❤️
Kidung Agung: Gambaran Gereja Sebagai Kekasih Kristus
Khotbah ini mengacu pada kitab Kidung Agung dalam Alkitab untuk menggambarkan hubungan kasih antara Kristus (Sang Mempelai Pria) dan Gereja (Sang Mempelai Wanita). Kisah cinta dalam Kidung Agung adalah gambaran untuk kesetiaan dan pengorbanan dalam hubungan spiritual ini. Khotbah juga menyinggung tokoh-tokoh Alkitab lainnya, seperti Adam, Hawa, dan Raja Salomo, untuk memperkuat poin-poin teologis (logika Tuhan) tentang dosa, penebusan, dan hikmat ilahi. Inti dari khotbah ini adalah untuk mendorong pendengar agar memiliki hati yang haus akan Tuhan dan merespons pekerjaan Roh Kudus dalam hidup mereka, seperti mempelai wanita yang setia menantikan kedatangan mempelai prianya.
Pendahuluan
Saudara-saudara diharapkan memiliki hati yang haus dan lapar akan firman Tuhan, yang merupakan anugerah Tuhan.
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk merespon suara Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus agar mendapatkan pengertian, pemahaman, pengetahuan, dan hikmat.
Umat Tuhan disebut bukan hanya umat Tuhan, tetapi juga kekasih, yang akan mewujudkan harapan Tuhan sebagai gereja, mempelai wanita Kristus yang siap sedia.
Tuhan bertanggung jawab sebagai suami untuk menjadikan gereja sebagai mempelai-Nya sesuai dengan pengharapan-Nya.
Roh Kudus akan menyingkapkan dan menuntun kepada seluruh kebenaran.
Adam Pertama dan Adam Terakhir
Roma 9:25: seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: "Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih."
1 Korintus 15:45: Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup," tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
Adam pertama menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
Adam pertama diciptakan setelah Taman Eden dan pohon-pohonan, dan Tuhan memberikan perintah tentang pohon pengetahuan. Iblis mencobai Adam setelah Adam menerima firman Tuhan. Namun, iblis menunggu situasi yang baru, yakni saat Hawa diciptakan.
1 Timotius 2:13-14: Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
Adam diciptakan pertama, baru Hawa. Bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
Hawa diambil dari dalam Adam untuk dinikahkan. Adam yang pertama memiliki pasangan (Hawa Pertama) yang menjadi penyebab kejatuhan dalam dosa. Adam yang terakhir (Kristus) juga memiliki Mitra Destiny (gereja, Hawa Terakhir).
Gereja adalah gambaran Hawa yang diambil dari dalam Adam yang terakhir (Kristus).
Orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru.
2 Korintus 5:17: Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Roma 8:1: Tidak ada hukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Di dalam Kristus, umat adalah istri roh yang memberi hidup dan telah dimerdekakan dari hukuman dosa dan maut.
Kasih Allah ada dalam Kristus Yesus, dan umat adalah penikmat kasih Allah karena ada di dalam Dia.
1 Korintus 1:30: Oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat, pembenaran, pengudusan, dan penebusan.
Roma 12:5: Kita walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus (gereja), dan masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
Pola pernikahan Allah adalah kekal, diambil dari dalam untuk dinikahkan.
Pernikahan Adam yang akhir dengan gereja adalah hari perkawinan dengan Anak Domba Allah.
Kidung Agung dan Gambaran Gereja
Di Alkitab ada teladan tentang wanita yang dicobai tetapi tetap setia, seperti Kristus.
Kitab Kidung Agung menunjukkan contoh wanita seperti itu.
Nama-nama dalam Kidung Agung adalah nyata, bukan hanya kiasan, dan mirip dengan pencobaan Hawa di Taman Eden. Kidung Agung ditulis oleh Salomo. Ada tokoh "gadis Sulam" atau "gadis Sunem" dalam Kidung Agung.
Kidung Agung menceritakan percintaan antara gadis sulam dan kekasihnya, serta ketertarikan Salomo padanya. Ini adalah kisah cinta segitiga antara gadis Sulam dan kekasihnya Sang Gembala, serta raja Salomo yang menginginkannya menjadi istri dan ratu.
Penulis Kitab Kidung Agung
Penulis Kidung Agung adalah Salomo. Allah memberikan hikmat dan pengertian yang amat besar serta akal yang luas kepada Salomo. Hikmat Salomo melebihi hikmat segala Bani Timur dan Mesir. Hikmat Mesir pada masa itu terkenal di seluruh dunia. Hikmat Musa berasal dari didikan di Mesir. Allah memakai hikmat yang ada dalam kepala Musa, contohnya dalam pembuatan Tabernakel dengan kulit lumba-lumba. Salomo menggubah 3.000 amsal dan 1.005 nyanyian. Ia bersajak tentang berbagai hal dan hikmatnya didengar oleh segala bangsa.
Kisah Gadis Sulam (gadis Sunem)
Kid 1:2 — Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, 3 harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu! 4 Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu!
Gadis sulam berkata, "Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Raja telah membawa aku ke dalam mahligai-mahligainya". Mahligai-mahligai ini kemungkinan adalah perkemahan Salomo saat dia melakukan perjalanan. Gadis sulam memiliki kekasih selain Raja Salomo.
Yesaya 54:5: Tuhan adalah suami bagi umat-Nya.
Hosea 2:18-19: Tuhan akan menjadikan umat-Nya sebagai istri dalam keadilan, kebenaran, kasih setia, kasih sayang, dan kesetiaan.
Gadis sulam merindukan ciuman dari kekasihnya, yang cintanya lebih nikmat dari anggur. Harum bau minyak kekasihnya seperti minyak yang tercurah, dan namanya sepadan dengan kepribadiannya. Gadis sulam tetap merindukan kekasihnya meskipun berada di perkemahan Raja Salomo dengan segala kemewahannya. Kekasih gadis sulam adalah seorang gembala.
Raja Salomo tertarik pada gadis sulam dan melayaninya dengan fasilitas kerajaan untuk memikat hatinya. Gadis sulam berasal dari Sunem, daerah di utara Yerusalem yang berarti tempat kedamaian ganda. Meskipun memiliki kesempatan untuk menikah dengan raja yang terkenal, gadis sulam tetap setia pada kekasihnya. Keteguhan hati gadis sulam dalam menghadapi godaan adalah contoh bagi gereja. Cinta gadis sulam kepada kekasihnya lebih nikmat daripada apa yang diberikan raja. Nama dan kepribadian kekasihnya sangat harum dan menyenangkan baginya. Banyak gadis-gadis desa tertarik pada kepribadian sang gembala, namun Sang Gembala hanya jatuh cinta pada gadis sulam. Gadis sulam membandingkan cinta kekasihnya dengan minuman raja. Ia merindukan kepribadian kekasihnya yang lebih baik dari parfum raja.
Ungkapan "Tariklah aku di belakangmu" adalah permohonan kepada kekasihnya, bukan kepada raja Salomo. Ini menunjukkan penolakan terhadap raja.
Kid 1:5 Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma. 6 Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga.
Gadis sulam mengakui dirinya hitam tetapi cantik. Putri-putri Yerusalem heran mengapa raja mencintai gadis yang hitam.Kecantikan gadis sulam berasal dari kepribadiannya, bukan fisik semata. Ia hitam karena terik matahari saat menjaga kebun-kebun anggur saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya marah padanya dan menjadikannya penjaga kebun anggur mereka, sehingga kebun anggurnya sendiri tidak terurus. Ini menunjukkan kepribadian wanita yang perkasa, pekerja keras, dan menjaga hubungan persaudaraan.
Saudara-saudaranya (umat Tuhan) mungkin marah, tetapi ini adalah bentuk kepedulian yang menyelamatkannya dari kemalasan.
Kecantikan lahiriahnya mungkin hilang, tetapi kepribadiannya tetap kuat.
Aplikasi bagi Gereja
Kristus sebagai suami (Gembala Agung) juga dicobai tetapi tidak berbuat dosa.
Kristus dapat menolong mereka yang menderita karena pencobaan.
Tuhan mengharapkan gereja memiliki kepribadian seperti gadis sulam: setia, tangguh, pekerja keras, dan menjaga persaudaraan.
2 Korintus 4:16: Manusia lahiriah semakin merosot, namun manusia batiniah diperbarui dari hari ke hari.
Gereja diharapkan tidak tawar hati meskipun secara lahiriah mengalami kesulitan.
Seperti gadis Sulam, fokus gereja seharusnya pada kepribadian rohani yang semakin meningkat, bukan kepada hal-hal lahiriah.
2 Korintus 4:17-18: Penderitaan ringan menghasilkan kemuliaan kekal yang jauh lebih besar. Jangan memperhatikan yang kelihatan (sementara), tetapi yang tak kelihatan (kekal).
Kehidupan lahiriah umat Tuhan mungkin merosot, tetapi kehidupan rohani harus semakin meningkat.
Tuhan menginginkan gereja menjadi pasangan Adam yang terakhir, diambil dari dalam (proses kehidupan lahiriah merosot, rohani tampil).
Gereja jangan hanya melihat pada hal-hal lahiriah, tetapi pada keperkasaan roh.
Gereja dipersiapkan Tuhan sampai siap untuk hari pernikahan.
Umat dapat bertahan dari apa yang tidak dilihat karena Tuhan menganugerahkan Firman Rhema yang menyucikan dan memurnikan.
Seperti gadis Sulam yang tidak melihat kekasihnya tetapi tetap mencintainya karena kepribadiannya, gereja juga harus demikian.
Gereja adalah tubuh Kristus dengan banyak saudara, dan setiap anggota harus menjaga hubungan persaudaraan dengan benar.
Kesimpulan
Tuhan sedang menyatakan pengharapan-Nya tentang gereja yang siap sebagai kekasih dan istri untuk hari perkawinan Anak Domba.
Puji nama Tuhan atas pekerjaan Roh Kudus dan Firman-Nya.