Langsung ke konten utama

Manusia Kerajaan Sorga #1

MKS#1 Heavenly Man in God's Grand Design

Sesi ini membahas tentang rancangan dan kehendak Allah yang abadi bagi manusia dan bumi, yang dimulai dari Kitab Kejadian 1:26. Fokus utamanya adalah konsep "manusia kerajaan surga", yaitu individu yang hidup di bumi tetapi berkuasa sesuai dengan otoritas dan gambar Allah. Pembicara mengoreksi penafsiran umum tentang penciptaan langit dan bumi, menyatakan bahwa itu terjadi dalam periode waktu yang tidak ditentukan. Pada mulanya (Kej 1:1) artinya adalah pada suatu permulaan waktu. Tidak sama dengan pada mulanya adalah Firman (Yoh 1:1), yang telah ada pada awal mulanya. Ia juga menekankan bahwa Allah adalah Raja yang ditolak atas pemerintahan-Nya. Penjelasan ini juga menghubungkan rencana awal Allah dengan kedatangan Yesus sebagai raja dan pengajaran-Nya tentang doa "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga," menunjukkan bahwa rencana tersebut tidak dibatalkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Akhirnya, sesi ini menyimpulkan bahwa manusia kerajaan surga adalah mereka yang mendengarkan suara Kristus dan menjalani kehidupan yang benar, mempersiapkan langit dan bumi yang baru di mana kebenaran akan tinggal.




Berikut adalah catatan lengkapnya:

Pengertian Manusia Kerajaan Surga dan Rencana Abadi Allah

Pembahasan ini berfokus pada topik "Manusia Kerajaan Surga," yang akan membuka pandangan dan membangkitkan iman. Konsep ini merujuk pada individu yang masih hidup di dunia ini, namun terhubung dengan pemerintahan Allah, yaitu kerajaan surga.

1. Kehendak dan Rencana Allah yang Tidak Bisa Dibatalkan

Allah yang kita sembah adalah Allah yang memiliki kehendak dan rencana.
Kehendak dan rencana Allah tidak dapat dibatalkan, meskipun mungkin terlihat gagal dalam kehidupan pribadi seseorang, namun tidak pada orang lain.
Rencana ini paralel dengan bagaimana Allah menata langit dan bumi.

2. Koreksi Pemahaman Kejadian 1:1 dan Konsep Waktu

"Pada mulanya" (In the beginning) di Kejadian 1:1 oleh King James Version dianggap terjemahan yang kurang tepat.

Hal ini karena Yohanes 1:1 menyatakan "pada mulanya adalah Firman," dan Firman itu bersama-sama dengan Allah serta adalah Allah. Tidak mungkin Firman (Tuhan) bersamaan dengan detik-detik penciptaan.

Lebih tepat menggunakan "Pada suatu permulaan" (in a beginning) untuk Kejadian 1:1, sedangkan Yohanes 1:1 merujuk pada waktu yang tak terukur dari kekekalan saat Firman sudah ada.
Segala sesuatu, termasuk langit dan bumi, dijadikan oleh Firman.

"Hari pertama" di Kejadian 1 tidak boleh didasarkan pada kalender manusia atau diukur sebagai satu hari 24 jam atau 1000 tahun. Manusia dan konsep waktu belum ada.

Lebih tepat disebut sebagai "periode pertama" atau "kurun waktu" yang sangat lama dalam ukuran manusia.

3. Penciptaan Manusia dan Delegasi Kekuasaan (Kejadian 1:26-27)

Allah berfirman, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas..." (Kejadian 1:26).
"Menjadikan" (asah) manusia berarti melalui proses "engineering" atau desain, bukan hanya menciptakan (bara). Ini menunjukkan Allah merancang dan memproses manusia.
Tujuan penciptaan manusia adalah agar "berkuasa" (dominion).

Kata "kingdom" (kerajaan) berarti "king’s dominion" atau "kekuasaan raja". Ini menunjukkan bahwa raja memiliki area kekuasaan.
Sebelum Kejadian 1:26, Allahlah yang berkuasa. Melalui manusia, Allah ingin mendelegasikan kekuasaan yang sama (bukan kekuasaan nomor dua) kepada manusia.

Allah ingin agar model pemerintahan dan gambar/rupa-Nya di surga terwujud di bumi melalui manusia.

Manusia perlu diproses menurut gambar dan rupa Allah agar siap menerima pendelegasian otoritas yang sama ini.

Frasa "Baiklah kita menjadikan" (Kejadian 1:26) yang menggunakan kata "Elohim" (jamak) mengindikasikan kehadiran sidang ilahi, yang diajak berbicara oleh Allah mengenai rencana-Nya.

Allah memiliki rancang bangun (blueprint) bagi hidup setiap orang, agar mereka menjadi segambar dan serupa dengan Allah.

Allah, sebagai Raja di langit dan bumi, ingin ada raja-raja di bumi yang menjadi gambar dan rupa-Nya, berkuasa atas semua makhluk.

4. Penolakan Israel terhadap Allah sebagai Raja (1 Samuel 8)

Israel meminta seorang raja seperti bangsa-bangsa lain, karena mereka tidak mengenal Allah sebagai Raja mereka.

Permintaan ini mengesalkan Samuel, namun Tuhan berfirman bahwa yang mereka tolak bukanlah Samuel, melainkan Allah sendiri sebagai Raja mereka.

Meskipun Israel menolak pemerintahan Allah yang tidak kelihatan, ini tidak menggagalkan rencana Allah untuk membuat manusia berkuasa dan menjalankan pemerintahan kerajaan surga di bumi.

5. Kerajaan Surga Datang Melalui Doa dan Yesus (Matius 6, Lukas 11, Yohanes 18)

Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa: "Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Matius 6:9-10).

Doa ini adalah kunci pemahaman bahwa Allah menghendaki kerajaan dan rencana-Nya terwujud di bumi, dan harus ada "raja" atau orang yang berkuasa menjalankan pemerintahan Allah.
Yesus menegaskan bahwa Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36). Jika dari dunia ini, hamba-hamba-Nya pasti akan melawan.

Yesus lahir dan datang ke dunia untuk memberi kesaksian tentang kebenaran dan menjadi Raja.
Orang-orang yang "berasal dari kebenaran" (umat kerajaan surga) akan mendengarkan suara Raja (Yesus).

Yesus adalah satu-satunya Raja yang lahir bukan dari keturunan raja secara biologis.

6. Otoritas Yesus dan Amanat Agung (Matius 28)
Setelah kebangkitan, Yesus menyatakan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi" (Matius 28:18).

Kemudian Dia memberikan amanat untuk menjadikan semua bangsa murid, membaptis, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya.

Yesus menjamin penyertaan-Nya sampai akhir zaman, memastikan bahwa pekerjaan-Nya akan terus berjalan.

Ini berarti "manusia kerajaan surga" adalah orang-orang yang mendengarkan suara Raja dan memiliki asal-usul dari kebenaran, sehingga kerajaan surga menjadi semakin nyata di bumi.
Kejadian 1:26 berbicara tentang "manusia kerajaan surga," yaitu orang-orang yang dimaksudkan oleh Yesus, yang berasal dari kebenaran dan mendengarkan suara Kristus.

Kita hidup di zaman Perjanjian Baru, di mana Kristus telah nyata dan didaulat sebagai Raja.
Orang percaya ditakdirkan untuk mengubah dunia, bukan dikuasai oleh opini dunia. Terpengaruh oleh dunia berarti jauh dari rencana Allah.

Manusia kerajaan surga adalah mereka yang tidak dipengaruhi oleh doktrin menyesatkan atau pemikiran duniawi, melainkan menjalankan rencana dan kehendak Allah.

7. Langit Baru dan Bumi Baru (Mazmur 33:6, 2 Petrus 3, Yesaya 65-66)

Mazmur 33:6 menyatakan bahwa langit dijadikan (asah) oleh nafas mulut Tuhan dan segala tentaranya. Penjelasan ini menginterpretasikan bahwa langit dijadikan melalui manusia, menunjukkan bahwa manusia di bumi dapat mempengaruhi dan menjadikan "surga yang baru".
Hubungan antara "surga" (Syamayim) dan "air" (Mayim) di Kejadian 1:1-2 menunjukkan kesamaan identitas, yang menjadi dasar rencana Allah untuk langit dan bumi yang baru.

Allah akan menjadikan langit dan bumi yang baru sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya yang tidak dapat dibatalkan.

2 Petrus 3 menjelaskan bahwa langit dan bumi yang ada sekarang terpelihara oleh Firman untuk hari penghakiman. Ini bukan tempat bagi orang-orang fasik.

Satu hari bagi Tuhan adalah seperti seribu tahun, dan seribu tahun seperti satu hari, bukan kalender manusia, melainkan menunjukkan waktu yang tak terhingga dan kesabaran Allah agar semua orang bertobat.

Hari Tuhan akan datang seperti pencuri, menghancurkan langit dan bumi yang sekarang dengan api.

Allah menjanjikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran (righteousness) (Yesaya 65:17, 66:22).

Lupakan keinginan untuk hanya masuk surga; fokuslah pada langit baru dan bumi baru sesuai rencana Allah.

Proses Allah menjadikan langit dan bumi yang baru ini berkaitan erat dengan proses manusia menjadi gambar dan rupa Allah di bumi.

8. Kebenaran: Status dan Tindakan (Yohanes 18:37, 2 Petrus 3:13)

"Kebenaran" (aleteia - G225) yang Yesus saksikan di Yohanes 18:37 merujuk pada suatu kondisi atau status, seperti "Akulah kebenaran" (Yohanes 14:6).
"Kebenaran" (dikayosune - G143) di 2 Petrus 3:13, yang akan ada di langit dan bumi baru, merujuk pada perbuatan, sikap, atau gaya hidup yang benar.

Manusia Kerajaan Surga akan menjalankan kebenaran yang berasal dari Kristus (status) dan memiliki undang-undang dasar perilaku yang benar (tindakan).

Allah ingin menjadikan surga dan bumi baru, di mana hanya terdapat kebenaran. Orang-orang yang layak di mata Tuhan akan menghuni bumi ini selama-lamanya.

9. Doa Penutup
Doa syukur atas penyingkapan rencana dan kehendak Allah yang abadi dan tidak berubah, yang akan terwujud.

Doa agar Tuhan menganugerahkan hikmat dan pengertian kepada jemaat, agar mereka memahami bahwa mereka adalah bagian dari rencana dan kehendak-Nya sesuai Kejadian 1:26.
Konsep "Manusia Kerajaan Surga" secara signifikan membentuk kembali pemahaman iman dengan menggeser fokus dari sekadar mencari keselamatan pribadi menuju partisipasi aktif dalam pemerintahan dan rencana abadi Allah di bumi.

Berikut adalah beberapa cara konsep ini membentuk kembali pemahaman iman:

Iman sebagai Keterhubungan dengan Pemerintahan Allah di Masa Kini: Konsep ini menegaskan bahwa iman bukan hanya tentang persiapan untuk kehidupan setelah mati, melainkan tentang individu yang masih hidup di dunia ini, namun terhubung dengan pemerintahan Allah, yaitu kerajaan surga. Ini berarti iman memberi dasar bagi keterlibatan aktif dengan kehendak dan rencana Allah saat ini.

Iman yang Berpusat pada Tujuan Penciptaan dan Delegasi Kuasa: Pemahaman iman diperluas untuk mencakup tujuan Allah menciptakan manusia agar "berkuasa" (dominion), bukan hanya sebagai makhluk ciptaan pasif. Manusia Kerajaan Surga menyadari bahwa Allah ingin mendelegasikan kekuasaan yang sama (bukan kekuasaan nomor dua) kepada manusia untuk mewujudkan model pemerintahan dan gambar/rupa-Nya di bumi . Ini mengubah iman menjadi kesadaran akan panggilan untuk menjadi wakil Allah dan menjalankan otoritas-Nya.

Iman sebagai Proses Transformasi dan Pembentukan Karakter Ilahi: Untuk menerima delegasi otoritas ini, manusia perlu diproses menurut gambar dan rupa Allah . Iman, dalam konteks ini, adalah perjalanan transformasi yang bertujuan agar manusia menjadi segambar dan serupa dengan Allah sesuai rancang bangun (blueprint) ilahi-Nya.

Iman yang Menuntut Ketaatan dan Asal-Usul dari Kebenaran: "Manusia Kerajaan Surga" adalah mereka yang mendengarkan suara Raja (Yesus) dan memiliki asal-usul dari kebenaran, sehingga kerajaan surga menjadi semakin nyata di bumi . Ini menguatkan pemahaman bahwa iman sejati melibatkan ketaatan mutlak kepada Kristus dan identitas yang berakar pada kebenaran ilahi.
Iman sebagai Kekuatan yang Mengubah Dunia, Bukan Tunduk pada Dunia: Konsep ini menegaskan bahwa orang percaya ditakdirkan untuk mengubah dunia, bukan dikuasai oleh opini dunia . Iman tidak lagi sekadar tentang menarik diri dari dunia, melainkan menjadi kekuatan yang tidak dipengaruhi oleh doktrin menyesatkan atau pemikiran duniawi, melainkan menjalankan rencana dan kehendak Allah secara aktif .
Iman yang Berfokus pada Langit Baru dan Bumi Baru: Pemahaman iman diarahkan untuk melupakan keinginan untuk hanya masuk surga, dan fokus pada langit baru dan bumi baru sesuai rencana Allah . Ini adalah iman yang merangkul visi Allah untuk pembaruan total, di mana hanya terdapat kebenaran (righteousness), dan orang-orang yang layak akan menghuninya selama-lamanya . Ini berarti iman memiliki perspektif jangka panjang dan universal terhadap tujuan ilahi.

Iman yang Menghayati Kebenaran sebagai Status dan Tindakan: "Manusia Kerajaan Surga" akan menjalankan kebenaran yang berasal dari Kristus (sebagai status) dan memiliki undang-undang dasar perilaku yang benar (sebagai tindakan) . Ini berarti iman meliputi identitas batiniah yang benar di dalam Kristus dan ekspresi lahiriah melalui perbuatan yang benar.

Secara keseluruhan, konsep "Manusia Kerajaan Surga" mengangkat iman dari sekadar keyakinan pasif atau harapan masa depan menjadi panggilan untuk hidup sebagai representasi aktif pemerintahan Allah di bumi, yang berkuasa, mentransformasi, dan mewujudkan kehendak-Nya dalam setiap aspek kehidupan.


Postingan populer dari blog ini

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Tubuhmu Adalah Bait Roh Kudus

1 Korintus 3:16 (TB)  Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?  Video berjudul "You’ve Heard ‘You Are the Temple of God’ – But This Is What It Really Means" dari saluran Beyond the Veil menjelaskan bahwa konsep tubuh manusia sebagai "Bait Allah" bukan sekadar metafora, melainkan sebuah kebenaran arsitektural, anatomis, dan spiritual yang mendalam. Berikut adalah poin-punen utama yang dijelaskan dalam video tersebut: Paralel Struktur Bait Suci dengan Manusia : Video ini membedah bagaimana tiga bagian utama Bait Suci Sulaiman mencerminkan struktur diri manusia: [ 12:16 ] Pelataran Luar (Tubuh) : Mewakili aspek fisik, tindakan, dan interaksi dengan dunia luar. Sama seperti mezbah di pelataran, tubuh adalah tempat disiplin dan pengabdian fisik dimulai. [ 12:56 ] Tempat Kudus (Jiwa/Pikiran) : Mewakili dunia batin, pikiran, dan emosi. Di sini terdapat kandil (kesadaran), roti pertunjukan (nutrisi batin/hikmat), dan mezbah ...

Rencana Tuhan melalui Nuh dan Relevansinya bagi kita saat ini (MKS #18)

Sesi ini membahas peran **orang benar** dalam menggenapi rencana ilahi untuk memulihkan bumi dari dominasi kejahatan. Melalui kisah **Nuh**, dijelaskan bahwa satu pribadi yang hidup bergaul dengan Tuhan mampu membalikkan kutuk menjadi berkat serta menyelamatkan seluruh keluarganya. Ditekankan pentingnya peran **Roh Kudus** agar manusia tidak sekadar hidup dalam kedagingan, melainkan menjadi representasi rupa Allah. Papa meyakini bahwa saat ini sedang muncul **generasi Kristus** yang telah dinubuatkan sejak zaman dahulu untuk menghadirkan kebenaran tanpa batas. Kehidupan Nuh yang terhubung langsung dengan **takhta surga** menjadi teladan bagi orang percaya untuk memahami hati Tuhan dan menyelesaikan rancangan-Nya di dunia. Narasi ini mengajak pembaca untuk hidup optimis sebagai ahli waris bumi yang bertugas menyapu bersih pengaruh iblis melalui ketaatan iman. Berikut adalah catatan lengkapnya mengenai rencana Tuhan melalui figur Nuh dan bagaimana hal itu relevan bagi kita saat ini: ...

Kebenaran Allah VS kebenaran sendiri (MKS #19)

 * Pentingnya Kebenaran Allah vs Kebenaran Sendiri: khotbah menekankan bahwa manusia sering kali hidup menurut "kebenaran sendiri" (pembenaran atas tindakan sendiri), padahal yang Tuhan tuntut adalah "kebenaran Allah" (the righteousness of God).  Kebenaran Allah** (*The righteousness of God*) adalah standar ilahi dan otoritas yang memiliki beberapa karakteristik utama sebagai berikut: *   **Nyata di Dalam Injil:** Kebenaran Allah dinyatakan melalui **Injil**, yang merupakan **kekuatan Allah yang menyelamatkan** setiap orang yang percaya. Ini adalah jalan Allah yang harus dimiliki seseorang untuk hidup di dunia ini, melampaui segala bentuk spiritualitas yang hanya tampak di permukaan. *   **Berasal dari Otoritas Kerajaan Surga:** Kebenaran ini berasal dari **pemerintah dan kerajaan Allah** sehingga bersifat mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar. Allah sendiri hidup dan berpijak pada kebenaran-Nya. *   **Diproduksi oleh Roh Kudus:** Kebenaran Allah tidak dihasilkan...

Jiwa Sebagai Jembatan Antara Roh Dan Tubuh

SATE 20 December 2020 -  Bacalah terlebih dahulu: Yehezkiel 36:26-27 dan I Tes. 5:23   Selama beberapa minggu Papa membagikan bahwa pekerjaan Allah yang luar biasa adalah membawa kita dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib. Roh kita saja yang berasal dari Allah, sedangkan jiwa kita bukan berasal dari Allah. Anatomi kehidupan manusia itu terdiri dari 3 yaitu: tubuh, jiwa dan roh. Allah bekerja untuk membuat atau mengembalikkan tatanan yang sempurna. Tubuh, jiwa dan roh tidak ada konflik. Ini adalah anatomi spiritual yang kembali beroperasi kepada urutan yang benar bahwa jiwa kembali menjadi jembatan untuk mengekspos apa yang ada di dalam roh yang sudah dihidupkan. Tetapi roh kita sudah tercampur dengan jiwa kita. Itulah sampai saat ini, Allah tetap bekerja untuk menerangi jiwa kita yang telah berdosa. Kita dibukakan bagaimana cara masuk Allah dalam hidup kita untuk menerangi kegelapan dalam hidup kita.   Papa membagikan bahwa hati kita terbagi menjadi 4, yaitu: Hati nu...

Membangun Sion Membentuk Ulang Kota - oleh Dr. Jonathan David

Ringkasan Khotbah: "Membangun Sion Membentuk Ulang Kota"  16082022  the Upper Room Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.  Yeremia 3:14   Khotbah ini membahas visi tentang pembangunan kembali Sion sebagai inti dari pemulihan kota dan kehidupan umat Tuhan. Dr. Jonathan David menguraikan bagaimana Tuhan sedang bergerak secara aktif untuk membangun Sion, yang bukan hanya sekadar tempat, melainkan juga sebuah dimensi rohani di mana kehadiran, kuasa, dan otoritas Allah termanifestasi. Khotbah dimulai dengan penekanan pada pentingnya mendengar suara Tuhan dan mengasihi kebenaran-Nya. Dr. Jonathan David menyatakan bahwa tanpa kedua hal ini, akan ada kekacauan. Ia juga menekankan tentang karunia-karunia Roh Kudus yang diperlukan, seperti pewahyuan, pengertian, dan hikmat  untuk dapat menge...

The House of Shem (Kemah-kemah Sem)

Dari sejarah yang disebutkan di Alkitab, inilah gineologi dari Adam ke Yusuf. Kelihatannya peta ini disusun dari Kej 5:1-32 dan dilanjutka ke Kej 11:10-26 seperti yang Musa tuliskan.  PRA AIR BAH Dari "peta" gineologi ini dapat dengan mudah kita melihat karya Tuhan yang luarbiasa. Semua generasi terhubung dengan orang-orang strategis Tuhan secara luarbiasa. Kita melihat hubungan 3 generasi: Henokh, Metusalah dan Lamekh. Juga hubungan 3 generasi berikutnya antara: Metusalah, Lamekh dan Nuh. Disusul dengan hubungan antara 3 generasi: Lamekh, Nuh dan Sem.  Ini seperti pola yang Allah sediakan untuk menjaga kesinambungan warisan rohani yang kekal (legacy). Pola 3 generasi dalam satu kemah ini menjamin warisan menjadi pusaka - inheritance to heritage legacy. Bahkan Sem juga terhubung dengan Metusalah, anak dari Henokh. Maka, tidak heran Sem menjadi sangat luarbiasa.  Warisan menggambarkan aset yang diwariskan orangtua kepada anak laki-lakinya, sedangkan pusaka mengacu pada anu...

Hikmat Ilahi dan Pemulihan Bumi (MKS #14)

Khotbah ini menjelaskan rencana agung Allah untuk memulihkan otoritas manusia sebagai pewaris bumi yang sah melalui hikmat dan suara firman-Nya. Penulis membandingkan kondisi spiritual antara iblis yang sombong dengan manusia yang rendah hati, menegaskan bahwa iblis hanyalah entitas yang terbuang dan bukan pemilik dunia ini.  Melalui analisis kitab Kejadian hingga Wahyu, dipaparkan bahwa tujuan akhir Tuhan adalah menghapus dominasi kegelapan dan menghadirkan langit dan bumi yang baru . Dalam kondisi ideal tersebut, terang ilahi akan menggantikan matahari sepenuhnya sehingga malam tidak lagi ada. Kehidupan orang beriman dipandang sebagai instrumen penting dalam mewujudkan visi kekekalan ini di dunia. Seluruh narasi menekankan bahwa ketaatan pada Kristus adalah kunci bagi manusia untuk memerintah dengan otoritas penuh sesuai rancangan semula. Berikut adalah catatan lengkapnya : 1. Peran Roh Kudus dalam Penyingkapan Rahasia Allah Manusia kerajaan surga diajak untuk memiliki keber...

SATE 18Juli2020 - Makanan Lahiriah dan Makanan Rohani

Setelah Kemuliaan, Kerajaan, dan Kehendak Bapa, barulah kita berdoa untuk meminta hal-hal untuk mendukung hal rohani yaitu kebutuhan jasmani. Kebutuhan disini adalah makanan(bread). Kita meminta “our daily bread” mengajarkan kepada kita tentang: # tidak kuatir dan kesederhaan, karena yang kita minta adalah roti untuk kesehatan jasmani kita. #kejujuran dan ketekunan.Kita tidak meminta roti untuk orang lain, bukan roti hasil tipuan(Amsal20:17), bukan roti kemalasan (Amsal 31:27), tetapi roti yang didapat karena kejujuran. #jangan kuatir tentang hari esok tetapi terus konsisten bergantung kepada penyediaan ilahi yang membuat kita hidup. #kita memohon kepada Bapa untuk memberikannya dan bukan menjual atau meminjamkannya. Itu artinya kita begantung kepada rahmat (mercy) Bapa. #kita berdoa untuk memberikan roti bukan hanya untuk diri sendiri tetapi orang lain yang terkoneksi juga dengan kita. #kita berdoa untuk memberikan roti HARI INI. Hal ini mengajarkan pada kita untuk selalu mendapatkan ...

Fokus kepada Dia yang sedang berkata-kata

SATE 21 October 2020 – **   Bacalah terlebih dahulu: Efesus 4:23-24, Yohanes 4:21-23 Dalam ayat ini, Paulus menasihatkan anggota-anggota jemaat, supaya mereka jangan hidup (= mêketi peripatein) lagi sama seperti orangorang kafir (yang tidak mengenal Allah). Tuhan mau adanya perubahan dari manusia lama menuju manusia baru. Yang awalnya hidup di bawah belenggu manusia lama menuju kepada kemerdekaan yang dibentuk di dalam format manusia baru dan dicipta menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Tetapi antara kondisi manusia lama menuju manusia baru dibutuhkan proses pembaharuan yang terus-menerus. Roh yang dulunya mati, terbelenggu dosa dan tidak dapat bersekutu dengan Allah yang adalah Roh, kini dimerdekakan. Sehingga ketika kita berdoa dan memuji Tuhan, maka pujian terhadap Allah tersebut keluar dari roh yang sungguh-sungguh sudah diperbaharui menuju Roh yang sejati, yaitu Allah. Ini yang dikatakan oleh Yesus ketika Ia bertemu dengan perempuan Samaria. ...