Artikel ini merupakan sesi pengajaran Dr. Tunde Bakare dalam acara Upper Room 236 yang membahas peran strategis umat Kristiani dalam gunung politik dan pemerintahan. Beliau menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh menjauh dari politik, melainkan harus menjadi agen perubahan yang berfungsi sebagai garam dan terang di tengah bangsa. Melalui pembedahan kitab Daniel dan Wahyu, ia menjelaskan adanya peperangan rohani serta pengaruh "angin bumi" seperti agama, militer, politik, dan ekonomi yang harus dihadapi dengan hikmat Tuhan. Sumber ini menekankan pentingnya ketepatan waktu rohani dan persiapan matang bagi mereka yang terpanggil untuk menduduki posisi kepemimpinan demi menghadirkan keadilan. Bakare juga berbagi pengalaman pribadinya dalam mendirikan sekolah pemerintahan di Nigeria untuk melatih para pemimpin masa depan yang tidak berkompromi dengan kejahatan. Secara keseluruhan, narasi ini mengajak audiens untuk berhenti menjadi penonton dan mulai aktif mempengaruhi kebijakan demi kesejahteraan masyarakat luas.
Berikut adalah catatan lengkap dari sesi pengajaran Dr. Tunde Bakare mengenai keterlibatan orang percaya dalam pemerintahan:
1. Paradoks Kerajaan Allah dalam Politik
Terdapat ketegangan teologis antara pernyataan Yesus bahwa "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini" (Yohanes 18:36) dengan nubuatan bahwa "kerajaan-kerajaan di dunia ini telah menjadi Kerajaan Allah kita dan Kristus" (Wahyu 11:15).
- Hakikat Kerajaan Yesus: Berbeda dengan kerajaan duniawi yang menindas, Kerajaan Allah adalah tentang kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17) serta keadilan (Ibrani 1:8-9).
- Keterlibatan Tokoh Alkitab: Alkitab memberikan contoh tokoh-tokoh yang terlibat dalam politik nasional tanpa tercemar, seperti Yusuf di Mesir, Daniel di Babel, Mordekhai dan Ester di Persia, serta Yusuf dari Arimatea di Yerusalem.
2. Realitas Peperangan Spiritual di Gunung Politik
Peperangan memperebutkan dominasi bumi berakar dari peperangan di surga antara Mikhael dan Iblis.
- Otoritas Orang Kudus: Tuhan memberikan otoritas untuk menginjak musuh dan perintah agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga (Matius 6:10). Jika iblis berkuasa di suatu wilayah, itu seringkali karena umat Tuhan "tertidur" saat bertugas.
- Penglihatan Daniel 7: Daniel melihat empat angin surga mengguncangkan laut (bangsa-bangsa), yang kemudian memunculkan empat binatang besar yang melambangkan kekaisaran dunia (seperti singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang menakutkan).
- Takhta Pengadilan: Di tengah kesombongan "tanduk kecil" (pemimpin duniawi), Majelis Pengadilan surgawi duduk dan menetapkan bahwa kekuasaan binatang tersebut akan dicabut dan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi (Daniel 7:10, 18, 27).
3. Strategi Musuh dan Pentingnya Waktu Spiritual
Binatang buas/sistem dunia berperang melawan orang kudus dengan strategi "menguras habis" (melelahkan) tenaga mereka (Daniel 7:25).
- Manipulasi Waktu: Musuh mencoba mengubah waktu dan hukum. Banyak kegagalan dalam bisnis atau politik terjadi karena orang percaya bertindak di luar waktu dan musim spiritual yang tepat.
- Kunci Terobosan: Akurasi waktu spiritual sangat krusial. Seseorang harus tahu kapan harus menunggu dan kapan harus bertindak dengan menantikan Tuhan.
4. Memahami "Empat Angin"
Dr. Bakare menjelaskan perbedaan antara angin yang berasal dari bumi dan dari surga:
- Empat Angin Bumi (Wahyu 7:1): Angin ini dapat merusak jika seseorang tidak "dimeteraikan" oleh Tuhan.
- Angin Agama: Pergerakan ideologi keagamaan yang ekstrem.
- Angin Militer: Penaklukan wilayah dengan kekuatan senjata.
- Angin Politik: Perubahan faksi dan kekuasaan.
- Angin Ekonomi: Perubahan kebijakan yang bisa melenyapkan kekayaan dalam sekejap.
- Empat Angin Surga (Mazmur 85): Ketika angin-angin ini bertemu, tanah/negeri akan dipulihkan.
- Belas Kasihan/Kemurahan.
- Kebenaran (Truth).
- Kebenaran (Righteousness).
- Damai Sejahtera.
5. Persiapan dan Panggilan Memerintah
Tidak semua orang dipanggil ke puncak politik, namun setiap orang kudus harus bersiap.
- Pendidikan dan Transformasi: Hanya orang yang diubahkan yang dapat mengubah bangsa. Dr. Bakare mendirikan sekolah pemerintahan yang bekerja sama dengan Universitas Lagos untuk melatih "prajurit salib masa depan" di gunung budaya.
- Tanggung Jawab sebagai Garam dan Terang: Menjauhkan diri sepenuhnya dari politik berarti membiarkan "orang-orang bodoh" membuat hukum yang mengatur hidup kita. Orang percaya harus terlibat, baik sebagai kandidat maupun pemilih yang tepat, untuk mengusir musuh dari wilayah mereka.
Kesimpulan: Orang-orang kudus dipersiapkan bukan sekadar untuk "parade fashion" rohani, melainkan untuk memerintah dan berkuasa di muka bumi dengan akurasi spiritual agar tidak dilemahkan oleh musuh.
Q&A Page
1. Bagaimana menyelaraskan politik dengan prinsip Kerajaan Allah, bukan dari dunia?
Menyelaraskan politik dengan prinsip Kerajaan Allah dilakukan dengan memahami bahwa meskipun hakikat Kerajaan Allah berbeda dari sistem dunia, orang percaya dipanggil untuk memerintah dan membawa pengaruh ilahi di bumi.
Berikut adalah langkah-langkah untuk menyelaraskannya berdasarkan sumber:
- Membedakan Nilai Kerajaan dengan Sistem Dunia: Kerajaan Allah tidak didasarkan pada penindasan atau perebutan kekuasaan, melainkan pada kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus, serta keadilan. Politik yang selaras dengan Tuhan harus mengutamakan tongkat kebenaran dan membenci kefasikan.
- Belajar dari Tokoh Alkitab (Keterlibatan tanpa Tercemar): Penyelarasan ini dimungkinkan dengan meniru tokoh-tokoh seperti Yusuf di Mesir, Daniel di Babel, Mordekhai dan Ester di Persia, serta Yusuf dari Arimatea. Mereka terlibat dalam pemerintahan nasional atau regional yang "duniawi" namun tetap memegang prinsip Tuhan tanpa tercemar oleh sistem tersebut.
- Akurasi Waktu Spiritual: Musuh seringkali mengalahkan orang kudus dengan strategi "melelahkan" mereka melalui manipulasi waktu dan hukum. Orang percaya sering gagal karena bertindak di luar waktu dan musim Tuhan. Penyelarasan politik yang benar membutuhkan penantian akan Tuhan agar bertindak dengan akurasi rohani yang tepat.
- Mengaktifkan "Empat Angin Surga": Politik yang membawa pemulihan bagi suatu negeri terjadi ketika empat prinsip rohani bertemu: Belas Kasihan (Mercy), Kebenaran (Truth), Kebenaran (Righteousness), dan Damai Sejahtera (Peace). Ketika prinsip-prinsip ini "berciuman" atau bertemu dalam suatu kebijakan, maka tanah/negeri tersebut akan memberikan hasilnya.
- Menjalankan Fungsi Garam dan Terang: Menjauhkan diri sepenuhnya dari politik bukanlah prinsip Kerajaan yang benar, karena hal itu membiarkan "orang-orang bodoh" membuat hukum yang mengatur kehidupan kita. Penyelarasan dilakukan dengan terlibat dalam memilih kandidat yang tepat atau menjadi kandidat itu sendiri, agar orang percaya tidak hanya menjadi "garam dalam wadah garam", melainkan garam yang mengasinkan dunia.
- Transformasi Diri Sebelum Transformasi Bangsa: Penting untuk diingat bahwa hanya orang-orang yang diubahkanlah yang dapat mengubahkan bangsa. Penyelarasan ini membutuhkan persiapan yang matang, termasuk pendidikan dan pelatihan di "gunung-gunung budaya" agar siap menghadapi sistem dunia yang menantang.
Dengan demikian, menyelaraskan politik berarti membawa otoritas surgawi untuk memastikan kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga, sambil tetap waspada agar tidak terpengaruh oleh "angin-angin bumi" (agama, militer, politik, dan ekonomi duniawi).
2. Bagaimana peran Yusuf dan Daniel menginspirasi keterlibatan politik orang Kristen saat ini?
Peran Yusuf dan Daniel dalam Alkitab menjadi inspirasi krusial bagi keterlibatan politik orang Kristen saat ini karena mereka membuktikan bahwa orang percaya dapat memegang posisi kekuasaan tertinggi di pemerintahan tanpa harus tercemar oleh sistem dunia,.
Berikut adalah poin-poin utama bagaimana peran mereka menginspirasi keterlibatan politik menurut sumber tersebut:
- Menyelesaikan Paradoks "Bukan dari Dunia Ini": Kehadiran Yusuf di Mesir dan Daniel di Babel membantu memecahkan misteri bagaimana seorang murid Tuhan bisa tetap setia pada prinsip "Kerajaan yang bukan dari dunia ini" sambil tetap melayani di pemerintahan nasional yang sekuler atau bahkan pagan. Mereka menjadi bukti bahwa firman Tuhan tentang pemisahan diri tidak berarti penarikan diri sepenuhnya dari tanggung jawab publik.
- Keterlibatan tanpa Kompromi: Daniel dan Yusuf menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk tetap teguh, tak berkompromi, dan tetap berhubungan dengan dunia tanpa menjadi serupa dengannya. Mereka beroperasi di bawah otoritas Tuhan di tengah-tengah kekaisaran dunia yang besar.
- Pentingnya Visi dan Panggilan Nubuatan: Keterlibatan mereka tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui mimpi dan penglihatan nubuatan. Hal ini menginspirasi orang Kristen saat ini bahwa untuk menduduki "gunung politik", seseorang membutuhkan persiapan rohani dan panggilan yang jelas dari Tuhan agar mampu menghadapi sistem yang digambarkan sebagai "binatang buas".
- Akurasi Waktu Spiritual: Daniel khususnya memberikan pelajaran tentang pentingnya memahami waktu dan musim rohani. Dalam politik, musuh sering mencoba "melelahkan" orang kudus dengan mengubah waktu dan hukum. Daniel menginspirasi orang percaya untuk memiliki ketajaman rohani agar tidak terjebak dalam manipulasi waktu musuh dan bertindak dengan akurasi ilahi,.
- Otoritas untuk Memerintah: Penglihatan Daniel menegaskan bahwa pada akhirnya, kekuasaan dan kebesaran kerajaan-kerajaan di bawah langit akan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi,. Yusuf dan Daniel adalah prototipe dari orang-orang kudus yang memerintah dan berkuasa di muka bumi dengan membawa keadilan dan kebenaran Tuhan,.
Secara keseluruhan, Yusuf dan Daniel menginspirasi orang Kristen untuk tidak hanya menjadi "garam dalam wadah garam", tetapi berani terjun sebagai agen transformasi yang mengubah bangsa melalui keterlibatan aktif dalam pemerintahan.
3. Bagaimana cara memulai keterlibatan politik sebagai garam dan terang dunia?
Memulai keterlibatan politik sebagai garam dan terang dunia berarti memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi jika orang percaya hanya berdiam diri di dalam kelompoknya sendiri (menjadi "garam dalam wadah garam"). Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk memulainya:
- Lakukan Transformasi Diri Terlebih Dahulu: Fondasi utama dari keterlibatan politik adalah perubahan karakter pribadi, karena "hanya orang-orang yang diubahkanlah yang dapat mengubahkan bangsa". Tanpa transformasi internal, upaya mempengaruhi bangsa hanya akan menjadi usaha yang sia-sia.
- Temukan Panggilan dan Visi yang Jelas: Tidak semua orang dipanggil untuk berada di puncak kekuasaan politik. Sebelum terjun, Anda harus memiliki panggilan, firman nubuatan, atau visi (seperti yang dialami Yusuf) yang akan menguatkan Anda saat menghadapi tantangan atau "binatang buas" di gunung politik tersebut.
- Persiapkan Diri melalui Pendidikan dan Pelatihan: Keterlibatan yang efektif memerlukan kompetensi. Anda dapat membekali diri melalui pendidikan khusus seperti sekolah pemerintahan untuk menjadi "prajurit salib" yang siap ditempatkan secara strategis di berbagai gunung budaya.
- Aktif dalam Partisipasi Publik: Anda tidak harus selalu mencalonkan diri untuk memulai. Keterlibatan bisa dilakukan dengan memilih kandidat yang tepat. Jika orang percaya tidak berpartisipasi sama sekali, maka mereka harus bersiap untuk "menanggung aturan orang-orang bodoh" melalui hukum-hukum yang dibuat tanpa nilai-nilai kebenaran.
- Gunakan Otoritas Rohani dan Doa: Jangan membiarkan iblis menguasai wilayah atau "domain" Anda karena Anda "tertidur" saat bertugas. Orang percaya memiliki otoritas untuk memastikan kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga melalui keterlibatan aktif dan doa peperangan rohani.
- Berjalan dalam Akurasi Waktu Tuhan: Kunci sukses dalam politik bagi orang percaya adalah ketepatan waktu spiritual. Anda harus belajar menantikan Tuhan untuk mengetahui kapan saatnya bertindak dan kapan saatnya menunggu, agar tidak mudah dilemahkan atau dimanipulasi oleh sistem dunia.
- Pastikan Diri "Dimeteraikan": Sebelum menghadapi "angin bumi" (gejolak agama, militer, politik, dan ekonomi), pastikan hidup Anda telah dimeteraikan oleh Tuhan. Hal ini penting agar perubahan kebijakan atau guncangan sistemik di dunia politik tidak dapat menghancurkan atau menghentikan pengaruh Anda.
Secara esensial, peran sebagai garam berarti Anda harus masuk dan menyatu dalam sistem untuk membawa pengaruh (meskipun seringkali tidak terlihat saat bekerja), yang kemudian akan memunculkan Anda sebagai terang yang memberikan arah bagi bangsa.
4. Bagaimana cara menentukan waktu spiritual yang akurat saat bertindak?
Menentukan waktu spiritual yang akurat adalah kunci untuk mendapatkan terobosan dan menghindari manipulasi musuh yang mencoba "melelahkan" orang-orang kudus.
Berikut adalah cara-cara menentukan dan menjaga akurasi waktu spiritual saat bertindak:
- Menantikan Tuhan: Satu-satunya cara untuk mengetahui kapan waktu dan musim Tuhan telah tiba adalah dengan menantikan Tuhan (berdasarkan Yesaya 40:31). Tanpa menantikan-Nya, seseorang berisiko bertindak berdasarkan saran musuh yang seringkali menyodorkan waktu yang salah.
- Memahami Pola Musuh dalam Memanipulasi Waktu: Orang percaya harus waspada karena musuh (sistem dunia/binatang buas) memiliki strategi untuk mengubah waktu dan hukum. Kegagalan sering terjadi ketika orang kudus terpancing untuk:
- Mendahului Tuhan saat seharusnya mereka menunggu.
- Tertinggal saat seharusnya mereka menempel atau bergerak maju bersama Tuhan.
- Belajar dari Kepekaan Yesus: Keakuratan waktu spiritual dicontohkan oleh Yesus yang memiliki ketajaman untuk membedakan musim rohani. Beliau tahu kapan saatnya berkata, "Telah tiba saatnya. Muliakanlah Anak-Mu" (Yohanes 17:1), namun Ia juga mengenali kapan saatnya "kuasa kegelapan" sedang bekerja (Lukas 22:53).
- Membangun Kepekaan terhadap "Angin Surga": Akurasi bertindak juga berkaitan dengan kapan keempat angin surga (Belas Kasihan, Kebenaran/Truth, Kebenaran/Righteousness, dan Damai Sejahtera) dilepaskan di atas suatu bangsa atau wilayah. Mengenali pergerakan angin ini membantu orang percaya mengetahui kapan tanah atau negeri tersebut siap untuk memberikan hasilnya.
- Memperhatikan Kedisiplinan Rohani: Keakuratan waktu ini tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui persiapan agar tidak menjadi lelah atau lesu. Dengan memperhatikan waktu rohani yang akurat, orang percaya dapat memerintah dan berkuasa di muka bumi dengan efektif.
Dalam konteks praktis seperti bisnis atau politik, mengabaikan waktu spiritual dan memasuki musim yang salah dapat menyebabkan segala sesuatu yang telah diusahakan hilang begitu saja. Oleh karena itu, akurasi waktu dianggap sebagai senjata peperangan yang sangat penting.
5. Bagaimana strategi musuh memanipulasi waktu dan hukum saat ini?
Strategi musuh dalam memanipulasi waktu dan hukum digambarkan melalui penglihatan Daniel mengenai "tanduk kecil" atau sistem dunia yang menyerupai binatang buas. Berikut adalah cara musuh menjalankan strategi tersebut saat ini:
- Mengubah Waktu dan Hukum secara Sengaja: Musuh memiliki maksud spesifik untuk mengubah waktu dan hukum yang telah ditetapkan Tuhan guna menyesatkan orang-orang kudus. Hal ini menciptakan tatanan yang bertentangan dengan kebenaran ilahi.
- Strategi "Melelahkan" (Wearing Out) Orang Kudus: Alkitab (Versi KJV) mencatat bahwa musuh akan melelahkan atau menguras habis tenaga para orang kudus milik Yang Mahatinggi. Kelelahan ini merupakan hasil dari peperangan yang terus-menerus terhadap pikiran dan kekuatan spiritual mereka.
- Manipulasi Melalui Akurasi yang Salah: Musuh menang melawan orang kudus bukan selalu karena kekuatan fisik, melainkan karena orang percaya seringkali bertindak di luar waktu dan musim yang tepat. Musuh menggunakan taktik manipulasi berikut:
- Mendahului Tuhan: Musuh menyarankan waktu yang salah dan mendorong orang percaya untuk bergerak maju saat mereka seharusnya menantikan Tuhan.
- Tertinggal dari Tuhan: Musuh membuat orang percaya lambat dalam merespons sehingga mereka tertinggal saat seharusnya mereka sudah bergerak mengikuti instruksi Tuhan.
- Menggunakan Perkataan Sombong dan Hujat: Musuh mengucapkan kata-kata yang menentang dan menghujat Yang Mahatinggi untuk menciptakan persepsi bahwa otoritas duniawi berada di atas otoritas surgawi. Hal ini bertujuan untuk mengintimidasi dan melemahkan keyakinan orang percaya.
- Memanfaatkan Ketidaksabaran dalam Bisnis dan Politik: Banyak orang gagal karena mereka tidak memiliki ketajaman rohani untuk mengenali musim mereka. Tanpa menantikan Tuhan, orang percaya menjadi rentan terhadap "umpan" musuh yang membuat segala usaha yang telah dibangun hilang begitu saja dalam musim yang salah.
Secara keseluruhan, kunci musuh untuk mengalahkan orang percaya di gunung politik adalah dengan merusak akurasi spiritual mereka, sehingga mereka kehilangan senjata peperangan yang paling krusial, yaitu ketepatan waktu ilahi.
6. Apa tanda-tanda seseorang telah dimeteraikan oleh Tuhan?
Berdasarkan sumber yang tersedia, tanda-tanda atau karakteristik seseorang yang telah dimeteraikan oleh Tuhan berkaitan dengan perlindungan ilahi dan ketahanan terhadap guncangan duniawi.
Berikut adalah tanda-tanda dan dampak dari pemeteraian tersebut:
- Kebal terhadap "Empat Angin Bumi": Seseorang yang dimeteraikan tidak akan terpengaruh atau hancur oleh gejolak yang ditimbulkan oleh empat angin bumi, yaitu angin agama, angin militer, angin politik, dan angin ekonomi,. Meskipun kebijakan ekonomi berubah atau terjadi guncangan politik, mereka tetap teguh dan tidak "terbawa angin" tersebut.
- Perlindungan dari Bencana dan Kejahatan: Mereka yang dimeteraikan mendapatkan jaminan perlindungan dari Tuhan atas bencana, kemalangan, dan segala jenis kejahatan yang terjadi di bumi. Malaikat diperintahkan untuk menahan kerusakan pada bumi dan laut sampai hamba-hamba Allah tersebut dimeteraikan pada dahi mereka,.
- Memiliki Strategi Ilahi untuk Mengalahkan Musuh: Tuhan menjanjikan bahwa orang yang dimeteraikan akan diberikan pengungkapan strategi tentang cara mengalahkan musuh dan mengusirnya dari wilayah atau domain mereka.
- Identitas sebagai Hamba Allah yang Terjaga: Pemeteraian ini secara khusus dilakukan kepada "hamba-hamba Allah". Hal ini menandakan kepemilikan dan otoritas Tuhan atas hidup mereka, sehingga meskipun "celaka" datang ke dunia, mereka tetap aman dalam kendali Bapa,.
- Ketahanan di Tengah Musim yang Sulit: Sementara orang lain mungkin kehilangan segalanya akibat perubahan kebijakan pemerintah atau krisis, orang yang dimeteraikan tetap bertahan karena hidup mereka tidak bergantung pada sistem dunia semata,.
Secara ringkas, tanda utama seseorang telah dimeteraikan bukan selalu terlihat secara fisik, melainkan terlihat dari keteguhan dan perlindungan supranatural yang mereka alami saat dunia di sekitarnya sedang mengalami guncangan atau kerusakan,.