Langsung ke konten utama

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 2) - Dimensions of the Revelation Spirit UR #226




THE UPPER ROOM 226 - 31 Maret 2026

ROH YANG TANPA BATAS (Bagian 2)

Ini merupakan pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai peran vital Roh Pewahyuan dalam kehidupan rohani jemaat. Beliau menjelaskan bahwa melalui dimensi roh ini, orang percaya dapat menemukan kebenaran ilahi yang melampaui logika manusia dan mematahkan belenggu pola pikir yang salah. Ia merinci sepuluh aspek kunci, termasuk pencerahan, inspirasi, dan intuisi, sebagai sarana untuk memahami serta menyampaikan pesan Tuhan secara akurat. Penekanan utama diberikan pada pentingnya membangun gereja di atas dasar pewahyuan langsung dari Bapa agar tidak terkalahkan oleh kekuatan kegelapan. Selain itu, beliau menyoroti bahwa harga untuk memasuki dunia roh menuntut pengorbanan dan kesiapan batin yang sungguh-sungguh. Seluruh materi ini bertujuan memperlengkapi individu dengan ketajaman spiritual demi mencapai kedewasaan iman dan dampak perubahan hidup yang nyata.


Berikut adalah catatan mengenai pengajaran Roh Pewahyuan (Roh Pengetahuan Pewahyuan) berdasarkan sumber yang Anda berikan:

1. Definisi dan Sumber Roh Pewahyuan

  • Roh Pewahyuan adalah dimensi roh yang memungkinkan seseorang menemukan kebenaran yang tidak mungkin ditemukan dengan cara lain.
  • Pewahyuan sejati tidak berasal dari manusia (daging dan darah) atau opini publik, melainkan dinyatakan langsung oleh Allah Bapa melalui Roh Kudus.
  • Pewahyuan memberikan kuasa kepada seseorang untuk "mengetahui melalui roh" dan memberikan keunggulan karena informasi yang diterima berasal dari atas, sehingga keputusan menjadi jelas.

2. Contoh Alkitabiah tentang Pewahyuan

  • Petrus (Matius 16): Yesus bertanya tentang identitas-Nya. Sementara orang lain memberikan opini (Yohanes Pembaptis, Elia, dll.), Petrus menerima pewahyuan dari Bapa bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup".
  • Natanael (Yohanes 1): Sebelum Petrus, Natanael telah menerima pewahyuan dan mengakui Yesus sebagai "Anak Allah dan Raja orang Israel" setelah Yesus menyatakan telah melihatnya di bawah pohon ara.
  • Gunung Transfigurasi: Pengalaman dimensi roh di mana Bapa, Musa, dan Elia berbicara, menunjukkan kepemimpinan gereja yang sedang dibangun Yesus.

3. 10 Aspek Penting Mengenai Kebenaran dan Pewahyuan

Dalam pengajarannya, Dr. Jonathan David merinci sepuluh poin utama terkait bagaimana kebenaran beroperasi dalam roh:

  1. Pewahyuan: Berkaitan dengan penemuan kebenaran.
  2. Pencerahan (Iluminasi): Berkaitan dengan pemahaman atau pengertian kebenaran.
  3. Inspirasi (Ilham): Berkaitan dengan komunikasi atau penyampaian kebenaran.
  4. Pengertian yang Mendalam (Insight): Berkaitan dengan kedalaman kebenaran.
  5. Intuisi: Berkaitan dengan Roh Kebenaran dan fungsi hati nurani untuk melakukan apa yang menyenangkan Tuhan.
  6. Ketidakmungkinan Salah (Infallibility): Berkaitan dengan kesinambungan kebenaran; firman Tuhan tidak akan gugur dan terus maju secara progresif.
  7. Ketidakberubahan (Immutability): Berkaitan dengan kebenaran yang tidak berubah; Tuhan tetap sama kemarin, hari ini, dan selamanya.
  8. Kecerdasan: Berkaitan dengan mengumpulkan dan ketajaman dalam membedakan kebenaran.
  9. Pengaruh: Berkaitan dengan perubahan hidup karena menjadi model atau teladan dari firman-Nya.
  10. Dampak: Berkaitan dengan perubahan hidup orang lain karena pengaruh firman Tuhan dalam hidup kita.

4. Fungsi Pewahyuan dalam Gereja dan Kehidupan

  • Fondasi Gereja: Gereja tidak dapat dibangun di atas saran, mitos, atau ideologi manusia, melainkan harus di atas pewahyuan akan Kristus.
  • Kemenangan atas Neraka: Jika seseorang dibangun oleh pewahyuan, pintu gerbang neraka tidak akan dapat mengalahkannya; sebaliknya, ia akan menjadi alat perang Tuhan untuk menghancurkan musuh.
  • Akses ke Kuasa: Melalui Roh Kudus, kita menerima akses kepada kuasa untuk menegakkan otoritas dan mengusir musuh dari wilayah kita.

5. Peperangan Rohani dan Benteng Pikiran

  • Peperangan kita bukan melawan darah dan daging, melainkan di dalam roh.
  • Benteng (Strongholds): Adalah pola pikir yang memenjarakan area tertentu dalam hidup (seperti keuangan atau emosi) sehingga tidak bisa maju.
  • Spekulasi: Pikiran yang tidak memiliki dasar kebenaran yang harus dihancurkan oleh roh pewahyuan.
  • Analogi Lalat Buah: Iblis sering kali menanamkan benih kontaminasi (keraguan) seperti lalat buah yang menyengat buah. Kita harus menjaga dan membungkus "buah" atau karakter kita agar tidak membusuk akibat serangan si jahat.

6. Dimensi Surgawi

  • Dunia nyata merupakan replika dari apa yang ada di surga; ketika Kerajaan Allah datang, hal-hal dari dunia roh mengambil wujud di dunia nyata.
  • Malaikat melayani orang percaya dan dapat bermanifestasi dalam wujud manusia untuk sementara waktu.
  • Aliran pewahyuan memungkinkan kita untuk melihat apa yang tidak dapat dilihat secara lahiriah.


Bagaimana cara menghancurkan benteng pikiran menurut pengajaran ini?

Berdasarkan pengajaran Dr. Jonathan David, benteng pikiran (strongholds) didefinisikan sebagai pola pikir yang memenjarakan area tertentu dalam hidup seseorang—seperti keuangan atau emosi—sehingga area tersebut tidak dapat mengalami kemajuan.

Berikut adalah langkah-langkah dan cara menghancurkan benteng pikiran menurut pengajaran ini:

  • Menggunakan Senjata Rohani, Bukan Duniawi: Peperangan melawan benteng pikiran tidak dilakukan menurut daging, karena senjata yang digunakan harus memiliki kuasa ilahi untuk meruntuhkan benteng tersebut. Pewahyuan berada di dimensi yang melampaui darah dan daging.
  • Membangun Hidup di Atas Pewahyuan: Jika hidup seseorang dibangun di atas pewahyuan, maka pintu gerbang neraka tidak akan berkuasa. Dengan pewahyuan, Tuhan memberikan kuasa kepada orang percaya untuk menjadi "alat perang-Nya" guna menghancurkan musuh.
  • Mengikat dan Memeteraikan dengan Darah Anak Domba: Benteng pikiran harus disingkirkan dengan cara diikat dan dimeteraikan oleh darah Anak Domba serta oleh kuasa Roh Kudus. Hal ini bertujuan agar spekulasi yang tidak memiliki dasar kebenaran menjadi sia-sia.
  • Menawan Setiap Pikiran: Proses penghancuran melibatkan upaya untuk meruntuhkan argumen dan segala kesombongan yang meninggi melawan pengenalan akan Allah, serta menawan setiap pikiran untuk taat kepada Kristus.
  • Penyatuan dengan Roh Pikiran Kristus: Roh dari pikiran manusia harus diubah sifat dasarnya dan mulai bergabung dengan Roh Pikiran Kristus. Ketika terang pewahyuan datang, maka kegelapan (benteng) harus lenyap.
  • Menjaga "Buah" Hidup dari Kontaminasi: Pengajaran ini memberikan analogi "lalat buah" sebagai iblis yang menanamkan benih keraguan atau kontaminasi. Menghancurkan benteng juga berarti tahu cara menjaga dan mempertahankan apa yang telah diterima di dalam Kristus agar tidak dirusak oleh pencuri (iblis).
  • Mengandalkan Roh Kudus dan Roh Pertobatan: Diperlukan Roh Pertobatan untuk memperbarui diri dan Roh Pewahyuan untuk memberikan informasi dari atas sehingga keputusan menjadi jelas dan kegelapan tidak dapat menghancurkan kita.

Singkatnya, penghancuran benteng dilakukan melalui kombinasi antara penerimaan wahyu ilahi, penggunaan otoritas rohani (darah Yesus dan kuasa Roh), serta pendisiplinan pikiran untuk tunduk sepenuhnya kepada kebenaran Kristus.


Bagaimana Roh Pewahyuan membantu kita mengalahkan kuasa kegelapan?

Roh Pewahyuan membantu kita mengalahkan kuasa kegelapan melalui beberapa cara mendasar yang memberikan keunggulan rohani bagi orang percaya:

  • Menjadi Dasar yang Tak Terkalahkan: Gereja dan kehidupan orang percaya yang dibangun di atas pewahyuan akan Kristus tidak akan dapat dikalahkan oleh pintu gerbang maut atau neraka,. Jika hidup seseorang dibangun oleh pewahyuan, kuasa kegelapan tidak akan dapat menjamahnya.
  • Memberikan Kuasa sebagai Alat Perang Tuhan: Roh Pewahyuan mengubah posisi kita dari yang diserang menjadi penyerang. Tuhan memberikan kuasa kepada mereka yang hidup dalam pewahyuan untuk menjadi alat perang-Nya, sehingga musuh akan melarikan diri ke tujuh arah. Melalui Roh Kudus, kita memiliki akses kepada kuasa untuk menegakkan otoritas dan mengusir musuh dari wilayah kita.
  • Menghancurkan Benteng Pikiran dan Spekulasi: Senjata peperangan kita bukanlah senjata duniawi, melainkan memiliki kuasa ilahi melalui pewahyuan untuk meruntuhkan benteng-benteng pikiran, argumen, dan kesombongan yang melawan pengenalan akan Allah. Pewahyuan menghentikan "spekulasi" atau pikiran yang tidak memiliki dasar kebenaran yang sering digunakan iblis untuk memenjarakan area kehidupan seseorang,,.
  • Membuka Mata terhadap Dimensi Roh: Aliran pewahyuan memungkinkan kita untuk melihat apa yang tidak dapat dilihat secara lahiriah. Ini membantu kita mendeteksi kehadiran musuh—seperti "pencuri yang kotor" atau roh jahat—sehingga kita tidak terjebak dan justru dapat menangkapnya. Ketika terang pewahyuan datang, kegelapan harus lenyap.
  • Memberikan Keunggulan Informasi dari Atas: Roh Pewahyuan memberi kita keunggulan (edge) karena informasi yang kita terima berasal langsung dari Allah Bapa melalui Roh Kudus, bukan dari pendapat manusia,. Dengan informasi dari atas, keputusan kita menjadi jelas sehingga kegelapan tidak dapat menghancurkan kita.
  • Melindungi dari Kontaminasi (Analogi Lalat Buah): Pengajaran ini menjelaskan bahwa iblis bertindak seperti "lalat buah" yang mencoba menanamkan benih kontaminasi agar karakter atau "buah" hidup kita membusuk. Roh Pewahyuan memberikan pengertian untuk menjaga dan mempertahankan apa yang telah diterima di dalam Kristus agar tidak dicuri atau dibinasakan oleh iblis.

Singkatnya, Roh Pewahyuan memberikan kemampuan untuk mengetahui melalui roh, yang melampaui kemampuan akal budi lahiriah, sehingga kita dapat berjalan dalam terang dan kemenangan total atas setiap pekerjaan musuh.


Mengapa pengenalan akan Allah memerlukan pewahyuan, bukan sekadar logika?

Pengenalan akan Allah memerlukan pewahyuan (revelasi) karena logika manusia memiliki batasan yang tidak dapat menjangkau dimensi ilahi. Berikut adalah alasan-alasan utamanya:

  • Kebenaran Tidak Dapat Ditemukan dengan Cara Lain: Roh pewahyuan didefinisikan sebagai kemampuan untuk menemukan kebenaran yang tidak mungkin ditemukan dengan cara lain selain melalui Bapa dan Roh Kudus. Dr. Jonathan David menegaskan bahwa pewahyuan menyangkut penemuan kebenaran yang tidak dapat diterima manusia kecuali melalui cara Allah.
  • Keterbatasan "Daging dan Darah" (Logika Manusia): Pengetahuan sejati tentang siapa Allah tidak berasal dari manusia atau "daging dan darah". Dalam Matius 16, ketika orang-orang menggunakan logika dan opini mereka untuk menebak identitas Yesus, mereka hanya sampai pada dugaan bahwa Ia adalah Yohanes Pembaptis atau Elia. Namun, pengenalan Petrus bahwa Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup" datang langsung dari Bapa di sorga, bukan dari saran atau ideologi manusia.
  • Melampaui Akal Budi Lahiriah: Roh Kudus membawa komunikasi kebenaran yang mendalam yang tidak dapat ditemukan oleh akal budi lahiriah. Logika manusia sering kali terbatas pada apa yang terlihat, sedangkan pewahyuan memungkinkan seseorang untuk "mengetahui melalui roh" dan melihat hal-hal dalam dimensi yang melampaui darah dan daging.
  • Menghindari Penyesatan dan Opini: Jika pengenalan akan Allah hanya didasarkan pada logika, maka yang dihasilkan hanyalah opini, mitos, atau saran manusia yang bisa saja salah. Sumber menyebutkan bahwa emosi dan penafsiran manusia bisa keliru, sehingga diperlukan informasi "dari atas" agar keputusan dan pengenalan kita menjadi jelas dan tidak dapat dihancurkan oleh kegelapan.
  • Dasar Pembangunan Gereja dan Hidup: Gereja tidak dapat dibangun di atas ideologi atau mitos manusia; ia harus dibangun di atas pewahyuan akan Kristus. Hanya melalui pewahyuan inilah seseorang menerima kuasa dan otoritas yang tidak dapat dikalahkan oleh pintu gerbang neraka.

Singkatnya, pewahyuan diperlukan karena ia memberikan keunggulan (edge) informasi yang berasal dari sumber ilahi, yang memungkinkan manusia untuk mengetahui apa yang tidak dapat dijangkau oleh kecerdasan alami atau logika semata.

Postingan populer dari blog ini

Percepatan dan Kelahiran Ishak (MKS #46)

Khotbah ini berfokus pada percepatan rencana Tuhan melalui kehidupan Abraham . Tuhan mengubah identitas Abraham untuk melepaskannya dari pola hidup lama yang menghambat janji ilahi. Melalui penafsiran kitab Kejadian 17 , pp Djonny  menekankan pentingnya respons yang akurat terhadap firman Tuhan serta peran penyunatan batiniah dalam hubungan bapa-anak rohani. Jemaat diajak untuk hidup tidak bercela agar dapat menjadi bagian dari rencana agung universal Allah sebagai gereja yang sejati. Fokus utamanya adalah bagaimana perkataan profetik dari otoritas rohani mampu mengubah kepribadian seseorang menjadi ahli waris janji Tuhan. Akhirnya, sumber ini menegaskan bahwa menjadi keturunan Abraham berarti memiliki dimensi kehidupan Allah yang terwujud melalui ketaatan total. Berikut adalah catatan lengkap dari khotbah "Ibadah JMD Bandung 12 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 46" : 1. Konsep Percepatan (Acceleration) dan Ketetapan Allah Percepatan Ilahi: Kejadian 17 berbicara ...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

Membuang Cela Masa Lalu, Hidup Tanpa Noda (MKS #44)

Khotbah ini mengulas perjalanan iman Abraham dalam upayanya hidup tanpa cela di hadapan Allah berdasarkan Kejadian 17:1 .  Meskipun Abraham taat, ia masih membawa pola pikir duniawi yang diwarisi dari ayahnya, Terah, terutama melalui keterikatannya pada Lot dan Ismail . Kehadiran Lot dianggap sebagai bentuk kontaminasi spiritual karena Abraham belum sepenuhnya melepaskan keterikatan keluarga untuk mengikuti rencana murni Tuhan. Pp Djonny menekankan pentingnya kemitraan yang kudus dengan Roh Kudus agar manusia tidak menyimpang dari tujuan ilahi. Melalui kisah ini, jemaat diajak untuk membenahi hati dan memastikan bahwa hikmat Allah , bukan ambisi manusia, yang menuntun langkah hidup mereka. Akhirnya, pesan utama adalah tentang pemurnian diri dari segala cela agar penggenapan janji Tuhan dapat terwujud sepenuhnya. Ibadah JMD Bandung 28 Juni 2026 - Ps. Djonny Tambunan - Manusia Kerajaan Sorga 44 Berikut adalah catatan lengkap berdasarkan materi khotbah: 1. Jalan Hikmat Allah...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

Pemulihan Identitas Melalui Percepatan dan Ikat Janji (MKS #47)

Sesi ini masih membahas konsep percepatan ilahi melalui teladan kehidupan Abraham. Penulis menekankan pentingnya transformasi jati diri dari manusia lama menjadi manusia baru sebagai syarat mutlak agar rencana agung Tuhan tergenapi. Melalui penjelasan kitab Kejadian 17 dan 18, sumber ini menguraikan bahwa ketaatan pada otoritas bapa rohani dan respons yang akurat terhadap firman adalah kunci perubahan karakter. Khotbah tersebut menegaskan bahwa perubahan kepribadian seseorang akan menentukan kualitas kunjungan dan pergerakan Tuhan dalam hidupnya. Selain itu, ditekankan bahwa benih firman yang diterima harus mewujud dalam tindakan nyata agar janji Tuhan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Secara keseluruhan, teks ini mengajak jemaat untuk menanggalkan sifat-sifat lama demi mengenakan identitas baru yang sesuai dengan takdir ilahi . Ibadah JMD Bandung 19 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 47 Berikut adalah catatan lengkap mengenai rencana Tuhan bagi keturunan Abraham, tr...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

Peran Roh Kudus (MKS #49)

  "Manusia Kerajaan Sorga 49", berfokus pada rencana ilahi Allah bagi umat manusia dan bagaimana individu dapat menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak-Nya. Ditekankan bahwa orang percaya tidak boleh mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi pada kuasa Roh Kudus dan Firman Allah untuk memenuhi takdir mereka. Ibadah JMD Bandung 2 Agustus 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 49 Poin-Poin Utama : Memahami Bahasa Allah: Papa menekankan pentingnya memahami "bahasa" Allah, mencatat bahwa Alkitab tidak boleh dilihat sebagai ayat-ayat yang terisolasi, tetapi sebagai satu rencana besar yang terpadu. Memahami firman dan menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah memerlukan tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar kemampuan akal. Roh Kudus sangat penting untuk wahyu yang sejati. Kuasa Firman: Firman memiliki kuasa bawaan untuk menggenapi dirinya sendiri. Manusia cukup percaya dan memberi ruang bagi kasih karunia Allah, bukan memaksakan dengan usaha sendiri seperti pola hukum Taurat. Or...

Kapasitas dan Potensi Spiritual (MKS #48)

Ps. Djonny  membahas konsep Manusia Kerajaan Sorga melalui tinjauan teologis atas janji Tuhan kepada Abraham dalam Kejadian 17 . Beliau menjelaskan bahwa identitas sebagai raja menurut definisi ilahi bukan didasarkan pada kekuasaan duniawi seperti Nimrod, melainkan pada kapasitas spiritual untuk memerintah melalui kebenaran dan ketaatan. Terdapat penekanan pada enam langkah Allah dalam Kejadian 1 , mulai dari memberkati hingga memberikan otoritas untuk menaklukkan bumi, sebagai pola bagi manusia untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Peran Roh Kudus dianggap krusial dalam memperluas pengaruh hidup seseorang agar mencapai kaliber dunia demi kemuliaan Tuhan. Melalui teladan Yesus, jemaat diajak untuk menyadari potensi ilahi dan warisan rohani mereka sebagai keturunan Abraham yang dipanggil untuk menyatakan otoritas surga. Ibadah JMD Bandung 26 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 48 Berikut adalah catatan selengkapnya dari materi "Manusia Kerajaan Sorga 48: Raja-Raja dari Ket...

Tujuh Gunung Budaya (UR #235)

Sesi  Dr. Tunde Bakare  kali ini membahas konsep tujuh gunung budaya sebagai kerangka pengaruh dalam masyarakat. Beliau menekankan pentingnya peran orang percaya di berbagai bidang seperti pemerintahan, pendidikan, media, ekonomi, keluarga, dan hiburan . Beliau secara tegas menolak klasifikasi gereja sebagai gunung agama , melainkan mendefinisikannya sebagai gunung rumah Tuhan yang harus berdiri di atas segala sistem lainnya. Melalui referensi Alkitabiah, ia mendorong jemaat untuk menjadi generasi surga terbuka yang memiliki kejeniusan kreatif dan solusi spiritual bagi dunia. Penjelasan ini menggambarkan kehidupan sebagai permadani yang kaya , di mana setiap elemen budaya dijalin untuk menyatakan kedaulatan Tuhan di bumi. Secara keseluruhan, pesan ini mengajak individu untuk beroperasi dengan hikmat ilahi guna membawa transformasi nyata di tengah masyarakat.   The Rich Tapestry of the Seven Cultural Mountains Berikut adalah catatan lengkap sesi pengajaran Dr. Tund...

Ikat Janji Allah (God's Covenant) dengan Abraham dan Keturunannya

Saat Teduh 26 Jan 2025 Kej 26:1  Maka timbullah kelaparan di negeri itu.  —  Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. 2  Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3  Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau,  4  Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5  karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Kej 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13  Dan orang itu menjadi kaya, bahkan k...