Langsung ke konten utama

Percepatan dan Kelahiran Ishak (MKS #46)


Khotbah ini berfokus pada percepatan rencana Tuhan melalui kehidupan Abraham. Tuhan mengubah identitas Abraham untuk melepaskannya dari pola hidup lama yang menghambat janji ilahi. Melalui penafsiran kitab Kejadian 17, pp Djonny  menekankan pentingnya respons yang akurat terhadap firman Tuhan serta peran penyunatan batiniah dalam hubungan bapa-anak rohani. Jemaat diajak untuk hidup tidak bercela agar dapat menjadi bagian dari rencana agung universal Allah sebagai gereja yang sejati. Fokus utamanya adalah bagaimana perkataan profetik dari otoritas rohani mampu mengubah kepribadian seseorang menjadi ahli waris janji Tuhan. Akhirnya, sumber ini menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham berarti memiliki dimensi kehidupan Allah yang terwujud melalui ketaatan total.


Berikut adalah catatan lengkap dari khotbah "Ibadah JMD Bandung 12 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 46":

1. Konsep Percepatan (Acceleration) dan Ketetapan Allah

  • Percepatan Ilahi: Kejadian 17 berbicara tentang bagaimana Allah sendiri melakukan percepatan terhadap Abraham karena Allah menemukan hati yang tepat untuk rencana agung-Nya.
  • Definisi Memberkati (Barak): Kata "Barak" berarti Allah "menekuk lutut-Nya" untuk melayani manusia, guna menjadikan kehidupan ciptaan-Nya sesuai dengan ukuran dan standar yang Dia kehendaki.
  • Syarat Hidup Tak Bercela: Allah menuntut Abraham (dan kita) untuk hidup "tidak bercela" atau "sempurna" (Tamyim), yang berarti utuh, lengkap, dan seluruhnya sesuai ukuran Tuhan, bukan ukuran manusia.

2. Penyebab Perlambatan: Masalah Ismael

  • Masa Penantian yang Lama: Ada jarak 24 tahun sejak Abraham dipanggil pada usia 75 tahun hingga penampakan Allah di usia 99 tahun.
  • Kehadiran Ismael sebagai Kendala: Ismael (lahir saat Abraham usia 86 tahun) menjadi penyebab perlambatan rencana Allah.
  • Asal-Usul Ismael: Ismael adalah hasil ide Sarai dan kandungan Hagar (budak Mesir), namun menggunakan benih Abraham. Ini adalah produk usaha manusiawi, bukan rencana ilahi.
  • Perbedaan Benih: Ismael berasal dari benih "Abram" (pribadi lama), sedangkan Allah menghendaki keturunan dari pribadi yang telah diubah menjadi "Abraham".

3. Transformasi Identitas: Dari Abram menjadi Abraham

  • Perubahan Kepribadian: Nama dalam bahasa Ibrani berkaitan erat dengan hubungan seseorang dengan Tuhan. Allah mengubah nama Abram menjadi Abraham karena ia telah ditetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
  • Ciptaan Baru: Transformasi ini selaras dengan 2 Korintus 5:17 mengenai menjadi "ciptaan baru" di dalam Kristus.
  • Hubungan dengan Melkisedek: Dalam Kejadian 14, Melkisedek memberkati "Abraham-nya Allah yang Maha Tinggi". Berkat ini berkaitan dengan rencana agung Allah sebagai pemilik (possessor) langit dan bumi.

4. Makna Spiritual dari Perjanjian Sunat

  • Tanda Perjanjian: Sunat fisik adalah tanda perjanjian yang kekal dalam daging, namun maknanya adalah sunat batiniah.
  • Gereja sebagai Bangsa Tuhan: Orang yang tidak disunat (tidak masuk dalam perjanjian) akan dilenyapkan dari bangsanya. Bangsa yang dimaksud saat ini adalah Gereja Tuhan.
  • Sistem Pembapaan: Sunat berbicara tentang pembentukan diri oleh Tuhan melalui seorang Bapa Rohani. Contohnya adalah Rasul Paulus yang menyunatkan Timotius untuk menjadikannya anak yang sah dalam iman demi penggenapan rencana Allah.

5. Kelahiran Ishak dan Peran Perkataan Profetik

  • Transformasi Sarai menjadi Sara: Percepatan terjadi ketika Abraham melepaskan perkataan (firman) yang mengubah nama Sarai menjadi Sara (ibu bangsa-bangsa).
  • Firman sebagai "Dikte": Firman Tuhan yang keluar dari mulut hamba-Nya harus diterima secara akurat seperti sebuah dikte (dictate), tanpa negosiasi atau pengurangan makna.
  • Ishak sebagai Anak Perjanjian: Meskipun secara lahiriah rahim Sara sudah tertutup dan Abraham sudah sangat tua, Allah berkuasa untuk mewujudkan (perform) janji-Nya.
  • Memperanakkan Ishak vs Ismael: Allah menolak permohonan Abraham agar Ismael hidup di hadapan-Nya. Abraham harus belajar untuk "memperanakkan" Ishak—yaitu mentransfer dimensi ilahi yang baru, bukan sekadar meneruskan ambisi atau sistem lama (seperti sistem Terah).

6. Warisan bagi Keturunan Abraham

  • Ikat Janji Roh Kudus: Berdasarkan Yesaya 59:21, Roh Tuhan dan firman-Nya tidak akan meninggalkan mulut kita dan mulut keturunan kita sampai selama-lamanya.
  • Pewaris Sah: Jika kita diakui oleh Tuhan sebagai keturunan Abraham (melalui proses sunat batiniah dan ketaatan), maka kita adalah pewaris dan pemilik dari semua yang dijanjikan Allah kepada Abraham.

Q&A Page

Bagaimana cara melakukan sunat batiniah sesuai ajaran tersebut?

Sunat batiniah bukanlah tindakan fisik, melainkan sebuah proses rohani yang melibatkan pembentukan diri dan hubungan dalam "rumah Tuhan." Berikut adalah langkah-langkah dan cara melakukannya sesuai dengan ajaran tersebut:

  • Menempatkan Diri di Bawah Pembapaan Rohani: Sunat batiniah dipahami sebagai proses pembentukan diri oleh Tuhan melalui perantara seorang Bapa Rohani. Sama seperti Rasul Paulus menyunatkan Timotius untuk menjadikannya anak yang sah dalam iman, Anda perlu terhubung dengan seorang bapa rohani yang diutus Tuhan untuk membimbing hidup Anda.
  • Hidup dalam "Rumah" dan Ketaatan: Melakukan sunat batiniah berarti Anda berkomitmen untuk hidup dalam sebuah "rumah" (komunitas rohani/gereja) dan tunduk dalam ketaatan. Sumber menyebutkan bahwa orang yang tidak mau "disunat" atau menolak pembentukan ini akan "dilenyapkan dari bangsanya," yang dalam konteks Perjanjian Baru berarti tidak terdata atau tidak dianggap sebagai bagian dari Gereja Tuhan yang sejati.
  • Menerima Firman Tuhan sebagai "Dikte": Anda harus merespons firman Tuhan yang disampaikan melalui hamba-Nya dengan benar dan akurat. Firman ini dianggap sebagai "dikte" (dictate), artinya Anda tidak boleh menegosiasikan, melemahkan, atau mengubah maksud firman tersebut sesuai ide sendiri, melainkan harus melaksanakannya tepat seperti yang difirmankan.
  • Mengalami Transformasi Kepribadian: Sunat batiniah bertujuan untuk mengubah kepribadian lama (seperti "Abram") menjadi kepribadian baru yang ditetapkan Tuhan ("Abraham"). Anda harus bersedia melepaskan identitas lama atau sistem kehidupan lama (seperti "sistem Terah") agar dimensi ilahi dapat terbangun di dalam diri Anda.
  • Hidup Tidak Bercela (Tamyim): Anda dituntut untuk membenahi hidup sesuai ukuran Tuhan, bukan ukuran manusia. Hal ini disebut sebagai hidup "tidak bercela" atau Tamyim, yang berarti menjadi utuh, lengkap, dan sempurna di hadapan Allah agar rencana percepatan ilahi dapat terjadi dalam hidup Anda.
  • Merespons Secara Akurat dalam Roh: Proses ini membutuhkan respon yang benar dan akurat dalam batin terhadap setiap penyingkapan atau pewahyuan yang diberikan. Tanpa respon yang tepat, rencana dan janji-janji Allah dalam hidup Anda tidak akan terlaksana sepenuhnya.

Secara ringkas, sunat batiniah dilakukan dengan berserah pada proses pembentukan oleh Tuhan melalui otoritas rohani (Bapa Rohani), hidup dalam ketaatan penuh di dalam komunitas iman, dan membiarkan firman Tuhan mengubah identitas serta karakter Anda menjadi manusia baru yang sesuai dengan standar Kerajaan Sorga.

Bagaimana membedakan firman sebagai dikte dengan ide manusia?

Perbedaan antara firman sebagai dikte dari Tuhan dengan ide manusia dapat dilihat dari beberapa aspek utama berikut:

  • Tingkat Akurasi dalam Penerimaan: Firman sebagai dikte berarti apa yang didengar harus dilakukan dan diterima dengan akurat dan tepat, tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan atau ringkasan menurut pemikiran sendiri. Sebaliknya, ide manusia muncul ketika seseorang mencoba menerjemahkan maksud Tuhan menurut bahasanya sendiri atau hanya mengambil poin-poin yang disukai (cuplik-cuplik).
  • Sifat Otoritas (Diktator vs. Negosiasi): Firman Tuhan bersifat seperti seorang "diktator", yang berarti firman tersebut tidak membutuhkan rapat, perundingan, atau negosiasi untuk dilaksanakan. Jika itu adalah ide manusia, biasanya akan ada upaya untuk menegosiasi, melemahkan, atau menyesuaikan maksud firman tersebut agar sesuai dengan kenyamanan atau logika manusiawi.
  • Asal-Usul dan Prosesnya: Firman sebagai dikte adalah suara Tuhan yang asli yang telah diproses oleh Allah dari dalam roh dan batin, lalu dilepaskan melalui mulut hamba-Nya (Bapa Rohani). Sementara itu, ide manusia sering kali berasal dari pengetahuan belaka, cara berpikir manusiawi, atau pengaruh sistem lama (seperti "sistem Terah") yang tidak mengandung dimensi ilahi.
  • Hasil yang Dilahirkan (Ishak vs. Ismael):
    • Ide Manusia menghasilkan "Ismael", yaitu sesuatu yang lahir dari usaha dan rencana manusiawi (seperti saran Sarai kepada Abraham), yang pada akhirnya justru menjadi penghambat atau perlambatan bagi rencana agung Tuhan.
    • Firman sebagai Dikte menghasilkan "Ishak", yaitu anak perjanjian yang mustahil secara lahiriah tetapi diwujudkan sepenuhnya oleh kuasa Allah (perform) melalui respon yang benar dan akurat terhadap firman-Nya.
  • Respon Batin: Menerima firman sebagai dikte menuntut respon yang benar dan akurat meskipun secara fisik terlihat tidak mungkin (seperti Abraham yang sudah tua). Ide manusia cenderung mencari jalan keluar yang masuk akal secara daging, seperti menggunakan Hagar karena Sarai mandul, yang merupakan produk sistem kehidupan yang tidak sesuai dengan ukuran Tuhan.

Secara ringkas, firman sebagai dikte adalah perintah mutlak yang harus dilakukan tepat sesuai instruksi Tuhan melalui otoritas rohani, sedangkan ide manusia adalah modifikasi atau inisiatif pribadi yang sering kali mengatasnamakan kerohanian namun sebenarnya berasal dari ambisi diri sendiri.


Apa contoh konkret merespon firman Tuhan secara akurat saat ini?

Merespon firman Tuhan secara akurat saat ini bukan hanya soal ketaatan umum, melainkan tentang ketepatan dalam menangkap dan melaksanakan maksud Tuhan tanpa modifikasi manusiawi. Berikut adalah contoh-contoh konkretnya:

  • Menerima Firman sebagai "Dikte", Bukan Kesimpulan: Respon yang akurat diibaratkan seperti seorang anak sekolah yang sedang mengikuti pelajaran dikte. Contoh konkretnya adalah ketika Anda mendengar firman melalui hamba Tuhan atau bapa rohani, Anda melakukannya tepat sesuai instruksi tersebut, bukan malah membuat ringkasan atau mengambil poin-poin yang hanya sesuai dengan logika Anda sendiri. Firman tersebut harus dianggap sebagai "diktat" hidup yang tidak boleh dinegosiasikan atau diperlemah maksudnya.
  • Tunduk pada Proses "Sunat Batiniah" dalam Pembapaan: Merespon secara akurat berarti menempatkan diri dalam sebuah "rumah rohani" dan bersedia dibentuk oleh seorang bapa rohani. Contohnya adalah seperti Timotius yang bersedia disunat oleh Paulus agar ia menjadi anak yang sah dalam iman untuk menggenapkan rencana Allah. Respon akurat di sini adalah ketaatan untuk tetap tinggal dan diproses dalam otoritas rohani, bukan malah "kabur" atau keluar dari rumah rohani saat menghadapi tantangan.
  • Melepaskan "Ismael" (Ide Manusiawi) demi "Ishak" (Janji Allah): Seringkali manusia memiliki rencana yang terlihat rohani namun sebenarnya berasal dari usaha sendiri (Ismael). Respon akurat berarti berani berkata "tidak" pada ambisi pribadi atau sistem lama (seperti sistem Terah) meskipun itu tampak menjanjikan, dan memilih untuk menunggu serta "memperanakkan" apa yang benar-benar berasal dari janji Tuhan (Ishak). Ini termasuk bagi para pemimpin gereja untuk tidak memaksakan keturunan biologis mereka menjadi penerus pelayanan jika itu bukan ketetapan Tuhan.
  • Mempercayai Kuasa Allah untuk Mewujudkan (Perform) Firman-Nya: Ketika firman Tuhan terasa mustahil secara lahiriah—seperti Abraham yang berusia 100 tahun dan rahim Sara yang sudah tertutup—respon yang akurat adalah memiliki keyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakannya (perform). Contoh konkretnya adalah tetap berharap dan bertindak berdasarkan firman Tuhan meskipun kondisi ekonomi, kesehatan, atau situasi fisik Anda menunjukkan hal yang sebaliknya.
  • Mengubah Identitas dan Perkataan: Abraham merespon secara akurat dengan mulai memanggil Sarai dengan nama baru, yaitu Sara (ibu bangsa-bangsa), sesuai perintah Tuhan. Saat ini, respon akurat berarti Anda mulai menyelaraskan perkataan mulut Anda dengan apa yang Tuhan katakan tentang identitas dan masa depan Anda, bukan lagi berbicara berdasarkan kegagalan atau masa lalu Anda ("Abram").
  • Menjadikan Firman Bagian dari Kehidupan, Bukan Sekadar Pengetahuan: Respon yang akurat adalah memastikan firman yang didengar diproses dari dalam roh dan batin hingga keluar melalui mulut sebagai kehidupan yang nyata. Contohnya, Anda tidak sekadar mengutip ayat-ayat Alkitab secara "cuplik-cuplik" atau sebagai pengetahuan belaka, tetapi firman itu menjadi bagian dari karakter dan tindakan sehari-hari Anda.

Secara keseluruhan, respon akurat adalah tentang hidup tidak bercela (Tamyim)—yaitu hidup yang utuh, lengkap, dan seutuhnya sesuai dengan ukuran dan standar Tuhan, bukan menurut ukuran manusia.


Bagaimana hubungan antara ketaatan dan percepatan ilahi dalam hidup?

Hubungan antara ketaatan dan percepatan ilahi adalah sebuah keselarasan di mana percepatan terjadi ketika Tuhan menemukan hati manusia yang memberikan respon yang benar dan akurat terhadap rencana-Nya.

Berikut adalah poin-poin utama mengenai hubungan tersebut:

  • Ketaatan sebagai Respon yang Akurat: Percepatan ilahi (seperti yang dialami Abraham) menuntut manusia untuk memberikan respon yang benar dan akurat karena Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Tanpa respon yang tepat, rencana dan janji Allah tidak akan terlaksana sepenuhnya dalam hidup seseorang.
  • Hidup Menurut Ukuran Tuhan (Tamyim): Syarat untuk masuk dalam percepatan ilahi adalah hidup "tidak bercela" atau sempurna (Tamyim). Hal ini berarti ketaatan untuk membenahi hidup, menjadi utuh, dan lengkap sesuai dengan standar serta ukuran Tuhan, bukan menurut ukuran manusia sendiri.
  • Firman sebagai "Dikte": Ketaatan dalam percepatan ilahi berarti menerima firman Tuhan sebagai dikte (dictate), yaitu apa yang didengar harus dilakukan dengan akurat tanpa negosiasi, pelemahan makna, atau mengubahnya menjadi ide sendiri. Firman ini bersifat mutlak dan harus dilaksanakan tepat seperti yang difirmankan agar membuahkan hasil.
  • Menanggalkan "Ismael" (Ide Manusiawi): Perlambatan rencana Allah sering kali disebabkan oleh kehadiran "Ismael", yaitu hasil dari ide dan usaha manusiawi. Ketaatan berarti bersedia melepaskan sistem kehidupan lama (seperti sistem Terah) dan ambisi pribadi demi "memperanakkan Ishak" atau apa yang benar-benar berasal dari janji Allah.
  • Ketaatan dalam Pembapaan Rohani: Percepatan berhubungan erat dengan sunat batiniah, yaitu tanda ketaatan seseorang untuk hidup dalam sebuah "rumah rohani" dan bersedia dibentuk oleh seorang bapa rohani. Orang yang tidak mau tunduk dalam pembentukan ini atau "kabur" dari ketaatan dianggap tidak memenuhi ketentuan sebagai bagian dari Gereja Tuhan.
  • Kepercayaan pada Kuasa Mewujudkan (Perform): Hubungan ketaatan ini mencakup keyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk mewujudkan (perform) janji-Nya, bahkan ketika situasi fisik terlihat mustahil (seperti kondisi Abraham dan Sara yang sudah tua). Ketaatan adalah tetap percaya dan bertindak berdasarkan firman Tuhan, bukan berdasarkan keterbatasan manusiawi.

Singkatnya, percepatan adalah tindakan Allah (Barak) di mana Ia melayani manusia untuk menjadikannya ciptaan yang sesuai dengan tujuan semula, namun percepatan ini hanya bisa terwujud melalui ketaatan manusia untuk merespon secara akurat setiap firman dan pembentukan yang Tuhan berikan.

Postingan populer dari blog ini

Membangun Sion Membentuk Ulang Kota - oleh Dr. Jonathan David

Ringkasan Khotbah: "Membangun Sion Membentuk Ulang Kota"  16082022  the Upper Room Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.  Yeremia 3:14   Khotbah ini membahas visi tentang pembangunan kembali Sion sebagai inti dari pemulihan kota dan kehidupan umat Tuhan. Dr. Jonathan David menguraikan bagaimana Tuhan sedang bergerak secara aktif untuk membangun Sion, yang bukan hanya sekadar tempat, melainkan juga sebuah dimensi rohani di mana kehadiran, kuasa, dan otoritas Allah termanifestasi. Khotbah dimulai dengan penekanan pada pentingnya mendengar suara Tuhan dan mengasihi kebenaran-Nya. Dr. Jonathan David menyatakan bahwa tanpa kedua hal ini, akan ada kekacauan. Ia juga menekankan tentang karunia-karunia Roh Kudus yang diperlukan, seperti pewahyuan, pengertian, dan hikmat  untuk dapat menge...

The Seed of God and the Character of Abraham (MKS #53)

Khotbah ini membahas proses rohani di mana Allah menabur benih ilahi ke dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan kerajaan-Nya di bumi. Melalui teladan Abraham , dijelaskan bahwa hubungan intim dengan Tuhan dimulai dari panggilan pribadi dan ikatan janji (covenant) yang teguh . Ketaatan mutlak Abraham dalam menjaga ketetapan Allah menjadi dasar bagi Tuhan untuk mempercayakan otoritas-Nya kepada generasi berikutnya. Di sini ditekankan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki kepribadian yang selaras dengan karakter Allah melalui bimbingan Roh Kudus. Akhirnya, sumber ini menantang umat untuk hidup dalam kesetiaan dan kasih yang radikal agar janji Tuhan dapat tergenapi secara turun-temurun. Ibadah JMD Bandung 6 September 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 53 Catatan Khotbah: Manusia Kerajaan Sorga (Bagian 53) Pelayanan: GPK JMD Bandung, Ps. Djonny Tambunan Tanggal: 6 September 2026 1. Landasan Rencana Agung Allah & Benih Sejati Keturunan Raja-Raja: Allah menetapk...

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib , memiliki karakter yang baik , serta dipenuhi oleh Roh Kudus . Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik . Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan . 14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3) Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3) Sesi: The Upper Room 240 (1...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

ROMA 15:1-7

MENANGGUNG KELEMAHAN ORANG YANG TIDAK KUAT 15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku." 15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. 15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemulia...

AGENDA MANUSIA ATAU KEHENDAK TUHAN - BAGIAN PERTAMA

TANTANGAN IMAN KITA: BEYOND THE FLESH ( COMMITED TO WALK IN GOD’S WAY) BAGIAN PERTAMA Kebanyakan kita sering meluputkan kehendak Tuhan dan menjalankan apa yang baik dan benar menurut pikiran dan hikmat manusia. Ketika hendak mengadakan misi  penginjilan kita membuat komite dan menggalang dana untuk tercapainya misi tersebut. Ketika Tuhan hendak memberikan makan kepada 5000 orang kita menggalang pengumpulan dana untuk itu. Hal ini juga terjadi pada  Filipus (Yoh 6:6). Yoh 6:6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak diperbuat-Nya. Filipus meluputkan kehendak Tuhan dengan pikirannya sendiri. Tuhan memiliki segala sumber dan caraNya sendiri. Namun kita memakai pikiran kita dengan cara kita. Kita kehilangan jalan Tuhan seluruhnya ketika mulai menggunakan asumsi-asumsi dalam mengerjakan tujuan-tujuan Tuhan, daripada secara total berkomitmen untuk melakukan kehendakNya dan berjalan di jalanNya. Jangan sampai kita m...