak disertai dengan perbuatan atau respons nyata dalam keseharian, maka iman tersebut pada hakikatnya adalah mati atau kosong, dan tidak diperhitungkan oleh Allah sebagai kebenaran.

2. Lima Kali Allah Menemukan Iman pada Diri Abraham

Sebagai contoh nyata perjalanan iman, pp Djonny menguraikan 5 momen krusial di mana iman Abraham disempurnakan melalui perbuatannya:

  1. Ketaatan untuk Keluar: Saat Abraham menaati perintah Allah untuk keluar dari negerinya, sanak saudaranya, dan rumah ayahnya menuju tanah yang belum ia ketahui.

  2. Percaya pada Janji Keturunan: Ketika Abraham mengeluh tentang ahli warisnya, Allah menyuruhnya melihat bintang-bintang di langit. Walaupun secara fakta fisik tubuhnya sudah lemah dan rahim Sara mandul, Abraham memilih untuk percaya pada suara firman Allah.

  3. Berdiam di Tanah Asing tanpa Membangun Kota: Abraham tinggal di kemah di tanah Kanaan seolah-olah di tanah asing, karena imannya memandang jauh ke depan menantikan kota abadi yang dibangun oleh Allah.

  4. Keyakinan bahwa Allah Bukan Pendusta: Di tengah kondisi natural yang tidak memungkinkan untuk punya anak, iman Abraham dan Sara diperkuat karena mereka menganggap Allah yang memberikan janji itu setia dan bukan pendusta.

  5. Mempersembahkan Ishak: Ketika dicobai untuk mempersembahkan anak tunggalnya, terjadi kontradiksi dengan janji Allah sebelumnya. Namun, pikiran Abraham diselaraskan dengan iman bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang mati.

3. Keturunan Abraham yang Spiritual (Bukan Biologis)

  • Penjelasan Detail: Berdasarkan Kejadian 18:19 dan Galatia 3:7, keturunan Abraham yang sejati di mata Allah bukanlah ditentukan oleh faktor darah atau biologis, melainkan secara spiritual—yaitu mereka yang hidup dari iman.

  • Meneruskan Dimensi Ilahi: Allah memberikan potensi dan dimensi ilahi kepada keturunan Abraham agar jalan Tuhan, hukum-hukum-Nya, serta kebenaran dan keadilan dapat terus diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.

4. Kepenuhan Allah di dalam Kristus dan Orang Percaya

  • Penjelasan Detail: Menghubungkan Kolose 1:19 dan Kolose 2:9, seluruh kepenuhan kealahan berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus.

  • Melalui doa Rasul Paulus dalam Efesus 3:18-19, tujuan akhir bagi orang percaya adalah agar mereka juga bisa bertumbuh dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah secara jasmaniah semasa hidup di dunia ini. Ketika menjadi milik Kristus, seseorang menerima benih ilahi asli untuk mewujudkan rupa Allah di bumi.

5. Tantangan Kedewasaan Rohani: Bahaya Menjadi Nepios

  • Penjelasan Detail: Banyak orang Kristen yang sudah lahir baru namun tetap menjadi "bayi rohani" karena tidak ada tindakan nyata yang didasarkan pada iman.

  • Merujuk pada Galatia 4:1, pp Djonny menggunakan istilah bahasa Yunani Nepios, yaitu seseorang yang secara umur rohani sudah lama tetapi tabiat atau karakternya masih seperti balita (tidak dewasa). Seorang nepios tidak berbeda dengan hamba dan tidak bisa menjadi pewaris janji Allah yang efektif. Fokus kasih karunia dan janji warisan dunia ini ditujukan bagi keturunan Abraham yang dewasa dan imannya terus bertumbuh.


PENDALAMAN (FAQPage)

Apa kata pp soal kepenuhan keallahan di dalam Yesus?

pp Djonny menjelaskan tentang kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dengan menekankan aspek manusiawi dan jasmaniah.

Berikut adalah poin-poin penjelasan detail dari pp Djonny:

  • Berdiam secara Jasmaniah: Mengutip kitab Kolose 1:19 dan secara khusus Kolose 2:9, pp Djonny menggarisbawahi kalimat bahwa dalam diri Kristuslah "berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan kealahan",.

  • Terwujud dalam Perbuatan Nyata: Arti "secara jasmaniah" menurut pp Djonny adalah ketika Yesus menjalani kehidupan-Nya dari hari ke hari sebagai Anak Manusia di dunia, seluruh dimensi dan potensi Allah yang utuh itu terlihat nyata melalui perbuatan fisik/jasmani-Nya yang disaksikan oleh orang-orang di sekitar-Nya. Kepenuhan itu bukan sesuatu yang abstrak, melainkan termanifestasi dalam tindakan nyata.

  • Model bagi Orang Percaya: Pp Djonny menegaskan bahwa kepenuhan keallahan yang ada pada Yesus ini bukan hanya untuk dikagumi, melainkan menjadi standar yang bisa dan harus dialami juga oleh orang percaya. Melalui doa Rasul Paulus di Efesus 3, orang percaya ditantang untuk bertumbuh dewasa rohani agar bisa dipenuhi oleh seluruh kepenuhan Allah secara jasmaniah semasa hidup di dunia.


Menilik ayat-ayat di kitab Efesus dan Kolose tentang kepenuhan ke-allahan atau kepenuhan Kristus; ini terkait dengan kedewasaan iman. Bagaimana proses yang harus dilalui seorang yang baru lahir baru (teknon) sampai menjadi dewasa (huios)?

Esensi khotbah pp Djonny yang menyitir kitab Efesus, Kolose, dan Galatia, perjalanan dari seorang yang baru lahir baru hingga mencapai kepenuhan Kristus adalah sebuah proses transformasi dari bayi rohani menjadi anak yang dewasa.

Dalam bahasa asli Perjanjian Baru (Yunani), terdapat tahapan pertumbuhan yang sangat spesifik dari seorang anak, mulai dari Nepios, Teknon, hingga menjadi Huios (Pewaris yang dewasa).

Berikut adalah proses rohani scannable yang harus dilalui berdasarkan kebenaran ayat-ayat tersebut:

1. Fase Lahir Baru: Dari Nepios ke Teknon

Saat pertama kali menerima Yesus, seseorang mengalami lahir baru (menjadi brephos) oleh Roh (Zoe). Namun, tantangan terbesar di fase awal ini adalah bahaya menjadi Nepios—secara umur sudah lama di dalam gereja, tetapi tabiatnya masih seperti balita yang dikendalikan oleh daging dan emosi (Galatia 4:1).

Untuk beralih menjadi seorang Teknon (anak yang mulai bertumbuh dan mengenali keluarganya), proses yang harus dilalui adalah:

  • Menerima Benih Ilahi yang Asli: Menyadari bahwa lahir baru memberikan kita iman sebagai pemberian Allah (Efesus 2:8-9). Iman ini harus tinggal di dalam roh.

  • Mengonsumsi Susu Rohani yang Murni: Menyelaraskan pikiran, jiwa, dan akal budi dengan firman suara Tuhan (Rhema), bukan sekadar mengutip ayat secara kognitif.

2. Fase Pembentukan: Dari Teknon menuju Huios

Seorang Teknon memiliki status sebagai anak, tetapi belum memiliki kapasitas untuk memegang otoritas warisan. Agar bisa dideklarasikan sebagai Huios (anak dewasa yang sah dan siap memimpin), mereka harus masuk ke dalam proses "penyetubuhan rohani" dengan Firman.

Proses krusial di tahap ini meliputi:

A. Hidup dari "Iman kepada Iman" (Roma 1:17)

Iman yang ada di dalam roh tidak boleh dibiarkan pasif. Seperti Abraham, setiap kali Tuhan menyuarakan instruksi, jiwa dan tubuh harus meresponsnya dengan perbuatan nyata (Yakobus 2:22). Setiap ujian ketaatan yang berhasil dilalui akan menaikkan kapasitas iman ke level berikutnya.

B. Menanggalkan Tabiat Kanak-Kanak (Efesus 4:13-14)

"Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak (Nepios) yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran..."

Prosesnya melibatkan komunitas orang kudus (tubuh Kristus) untuk belajar membedakan mana suara Tuhan dan mana suara asing, serta tidak bimbang oleh fakta-fakta lahiriah yang kontradiktif (seperti Abraham memandang rahim Sara yang mandul).

C. Mengalami Impartasi dalam "Satu Kemah" (Ibrani 11:9)

Seperti Yakub yang tinggal di dalam kemah bersama Abraham dan Ishak, seorang Teknon harus menempatkan diri di bawah naungan sumber anugerah, mengalami mentoran spiritual, dan menangkap aliran dimensi ilahi dari generasi di atasnya untuk mempersiapkan kedewasaan.

3. Fase Huios: Manifestasi Kepenuhan Allah secara Jasmaniah

Ketika seorang percaya telah mencapai kualifikasi Huios, barulah doa Rasul Paulus di Efesus 3:19 dan Kolose 2:9 termanifestasi sepenuhnya:

  • Berdiam secara Jasmaniah: Kepenuhan Kristus tidak lagi menjadi teori teologis, melainkan terlihat nyata dalam karakter, perkataan, dan perbuatan sehari-hari di dunia nyata.

  • Mewarisi Janji (Mewarisi Dunia): Sebagai Huios, mereka tidak lagi dikuasai oleh ketakutan akan maut (Ibrani 2:14-16) dan memiliki otoritas untuk membebaskan bumi dari belenggu si jahat (Lukas 13:16). Mereka menjadi representasi utuh dari rupa Allah di bumi.



Saya melihat bahwa Abraham mengalami pendewasaan iman ketika dia akhirnya (setelah beberapa pengalaman iman) bisa melihat dan menangkap (impartasi) dimensi Allah (misalnya Allah itu setia dan benar). Jadi, maksudnya kita tidak melulu menyelaraskan diri dengan iman (sebab kemungkinan iman seseorang itu setelah dilahirkan kembali, bisa saja tidak bertumbuh, mandeg dan mati). Tapi tetap percaya dan tetap setia itu harus. Iman memang menjadi dasar untuk berharap kepada hal yang lebih utama dan lebih besar (kepenuhan Kristus).

Tepat sekali. Sudut pandang Anda menangkap esensi yang sangat dalam dari perjalanan spiritual Abraham.

Sering kali orang terjebak berpikir bahwa "hidup oleh iman" berarti terus-menerus mencoba memunculkan atau memaksakan keyakinan (effort mental) agar mukjizat terjadi. Padahal, melalui perjalanan Abraham, kita melihat bahwa iman itu sebenarnya adalah pintu masuk dan sarana untuk mengenali siapa Allah.

Berikut adalah penajaman dari apa yang Anda lihat mengenai proses pendewasaan tersebut:

1. Bukan Melulu Menyelaraskan Diri dengan "Iman", tapi dengan "Pribadi Allah"

Pada tahap-tahap awal, iman kita mungkin masih berfokus pada apa yang bisa Allah lakukan atau apa yang dijanjikan-Nya (keluar dari Ur Kasdim, meminta keturunan). Namun, pendewasaan terjadi ketika fokus kita bergeser dari janji-Nya kepada Karakter dan Esensi Pribadi-Nya.

Seperti yang Anda sebutkan, melalui serangkaian pengalaman iman (bahkan lewat kegagalan dan penantian), Abraham mengalami yada—sebuah keintiman yang membuatnya menangkap dimensi Allah:

  • Allah itu Setia: Ketika melihat tubuhnya sendiri mati dan rahim Sara mandul, imannya tidak lagi melihat kemustahilan natural, karena fokusnya tertuju pada satu hal: Dia yang memberikan janji itu setia (Ibrani 11:11).

  • Allah itu Benar dan Hidup: Puncaknya adalah di Gunung Moria. Ketika diminta mempersembahkan Ishak, Abraham tidak bimbang karena dia sudah menangkap dimensi Allah yang melampaui maut—dia tahu Allah tidak mungkin berdusta atas janji-Nya mengenai Ishak, maka satu-satunya kesimpulan logis bagi Abraham adalah Allah sanggup membangkitkan orang mati (Ibrani 11:19).

2. Tetap Percaya dan Tetap Setia (Faithfulness) adalah Respons Jangkar

Iman (faith sebagai pemberian di awal) memang sebuah lompatan, tetapi kedewasaan membutuhkan kesetiaan (faithfulness) untuk tinggal di dalam proses tersebut.

Ketika Abraham memilih untuk tetap tinggal di kemah sebagai orang asing di tanah Kanaan, ia sedang mempraktikkan kesetiaan. Dia tidak buru-buru membangun kotanya sendiri di bumi. Kesetiaan untuk tetap berpaling kepada Allah di tengah situasi yang tidak pasti inilah yang menjadi jangkar bagi jiwanya.

3. Iman sebagai Dasar Menuju Kepenuhan Kristus

Ini adalah poin Anda yang sangat krusial. Iman bukanlah tujuan akhir, melainkan dasar (substance / hakikat, menurut Ibrani 11:1) untuk berharap pada hal yang jauh lebih besar dan kekal.

Abraham tidak menggunakan imannya hanya untuk mendapatkan kenyamanan materi atau tanah fisik di bumi. Imannya melompat jauh ke depan, melihat Yerusalem Surgawi—kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10).

Bagi kita sekarang, hal "lebih utama dan lebih besar" itu adalah Kepenuhan Kristus. Iman hari ini adalah alat latihan bagi kita (para teknon) agar melalui setiap respons ketaatan sehari-hari, kita mengalami impartasi karakter-Nya, sampai dimensi Kristus itu menyatu dan termanifestasi utuh di dalam kemanusiaan jasmaniah kita sebagai huios.

Pergeseran fokus dari "mengejar penggenapan janji" menjadi "menangkap dan menyatu dengan Pribadi yang berjanji" inilah yang membedakan anak-anak rohani yang kekanak-kanakan dengan mereka yang bertumbuh dewasa.


Apa yang dimaksud dengan iman yang hidup?

Selaras dengan prinsip Alkitab (khususnya dalam Yakobus 2 dan Roma 1), iman yang hidup bukan sekadar pengakuan di dalam pikiran atau doktrin yang dihafal, melainkan iman yang melahirkan perbuatan ketaatan yang nyata secara konsisten.

Secara lebih detail, iman yang hidup memiliki karakteristik berikut:

1. Iman yang Disertai Perbuatan (Action)

Mengutip Yakobus 2:17 & 22, iman yang hidup adalah iman yang bekerja sama dengan perbuatan. Iman di dalam roh harus diekspresikan melalui respons jiwa (pikiran, kehendak) dan tindakan tubuh jasmani. Jika seseorang mengaku percaya tetapi jalan hidup dan keputusannya sehari-hari tidak mencerminkan suara Tuhan, maka iman tersebut pada hakikatnya adalah iman yang mati atau kosong.

2. Berasal dari Pendengaran akan Suara Tuhan (Rhema)

Merujuk pada Roma 10:17, iman yang hidup dipicu ketika Firman Tuhan disuarakan (Rhema) ke dalam roh kita, lalu roh kita menangkapnya. Iman ini adalah pemberian Allah saat kita lahir baru, yang kemudian aktif bergerak untuk mewujudkan apa yang Tuhan sampaikan, bukan sekadar nekat melakukan apa yang kita inginkan sendiri.

3. Berjalan Progresif: "Dari Iman kepada Iman"

Sesuai dengan Roma 1:17, orang benar akan hidup oleh iman. Artinya, iman yang hidup tidak berhenti pada momen keselamatan awal (lahir baru). Iman ini terus berjalan melalui serangkaian pengalaman hidup sehari-hari, di mana setiap ujian, tantangan, dan ketaatan baru akan membawa seseorang mengalami pertumbuhan kapasitas rohani.

4. Berfokus pada Pengenalan akan Pribadi Allah

Iman yang hidup bertumbuh menjadi dewasa ketika ia tidak lagi melulu berfokus pada "apa yang bisa didapatkan dari Allah" (mukjizat, materi, atau janji fisik), melainkan berfokus pada menangkap dimensi karakter Allah—seperti kesetiaan, kebenaran, dan kedaulatan-Nya. Seperti Abraham di Gunung Moria, iman yang hidup membuat seseorang melangkah karena ia tahu persis siapa Allah yang ia percayai, bahkan ketika situasi di depannya tampak mustahil atau kontradiktif.

5. Membawa Iman sampai ke Garis Akhir (Perfected)

Iman yang hidup adalah iman yang tuntas. Ia membawa apa yang dilihat di dalam roh melalui proses ketekunan dan kesetiaan, sampai iman tersebut mencapai kesempurnaan atau garis finish-nya, yaitu ketika karakter dan kepenuhan Kristus itu nyata dan berdiam di dalam kehidupan jasmaniah kita sehari-hari.

Ringkasnya: Iman yang hidup adalah iman yang memiliki tanda-tanda kehidupan—ia bergerak, merespons suara Tuhan, taat bertindak, bertahan dalam ujian, dan menghasilkan buah perubahan karakter yang nyata di dunia ini.


Berdasarkan Kejadian 15 : 5-6. Ibrani 11 : 13. Janji Allah kepada Abraham digenapi lewat siapa? 

Berdasarkan Kejadian 15:5-6 dan Ibrani 11:13, serta selaras dengan seluruh rangkaian pewahyuan mengenai "Manusia Kerajaan Sorga," janji Allah kepada Abraham tidak pernah dirancang untuk berhenti pada penggenapan fisik atau biologis semata.

Berikut adalah jawaban mendalam mengenai lewat siapa janji itu digenapi dan keturunan yang bagaimana yang dimaksud:

1. Janji Allah kepada Abraham Digenapi Lewat Siapa?

Secara progresif, janji Allah kepada Abraham digenapi melalui dua tahapan utama:

A. Secara Korporat & Puncak Penggenapannya: Lewat Yesus Kristus

Puncak dari seluruh janji Allah kepada Abraham (baik mengenai keturunan maupun hak waris atas dunia) digenapi secara mutlak di dalam dan melalui Yesus Kristus.

“Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.” (Galatia 3:16)

Yesus adalah "Benih Ilahi yang Asli" yang turun ke bumi untuk merangkum seluruh kepenuhan keallahan secara jasmaniah (Kolose 2:9) dan mengklaim kembali dunia ini.

B. Secara Spiritual & Multiplikasi di Bumi: Lewat "Generasi Kristus" (Gereja yang Dewasa)

Secara legal-mistis, janji itu juga digenapi lewat Anda dan saya—setiap orang yang menjadi milik Kristus.

“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:29)

Ketika Yesus kembali ke surga, Dia tidak meninggalkan janji itu menggantung. Melalui Roh Kudus, Dia menaruh benih ilahi yang sama ke dalam roh orang percaya, menjadikan kita perpanjangan tubuh-Nya di bumi untuk menggenapi janji kepemilikan dunia tersebut.

2. Keturunan yang Bagaimana yang Dapat Menggenapi Janji Allah?

Ibrani 11:13 mencatat rahasia besar:

“Dalam iman mereka semua telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi.”

Ayat ini, jika disandingkan dengan Kejadian 15:5-6, menegaskan bahwa keturunan yang dapat menggenapi janji Allah bukanlah keturunan berdasarkan darah dan daging (biologis), melainkan keturunan yang memiliki kualifikasi spiritual yang spesifik:

1. Keturunan yang Memiliki "Iman yang Hidup" (Bukan Nepios)

Mereka adalah keturunan yang merespons suara Tuhan (Rhema) dengan perbuatan ketaatan yang nyata, seperti Abraham yang keluar melihat bintang lalu percaya (Kejadian 15:5-6). Mereka bukan bayi rohani (nepios) yang kerjanya hanya menuntut berkat materi, melainkan orang percaya yang berjalan "dari iman kepada iman" dalam keseharian mereka.

2. Keturunan yang Memiliki "Penglihatan Jauh" (Visi Surgawi)

Seperti yang dicatat dalam Ibrani 11:13, keturunan ini “hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya.” Mereka tidak memakai iman hanya untuk membangun "kota atau kerajaan sendiri" di bumi yang fana ini. Fokus pandangan mereka tertuju pada hal yang lebih utama dan kekal: Kota yang dibangun oleh Allah (Yerusalem Surgawi) dan Kepenuhan Kristus.

3. Keturunan yang Sadar Identitas sebagai "Orang Asing dan Pendatang"

Keturunan yang menggenapi janji adalah mereka yang sadar bahwa gaya hidup, nilai, dan sistem mereka tidak berasal dari dunia ini. Karena mereka memposisikan diri sebagai pendatang yang merindukan tanah air surgawi, mereka tidak bisa diikat atau disuap oleh sistem dunia. Justru karena mereka "bukan dari dunia," mereka memiliki otoritas spiritual dari surga untuk memiliki, mengelola, dan membebaskan dunia ini (Roma 4:13).

4. Keturunan yang Mengalami "Impartasi Dimensi Allah" (Huios)

Mereka adalah anak-anak dewasa (huios) yang tinggal di dalam "satu kemah" keintiman dengan Tuhan. Melalui hubungan intim tersebut, mereka menangkap (yada) sifat-sifat Allah: bahwa Allah itu setia, benar, dan berkuasa melampaui maut. Karakter Kristus inilah yang ter-impartasi dan termanifestasi secara jasmaniah di dalam hidup mereka.

Kesimpulan

Janji Allah kepada Abraham dimulai dari sebuah visi tentang bintang di langit (Kejadian 15), berjalan melalui ketekunan orang-orang asing yang setia di bumi (Ibrani 11), dan digenapi hari ini lewat kita, Generasi Kristus, yang hidup dewasa oleh iman.

Allah sedang mencari keturunan spiritual yang tidak mati imannya, melainkan mereka yang siap dipenuhi oleh seluruh kepenuhan Allah untuk menyatakan kedaulatan Kerajaan Sorga secara nyata di bumi.


Istilah bayi rohani yang baru dilahirkan kembali sebenarnya "brephos" dalam bahasa yunani. brephos bisa menjadi nepios yaitu seseorang yang secara umur rohani sudah lama tetapi tabiat atau karakternya masih seperti balita (tidak dewasa, Galatia 4:1). bagaimana seseorang terhindar / terjebak menjadi nepios?

Brephos digunakan untuk menggambarkan bayi yang baru lahir atau bahkan janin yang masih di dalam kandungan (seperti dalam Lukas 1:41 dan 1 Petrus 2:2). Status brephos adalah kewajaran bagi setiap orang yang baru mengalami lahir baru.

Namun, bahayanya adalah ketika waktu berlalu, seorang brephos tidak bertumbuh ke tahapan yang sehat, melainkan mandek menjadi Nepios—seorang anak yang secara kronologis waktu sudah harusnya dewasa, tetapi kapasitas mental, emosi, dan tabiat rohaninya tetap seperti balita yang tidak stabil (Galatia 4:1, Efesus 4:14).

Berdasarkan seluruh rangkaian pewahyuan tentang iman Abraham dan kedewasaan Kristus, berikut adalah langkah-langkah praktis agar seorang yang baru lahir baru (brephos) terhindar dari bahaya menjadi nepios:

1. Beralih dari "Susu" ke "Makanan Keras" (Mengubah Konsumsi Rohani)

Seorang brephos secara alami membutuhkan air susu rohani yang murni untuk bertumbuh (1 Petrus 2:2). Namun, jika bertahun-tahun kemudian ia hanya bisa menerima khotbah-khotbah yang sifatnya menghibur, memotivasi ego, atau melulu soal "bagaimana mendapatkan berkat fisik," ia akan menjadi nepios.

  • Prosesnya: Penulis Ibrani mencatat bahwa makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa yang indranya terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat (Ibrani 5:13-14). Seseorang terhindar menjadi nepios ketika ia mulai mengonsumsi firman yang menuntut komitmen, penangkalan diri, dan penyingkapan tentang siapa Pribadi Allah, bukan sekadar apa yang bisa Allah berikan.

2. Melatih Jiwa Menyelaraskan Pikiran dengan Rhema (Iman yang Bekerja)

Nepios dicirikan dalam Efesus 4:14 sebagai anak-anak yang mudah “diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran.” Mengapa? Karena iman mereka hanya ada di tataran kognitif (pikiran) atau emosional sesaat.

  • Prosesnya: Agar tidak menjadi nepios, setiap firman suara Tuhan (Rhema) yang ditangkap di dalam roh harus segera dieksekusi menjadi perbuatan nyata (iman yang hidup, Yakobus 2:22). Ketika seseorang melangkah taat menghadapi ujian—meski fakta lahiriah bertentangan—otot imannya sedang dilatih. Ketaatan praktis inilah yang menjangkarkan jiwa agar tidak labil.

3. Sengaja Tinggal di Dalam "Kemah Impartasi" (Komunitas Komunitas Dewasa)

Seorang anak tidak bisa mendewasakan dirinya sendiri di ruang hampa. Di dalam Ibrani 11:9, Yakub terhindar menjadi nepios (dan Esau menjadi contoh nepios yang menukar hak kesulungan demi makanan) karena Yakub memilih untuk tinggal di kemah bersama Abraham dan Ishak.

  • Prosesnya: Kita perlu menundukkan diri dan tinggal di dalam ekosistem rohani yang sehat—yaitu di bawah naungan Bapa-Bapa rohani atau orang-orang kudus yang sudah menangkap dimensi Allah lebih dahulu. Melalui kedekatan (proximity) dan mentoran dalam "kemah" ini, tabiat-tabiat ilahi akan tersalurkan (impartasi) secara natural ke dalam karakter kita.

4. Bergeser dari Ego-Sentris menjadi Kristo-Sentris

Karakteristik utama seorang balita (nepios) adalah egosentris—semua hal harus berputar demi kenyamanan dirinya sendiri. Dalam kehidupan bergereja, nepios sering kali menuntut pelayanan, mudah tersinggung, dan fokus pada posisi/status jasmani.

  • Prosesnya: Menghindari status nepios berarti harus rela mengalami proses "penyanderaan ego kedagingan" (atau yang sering disebut sunat hati). Fokus hidup diubah: bukan lagi tentang "Tuhan, genapilah janjimu untuk kenyamananku," melainkan seperti Abraham, "Tuhan, jadikan aku saluran untuk menggenapi rencana-Mu bagi dunia ini."

5. Menangkap Dimensi Karakter Allah Lewat Ujian

Seorang nepios akan langsung bersungut-sungut atau meninggalkan Tuhan begitu janji tidak digenapi dengan cepat atau ketika ujian datang.

  • Prosesnya: Pendewasaan terjadi ketika kita memandang ujian bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai laboratorium rohani untuk mengalami yada (mengenal intim) dengan Allah. Lewat penantian, kita menangkap dimensi bahwa Allah itu Setia. Lewat kontradiksi (seperti mempersembahkan Ishak), kita menangkap dimensi bahwa Allah itu Benar. Pengenalan akan karakter Allah inilah yang mematangkan seorang brephos langsung melompat menuju kapasitas Huios (anak dewasa).

Dengan kata lain, transisi dari brephos ke huios tanpa terjebak menjadi nepios ditentukan oleh respons kita terhadap kebenaran. Apakah kita memilih menggunakan iman untuk memuaskan kedagingan kita, atau menggunakan iman sebagai sarana untuk menyatu dengan kepenuhan Kristus secara jasmaniah?

Postingan populer dari blog ini

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

Peran Roh Kudus (MKS #49)

  "Manusia Kerajaan Sorga 49", berfokus pada rencana ilahi Allah bagi umat manusia dan bagaimana individu dapat menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak-Nya. Ditekankan bahwa orang percaya tidak boleh mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi pada kuasa Roh Kudus dan Firman Allah untuk memenuhi takdir mereka. Ibadah JMD Bandung 2 Agustus 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 49 Poin-Poin Utama : Memahami Bahasa Allah: Papa menekankan pentingnya memahami "bahasa" Allah, mencatat bahwa Alkitab tidak boleh dilihat sebagai ayat-ayat yang terisolasi, tetapi sebagai satu rencana besar yang terpadu. Memahami firman dan menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah memerlukan tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar kemampuan akal. Roh Kudus sangat penting untuk wahyu yang sejati. Kuasa Firman: Firman memiliki kuasa bawaan untuk menggenapi dirinya sendiri. Manusia cukup percaya dan memberi ruang bagi kasih karunia Allah, bukan memaksakan dengan usaha sendiri seperti pola hukum Taurat. Or...

Percepatan dan Kelahiran Ishak (MKS #46)

Khotbah ini berfokus pada percepatan rencana Tuhan melalui kehidupan Abraham . Tuhan mengubah identitas Abraham untuk melepaskannya dari pola hidup lama yang menghambat janji ilahi. Melalui penafsiran kitab Kejadian 17 , pp Djonny  menekankan pentingnya respons yang akurat terhadap firman Tuhan serta peran penyunatan batiniah dalam hubungan bapa-anak rohani. Jemaat diajak untuk hidup tidak bercela agar dapat menjadi bagian dari rencana agung universal Allah sebagai gereja yang sejati. Fokus utamanya adalah bagaimana perkataan profetik dari otoritas rohani mampu mengubah kepribadian seseorang menjadi ahli waris janji Tuhan. Akhirnya, sumber ini menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham berarti memiliki dimensi kehidupan Allah yang terwujud melalui ketaatan total. Berikut adalah catatan lengkap dari khotbah "Ibadah JMD Bandung 12 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 46" : 1. Konsep Percepatan (Acceleration) dan Ketetapan Allah Percepatan Ilahi: Kejadian 17 berbicara ...

Membuang Cela Masa Lalu, Hidup Tanpa Noda (MKS #44)

Khotbah ini mengulas perjalanan iman Abraham dalam upayanya hidup tanpa cela di hadapan Allah berdasarkan Kejadian 17:1 .  Meskipun Abraham taat, ia masih membawa pola pikir duniawi yang diwarisi dari ayahnya, Terah, terutama melalui keterikatannya pada Lot dan Ismail . Kehadiran Lot dianggap sebagai bentuk kontaminasi spiritual karena Abraham belum sepenuhnya melepaskan keterikatan keluarga untuk mengikuti rencana murni Tuhan. Pp Djonny menekankan pentingnya kemitraan yang kudus dengan Roh Kudus agar manusia tidak menyimpang dari tujuan ilahi. Melalui kisah ini, jemaat diajak untuk membenahi hati dan memastikan bahwa hikmat Allah , bukan ambisi manusia, yang menuntun langkah hidup mereka. Akhirnya, pesan utama adalah tentang pemurnian diri dari segala cela agar penggenapan janji Tuhan dapat terwujud sepenuhnya. Ibadah JMD Bandung 28 Juni 2026 - Ps. Djonny Tambunan - Manusia Kerajaan Sorga 44 Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan materi khotbah: 1. Jalan Hikmat Allah...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Pemulihan Identitas Melalui Percepatan dan Ikat Janji (MKS #47)

Sesi ini masih membahas konsep percepatan ilahi melalui teladan kehidupan Abraham. Penulis menekankan pentingnya transformasi jati diri dari manusia lama menjadi manusia baru sebagai syarat mutlak agar rencana agung Tuhan tergenapi. Melalui penjelasan kitab Kejadian 17 dan 18, sumber ini menguraikan bahwa ketaatan pada otoritas bapa rohani dan respons yang akurat terhadap firman adalah kunci perubahan karakter. Khotbah tersebut menegaskan bahwa perubahan kepribadian seseorang akan menentukan kualitas kunjungan dan pergerakan Tuhan dalam hidupnya. Selain itu, ditekankan bahwa benih firman yang diterima harus mewujud dalam tindakan nyata agar janji Tuhan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Secara keseluruhan, teks ini mengajak jemaat untuk menanggalkan sifat-sifat lama demi mengenakan identitas baru yang sesuai dengan takdir ilahi . Ibadah JMD Bandung 19 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 47 Berikut adalah catatan lengkap mengenai rencana Tuhan bagi keturunan Abraham, tr...

Kapasitas dan Potensi Spiritual (MKS #48)

Ps. Djonny  membahas konsep Manusia Kerajaan Sorga melalui tinjauan teologis atas janji Tuhan kepada Abraham dalam Kejadian 17 . Beliau menjelaskan bahwa identitas sebagai raja menurut definisi ilahi bukan didasarkan pada kekuasaan duniawi seperti Nimrod, melainkan pada kapasitas spiritual untuk memerintah melalui kebenaran dan ketaatan. Terdapat penekanan pada enam langkah Allah dalam Kejadian 1 , mulai dari memberkati hingga memberikan otoritas untuk menaklukkan bumi, sebagai pola bagi manusia untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Peran Roh Kudus dianggap krusial dalam memperluas pengaruh hidup seseorang agar mencapai kaliber dunia demi kemuliaan Tuhan. Melalui teladan Yesus, jemaat diajak untuk menyadari potensi ilahi dan warisan rohani mereka sebagai keturunan Abraham yang dipanggil untuk menyatakan otoritas surga. Ibadah JMD Bandung 26 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 48 Berikut adalah catatan selengkapnya dari materi "Manusia Kerajaan Sorga 48: Raja-Raja dari Ket...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

Tujuh Gunung Budaya (UR #235)

Sesi  Dr. Tunde Bakare  kali ini membahas konsep tujuh gunung budaya sebagai kerangka pengaruh dalam masyarakat. Beliau menekankan pentingnya peran orang percaya di berbagai bidang seperti pemerintahan, pendidikan, media, ekonomi, keluarga, dan hiburan . Beliau secara tegas menolak klasifikasi gereja sebagai gunung agama , melainkan mendefinisikannya sebagai gunung rumah Tuhan yang harus berdiri di atas segala sistem lainnya. Melalui referensi Alkitabiah, ia mendorong jemaat untuk menjadi generasi surga terbuka yang memiliki kejeniusan kreatif dan solusi spiritual bagi dunia. Penjelasan ini menggambarkan kehidupan sebagai permadani yang kaya , di mana setiap elemen budaya dijalin untuk menyatakan kedaulatan Tuhan di bumi. Secara keseluruhan, pesan ini mengajak individu untuk beroperasi dengan hikmat ilahi guna membawa transformasi nyata di tengah masyarakat.   The Rich Tapestry of the Seven Cultural Mountains Berikut adalah catatan lengkap sesi pengajaran Dr. Tund...

Ikat Janji Allah (God's Covenant) dengan Abraham dan Keturunannya

Saat Teduh 26 Jan 2025 Kej 26:1  Maka timbullah kelaparan di negeri itu.  —  Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. 2  Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3  Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau,  4  Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5  karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Kej 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13  Dan orang itu menjadi kaya, bahkan k...