Langsung ke konten utama

Preparing the Bride (session 06)

The Bride of Christ: Faithfulness in Waiting

Karakteristik gereja yang ideal digambarkan sebagai kekasih Tuhan atau "Hawa yang terakhir" yang setia. Materi ini berfokus pada karakteristik gereja yang diharapkan oleh Tuhan, dianalogikan dengan Hawa yang terakhir yang tetap teguh dalam kesetiaannya kepada Allah dan bakal suaminya. Analogi ini dikembangkan melalui interpretasi Kitab Kidung Agung 1:15-17 dan dikaitkan dengan ayat-ayat lain dalam Perjanjian Baru.


Karakteristik Gereja yang Diharapkan Tuhan

  • Gereja diharapkan memiliki karakteristik seperti Hawa terakhir, yaitu tidak mudah tergoda dan tetap teguh dalam kesetiaannya kepada Allah dan sang calon suami (Kristus).

  • Tuhan ingin gereja sebagai kekasih-Nya selama hidup di dunia ini hingga hari perkawinan Anak Domba.

  • Roh Kudus menolong gereja untuk memahami tuntutan dan persyaratan Tuhan agar dapat sampai kepada hari perkawinan Anak Domba dan berkehidupan menunggal di alam Allah yang kekal.

Kid 1:15  —  Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. 16   —  Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita. 17  Dari kayu aras balok-balok rumah kita, dari kayu eru papan dinding-dinding kita.




Pembahasan Kidung Agung 1:15-17 sebagai Gambaran Hubungan Kristus dan Gereja

Ayat-ayat ini menggambarkan pertemuan dan percakapan antara Sang Gembala (Kristus) dan kekasih-Nya (gereja).

  • "Lihat cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau bagaikan merpati matamu":

    • Mata diibaratkan pelita tubuh yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan.

    • Mata seperti merpati melambangkan kesetiaan (merpati itu monogami).

    • Pandangan gereja diharapkan penuh dengan kesetiaan yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya.

    • Mata juga dikaitkan dengan Roh Kudus.


  • "Lihatlah tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik, sungguh sejuk pertiduran kita":

    • Menunjukkan kerinduan untuk mencapai hubungan suami istri yang final dan tertinggi dengan Kristus.

    • Tempat tidur yang sejuk melambangkan kedamaian dan ketenangan bersama Kristus karena mengenal-Nya bukan hanya sebagai Juru Selamat tetapi juga sebagai kekasih dan suami.

    • Menggambarkan pemikiran gereja yang tertancap jauh ke depan pada hari perkawinan.

    • Berbicara tentang penggenapan firman nubuatan yang menguatkan dan membuat tidak mudah tergoda.


  • "Dari kayu aras balok-balok rumah kita, dari kayu eru papan dinding-dinding kita":

    • Menggambarkan rumah masa depan gereja bersama dengan Kristus di alam Allah.

    • Kayu Aras: Lambang bahan pokok dan ciri istana Raja Daud dan juga niatan Daud untuk membangun rumah Tuhan. Menunjukkan kesamaan ciri antara rumah Tuhan dan tempat kediaman gereja bersama Kristus.  Kayu Aras diasosiasikan dengan kemuliaan dan kekekalan.

    • Kayu Eru: adalah kayu yang langka, melambangkan kehidupan Ilahi Allah yang terpancar melalui kehidupan orang percaya. Ini juga menyiratkan penolakan halus terhadap tawaran duniawi yang dapat menggoyahkan kesetiaan.


Peperangan di dalam Pikiran (2 Korintus 10:3-5): 

Gereja masih hidup di dunia tetapi tidak berjuang secara duniawi.

Senjata perjuangan adalah kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng dan menawan segala pikiran untuk ditaklukkan kepada Kristus. Pikiran yang setia akan menghasilkan perbuatan yang setia.

Peperangan yang paling mengerikan adalah peperangan di pikiran.

2 Korintus 10:3-5 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, 4  karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. 5  Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,


Menjauhkan Diri dari Keinginan Daging (1 Petrus 2:11): 

Orang percaya diingatkan bahwa kehidupan di bumi ini bukanlah tempat tinggal permanen mereka. Mereka harus menjauhkan diri dari keinginan daging yang melawan jiwa dan tetap fokus pada tujuan akhir mereka di alamnya Allah.

1Ptr 2:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.

Sebagai pendatang dan perantau di bumi, orang percaya harus menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa (pikiran, perasaan, dan kehendak). 


Penderitaan dan Kemuliaan yang Akan Datang

Penderitaan saat ini adalah ringan dan mengerjakan kemuliaan kekal yang jauh lebih besar.

Ada urutan penderitaan dulu baru kemuliaan yang menyusul (seperti yang dialami Kristus).


Peranan Roh Kudus (Yohanes 16:13, Kidung Agung 1:15)

Yoh 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Roh Kebenaran akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran dan memberitakan hal-hal yang akan datang.

Keintiman dengan Roh Kudus akan meneguhkan kesetiaan hati kepada Kristus dan membantu bertahan dalam menjalani dan menuju kepada penggenapan firman nubuatan.

Merpati juga merupakan lambang Roh Kudus.


Meneladani Pemimpin Rohani 

Jemaat diminta untuk meneladani pemimpin rohani mereka seperti Paulus meneladani Kristus.

Kedua sejoli dalam Kidung Agung meniru Daud, yang dianggap menduplikasikan keinginan Tuhan.

Kesetiaan dan Iman (Pistis)

  • Dalam bahasa Ibrani dan Yunani, kata setia (pistis) memiliki identitas yang sama dengan iman.

  • Kesetiaan adalah buah Roh.

  • Gereja diharapkan untuk setia dan teguh karena Allah memberikan Firman Rhema dan Roh Kudus yang membangkitkan iman.

  • Kesetiaan gereja akan terpancar dalam mata, perbuatan, dan cara berpikir.

  • Gereja diharapkan untuk tetap setia seperti gadis Sunam yang menolak cinta Salomo, yang merupakan penolakan halus terhadap godaan duniawi.


Gereja sebagai Kekasih Kristus

  • Tuhan ingin gereja bukan hanya sebagai domba (umat Tuhan) tetapi sebagai kekasih-Nya, yang memiliki hubungan yang lebih dalam dan intim dengan-Nya.

  • Mzm 23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Domba (umat Tuhan) telah berubah menjadi manusia (kekasih). Hanya manusia kekasih Tuhan yang diam dalam rumah Tuhan, bukan seperti domba yang diam di kandang dan di padang rumput.


Apa makna kiasan “mata bagai merpati”?

Makna kiasan "mata bagai merpati" yang terdapat dalam Kidung Agung 1 ayat 15, seperti yang dibahas dalam sumber, adalah sebagai berikut:

  • Kesetiaan (Monogami): Salah satu ciri utama merpati adalah monogami, yaitu tetap setia dengan pasangannya. Oleh karena itu, "mata bagai merpati" melambangkan kesetiaan gereja kepada Kristus. Tuhan mengharapkan gereja sebagai kekasih-Nya untuk tetap teguh dalam kesetiaannya kepada-Nya. Kesetiaan ini dipengaruhi oleh pandangan rohani yang benar, seperti yang dijelaskan dalam Matius 6:22. 

Mat 6:22-23 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

  • Pelita Tubuh: Mata diibaratkan sebagai pelita tubuh. Sebagaimana pelita menerangi seluruh tubuh, pandangan mata mempengaruhi seluruh aspek kehidupan seseorang. Dalam konteks ini, mata yang bagai merpati, yaitu mata yang penuh kesetiaan, akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan gereja, memancarkan dan membuktikan kesetiaan kepada Kristus selama hidup di dunia. Jika pandangan mata (hati dan pikiran) penuh kesetiaan kepada Kristus, maka seluruh aspek kehidupan gereja akan terang di mata Tuhan.


  • Aspek Rohani: Mata yang bagai merpati juga dikaitkan dengan aspek Roh Kudus. Kesetiaan yang terpancar dari mata gereja merupakan hasil dari hubungan yang intim dengan Roh Kudus.

Secara keseluruhan, kiasan "mata bagai merpati" menggambarkan harapan Tuhan agar gereja memiliki pandangan yang penuh dengan kesetiaan yang tidak tergoyahkan kepada Kristus, yang akan memengaruhi seluruh aspek kehidupan mereka dan dimampukan oleh Roh Kudus. Kesetiaan ini diibaratkan seperti sifat monogami pada merpati.


Bagaimana Gereja dapat membuktikan kesetiaannya?

Gereja dapat membuktikan kesetiaannya melalui berbagai cara:

  • Tidak mudah tergoda dan tetap teguh dalam pengabdian kepada Allah dan Kristus. Ini berarti meneladani Hawa yang terakhir yang diharapkan tidak mudah dibujuk dan tetap setia kepada suaminya, yaitu Kristus.

  • Memiliki pandangan yang penuh dengan kesetiaan yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Ini tercermin dalam kiasan "mata bagai merpati" yang melambangkan kesetiaan yang mendasari setiap langkah hidup gereja.

  • Tidak berjuang secara duniawi melainkan menggunakan senjata rohani yang diperlengkapi dengan kuasa Allah untuk meruntuhkan benteng-benteng pikiran. Ini menunjukkan bahwa kesetiaan bukan hanya soal tindakan lahiriah, tetapi juga pengendalian pikiran dan fokus rohani.

  • Menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Kesetiaan melibatkan pengendalian aktif atas pikiran agar selaras dengan kehendak Kristus.

  • Sebagai pendatang dan perantau di dunia, menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berperang melawan jiwa (pikiran, perasaan, dan kehendak). Ini menunjukkan kesetiaan dalam menjaga kekudusan dan tidak menyerah pada godaan duniawi.

  • Terus-menerus memikirkan tentang persatuan di masa depan dengan Kristus dan penggenapan firman nubuatan. Fokus pada harapan akan kedatangan Kristus dan janji-janji-Nya memperkuat kesetiaan di masa kini.

Gambaran tentang "petiduran yang sejuk" (Kidung Agung 1:16) melambangkan kerinduan gereja untuk bersatu sepenuhnya dengan Kristus, seperti hubungan suami istri. Pikiran gereja harus tertuju pada hari perkawinan Anak Domba.

  • Memiliki hubungan yang intim dengan Roh Kudus, yang akan menuntun ke dalam seluruh kebenaran dan meneguhkan hati dalam kesetiaan kepada Kristus. Keintiman dengan Roh Kudus adalah kunci untuk memelihara kesetiaan.

  • Mempercayai sepenuhnya Firman nubuatan (2 Korintus 4:17, 1 Petrus 1:11), yang menjadi kekuatan untuk menguatkan pikiran, perasaan, dan roh. Keyakinan pada janji-janji Allah yang akan datang memampukan gereja untuk tetap setia.

Penderitaan saat ini dianggap ringan dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang akan datang. Firman nubuat menguatkan gereja untuk tetap setia melalui masa penantian.

  • Meneladani kehidupan para pemimpin rohani yang meniru Kristus. Mengikuti teladan orang-orang yang hidup dalam kesetiaan kepada Kristus adalah cara untuk belajar dan bertumbuh dalam kesetiaan.

  • Mengekspresikan kesetiaan yang dipancarkan oleh Roh Kudus melalui mata, perbuatan, dan cara berpikir. Kesetiaan yang sejati akan terlihat dalam seluruh aspek kehidupan.

  • Meskipun mengalami berkat-berkat dunia, tetap mengingat dan mencintai Kristus sebagai kekasih utama dan tidak tergoyahkan oleh tawaran duniawi. Kesetiaan berarti memprioritaskan Kristus di atas segala hal.

  • Menghidupi "pistis" atau “faithful”, yang dalam bahasa Ibrani dan Yunani memiliki makna ganda sebagai iman dan kesetiaan. Ini menunjukkan bahwa kesetiaan adalah bagian integral dari iman Kristen dan merupakan buah Roh.

Singkatnya, gereja membuktikan kesetiaannya dengan memiliki hati dan pikiran yang tertuju kepada Kristus, menolak godaan duniawi, hidup dalam Roh Kudus, mempercayai Firman Allah, dan meneladani Kristus dalam segala aspek kehidupannya.


Pikiran Seperti Apa yang Harus di tawan oleh Gereja?

Gereja harus menawan segala pikiran yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Paulus secara eksplisit menyatakan dalam 2 Korintus 10 ayat 5: "kami menawan segala pikiran Oh itu peperangan yang paling mengerikan adalah pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus".

Ini berarti gereja harus secara aktif mengendalikan dan membawa setiap pemikiran ke dalam ketaatan kepada Kristus. Peperangan utama yang dihadapi gereja bukanlah peperangan duniawi, tetapi peperangan di pikiran.

Berikut adalah poin-poin terkait pikiran seperti apa yang harus ditawan gereja:

  • Pikiran yang menentang pengenalan akan Allah: Setiap pemikiran yang bertentangan dengan kebenaran tentang Allah dan firman-Nya harus ditawan.

  • Pikiran yang dipengaruhi oleh kedagingan dan kekuasaan duniawi: Meskipun gereja hidup di dunia, perjuangan tidak boleh dilakukan secara duniawi. Kekhawatiran ekonomi, masalah sosial, dan status duniawi tidak boleh mendikte pikiran gereja.

  • Pemikiran yang goyah dan mudah dipengaruhi oleh pencobaan: Gereja harus memiliki pikiran yang teguh dan tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai tawaran dan bujukan, meskipun tampak rohani.

  • Pemikiran yang tidak mengenal Allah dan Kristus sebagai kekasih: Gereja harus memiliki pemikiran yang didasari pengenalan yang intim akan Allah sebagai Bapa dan Kristus sebagai kekasih.

  • Pemikiran yang tidak selaras dengan Firman nubuatan: Gereja diharapkan untuk men-setting pikiran kepada penggenapan Firman nubuatan seolah-olah sudah terjadi, yang akan menguatkan dan mencegah dari mudah tergoda.

  • Keinginan-keinginan daging yang berperang melawan jiwa: Pikiran adalah bagian dari jiwa (pikiran, perasaan, dan kehendak), sehingga keinginan daging yang merusak jiwa juga harus dilawan dan ditawan.

Dengan menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, gereja dapat membuktikan kesetiaannya dan hidup sesuai dengan harapan Tuhan sebagai kekasih-Nya. Proses ini dimungkinkan melalui keintiman dengan Roh Kudus dan mempercayai Firman Allah.


Teladan siapa yang harus diikuti oleh Gereja?

1Kor 11:1 Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.


1Kor 4:15 Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. 16  Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!

Gereja hendaknya mengikuti teladan Tuhan Yesus Kristus. Para pemimpin rohani atau gembala jemaat pun harus menjadi teladan bagi jemaat, sama seperti Rasul Paulus yang meminta jemaat untuk mengikuti teladannya seperti ia juga mengikuti teladan Kristus.

Selain Kristus, sumber juga menyoroti beberapa figur sebagai contoh dalam aspek tertentu:

  • Hawa yang terakhir: Gereja diharapkan memiliki karakteristik seperti Hawa yang terakhir, yaitu tidak mudah tergoda dan tetap teguh dalam kesetiaannya kepada Allah dan Kristus.

  • Gadis Sunem (dalam Kitab Kidung Agung): Teladannya adalah pikirannya yang terus-menerus tertuju pada persatuan di masa depan dengan kekasihnya (Kristus), menunjukkan kesetiaan yang tidak tergoyahkan meskipun menghadapi godaan.

  • Merpati: Sifat merpati yang monogami dan setia pada pasangannya menjadi kiasan bagi kesetiaan gereja kepada Kristus.

  • Daud: Kedua sejoli dalam Kidung Agung (melambangkan Kristus dan gereja) merujuk pada rumah Daud yang terbuat dari kayu aras sebagai gambaran rumah masa depan mereka. Hal ini menunjukkan adanya kemiripan karakteristik yang diharapkan antara umat Tuhan dan tempat kediaman Tuhan. Daud juga dipandang sebagai sosok yang meniru dan menduplikasi keinginan Tuhan.

  • Rasul Paulus: Ia secara eksplisit meminta jemaat untuk mengikuti teladannya, karena ia sendiri meneladani Kristus.

  • Pemimpin Rohani/Gembala: Jemaat juga diminta untuk meneladani pemimpin rohani mereka karena mereka seharusnya meneladani dan meniru Kristus. Dengan mengikuti teladan pemimpin yang mengikuti Kristus, jemaat juga akan meniru kehidupan yang sama dari Tuhan.

Dengan demikian, teladan utama yang hendaknya diikuti gereja adalah Kristus. Figur-figur lain seperti Hawa yang terakhir, gadis Sunem, merpati (dalam sifatnya), Daud (dalam meniru keinginan Tuhan), Rasul Paulus, dan para pemimpin rohani yang meneladani Kristus, dapat menjadi contoh dan panduan dalam berbagai aspek kesetiaan dan pengabdian kepada Tuhan.


Postingan populer dari blog ini

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Apa Maksudnya dengan CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS?

Kor 5:17        Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Ayat di atas menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Tapi benarkah demikian?   Dan yang lama sudah berlalu? Sebab kata ‘sesungguhnya’ menunjukkan kita belum bisa melihat yang baru itu. Mari kita telaah. Ef 4:24            dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. MANUSIA BARU kita telah   diciptakan menurut kehendak Allah SECARA SEMPURNA di dalam KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA yaitu DI DALAM KRITUS YESUS.   KEBENARAN DAN KEKUDUSAN INI TELAH TERUJI yaitu Yesus sendiri yang dalam rupa-Nya sebagai manusia – TELAH TERBUKTI SUDAH MENGALAHKAN DOSA DAN MAUT. Ef 2:10        ...

KUASA IKAT JANJI (Bagian 2)

Upper Room 180 - 4 Maret 2025 Dr. Jonathan David "Perjalanan ikat janji" adalah perjalanan di mana Allah membawa Abraham masuk ke dalam hubungan yang mendalam, di mana Allah menjadi sumbernya dan berjanji untuk menyertai serta mengubah segala sesuatu di mana pun Abraham berada. Dalam perjalanan ini, identitas Abraham tidak lagi didasarkan pada latar belakang lahiriahnya. Yesus mengatakan ini untuk menekankan bahwa hubungan spiritual berdasarkan ketaatan kepada kehendak Allah lebih penting daripada hubungan darah. Bahayanya adalah jika kita terlalu terikat pada kewajiban dan identitas lahiriah sehingga menghalangi kita untuk menyelesaikan tugas Tuhan. "Penebusan sejati" adalah pembebasan dari diri sendiri, ketakutan, pola pikir lama, dan identitas yang dibentuk oleh hal-hal duniawi. Identitas sejati kita ada di dalam Kristus, dan tujuannya adalah untuk semakin serupa dengan-Nya, melepaskan keakuan agar dapat memperoleh Kristus. Tuhan ingin mengubah bangsa-bangsa mel...

Preparing the Bride - Session 2

Persiapan gereja sebagai Mempelai Wanita Kristus untuk pernikahan dengan Anak Domba - Sesi 2 Ps. Djonny Tambunan Pada sesi ini papa membahas konsep menjadi kudus dan setia sebagai istri Kristus. Pembicara menekankan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam diri orang percaya untuk mengatasi godaan dan mencapai kekudusan. Ia menarik garis paralel antara pencobaan yang dialami Y esus dan pencobaan yang dihadapi orang Kristen masa kini. Papa mengilustrasikan lebih jauh dengan tokoh Musa sebagai teladan keteguhan iman. Berikut adalah rangkumannya, yang akan membantu Anda memahaminya dengan mudah: Tujuan Tuhan dalam Hidup Orang Percaya : Tuhan berharap umat-Nya menjadi kudus dan mencapai kekudusan seperti Kristus. Ini bukan hanya menjadi umat Tuhan, tetapi juga menjadi kekasih atau istri-Nya. Untuk mencapai ini, Tuhan memberikan Roh Kudus. Peran Roh Kudus : Roh Kudus memberikan kemampuan untuk merespon kehendak Roh, bukan keinginan daging. Roh Kudus memberikan identitas bahwa orang percaya adal...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

Kuasa Ikat Janji – bagian 4: Berjalan dalam Kemitraan

Kuasa Ikat Janji: Berjalan dalam Kemitraan dengan Tuhan Upper Room 182 – 18 Maret 2025 Dr. Jonathan David Khotbah ini menggunakan perjanjian Allah dengan Abraham sebagai contoh utama, menjelaskan bahwa ikat janji (covenant) itu melampaui iman manusia dan berakar pada sifat kesetiaan (faithfulness) Allah untuk menggenapi firman-Nya. Lebih lanjut, ditekankan bahwa keterlibatan aktif dan kepatuhan manusia dalam ikat janji, yang disimbolkan dengan sunat (peran kekuatan dan usaha sendiri manusia dikurangi), mengundang intervensi ilahi yang lebih besar dan memberdayakan umat beriman serta keturunan mereka. Khotbah ini mendorong pendengar untuk mempercayai Allah sepenuhnya dan hidup dalam keselarasan dengan kehendak-Nya sebagai mitra dalam ikat janji. Bagaimana Konsep  ikat janji mempengaruhi hubungan manusia dengan Tuhan? Konsep "kuasa ikat janji" secara fundamental mempengaruhi hubungan manusia dengan Tuhan dengan menjadikannya lebih dari sekadar hubungan biasa, melainkan se...

Preparing the Bride - Session 08

Karakteristik Gereja Sebagai Kekasih Tuhan - Sesi 08 Tema masih membahas tentang karakteristik gereja yang diidamkan Tuhan sebagai kekasih-Nya , menggunakan Kidung Agung dan perumpamaan bunga bakung di antara duri . Analogi utama yang digunakan adalah kisah Gadis Sunem dalam Kitab Kidung Agung dan hubungannya dengan Kekasihnya dan Raja Salomo. Membandingkan kecantikan lahiriah seorang gadis dengan keindahan batiniah yang dikerjakan oleh Tuhan sendiri , menekankan bahwa Allah lebih tertarik pada hati dan kesetiaan rohani daripada penampilan luar atau upaya manusia. Lebih lanjut, Kidung Agung mengilustrasikan prinsip ini melalui kisah Raja Salomo, gadis Sunem, pemilihan Daud sebagai raja, dan ajaran Yesus tentang bunga bakung di ladang , yang menunjukkan bahwa nilai sejati di mata Tuhan terletak pada kualitas batin yang ilahi . Kid 2:1 [Gadis Sunem] Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah. 2  —  [Salomo] Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah m...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

Preparing the Bride - Session 1

Persiapan gereja sebagai Mempelai Wanita Kristus untuk pernikahan dengan Anak Domba - Sesi 1 Ps. Djonny Tambunan Kunci dari persiapan ini adalah kekudusan dan kesetiaan, yang dicapai melalui Roh Kudus, Firman, dan hamba-hamba Tuhan. Proses ini melibatkan transformasi dari sekadar umat Tuhan menjadi kekasih-Nya, yang siap dan berkontribusi pada perjamuan pernikahan.  Gereja dipanggil untuk hidup kudus, menolak dosa, dan memiliki iman yang memampukan umat untuk melihat upah kekal. Yesaya 54:5 menekankan peran Allah sebagai suami yang memproses umat-Nya menjadi istri, sementara Efesus 5:25-27 menyoroti Kristus memurnikan gereja melalui Firman. Intinya, sesi-sesi ini menekankan pentingnya kesiapan rohani dan transformasi pribadi untuk memenuhi panggilan sebagai mempelai Kristus. Wahyu 19 dan Roma 9 memiliki kesamaan dalam hal panggilan dan status orang percaya. Ayat kunci yang menjadi dasar tema Persiapan Mempelai Wanita Why 19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memulia...

Preparing the Bride - Session 04

Gereja sebagai Kekasih Tuhan Khotbah ini membahas karakteristik gereja yang ideal menurut pandangan Tuhan. Kitab Kidung Agung menjadi fokus utama kita untuk menganalisis hubungan antara mempelai wanita dan kekasihnya sebagai analogi untuk hubungan antara gereja dan Kristus. Kita akan melihat perbandingan Adam pertama dan Adam terakhir dari 1 Korintus, serta peran wanita dalam kejatuhan dari 1 Timotius, untuk menekankan pentingnya kesetiaan dan ketahanan gereja terhadap godaan. Selain itu khotbah ini menggali peran Kristus sebagai Gembala melalui berbagai ayat Perjanjian Lama dan Baru, menyoroti kasih dan pengorbanan-Nya bagi umat-Nya. Tema Utama: Karakteristik Kehidupan Gereja yang Diharapkan Tuhan sebagai Kekasih-Nya Pendahuluan: Pembahasan ini penting bagi pengikut Tuhan dan umat-Nya. Tujuan Tuhan lebih dari sekadar menyelamatkan; Ia ingin gereja menjadi kekasih-Nya yang sejati dan hidup manunggal dengan-Nya. Firman Tuhan (Rhema) membimbing perjalanan iman. Gereja sebagai Kekas...