Langsung ke konten utama

Manusia Kerajaan Sorga #1

MKS#1 Heavenly Man in God's Grand Design

Sesi ini membahas tentang rancangan dan kehendak Allah yang abadi bagi manusia dan bumi, yang dimulai dari Kitab Kejadian 1:26. Fokus utamanya adalah konsep "manusia kerajaan surga", yaitu individu yang hidup di bumi tetapi berkuasa sesuai dengan otoritas dan gambar Allah. Pembicara mengoreksi penafsiran umum tentang penciptaan langit dan bumi, menyatakan bahwa itu terjadi dalam periode waktu yang tidak ditentukan. Pada mulanya (Kej 1:1) artinya adalah pada suatu permulaan waktu. Tidak sama dengan pada mulanya adalah Firman (Yoh 1:1), yang telah ada pada awal mulanya. Ia juga menekankan bahwa Allah adalah Raja yang ditolak atas pemerintahan-Nya. Penjelasan ini juga menghubungkan rencana awal Allah dengan kedatangan Yesus sebagai raja dan pengajaran-Nya tentang doa "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga," menunjukkan bahwa rencana tersebut tidak dibatalkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Akhirnya, sesi ini menyimpulkan bahwa manusia kerajaan surga adalah mereka yang mendengarkan suara Kristus dan menjalani kehidupan yang benar, mempersiapkan langit dan bumi yang baru di mana kebenaran akan tinggal.




Berikut adalah catatan lengkapnya:

Pengertian Manusia Kerajaan Surga dan Rencana Abadi Allah

Pembahasan ini berfokus pada topik "Manusia Kerajaan Surga," yang akan membuka pandangan dan membangkitkan iman. Konsep ini merujuk pada individu yang masih hidup di dunia ini, namun terhubung dengan pemerintahan Allah, yaitu kerajaan surga.

1. Kehendak dan Rencana Allah yang Tidak Bisa Dibatalkan

Allah yang kita sembah adalah Allah yang memiliki kehendak dan rencana.
Kehendak dan rencana Allah tidak dapat dibatalkan, meskipun mungkin terlihat gagal dalam kehidupan pribadi seseorang, namun tidak pada orang lain.
Rencana ini paralel dengan bagaimana Allah menata langit dan bumi.

2. Koreksi Pemahaman Kejadian 1:1 dan Konsep Waktu

"Pada mulanya" (In the beginning) di Kejadian 1:1 oleh King James Version dianggap terjemahan yang kurang tepat.

Hal ini karena Yohanes 1:1 menyatakan "pada mulanya adalah Firman," dan Firman itu bersama-sama dengan Allah serta adalah Allah. Tidak mungkin Firman (Tuhan) bersamaan dengan detik-detik penciptaan.

Lebih tepat menggunakan "Pada suatu permulaan" (in a beginning) untuk Kejadian 1:1, sedangkan Yohanes 1:1 merujuk pada waktu yang tak terukur dari kekekalan saat Firman sudah ada.
Segala sesuatu, termasuk langit dan bumi, dijadikan oleh Firman.

"Hari pertama" di Kejadian 1 tidak boleh didasarkan pada kalender manusia atau diukur sebagai satu hari 24 jam atau 1000 tahun. Manusia dan konsep waktu belum ada.

Lebih tepat disebut sebagai "periode pertama" atau "kurun waktu" yang sangat lama dalam ukuran manusia.

3. Penciptaan Manusia dan Delegasi Kekuasaan (Kejadian 1:26-27)

Allah berfirman, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas..." (Kejadian 1:26).
"Menjadikan" (asah) manusia berarti melalui proses "engineering" atau desain, bukan hanya menciptakan (bara). Ini menunjukkan Allah merancang dan memproses manusia.
Tujuan penciptaan manusia adalah agar "berkuasa" (dominion).

Kata "kingdom" (kerajaan) berarti "king’s dominion" atau "kekuasaan raja". Ini menunjukkan bahwa raja memiliki area kekuasaan.
Sebelum Kejadian 1:26, Allahlah yang berkuasa. Melalui manusia, Allah ingin mendelegasikan kekuasaan yang sama (bukan kekuasaan nomor dua) kepada manusia.

Allah ingin agar model pemerintahan dan gambar/rupa-Nya di surga terwujud di bumi melalui manusia.

Manusia perlu diproses menurut gambar dan rupa Allah agar siap menerima pendelegasian otoritas yang sama ini.

Frasa "Baiklah kita menjadikan" (Kejadian 1:26) yang menggunakan kata "Elohim" (jamak) mengindikasikan kehadiran sidang ilahi, yang diajak berbicara oleh Allah mengenai rencana-Nya.

Allah memiliki rancang bangun (blueprint) bagi hidup setiap orang, agar mereka menjadi segambar dan serupa dengan Allah.

Allah, sebagai Raja di langit dan bumi, ingin ada raja-raja di bumi yang menjadi gambar dan rupa-Nya, berkuasa atas semua makhluk.

4. Penolakan Israel terhadap Allah sebagai Raja (1 Samuel 8)

Israel meminta seorang raja seperti bangsa-bangsa lain, karena mereka tidak mengenal Allah sebagai Raja mereka.

Permintaan ini mengesalkan Samuel, namun Tuhan berfirman bahwa yang mereka tolak bukanlah Samuel, melainkan Allah sendiri sebagai Raja mereka.

Meskipun Israel menolak pemerintahan Allah yang tidak kelihatan, ini tidak menggagalkan rencana Allah untuk membuat manusia berkuasa dan menjalankan pemerintahan kerajaan surga di bumi.

5. Kerajaan Surga Datang Melalui Doa dan Yesus (Matius 6, Lukas 11, Yohanes 18)

Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa: "Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Matius 6:9-10).

Doa ini adalah kunci pemahaman bahwa Allah menghendaki kerajaan dan rencana-Nya terwujud di bumi, dan harus ada "raja" atau orang yang berkuasa menjalankan pemerintahan Allah.
Yesus menegaskan bahwa Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36). Jika dari dunia ini, hamba-hamba-Nya pasti akan melawan.

Yesus lahir dan datang ke dunia untuk memberi kesaksian tentang kebenaran dan menjadi Raja.
Orang-orang yang "berasal dari kebenaran" (umat kerajaan surga) akan mendengarkan suara Raja (Yesus).

Yesus adalah satu-satunya Raja yang lahir bukan dari keturunan raja secara biologis.

6. Otoritas Yesus dan Amanat Agung (Matius 28)
Setelah kebangkitan, Yesus menyatakan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi" (Matius 28:18).

Kemudian Dia memberikan amanat untuk menjadikan semua bangsa murid, membaptis, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya.

Yesus menjamin penyertaan-Nya sampai akhir zaman, memastikan bahwa pekerjaan-Nya akan terus berjalan.

Ini berarti "manusia kerajaan surga" adalah orang-orang yang mendengarkan suara Raja dan memiliki asal-usul dari kebenaran, sehingga kerajaan surga menjadi semakin nyata di bumi.
Kejadian 1:26 berbicara tentang "manusia kerajaan surga," yaitu orang-orang yang dimaksudkan oleh Yesus, yang berasal dari kebenaran dan mendengarkan suara Kristus.

Kita hidup di zaman Perjanjian Baru, di mana Kristus telah nyata dan didaulat sebagai Raja.
Orang percaya ditakdirkan untuk mengubah dunia, bukan dikuasai oleh opini dunia. Terpengaruh oleh dunia berarti jauh dari rencana Allah.

Manusia kerajaan surga adalah mereka yang tidak dipengaruhi oleh doktrin menyesatkan atau pemikiran duniawi, melainkan menjalankan rencana dan kehendak Allah.

7. Langit Baru dan Bumi Baru (Mazmur 33:6, 2 Petrus 3, Yesaya 65-66)

Mazmur 33:6 menyatakan bahwa langit dijadikan (asah) oleh nafas mulut Tuhan dan segala tentaranya. Penjelasan ini menginterpretasikan bahwa langit dijadikan melalui manusia, menunjukkan bahwa manusia di bumi dapat mempengaruhi dan menjadikan "surga yang baru".
Hubungan antara "surga" (Syamayim) dan "air" (Mayim) di Kejadian 1:1-2 menunjukkan kesamaan identitas, yang menjadi dasar rencana Allah untuk langit dan bumi yang baru.

Allah akan menjadikan langit dan bumi yang baru sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya yang tidak dapat dibatalkan.

2 Petrus 3 menjelaskan bahwa langit dan bumi yang ada sekarang terpelihara oleh Firman untuk hari penghakiman. Ini bukan tempat bagi orang-orang fasik.

Satu hari bagi Tuhan adalah seperti seribu tahun, dan seribu tahun seperti satu hari, bukan kalender manusia, melainkan menunjukkan waktu yang tak terhingga dan kesabaran Allah agar semua orang bertobat.

Hari Tuhan akan datang seperti pencuri, menghancurkan langit dan bumi yang sekarang dengan api.

Allah menjanjikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran (righteousness) (Yesaya 65:17, 66:22).

Lupakan keinginan untuk hanya masuk surga; fokuslah pada langit baru dan bumi baru sesuai rencana Allah.

Proses Allah menjadikan langit dan bumi yang baru ini berkaitan erat dengan proses manusia menjadi gambar dan rupa Allah di bumi.

8. Kebenaran: Status dan Tindakan (Yohanes 18:37, 2 Petrus 3:13)

"Kebenaran" (aleteia - G225) yang Yesus saksikan di Yohanes 18:37 merujuk pada suatu kondisi atau status, seperti "Akulah kebenaran" (Yohanes 14:6).
"Kebenaran" (dikayosune - G143) di 2 Petrus 3:13, yang akan ada di langit dan bumi baru, merujuk pada perbuatan, sikap, atau gaya hidup yang benar.

Manusia Kerajaan Surga akan menjalankan kebenaran yang berasal dari Kristus (status) dan memiliki undang-undang dasar perilaku yang benar (tindakan).

Allah ingin menjadikan surga dan bumi baru, di mana hanya terdapat kebenaran. Orang-orang yang layak di mata Tuhan akan menghuni bumi ini selama-lamanya.

9. Doa Penutup
Doa syukur atas penyingkapan rencana dan kehendak Allah yang abadi dan tidak berubah, yang akan terwujud.

Doa agar Tuhan menganugerahkan hikmat dan pengertian kepada jemaat, agar mereka memahami bahwa mereka adalah bagian dari rencana dan kehendak-Nya sesuai Kejadian 1:26.
Konsep "Manusia Kerajaan Surga" secara signifikan membentuk kembali pemahaman iman dengan menggeser fokus dari sekadar mencari keselamatan pribadi menuju partisipasi aktif dalam pemerintahan dan rencana abadi Allah di bumi.

Berikut adalah beberapa cara konsep ini membentuk kembali pemahaman iman:

Iman sebagai Keterhubungan dengan Pemerintahan Allah di Masa Kini: Konsep ini menegaskan bahwa iman bukan hanya tentang persiapan untuk kehidupan setelah mati, melainkan tentang individu yang masih hidup di dunia ini, namun terhubung dengan pemerintahan Allah, yaitu kerajaan surga. Ini berarti iman memberi dasar bagi keterlibatan aktif dengan kehendak dan rencana Allah saat ini.

Iman yang Berpusat pada Tujuan Penciptaan dan Delegasi Kuasa: Pemahaman iman diperluas untuk mencakup tujuan Allah menciptakan manusia agar "berkuasa" (dominion), bukan hanya sebagai makhluk ciptaan pasif. Manusia Kerajaan Surga menyadari bahwa Allah ingin mendelegasikan kekuasaan yang sama (bukan kekuasaan nomor dua) kepada manusia untuk mewujudkan model pemerintahan dan gambar/rupa-Nya di bumi . Ini mengubah iman menjadi kesadaran akan panggilan untuk menjadi wakil Allah dan menjalankan otoritas-Nya.

Iman sebagai Proses Transformasi dan Pembentukan Karakter Ilahi: Untuk menerima delegasi otoritas ini, manusia perlu diproses menurut gambar dan rupa Allah . Iman, dalam konteks ini, adalah perjalanan transformasi yang bertujuan agar manusia menjadi segambar dan serupa dengan Allah sesuai rancang bangun (blueprint) ilahi-Nya.

Iman yang Menuntut Ketaatan dan Asal-Usul dari Kebenaran: "Manusia Kerajaan Surga" adalah mereka yang mendengarkan suara Raja (Yesus) dan memiliki asal-usul dari kebenaran, sehingga kerajaan surga menjadi semakin nyata di bumi . Ini menguatkan pemahaman bahwa iman sejati melibatkan ketaatan mutlak kepada Kristus dan identitas yang berakar pada kebenaran ilahi.
Iman sebagai Kekuatan yang Mengubah Dunia, Bukan Tunduk pada Dunia: Konsep ini menegaskan bahwa orang percaya ditakdirkan untuk mengubah dunia, bukan dikuasai oleh opini dunia . Iman tidak lagi sekadar tentang menarik diri dari dunia, melainkan menjadi kekuatan yang tidak dipengaruhi oleh doktrin menyesatkan atau pemikiran duniawi, melainkan menjalankan rencana dan kehendak Allah secara aktif .
Iman yang Berfokus pada Langit Baru dan Bumi Baru: Pemahaman iman diarahkan untuk melupakan keinginan untuk hanya masuk surga, dan fokus pada langit baru dan bumi baru sesuai rencana Allah . Ini adalah iman yang merangkul visi Allah untuk pembaruan total, di mana hanya terdapat kebenaran (righteousness), dan orang-orang yang layak akan menghuninya selama-lamanya . Ini berarti iman memiliki perspektif jangka panjang dan universal terhadap tujuan ilahi.

Iman yang Menghayati Kebenaran sebagai Status dan Tindakan: "Manusia Kerajaan Surga" akan menjalankan kebenaran yang berasal dari Kristus (sebagai status) dan memiliki undang-undang dasar perilaku yang benar (sebagai tindakan) . Ini berarti iman meliputi identitas batiniah yang benar di dalam Kristus dan ekspresi lahiriah melalui perbuatan yang benar.

Secara keseluruhan, konsep "Manusia Kerajaan Surga" mengangkat iman dari sekadar keyakinan pasif atau harapan masa depan menjadi panggilan untuk hidup sebagai representasi aktif pemerintahan Allah di bumi, yang berkuasa, mentransformasi, dan mewujudkan kehendak-Nya dalam setiap aspek kehidupan.


Postingan populer dari blog ini

Akar dari Krisis Spiritualitas Modern

Banyak orang salah memahami bahwa iman itu hanya soal sorga dan neraka. Pemikiran seperti itu hanyalah manifestasi dari buah Pengetahuan Baik dan Jahat . Padahal di Taman Eden ada hal yang jauh lebih utama, yakni Pohon Kehidupan yang justru diabaikan manusia (Adam dan Hawa). Memahami iman hanya sebagai "tiket ke sorga" atau "penghindar neraka" merupakan bentuk bineristik (hitam-putih) yang sangat khas dari Buah Pengetahuan Baik dan Jahat. Berikut adalah beberapa poin refleksi yang memperkuat pandangan ini: ​ 1. Jebakan Moralitas vs. Kehidupan ​Buah Pengetahuan Baik dan Jahat menciptakan sistem moralitas, sedangkan Pohon Kehidupan menawarkan vitalitas (kehidupan) Ilahi. ​ Sistem Moralitas (Babel): Fokus pada "Apa yang boleh dan tidak boleh?" atau "Bagaimana supaya selamat?". Ini adalah sistem transaksional yang berpusat pada diri sendiri (self-centered). Contoh lain yang gamblang adalah soal halal dan haram atau soal disunat dan tidak disunat...

Upper Room 34 - DR. Jonathan David

  25-01-2022   Anugerah Untuk Memerintah (GRACE TO GOVERN) Pendahuluan – oleh Ps. Cyrus Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Problemnya bukan pada kebutuhan tapi pada tanahnya. Jika tanahnya baik, benih akan tumbuh, sebab ada aliran air, karena ada benih yang cerdas yang telah diprogram (dengan pengertian dan hikmat). Kuasa dan kekuatan serta kasih karunia tersembunyi di dalam FT (logos) itu.   Tanah hanya memerlukan kondisi, tidak memerlukan edukasi oleh karena digerakkan oleh sesuatu (Firman dan Roh Kudus) dari dalam yang dipanggil terang Tuhan dan pribadi Tuhan sendiri (Yoh 1:1).   Mengapa tidak kita menerima firman-Nya dan perkataan-Nya dari pribadi Tuhan (YHWH) sendiri. Banyak orang yang suka mendengarkan khotbah yang baik, tapi Kerajaan Allah dan pemerintahan-Nya tidak tertam...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Apa Maksudnya dengan CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS?

Kor 5:17        Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Ayat di atas menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Tapi benarkah demikian?   Dan yang lama sudah berlalu? Sebab kata ‘sesungguhnya’ menunjukkan kita belum bisa melihat yang baru itu. Mari kita telaah. Ef 4:24            dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. MANUSIA BARU kita telah   diciptakan menurut kehendak Allah SECARA SEMPURNA di dalam KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA yaitu DI DALAM KRITUS YESUS.   KEBENARAN DAN KEKUDUSAN INI TELAH TERUJI yaitu Yesus sendiri yang dalam rupa-Nya sebagai manusia – TELAH TERBUKTI SUDAH MENGALAHKAN DOSA DAN MAUT. Ef 2:10        ...

YUSUF ARITMATEA MENJADI GENERASI PENGGENAP

gambar: myeastercandy.blogspot.co.id Ada orang-orang yang Tuhan sudah siapkan dan tetapkan untuk menjadi pelaksana dari firman-Nya. Di saat saat kritis dan penting banyak orang terkejut,  tidak menyangka, ada orang-orang yang bisa melakukan hal-hal yang kristis. Nama Yusuf dari Arimatea baru muncul di saat-saat kematian Yesus. Dia bukan termasuk 12 murid Yesus. Tidak juga termasuk 70 murid Yesus atau 500 murid Yesus yang lainnya. Yusuf Arimatea tiba-tiba muncul di saat yang kritis sekali.  Ketika tidak ada seorang pun yang tidak punya akses kepada Pontius Pilatus, ternyata muncul Yusuf dari Arimatea. Ketika itu murid-murid Yesus yang sudah mengikuti Dia tiga setengah tahun lamanya semua lari meninggalkan Yesus dan tercerai-berai. Jadi siapa yang akan menguburkan mayat Yesus dengan layak? Siapa yang bisa menggenapkan firman perkataan Tuhan?   Membuat kita terkejut; kapan Tuhan menyiapkannya?  Alkitab hanya menyebut dia adalah seseorang yang berasal da...

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...

YESUS INGATLAH AKAN AKU

KUASA DARI INGAT-INGATAN Kejadian 8:1 * Maka Allah mengingat  Nuh* dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun. Ada hal yang aneh dari ayat 1 di atas: Allah mengingat Nuh…. Bagaimana mungkin Allah bisa melupakan dan mengingat Nuh kembali?  Mustahil Allah bisa lupa. Bagaimana mungkin Tuhan melupakan keberadaan Nuh dan keluarganya tengah terombang-ambing dalam bahtera setelah  150 hari lamanya? Gbr:  Trinity Lutheran Church Tapi ayat ini memberitahukan kepada kita, bahwa Tuhan selalu mengingatkan diri-Nya sendiri. Tidak ada seorang pun bisa mengingatkan dan memberikan nasihat kepada Allah. Kejadian 8:21 *Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya:* "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan mem...

Upper Room 2 - DR. Jonathan David

Menjalani kehidupan Roh Living the life of the Spirit Pendahuluan Kita tidak boleh pasif dan membiarkan hari-hari berlalu tanpa arti. di masa pandemi yang sudah 1,5tahun lewat harusnya terus menantikan Tuhan dan mengharapkan terjadi sesuatu yang luarbiasa. Kita harus tau apa yang Tuhan sedang kerjakan menurut agenda-Nya di waktu-waktu ini. Tidak cukup hanya mengenal Tuhan, tanpa mengetahui apa yang sedang dikerjakan-Nya. Dan Ia telah sampaikan kepada nabi dan rasul-Nya apa yang sedang dan segera terjadi di bukan Apri-September 2021 ini. Kita harus menjadi bagian dari apa yang Tuhan kerjakan. Jika kita tidak menantikan Tuhan dan membiarkan diri kita dibawa oleh pemikiran sendiri, yang dipengaruhi oleh opini orang atau dari media, maka apa yang ada pada kita dan kita terima selama ini, otomatis akan hilang dan diambil. Jangan biarkan selama zoom untuk ibadah / komsel itu tanpa kita alami benih yang mengandung kuasa dari firman lewat dan diambil oleh setan di pinggir jalan.   Tu...

Mengelola Pikiran Dengan Benar (MKS#30)

"Manusia Kerajaan Sorga 30" yang dibawakan pada 15 Maret 2026, Pp. Djonny membagikan pesan mendalam mengenai peran krusial pikiran dalam menghubungkan iman dengan kebenaran Allah.  Beliau menekankan bahwa iman tanpa tindakan jiwa (pikiran) yang selaras akan menjadi "iman yang mati." Video lengkap: Ibadah JMD Bandung 15 Maret 2026 Berikut adalah poin-poin utama yang dibagikan dalam khotbah tersebut: 1. Pikiran sebagai Penentu Hidupnya Iman Pp. Djonny menjelaskan bahwa banyak orang mengalami "iman yang mati" karena adanya benturan dalam fungsi jiwa, khususnya pada pikiran. Beliau menekankan bahwa pikiran harus dikendalikan dan diselaraskan dengan ukuran iman agar rencana Allah dapat terwujud dalam hidup seseorang. 2. Teladan Abraham: Percaya di Tengah Kemustahilan Mengacu pada Kejadian 15:5-6, khotbah ini menyoroti bagaimana Abraham diperhitungkan benar karena ia percaya.  * Realita vs Iman: Secara logika (Kejadian 11:30), Sarah mandul dan steril, namun Abra...