Langsung ke konten utama

Percepatan Ilahi dan Kepribadian Manusia Kerajaan (MKS #45)

Khotbah ini membahas Kejadian 17 sebagai titik percepatan ilahi dalam kehidupan Abraham dan keturunannya. Tuhan memperkenalkan diri sebagai Allah Yang Mahakuasa untuk menegaskan bahwa Dialah yang memberikan daya kehidupan, bukan upaya manusia seperti yang dilakukan Abraham melalui Ismael. Pembicara menekankan pentingnya hidup tidak bercela, yang diartikan sebagai penyelarasan kepribadian manusia dengan kebenaran ilahi melalui peran Roh Kudus. Abraham dipanggil untuk melepaskan beban masa lalu, termasuk pengaruh Terah dan Lot, agar ia dapat menerima pemulihan potensi untuk menentukan jati diri keturunannya. Melalui proses penyunatan spiritual, setiap individu diajak untuk menanggalkan kehendak bebas yang egois demi menggenapi rencana agung Tuhan di bumi. Pesan ini menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham berarti mengalami transformasi karakter yang mendalam untuk memancarkan kemuliaan Kristus.

Ibadah JMD Bandung 05 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 45

Berikut adalah catatan mengenai Percepatan Ilahi dan Kepribadian Manusia Kerajaan berdasarkan pembahasan Kejadian 17:

1. Kejadian 17 sebagai Titik Percepatan (Acceleration)

Kejadian 17 merupakan momen percepatan yang dilakukan Allah dalam hidup Abraham saat ia berusia 99 tahun. Pada titik ini, Allah menyatakan diri-Nya sebagai El Shaddai (Allah Yang Maha Kuasa), yang juga diartikan sebagai "Allah Payudara Ibu". Istilah ini bermakna bahwa Allah memberikan nutrisi, kekuatan, dan sifat-sifat hidup-Nya ke dalam manusia agar mereka diperanakkan oleh Allah secara rohani,.

2. Hidup Tidak Bercela di Hadapan Allah

Allah memerintahkan Abraham untuk hidup di hadapan-Nya dengan tidak bercela.

  • Definisi Cela: Cela bukan sekadar perilaku buruk, melainkan kondisi hidup yang tidak berkesesuaian dengan rencana agung Allah.
  • Penyelidikan Hati: Tuhan terus menyelidiki hati—termasuk pikiran, perasaan, dan kemauan—untuk memastikan tidak ada niat atau imajinasi yang menyimpang dari kebenaran-Nya.
  • Kasus Ismail: Kelahiran Ismail (hasil gagasan Sarai) dianggap sebagai "cela" karena menggunakan upaya manusia (ikhtiar) dan kelaziman hidup masa itu untuk mewujudkan janji Allah. Hal ini menciptakan dualisme dalam hidup Abraham yang menghambat percepatan janji Tuhan.

3. Pembersihan "Bagasi" dan Masa Lalu

Untuk mencapai tujuan Tuhan, Abraham harus menyelesaikan masalah terkait Lot dan Ismail:

  • Lot sebagai Beban: Lot dianggap sebagai "kelebihan bagasi" karena ia membawa misi kakeknya, Terah, bukan panggilan murni dari Tuhan. Percepatan terjadi setelah Abraham benar-benar lepas dari pengaruh Lot dan impian masa lalu keluarganya.
  • Penolakan Terhadap Ismail: Allah menegaskan bahwa perjanjian-Nya bukan melalui Ismail, melainkan melalui Ishak yang akan dilahirkan oleh Sarah. Abraham tidak dibenarkan untuk memperanakkan Ismail sebagai ahli waris janji.

4. Perubahan Kepribadian (Identity Transformation)

Allah mengubah kepribadian Abraham agar sesuai dengan rencana agung-Nya di bumi.

  • Perubahan Nama: Nama Abram (bapa satu bangsa) diubah menjadi Abraham (bapa sejumlah besar bangsa). Sarai juga diubah menjadi Sarah.
  • Peran Roh Kudus: Kepribadian yang tepat dibangun oleh Roh Kebenaran (Aleteia) yang memimpin manusia ke dalam seluruh kebenaran,. Firman Allah harus menjadi pribadi dalam diri manusia, mengubah jiwa dan tubuh agar menjadi serupa dengan Kristus,,.

5. Pemulihan Potensi Ilahi

Kejadian 17 menunjukkan pemulihan potensi manusia yang pernah hilang pada masa Adam:

  • Kuasa Menamai: Seperti Adam memberi nama pada Hawa dan binatang, Abraham diberikan otoritas untuk memanggil Sarai dengan nama "Sarah" sebelum Allah sendiri memanggilnya demikian.
  • Transmisi Kepribadian: Melalui perkataan yang lahir dari kepribadian yang benar (aleteia), manusia kerajaan memiliki potensi untuk mentransmisikan pribadi Allah kepada orang lain dan mengubah hidup mereka.

6. Sunat sebagai Tanda Perjanjian Kekal

Allah memerintahkan sunat sebagai tanda ikat janji yang kekal dalam daging.

  • Makna Spiritual: Sunat melambangkan pemberian jati diri atau kepribadian yang sesuai dengan kehendak Tuhan,.
  • Hubungan Bapa-Anak Rohani: Sunat juga berkaitan dengan kapasitas seorang bapa rohani untuk membangun kepribadian anak-anak rohaninya (seperti Paulus menyunat Timotius melalui pengajaran dan cara hidupnya).

Kesimpulan

Percepatan ilahi mensyaratkan manusia untuk meninggalkan kebenaran diri sendiri (seperti ide Sarai) dan tunduk sepenuhnya pada kebenaran Allah. Dengan memiliki kepribadian yang telah diubah oleh Roh Kudus, keturunan Abraham menjadi penggenap rencana agung Allah di bumi.


Q&A Page

Di Kej 17 apa saja cela yang Allah temukan masih ada di dalam diri Abram dan Sarai?

Hubungan antara Abraham, Sarah, dan Ishak dalam rencana agung Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk mewujudkan percepatan ilahi dan transmisi kepribadian Kerajaan.

Berikut adalah penjelasan mengenai hubungan tersebut:

1. Perubahan Identitas Abraham dan Sarah

Dalam rencana agung-Nya, Tuhan tidak hanya menjanjikan keturunan, tetapi juga mengubah kepribadian mereka agar sesuai dengan standar Kerajaan.

  • Abraham: Namanya diubah dari Abram menjadi Abraham karena ia ditetapkan menjadi "bapa sejumlah besar bangsa". Ia harus hidup "tidak bercela" di hadapan Allah, yang berarti seluruh pikiran dan kemauannya harus selaras dengan kebenaran Allah.
  • Sarah: Namanya diubah dari Sarai menjadi Sarah. Ia ditetapkan menjadi "ibu bangsa-bangsa" dan dari rahimnyalah raja-raja akan lahir.

2. Ishak sebagai Pewaris Tunggal Perjanjian Kekal

Hubungan ini ditegaskan oleh Allah dengan membedakan antara Ishak dan Ismail. Meskipun Abraham menyayangi Ismail, Allah dengan tegas menyatakan bahwa ikat janji kekal-Nya hanya akan diadakan dengan Ishak.

  • Penolakan terhadap "Ikhtiar" Manusia: Ismail adalah hasil dari gagasan Sarai (upaya manusiawi). Namun, rencana agung Tuhan mensyaratkan keturunan yang lahir murni dari janji dan kuasa Allah melalui Sarah.
  • Keturunan yang "Diperanakkan" Allah: Ishak dipandang sebagai anak yang diperanakkan oleh Allah melalui Abraham dan Sarah. Hal ini melambangkan bagaimana Allah memberikan nutrisi dan sifat-sifat hidup-Nya ke dalam manusia melalui peran-Nya sebagai El Shaddai (Allah Payudara Ibu).

3. Pemulihan Potensi Ilahi melalui Abraham kepada Sarah

Dalam hubungan ini, Abraham diberikan otoritas untuk memulihkan potensi yang pernah hilang pada masa Adam.

  • Otoritas Menamai: Seperti Adam menamai binatang-binatang, Allah memerintahkan Abraham untuk memanggil Sarai dengan nama baru, yaitu Sarah.
  • Transmisi Kepribadian: Melalui perkataan Abraham yang didasari oleh kepribadian yang sudah benar (aleteia), ia membangun dimensi ilahi dalam diri Sarah sesuai keinginan Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan suami-istri dalam rencana Tuhan berfungsi untuk saling mentransmisikan pribadi Allah.

4. Sunat sebagai Tanda Keanggotaan Keluarga Kerajaan

Allah memerintahkan sunat bagi Abraham, Ishak (pada usia 8 hari), dan seluruh laki-laki dalam rumah mereka sebagai tanda ikat janji yang kekal.

  • Sunat ini melambangkan pemberian jati diri atau kepribadian yang Tuhan inginkan bagi keturunan Abraham secara turun-temurun.
  • Ishak menjadi model pertama anak yang menerima tanda perjanjian ini sejak dini, menunjukkan bahwa rencana agung Tuhan harus diteruskan melalui pembangunan kepribadian yang sesuai dengan firman-Nya.

Secara keseluruhan, Abraham dan Sarah dipersatukan dalam perubahan identitas yang radikal untuk melahirkan Ishak, bukan sekadar sebagai anak biologis, melainkan sebagai pembawa estafet rencana agung Allah yang akan melahirkan raja-raja dan bangsa-bangsa yang berjalan dalam kebenaran.


Walaupun Abram dan Sarai sudah taat mengikuti panggilan Tuhan dalam Kejadian 12:1 untuk keluar dari Ur Kasdim, Allah mengetahui ada cela di dalam hati mereka: mereka belum sepenuhnya lepas dari keterikatan asal, masih ada keraguan dan ketidaksabaran, serta cara yang mereka ambil untuk "mewujudkan" janji Tuhan ternyata masih sama dengan pola kebiasaan dan cara mendidik yang diajarkan oleh bapanya di Ur Kasdim.

-Apa saja cela yang Allah lihat di dalam hati mereka?

-Mengapa cara yang diambil itu masih sama dengan cara bapanya mendidik Abram?

-Dan apa dampak dari langkah tersebut? Jelaskanlah!

Berikut adalah penjelasan mengenai cela yang ditemukan Allah dalam diri Abram dan Sarai, alasan di balik tindakan mereka, serta dampak yang ditimbulkannya:

1. Cela yang Dilihat Allah dalam Hati Mereka

Meskipun telah mengikuti panggilan Tuhan, Allah masih mendapati kondisi hidup Abram yang belum sepenuhnya berpadanan dengan rencana-Nya pada usia 99 tahun. Cela tersebut meliputi:

  • Kelebihan "Bagasi" (Lot): Abram belum sepenuhnya bersih dari rumah ayahnya karena ia membawa Lot. Lot dianggap sebagai "kelebihan bagasi" yang membawa misi dan impian kakeknya (Terah), bukan murni panggilan Allah.
  • Dualisme dan Keterikatan Masa Lalu: Masih ada pengaruh dari masa lalu (Terah) yang tersisa, sehingga terjadi dualisme dalam hidup Abram yang menghambat kepatuhan total kepada Tuhan.
  • Penggunaan "Ikhtiar" Manusia: Adanya cela berupa penggunaan ikhtiar atau upaya manusia untuk mewujudkan janji Tuhan, yang dimanifestasikan melalui hubungan Abram dengan Hagar.
  • Pergeseran Hati: Selama 13 tahun setelah kelahiran Ismail, Allah melihat adanya pergeseran pikiran, perasaan, dan kemauan dalam diri Abram akibat ide Sarai, yang membuat fokusnya tidak lagi sepenuhnya tertuju pada janji murni Allah.

2. Mengapa Cara Tersebut Sama dengan Cara Bapanya (Terah)?

Cara yang diambil oleh Abram dan Sarai masih mencerminkan pola pendidikan Terah karena:

  • Pola Keberhasilan Manusiawi: Terah membawa keturunannya keluar dari Ur Kasdim dengan inisiatif sendiri agar mereka berhasil di negeri baru, namun tanpa menerima panggilan atau petunjuk Tuhan.
  • Mengikuti "Kelaziman Hidup": Saat Sarai menyodorkan Hagar, ia menggunakan "kelaziman hidup" atau standar legal pada masa itu untuk mendapatkan anak. Ini menunjukkan bahwa mereka masih bersandar pada akal budi dan budaya duniawi (seperti yang diajarkan di Ur Kasdim) daripada pada kebenaran Allah yang murni (Aleteia).
  • Membangun Kebenaran Sendiri: Mereka berusaha mendirikan "kebenaran menurut diri sendiri" (seperti ambisi Terah) karena kurangnya pengertian yang benar akan cara kerja Allah, sehingga mereka tidak sepenuhnya takluk pada kebenaran-Nya.

3. Dampak dari Langkah Tersebut

Langkah-langkah yang didasari oleh cara manusiawi ini membawa dampak yang signifikan:

  • Penghambat Percepatan Janji: Janji Tuhan menjadi tersendat-sendat dan terkendala karena kondisi Abram yang masih bercela di hadapan-Nya.
  • Lahirnya Ismail yang Bukan Anak Perjanjian: Dampak nyata dari ikhtiar ini adalah lahirnya Ismail. Allah dengan tegas menyatakan bahwa Ismail bukanlah pewaris perjanjian kekal, melainkan Ishak-lah yang akan lahir dari Sarah.
  • Munculnya Musuh Bangsa Tuhan: Keturunan yang lahir dari pola pikir duniawi (seperti Lot) akhirnya melahirkan bangsa Amon dan Moab, yang dalam sejarah Alkitab menjadi musuh bangsa umat Tuhan.
  • Perlunya Perubahan Kepribadian yang Radikal: Karena Sarai (nama lama) merupakan bentukan campuran antara Abraham dan Terah, Allah harus mengubah identitas mereka secara total menjadi Abraham dan Sarah agar mereka memiliki kepribadian yang sesuai dengan rencana agung Tuhan.
  • Pemutusan Hubungan dengan Masa Lalu: Allah harus menunggu hingga Lot (simbol impian Terah) benar-benar "lenyap" dari hati dan perjalanan hidup Abraham sebelum melakukan percepatan ilahi yang sesungguhnya.

Tindakan apa saja yang Tuhan lakukan untuk mempercepat penggenapan firman dan menutup celah di dalam diri Abraham, serta bagaimana respon ketaatan Abraham setelah mendengar firman Tuhan itu? Jelaskan berdasarkan Kejadian 17.

Berdasarkan Kejadian 17, Tuhan melakukan langkah-langkah percepatan ilahi untuk menyelaraskan hidup Abraham dengan rencana-Nya dan menghapus "cela" yang masih menghambat penggenapan janji-Nya. Berikut adalah rincian tindakan Tuhan dan respons ketaatan Abraham:

Tindakan Tuhan untuk Mempercepat Penggenapan Firman

  1. Memperkenalkan Diri sebagai El Shaddai: Allah menyatakan diri sebagai El Shaddai (Allah Yang Maha Kuasa atau "Allah Payudara Ibu") untuk menegaskan bahwa Dialah yang akan memberi nutrisi, kekuatan, dan sifat-sifat hidup-Nya ke dalam Abraham agar ia "diperanakkan" oleh Allah, bukan lagi oleh tradisi atau kekuatan manusia.
  2. Perintah Hidup Tidak Bercela: Allah menuntut Abraham hidup tidak bercela, yang berarti membersihkan "bagasi" masa lalu seperti pengaruh Lot (impian Terah) dan keterikatan pada Ismail (hasil ikhtiar manusia).
  3. Mengubah Kepribadian (Identitas): Tuhan mengubah nama Abram menjadi Abraham (Bapa sejumlah besar bangsa) dan Sarai menjadi Sarah. Perubahan nama ini adalah tindakan mengubah kepribadian mereka agar sesuai dengan rencana agung Tuhan di bumi.
  4. Menetapkan Ishak sebagai Ahli Waris Janji: Allah dengan tegas menolak usulan Abraham agar Ismail menjadi pewaris janji dan menetapkan bahwa Ishak yang akan lahir dari Sarah-lah pembawa janji kekal.
  5. Memulihkan Potensi Ilahi: Tuhan memberikan otoritas kepada Abraham untuk memanggil Sarai dengan nama baru (Sarah), sebuah tindakan yang memulihkan potensi Adamic untuk membangun dimensi ilahi dan mentransmisikan kepribadian Allah melalui perkataan.
  6. Menetapkan Tanda Sunat: Allah memerintahkan sunat sebagai tanda ikat janji yang kekal dalam daging, yang melambangkan pemberian jati diri atau kepribadian yang diinginkan Tuhan bagi keturunan Abraham secara turun-temurun.

Respon Ketaatan Abraham

Setelah mendengar firman Tuhan di Kejadian 17, Abraham menunjukkan respon ketaatan yang akurat dan segera:

  • Sujud Menyembah: Abraham merespon kehadiran dan firman Allah dengan sujud sebagai bentuk penaklukan diri sepenuhnya terhadap otoritas Tuhan.
  • Menerima Perubahan Identitas: Abraham segera mengenakan identitas barunya dan mulai memanggil istrinya dengan nama Sarah sesuai instruksi Tuhan, melepaskan pengaruh "Sarai" yang merupakan campuran masa lalu.
  • Melaksanakan Sunat Segera: Abraham tidak menunda perintah sunat; ia menyunat dirinya sendiri, Ismail anaknya, dan seluruh laki-laki dalam rumah tangganya pada hari itu juga.
  • Penyelarasan Nama Anak: Abraham taat memberikan nama Ishak kepada anak yang lahir dari Sarah, sesuai dengan instruksi yang diberikan Allah sebelumnya.
  • Melepaskan Harapan pada Ismail: Meskipun awalnya sempat meminta agar Ismail diperkenankan hidup di hadapan Allah, Abraham akhirnya tunduk pada ketetapan Allah bahwa ikat janji kekal hanya diadakan dengan Ishak.

Melalui tindakan Tuhan dan respon ketaatan Abraham ini, segala kendala dalam hidup Abraham tersingkap dan "cela" dihapuskan, sehingga rencana agung Allah dapat mengalami percepatan penggenapan.



Postingan populer dari blog ini

Membangun Sion Membentuk Ulang Kota - oleh Dr. Jonathan David

Ringkasan Khotbah: "Membangun Sion Membentuk Ulang Kota"  16082022  the Upper Room Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.  Yeremia 3:14   Khotbah ini membahas visi tentang pembangunan kembali Sion sebagai inti dari pemulihan kota dan kehidupan umat Tuhan. Dr. Jonathan David menguraikan bagaimana Tuhan sedang bergerak secara aktif untuk membangun Sion, yang bukan hanya sekadar tempat, melainkan juga sebuah dimensi rohani di mana kehadiran, kuasa, dan otoritas Allah termanifestasi. Khotbah dimulai dengan penekanan pada pentingnya mendengar suara Tuhan dan mengasihi kebenaran-Nya. Dr. Jonathan David menyatakan bahwa tanpa kedua hal ini, akan ada kekacauan. Ia juga menekankan tentang karunia-karunia Roh Kudus yang diperlukan, seperti pewahyuan, pengertian, dan hikmat  untuk dapat menge...

The Seed of God and the Character of Abraham (MKS #53)

Khotbah ini membahas proses rohani di mana Allah menabur benih ilahi ke dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan kerajaan-Nya di bumi. Melalui teladan Abraham , dijelaskan bahwa hubungan intim dengan Tuhan dimulai dari panggilan pribadi dan ikatan janji (covenant) yang teguh . Ketaatan mutlak Abraham dalam menjaga ketetapan Allah menjadi dasar bagi Tuhan untuk mempercayakan otoritas-Nya kepada generasi berikutnya. Di sini ditekankan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki kepribadian yang selaras dengan karakter Allah melalui bimbingan Roh Kudus. Akhirnya, sumber ini menantang umat untuk hidup dalam kesetiaan dan kasih yang radikal agar janji Tuhan dapat tergenapi secara turun-temurun. Ibadah JMD Bandung 6 September 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 53 Catatan Khotbah: Manusia Kerajaan Sorga (Bagian 53) Pelayanan: GPK JMD Bandung, Ps. Djonny Tambunan Tanggal: 6 September 2026 1. Landasan Rencana Agung Allah & Benih Sejati Keturunan Raja-Raja: Allah menetapk...

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib , memiliki karakter yang baik , serta dipenuhi oleh Roh Kudus . Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik . Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan . 14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3) Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3) Sesi: The Upper Room 240 (1...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

ROMA 15:1-7

MENANGGUNG KELEMAHAN ORANG YANG TIDAK KUAT 15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku." 15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. 15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemulia...

AGENDA MANUSIA ATAU KEHENDAK TUHAN - BAGIAN PERTAMA

TANTANGAN IMAN KITA: BEYOND THE FLESH ( COMMITED TO WALK IN GOD’S WAY) BAGIAN PERTAMA Kebanyakan kita sering meluputkan kehendak Tuhan dan menjalankan apa yang baik dan benar menurut pikiran dan hikmat manusia. Ketika hendak mengadakan misi  penginjilan kita membuat komite dan menggalang dana untuk tercapainya misi tersebut. Ketika Tuhan hendak memberikan makan kepada 5000 orang kita menggalang pengumpulan dana untuk itu. Hal ini juga terjadi pada  Filipus (Yoh 6:6). Yoh 6:6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak diperbuat-Nya. Filipus meluputkan kehendak Tuhan dengan pikirannya sendiri. Tuhan memiliki segala sumber dan caraNya sendiri. Namun kita memakai pikiran kita dengan cara kita. Kita kehilangan jalan Tuhan seluruhnya ketika mulai menggunakan asumsi-asumsi dalam mengerjakan tujuan-tujuan Tuhan, daripada secara total berkomitmen untuk melakukan kehendakNya dan berjalan di jalanNya. Jangan sampai kita m...