Langsung ke konten utama

JANGANLAH KITA MENCOBAI TUHAN


PERINGATAN  TIDAK SEMBARANG MEMBANGUN  GEREJA
Ps.Irene Cahyadi_8Mei2016
Waktu tidak akan pernah kembali. Tidak terasa sudah satu tahun saya tidak ke sini. Gereja Tuhan tidak bersantai-santai. Kita harus bisa berlari bersama, mempersiapkan diri ikut kegerakan dan larinya Roh Kudus. Kita harus membuka matahati kita apa yang sebenarnya Tuhan. Kita harus kembali kepada ketetapan Allah dan jangan kehilangan panggilan (vocation). Jika demikian, berarti kita sudah terhilang dari rencanaNya dan KemuliaanNya. KemuliaanNYa adalah kehidupan Allah yang ada pada kita.

Gereja harus membangun, jangan menurut keinginan sendiri, maka kita akan kehilangan. Kita mungkin masih ada, masih beribadah di gereja, tapi sebenarnya sudah terhilang.

Yusuf mereprentasikan Yakub. Ishak merepresentasikan pola hidup Abraham. Kita harus hidup menurut pola yang ditetapkan, pola Kerajaan, yang tidak akan pernah berakhir, kekal. Kita harus menjadi serupa dan segambar dengan Dia. Itulah panggilan kita. Jangan melihat secara jasmani, secara natural. Bagaimana kehidupan kita. Tapi kita harus satu frekuensi dengan Tuhan, supaya kita jangan mengulang kegagalan yang dulu. Jangan pergi ke Mesir (sebelum kau menjamah Betel). Kita tau Allah tidak membiarkan kita mengalami kegagalan, mengulang kembali apa yang salah. Kita adalah umat Tuhan yang penuh harapan.

1 Kor 10
(1Co 10:1)  Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut.

(1Co 10:2)  Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.

(1Co 10:3)  Mereka semua makan makanan rohani yang sama

(1Co 10:4)  dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.

(1Co 10:5)  Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.

(1Co 10:6)  Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat,

(1Co 10:7)  dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: "Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria."

(1Co 10:8)  Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang.

(1Co 10:9)  Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.

(1Co 10:10)  Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.

Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus peristiwa di jaman Musa, sebagai peringatan dan sebagai gambaran kesalahan dan kegagalan mereka.

Firman itu untuk mengajar, mendidik kelakuan dan melakukan kebenaran.

Kita harus mendapatkan firman yang sama, harus bisa berdampak dan menjadi model, karena kita sedang dibawa kepada satu tujuan. Jemaat Korintus tidak disebutkan di antara 7 jemaat di Kitab Wahyu. Rasul Paulus ingin membangun gereja di atas fondasi batu karang Kristus. 

Ketika orang-orang membangun di atasnya, jemaat harus memperhatikan bagaimana mereka membangun. Kota akan datang di depan pintu. Gereja akan menjadi template. 

Tergantung kehidupan gereja. Orang tidak mencari firman yang bagus saja, tapi kehidupan yang dibangun dengan pola ilahi. Yesus pulang ke rumahNya, maka orang datang berbondong-bondong. Gereja yang ada Yesus di dalamnya akan menarik perhatian orang. Jika Kristus ada di dalam kita, itu yang menarik perhatian. Bukan pujiannya, bukan musiknya, bukan fasilitasnya yang membuat gereja menarik, tapi Yesus yang ada di dalamnya.

Ayub begitu dikenal orang dan dikenal Tuhan. Ada kesalehan, kejujuran, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan (STMJ). Paulus mengatakan di ay6: sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat.

Kita cenderung menginginkan apa yang baik menurut kita sendiri. Sebaliknya kita harus mengikuti kehendak Tuhan. Kita harus berlari pada tujuan. Kita harus menjadi pasukan seperti yang dikatakan kitab Yoel – pasukan yang bisa mengubahkan kota, menguasai domain-domain. Dasarnya berasal dari pola yang ada di sorga. Kita harus makan makanan rohani dan minuman rohani yang sama, supaya kita mencapai tujuan.

Korintus cukup terkenal, makmur dan intelektual, tapi kotanya bejat dan tidak bermoral. Ketika mereka menjadi jemaat yang karismatik, tetap mereka tidak berdampak. Itu karena mereka individualistis dan egois. Mereka tidak hidup untuk tujuan Tuhan, tapi demi tujuan mereka sendiri. Panggilan hidup kita tidak sama dengan cita-cita. Panggilan kita bukan jadi dozen, bukan jadi insinyur atau dokter. Tapi panggilan hidup kita untuk menjadi serupa dengan Kristus, mengunduh karakter Kristus, untuk bisa menutup pintu neraka dan membuka pintu sorga.

Paulus ingin membangun gereja menurut pola apa yang dilihatnya di sorga. Ia mengingatkan jemaat Korintus: Ada sebagian jemaat tidak berkenan di hadapan Tuhan: sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Bangsa ini gagal memenuhi panggilannya. Mereka gagal menggenapkan rencana Allah. Dalam perjalanan hidupnya, mereka tidak bisa mencapai garis akhir. Padahal mereka menerima mana dan air yang sama. Mana dari sorga dan air dari batu karang Kristus.

Mengapa mereka gagal?

Kel 19:9-11
(Exo 19:9)  Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN.

(Exo 19:10)  Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya.

(Exo 19:11)  Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai.

Sebenarnya, Tuhan ingin dijumpai, oleh Musa dan oleh seluruh bangsa. Tuhan merindukan dijumpai oleh para pemimpin dan seluruh jemaat, oleh setiap kita. “Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau..”

Tuhan ingin terhubung langsung. Tidak ingin hanya bicara lewat perantaraan Musa. Itu sebabnya kita harus membangun frekuensi yang sama dengan Tuhan. Dia sebenarnya memiliki frekuensi yang sama, asal kita bisa memiliki akses yang tepat. Tuhan terbuka untuk semua orang, tapi kerajaanNya tidak buat semua orang. Bapa rohani bisa terhubung dengan Dia dan kita harus memiliki frekuensi yang sama, sehingga bisa terhubung langsung dengan Dia. Senantiasa Dia bisa dijumpai, sehingga kita tidak melenceng dari panggilan Tuhan, dari ketetapan-ketetapan Allah.

Dia Allah yang senantiasa ingin dijumpai, ingin akrab. Apa yang Yesus katakan dan lakukan, itu yang dikatakan dan dilakukan Bapa. Itu sebabnya kota mendatangi Yesus. Kita pun jemaat harus mendapatkan makanan dan minuman yang sama. Jadi kita harus memiliki frekuensi yang sama, yang bisa terhubung dengan Dia. Kita memiliki roh dan jiwa. Roh itu penurut, tapi jiwa itu memakai pikiran dan perasaan, terus menimbang-nimbang. Roh lah yang harus memimpin dan menjadi bos, bukan jiwa kita.

Ada kehendak Allah bahwa Dia ingin berbicara dan didengar langsung. Jika orang Israel percaya kepada Musa, maka jika Tuhan berbicara langsung, maka mereka menjadi lebih percaya. Bangsa Israel ini adalah bangsa yang tegar tengkuk (stiffneck).
Bagi mereka yang mencari akan diberikan dan bagi yang mengetuk, pintu akan dibukakan. Kita harus terus mengejar rencana, tujuan dan ketetapan Allah. Kerinduan bapa rohani, yang berasal dari Allah sendiri, harus kita percaya dan jemaat harus bisa menggenapkan bersama-sama.  Itulah yang harus menjadi kerinduan kita, supaya kita layak menjadi pewaris kerajaanNya.

Dia mau datang, mau bicara dan mau berbicara dengan Israel. Kita pun harus bisa berkomunikasi dan intim. Itu harus dicapai lewat keterhubungan Roh dengan roh. Jadi harus ada kesamaan frekuensi. Musa bertemu dengan pribadiNya Allah di dalam roh. Tuhan ingin berjumpa dan berbicara dengan gerejaNya, tentang ketetapan-ketetapanNya.

Ketika Paulus membagikan firman, itu berasal dari Roh, sehingga karya Kristus itu sampai kepada jemaat dan mengubahkan hidup mereka.

Itu semua tergantung dari hati jemaat. Apakah kita cuek? Cinta Tuhan itu bertepuk sebelah tangan? Ketika Musa mengatakan kepada Israel, Tuhan ingin menjumpai mereka; bangsa Israel memberikan respon yang salah. Malah mereka mengingat-ingat masa lalu, yang menghantui dirinya, kejadian-kejadian guruh dan halilintar. Masa lalu bisa membuat kita lari dari suara Tuhan, sehingga kita keluar dari panggilan Tuhan. Jemaat Laodikia terhubung dengan hal-hal yang duniawi, sehingga lari dari panggilan Tuhan. Yang menjadi kemuliaan mereka adalah hartanya dan keduniawian.

Mereka takut kilat dan guntur. Roh ketakutan bukan berasal dari Allah. Ketika kita dengar kita akan dibawa kepada destiny-Nya kita menjadi takut. Saya ini kan sarjana, jadi apa nanti saya ya? Ketika dibicarakan pernikahan ilahi, mereka yang masih ‘jomblo’ ketakutan. Kita harus keluar dari pola pikir yang salah.

Apa yang disampaikan di rumah rohani adalah supaya jemaat tidak gagal karena mengulangi apa yang salah. Jangan bereaksi dan merespon dengan salah, ketika kita mendengarkan keinginan Tuhan.
Kel 20
(Exo 20:18)  Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.

(Exo 20:19)  Mereka berkata kepada Musa: "Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati."

Mereka hanya memperhatikan hal-hal yang natural. Mendengar firman tentang storehouse saja kita bisa merespon dengan salah. Dia beri penolong, sehingga apa yang menjadi tujuanNya itu terjadi dalam hidup kita.

Dengan guntur, dengan guruh. Guntur itu berarti Tuhan itu datang. Kilat itu berarti Tuhan menjawab, untuk membalikkan keadaan. Untuk menyadarkan kita, berbalik dari dosa. Itu adalah hal-hal rohani. Jangan melihat secara natural kilat, guruh dan guntur itu.

Mungkin mereka mengingat hujan es di Mesir, awan tebal dan peristiwa ‘mengerikan’ lainnya. Mereka tidak mau melihat dan mendengar langsung dari Tuhan. Mereka hanya berdiri jauh-jauh dan tidak berusaha (mendekati). Jika kita tidak berusaha mendekat dengan Allah, kita sudah merespon dengan salah. Inginkan pengalaman yang sama yang dialami bapa rohani. Miliki sikap untuk terus mencari dan mengetuk. Jika kita minta roti, Tuhan akan berikan. Dia berikan penolong, supaya kita dapat menjumpaiNya. Jika kita tidak menjumpaiNya dan hanya ingin Musa saja yang berbicara, maka kita tidak bisa merespon dengan benar kehendak Tuhan, karena kita kurang percaya dan menjadi tidak akurat.

(Exo 20:21)  Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.

Tuhan ingin kita melakukan terobosan, ingin kita berintim-intim dengan Dia. Kita harus merespon dengan benar, harus makin mendekatkan diri denganNya, seperti apa yang dilakukan Musa.

Jangan melihat berapa besar kebutuhan kita, tapi miliki ketaatan dan lakukan apa yang menjadi kehendak Dia. Jangan melihat secara natural, tapi responi firman dengan ketaatan. Buktikan apa yang Tuhan firmankan. Jangan terlalu banyak tuntutan kepada Tuhan: Tuhan aku sudah rajin ibadah, aku sudah ini itu. Tapi mana janji Tuhan… Semua itu (coba-coba barter dengan Tuhan) hanya karena keinginan kita. Jika kita taat semata-mata atas agendaNya, masakan Dia tidak menyediakan, bahkan Dia sediakan melimpah.  Ishak menjadi kaya, bertambah kaya, dan menjadi sangat kaya. Semua kekayaan itu karena hasil ketaatannya.

Gereja harus dibangun dengan pola orisinal dengan keimamatan Melkisedek. Tidak bisa dengan kekuatan sendiri kita ikut kegerakan Allah. Jika demikian, kita akan lari dari ketetapan Tuhan dan penggenapan firmanNya tidak akan terjadi.

Kel 19:
(Exo 19:5)  Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.

(Exo 19:6)  Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel."

Jadi Tuhan rindu sekali kita menggenapkan ketetapan-ketetapanNya. Kita harus mendengarkan firmanNya (mentaati) dan berpegang dengan ikat-janji, memiliki ketetapan hati (stabilized, fixed, firmed).
Daniel seorang buangan pun memiliki ketetapan hati, sehingga menjadi alat Tuhan di kerajaan Babel dari beberapa generasi. Dia memiliki ketetapan hati untuk selalu hanya menyembah Allahnya selama-lamanya.

Roh kita harus terus menyala-nyala sehingga dapat melayani Tuhan. Dua murid yang berjalan ke Emaus itu mulanya tidak memiliki nyala api. Ketika Yesus bukakan pengertian akan firman, hati mereka menjadi berkobar-kobar. Interaksi dengan Allah membuat roh kita terus menyala-nyala. “maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi”.


Hanya gerejaNya lah yang akan mengubahkan kota dan bangsa. Kota akan berada di depan pintu. Hanya gerejaNya yang bisa menarik turun KerajaanNya baik di sekolah dan di tempat kerja; dimana pun kita berada. Taati apa yang menjadi kehendak Allah. Responi dengan benar: Aku mau lakukan apa yang jadi kehendakMu. Kita adalah penggenap dari rencanaNya. Amin

Postingan populer dari blog ini

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...

Peran Roh Kudus (MKS #49)

  "Manusia Kerajaan Sorga 49", berfokus pada rencana ilahi Allah bagi umat manusia dan bagaimana individu dapat menyelaraskan hidup mereka dengan kehendak-Nya. Ditekankan bahwa orang percaya tidak boleh mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi pada kuasa Roh Kudus dan Firman Allah untuk memenuhi takdir mereka. Ibadah JMD Bandung 2 Agustus 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 49 Poin-Poin Utama : Memahami Bahasa Allah: Papa menekankan pentingnya memahami "bahasa" Allah, mencatat bahwa Alkitab tidak boleh dilihat sebagai ayat-ayat yang terisolasi, tetapi sebagai satu rencana besar yang terpadu. Memahami firman dan menyelaraskan hidup dengan kehendak Allah memerlukan tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar kemampuan akal. Roh Kudus sangat penting untuk wahyu yang sejati. Kuasa Firman: Firman memiliki kuasa bawaan untuk menggenapi dirinya sendiri. Manusia cukup percaya dan memberi ruang bagi kasih karunia Allah, bukan memaksakan dengan usaha sendiri seperti pola hukum Taurat. Or...

Kapasitas dan Potensi Spiritual (MKS #48)

Ps. Djonny  membahas konsep Manusia Kerajaan Sorga melalui tinjauan teologis atas janji Tuhan kepada Abraham dalam Kejadian 17 . Beliau menjelaskan bahwa identitas sebagai raja menurut definisi ilahi bukan didasarkan pada kekuasaan duniawi seperti Nimrod, melainkan pada kapasitas spiritual untuk memerintah melalui kebenaran dan ketaatan. Terdapat penekanan pada enam langkah Allah dalam Kejadian 1 , mulai dari memberkati hingga memberikan otoritas untuk menaklukkan bumi, sebagai pola bagi manusia untuk mewujudkan kerajaan Allah di dunia. Peran Roh Kudus dianggap krusial dalam memperluas pengaruh hidup seseorang agar mencapai kaliber dunia demi kemuliaan Tuhan. Melalui teladan Yesus, jemaat diajak untuk menyadari potensi ilahi dan warisan rohani mereka sebagai keturunan Abraham yang dipanggil untuk menyatakan otoritas surga. Ibadah JMD Bandung 26 Juli 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 48 Berikut adalah catatan selengkapnya dari materi "Manusia Kerajaan Sorga 48: Raja-Raja dari Ket...

Ikat Janji Allah (God's Covenant) dengan Abraham dan Keturunannya

Saat Teduh 26 Jan 2025 Kej 26:1  Maka timbullah kelaparan di negeri itu.  —  Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. 2  Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3  Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau,  4  Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5  karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Kej 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13  Dan orang itu menjadi kaya, bahkan k...

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

PANGGILAN KEPADA KEIMAMATAN MELKISEDEK

Ibrani 7:1-3  Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

The Unstoppable Generation and Strategies for Leadership Succession (UR #238)

Artikel ini bersumber dari materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai konsep suksesi kepemimpinan dan pembentukan generasi "Manusia yang Tak Terhentikan."  Beliau menekankan bahwa kekuatan sebuah pelayanan sangat bergantung pada ketangguhan spiritual pemimpinnya dalam menghadapi berbagai hambatan seperti pola pikir negatif dan pergaulan yang salah. Fokus utamanya adalah pentingnya membangun hubungan bapa-anak yang sejati untuk mewariskan takdir ilahi, bukan sekadar membagi tanggung jawab struktural. Melalui rujukan kitab Kisah Para Rasul 16 dan Pengkhotbah 2 , dijelaskan bahwa suksesi yang akurat harus direncanakan dengan hati-hati agar warisan rohani tetap berlanjut tanpa perubahan arah. Tujuan akhirnya adalah melahirkan gereja apostolik yang tak tergoyahkan dan murni dari pengaruh duniawi atau denominasi. Strategi ini menuntut penggunaan hikmat, pengetahuan, dan keterampilan ilahi untuk menerjemahkan kehendak Tuhan ke dalam realitas di bumi. 30 06 2026, ...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

"Berkat" (Barak/Berekah) Dan Bagaimana Kita Menerima Berkat Itu Dari Tuhan

Konsep Kunci: Barak/Berekah (Berkat) ) Asal Kata: Kata "berkat" dalam bahasa Ibrani adalah barak, yang artinya memberkati. Bentuk kata bendanya adalah berekah, yang berarti hasil dari tindakan memberkati. Makna Mendalam: Barak juga dikaitkan dengan kata "to kneel" atau "menekuk lutut". Ini menunjukkan bahwa berkat dari Tuhan adalah tindakan di mana Tuhan merendahkan diri-Nya untuk melayani dan melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Contoh Nyata: Tindakan Yesus yang merendahkan diri menjadi hamba, mati bagi kita di kayu salib adalah wujud tertinggi dari barak (berkat) Allah. Ayat Kunci: Amsal 10:22:  "Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya." Mazmur 127:2:  "Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." Pengkhotbah 2:26:  "Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia ...