Langsung ke konten utama

The Grace of Giving (Part 1)

"Kasih Karunia untuk Memberi" bagian 1 oleh Dr. Jonathan David 

Upper Room 183 – 25 Maret 2025

Khotbah ini membahas konsep kasih karunia dalam konteks memberi, terutama dalam komunitas Kristen, dengan merujuk pada 2 Korintus 8. Inti pembahasannya adalah bagaimana kasih karunia memampukan orang untuk melepaskan hak istimewa demi meningkatkan kualitas hidup orang lain, mencontohkan Kristus dan jemaat Makedonia. Memberi yang sejati bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang penyelarasan hidup dan sumber daya untuk menciptakan kesetaraan dan memberdayakan orang lain, sehingga kemiskinan sistemik dapat diatasi dan standar hidup meningkat secara keseluruhan dalam komunitas. Terakhir, pentingnya pengelolaan sumber daya yang terhormat dan bertanggung jawab dalam pelayanan kasih juga ditekankan.


Catatan ringkas dan poin-poin penting

Halaman 1

Dr. Jonathan David kasih karunia untuk memberi ini sangat penting bagi seorang pebisnis dan bagi komunitas gereja. Beliau memulai dengan merujuk pada 2 Korintus 8:9, yang menyatakan, "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya".

Ayat ini menjadi landasan utama pembahasan tentang kasih karunia untuk memberi. Dr. Jonathan menjelaskan bahwa kasih karunia Tuhan Yesus Kristus adalah bahwa meskipun Ia kaya, Ia menjadi miskin demi kita, sehingga melalui kemiskinan-Nya, perbuatan-Nya, tindakan-Nya, dan kerelaan-Nya untuk memiliki lebih sedikit, kita dapat menjadi kaya. Beliau menegaskan bahwa inilah kasih karunia untuk membuat orang lain kaya.

Lebih lanjut, Dr. Jonathan menyatakan bahwa kasih karunia ini harus diberikan kepada kita agar kita memiliki kemampuan untuk membuat orang lain kaya. Cara hidup kita seharusnya menjadi saluran sumber daya untuk mengangkat orang lain dari keadaan mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Inilah kasih karunia yang ada dalam diri Tuhan Yesus Kristus: Ia menjadi miskin agar kita menjadi kaya, Ia menjadi terkutuk agar kita diberkati, dan Ia menanggung kematian demi kita agar kita dapat hidup.

Kasih karunia ini memungkinkan seseorang yang memiliki kekayaan untuk hidup sedemikian rupa sehingga kekayaannya akan mendorong orang lain ke posisi yang lebih tinggi. Bahkan jika seseorang bersedia mengambil tempat kedua dan melepaskan hak istimewanya untuk hidup dalam kemewahan, ia dapat mengangkat orang lain ke tingkat yang lebih tinggi. Sikap inilah yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus, yang sayangnya tidak dimiliki oleh banyak orang kaya.

Dr. Jonathan kemudian menekankan bahwa jenis kasih karunia inilah yang harus kita kembangkan dalam kehidupan kita masing-masing. Beliau mencatat sebuah definisi penting: “Kasih Karunia ini memungkinkan kita melepaskan hak istimewa kita, menyelaraskan kembali hidup kita, sehingga kita dapat meningkatkan kualitas hidup orang lain.”.

Menurut Dr. Jonathan, tindakan ini adalah salah satu yang terbaik yang dapat kita lakukan. Meskipun kita memiliki hak istimewa untuk hidup mewah, kita harus siap untuk melepaskan diri dari kelebihan tersebut agar dapat menggunakannya untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain. Beliau memberikan contoh tentang uang yang disia-siakan, namun mengklarifikasi bahwa liburan yang bertujuan mempererat ikatan keluarga bukanlah pemborosan. Demikian pula, membeli mobil yang lebih mahal demi keselamatan keluarga juga bukanlah pemborosan. Pemborosan yang sebenarnya adalah penggunaan berlebihan yang tidak membawa manfaat bagi orang lain.

Intinya adalah kemampuan untuk memanfaatkan semua kelebihan yang kita miliki dengan menyelaraskan kembali hidup kita, sehingga kita mengumpulkan lebih banyak sumber daya untuk diberikan kepada orang lain demi meningkatkan kualitas hidup mereka. Kehidupan seseorang dapat menjadi lebih baik karena penyelarasan sumber daya yang kita lakukan, menciptakan kelimpahan untuk dibagikan.

Halaman 2

Dr. Jonathan menekankan bahwa kasih karunia ini adalah karakteristik Tuhan Yesus Kristus, yang datang bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk kita. Semua yang Dia lakukan – ditinggalkan, disingkirkan, menderita, dan mati di kayu salib – adalah demi kita. Mentalitas inilah yang seharusnya kita miliki.

Identifikasi empat poin penting mengenai kasih karunia ini:

  1. Kasih karunia ini berlimpah dalam pemberian dan dukungan orang-orang kudus.. Ini berarti bahwa ketika kasih karunia ini bekerja, akan ada kelimpahan dalam memberikan sumber daya dan dukungan bagi sesama umat Tuhan.

  2. Itu membuktikan ketulusan kasih kita kepada saudara-saudara kita.. Kesediaan untuk berusaha keras agar orang lain dapat naik lebih tinggi adalah bukti nyata dari kasih yang tulus kepada sesama.

  3. Kasih Karunia ini menyatakan sifat dasar Yesus di dalam kita.. Dengan memiliki dan mempraktikkan kasih karunia untuk memberi, kita mencerminkan karakter Kristus.

  4. Kasih Karunia ini akan menyempurnakan spirit/roh kemurahan hati yang sejati.. Dr. Jonathan menjelaskan bahwa kemurahan hati yang sejati tidak hanya sekedar memberi uang dari kelimpahan. Lebih dari itu, ia melibatkan penyelarasan hidup, menyingkirkan kemewahan, kesenangan, dan pemanjaan diri agar kita dapat menyederhanakan hidup dan hidup dengan kapasitas minimum, seperti seorang misionaris. Tujuannya adalah agar penyelarasan hidup kita benar-benar membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Dr. Jonathan memberikan contoh pribadi tentang bagaimana beliau menyelaraskan hidupnya, seperti mengurangi menonton televisi dan menghindari pengaruh negatif agar dapat memberikan yang terbaik bagi orang lain. Beliau juga mencontohkan tentang kesukaannya pada jus mangga, namun menahan diri untuk tidak mengkonsumsinya terlalu banyak agar tidak mengganggu kemampuannya untuk berfungsi dengan baik. Tindakan menahan diri ini, meskipun beliau menyukainya, adalah demi orang lain, agar beliau dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya – inilah spirit kemurahan hati.

Beliau juga memberikan contoh lain, seperti mempertimbangkan untuk beralih dari kelas bisnis ke kelas ekonomi untuk perjalanan yang kurang dari 10 jam, bukan karena kekurangan uang, tetapi agar uang tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan lain atau orang lain. Tindakan menanggung tekanan pada diri sendiri demi memberikan kesukaan hati pada kehidupan orang lain adalah inti dari spirit kemurahan hati, yang juga merupakan tujuan hidup kita dan tujuan Kristus datang.

Dr. Jonathan mengingatkan kembali tentang perkataan Yesus di kayu salib, bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi untuk kita semua. Segala sesuatu yang Yesus lakukan adalah untuk orang lain, dan inilah yang menjadikannya Anak yang dikasihi Allah.

Halaman 3

Dr. Jonathan kemudian melanjutkan dengan tiga poin penting lainnya mengenai kasih karunia untuk memberi:

  1. Kasih Karunia ini terlihat dalam kerinduan untuk menjadi penyedia benih dan sumber daya.. Kasih karunia ini memunculkan keinginan yang kuat untuk menyediakan apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

  2. Kasih Karunia ini memiliki kuasa untuk membawa kerinduan sampai terwujud.. Kerinduan untuk memberi dan membantu orang lain, yang ditanamkan oleh kasih karunia ini, memiliki kekuatan untuk menjadi kenyataan.

  3. Kasih Karunia ini akan mendatangkan penyetaraan keuangan dalam komunitas/masyarakat.. Ketika kita memberi kepada orang lain saat kita memiliki, dengan harapan bahwa ketika mereka memiliki, mereka juga dapat memberi kepada kita, ini akan menghasilkan keseimbangan finansial dalam komunitas.


2Kor 8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 2  Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 3  Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 4  Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. 5  Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.

Dr. Jonathan kemudian mengajak untuk membaca 2 Korintus pasal 8 untuk memahami lebih lanjut tentang kasih karunia ini. Beliau memulai dengan 2 Korintus 8:1, yang berbicara tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Beliau menekankan bahwa ini adalah kasih karunia yang sama yang ada pada Tuhan Yesus, sekarang diberikan kepada gereja-gereja di Makedonia.

Ayat 2-5 menggambarkan bagaimana jemaat-jemaat di Makedonia, meskipun dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan dan sangat miskin, namun kaya dalam kemurahan dan memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Mereka juga dengan kerelaan sendiri meminta dan mendesak agar mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Bahkan, mereka memberikan lebih banyak dari yang diharapkan dan memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada para rasul.

Dr. Jonathan menyoroti ayat 4, di mana jemaat Makedonia meminta untuk beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Ini menunjukkan bahwa mereka melihat memberi sebagai sebuah hak istimewa.

Selanjutnya, ayat 6-7 mencatat bagaimana Paulus mendesak Titus untuk menyelesaikan pelayanan kasih yang telah dimulainya di antara jemaat di Korintus. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, yang kaya dalam segala sesuatu, untuk juga menjadi kaya dalam pelayanan kasih ini.

Dr. Jonathan menjelaskan bahwa kasih karunia untuk memberi harus dikembangkan dalam kehidupan kita agar dukungan kita kepada orang lain dapat menjadi kenyataan dan berlimpah di dalam gereja. Kasih karunia ini mulai berkembang di Makedonia ketika Titus, sebagai seseorang yang dipakai Tuhan, mulai mengajar dan bekerja dengan mereka. Ini menjadi gerakan Tuhan yang meluas di antara gereja-gereja di Makedonia. Dr. Jonathan bertanya, apa yang akan terjadi jika semua gereja ISAAC mengalami kasih karunia untuk memberi ini? Dukungan bagi orang-orang kudus akan menjadi fenomena yang kuat.

Namun, fenomena ini bukan hanya tentang meningkatkan pemberian kita untuk orang miskin. Lebih dari itu, tujuannya adalah penyetaraan, agar orang kaya dan orang miskin hidup dalam lingkungan yang sama tanpa kekurangan di antara mereka. Apa yang kurang pada yang satu dipenuhi oleh yang lain, di mana yang memiliki memberi kepada yang tidak memiliki sehingga yang tidak memiliki dapat hidup dengan standar hidup yang lebih tinggi.

Halaman 4

2Kor 8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.

Dr. Jonathan merujuk pada 2 Korintus 8:13, yang menyatakan, "Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan". Beliau menjelaskan bahwa ini bukan berarti membiarkan orang lain lepas dari tanggung jawab. Tujuan memberi bukan untuk kesusahan kita sendiri, tetapi untuk penyetaraan, sehingga berkat Tuhan yang kita terima dapat menolong orang lain mencapai tingkatan yang sama dengan kita.

Beliau memberikan ilustrasi tentang perbedaan tingkat kehidupan antara seseorang yang berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang baik dengan keluarga lain yang berada di tingkat yang lebih rendah. Tindakan yang benar bukanlah hanya memberi uang yang membuat mereka tetap miskin, tetapi mengubah keadaan mereka sehingga mereka juga dapat naik ke tingkat berikutnya. Inilah yang gagal dilakukan oleh banyak orang kaya; mereka mungkin memberi, tetapi gagal mengubah keadaan orang-orang yang mereka beri, seringkali demi perasaan menjadi pahlawan. Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi pahlawan, tetapi untuk memastikan bahwa orang lain tidak tetap berada di titik nol, melainkan diangkat ke tingkat berikutnya.

Dr. Jonathan menyinggung kisah Petrus dan Yohanes dengan seorang pengemis di Gerbang Indah (Kisah Para Rasul 3:1-6), di mana mereka mengatakan, "Emas dan perak tidak ada padaku," yang diinterpretasikan Dr. Jonathan sebagai "Emas dan perak tidak berguna bagimu". Memberi perak atau emas tidak akan mengubah keadaan pengemis itu secara permanen; ia akan tetap mengemis. Namun, Petrus dan Yohanes memberikan sesuatu yang dapat mengubah hidupnya secara mendasar: kemampuan untuk bekerja dan tidak perlu mengemis lagi.

Jadi, pekerjaan kita bukanlah hanya membantu orang miskin, tetapi juga mengubah keadaan mereka sehingga kehidupan setiap orang meningkat, seperti yang dilakukan Yesus. Ia menjadi miskin bukan agar kita tetap miskin, tetapi agar kita bisa menjadi kaya – bukan hanya dalam kemewahan, tetapi dalam perubahan keadaan hidup yang menjadi lebih baik, dengan peningkatan kualitas hidup dan pijakan yang lebih tinggi.

Dr. Jonathan mengkritik orang kaya yang gagal mengubah keadaan orang-orang yang mereka beri, seringkali untuk kepentingan diri sendiri. Beliau menekankan bahwa gereja bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan, tetapi tentang penyetaraan hidup, mengangkat orang ke tingkat yang baru sehingga pemberian kita benar-benar meningkatkan cara hidup mereka, bukan hanya memenuhi kebutuhan sesaat.

Beliau juga menyinggung dinamika antara negara-negara yang lebih miskin dan lebih kaya dalam ISAAC, di mana tujuannya bukan agar yang miskin terus bergantung dan meminta, tetapi agar yang kaya dapat berpikir tentang cara mengangkat status hidup mereka. Inilah pekerjaan Roh Kudus yang penuh kasih karunia dalam hati kita. Jika kasih karunia ini tidak ada, kekayaan dapat menyebabkan kita kehilangan rancangan dan tujuan kita, menggunakan posisi kita untuk mempertahankan status quo dan memperlebar jurang antara kaya dan miskin.

Kemampuan untuk menciptakan kesetaraan hidup adalah apa yang membuat seluruh dunia memperhatikan gereja, di mana tidak ada yang berkekurangan. Orang kaya rela melepaskan hak istimewa hidup mewah untuk mengangkat kehidupan saudara-saudara mereka agar mereka juga dapat memiliki pendidikan, pekerjaan, mobil, dan rumah sendiri. Ini berarti menghasilkan sistem ekonomi sosial yang akan mengangkat semua orang, mewujudkan pemerintahan Allah di dalam rumah. Gereja seharusnya memperhatikan orang miskin, janda, dan anak yatimnya sendiri, menjadi pemerintahan mereka sendiri sesuai dengan pemerintahan Kerajaan Allah.

Halaman 5

Dr. Jonathan kembali menekankan pentingnya memahami kasih karunia ini. Kasih karunia ini bukan hanya kuasa untuk memulai, tetapi juga kuasa untuk menyelesaikannya (2 Korintus 8:6). Paulus mengingatkan bahwa apa pun yang telah kita mulai, kita tidak boleh hanya membicarakannya, menginginkannya, atau memulainya tanpa melanjutkannya sampai selesai. Penyelesaian ini penting agar kasih karunia ini terbentuk sepenuhnya dalam hidup kita.

Paulus mengutus Titus untuk menyelesaikan pekerjaan ini di jemaat di Korintus dan membimbing mereka melalui seluruh proses pembangunan sistem ekonomi sosial yang tepat. Mengapa ini penting? Karena ada kelaparan di Yudea, dan melalui kasih karunia ini, gereja-gereja di Makedonia yang lebih dahulu menerimanya dapat membiayai gerakan Tuhan dan kebangkitan di Yudea yang sedang mengalami kemiskinan.

Paulus menjelaskan bahwa pekerjaan kita saat ini bukan hanya untuk memudahkan orang lain, tetapi untuk penyetaraan, sehingga ketika kita memiliki, kita mulai memberi kepada mereka, mengingat bahwa Injil pertama kali datang dari Yudea. Adalah kewajiban kita untuk memastikan bahwa sumber Injil tidak mengering dengan menyediakan apa pun yang dibutuhkan agar mereka dapat terus menyebarkan pesan dari Yerusalem ke seluruh dunia.

Dr. Jonathan mengaitkan hal ini dengan visi pelayanan mereka untuk menyampaikan pesan melalui berbagai media, bukan hanya melalui satu orang berbicara dalam kaset. Mereka ingin pesan kebenaran menyebar luas, menandingi upaya pihak lain yang menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebohongan. Kita harus menginginkan agar Tuhan menggunakan kita dalam segala hal sehingga kasih karunia ini akan terus berlimpah.

Dr. Jonathan kemudian merangkum karakteristik kasih karunia di jemaat Makedonia:

  1. Mereka memiliki kasih karunia untuk memberi..

  2. Mereka memberi di tengah penderitaan.. Meskipun mengalami penderitaan yang berat dan penganiayaan, sukacita mereka meluap dan mereka tetap memberi.

  3. Mereka memberi dengan sukarela dan sukacita..

  4. Mereka memberi dalam kemiskinan mereka.. Mereka rela melepaskan banyak kemewahan dan memilih standar hidup yang lebih rendah, bukan karena kekurangan makanan, tetapi untuk dapat memberi.

  5. Mereka memberi dengan murah hati..

  6. Mereka memberi sesuai dengan kemampuan mereka..

  7. Mereka memberi karena itu adalah suatu keistimewaan.. Mereka bahkan meminta dan mendesak untuk dapat mengambil bagian dalam memberi.

  8. Mereka menyerahkan diri mereka pertama-tama kepada Tuhan..

  9. Mereka memberi diri mereka kepada para rasul.. Ini adalah tingkat pemberian yang lebih tinggi dari sekadar uang.

  10. Mereka memberi ketika mereka melihat contoh yang ada pada Titus..

Kasih karunia yang ada dalam Kristus diteruskan kepada Titus, dan kemudian dilepaskan kepada jemaat Makedonia, yang menerimanya dengan dahsyat sehingga Tuhan menggunakan mereka untuk menyediakan kebutuhan bagi daerah lain yang kekurangan, seperti Yudea yang dilanda kelaparan. Tindakan memberi ini kemudian menjadi sebuah pelayanan.

Dr. Jonathan melanjutkan dengan membahas 2 Korintus 8:15, yang mengutip, "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan". Ini mengarah pada prinsip penyetaraan, bukan hanya secara finansial, tetapi juga dalam keterampilan. Beliau memberikan contoh tentang transfer keterampilan dan bagaimana hal ini dapat meningkatkan standar hidup. Tujuan kita di ISAAC adalah agar apa yang kita ketahui dapat dikomunikasikan dan menjadi pengetahuan bersama, sehingga tidak ada kekurangan dan terjadi penyetaraan di mana-mana, memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk naik lebih tinggi. Inilah yang dilakukan gereja dalam Kisah Para Rasul, di mana tidak ada yang tetap miskin atau berkekurangan.

Prinsip penyetaraan ini berbeda dengan kapitalisme, yang seringkali mempertahankan ketidaksetaraan untuk tujuan kontrol dan manipulasi. Dr. Jonathan menjelaskan bahwa gereja seharusnya berfokus pada memberantas bukan hanya kemiskinan individu dan generasi, tetapi juga kemiskinan sistemik, yaitu kondisi yang diciptakan oleh tata kelola masyarakat yang buruk. Ketika gereja Yesus didirikan, para rasul menerima kasih karunia ini untuk mengubah masyarakat, bukan hanya membangun gedung-gedung besar, tetapi lebih penting lagi, mengubah keadaan orang-orang.

Tujuan pembangunan fisik pun seharusnya untuk memfasilitasi peningkatan taraf hidup jemaat dan memungkinkan lebih banyak orang untuk datang dan diubahkan. Prinsipnya adalah menjaga biaya serendah mungkin agar lebih banyak orang dapat berpartisipasi dan kehidupan mereka dapat diubahkan – inilah yang disebut penyetaraan apostolik, berbeda dengan mentalitas kapitalisme yang hanya mencari keuntungan.

Dr. Jonathan mengakhiri dengan membahas peran Titus dan rekan-rekannya dalam membawa kasih karunia ini dan sumber daya kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 8:16-24). Paulus menekankan pentingnya kesungguhan, kerelaan, dan kehormatan dalam pelayanan kasih ini, serta perlunya menjaga akuntabilitas dan integritas dalam pengelolaan keuangan gereja, baik di hadapan Tuhan maupun manusia. Seluruh aspek memberi adalah pekerjaan yang terhormat, dan kita harus memastikan bahwa kita melakukannya dengan benar dan tepat, melindungi reputasi dan integritas pelayanan. Kasih karunia untuk memberi ini bertujuan untuk meningkatkan standar hidup semua orang, memastikan bahwa daerah-daerah yang lebih miskin tidak lagi tetap miskin melalui dukungan keuangan yang dikelola dengan bijak dan bertanggung jawab oleh para rasul dan pemimpin gereja.




Postingan populer dari blog ini

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Kondisi Manusia Pada Zaman Nuh (MKS #12)

Sesi 12 Manusia Kerajaan Sorga ini membahas interpretasi alkitabiah mengenai kemerosotan spiritual umat manusia dari keturunan Set, yang awalnya merupakan pengharapan Tuhan , menjadi fokus pada keinginan kedagingan . Kita mengulas Kitab Kejadian pasal 4 dan 6, membandingkan keturunan Kain yang membangun peradaban tanpa Tuhan dengan keturunan Set, yang disebut anak-anak Allah . Kemunduran ini ditandai dengan anak-anak Allah yang tertarik pada kecantikan lahiriah anak-anak perempuan manusia , yang dianggap sebagai representasi daya tarik daging yang dibangun oleh keturunan Kain. Kejahatan yang meluas dan berkesinambungan ini, di mana Roh Tuhan tidak lagi berguna , memilukan hati Tuhan dan mendorong-Nya untuk memusnahkan segala makhluk hidup melalui air bah, kecuali Nuh dan keluarganya karena Nuh seorang diri didapati benar dan bergaul dengan Allah . Catatan Lengkap Mengenai Kondisi Manusia, Penilaian Allah mengenai keturunan Set, kemunduran rohani manusia, penyesalan Tuhan, dan peng...

Apa Maksudnya dengan CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS?

Kor 5:17        Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Ayat di atas menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Tapi benarkah demikian?   Dan yang lama sudah berlalu? Sebab kata ‘sesungguhnya’ menunjukkan kita belum bisa melihat yang baru itu. Mari kita telaah. Ef 4:24            dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. MANUSIA BARU kita telah   diciptakan menurut kehendak Allah SECARA SEMPURNA di dalam KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA yaitu DI DALAM KRITUS YESUS.   KEBENARAN DAN KEKUDUSAN INI TELAH TERUJI yaitu Yesus sendiri yang dalam rupa-Nya sebagai manusia – TELAH TERBUKTI SUDAH MENGALAHKAN DOSA DAN MAUT. Ef 2:10        ...

Tubuhmu Adalah Bait Roh Kudus

1 Korintus 3:16 (TB)  Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?  Video berjudul "You’ve Heard ‘You Are the Temple of God’ – But This Is What It Really Means" dari saluran Beyond the Veil menjelaskan bahwa konsep tubuh manusia sebagai "Bait Allah" bukan sekadar metafora, melainkan sebuah kebenaran arsitektural, anatomis, dan spiritual yang mendalam. Berikut adalah poin-punen utama yang dijelaskan dalam video tersebut: Paralel Struktur Bait Suci dengan Manusia : Video ini membedah bagaimana tiga bagian utama Bait Suci Sulaiman mencerminkan struktur diri manusia: [ 12:16 ] Pelataran Luar (Tubuh) : Mewakili aspek fisik, tindakan, dan interaksi dengan dunia luar. Sama seperti mezbah di pelataran, tubuh adalah tempat disiplin dan pengabdian fisik dimulai. [ 12:56 ] Tempat Kudus (Jiwa/Pikiran) : Mewakili dunia batin, pikiran, dan emosi. Di sini terdapat kandil (kesadaran), roti pertunjukan (nutrisi batin/hikmat), dan mezbah ...

Lahir Baru Titik Awal Perjalanan Rohani Kita

  SATE 28 September 2020 – **   Bacalah terlebih dahulu : Yohanes 3:1-15 Cara Allah bekerja untuk memperbaharui manusia adalah melalui Lahir baru. Ini merupakan pijakan / tindakan awal Allah dalam diri manusia untuk melakukan pembaharuan, Ini merupakan kepastian atau keyakinan agar manusia dapat mengerjakan rencana Allah semasa hidup manusia. Ini juga merupakan langkah manusia untuk menerima kehidupan Tuhan sehingga Allah mulai bekerja dalam hidup manusia. Manusia harus mengalami dua kali kelahiran! Yaitu roh dan daging, daging pada saat manusia keluar dari kandungan ibu, tetapi itu belum cukup. Manusia harus lahir lagi dari roh, yaitu dari proses lahir baru. Artinya manusia bisa mengoperasikan dua kehidupan, setelah proses ini berarti roh mempunyai kekuatan untuk dapat menarik turun SEMUA kehidupan Allah.   *#1. Apakah yang harus dilakukan setelah kalian mengalami lahir baru?*   Kita harus terus terbuka di hadapan Allah, bersedia untuk dikoreksi, diselaraskan hidup ...

Rumah Rohani

POLA   RUMAH   ROHANI Ps. Ir. Djonny Tambunan Sekaranglah waktunya, apa yang pernah saudara terima perkataan Tuhan itu, janji Tuhan, nubuatan itu, maka kita akan menerimanya, kita akan menikmatinya dan kita akan menggenapinya. Jangan lihat ke belakang. Tuhan berkata: Apa yang Ku firmankan akan Ku genapi segera dengan sempurna. Kapan kita siap? Selama kita tidak siap tidak akan tergenapi. Kalo kita mengambil sikap seperti binatang-binatang yang masuk ke dalam bahterah Nuh, maka kita akan masuk. Nuh hanya menyediakan satu jenis makanan bagi semua binatang. Semua orang yang mengambil sikap seperti Ishak itulah yang akan menerima warisan.   Harta yang berharga tidak diberikan kepada mereka yang bersikap seperti anjing dan babi. Apa yang membuat kita masuk atau tidak adalah keputusan kita sendiri, sikap kita sendiri. Jangan minta waktu, karena waktu tidak bisa mengubah saudara , tapi apa merubah kita adalah keputusan kita. Lupakan yang di belakangmu, apakah...

PERLUNYA TERUS MENGALAMI UPGRADE DAN UPDATE

PAULUS DI YERUSALEM KPR 21:15-26 Hukum Taurat, sunat dan keimamatan Lewi/Harun telah menjadi budaya dan adat-istiadat yang melekat pada orang Israel ribuan tahun lamanya. Tanpa mereka dan kita mengalami upgrade dan update dengan memperbarui pikiran dan akal-budi, sulit untuk melepaskan kebiasaan dan adat-istiadat tersebut.

Pemahaman Konsep "Ikat Janji" dan "Perjanjian" untuk Menerima warisan dan Berkat

  Birth of Isaac: gospelimages.com Ayat Renungan: Ulangan 8:17-18: Kekayaan dan kemampuan yang kita miliki berasal dari Allah. Tujuan Allah memberikan kekuatan untuk mendapatkan kekayaan adalah untuk menggenapi "ikat janji"-Nya dengan Abraham, bukan karena kemampuan kita sendiri.   1 Tawarikh 16:15: Ikat janji Allah bersifat kekal dan berlaku "sampai seribu angkatan", yang dalam pemahaman Ibrani berarti tidak terbatas atau tak terhingga. Ini menegaskan bahwa "ikat janji" bukan sesuatu yang kadaluarsa atau dibatasi waktu.   Galatia 3:7, 9, 14, 29: Orang yang hidup oleh iman adalah anak-anak Abraham. Berkat Abraham dapat diterima oleh bangsa-bangsa lain melalui Yesus Kristus. Orang yang menjadi milik Kristus adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.   Ada perbedaan antara "ikat janji" (secara korporat) dan "perjanjian" (janji secara individu). Allah lah yang berinisiatif mengadakan ikat-janji. Sebelum iman ...

Hukum Allah yang Tak Tertulis dan Kekekalan Zoe (MKS#11)

Khotbah berfokus pada analisis mendalam tentang kisah Kain dan Habel dari Kitab Kejadian, menekankan pentingnya hikmat Allah dan perkenanan-Nya atas persembahan. Pembicara menggunakan kisah tersebut untuk menjelaskan bahwa persembahan Habel diterima karena iman dan sesuai dengan hukum Tuhan, yang disiratkan sebelum Taurat tertulis. Lebih lanjut, dibahas bagaimana Kain berasal dari si jahat dan bagaimana usahanya untuk menghentikan rencana ilahi gagal, yang kemudian diganti dengan kelahiran Set. Akhirnya, ditutup dengan peringatan untuk tidak mengandalkan pemahaman sendiri tetapi pada hikmat Allah, sambil mengaitkan narasi kuno ini dengan tantangan kehidupan modern dan sudut pandang Iblis mengenai akhir zaman. Catatan ini disusun berdasarkan ulasan dan pengajaran, khususnya mengenai kisah Kain dan Habel, hukum Allah, strategi Iblis, dan konsep hidup ilahi ( Zoe ). I. Kelanjutan Pengajaran dan Doa Awal Pengajaran ini melanjutkan pembahasan sesi sebelumnya mengenai sudut pandang ibl...

BAGAIMANA KITA BISA MASUK DALAM ALAM KEMUSTAHILAN

BAGAIMANA KITA BISA MASUK DALAM ALAM KEMUSTAHILAN  Bagian 1 Ps. Ir.  Yappy Widjaya 16Feb14 LUK AS 1:36-38 (Luk 1:36)   Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. (Luk 1:37)   Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Luk 1:38)   Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Hal yang tidak mungkin adalah dimensinya Tuhan. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Semua agama mempercayai hal itu. Ketika Abraham sudah berusia 99 tahun Allah berbicara, tahun depan Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki. Sara tertawa. Tapi Allah berkata tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Markus 9:21 (Mar 9:21)   Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya. (Mar 9:22)...