Langsung ke konten utama

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)



Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham. Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham. Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi. Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia.


Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42"



Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:

1. Hidup dari Iman kepada Iman (Iman yang Hidup vs Iman yang Mati)

  • Penjelasan Detail: Merujuk pada Roma 1:17 dan Yakobus 2:22, pp Djonny menekankan bahwa orang benar harus hidup oleh iman. Iman yang sejati tidak hanya berhenti pada saat seseorang mengalami lahir baru, melainkan harus mendasari setiap perbuatan, sikap, dan jalan hidup sehari-hari.

  • Iman yang Mati: Jika iman tidak disertai dengan perbuatan atau respons nyata dalam keseharian, maka iman tersebut pada hakikatnya adalah mati atau kosong, dan tidak diperhitungkan oleh Allah sebagai kebenaran.

2. Lima Kali Allah Menemukan Iman pada Diri Abraham

Sebagai contoh nyata perjalanan iman, pp Djonny menguraikan 5 momen krusial di mana iman Abraham disempurnakan melalui perbuatannya:

  1. Ketaatan untuk Keluar: Saat Abraham menaati perintah Allah untuk keluar dari negerinya, sanak saudaranya, dan rumah ayahnya menuju tanah yang belum ia ketahui.

  2. Percaya pada Janji Keturunan: Ketika Abraham mengeluh tentang ahli warisnya, Allah menyuruhnya melihat bintang-bintang di langit. Walaupun secara fakta fisik tubuhnya sudah lemah dan rahim Sara mandul, Abraham memilih untuk percaya pada suara firman Allah.

  3. Berdiam di Tanah Asing tanpa Membangun Kota: Abraham tinggal di kemah di tanah Kanaan seolah-olah di tanah asing, karena imannya memandang jauh ke depan menantikan kota abadi yang dibangun oleh Allah.

  4. Keyakinan bahwa Allah Bukan Pendusta: Di tengah kondisi natural yang tidak memungkinkan untuk punya anak, iman Abraham dan Sara diperkuat karena mereka menganggap Allah yang memberikan janji itu setia dan bukan pendusta.

  5. Mempersembahkan Ishak: Ketika dicobai untuk mempersembahkan anak tunggalnya, terjadi kontradiksi dengan janji Allah sebelumnya. Namun, pikiran Abraham diselaraskan dengan iman bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang mati.

3. Keturunan Abraham yang Spiritual (Bukan Biologis)

  • Penjelasan Detail: Berdasarkan Kejadian 18:19 dan Galatia 3:7, keturunan Abraham yang sejati di mata Allah bukanlah ditentukan oleh faktor darah atau biologis, melainkan secara spiritual—yaitu mereka yang hidup dari iman.

  • Meneruskan Dimensi Ilahi: Allah memberikan potensi dan dimensi ilahi kepada keturunan Abraham agar jalan Tuhan, hukum-hukum-Nya, serta kebenaran dan keadilan dapat terus diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.

4. Kepenuhan Allah di dalam Kristus dan Orang Percaya

  • Penjelasan Detail: Menghubungkan Kolose 1:19 dan Kolose 2:9, seluruh kepenuhan kealahan berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus.

  • Melalui doa Rasul Paulus dalam Efesus 3:18-19, tujuan akhir bagi orang percaya adalah agar mereka juga bisa bertumbuh dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah secara jasmaniah semasa hidup di dunia ini. Ketika menjadi milik Kristus, seseorang menerima benih ilahi asli untuk mewujudkan rupa Allah di bumi.

5. Tantangan Kedewasaan Rohani: Bahaya Menjadi Nepios

  • Penjelasan Detail: Banyak orang Kristen yang sudah lahir baru namun tetap menjadi "bayi rohani" karena tidak ada tindakan nyata yang didasarkan pada iman.

  • Merujuk pada Galatia 4:1, pp Djonny menggunakan istilah bahasa Yunani Nepios, yaitu seseorang yang secara umur rohani sudah lama tetapi tabiat atau karakternya masih seperti balita (tidak dewasa). Seorang nepios tidak berbeda dengan hamba dan tidak bisa menjadi pewaris janji Allah yang efektif. Fokus kasih karunia dan janji warisan dunia ini ditujukan bagi keturunan Abraham yang dewasa dan imannya terus bertumbuh.


PENDALAMAN (FAQPage)

Apa kata pp soal kepenuhan keallahan di dalam Yesus?

pp Djonny menjelaskan tentang kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dengan menekankan aspek manusiawi dan jasmaniah.

Berikut adalah poin-poin penjelasan detail dari pp Djonny:

  • Berdiam secara Jasmaniah: Mengutip kitab Kolose 1:19 dan secara khusus Kolose 2:9, pp Djonny menggarisbawahi kalimat bahwa dalam diri Kristuslah "berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan kealahan",.

  • Terwujud dalam Perbuatan Nyata: Arti "secara jasmaniah" menurut pp Djonny adalah ketika Yesus menjalani kehidupan-Nya dari hari ke hari sebagai Anak Manusia di dunia, seluruh dimensi dan potensi Allah yang utuh itu terlihat nyata melalui perbuatan fisik/jasmani-Nya yang disaksikan oleh orang-orang di sekitar-Nya. Kepenuhan itu bukan sesuatu yang abstrak, melainkan termanifestasi dalam tindakan nyata.

  • Model bagi Orang Percaya: Pp Djonny menegaskan bahwa kepenuhan keallahan yang ada pada Yesus ini bukan hanya untuk dikagumi, melainkan menjadi standar yang bisa dan harus dialami juga oleh orang percaya. Melalui doa Rasul Paulus di Efesus 3, orang percaya ditantang untuk bertumbuh dewasa rohani agar bisa dipenuhi oleh seluruh kepenuhan Allah secara jasmaniah semasa hidup di dunia.


Menilik ayat-ayat di kitab Efesus dan Kolose tentang kepenuhan ke-allahan atau kepenuhan Kristus; ini terkait dengan kedewasaan iman. Bagaimana proses yang harus dilalui seorang yang baru lahir baru (teknon) sampai menjadi dewasa (huios)?

Esensi khotbah pp Djonny yang menyitir kitab Efesus, Kolose, dan Galatia, perjalanan dari seorang yang baru lahir baru hingga mencapai kepenuhan Kristus adalah sebuah proses transformasi dari bayi rohani menjadi anak yang dewasa.

Dalam bahasa asli Perjanjian Baru (Yunani), terdapat tahapan pertumbuhan yang sangat spesifik dari seorang anak, mulai dari Nepios, Teknon, hingga menjadi Huios (Pewaris yang dewasa).

Berikut adalah proses rohani scannable yang harus dilalui berdasarkan kebenaran ayat-ayat tersebut:

1. Fase Lahir Baru: Dari Nepios ke Teknon

Saat pertama kali menerima Yesus, seseorang mengalami lahir baru oleh Roh (Zoe). Namun, tantangan terbesar di fase awal ini adalah bahaya menjadi Nepios—secara umur sudah lama di dalam gereja, tetapi tabiatnya masih seperti balita yang dikendalikan oleh daging dan emosi (Galatia 4:1).

Untuk beralih menjadi seorang Teknon (anak yang mulai bertumbuh dan mengenali keluarganya), proses yang harus dilalui adalah:

  • Menerima Benih Ilahi yang Asli: Menyadari bahwa lahir baru memberikan kita iman sebagai pemberian Allah (Efesus 2:8-9). Iman ini harus tinggal di dalam roh.

  • Mengonsumsi Susu Rohani yang Murni: Menyelaraskan pikiran, jiwa, dan akal budi dengan firman suara Tuhan (Rhema), bukan sekadar mengutip ayat secara kognitif.

2. Fase Pembentukan: Dari Teknon menuju Huios

Seorang Teknon memiliki status sebagai anak, tetapi belum memiliki kapasitas untuk memegang otoritas warisan. Agar bisa dideklarasikan sebagai Huios (anak dewasa yang sah dan siap memimpin), mereka harus masuk ke dalam proses "penyetubuhan rohani" dengan Firman.

Proses krusial di tahap ini meliputi:

A. Hidup dari "Iman kepada Iman" (Roma 1:17)

Iman yang ada di dalam roh tidak boleh dibiarkan pasif. Seperti Abraham, setiap kali Tuhan menyuarakan instruksi, jiwa dan tubuh harus meresponsnya dengan perbuatan nyata (Yakobus 2:22). Setiap ujian ketaatan yang berhasil dilalui akan menaikkan kapasitas iman ke level berikutnya.

B. Menanggalkan Tabiat Kanak-Kanak (Efesus 4:13-14)

"Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak (Nepios) yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran..."

Prosesnya melibatkan komunitas orang kudus (tubuh Kristus) untuk belajar membedakan mana suara Tuhan dan mana suara asing, serta tidak bimbang oleh fakta-fakta lahiriah yang kontradiktif (seperti Abraham memandang rahim Sara yang mandul).

C. Mengalami Impartasi dalam "Satu Kemah" (Ibrani 11:9)

Seperti Yakub yang tinggal di dalam kemah bersama Abraham dan Ishak, seorang Teknon harus menempatkan diri di bawah naungan sumber anugerah, mengalami mentoran spiritual, dan menangkap aliran dimensi ilahi dari generasi di atasnya untuk mempersiapkan kedewasaan.

3. Fase Huios: Manifestasi Kepenuhan Allah secara Jasmaniah

Ketika seorang percaya telah mencapai kualifikasi Huios, barulah doa Rasul Paulus di Efesus 3:19 dan Kolose 2:9 termanifestasi sepenuhnya:

  • Berdiam secara Jasmaniah: Kepenuhan Kristus tidak lagi menjadi teori teologis, melainkan terlihat nyata dalam karakter, perkataan, dan perbuatan sehari-hari di dunia nyata.

  • Mewarisi Janji (Mewarisi Dunia): Sebagai Huios, mereka tidak lagi dikuasai oleh ketakutan akan maut (Ibrani 2:14-16) dan memiliki otoritas untuk membebaskan bumi dari belenggu si jahat (Lukas 13:16). Mereka menjadi representasi utuh dari rupa Allah di bumi.



Saya melihat bahwa Abraham mengalami pendewasaan iman ketika dia akhirnya (setelah beberapa pengalaman iman) bisa melihat dan menangkap (impartasi) dimensi Allah (misalnya Allah itu setia dan benar). Jadi, maksudnya kita tidak melulu menyelaraskan diri dengan iman (sebab kemungkinan iman seseorang itu setelah dilahirkan kembali, bisa saja tidak bertumbuh, mandeg dan mati). Tapi tetap percaya dan tetap setia itu harus. Iman memang menjadi dasar untuk berharap kepada hal yang lebih utama dan lebih besar (kepenuhan Kristus).

Tepat sekali. Sudut pandang Anda menangkap esensi yang sangat dalam dari perjalanan spiritual Abraham.

Sering kali orang terjebak berpikir bahwa "hidup oleh iman" berarti terus-menerus mencoba memunculkan atau memaksakan keyakinan (effort mental) agar mukjizat terjadi. Padahal, melalui perjalanan Abraham, kita melihat bahwa iman itu sebenarnya adalah pintu masuk dan sarana untuk mengenali siapa Allah.

Berikut adalah penajaman dari apa yang Anda lihat mengenai proses pendewasaan tersebut:

1. Bukan Melulu Menyelaraskan Diri dengan "Iman", tapi dengan "Pribadi Allah"

Pada tahap-tahap awal, iman kita mungkin masih berfokus pada apa yang bisa Allah lakukan atau apa yang dijanjikan-Nya (keluar dari Ur Kasdim, meminta keturunan). Namun, pendewasaan terjadi ketika fokus kita bergeser dari janji-Nya kepada Karakter dan Esensi Pribadi-Nya.

Seperti yang Anda sebutkan, melalui serangkaian pengalaman iman (bahkan lewat kegagalan dan penantian), Abraham mengalami yada—sebuah keintiman yang membuatnya menangkap dimensi Allah:

  • Allah itu Setia: Ketika melihat tubuhnya sendiri mati dan rahim Sara mandul, imannya tidak lagi melihat kemustahilan natural, karena fokusnya tertuju pada satu hal: Dia yang memberikan janji itu setia (Ibrani 11:11).

  • Allah itu Benar dan Hidup: Puncaknya adalah di Gunung Moria. Ketika diminta mempersembahkan Ishak, Abraham tidak bimbang karena dia sudah menangkap dimensi Allah yang melampaui maut—dia tahu Allah tidak mungkin berdusta atas janji-Nya mengenai Ishak, maka satu-satunya kesimpulan logis bagi Abraham adalah Allah sanggup membangkitkan orang mati (Ibrani 11:19).

2. Tetap Percaya dan Tetap Setia (Faithfulness) adalah Respons Jangkar

Iman (faith sebagai pemberian di awal) memang sebuah lompatan, tetapi kedewasaan membutuhkan kesetiaan (faithfulness) untuk tinggal di dalam proses tersebut.

Ketika Abraham memilih untuk tetap tinggal di kemah sebagai orang asing di tanah Kanaan, ia sedang mempraktikkan kesetiaan. Dia tidak buru-buru membangun kotanya sendiri di bumi. Kesetiaan untuk tetap berpaling kepada Allah di tengah situasi yang tidak pasti inilah yang menjadi jangkar bagi jiwanya.

3. Iman sebagai Dasar Menuju Kepenuhan Kristus

Ini adalah poin Anda yang sangat krusial. Iman bukanlah tujuan akhir, melainkan dasar (substance / hakikat, menurut Ibrani 11:1) untuk berharap pada hal yang jauh lebih besar dan kekal.

Abraham tidak menggunakan imannya hanya untuk mendapatkan kenyamanan materi atau tanah fisik di bumi. Imannya melompat jauh ke depan, melihat Yerusalem Surgawi—kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10).

Bagi kita sekarang, hal "lebih utama dan lebih besar" itu adalah Kepenuhan Kristus. Iman hari ini adalah alat latihan bagi kita (para teknon) agar melalui setiap respons ketaatan sehari-hari, kita mengalami impartasi karakter-Nya, sampai dimensi Kristus itu menyatu dan termanifestasi utuh di dalam kemanusiaan jasmaniah kita sebagai huios.

Pergeseran fokus dari "mengejar penggenapan janji" menjadi "menangkap dan menyatu dengan Pribadi yang berjanji" inilah yang membedakan anak-anak rohani yang kekanak-kanakan dengan mereka yang bertumbuh dewasa.


Apa yang dimaksud dengan iman yang hidup?

Selaras dengan prinsip Alkitab (khususnya dalam Yakobus 2 dan Roma 1), iman yang hidup bukan sekadar pengakuan di dalam pikiran atau doktrin yang dihafal, melainkan iman yang melahirkan perbuatan ketaatan yang nyata secara konsisten.

Secara lebih detail, iman yang hidup memiliki karakteristik berikut:

1. Iman yang Disertai Perbuatan (Action)

Mengutip Yakobus 2:17 & 22, iman yang hidup adalah iman yang bekerja sama dengan perbuatan. Iman di dalam roh harus diekspresikan melalui respons jiwa (pikiran, kehendak) dan tindakan tubuh jasmani. Jika seseorang mengaku percaya tetapi jalan hidup dan keputusannya sehari-hari tidak mencerminkan suara Tuhan, maka iman tersebut pada hakikatnya adalah iman yang mati atau kosong.

2. Berasal dari Pendengaran akan Suara Tuhan (Rhema)

Merujuk pada Roma 10:17, iman yang hidup dipicu ketika Firman Tuhan disuarakan (Rhema) ke dalam roh kita, lalu roh kita menangkapnya. Iman ini adalah pemberian Allah saat kita lahir baru, yang kemudian aktif bergerak untuk mewujudkan apa yang Tuhan sampaikan, bukan sekadar nekat melakukan apa yang kita inginkan sendiri.

3. Berjalan Progresif: "Dari Iman kepada Iman"

Sesuai dengan Roma 1:17, orang benar akan hidup oleh iman. Artinya, iman yang hidup tidak berhenti pada momen keselamatan awal (lahir baru). Iman ini terus berjalan melalui serangkaian pengalaman hidup sehari-hari, di mana setiap ujian, tantangan, dan ketaatan baru akan membawa seseorang mengalami pertumbuhan kapasitas rohani.

4. Berfokus pada Pengenalan akan Pribadi Allah

Iman yang hidup bertumbuh menjadi dewasa ketika ia tidak lagi melulu berfokus pada "apa yang bisa didapatkan dari Allah" (mukjizat, materi, atau janji fisik), melainkan berfokus pada menangkap dimensi karakter Allah—seperti kesetiaan, kebenaran, dan kedaulatan-Nya. Seperti Abraham di Gunung Moria, iman yang hidup membuat seseorang melangkah karena ia tahu persis siapa Allah yang ia percayai, bahkan ketika situasi di depannya tampak mustahil atau kontradiktif.

5. Membawa Iman sampai ke Garis Akhir (Perfected)

Iman yang hidup adalah iman yang tuntas. Ia membawa apa yang dilihat di dalam roh melalui proses ketekunan dan kesetiaan, sampai iman tersebut mencapai kesempurnaan atau garis finish-nya, yaitu ketika karakter dan kepenuhan Kristus itu nyata dan berdiam di dalam kehidupan jasmaniah kita sehari-hari.

Ringkasnya: Iman yang hidup adalah iman yang memiliki tanda-tanda kehidupan—ia bergerak, merespons suara Tuhan, taat bertindak, bertahan dalam ujian, dan menghasilkan buah perubahan karakter yang nyata di dunia ini.


Berdasarkan Kejadian 15 : 5-6. Ibrani 11 : 13. Janji Allah kepada Abraham digenapi lewat siapa? 

Berdasarkan Kejadian 15:5-6 dan Ibrani 11:13, serta selaras dengan seluruh rangkaian pewahyuan mengenai "Manusia Kerajaan Sorga," janji Allah kepada Abraham tidak pernah dirancang untuk berhenti pada penggenapan fisik atau biologis semata.

Berikut adalah jawaban mendalam mengenai lewat siapa janji itu digenapi dan keturunan yang bagaimana yang dimaksud:

1. Janji Allah kepada Abraham Digenapi Lewat Siapa?

Secara progresif, janji Allah kepada Abraham digenapi melalui dua tahapan utama:

A. Secara Korporat & Puncak Penggenapannya: Lewat Yesus Kristus

Puncak dari seluruh janji Allah kepada Abraham (baik mengenai keturunan maupun hak waris atas dunia) digenapi secara mutlak di dalam dan melalui Yesus Kristus.

“Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.” (Galatia 3:16)

Yesus adalah "Benih Ilahi yang Asli" yang turun ke bumi untuk merangkum seluruh kepenuhan keallahan secara jasmaniah (Kolose 2:9) dan mengklaim kembali dunia ini.

B. Secara Spiritual & Multiplikasi di Bumi: Lewat "Generasi Kristus" (Gereja yang Dewasa)

Secara legal-mistis, janji itu juga digenapi lewat Anda dan saya—setiap orang yang menjadi milik Kristus.

“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:29)

Ketika Yesus kembali ke surga, Dia tidak meninggalkan janji itu menggantung. Melalui Roh Kudus, Dia menaruh benih ilahi yang sama ke dalam roh orang percaya, menjadikan kita perpanjangan tubuh-Nya di bumi untuk menggenapi janji kepemilikan dunia tersebut.

2. Keturunan yang Bagaimana yang Dapat Menggenapi Janji Allah?

Ibrani 11:13 mencatat rahasia besar:

“Dalam iman mereka semua telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi.”

Ayat ini, jika disandingkan dengan Kejadian 15:5-6, menegaskan bahwa keturunan yang dapat menggenapi janji Allah bukanlah keturunan berdasarkan darah dan daging (biologis), melainkan keturunan yang memiliki kualifikasi spiritual yang spesifik:

1. Keturunan yang Memiliki "Iman yang Hidup" (Bukan Nepios)

Mereka adalah keturunan yang merespons suara Tuhan (Rhema) dengan perbuatan ketaatan yang nyata, seperti Abraham yang keluar melihat bintang lalu percaya (Kejadian 15:5-6). Mereka bukan bayi rohani (nepios) yang kerjanya hanya menuntut berkat materi, melainkan orang percaya yang berjalan "dari iman kepada iman" dalam keseharian mereka.

2. Keturunan yang Memiliki "Penglihatan Jauh" (Visi Surgawi)

Seperti yang dicatat dalam Ibrani 11:13, keturunan ini “hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya.” Mereka tidak memakai iman hanya untuk membangun "kota atau kerajaan sendiri" di bumi yang fana ini. Fokus pandangan mereka tertuju pada hal yang lebih utama dan kekal: Kota yang dibangun oleh Allah (Yerusalem Surgawi) dan Kepenuhan Kristus.

3. Keturunan yang Sadar Identitas sebagai "Orang Asing dan Pendatang"

Keturunan yang menggenapi janji adalah mereka yang sadar bahwa gaya hidup, nilai, dan sistem mereka tidak berasal dari dunia ini. Karena mereka memposisikan diri sebagai pendatang yang merindukan tanah air surgawi, mereka tidak bisa diikat atau disuap oleh sistem dunia. Justru karena mereka "bukan dari dunia," mereka memiliki otoritas spiritual dari surga untuk memiliki, mengelola, dan membebaskan dunia ini (Roma 4:13).

4. Keturunan yang Mengalami "Impartasi Dimensi Allah" (Huios)

Mereka adalah anak-anak dewasa (huios) yang tinggal di dalam "satu kemah" keintiman dengan Tuhan. Melalui hubungan intim tersebut, mereka menangkap (yada) sifat-sifat Allah: bahwa Allah itu setia, benar, dan berkuasa melampaui maut. Karakter Kristus inilah yang ter-impartasi dan termanifestasi secara jasmaniah di dalam hidup mereka.

Kesimpulan

Janji Allah kepada Abraham dimulai dari sebuah visi tentang bintang di langit (Kejadian 15), berjalan melalui ketekunan orang-orang asing yang setia di bumi (Ibrani 11), dan digenapi hari ini lewat kita, Generasi Kristus, yang hidup dewasa oleh iman.

Allah sedang mencari keturunan spiritual yang tidak mati imannya, melainkan mereka yang siap dipenuhi oleh seluruh kepenuhan Allah untuk menyatakan kedaulatan Kerajaan Sorga secara nyata di bumi.


Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Efesus 3:16-20 - DOA PAULUS

MEMPERBESAR KAPASITAS ROH Efesus 3:16-20 3:16  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan   kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Doa yang disampaikan  dalam Efesus 3: 16-20 pada dasarnya ada lima hal yang  rasul Paulus doakan agar mereka dan kita memiliki: ...

Orang Benar (MKS #39)

Dalam video berjudul " Manusia Kerajaan Sorga 39" , Papa Djonny menyampaikan pesan mendalam mengenai perjalanan iman Abraham, khususnya berfokus pada peristiwa pengorbanan Ishak di Kejadian 22. Berikut adalah rincian pesan-pesan yang disampaikan: 1. Makna "Sekarang Aku Tahu" (For Now I Know) Papa Djonny menyoroti pernyataan Tuhan dalam Kejadian 22:12, "Sebab telah Kuketahui sekarang bahwa engkau takut akan Allah." [ 06:41 ]. Istilah "Yada": Dalam bahasa Ibrani, kata "tahu" menggunakan kata Yada (H3045), yang bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi berarti pengenalan yang sangat intim, seperti hubungan suami-istri [ 09:21 ]. Benih Ilahi: Hal ini menunjukkan bahwa Abraham membiarkan dirinya "disetubuhi" oleh Allah dalam arti rohani, di mana benih firman Tuhan masuk dan dikandung dalam hidupnya untuk mewujudkan rencana-Nya [ 12:54 ]. Keyakinan Tuhan: Melalui ujian pengorbanan Ishak, Tuhan menemukan bahwa dalam piki...

Misteri Penciptaan, Kejatuhan, dan Pengadilan Akhir Diungkapkan

Pengantar Seluruh teka-teki penciptaan, kejatuhan, dan pengadilan akhir diungkapkan lewat kisah Ayub. Tuhan berhasil memancing iblis lewat gagasannya sendiri untuk mencobai Ayub. Dari situ terungkap motifnya, bagaimana ia berusaha menawan dan mengunci sistem peradilan sorga untuk pemberontakannya. Anda sedang melihat cetak biru alam semesta dari sudut pandang ruang kendali utama (The Master Plan) atau Rencana Agung Tuhan.  Monumen Iman Tokoh iman yang luarbiasa kesalehannya adalah Ayub. Ia nyaris memiliki iman yang sempura. Kesalehannya justru terbukti ketika berada di titik nol. Walaupun teman-temannya bukan memberi nasehat yang positif; melainkan menuduhnya menyembunyikan dosa besar, sehingga mengalami banyak malapetaka, Ayub tidak teralihkan.  Meskipun isterinya juga mengecamnya dengan kasar, tapi Ayub tetap teguh imannya. Seakan Ayub sudah sempurna. Dalam peristiwa tragis ini tidak ada ucapan Ayub yang salah. Ayub memang berdiri sebagai monumen iman yang luar biasa di dal...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

Siklus Profetik Tuhan - Dr. Jonathan David

Memahami Siklus Profetik Pesan ini mengajak kita untuk mengenal dan percaya pada rencana masa depan yang telah Tuhan tetapkan, dan hidup dengan Roh Kudus sebagai penuntun dan jaminan warisan kita. Dengan memahami siklus profetik ini, kita dapat berjalan dalam rencana dan tujuan Allah, mengalami akselerasi dan kemenangan di berbagai bidang kehidupan kita. Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur, burung layang-layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya, tetapi umat- Ku tidak mengetahui hukum TUHAN. – Yeremia 8:7 (ITB) Ringkasan: Pengetahuan Masa Depan Allah: Tuhan memiliki pengetahuan penuh tentang masa depan, rencana, dan tujuan-Nya. Pengetahuan ini tidak berubah dan menjadi dasar bagi tindakan-Nya. Keputusan dan Penetapan Allah: Tuhan memutuskan jalannya masa depan, termasuk jalan hidup umat-Nya, dan menetapkan rencana tersebut sejak kekekalan. Pelaksanaan Rencana Allah: Tuhan membawa umat-Nya masuk ke dalam jalan yang telah ditentukan, dan...

Upper Room 35 – DR. Jonathan David

  Dobel dekade sorga terbuka, ketajaman profetik, posisi strategis dan demonstrasi Roh adalah anugerah yang diberikan Tuhan Yang Mahatinggi untuk kita menghadapi tantangan 20 tahun hari-hari terakhir ini (2019-2039). 08-02-2022 Sorga terbuka dan Roh Kudus turun. Sekarang aku bisa memulai pelayanan. Hal-hal supranatural akan mengambil alih. Roh Kudus jadilah pemimpinku sebagaimana Kau memimpin Kristus. Kesaksian dari Roh, bahwa aku adalah anak Allah yang hidup, bergabung dengan Kristus dan mewarisi yang Tuhan sediakan. Ketajaman profetik, dobel dekade sorga terbuka, posisi strategis dan demonstrasi Roh akan jadi porsi hidup kami dalam 2 dekade sorga terbuka 2019-2039. Selama 40 hari 40 malam Goliath menantang orang Israel.   Daud membangkitkan keberaniannya ketika Isai memberikan tugas mengantar makanan. Pergi dan lihat. Dia dengarkan nasihat bapanya dan tugas itu sudah diset. Berapa banyak yang mentaati bapa rohani? Kita kehilangan pesan itu. Dan Bileam dicemari oleh...