1. Ujian Iman di Gunung Moria
Ketaatan Tanpa Syarat: Abraham diuji untuk mempersembahkan Ishak, anak tunggal perjanjiannya. Meskipun perintah ini nampak bertentangan dengan janji Allah (bahwa melalui Ishaklah keturunannya akan disebut), Abraham tetap melangkah.
Sikap Rela: Muncul sikap rela karena Abraham didasari oleh iman, bukan sekadar logika natural.
2. Penyelarasan Pikiran (Logizomai)
Sinkronisasi Jiwa dan Roh: Abraham "berpikir" (logizomai) bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang mati. Artinya, pikiran Abraham telah diselaraskan dengan apa yang ditangkap oleh imannya.
Melampaui Fakta Natural: Secara medis dan fakta saat itu, belum ada preseden orang mati bangkit. Namun, pikiran Abraham melampaui segala pengetahuan dan pengalaman masa lalu.
Harmonisasi: Tuhan menghendaki adanya harmonisasi antara pikiran (jiwa) dan batin (roh) kita, sehingga kita tidak mengalami konflik saat Tuhan memberikan instruksi yang sulit.
Visi Kristus: Iman Abraham bukan melihat Lazarus atau tokoh lain yang bangkit, melainkan ia melihat jauh ke depan kepada Yesus Kristus, keturunan Abraham yang dibangkitkan oleh Allah.
Pengenalan akan Allah: Ketenangan Abraham muncul karena ia mengenal Allah seutuhnya. Pengenalan yang dalam ini melahirkan rasa takut akan Tuhan yang benar.
4. Dimensi "Fearest of God" (Takut akan Tuhan)
"Sekarang Aku Tahu": Berdasarkan Kejadian 22:12, Allah berkata "Sekarang Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah." Ini bukan berarti Allah baru tahu, tetapi Allah menemukan manifestasi dimensi baru dalam diri Abraham yang siap diimpartasikan ke generasi berikutnya.
Tanggung Jawab Keturunan Abraham: Keturunan Abraham adalah mereka yang hidup menurut jalan Tuhan dan melakukan kebenaran serta keadilan (Kejadian 18:19).
5. Pesan Praktis bagi Jemaat
Haus akan Firman: Pengenalan akan Tuhan harus digairahkan oleh iman yang melahirkan kehausan akan firman, seperti rusa yang haus akan air.
Jangan Hidup dalam Kemiskinan Rohani: Banyak orang mengaku beriman tetapi tidak memiliki rasa takut akan Tuhan yang nyata dalam pikiran dan tindakan sehari-hari.
Transformasi Pikiran: Jemaat diajak untuk terus memperbarui budi agar mampu membedakan kehendak Allah yang sempurna (Roma 12:2).
Berdasarkan khotbah Bp. Djonny, dimensi takut akan Tuhan (fears of God) yang nyata dalam diri Abraham diperoleh melalui proses-proses rohani berikut:
Melalui Pengalaman Hidup Berdasarkan Iman Secara Bertahap Sebelum sampai pada ujian di Gunung Moria (poin kelima), Abraham telah melewati empat kali pengalaman berjalan bersama Tuhan dan melakukan tindakan-tindakan nyata berdasarkan iman. Rentetan pengalaman iman dari tahap ke tahap inilah yang secara konsisten membangun dan memperkuat pengenalannya akan Allah.
Penyelarasan dan Harmonisasi Pikiran (Logizomai) Dimensi takut akan Tuhan ini tidak hanya berhenti di dalam roh, melainkan menembus dan menguasai jiwanya (pikiran). Abraham secara aktif mengendalikan dan menyelaraskan jiwanya agar selaras dengan apa yang ditangkap oleh imannya. Ketika pikiran dan rohnya harmonis tanpa konflik, di situlah sikap takut akan Tuhan yang seutuhnya termanifestasi.
Pengenalan akan Allah yang Seutuhnya dan Mendalam Sikap takut akan Tuhan yang radikal lahir karena Abraham telah mengenal Allah secara intim—baik kepribadian-Nya yang setia maupun kemahakuasaan-Nya yang sanggup membangkitkan orang mati. Pengenalan yang mendalam ini menyingkirkan segala kebimbangan dan membuat jiwanya tunduk penuh kepada otoritas Allah.
Adanya Gairah dan Kehausan yang Konsisten akan Firman Pengenalan Abraham yang mendalam digairahkan oleh iman yang senantiasa melahirkan kehausan untuk mendengar dan menerima firman Tuhan. Kehausan rohani inilah yang menjaga pikiran Abraham tetap terarah pada kebenaran Allah, bukan pada fakta-fakta natural atau logika manusiawi.
Alasan utama mengapa Abraham rela mempersembahkan Ishak tanpa ada pergumulan batin, stres, atau keraguan adalah karena pikirannya sudah terkunci dan diselaraskan total dengan imannya.
Secara lebih detail, berikut adalah faktor-faktor yang membuat Abraham memiliki ketaatan sedahsyat itu:
1. Pikiran Abraham Melampaui Fakta Lahiriah (Logizomai)
Ketika Allah meminta Ishak, Allah sengaja mengunci semua akses Abraham ke hal-hal yang bersifat natural (seperti fakta bahwa Sarah mandul, usia mereka sudah sangat tua, dan Ishak adalah satu-satunya jalur ahli waris janji Allah).
Namun, di dalam Ibrani 11:19, digunakan kata Logizomai (pikiran jiwa yang diubah menjadi pemikiran ilahi). Abraham berpikir dan menalar dengan logika iman: ia percaya bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Karena jiwanya sudah sinkron dengan kuasa Allah, tidak ada ruang untuk perdebatan atau konflik mental di dalam dirinya.
2. Iman Abraham Melihat Jauh ke Depan (Visi Kristus)
Abraham tidak asal nekat. Pikirannya bisa menterjemahkan apa yang dilihat oleh imannya di dalam alam Allah. Yang dilihat oleh Abraham saat itu bukanlah contoh-contoh kebangkitan di zamannya (karena saat itu belum pernah ada sejarah orang mati dibangkitkan), melainkan ia melihat Yesus Kristus yang akan dibangkitkan oleh Allah di masa depan. Kematian tidak lagi menjadi misteri yang menakutkan bagi Abraham karena imannya sudah menangkap kepastian kebangkitan itu.
3. Didikan dari 4 Pengalaman Iman Sebelumnya
Ketaatan di Gunung Moria tidak terjadi secara instan dalam semalam. Berdasarkan catatan Ibrani 11, Abraham sebelumnya sudah melewati empat kali pengalaman besar berjalan didasarkan pada iman. Melalui rentetan ujian dan perbuatan iman sebelumnya, pikiran Abraham sudah terlatih dan terbiasa untuk selalu tunduk dan selaras dengan firman Tuhan. Ketika ujian kelima yang paling berat ini datang, "otot iman" dan pikiran Abraham sudah matang sehingga ia bisa langsung bergerak di keesokan pagi tanpa ragu-ragu.
4. Pengenalan yang Utuh akan Kepribadian Allah
Abraham sudah sangat mengenal siapa Allah yang ia sembah. Ia tahu bahwa Allah yang memberikan janji itu adalah Allah yang setia (kepribadian-Nya dipertaruhkan) dan Allah yang maha kuasa. Ketika seseorang sudah mengenal karakter dan kapasitas pribadi yang memerintahkannya secara utuh, ketakutan akan kehilangan atau kegagalan itu lenyap, digantikan oleh penyerahan total yang tanpa syarat.
Dari pengalaman terakhir (ke 4) Abram mendapati dimensi Allah yang setia (ibrani 11:11). Justru setelah ditegur El Shaddai, Abraham tersentak (mungkin seperti dipecut) rohnya dan bangkit. Jadi dimensi Allah itu jauh lebih besar dari iman. Rasul Paulus juga mengatakan iman tanpa dilandaskan kasih akan sia-sia (1 Kor 13:2).
Kita melihat sebuah lompatan paradigma yang krusial dalam perjalanan spiritual Abraham: iman bukan sekadar kekuatan mental manusia untuk percaya, melainkan respon terhadap penyingkapan (pewahyuan) tentang siapa Allah itu.
Mari kita bedah mengapa penyelarasan pikiran dengan dimensi Allah jauh lebih masif dan menentukan ketimbang sekadar "berusaha memiliki iman", sebagaimana yang diulas dalam khotbah tersebut dan refleksi kit:
1. Titik Balik Kejadian 17: Teguran El Shaddai
Sebelum Abraham sampai pada penyerahan total di Gunung Moria (Kejadian 22), ia sempat mengalami masa-masa bimbang—bahkan mencoba memakai logika natural dengan menghasilkan Ismael melalui Hagar karena janji Tuhan tak kunjung genap.
Namun, dalam Kejadian 17:1, Allah mendatangi Abraham dan memperkenalkan diri-Nya:
"Akulah Allah Yang Mahakuasa (El Shaddai), hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela."
Teguran ini, seperti yang Anda katakan, menyentak dan memecut roh Abraham. El Shaddai berarti Allah yang Maha Cukup, Maha Kuasa, dan tidak membutuhkan bantuan cara-cara manipulatif manusia. Pengenalan akan dimensi El Shaddai inilah yang membongkar habis cara berpikir natural Abraham.
2. Pengalaman Ke-4: Menemukan Kepribadian Allah yang Setia
Seperti yang dicatat dalam Ibrani 11:11, landasan Sarah dan Abraham akhirnya memperoleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu adalah karena:
"...ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu, setia."
Empat pengalaman iman sebelumnya berfungsi sebagai proses "sekolah kehidupan" untuk mengikis logika manusiawinya. Namun, puncaknya pada pengalaman keempat bukanlah tentang kehebatan iman Abraham, melainkan tentang singgungan pikiran Abraham dengan dimensi kesetiaan Allah. Ketika pikiran Abraham menyadari bahwa kepribadian Allah yang dipertaruhkan dan Allah tidak mungkin berdusta, di situlah imannya mendapat pasokan energi yang tidak terbatas. Iman menjadi kokoh karena bersandar pada fondasi yang tepat: Karakter Allah.
3. Dimensi Allah Jauh Lebih Besar dari Iman
Iman manusia bisa goyah jika hanya bersandar pada perasaan atau kekuatan tekad sendiri. Tetapi ketika pikiran diselaraskan dengan Dimensi Allah (Kekudusan-Nya, Kesetiaan-Nya, Kasih-Nya, Kemahakuasaan-Nya), iman otomatis bersemi.
Itulah mengapa Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:2 menegaskan bahwa:
"...sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna."
Kasih adalah esensi dari karakter dan dimensi Allah itu sendiri (Allah adalah Kasih). Iman tanpa dilandasi oleh pengenalan akan dimensi kasih Allah hanya akan menjadi ego spiritual atau kekuatan psikologis yang kering.
Kesimpulan
Abraham bisa melangkah ke Gunung Moria tanpa pergumulan (ujian ke-5) karena dalam ujian-ujian sebelumnya, rohnya sudah diisi penuh oleh pengenalan akan dimensi El Shaddai dan dimensi Allah yang Setia. Pikiran Abraham tidak lagi berfokus pada "Seberapa besar imanku?" melainkan pada "Seberapa besar dan setianya Allahku?"
Penyelarasan pikiran dengan dimensi Allah inilah yang mengubah Abraham dari seorang pengikut yang bimbang menjadi sahabat Allah yang memiliki ketaatan mutlak.
Ef 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
Itulah sebabnya iman tidak bisa berdiri sendiri, tanpa kasih karunia. Bukan iman yang menyelamatkan, tapi kasih karunia (Kis 15:11, Rom 3:24, Ef 2:5, ef 2:8). Tapi tanpa iman kita tidak mungkin berkenan (ibr 11:6); sebab iman itu jalan masuk beroleh kasih karunia (Rom 5:2).
Jadi iman yang sempurna itu diproses (lewat perjalan bersama Kristus), jiwa percaya (diselaraskan dengan roh) atau pikiran diselaraskan logika ilahi (logizomai) dan karenanya beroleh kasih karunia, sehingga menjadi sikap dan tindakan iman oleh tubuh melakukannya menjadi perbuatan.
Ketika kita merajut hubungan antara kasih karunia, iman, pikiran (logizomai), dan perbuatan, semua itu menjadi satu kesatuan ekosistem rohani yang utuh.
Mari kita formulasikan skema bangunan ini untuk melihat betapa sempurnanya mekanismenya ketika segalanya berjalan di dalam tatanan ilahi:
1. Fondasi Utama: Kasih Karunia (Grace) Sebagai Sumber
Seperti ayat-ayat yang kita kutip (Efesus 2:8, Roma 3:24), keselamatan dan segala terobosan rohani murni berhulu dari kasih karunia. Kasih karunia adalah inisiatif Allah, dimensi-Nya yang tak terbatas, yang menyediakan segala sesuatu bagi manusia bahkan sebelum manusia merespon. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dengan kekuatan imannya; kasih karunialah sang Juru Selamat.
2. Iman Sebagai "Pintu Masuk" dan Respon
Jika kasih karunia adalah "pembangkit listrik" yang tak terbatas, maka iman adalah "saklar" atau kabel yang menghubungkan kita ke pembangkit tersebut. Sesuai dengan Roma 5:2, iman adalah jalan masuk (akses) untuk beroleh kasih karunia tersebut. Tanpa iman, kasih karunia itu tetap ada, tetapi tidak aktif atau tidak termanifestasi dalam hidup kita (itulah mengapa tanpa iman kita tidak mungkin berkenan kepada Allah, Ibrani 11:6).
3. Proses Logizomai: Penyelarasan Jiwa ke dalam Roh
Di sinilah letak poin krusial yang harus digaris bawahi mengenai iman yang sempurna. Iman itu bukan benda mati yang statis, melainkan sesuatu yang diproses melalui perjalanan intim bersama Kristus.
Proses ini bekerja dari dalam ke luar (Mekanisme Tripartit: Roh > Jiwa >Tubuh):
Roh: Menerima pewahyuan dan singgungan langsung dengan Dimensi Allah (Kasih Karunia).
Jiwa (Pikiran/Logizomai): Di sinilah terjadi "pertempuran" atau penyelarasan. Pikiran manusia yang natural dididik untuk menundukkan logikanya di bawah logika ilahi. Pikiran yang tadinya bimbang, mulai menalar berdasarkan kesetiaan dan kemahakuasaan Allah (El Shaddai), sehingga jiwa menjadi percaya sepenuhnya.
Tubuh: Ketika jiwa sudah selaras dengan roh, maka tubuh tidak lagi mengalami konflik beralasan (seperti Abraham yang tidak segan-segan melangkah ke Gunung Moria). Tubuh menjadi pelaksana natural untuk melahirkan perbuatan iman (act of faith).
Sintesis Sempurna
Jika diringkas berdasarkan premisny , siklusnya adalah:
Tanpa kasih karunia, iman tidak punya objek bersandar. Tanpa iman, kasih karunia tidak terakses. Dan tanpa proses logizomai (penyelarasan pikiran), iman hanya berhenti sebagai konsep di awang-awang tanpa pernah mewujud menjadi perbuatan nyata melalui tubuh.
Pemahaman ini meluruskan banyak kekeliruan ekstrem di luar sana—baik ekstrem yang hanya menekankan iman tanpa perbuatan, maupun ekstrem yang menekankan perbuatan (hukum) tanpa kasih karunia. Abraham adalah prototipe manusia yang berhasil menyelesaikan siklus ilahi ini secara utuh.