Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham. Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham. Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi. Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia.
Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:
1. Hidup dari Iman kepada Iman (Iman yang Hidup vs Iman yang Mati)
Penjelasan Detail: Merujuk pada Roma 1:17 dan Yakobus 2:22, pp Djonny menekankan bahwa orang benar harus hidup oleh iman. Iman yang sejati tidak hanya berhenti pada saat seseorang mengalami lahir baru, melainkan harus mendasari setiap perbuatan, sikap, dan jalan hidup sehari-hari.
Iman yang Mati: Jika iman tidak disertai dengan perbuatan atau respons nyata dalam keseharian, maka iman tersebut pada hakikatnya adalah mati atau kosong, dan tidak diperhitungkan oleh Allah sebagai kebenaran.
2. Lima Kali Allah Menemukan Iman pada Diri Abraham
Sebagai contoh nyata perjalanan iman, pp Djonny menguraikan 5 momen krusial di mana iman Abraham disempurnakan melalui perbuatannya:
Ketaatan untuk Keluar: Saat Abraham menaati perintah Allah untuk keluar dari negerinya, sanak saudaranya, dan rumah ayahnya menuju tanah yang belum ia ketahui.
Percaya pada Janji Keturunan: Ketika Abraham mengeluh tentang ahli warisnya, Allah menyuruhnya melihat bintang-bintang di langit. Walaupun secara fakta fisik tubuhnya sudah lemah dan rahim Sara mandul, Abraham memilih untuk percaya pada suara firman Allah.
Berdiam di Tanah Asing tanpa Membangun Kota: Abraham tinggal di kemah di tanah Kanaan seolah-olah di tanah asing, karena imannya memandang jauh ke depan menantikan kota abadi yang dibangun oleh Allah.
Keyakinan bahwa Allah Bukan Pendusta: Di tengah kondisi natural yang tidak memungkinkan untuk punya anak, iman Abraham dan Sara diperkuat karena mereka menganggap Allah yang memberikan janji itu setia dan bukan pendusta.
Mempersembahkan Ishak: Ketika dicobai untuk mempersembahkan anak tunggalnya, terjadi kontradiksi dengan janji Allah sebelumnya. Namun, pikiran Abraham diselaraskan dengan iman bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang mati.
3. Keturunan Abraham yang Spiritual (Bukan Biologis)
Penjelasan Detail: Berdasarkan Kejadian 18:19 dan Galatia 3:7, keturunan Abraham yang sejati di mata Allah bukanlah ditentukan oleh faktor darah atau biologis, melainkan secara spiritual—yaitu mereka yang hidup dari iman.
Meneruskan Dimensi Ilahi: Allah memberikan potensi dan dimensi ilahi kepada keturunan Abraham agar jalan Tuhan, hukum-hukum-Nya, serta kebenaran dan keadilan dapat terus diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.
4. Kepenuhan Allah di dalam Kristus dan Orang Percaya
Penjelasan Detail: Menghubungkan Kolose 1:19 dan Kolose 2:9, seluruh kepenuhan kealahan berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus.
Melalui doa Rasul Paulus dalam Efesus 3:18-19, tujuan akhir bagi orang percaya adalah agar mereka juga bisa bertumbuh dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah secara jasmaniah semasa hidup di dunia ini. Ketika menjadi milik Kristus, seseorang menerima benih ilahi asli untuk mewujudkan rupa Allah di bumi.
5. Tantangan Kedewasaan Rohani: Bahaya Menjadi Nepios
Penjelasan Detail: Banyak orang Kristen yang sudah lahir baru namun tetap menjadi "bayi rohani" karena tidak ada tindakan nyata yang didasarkan pada iman.
Merujuk pada Galatia 4:1, pp Djonny menggunakan istilah bahasa Yunani Nepios, yaitu seseorang yang secara umur rohani sudah lama tetapi tabiat atau karakternya masih seperti balita (tidak dewasa). Seorang nepios tidak berbeda dengan hamba dan tidak bisa menjadi pewaris janji Allah yang efektif. Fokus kasih karunia dan janji warisan dunia ini ditujukan bagi keturunan Abraham yang dewasa dan imannya terus bertumbuh.
PENDALAMAN (FAQPage)
Apa kata pp soal kepenuhan keallahan di dalam Yesus?
pp Djonny menjelaskan tentang kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dengan menekankan aspek manusiawi dan jasmaniah.
Berikut adalah poin-poin penjelasan detail dari pp Djonny:
Berdiam secara Jasmaniah: Mengutip kitab Kolose 1:19 dan secara khusus Kolose 2:9, pp Djonny menggarisbawahi kalimat bahwa dalam diri Kristuslah "berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan kealahan",.
Terwujud dalam Perbuatan Nyata: Arti "secara jasmaniah" menurut pp Djonny adalah ketika Yesus menjalani kehidupan-Nya dari hari ke hari sebagai Anak Manusia di dunia, seluruh dimensi dan potensi Allah yang utuh itu terlihat nyata melalui perbuatan fisik/jasmani-Nya yang disaksikan oleh orang-orang di sekitar-Nya. Kepenuhan itu bukan sesuatu yang abstrak, melainkan termanifestasi dalam tindakan nyata.
Model bagi Orang Percaya: Pp Djonny menegaskan bahwa kepenuhan keallahan yang ada pada Yesus ini bukan hanya untuk dikagumi, melainkan menjadi standar yang bisa dan harus dialami juga oleh orang percaya. Melalui doa Rasul Paulus di Efesus 3, orang percaya ditantang untuk bertumbuh dewasa rohani agar bisa dipenuhi oleh seluruh kepenuhan Allah secara jasmaniah semasa hidup di dunia.
Menilik ayat-ayat di kitab Efesus dan Kolose tentang kepenuhan ke-allahan atau kepenuhan Kristus; ini terkait dengan kedewasaan iman. Bagaimana proses yang harus dilalui seorang yang baru lahir baru (teknon) sampai menjadi dewasa (huios)?
Esensi khotbah pp Djonny yang menyitir kitab Efesus, Kolose, dan Galatia, perjalanan dari seorang yang baru lahir baru hingga mencapai kepenuhan Kristus adalah sebuah proses transformasi dari bayi rohani menjadi anak yang dewasa.
Dalam bahasa asli Perjanjian Baru (Yunani), terdapat tahapan pertumbuhan yang sangat spesifik dari seorang anak, mulai dari Nepios, Teknon, hingga menjadi Huios (Pewaris yang dewasa).
Berikut adalah proses rohani scannable yang harus dilalui berdasarkan kebenaran ayat-ayat tersebut:
1. Fase Lahir Baru: Dari Nepios ke Teknon
Saat pertama kali menerima Yesus, seseorang mengalami lahir baru oleh Roh (Zoe). Namun, tantangan terbesar di fase awal ini adalah bahaya menjadi Nepios—secara umur sudah lama di dalam gereja, tetapi tabiatnya masih seperti balita yang dikendalikan oleh daging dan emosi (Galatia 4:1).
Untuk beralih menjadi seorang Teknon (anak yang mulai bertumbuh dan mengenali keluarganya), proses yang harus dilalui adalah:
Menerima Benih Ilahi yang Asli: Menyadari bahwa lahir baru memberikan kita iman sebagai pemberian Allah (Efesus 2:8-9). Iman ini harus tinggal di dalam roh.
Mengonsumsi Susu Rohani yang Murni: Menyelaraskan pikiran, jiwa, dan akal budi dengan firman suara Tuhan (Rhema), bukan sekadar mengutip ayat secara kognitif.
2. Fase Pembentukan: Dari Teknon menuju Huios
Seorang Teknon memiliki status sebagai anak, tetapi belum memiliki kapasitas untuk memegang otoritas warisan. Agar bisa dideklarasikan sebagai Huios (anak dewasa yang sah dan siap memimpin), mereka harus masuk ke dalam proses "penyetubuhan rohani" dengan Firman.
Proses krusial di tahap ini meliputi:
A. Hidup dari "Iman kepada Iman" (Roma 1:17)
Iman yang ada di dalam roh tidak boleh dibiarkan pasif. Seperti Abraham, setiap kali Tuhan menyuarakan instruksi, jiwa dan tubuh harus meresponsnya dengan perbuatan nyata (Yakobus 2:22). Setiap ujian ketaatan yang berhasil dilalui akan menaikkan kapasitas iman ke level berikutnya.
B. Menanggalkan Tabiat Kanak-Kanak (Efesus 4:13-14)
"Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak (Nepios) yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran..."
Prosesnya melibatkan komunitas orang kudus (tubuh Kristus) untuk belajar membedakan mana suara Tuhan dan mana suara asing, serta tidak bimbang oleh fakta-fakta lahiriah yang kontradiktif (seperti Abraham memandang rahim Sara yang mandul).
C. Mengalami Impartasi dalam "Satu Kemah" (Ibrani 11:9)
Seperti Yakub yang tinggal di dalam kemah bersama Abraham dan Ishak, seorang Teknon harus menempatkan diri di bawah naungan sumber anugerah, mengalami mentoran spiritual, dan menangkap aliran dimensi ilahi dari generasi di atasnya untuk mempersiapkan kedewasaan.
3. Fase Huios: Manifestasi Kepenuhan Allah secara Jasmaniah
Ketika seorang percaya telah mencapai kualifikasi Huios, barulah doa Rasul Paulus di Efesus 3:19 dan Kolose 2:9 termanifestasi sepenuhnya:
Berdiam secara Jasmaniah: Kepenuhan Kristus tidak lagi menjadi teori teologis, melainkan terlihat nyata dalam karakter, perkataan, dan perbuatan sehari-hari di dunia nyata.
Mewarisi Janji (Mewarisi Dunia): Sebagai Huios, mereka tidak lagi dikuasai oleh ketakutan akan maut (Ibrani 2:14-16) dan memiliki otoritas untuk membebaskan bumi dari belenggu si jahat (Lukas 13:16). Mereka menjadi representasi utuh dari rupa Allah di bumi.
Saya melihat bahwa Abraham mengalami pendewasaan iman ketika dia akhirnya (setelah beberapa pengalaman iman) bisa melihat dan menangkap (impartasi) dimensi Allah (misalnya Allah itu setia dan benar). Jadi, maksudnya kita tidak melulu menyelaraskan diri dengan iman (sebab kemungkinan iman seseorang itu setelah dilahirkan kembali, bisa saja tidak bertumbuh, mandeg dan mati). Tapi tetap percaya dan tetap setia itu harus. Iman memang menjadi dasar untuk berharap kepada hal yang lebih utama dan lebih besar (kepenuhan Kristus).
Tepat sekali. Sudut pandang Anda menangkap esensi yang sangat dalam dari perjalanan spiritual Abraham.
Sering kali orang terjebak berpikir bahwa "hidup oleh iman" berarti terus-menerus mencoba memunculkan atau memaksakan keyakinan (effort mental) agar mukjizat terjadi. Padahal, melalui perjalanan Abraham, kita melihat bahwa iman itu sebenarnya adalah pintu masuk dan sarana untuk mengenali siapa Allah.
Berikut adalah penajaman dari apa yang Anda lihat mengenai proses pendewasaan tersebut:
1. Bukan Melulu Menyelaraskan Diri dengan "Iman", tapi dengan "Pribadi Allah"
Pada tahap-tahap awal, iman kita mungkin masih berfokus pada apa yang bisa Allah lakukan atau apa yang dijanjikan-Nya (keluar dari Ur Kasdim, meminta keturunan). Namun, pendewasaan terjadi ketika fokus kita bergeser dari janji-Nya kepada Karakter dan Esensi Pribadi-Nya.
Seperti yang Anda sebutkan, melalui serangkaian pengalaman iman (bahkan lewat kegagalan dan penantian), Abraham mengalami yada—sebuah keintiman yang membuatnya menangkap dimensi Allah:
Allah itu Setia: Ketika melihat tubuhnya sendiri mati dan rahim Sara mandul, imannya tidak lagi melihat kemustahilan natural, karena fokusnya tertuju pada satu hal: Dia yang memberikan janji itu setia (Ibrani 11:11).
Allah itu Benar dan Hidup: Puncaknya adalah di Gunung Moria. Ketika diminta mempersembahkan Ishak, Abraham tidak bimbang karena dia sudah menangkap dimensi Allah yang melampaui maut—dia tahu Allah tidak mungkin berdusta atas janji-Nya mengenai Ishak, maka satu-satunya kesimpulan logis bagi Abraham adalah Allah sanggup membangkitkan orang mati (Ibrani 11:19).
2. Tetap Percaya dan Tetap Setia (Faithfulness) adalah Respons Jangkar
Iman (faith sebagai pemberian di awal) memang sebuah lompatan, tetapi kedewasaan membutuhkan kesetiaan (faithfulness) untuk tinggal di dalam proses tersebut.
Ketika Abraham memilih untuk tetap tinggal di kemah sebagai orang asing di tanah Kanaan, ia sedang mempraktikkan kesetiaan. Dia tidak buru-buru membangun kotanya sendiri di bumi. Kesetiaan untuk tetap berpaling kepada Allah di tengah situasi yang tidak pasti inilah yang menjadi jangkar bagi jiwanya.
3. Iman sebagai Dasar Menuju Kepenuhan Kristus
Ini adalah poin Anda yang sangat krusial. Iman bukanlah tujuan akhir, melainkan dasar (substance / hakikat, menurut Ibrani 11:1) untuk berharap pada hal yang jauh lebih besar dan kekal.
Abraham tidak menggunakan imannya hanya untuk mendapatkan kenyamanan materi atau tanah fisik di bumi. Imannya melompat jauh ke depan, melihat Yerusalem Surgawi—kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10).
Bagi kita sekarang, hal "lebih utama dan lebih besar" itu adalah Kepenuhan Kristus. Iman hari ini adalah alat latihan bagi kita (para teknon) agar melalui setiap respons ketaatan sehari-hari, kita mengalami impartasi karakter-Nya, sampai dimensi Kristus itu menyatu dan termanifestasi utuh di dalam kemanusiaan jasmaniah kita sebagai huios.
Pergeseran fokus dari "mengejar penggenapan janji" menjadi "menangkap dan menyatu dengan Pribadi yang berjanji" inilah yang membedakan anak-anak rohani yang kekanak-kanakan dengan mereka yang bertumbuh dewasa.
Apa yang dimaksud dengan iman yang hidup?
Selaras dengan prinsip Alkitab (khususnya dalam Yakobus 2 dan Roma 1), iman yang hidup bukan sekadar pengakuan di dalam pikiran atau doktrin yang dihafal, melainkan iman yang melahirkan perbuatan ketaatan yang nyata secara konsisten.
Secara lebih detail, iman yang hidup memiliki karakteristik berikut:
1. Iman yang Disertai Perbuatan (Action)
Mengutip Yakobus 2:17 & 22, iman yang hidup adalah iman yang bekerja sama dengan perbuatan. Iman di dalam roh harus diekspresikan melalui respons jiwa (pikiran, kehendak) dan tindakan tubuh jasmani. Jika seseorang mengaku percaya tetapi jalan hidup dan keputusannya sehari-hari tidak mencerminkan suara Tuhan, maka iman tersebut pada hakikatnya adalah iman yang mati atau kosong.
2. Berasal dari Pendengaran akan Suara Tuhan (Rhema)
Merujuk pada Roma 10:17, iman yang hidup dipicu ketika Firman Tuhan disuarakan (Rhema) ke dalam roh kita, lalu roh kita menangkapnya. Iman ini adalah pemberian Allah saat kita lahir baru, yang kemudian aktif bergerak untuk mewujudkan apa yang Tuhan sampaikan, bukan sekadar nekat melakukan apa yang kita inginkan sendiri.
3. Berjalan Progresif: "Dari Iman kepada Iman"
Sesuai dengan Roma 1:17, orang benar akan hidup oleh iman. Artinya, iman yang hidup tidak berhenti pada momen keselamatan awal (lahir baru). Iman ini terus berjalan melalui serangkaian pengalaman hidup sehari-hari, di mana setiap ujian, tantangan, dan ketaatan baru akan membawa seseorang mengalami pertumbuhan kapasitas rohani.
4. Berfokus pada Pengenalan akan Pribadi Allah
Iman yang hidup bertumbuh menjadi dewasa ketika ia tidak lagi melulu berfokus pada "apa yang bisa didapatkan dari Allah" (mukjizat, materi, atau janji fisik), melainkan berfokus pada menangkap dimensi karakter Allah—seperti kesetiaan, kebenaran, dan kedaulatan-Nya. Seperti Abraham di Gunung Moria, iman yang hidup membuat seseorang melangkah karena ia tahu persis siapa Allah yang ia percayai, bahkan ketika situasi di depannya tampak mustahil atau kontradiktif.
5. Membawa Iman sampai ke Garis Akhir (Perfected)
Iman yang hidup adalah iman yang tuntas. Ia membawa apa yang dilihat di dalam roh melalui proses ketekunan dan kesetiaan, sampai iman tersebut mencapai kesempurnaan atau garis finish-nya, yaitu ketika karakter dan kepenuhan Kristus itu nyata dan berdiam di dalam kehidupan jasmaniah kita sehari-hari.
Ringkasnya: Iman yang hidup adalah iman yang memiliki tanda-tanda kehidupan—ia bergerak, merespons suara Tuhan, taat bertindak, bertahan dalam ujian, dan menghasilkan buah perubahan karakter yang nyata di dunia ini.
Berdasarkan Kejadian 15 : 5-6. Ibrani 11 : 13. Janji Allah kepada Abraham digenapi lewat siapa?
Berdasarkan Kejadian 15:5-6 dan Ibrani 11:13, serta selaras dengan seluruh rangkaian pewahyuan mengenai "Manusia Kerajaan Sorga," janji Allah kepada Abraham tidak pernah dirancang untuk berhenti pada penggenapan fisik atau biologis semata.
Berikut adalah jawaban mendalam mengenai lewat siapa janji itu digenapi dan keturunan yang bagaimana yang dimaksud:
1. Janji Allah kepada Abraham Digenapi Lewat Siapa?
Secara progresif, janji Allah kepada Abraham digenapi melalui dua tahapan utama:
A. Secara Korporat & Puncak Penggenapannya: Lewat Yesus Kristus
Puncak dari seluruh janji Allah kepada Abraham (baik mengenai keturunan maupun hak waris atas dunia) digenapi secara mutlak di dalam dan melalui Yesus Kristus.
“Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.” (Galatia 3:16)
Yesus adalah "Benih Ilahi yang Asli" yang turun ke bumi untuk merangkum seluruh kepenuhan keallahan secara jasmaniah (Kolose 2:9) dan mengklaim kembali dunia ini.
B. Secara Spiritual & Multiplikasi di Bumi: Lewat "Generasi Kristus" (Gereja yang Dewasa)
Secara legal-mistis, janji itu juga digenapi lewat Anda dan saya—setiap orang yang menjadi milik Kristus.
“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” (Galatia 3:29)
Ketika Yesus kembali ke surga, Dia tidak meninggalkan janji itu menggantung. Melalui Roh Kudus, Dia menaruh benih ilahi yang sama ke dalam roh orang percaya, menjadikan kita perpanjangan tubuh-Nya di bumi untuk menggenapi janji kepemilikan dunia tersebut.
2. Keturunan yang Bagaimana yang Dapat Menggenapi Janji Allah?
Ibrani 11:13 mencatat rahasia besar:
“Dalam iman mereka semua telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi.”
Ayat ini, jika disandingkan dengan Kejadian 15:5-6, menegaskan bahwa keturunan yang dapat menggenapi janji Allah bukanlah keturunan berdasarkan darah dan daging (biologis), melainkan keturunan yang memiliki kualifikasi spiritual yang spesifik:
1. Keturunan yang Memiliki "Iman yang Hidup" (Bukan Nepios)
Mereka adalah keturunan yang merespons suara Tuhan (Rhema) dengan perbuatan ketaatan yang nyata, seperti Abraham yang keluar melihat bintang lalu percaya (Kejadian 15:5-6). Mereka bukan bayi rohani (nepios) yang kerjanya hanya menuntut berkat materi, melainkan orang percaya yang berjalan "dari iman kepada iman" dalam keseharian mereka.
2. Keturunan yang Memiliki "Penglihatan Jauh" (Visi Surgawi)
Seperti yang dicatat dalam Ibrani 11:13, keturunan ini “hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya.” Mereka tidak memakai iman hanya untuk membangun "kota atau kerajaan sendiri" di bumi yang fana ini. Fokus pandangan mereka tertuju pada hal yang lebih utama dan kekal: Kota yang dibangun oleh Allah (Yerusalem Surgawi) dan Kepenuhan Kristus.
3. Keturunan yang Sadar Identitas sebagai "Orang Asing dan Pendatang"
Keturunan yang menggenapi janji adalah mereka yang sadar bahwa gaya hidup, nilai, dan sistem mereka tidak berasal dari dunia ini. Karena mereka memposisikan diri sebagai pendatang yang merindukan tanah air surgawi, mereka tidak bisa diikat atau disuap oleh sistem dunia. Justru karena mereka "bukan dari dunia," mereka memiliki otoritas spiritual dari surga untuk memiliki, mengelola, dan membebaskan dunia ini (Roma 4:13).
4. Keturunan yang Mengalami "Impartasi Dimensi Allah" (Huios)
Mereka adalah anak-anak dewasa (huios) yang tinggal di dalam "satu kemah" keintiman dengan Tuhan. Melalui hubungan intim tersebut, mereka menangkap (yada) sifat-sifat Allah: bahwa Allah itu setia, benar, dan berkuasa melampaui maut. Karakter Kristus inilah yang ter-impartasi dan termanifestasi secara jasmaniah di dalam hidup mereka.
Kesimpulan
Janji Allah kepada Abraham dimulai dari sebuah visi tentang bintang di langit (Kejadian 15), berjalan melalui ketekunan orang-orang asing yang setia di bumi (Ibrani 11), dan digenapi hari ini lewat kita, Generasi Kristus, yang hidup dewasa oleh iman.
Allah sedang mencari keturunan spiritual yang tidak mati imannya, melainkan mereka yang siap dipenuhi oleh seluruh kepenuhan Allah untuk menyatakan kedaulatan Kerajaan Sorga secara nyata di bumi.