Langsung ke konten utama

Umat Kristiani dalam Gunung Politik dan Pemerintahan (UR #236)


Artikel ini merupakan sesi pengajaran Dr. Tunde Bakare dalam acara Upper Room 236 yang membahas peran strategis umat Kristiani dalam gunung politik dan pemerintahan. Beliau menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh menjauh dari politik, melainkan harus menjadi agen perubahan yang berfungsi sebagai garam dan terang di tengah bangsa. Melalui pembedahan kitab Daniel dan Wahyu, ia menjelaskan adanya peperangan rohani serta pengaruh "angin bumi" seperti agama, militer, politik, dan ekonomi yang harus dihadapi dengan hikmat Tuhan. Sumber ini menekankan pentingnya ketepatan waktu rohani dan persiapan matang bagi mereka yang terpanggil untuk menduduki posisi kepemimpinan demi menghadirkan keadilan. Bakare juga berbagi pengalaman pribadinya dalam mendirikan sekolah pemerintahan di Nigeria untuk melatih para pemimpin masa depan yang tidak berkompromi dengan kejahatan. Secara keseluruhan, narasi ini mengajak audiens untuk berhenti menjadi penonton dan mulai aktif mempengaruhi kebijakan demi kesejahteraan masyarakat luas.

Gunung Politik Pemerintahan (Part 1), Dr. Tunde Bakare

Berikut adalah catatan lengkap dari sesi pengajaran Dr. Tunde Bakare mengenai keterlibatan orang percaya dalam pemerintahan:

1. Paradoks Kerajaan Allah dalam Politik

Terdapat ketegangan teologis antara pernyataan Yesus bahwa "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini" (Yohanes 18:36) dengan nubuatan bahwa "kerajaan-kerajaan di dunia ini telah menjadi Kerajaan Allah kita dan Kristus" (Wahyu 11:15).

  • Hakikat Kerajaan Yesus: Berbeda dengan kerajaan duniawi yang menindas, Kerajaan Allah adalah tentang kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17) serta keadilan (Ibrani 1:8-9).
  • Keterlibatan Tokoh Alkitab: Alkitab memberikan contoh tokoh-tokoh yang terlibat dalam politik nasional tanpa tercemar, seperti Yusuf di Mesir, Daniel di Babel, Mordekhai dan Ester di Persia, serta Yusuf dari Arimatea di Yerusalem.

2. Realitas Peperangan Spiritual di Gunung Politik

Peperangan memperebutkan dominasi bumi berakar dari peperangan di surga antara Mikhael dan Iblis.

  • Otoritas Orang Kudus: Tuhan memberikan otoritas untuk menginjak musuh dan perintah agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga (Matius 6:10). Jika iblis berkuasa di suatu wilayah, itu seringkali karena umat Tuhan "tertidur" saat bertugas.
  • Penglihatan Daniel 7: Daniel melihat empat angin surga mengguncangkan laut (bangsa-bangsa), yang kemudian memunculkan empat binatang besar yang melambangkan kekaisaran dunia (seperti singa, beruang, macan tutul, dan binatang yang menakutkan).
  • Takhta Pengadilan: Di tengah kesombongan "tanduk kecil" (pemimpin duniawi), Majelis Pengadilan surgawi duduk dan menetapkan bahwa kekuasaan binatang tersebut akan dicabut dan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi (Daniel 7:10, 18, 27).

3. Strategi Musuh dan Pentingnya Waktu Spiritual

Binatang buas/sistem dunia berperang melawan orang kudus dengan strategi "menguras habis" (melelahkan) tenaga mereka (Daniel 7:25).

  • Manipulasi Waktu: Musuh mencoba mengubah waktu dan hukum. Banyak kegagalan dalam bisnis atau politik terjadi karena orang percaya bertindak di luar waktu dan musim spiritual yang tepat.
  • Kunci Terobosan: Akurasi waktu spiritual sangat krusial. Seseorang harus tahu kapan harus menunggu dan kapan harus bertindak dengan menantikan Tuhan.

4. Memahami "Empat Angin"

Dr. Bakare menjelaskan perbedaan antara angin yang berasal dari bumi dan dari surga:

  • Empat Angin Bumi (Wahyu 7:1): Angin ini dapat merusak jika seseorang tidak "dimeteraikan" oleh Tuhan.
    1. Angin Agama: Pergerakan ideologi keagamaan yang ekstrem.
    2. Angin Militer: Penaklukan wilayah dengan kekuatan senjata.
    3. Angin Politik: Perubahan faksi dan kekuasaan.
    4. Angin Ekonomi: Perubahan kebijakan yang bisa melenyapkan kekayaan dalam sekejap.
  • Empat Angin Surga (Mazmur 85): Ketika angin-angin ini bertemu, tanah/negeri akan dipulihkan.
    1. Belas Kasihan/Kemurahan.
    2. Kebenaran (Truth).
    3. Kebenaran (Righteousness).
    4. Damai Sejahtera.

5. Persiapan dan Panggilan Memerintah

Tidak semua orang dipanggil ke puncak politik, namun setiap orang kudus harus bersiap.

  • Pendidikan dan Transformasi: Hanya orang yang diubahkan yang dapat mengubah bangsa. Dr. Bakare mendirikan sekolah pemerintahan yang bekerja sama dengan Universitas Lagos untuk melatih "prajurit salib masa depan" di gunung budaya.
  • Tanggung Jawab sebagai Garam dan Terang: Menjauhkan diri sepenuhnya dari politik berarti membiarkan "orang-orang bodoh" membuat hukum yang mengatur hidup kita. Orang percaya harus terlibat, baik sebagai kandidat maupun pemilih yang tepat, untuk mengusir musuh dari wilayah mereka.

Kesimpulan: Orang-orang kudus dipersiapkan bukan sekadar untuk "parade fashion" rohani, melainkan untuk memerintah dan berkuasa di muka bumi dengan akurasi spiritual agar tidak dilemahkan oleh musuh.


Q&A Page

1. Bagaimana menyelaraskan politik dengan prinsip Kerajaan Allah, bukan dari dunia?

Menyelaraskan politik dengan prinsip Kerajaan Allah dilakukan dengan memahami bahwa meskipun hakikat Kerajaan Allah berbeda dari sistem dunia, orang percaya dipanggil untuk memerintah dan membawa pengaruh ilahi di bumi.

Berikut adalah langkah-langkah untuk menyelaraskannya berdasarkan sumber:

  • Membedakan Nilai Kerajaan dengan Sistem Dunia: Kerajaan Allah tidak didasarkan pada penindasan atau perebutan kekuasaan, melainkan pada kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus, serta keadilan. Politik yang selaras dengan Tuhan harus mengutamakan tongkat kebenaran dan membenci kefasikan.
  • Belajar dari Tokoh Alkitab (Keterlibatan tanpa Tercemar): Penyelarasan ini dimungkinkan dengan meniru tokoh-tokoh seperti Yusuf di Mesir, Daniel di Babel, Mordekhai dan Ester di Persia, serta Yusuf dari Arimatea. Mereka terlibat dalam pemerintahan nasional atau regional yang "duniawi" namun tetap memegang prinsip Tuhan tanpa tercemar oleh sistem tersebut.
  • Akurasi Waktu Spiritual: Musuh seringkali mengalahkan orang kudus dengan strategi "melelahkan" mereka melalui manipulasi waktu dan hukum. Orang percaya sering gagal karena bertindak di luar waktu dan musim Tuhan. Penyelarasan politik yang benar membutuhkan penantian akan Tuhan agar bertindak dengan akurasi rohani yang tepat.
  • Mengaktifkan "Empat Angin Surga": Politik yang membawa pemulihan bagi suatu negeri terjadi ketika empat prinsip rohani bertemu: Belas Kasihan (Mercy), Kebenaran (Truth), Kebenaran (Righteousness), dan Damai Sejahtera (Peace). Ketika prinsip-prinsip ini "berciuman" atau bertemu dalam suatu kebijakan, maka tanah/negeri tersebut akan memberikan hasilnya.
  • Menjalankan Fungsi Garam dan Terang: Menjauhkan diri sepenuhnya dari politik bukanlah prinsip Kerajaan yang benar, karena hal itu membiarkan "orang-orang bodoh" membuat hukum yang mengatur kehidupan kita. Penyelarasan dilakukan dengan terlibat dalam memilih kandidat yang tepat atau menjadi kandidat itu sendiri, agar orang percaya tidak hanya menjadi "garam dalam wadah garam", melainkan garam yang mengasinkan dunia.
  • Transformasi Diri Sebelum Transformasi Bangsa: Penting untuk diingat bahwa hanya orang-orang yang diubahkanlah yang dapat mengubahkan bangsa. Penyelarasan ini membutuhkan persiapan yang matang, termasuk pendidikan dan pelatihan di "gunung-gunung budaya" agar siap menghadapi sistem dunia yang menantang.

Dengan demikian, menyelaraskan politik berarti membawa otoritas surgawi untuk memastikan kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga, sambil tetap waspada agar tidak terpengaruh oleh "angin-angin bumi" (agama, militer, politik, dan ekonomi duniawi).

2. Bagaimana peran Yusuf dan Daniel menginspirasi keterlibatan politik orang Kristen saat ini?

Peran Yusuf dan Daniel dalam Alkitab menjadi inspirasi krusial bagi keterlibatan politik orang Kristen saat ini karena mereka membuktikan bahwa orang percaya dapat memegang posisi kekuasaan tertinggi di pemerintahan tanpa harus tercemar oleh sistem dunia,.

Berikut adalah poin-poin utama bagaimana peran mereka menginspirasi keterlibatan politik menurut sumber tersebut:

  • Menyelesaikan Paradoks "Bukan dari Dunia Ini": Kehadiran Yusuf di Mesir dan Daniel di Babel membantu memecahkan misteri bagaimana seorang murid Tuhan bisa tetap setia pada prinsip "Kerajaan yang bukan dari dunia ini" sambil tetap melayani di pemerintahan nasional yang sekuler atau bahkan pagan. Mereka menjadi bukti bahwa firman Tuhan tentang pemisahan diri tidak berarti penarikan diri sepenuhnya dari tanggung jawab publik.
  • Keterlibatan tanpa Kompromi: Daniel dan Yusuf menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk tetap teguh, tak berkompromi, dan tetap berhubungan dengan dunia tanpa menjadi serupa dengannya. Mereka beroperasi di bawah otoritas Tuhan di tengah-tengah kekaisaran dunia yang besar.
  • Pentingnya Visi dan Panggilan Nubuatan: Keterlibatan mereka tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui mimpi dan penglihatan nubuatan. Hal ini menginspirasi orang Kristen saat ini bahwa untuk menduduki "gunung politik", seseorang membutuhkan persiapan rohani dan panggilan yang jelas dari Tuhan agar mampu menghadapi sistem yang digambarkan sebagai "binatang buas".
  • Akurasi Waktu Spiritual: Daniel khususnya memberikan pelajaran tentang pentingnya memahami waktu dan musim rohani. Dalam politik, musuh sering mencoba "melelahkan" orang kudus dengan mengubah waktu dan hukum. Daniel menginspirasi orang percaya untuk memiliki ketajaman rohani agar tidak terjebak dalam manipulasi waktu musuh dan bertindak dengan akurasi ilahi,.
  • Otoritas untuk Memerintah: Penglihatan Daniel menegaskan bahwa pada akhirnya, kekuasaan dan kebesaran kerajaan-kerajaan di bawah langit akan diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi,. Yusuf dan Daniel adalah prototipe dari orang-orang kudus yang memerintah dan berkuasa di muka bumi dengan membawa keadilan dan kebenaran Tuhan,.

Secara keseluruhan, Yusuf dan Daniel menginspirasi orang Kristen untuk tidak hanya menjadi "garam dalam wadah garam", tetapi berani terjun sebagai agen transformasi yang mengubah bangsa melalui keterlibatan aktif dalam pemerintahan.

3. Bagaimana cara memulai keterlibatan politik sebagai garam dan terang dunia?

Memulai keterlibatan politik sebagai garam dan terang dunia berarti memahami bahwa perubahan tidak akan terjadi jika orang percaya hanya berdiam diri di dalam kelompoknya sendiri (menjadi "garam dalam wadah garam"). Berikut adalah langkah-langkah praktis untuk memulainya:

  • Lakukan Transformasi Diri Terlebih Dahulu: Fondasi utama dari keterlibatan politik adalah perubahan karakter pribadi, karena "hanya orang-orang yang diubahkanlah yang dapat mengubahkan bangsa". Tanpa transformasi internal, upaya mempengaruhi bangsa hanya akan menjadi usaha yang sia-sia.
  • Temukan Panggilan dan Visi yang Jelas: Tidak semua orang dipanggil untuk berada di puncak kekuasaan politik. Sebelum terjun, Anda harus memiliki panggilan, firman nubuatan, atau visi (seperti yang dialami Yusuf) yang akan menguatkan Anda saat menghadapi tantangan atau "binatang buas" di gunung politik tersebut.
  • Persiapkan Diri melalui Pendidikan dan Pelatihan: Keterlibatan yang efektif memerlukan kompetensi. Anda dapat membekali diri melalui pendidikan khusus seperti sekolah pemerintahan untuk menjadi "prajurit salib" yang siap ditempatkan secara strategis di berbagai gunung budaya.
  • Aktif dalam Partisipasi Publik: Anda tidak harus selalu mencalonkan diri untuk memulai. Keterlibatan bisa dilakukan dengan memilih kandidat yang tepat. Jika orang percaya tidak berpartisipasi sama sekali, maka mereka harus bersiap untuk "menanggung aturan orang-orang bodoh" melalui hukum-hukum yang dibuat tanpa nilai-nilai kebenaran.
  • Gunakan Otoritas Rohani dan Doa: Jangan membiarkan iblis menguasai wilayah atau "domain" Anda karena Anda "tertidur" saat bertugas. Orang percaya memiliki otoritas untuk memastikan kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga melalui keterlibatan aktif dan doa peperangan rohani.
  • Berjalan dalam Akurasi Waktu Tuhan: Kunci sukses dalam politik bagi orang percaya adalah ketepatan waktu spiritual. Anda harus belajar menantikan Tuhan untuk mengetahui kapan saatnya bertindak dan kapan saatnya menunggu, agar tidak mudah dilemahkan atau dimanipulasi oleh sistem dunia.
  • Pastikan Diri "Dimeteraikan": Sebelum menghadapi "angin bumi" (gejolak agama, militer, politik, dan ekonomi), pastikan hidup Anda telah dimeteraikan oleh Tuhan. Hal ini penting agar perubahan kebijakan atau guncangan sistemik di dunia politik tidak dapat menghancurkan atau menghentikan pengaruh Anda.

Secara esensial, peran sebagai garam berarti Anda harus masuk dan menyatu dalam sistem untuk membawa pengaruh (meskipun seringkali tidak terlihat saat bekerja), yang kemudian akan memunculkan Anda sebagai terang yang memberikan arah bagi bangsa.

4. Bagaimana cara menentukan waktu spiritual yang akurat saat bertindak?

Menentukan waktu spiritual yang akurat adalah kunci untuk mendapatkan terobosan dan menghindari manipulasi musuh yang mencoba "melelahkan" orang-orang kudus.

Berikut adalah cara-cara menentukan dan menjaga akurasi waktu spiritual saat bertindak:

  • Menantikan Tuhan: Satu-satunya cara untuk mengetahui kapan waktu dan musim Tuhan telah tiba adalah dengan menantikan Tuhan (berdasarkan Yesaya 40:31). Tanpa menantikan-Nya, seseorang berisiko bertindak berdasarkan saran musuh yang seringkali menyodorkan waktu yang salah.
  • Memahami Pola Musuh dalam Memanipulasi Waktu: Orang percaya harus waspada karena musuh (sistem dunia/binatang buas) memiliki strategi untuk mengubah waktu dan hukum. Kegagalan sering terjadi ketika orang kudus terpancing untuk:
    • Mendahului Tuhan saat seharusnya mereka menunggu.
    • Tertinggal saat seharusnya mereka menempel atau bergerak maju bersama Tuhan.
  • Belajar dari Kepekaan Yesus: Keakuratan waktu spiritual dicontohkan oleh Yesus yang memiliki ketajaman untuk membedakan musim rohani. Beliau tahu kapan saatnya berkata, "Telah tiba saatnya. Muliakanlah Anak-Mu" (Yohanes 17:1), namun Ia juga mengenali kapan saatnya "kuasa kegelapan" sedang bekerja (Lukas 22:53).
  • Membangun Kepekaan terhadap "Angin Surga": Akurasi bertindak juga berkaitan dengan kapan keempat angin surga (Belas Kasihan, Kebenaran/Truth, Kebenaran/Righteousness, dan Damai Sejahtera) dilepaskan di atas suatu bangsa atau wilayah. Mengenali pergerakan angin ini membantu orang percaya mengetahui kapan tanah atau negeri tersebut siap untuk memberikan hasilnya.
  • Memperhatikan Kedisiplinan Rohani: Keakuratan waktu ini tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui persiapan agar tidak menjadi lelah atau lesu. Dengan memperhatikan waktu rohani yang akurat, orang percaya dapat memerintah dan berkuasa di muka bumi dengan efektif.

Dalam konteks praktis seperti bisnis atau politik, mengabaikan waktu spiritual dan memasuki musim yang salah dapat menyebabkan segala sesuatu yang telah diusahakan hilang begitu saja. Oleh karena itu, akurasi waktu dianggap sebagai senjata peperangan yang sangat penting.

5. Bagaimana strategi musuh memanipulasi waktu dan hukum saat ini?

Strategi musuh dalam memanipulasi waktu dan hukum digambarkan melalui penglihatan Daniel mengenai "tanduk kecil" atau sistem dunia yang menyerupai binatang buas. Berikut adalah cara musuh menjalankan strategi tersebut saat ini:

  • Mengubah Waktu dan Hukum secara Sengaja: Musuh memiliki maksud spesifik untuk mengubah waktu dan hukum yang telah ditetapkan Tuhan guna menyesatkan orang-orang kudus. Hal ini menciptakan tatanan yang bertentangan dengan kebenaran ilahi.
  • Strategi "Melelahkan" (Wearing Out) Orang Kudus: Alkitab (Versi KJV) mencatat bahwa musuh akan melelahkan atau menguras habis tenaga para orang kudus milik Yang Mahatinggi. Kelelahan ini merupakan hasil dari peperangan yang terus-menerus terhadap pikiran dan kekuatan spiritual mereka.
  • Manipulasi Melalui Akurasi yang Salah: Musuh menang melawan orang kudus bukan selalu karena kekuatan fisik, melainkan karena orang percaya seringkali bertindak di luar waktu dan musim yang tepat. Musuh menggunakan taktik manipulasi berikut:
    • Mendahului Tuhan: Musuh menyarankan waktu yang salah dan mendorong orang percaya untuk bergerak maju saat mereka seharusnya menantikan Tuhan.
    • Tertinggal dari Tuhan: Musuh membuat orang percaya lambat dalam merespons sehingga mereka tertinggal saat seharusnya mereka sudah bergerak mengikuti instruksi Tuhan.
  • Menggunakan Perkataan Sombong dan Hujat: Musuh mengucapkan kata-kata yang menentang dan menghujat Yang Mahatinggi untuk menciptakan persepsi bahwa otoritas duniawi berada di atas otoritas surgawi. Hal ini bertujuan untuk mengintimidasi dan melemahkan keyakinan orang percaya.
  • Memanfaatkan Ketidaksabaran dalam Bisnis dan Politik: Banyak orang gagal karena mereka tidak memiliki ketajaman rohani untuk mengenali musim mereka. Tanpa menantikan Tuhan, orang percaya menjadi rentan terhadap "umpan" musuh yang membuat segala usaha yang telah dibangun hilang begitu saja dalam musim yang salah.

Secara keseluruhan, kunci musuh untuk mengalahkan orang percaya di gunung politik adalah dengan merusak akurasi spiritual mereka, sehingga mereka kehilangan senjata peperangan yang paling krusial, yaitu ketepatan waktu ilahi.

6. Apa tanda-tanda seseorang telah dimeteraikan oleh Tuhan?

Berdasarkan sumber yang tersedia, tanda-tanda atau karakteristik seseorang yang telah dimeteraikan oleh Tuhan berkaitan dengan perlindungan ilahi dan ketahanan terhadap guncangan duniawi.

Berikut adalah tanda-tanda dan dampak dari pemeteraian tersebut:

  • Kebal terhadap "Empat Angin Bumi": Seseorang yang dimeteraikan tidak akan terpengaruh atau hancur oleh gejolak yang ditimbulkan oleh empat angin bumi, yaitu angin agama, angin militer, angin politik, dan angin ekonomi,. Meskipun kebijakan ekonomi berubah atau terjadi guncangan politik, mereka tetap teguh dan tidak "terbawa angin" tersebut.
  • Perlindungan dari Bencana dan Kejahatan: Mereka yang dimeteraikan mendapatkan jaminan perlindungan dari Tuhan atas bencana, kemalangan, dan segala jenis kejahatan yang terjadi di bumi. Malaikat diperintahkan untuk menahan kerusakan pada bumi dan laut sampai hamba-hamba Allah tersebut dimeteraikan pada dahi mereka,.
  • Memiliki Strategi Ilahi untuk Mengalahkan Musuh: Tuhan menjanjikan bahwa orang yang dimeteraikan akan diberikan pengungkapan strategi tentang cara mengalahkan musuh dan mengusirnya dari wilayah atau domain mereka.
  • Identitas sebagai Hamba Allah yang Terjaga: Pemeteraian ini secara khusus dilakukan kepada "hamba-hamba Allah". Hal ini menandakan kepemilikan dan otoritas Tuhan atas hidup mereka, sehingga meskipun "celaka" datang ke dunia, mereka tetap aman dalam kendali Bapa,.
  • Ketahanan di Tengah Musim yang Sulit: Sementara orang lain mungkin kehilangan segalanya akibat perubahan kebijakan pemerintah atau krisis, orang yang dimeteraikan tetap bertahan karena hidup mereka tidak bergantung pada sistem dunia semata,.

Secara ringkas, tanda utama seseorang telah dimeteraikan bukan selalu terlihat secara fisik, melainkan terlihat dari keteguhan dan perlindungan supranatural yang mereka alami saat dunia di sekitarnya sedang mengalami guncangan atau kerusakan,.

Postingan populer dari blog ini

Membuang Cela Masa Lalu, Hidup Tanpa Noda (MKS #44)

Khotbah ini mengulas perjalanan iman Abraham dalam upayanya hidup tanpa cela di hadapan Allah berdasarkan Kejadian 17:1 .  Meskipun Abraham taat, ia masih membawa pola pikir duniawi yang diwarisi dari ayahnya, Terah, terutama melalui keterikatannya pada Lot dan Ismail . Kehadiran Lot dianggap sebagai bentuk kontaminasi spiritual karena Abraham belum sepenuhnya melepaskan keterikatan keluarga untuk mengikuti rencana murni Tuhan. Pp Djonny menekankan pentingnya kemitraan yang kudus dengan Roh Kudus agar manusia tidak menyimpang dari tujuan ilahi. Melalui kisah ini, jemaat diajak untuk membenahi hati dan memastikan bahwa hikmat Allah , bukan ambisi manusia, yang menuntun langkah hidup mereka. Akhirnya, pesan utama adalah tentang pemurnian diri dari segala cela agar penggenapan janji Tuhan dapat terwujud sepenuhnya. Ibadah JMD Bandung 28 Juni 2026 - Ps. Djonny Tambunan - Manusia Kerajaan Sorga 44 Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan materi khotbah: 1. Jalan Hikmat Allah...

Membangun Benteng Perlindungan

SATE 10 December 2020   Bacalah terlebih dahulu: Ibrani 8:7-10, Ayub 1:1 Sebagaimana iblis dapat membuat benteng di dalam pikiran manusia, Allah juga dapat membuat benteng di dalam manusia. Ayub mempunyai empat karakter yang menonjol di dalam kehidupannya yaitu saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ketika iblis melakukan berbagai pencobaan kepada Ayub seiijin dari Allah, dimulai dari kehilangan anak-anaknya, kesehatannya, istrinya, bahkan dijauhi oleh teman-temannya. Tetapi ketika masalah tersebut muncul, Ayub tetap kuat dan karakter Ayub tetap sama, karena Allah sudah membangun terlebih dahulu banteng dan kubu di dalam pikiran Ayub! Sehingga berkali-kali Alkitab mengatakan bahwa Ayub itu tidak berdosa.   Allah membangun di dalam roh, dengan cara menaruh dan menuliskan hukumNya di dalam akal budi manusia. yaitu melaui mendengarkan dan merenungkan firman sehingga Allah menjadi Allah mereka, dan manusia menjadi umatNya.   *#1. Bagaimana Allah bisa berhasil ...

Kepenuhan keallahan (the fullness of the Godhead) di dalam Yesus dan Orang Percaya (MKS #42)

Ringkasan: Khotbah Ps. Djonny ini masih membahas konsep iman yang hidup melalui teladan perjalanan hidup Abraham . Bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan, melainkan harus diwujudkan melalui perbuatan nyata yang mendasari setiap keputusan hidup sehari-hari. Penulis menjelaskan bahwa ketika seseorang lahir baru, mereka menerima benih ilahi dan potensi Allah yang harus dikembangkan hingga mencapai kedewasaan spiritual. Melalui ketaatan Abraham, Allah menyingkapkan rahasia kerajaan-Nya yang kemudian diwariskan secara spiritual kepada generasi berikutnya sebagai keturunan Abraham . Fokus utama narasi ini adalah ajakan bagi jemaat untuk bertumbuh dewasa dan tidak menjadi bayi rohani agar dapat menerima janji warisan ilahi . Akhirnya, iman tersebut dipandang sebagai kunci untuk menampilkan dimensi rupa Allah dan mengalahkan kuasa maut di dunia. Ibadah JMD Bandung 14 Juni 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 42" Berikut adalah ringkasan poin-poin penting serta penjelasan detailnya:...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Delusi Ego Manusia

Umat ​​manusia percaya bahwa dirinya adalah tuhan (oleh karena kehendak bebas yang dimilikinya), dan hanya tunduk pada dirinya sendiri — tetapi ia hanyalah manusia fana yang tertipu oleh si jahat. Saya ingin membuktikan anggapan ini dengan mengutip kisah menara Babel. Kejadian 11:6 (TB) dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Perhatikan "mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana" . Artinya, Allah pun mengakui bahwa kekuatan dari kesatuan dan kesepatan manusia yang memilih memakai kehendak bebasnya, tanpa sedikitpun faktor Tuhan.  Justru mereka merasa jadi tuhan. Mereka membangun gambar diri (image) mereka dan mencari nama atau reputasinya. Padahal Tuhanlah yang ingin menjadikan mereka serupa dan segambar (image) dengan diriNya. Tapi bukan ...

Percepatan dan Kelahiran Ishak (MKS #46)

Khotbah ini berfokus pada percepatan rencana Tuhan melalui kehidupan Abraham . Tuhan mengubah identitas Abraham untuk melepaskannya dari pola hidup lama yang menghambat janji ilahi. Melalui penafsiran kitab Kejadian 17 , pp Djonny  menekankan pentingnya respons yang akurat terhadap firman Tuhan serta peran penyunatan batiniah dalam hubungan bapa-anak rohani. Jemaat diajak untuk hidup tidak bercela agar dapat menjadi bagian dari rencana agung universal Allah sebagai gereja yang sejati. Fokus utamanya adalah bagaimana perkataan profetik dari otoritas rohani mampu mengubah kepribadian seseorang menjadi ahli waris janji Tuhan. Akhirnya, sumber ini menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham berarti memiliki dimensi kehidupan Allah yang terwujud melalui ketaatan total. Berikut adalah catatan lengkap dari khotbah "Ibadah JMD Bandung 12 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 46" : 1. Konsep Percepatan (Acceleration) dan Ketetapan Allah Percepatan Ilahi: Kejadian 17 berbicara ...

Mengatasi Spirit Amalek

Perang Melawan Spirit Amalek Dari Generasi ke Generasi Spirit Amalek adalah spirit cinta akan uang, keserakahan, egoisme, spirit familiarity (minta dimaklumi oleh Tuhan untuk suatu perbuatan yang dipandang baik). Spirit Amalek membuat orang percaya menjadi batu sandungan, mencari kesempatan dari kelemahan orang, bahkan menahan kegerakan Tuhan. Kita melihat spirit keserakahan yang sama beroperasi di banyak pemimpin Gereja , bahkan hari ini. L ebih dari apa pun, hal ini telah mendiskualifikasi mereka untuk mengecap firman yang baik dan karunia-karunia dunia yang akan datang ( from ruling in the Tabernacles Age to come, Ibrani 6:5) . Kisah Purim kembali ke waktu ketika orang Amalek menyerang Israel beberapa minggu setelah mereka meninggalkan Mesir di bawah Musa. Kisah ini dicatat dalam Keluaran 17: 8-16. Setelah pertempuran .... (14) Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa, "Tulis kanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah kep...

Menjadi Keturunan Abraham Melalui Kristus (MKS #40)

Khotbah yang disampaikan oleh PP Djonny dalam ibadah GPK JMD Bandung (31 Mei 2026) berjudul "Manusia Kerajaan Sorga 40" mengupas tuntas tentang bagaimana Allah mewujudkan pemerintahan-Nya di bumi melalui manusia rohani, dengan mengambil contoh kehidupan dan iman Abraham. Berikut adalah pesan khotbah tersebut secara detail beserta poin-poin pentingnya: 1. Keselarasan antara Jiwa (Pikiran) dan Roh Belajar dari Iman Abraham: Merujuk pada Ibrani 11:17-19 dan Kejadian 22, ketika Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak, ia melakukannya tanpa ragu. Mengapa? Karena ada keharmonisan total antara roh dan jiwanya (pikirannya). Mengatasi Konflik Internal: Sering kali manusia gagal karena apa yang ada di dalam roh (iman) bertubrukan dengan apa yang dipikirkan oleh jiwa (logika kedagingan/fakta dunia luar). Abraham tidak mengalami konflik ini; pikirannya tunduk dan selaras dengan iman rohaninya, sehingga ia percaya Allah sanggup membangkitkan orang mati sekalipun. 2. Konsep ...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

The Limitless Spirit: Authority and Leadership in the Last Days (UR #228)

THE UPPER ROOM 228 - 14 April 2026 ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 4 ) Ini pengajaran  Dr. Jonathan David yang berfokus pada pemberdayaan pemimpin gereja melalui otoritas rohani dan bimbingan Roh Kudus . Beliau membedah berbagai alasan mengapa individu berhenti mengikuti pemimpin, seperti hilangnya kedisiplinan, ketersinggungan hati, hingga perubahan sifat dasar roh seseorang. Strategi kepemimpinan yang ditekankan mencakup pentingnya menjaga kesatuan, mengambil otoritas atas kegelapan, serta menjauhi akar kepahitan agar pelayanan tetap murni. Melalui analogi militer dan referensi Alkitab, jemaat didorong untuk hidup dalam dimensi nubuatan dan hikmat guna menghadapi tantangan zaman. Khotbah diakhiri dengan doa pengurapan yang kuat untuk melepaskan kasih karunia finansial serta kekuatan supranatural bagi kemajuan kerajaan Tuhan. Keseluruhan pesan bertujuan membekali para pengikut Kristus agar mampu mempertahankan kemenangan rohani dan memperluas pengaruh mereka secara global. B...