Hati yang Teguh: Kesetiaan Seorang Pengantin pada Cinta Sejatinya
Pendahuluan
Kidung Agung mengilustrasikan hubungan antara Kristus dan gereja. Dianalogikan dengan wanita Sunem (atau gadis Sulam) sebagai mempelai Kristus yang setia. Jemaat dapat berdiri teguh sebagai gereja yang diharapkan Tuhan seperti yang ditunjukkan oleh wanita Sunem.
Kid 1:9 — Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku. 10 Moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung. 11 Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak. 12 — Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku.
Figur Wanita Sunem dalam Pandangan Raja Salomo
Raja Salomo mengumpamakan wanita Sunem seperti kuda betina dari kereta-kereta Firaun. Dasarnya adalah hubungan Salomo dengan Firaun (mertuanya) dan kekagumannya pada kuda-kuda Mesir. Kuda-kuda betina ini melambangkan kemolekan, kemuliaan, dan keindahan sang pengantin. Harga kuda-kuda ini sangat mahal, menunjukkan nilai tinggi wanita Sunem di mata Salomo.
Salomo juga memuji pipinya di tengah-tengah perhiasan dan lehernya di tengah kalung-kalung.
Terdapat kontradiksi antara kekaguman Salomo pada kecantikan alami wanita Sunem dan keinginannya untuk menambahkan perhiasan emas dan manik-manik perak. Ini menimbulkan pertanyaan apakah kecantikan lahiriah perlu ditambahkan jika sudah ada keindahan batiniah. Kecantikan sejati berasal dari manusia batiniah yang tersembunyi (1 Petrus 3:3-4).
1Ptr 3:3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.
Respon dan Pemikiran Wanita Sunem
Kid 1:13 Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku. 14 Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi.
Meskipun Salomo memujinya dan mempersiapkannya layaknya seorang ratu, hati wanita Sunem tetap tertuju kepada "kekasihnya," sang Gembala.
Ungkapannya:
"Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus Mur tersisip di antara Buah dadaku".
"Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi".
Simbolisme dan Makna
Kuda betina yang mahal harganya melambangkan penebusan dengan harga yang mahal, seperti penebusan orang percaya oleh darah Kristus.
Mungkin inilah yang mirip yang dialami oleh raja Salomo ketika dia menikah lalu dia membandingkan bahwa kuda-kuda Firaun (mertuanya). Ini memberikan keanggunan kemolekan kemuliaan martabat bagi sang pengantin. Raja Salomo berusaha untuk menggeser pikirannya wanita Sunem ini kepada Hari perkawinannya dengan dirinya padahal ini dalam suasana masih dibujuk-bujuk dan dipuji-puji.
Harga Penebusan:
1 Petrus 1:18-19 menekankan bahwa umat tebus bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan darah Kristus.
Hari perkawinan melambangkan perkawinan Anak Domba dengan gereja.
Minyak Narwastu yang mahal dan harum, seperti yang dipakai Maria untuk meminyaki kaki Yesus, melambangkan pengakuan Yesus sebagai Raja yang Agung.
Mur memiliki beberapa makna:
Campuran untuk minyak urapan kudus, melambangkan pengurapan Roh Kudus.
Persembahan mahal saat kelahiran Yesus, kembali menunjukkan keagungan Raja.
Dipakai untuk membalsam mayat Yesus, melambangkan penghormatan bagi Raja dan orang penting.
Bagi wanita Sunem, "sebungkus Mur di antara buah dada" melambangkan kekasihnya (sang Gembala) sebagai Raja yang agung dalam hatinya.
Bunga pacar di kebun anggur Engedi (daerah yang langka kebun anggurnya) melambangkan sesuatu yang langka dan tidak ada duanya, menunjukkan keunikan dan ketidak goyahkan cinta wanita Sunem kepada kekasihnya.
Ini kontras dengan bunga pacar yang mungkin didapatkan dengan mudah oleh Raja Salomo dan putri-putri Yerusalem.
Bunga pacar juga merupakan persiapan pernikahan, namun bagi wanita Sunem, itu terhubung dengan kekasihnya.
Gereja sebagai Mempelai Kristus yang Setia
Wanita Sunem adalah gambaran gereja yang diharapkan oleh Tuhan, yang tetap setia dan teguh meskipun menghadapi godaan duniawi.
Fokus utama adalah pada manusia batiniah.
Seperti Kristus mempercantik gereja dengan Firman Rhema (Firman yang menjadi Iman).
Perhiasan sejati gereja bukanlah lahiriah, melainkan manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa, yaitu roh yang lemah lembut dan tentram.
Pentingnya perbuatan baik yang berasal dari Firman dan iman.
Menjaga hati dengan segala kewaspadaan sangat penting karena dari situlah terpancar kehidupan.
Hati harus "dikurung" agar tetap setia kepada Kristus.
Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi adalah hukum yang utama.
Pikiran adalah medan pertempuran yang rapuh, sehingga perlu difokuskan pada perkara di atas.
Kesetiaan gereja harus terus menerus diaplikasikan sebagai mempelai wanita Kristus yang menantikan kedatangan-Nya.
Berkat-berkat Tuhan tidak seharusnya menggoyahkan cinta dan kesetiaan gereja kepada-Nya.
Kesimpulan
Gereja dipanggil untuk menjadi seperti wanita Sunem, yang hatinya sepenuhnya tertuju kepada kekasihnya (Kristus), tidak tergoyahkan oleh kemewahan atau godaan dunia, dan memprioritaskan keindahan batiniah serta kesetiaan yang langka dan tak tergantikan.
Gereja yang diharapkan Tuhan adalah gereja yang setia dan teguh, berpegang pada manusia batiniah dan tidak tergoyahkan oleh dunia.
Cinta dan kesetiaan kepada Tuhan harus dipertahankan dalam hati dan pikiran, sehingga terwujud dalam tindakan dan perkataan.