25 Januari 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 23" ini mendalami karakter dan panggilan Abraham serta perbandingannya dengan Lot.
Berikut adalah poin-poin utamanya:
*1. Panggilan Abraham dan Respon Hati*
Abraham dipanggil bukan sekadar karena ketaatan lahiriah, tetapi karena Tuhan menyelidiki hatinya dan menemukan hati yang tepat.
Tuhan bersukacita menemukan Abraham karena ini merupakan awal dari perwujudan rencana agung-Nya untuk langit dan bumi yang baru.
*2. Kekuatan Kasih Karunia untuk Taat*
Abraham memiliki kekuatan untuk meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya karena ia memiliki kasih karunia dalam batinnya.
Khotbah menekankan bahwa ketaatan bukan dimulai dari meminta kekuatan untuk taat, tetapi dari keputusan hati untuk taat, barulah kasih karunia Tuhan akan mengalir.
*3. Makna Spiritual Sungai Efrat*
Sungai Efrat menjadi simbol pemisah antara wilayah Babel (ambisi manusia) dan tanah Kanaan (rencana Allah).
Abraham melakukan "crossover and takeover"—menyeberang untuk mengambil alih—yang merupakan pola spiritual bagi umat Tuhan untuk keluar dari sistem dunia menuju rencana Allah.
*4. Takdir Menjadi "Abrahamnya Allah”*
Melalui berkat Melkisedek, Abraham ditetapkan menjadi milik Allah yang Maha Tinggi (pencipta sekaligus pemilik langit dan bumi).
Keturunan Abraham ditakdirkan untuk melahirkan raja-raja yang akan membawa pemerintahan Kerajaan Sorga ke bumi, menjawab doa "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu".
*5. Kontaminasi dan Kejatuhan Lot*
Lot menjadi contoh orang benar yang jiwanya tersiksa karena memilih tinggal di tempat yang salah (dekat, lalu masuk ke dalam Sodom).
Lot yang awalnya hanya menetap di dekat Sodom akhirnya menjadi "tua-tua di pintu gerbang," yang menunjukkan bahwa ia telah terkontaminasi oleh sistem dunia dan kehilangan pengaruh spiritualnya.
*6. Pentingnya Hikmat Allah*
Khotbah ditutup dengan pesan bahwa umat Tuhan harus hidup dengan hikmat Allah agar tidak mudah "digulung" atau dikalahkan oleh tipu daya iblis.
Anda saksikan langsung pada video di sini: https://www.youtube.com/watch?v=Q-IIvvLwrLY
JAWABAN Pertanyaan Komsel, Jumat 30-1-26
1. Terah dan keluarganya tinggal di Urkasdim suatu tempat yang seharusnya mereka tidak tinggal disana tetapi Terah dan keluarganya migrasi ke Urkasdim. Urkasdim adalah wilayah Babel tempat kediaman Ham dan keturunannya. Apa yang membuat Terah dan keluarganya tinggal disana? Apa akibatnya pada hidup mereka karena tidak berada di tempat yang seharusnya mereka berada?
Jawab:
Kepindahan Terah ke wilayah Babel (Ur Kasdim) sebenarnya adalah sebuah "kontaminasi" dan pergeseran.
Secara spiritual, keturunan Sem (garis keturunan Terah) seharusnya tidak bercampur dengan wilayah keturunan Ham (wilayah Nimrod/Babel). Namun, Terah terpikat oleh kemegahan dan daya tarik sistem dunia yang dibangun oleh Nimrod, sehingga ia meninggalkan wilayah aslinya (di seberang sungai Efrat) untuk menetap di Ur Kasdim. Sem dan keturunannya tinggal di Salem, yang kemudian menjadi Yerusalem.
Itu adalah bentuk penyimpangan dari tempat yang seharusnya ditentukan Tuhan. Sem menggambarkan pemerintahan dari Kerajaan Sorga, tapi Terah mengambil jalan sendiri dan tunduk pada pemerintahan Kerajaan Babel dan mengenakan budaya Babel yang menyembah allah asing.
Sungai Efrat digambarkan sebagai batas spiritual atau teritori spiritual. Menyeberang (seperti yang dilakukan Abraham) berarti memasuki area di mana Tuhan memberikan kasih karunia untuk menjadi "tidak bercela" (perfect/complete). Di seberang (di dalam rencana Allah), iblis tidak lagi memiliki hak hukum atas hidup kita. Kita tidak dalam pengaruh sistem Kerajaan Babel dan budaya mereka.
2. Kejadian 12:1 (TB) Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
Apa yang diinginkan oleh Allah untuk Abram? apa yang Allah lihat dalam diri Abram? Mengapa Abram memiliki kekuatan seperti yang Allah perintahkan di kejadian 12:1?
Allah ingin Abraham menyeberang untuk menerima kasih karunia dan anugerah, sehingga menjadi berkat bagi dunia. Oleh Possessor langit dan bumi, melalui Abraham, bumi akan diwariskan kepada manusia.
Abraham menerima kasih karunia dan hikmat Allah sebagai kekuatannya, karena Abraham taat kepada Allah dan ia memiliki kemurnian hati dan kecenderungan hati pada Tuhan.
"Menyeberang" memiliki arti spiritual yang sangat mendalam. Istilah "Ibrani" (Hebrew) sendiri berasal dari akar kata Eber atau Avar, yang secara harfiah berarti "orang yang menyeberang."
Berikut adalah arti spiritual dari tindakan "menyeberang":
1. Berpindah dari Sistem Dunia ke Sistem Allah
Menyeberang (seperti Abraham menyeberangi Sungai Efrat) melambangkan keputusan untuk meninggalkan sistem Babel—yaitu sistem yang mengandalkan ambisi manusia, kekuasaan mandiri (seperti Nimrod), dan penyembahan berhala—menuju sistem Kerajaan Sorga yang sepenuhnya bergantung pada Tuhan.
2. Memutus "Ingatan" dan Keterikatan Masa Lalu
Abraham tidak hanya menyeberang secara fisik, tetapi ia meninggalkan negerinya dari ingatannya dan dari kehidupannya.
Menyeberang berarti memutuskan hubungan dengan kenyamanan masa lalu, tradisi keluarga dan budaya yang tidak sesuai kebenaran, dan keterikatan emosional pada dunia.
3. "Crossover and Takeover" (Menyeberang untuk Mengambil Alih)
Ini adalah poin kunci. Menyeberang bukan sekadar pindah tempat, melainkan:
Crossover: Keluar dari pengaruh kegelapan.
Takeover: Mengambil alih wilayah atau aspek kehidupan untuk dikembalikan kepada kepemilikan Allah.
Artinya, orang yang menyeberang adalah agen Tuhan untuk menyatakan bahwa bumi adalah milik Allah (sebagai Possessor langit dan bumi).
4. Transisi dari Jiwa ke Roh
Menyeberang melambangkan peralihan cara hidup:
Sebelum menyeberang: Hidup digerakkan oleh jiwa (perasaan, logika manusia, keamanan diri seperti saat Abraham berbohong di Mesir).
Sesudah menyeberang: Hidup digerakkan oleh roh dan hikmat Allah yang bersifat "portable" atau dibawa ke mana pun kita pergi.
3. 2 Petrus 2:7 (TB) tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, --
Apa yg kita dpt pelajari dari hidupnya Lot, keputusan dan pilihan2nya, akhir hidupnya?
Banyak orang (seperti Lot) "menyeberang" secara fisik tetapi hatinya tetap tertinggal atau kembali terpikat pada "lembah Yordan" yang mirip Mesir, sehingga akhirnya mereka mengalami kontaminasi kembali.
Perbedaan antara Abraham dan Lot dalam hal "menyeberang”. Meskipun keduanya sama-sama keluar dari Ur Kasdim, nasib akhir mereka ditentukan oleh sejauh mana hati mereka menyeberang.
1. Abraham: Menyeberang dengan Hati (Pemisahan total)
Abraham melakukan apa yang disebut sebagai Crossover yang tuntas.
Motivasi: Abraham bergerak karena ia memiliki "kecenderungan hati" yang ditemukan Tuhan. Ia tidak hanya pindah lokasi, tapi memutuskan keterikatan batin dengan kemegahan Babel.
Tindakan: Ia mendirikan mezbah bagi Tuhan di setiap tempat ia berhenti. Mezbah adalah tanda kepemilikan Allah di bumi.
Hasil: Ia menjadi "Abrahamnya Allah yang Maha Tinggi" (Pemilik/Pengelola bumi). Ia mendapatkan hikmat yang bersifat portable—kecerdasan ilahi yang melindunginya di mana pun ia berada.
2. Lot: Menyeberang secara Fisik (Hati yang Tertinggal)
Lot adalah gambaran orang percaya yang ikut "menyeberang" karena pengaruh orang lain (ikut Abraham), namun jiwanya masih terikat pada kenyamanan dunia.
Pandangan Mata vs Pandangan Roh: Saat terjadi konflik, Lot memilih Lembah Yordan karena "terlihat seperti tanah Mesir" (subur dan makmur secara lahiriah). Ia menggunakan logika jiwa, bukan tuntunan Roh.
Proses Kontaminasi: Ia mulai dengan berkemah di dekat Sodom, lalu pindah ke dalam Sodom, dan akhirnya menjadi tua-tua di pintu gerbang Sodom. Ia mencari kehormatan di sistem yang sebenarnya akan dimusnahkan Tuhan.
Hasil: Meskipun Petrus menyebutnya "orang benar", hidup Lot berakhir tragis. Ia kehilangan hartanya, istrinya menjadi tiang garam, dan ia terpaksa tinggal di gua dalam ketakutan. Ketaatannya tidak menghasilkan "raja-raja", melainkan keturunan yang menyimpang.
Kesimpulan
menyeberang setengah jalan (seperti Lot) sering kali lebih berbahaya daripada tidak menyeberang sama sekali. Iblis tahu cara "menggulung" orang benar yang masih mengandalkan jiwanya dan mencari kehormatan di sistem dunia.
Ini bisa dibandingkan seperti apa yang Yesus katakan mengenai roh jahat yang kembali, kontaminasinya akan tujuh kali lipat daripada keadaannya semula.
Matius 12:43-45 (TB) "Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya.
Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapi teratur.
Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini."
Poin praktis:
Menyeberang secara spiritual berarti berani berkata "cukup" pada ambisi pribadi yang didikte oleh dunia (Babel) dan mulai membangun hidup di atas "mezbah" ketaatan pada firman Tuhan.