Langsung ke konten utama

The Grace of Giving (Part 1)

"Kasih Karunia untuk Memberi" bagian 1 oleh Dr. Jonathan David 

Upper Room 183 – 25 Maret 2025

Khotbah ini membahas konsep kasih karunia dalam konteks memberi, terutama dalam komunitas Kristen, dengan merujuk pada 2 Korintus 8. Inti pembahasannya adalah bagaimana kasih karunia memampukan orang untuk melepaskan hak istimewa demi meningkatkan kualitas hidup orang lain, mencontohkan Kristus dan jemaat Makedonia. Memberi yang sejati bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang penyelarasan hidup dan sumber daya untuk menciptakan kesetaraan dan memberdayakan orang lain, sehingga kemiskinan sistemik dapat diatasi dan standar hidup meningkat secara keseluruhan dalam komunitas. Terakhir, pentingnya pengelolaan sumber daya yang terhormat dan bertanggung jawab dalam pelayanan kasih juga ditekankan.


Catatan ringkas dan poin-poin penting

Halaman 1

Dr. Jonathan David kasih karunia untuk memberi ini sangat penting bagi seorang pebisnis dan bagi komunitas gereja. Beliau memulai dengan merujuk pada 2 Korintus 8:9, yang menyatakan, "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya".

Ayat ini menjadi landasan utama pembahasan tentang kasih karunia untuk memberi. Dr. Jonathan menjelaskan bahwa kasih karunia Tuhan Yesus Kristus adalah bahwa meskipun Ia kaya, Ia menjadi miskin demi kita, sehingga melalui kemiskinan-Nya, perbuatan-Nya, tindakan-Nya, dan kerelaan-Nya untuk memiliki lebih sedikit, kita dapat menjadi kaya. Beliau menegaskan bahwa inilah kasih karunia untuk membuat orang lain kaya.

Lebih lanjut, Dr. Jonathan menyatakan bahwa kasih karunia ini harus diberikan kepada kita agar kita memiliki kemampuan untuk membuat orang lain kaya. Cara hidup kita seharusnya menjadi saluran sumber daya untuk mengangkat orang lain dari keadaan mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Inilah kasih karunia yang ada dalam diri Tuhan Yesus Kristus: Ia menjadi miskin agar kita menjadi kaya, Ia menjadi terkutuk agar kita diberkati, dan Ia menanggung kematian demi kita agar kita dapat hidup.

Kasih karunia ini memungkinkan seseorang yang memiliki kekayaan untuk hidup sedemikian rupa sehingga kekayaannya akan mendorong orang lain ke posisi yang lebih tinggi. Bahkan jika seseorang bersedia mengambil tempat kedua dan melepaskan hak istimewanya untuk hidup dalam kemewahan, ia dapat mengangkat orang lain ke tingkat yang lebih tinggi. Sikap inilah yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus, yang sayangnya tidak dimiliki oleh banyak orang kaya.

Dr. Jonathan kemudian menekankan bahwa jenis kasih karunia inilah yang harus kita kembangkan dalam kehidupan kita masing-masing. Beliau mencatat sebuah definisi penting: “Kasih Karunia ini memungkinkan kita melepaskan hak istimewa kita, menyelaraskan kembali hidup kita, sehingga kita dapat meningkatkan kualitas hidup orang lain.”.

Menurut Dr. Jonathan, tindakan ini adalah salah satu yang terbaik yang dapat kita lakukan. Meskipun kita memiliki hak istimewa untuk hidup mewah, kita harus siap untuk melepaskan diri dari kelebihan tersebut agar dapat menggunakannya untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain. Beliau memberikan contoh tentang uang yang disia-siakan, namun mengklarifikasi bahwa liburan yang bertujuan mempererat ikatan keluarga bukanlah pemborosan. Demikian pula, membeli mobil yang lebih mahal demi keselamatan keluarga juga bukanlah pemborosan. Pemborosan yang sebenarnya adalah penggunaan berlebihan yang tidak membawa manfaat bagi orang lain.

Intinya adalah kemampuan untuk memanfaatkan semua kelebihan yang kita miliki dengan menyelaraskan kembali hidup kita, sehingga kita mengumpulkan lebih banyak sumber daya untuk diberikan kepada orang lain demi meningkatkan kualitas hidup mereka. Kehidupan seseorang dapat menjadi lebih baik karena penyelarasan sumber daya yang kita lakukan, menciptakan kelimpahan untuk dibagikan.

Halaman 2

Dr. Jonathan menekankan bahwa kasih karunia ini adalah karakteristik Tuhan Yesus Kristus, yang datang bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk kita. Semua yang Dia lakukan – ditinggalkan, disingkirkan, menderita, dan mati di kayu salib – adalah demi kita. Mentalitas inilah yang seharusnya kita miliki.

Identifikasi empat poin penting mengenai kasih karunia ini:

  1. Kasih karunia ini berlimpah dalam pemberian dan dukungan orang-orang kudus.. Ini berarti bahwa ketika kasih karunia ini bekerja, akan ada kelimpahan dalam memberikan sumber daya dan dukungan bagi sesama umat Tuhan.

  2. Itu membuktikan ketulusan kasih kita kepada saudara-saudara kita.. Kesediaan untuk berusaha keras agar orang lain dapat naik lebih tinggi adalah bukti nyata dari kasih yang tulus kepada sesama.

  3. Kasih Karunia ini menyatakan sifat dasar Yesus di dalam kita.. Dengan memiliki dan mempraktikkan kasih karunia untuk memberi, kita mencerminkan karakter Kristus.

  4. Kasih Karunia ini akan menyempurnakan spirit/roh kemurahan hati yang sejati.. Dr. Jonathan menjelaskan bahwa kemurahan hati yang sejati tidak hanya sekedar memberi uang dari kelimpahan. Lebih dari itu, ia melibatkan penyelarasan hidup, menyingkirkan kemewahan, kesenangan, dan pemanjaan diri agar kita dapat menyederhanakan hidup dan hidup dengan kapasitas minimum, seperti seorang misionaris. Tujuannya adalah agar penyelarasan hidup kita benar-benar membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Dr. Jonathan memberikan contoh pribadi tentang bagaimana beliau menyelaraskan hidupnya, seperti mengurangi menonton televisi dan menghindari pengaruh negatif agar dapat memberikan yang terbaik bagi orang lain. Beliau juga mencontohkan tentang kesukaannya pada jus mangga, namun menahan diri untuk tidak mengkonsumsinya terlalu banyak agar tidak mengganggu kemampuannya untuk berfungsi dengan baik. Tindakan menahan diri ini, meskipun beliau menyukainya, adalah demi orang lain, agar beliau dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya – inilah spirit kemurahan hati.

Beliau juga memberikan contoh lain, seperti mempertimbangkan untuk beralih dari kelas bisnis ke kelas ekonomi untuk perjalanan yang kurang dari 10 jam, bukan karena kekurangan uang, tetapi agar uang tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan lain atau orang lain. Tindakan menanggung tekanan pada diri sendiri demi memberikan kesukaan hati pada kehidupan orang lain adalah inti dari spirit kemurahan hati, yang juga merupakan tujuan hidup kita dan tujuan Kristus datang.

Dr. Jonathan mengingatkan kembali tentang perkataan Yesus di kayu salib, bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk kita semua. Segala sesuatu yang Yesus lakukan adalah untuk orang lain, dan inilah yang menjadikannya Anak yang dikasihi Allah.

Halaman 3

Dr. Jonathan kemudian melanjutkan dengan tiga poin penting lainnya mengenai kasih karunia untuk memberi:

  1. Kasih Karunia ini terlihat dalam kerinduan untuk menjadi penyedia benih dan sumber daya.. Kasih karunia ini memunculkan keinginan yang kuat untuk menyediakan apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

  2. Kasih Karunia ini memiliki kuasa untuk membawa kerinduan sampai terwujud.. Kerinduan untuk memberi dan membantu orang lain, yang ditanamkan oleh kasih karunia ini, memiliki kekuatan untuk menjadi kenyataan.

  3. Kasih Karunia ini akan mendatangkan penyetaraan keuangan dalam komunitas/masyarakat.. Ketika kita memberi kepada orang lain saat kita memiliki, dengan harapan bahwa ketika mereka memiliki, mereka juga dapat memberi kepada kita, ini akan menghasilkan keseimbangan finansial dalam komunitas.


2Kor 8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 2  Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 3  Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 4  Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. 5  Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.

Dr. Jonathan kemudian mengajak untuk membaca 2 Korintus pasal 8 untuk memahami lebih lanjut tentang kasih karunia ini. Beliau memulai dengan 2 Korintus 8:1, yang berbicara tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Beliau menekankan bahwa ini adalah kasih karunia yang sama yang ada pada Tuhan Yesus, sekarang diberikan kepada gereja-gereja di Makedonia.

Ayat 2-5 menggambarkan bagaimana jemaat-jemaat di Makedonia, meskipun dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan dan sangat miskin, namun kaya dalam kemurahan dan memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Mereka juga dengan kerelaan sendiri meminta dan mendesak agar mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Bahkan, mereka memberikan lebih banyak dari yang diharapkan dan memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada para rasul.

Dr. Jonathan menyoroti ayat 4, di mana jemaat Makedonia meminta untuk beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Ini menunjukkan bahwa mereka melihat memberi sebagai sebuah hak istimewa.

Selanjutnya, ayat 6-7 mencatat bagaimana Paulus mendesak Titus untuk menyelesaikan pelayanan kasih yang telah dimulainya di antara jemaat di Korintus. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, yang kaya dalam segala sesuatu, untuk juga menjadi kaya dalam pelayanan kasih ini.

Dr. Jonathan menjelaskan bahwa kasih karunia untuk memberi harus dikembangkan dalam kehidupan kita agar dukungan kita kepada orang lain dapat menjadi kenyataan dan berlimpah di dalam gereja. Kasih karunia ini mulai berkembang di Makedonia ketika Titus, sebagai seseorang yang dipakai Tuhan, mulai mengajar dan bekerja dengan mereka. Ini menjadi gerakan Tuhan yang meluas di antara gereja-gereja di Makedonia. Dr. Jonathan bertanya, apa yang akan terjadi jika semua gereja ISAAC mengalami kasih karunia untuk memberi ini? Dukungan bagi orang-orang kudus akan menjadi fenomena yang kuat.

Namun, fenomena ini bukan hanya tentang meningkatkan pemberian kita untuk orang miskin. Lebih dari itu, tujuannya adalah penyetaraan, agar orang kaya dan orang miskin hidup dalam lingkungan yang sama tanpa kekurangan di antara mereka. Apa yang kurang pada yang satu dipenuhi oleh yang lain, di mana yang memiliki memberi kepada yang tidak memiliki sehingga yang tidak memiliki dapat hidup dengan standar hidup yang lebih tinggi.

Halaman 4

2Kor 8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.

Dr. Jonathan merujuk pada 2 Korintus 8:13, yang menyatakan, "Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan". Beliau menjelaskan bahwa ini bukan berarti membiarkan orang lain lepas dari tanggung jawab. Tujuan memberi bukan untuk kesusahan kita sendiri, tetapi untuk penyetaraan, sehingga berkat Tuhan yang kita terima dapat menolong orang lain mencapai tingkatan yang sama dengan kita.

Beliau memberikan ilustrasi tentang perbedaan tingkat kehidupan antara seseorang yang berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang baik dengan keluarga lain yang berada di tingkat yang lebih rendah. Tindakan yang benar bukanlah hanya memberi uang yang membuat mereka tetap miskin, tetapi mengubah keadaan mereka sehingga mereka juga dapat naik ke tingkat berikutnya. Inilah yang gagal dilakukan oleh banyak orang kaya; mereka mungkin memberi, tetapi gagal mengubah keadaan orang-orang yang mereka beri, seringkali demi perasaan menjadi pahlawan. Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi pahlawan, tetapi untuk memastikan bahwa orang lain tidak tetap berada di titik nol, melainkan diangkat ke tingkat berikutnya.

Dr. Jonathan menyinggung kisah Petrus dan Yohanes dengan seorang pengemis di Gerbang Indah (Kisah Para Rasul 3:1-6), di mana mereka mengatakan, "Emas dan perak tidak ada padaku," yang diinterpretasikan Dr. Jonathan sebagai "Emas dan perak tidak berguna bagimu". Memberi perak atau emas tidak akan mengubah keadaan pengemis itu secara permanen; ia akan tetap mengemis. Namun, Petrus dan Yohanes memberikan sesuatu yang dapat mengubah hidupnya secara mendasar: kemampuan untuk bekerja dan tidak perlu mengemis lagi.

Jadi, pekerjaan kita bukanlah hanya membantu orang miskin, tetapi juga mengubah keadaan mereka sehingga kehidupan setiap orang meningkat, seperti yang dilakukan Yesus. Ia menjadi miskin bukan agar kita tetap miskin, tetapi agar kita bisa menjadi kaya – bukan hanya dalam kemewahan, tetapi dalam perubahan keadaan hidup yang menjadi lebih baik, dengan peningkatan kualitas hidup dan pijakan yang lebih tinggi.

Dr. Jonathan mengkritik orang kaya yang gagal mengubah keadaan orang-orang yang mereka beri, seringkali untuk kepentingan diri sendiri. Beliau menekankan bahwa gereja bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan, tetapi tentang penyetaraan hidup, mengangkat orang ke tingkat yang baru sehingga pemberian kita benar-benar meningkatkan cara hidup mereka, bukan hanya memenuhi kebutuhan sesaat.

Beliau juga menyinggung dinamika antara negara-negara yang lebih miskin dan lebih kaya dalam ISAAC, di mana tujuannya bukan agar yang miskin terus bergantung dan meminta, tetapi agar yang kaya dapat berpikir tentang cara mengangkat status hidup mereka. Inilah pekerjaan Roh Kudus yang penuh kasih karunia dalam hati kita. Jika kasih karunia ini tidak ada, kekayaan dapat menyebabkan kita kehilangan rancangan dan tujuan kita, menggunakan posisi kita untuk mempertahankan status quo dan memperlebar jurang antara kaya dan miskin.

Kemampuan untuk menciptakan kesetaraan hidup adalah apa yang membuat seluruh dunia memperhatikan gereja, di mana tidak ada yang berkekurangan. Orang kaya rela melepaskan hak istimewa hidup mewah untuk mengangkat kehidupan saudara-saudara mereka agar mereka juga dapat memiliki pendidikan, pekerjaan, mobil, dan rumah sendiri. Ini berarti menghasilkan sistem ekonomi sosial yang akan mengangkat semua orang, mewujudkan pemerintahan Allah di dalam rumah. Gereja seharusnya memperhatikan orang miskin, janda, dan anak yatimnya sendiri, menjadi pemerintahan mereka sendiri sesuai dengan pemerintahan Kerajaan Allah.

Halaman 5

Dr. Jonathan kembali menekankan pentingnya memahami kasih karunia ini. Kasih karunia ini bukan hanya kuasa untuk memulai, tetapi juga kuasa untuk menyelesaikannya (2 Korintus 8:6). Paulus mengingatkan bahwa apa pun yang telah kita mulai, kita tidak boleh hanya membicarakannya, menginginkannya, atau memulainya tanpa melanjutkannya sampai selesai. Penyelesaian ini penting agar kasih karunia ini terbentuk sepenuhnya dalam hidup kita.

Paulus mengutus Titus untuk menyelesaikan pekerjaan ini di jemaat di Korintus dan membimbing mereka melalui seluruh proses pembangunan sistem ekonomi sosial yang tepat. Mengapa ini penting? Karena ada kelaparan di Yudea, dan melalui kasih karunia ini, gereja-gereja di Makedonia yang lebih dahulu menerimanya dapat membiayai gerakan Tuhan dan kebangkitan di Yudea yang sedang mengalami kemiskinan.

Paulus menjelaskan bahwa pekerjaan kita saat ini bukan hanya untuk memudahkan orang lain, tetapi untuk penyetaraan, sehingga ketika kita memiliki, kita mulai memberi kepada mereka, mengingat bahwa Injil pertama kali datang dari Yudea. Adalah kewajiban kita untuk memastikan bahwa sumber Injil tidak mengering dengan menyediakan apa pun yang dibutuhkan agar mereka dapat terus menyebarkan pesan dari Yerusalem ke seluruh dunia.

Dr. Jonathan mengaitkan hal ini dengan visi pelayanan mereka untuk menyampaikan pesan melalui berbagai media, bukan hanya melalui satu orang berbicara dalam kaset. Mereka ingin pesan kebenaran menyebar luas, menandingi upaya pihak lain yang menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebohongan. Kita harus menginginkan agar Tuhan menggunakan kita dalam segala hal sehingga kasih karunia ini akan terus berlimpah.

Dr. Jonathan kemudian merangkum karakteristik kasih karunia di jemaat Makedonia:

  1. Mereka memiliki kasih karunia untuk memberi..

  2. Mereka memberi di tengah penderitaan.. Meskipun mengalami penderitaan yang berat dan penganiayaan, sukacita mereka meluap dan mereka tetap memberi.

  3. Mereka memberi dengan sukarela dan sukacita..

  4. Mereka memberi dalam kemiskinan mereka.. Mereka rela melepaskan banyak kemewahan dan memilih standar hidup yang lebih rendah, bukan karena kekurangan makanan, tetapi untuk dapat memberi.

  5. Mereka memberi dengan murah hati..

  6. Mereka memberi sesuai dengan kemampuan mereka..

  7. Mereka memberi karena itu adalah suatu keistimewaan.. Mereka bahkan meminta dan mendesak untuk dapat mengambil bagian dalam memberi.

  8. Mereka menyerahkan diri mereka pertama-tama kepada Tuhan..

  9. Mereka memberi diri mereka kepada para rasul.. Ini adalah tingkat pemberian yang lebih tinggi dari sekadar uang.

  10. Mereka memberi ketika mereka melihat contoh yang ada pada Titus..

Kasih karunia yang ada dalam Kristus diteruskan kepada Titus, dan kemudian dilepaskan kepada jemaat Makedonia, yang menerimanya dengan dahsyat sehingga Tuhan menggunakan mereka untuk menyediakan kebutuhan bagi daerah lain yang kekurangan, seperti Yudea yang dilanda kelaparan. Tindakan memberi ini kemudian menjadi sebuah pelayanan.

Dr. Jonathan melanjutkan dengan membahas 2 Korintus 8:15, yang mengutip, "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan". Ini mengarah pada prinsip penyetaraan, bukan hanya secara finansial, tetapi juga dalam keterampilan. Beliau memberikan contoh tentang transfer keterampilan dan bagaimana hal ini dapat meningkatkan standar hidup. Tujuan kita di ISAAC adalah agar apa yang kita ketahui dapat dikomunikasikan dan menjadi pengetahuan bersama, sehingga tidak ada kekurangan dan terjadi penyetaraan di mana-mana, memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk naik lebih tinggi. Inilah yang dilakukan gereja dalam Kisah Para Rasul, di mana tidak ada yang tetap miskin atau berkekurangan.

Prinsip penyetaraan ini berbeda dengan kapitalisme, yang seringkali mempertahankan ketidaksetaraan untuk tujuan kontrol dan manipulasi. Dr. Jonathan menjelaskan bahwa gereja seharusnya berfokus pada memberantas bukan hanya kemiskinan individu dan generasi, tetapi juga kemiskinan sistemik, yaitu kondisi yang diciptakan oleh tata kelola masyarakat yang buruk. Ketika gereja Yesus didirikan, para rasul menerima kasih karunia ini untuk mengubah masyarakat, bukan hanya membangun gedung-gedung besar, tetapi lebih penting lagi, mengubah keadaan orang-orang.

Tujuan pembangunan fisik pun seharusnya untuk memfasilitasi peningkatan taraf hidup jemaat dan memungkinkan lebih banyak orang untuk datang dan diubahkan. Prinsipnya adalah menjaga biaya serendah mungkin agar lebih banyak orang dapat berpartisipasi dan kehidupan mereka dapat diubahkan – inilah yang disebut penyetaraan apostolik, berbeda dengan mentalitas kapitalisme yang hanya mencari keuntungan.

Dr. Jonathan mengakhiri dengan membahas peran Titus dan rekan-rekannya dalam membawa kasih karunia ini dan sumber daya kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 8:16-24). Paulus menekankan pentingnya kesungguhan, kerelaan, dan kehormatan dalam pelayanan kasih ini, serta perlunya menjaga akuntabilitas dan integritas dalam pengelolaan keuangan gereja, baik di hadapan Tuhan maupun manusia. Seluruh aspek memberi adalah pekerjaan yang terhormat, dan kita harus memastikan bahwa kita melakukannya dengan benar dan tepat, melindungi reputasi dan integritas pelayanan. Kasih karunia untuk memberi ini bertujuan untuk meningkatkan standar hidup semua orang, memastikan bahwa daerah-daerah yang lebih miskin tidak lagi tetap miskin melalui dukungan keuangan yang dikelola dengan bijak dan bertanggung jawab oleh para rasul dan pemimpin gereja.




Postingan populer dari blog ini

Mengikatkan Diri Pada Tuhan Dalam Ikatan Roh

  SATE 24 November 2020 –  Bacalah terlebih dahulu: Roma 1:28, 8:14-17, 6:16-19 Ketika seseorang lahir baru, rohnya menjadi baru karena rohnya bersatu dengan Roh Kudus. Tetapi untuk pikiran (akal budi) harus diperbaharui dari hari ke hari, artinya waktu lahir baru roh kita dibangkitkan sedangkan pikiran kita belum alami pemulihan. Oleh karena itu harus alami pembaharuan dari hari ke hari melalui firman. Sebelum seseorang alami lahir baru, maka rohnya ditawan oleh jiwanya. Sehingga yang dilakukan oleh tubuh adalah segala sesuatu yang sifatnya kedagingan. Kondisi lahir baru tidak serta merta membuat seseorang lantas berubah secara drastis, ada proses yang harus dilalui supaya jiwa dan tubuh pun alami keselamatan dari Allah.   *#1. Mengapa pikiran kita harus alami pembaharuan dari hari ke hari berdasarkan Roma 1:28?*   Unsur JIWA bukanlah langsung berasal dari Allah. Yang langsung dari Allah adalah roh kita. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak itu timb...

The Seed of God and the Character of Abraham (MKS #53)

Khotbah ini membahas proses rohani di mana Allah menabur benih ilahi ke dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan kerajaan-Nya di bumi. Melalui teladan Abraham , dijelaskan bahwa hubungan intim dengan Tuhan dimulai dari panggilan pribadi dan ikatan janji (covenant) yang teguh . Ketaatan mutlak Abraham dalam menjaga ketetapan Allah menjadi dasar bagi Tuhan untuk mempercayakan otoritas-Nya kepada generasi berikutnya. Di sini ditekankan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk memiliki kepribadian yang selaras dengan karakter Allah melalui bimbingan Roh Kudus. Akhirnya, sumber ini menantang umat untuk hidup dalam kesetiaan dan kasih yang radikal agar janji Tuhan dapat tergenapi secara turun-temurun. Ibadah JMD Bandung 6 September 2026 - Manusia Kerajaan Sorga 53 Catatan Khotbah: Manusia Kerajaan Sorga (Bagian 53) Pelayanan: GPK JMD Bandung, Ps. Djonny Tambunan Tanggal: 6 September 2026 1. Landasan Rencana Agung Allah & Benih Sejati Keturunan Raja-Raja: Allah menetapk...

Membangun Sion Membentuk Ulang Kota - oleh Dr. Jonathan David

Ringkasan Khotbah: "Membangun Sion Membentuk Ulang Kota"  16082022  the Upper Room Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.  Yeremia 3:14   Khotbah ini membahas visi tentang pembangunan kembali Sion sebagai inti dari pemulihan kota dan kehidupan umat Tuhan. Dr. Jonathan David menguraikan bagaimana Tuhan sedang bergerak secara aktif untuk membangun Sion, yang bukan hanya sekadar tempat, melainkan juga sebuah dimensi rohani di mana kehadiran, kuasa, dan otoritas Allah termanifestasi. Khotbah dimulai dengan penekanan pada pentingnya mendengar suara Tuhan dan mengasihi kebenaran-Nya. Dr. Jonathan David menyatakan bahwa tanpa kedua hal ini, akan ada kekacauan. Ia juga menekankan tentang karunia-karunia Roh Kudus yang diperlukan, seperti pewahyuan, pengertian, dan hikmat  untuk dapat menge...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

MASUK PADA MASA PENGGENAPAN FIRMAN

Kita adalah generasi yang masuk pada masa penggenapan firman. Namun walau pun sudah mendapatkan banyak perkataan Tuhan, penglihatan, nubuatan dan seterusnya, tetap saja seringkali kita merasa bingung, buntu bahkan sebagian orang menjadi tidak percaya, banyak mengeluh, bersungut-sungut dan undur. Penyebabnya adalah karena kita fokus pada persoalan dan terpengaruh keadaan, hal-hal yang sifatnya natural. Demikian halnya dengan Yosua ketika ia memandangi tembok Yerikho, setelah bangsa Israel telah menyeberang sungai Yordan, di seberang Yerikho.

BELAJAR DARI GEREJA EFESUS

Salah satu gereja yang dibangun rasul Paulus dari awalnya adalah jemaat Efesus. Gereja Efesus menjadi gereja yang perkembangannya sangat fenomenal, karena dalam beberapa tahun dilatih oleh rasul Paulus mereka telah memberikan dampak kepada kota Efesus dan firman tersebar di Asia .

The Seed of Succession and the Power of Destiny (UR #240)

Ini merupakan materi pengajaran dari Dr. Jonathan David mengenai prinsip suksesi kepemimpinan spiritual yang berfokus pada konsep benih ilahi dalam diri manusia. Penulis menekankan bahwa masa depan dan kekuatan seseorang ditentukan oleh Kristus sebagai benih yang dibawa, yang memberikan ketangguhan untuk mengatasi segala trauma masa lalu maupun serangan musuh. Beliau menguraikan kriteria kehidupan yang layak direproduksi, yakni pribadi yang berpusat pada salib , memiliki karakter yang baik , serta dipenuhi oleh Roh Kudus . Selain itu, terdapat peringatan tegas untuk menghentikan pelatihan bagi individu yang menunjukkan sikap keras hati, tidak taat, dan suka mengkritik . Secara keseluruhan, dokumen ini berfungsi sebagai panduan praktis untuk membangun generasi pemimpin baru yang memiliki integritas moral dan ketundukan penuh pada firman Tuhan . 14 07 2026 DR JONATHAN DAVID, SUKSESI KEPEMIMPINAN (BAGIAN 3) Catatan Khotbah: Suksesi Kepemimpinan (Bagian 3) Sesi: The Upper Room 240 (1...

ROMA 15:1-7

MENANGGUNG KELEMAHAN ORANG YANG TIDAK KUAT 15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku." 15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. 15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemulia...

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Conquering the Mountains of Governance and Political (UR #237)

Khotbah  Dr. Tunde Bakare dalam acara ISC 2025 membahas peran strategis orang percaya di gunung politik dan pemerintahan . Beliau menekankan pentingnya memiliki pola atau cetak biru ilahi serta karakter yang murni sebelum terlibat dalam kepemimpinan publik agar tidak tercemar oleh sistem dunia. Melalui berbagai rujukan Alkitab, ia menjelaskan bahwa Tuhan akan membangkitkan pemimpin-pemimpin profetik untuk menggantikan sistem yang korup dan menindas rakyat. Bakare juga membagikan pengalaman pribadinya di Nigeria tentang bagaimana kekuatan doa dan nubuat mampu mempengaruhi arah politik nasional serta menentang rezim yang tidak adil. Inti dari pesan ini adalah panggilan bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berani merebut kembali pengaruh di berbagai bidang budaya demi kesejahteraan bangsa. Narasi ini ditutup dengan penegasan bahwa kepemimpinan yang takut akan Tuhan adalah kunci utama yang membedakan kemajuan suatu negara dari keterpurukannya. Berikut adalah c...