Langsung ke konten utama

Kuasa Ikat Janji (bagian 3)

Upper Room 181 - Maret 2025

Dr. Jonathan David 

Pembicaraan ini menekankan pentingnya transformasi internal bagi umat Kristen agar mereka tidak berperilaku seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan (orang fasik). Transformasi internal yang mendalam bagi individu Kristen, yang kemudian akan menghasilkan transformasi sosial yang nyata (seperti pencuri bertransformasi menjadi penyedia berkat). 

Dr. Jonathan David menjelaskan bahwa Tuhan bekerja dalam hati seseorang sampai mereka sepenuhnya berkomitmen pada tugas yang diberikan-Nya, yang akan membawa pada karunia untuk bertindak. Beliau juga membahas tentang bagaimana cara berpikir yang salah dan emosi negatif dapat menghambat pemahaman spiritual dan menjauhkan seseorang dari tujuan Tuhan. Di sini juga disorot peran pelayanan lima jawatan dalam memfasilitasi transformasi ini dan memperingatkan terhadap cara hidup yang tidak menghasilkan buah ("cara hidup orang fasik"). Lebih lanjut, khotbah ini menyoroti konsep "ikat janji" dengan Tuhan, sebuah kemitraan di mana Tuhan bekerja untuk mewujudkan janji-janji-Nya, meskipun ada keraguan dan rintangan manusiawi. Ikat janji dengan Tuhan (covenant) menjadi fondasi bagi terjadinya transformasi.


Tema sentral: Transformasi Internal dan Aplikasinya dalam Kehidupan Gereja dan Pribadi

1. Pentingnya Transformasi Internal Sebelum Tindakan Nyata

Banyak orang ingin melakukan hal-hal besar tanpa mengalami perubahan internal terlebih dahulu. Tuhan bekerja di hati seseorang sampai ada kesediaan dan persetujuan internal untuk mengikuti-Nya.

Kasih karunia untuk bertindak datang setelah ada komitmen internal. Bukan sebaliknya, di mana orang menginginkan urapan tanpa keseriusan dalam tugas yang diberikan. Seseorang harus teruji dan terbukti secara internal sebelum Tuhan dapat mempromosikannya.

Merasa seperti seorang "jutawan" secara internal (berpikir dan bertindak agung dan penuh kehormatan) lebih penting daripada memiliki kekayaan materi saat ini. Ini adalah masa "percobaan" untuk melihat bagaimana seseorang bersikap.

Konsep "jutawan dalam masa percobaan" memiliki beberapa implikasi praktis:

Fokus pada karakter dan perilaku saat ini, bukan hanya potensi masa depan. Meskipun seseorang memiliki potensi untuk menjadi "jutawan" (dalam konteks yang lebih luas, mungkin berarti sukses, berpengaruh, atau diberkati secara signifikan), Tuhan sedang menguji karakternya melalui keadaan saat ini. Bagaimana seseorang bersikap dan berpikir sekarang adalah indikator penting bagi kesiapan untuk tanggung jawab yang lebih besar.

  • Pentingnya memiliki pola pikir dan perilaku yang sesuai dengan status masa depan yang dijanjikan. Meskipun belum memiliki kekayaan materi, seseorang harus berpikir dan bertindak seperti seorang jutawan secara internal, membawa diri dengan agung dan penuh kehormatan. Ini berarti menginternalisasi identitas dan potensi yang Tuhan berikan, dan memanifestasikannya dalam sikap dan tindakan sehari-hari.

  • Masa percobaan sebagai waktu pembuktian diri. Tuhan tidak akan mempromosikan seseorang hanya berdasarkan potensi, tetapi berdasarkan bagaimana mereka bersikap selama masa "percobaan" ini. Ini adalah waktu untuk menunjukkan bahwa seseorang dapat dipercaya dan bertanggung jawab, bahkan dalam keadaan yang mungkin belum ideal.

  • Kontras dengan pola pikir dan perilaku "orang miskin". Bersikap dan berpikir seperti orang miskin (dengan mentalitas kekurangan, ketakutan, atau keraguan) akan menghambat kemajuan, tidak peduli seberapa hebat potensi yang dimiliki. Transformasi internal dalam cara berpikir dan merasa adalah kunci.

  • Analogi mentalitas ayam dan burung rajawali yang menunggu angin siap untuk terbang. Sama seperti burung rajawali yang menunggu angin untuk terbang tinggi, orang yang berada dalam "masa percobaan" perlu terus terhubung dengan Tuhan ("Papa") dan siap ketika "angin" (kesempatan atau promosi dari Tuhan) bertiup. Ini membutuhkan kesabaran, kewaspadaan rohani, dan kesiapan untuk bertindak ketika waktunya tepat.

Apa perbedaan antara mentalitas "ayam" dan mentalitas "burung rajawali" dalam konteks menunggu Tuhan ini?

Mentalitas "ayam" menggambarkan orang yang terus berlarian dan berusaha melakukan segalanya dengan kekuatannya sendiri, sementara mentalitas "burung rajawali" adalah menunggu Tuhan dan "angin Roh" untuk membawanya terbang, menunjukkan ketergantungan pada Tuhan.


"Menangkap angin Roh" berarti peka dan responsif terhadap waktu dan cara Tuhan bekerja melalui Firman-Nya. Ketika Roh mulai membawa Firman dengan kuat, seseorang harus segera bertindak dan bergerak maju karena pintu kesempatan sedang terbuka.


Secara sederhana, konsep "jutawan dalam masa percobaan" berarti bahwa status atau berkat masa depan yang dijanjikan oleh Tuhan memerlukan kesiapan internal yang tercermin dalam pikiran, sikap, dan tindakan saat ini. Masa kini adalah waktu untuk mengembangkan karakter dan pola pikir yang sesuai dengan janji Tuhan, sehingga ketika kesempatan datang, seseorang siap untuk menerimanya dan mengelolanya dengan baik.


2. Peran Pelayanan Lima Jawatan (Efesus 4:11-12)

  • Tuhan memberikan rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus.

  • Tujuan utamanya adalah melatih jemaat untuk melayani, bukan hanya dilayani oleh gembala.

  • Pelayanan lima jawatan berfungsi untuk mereproduksi diri mereka dalam kehidupan orang lain, sehingga setiap anggota gereja dapat berfungsi dengan baik.

  • Pandangan tradisional di mana gembala melakukan segalanya dan jemaat hanya menerima adalah tidak alkitabiah.

  • Jika gereja berfungsi dengan baik, jemaat tidak lagi seperti anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh setiap angin pengajaran (Efesus 4:14).

Dr. Jonathan David menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini:

  • Tujuan utama pelayanan lima jawatan bukanlah agar mereka sendiri yang melakukan semua pelayanan, melainkan melatih dan memperlengkapi jemaat untuk melakukan pekerjaan pelayanan.

Sebagai contoh, seorang gembala seharusnya melatih jemaat untuk menjadi gembala, seorang penginjil melatih untuk melakukan penginjilan, sehingga setiap anggota gereja dapat berfungsi dengan baik.

  • Pelayanan lima jawatan berfungsi untuk mentransfer sifat dasar mereka kepada jemaat sebagai sebuah pekerjaan. Mereka adalah model yang Tuhan gunakan untuk mereproduksi diri mereka dalam kehidupan orang lain.

Dengan demikian, tujuan akhirnya adalah agar setiap orang di gereja diperlengkapi dalam berbagai bidang dan dimensi, sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi bagian cadangan.

  • Jika pelayanan lima jawatan berfungsi secara efektif dan melepaskan anggota jemaat untuk melayani, maka akan ada hasil, yaitu jemaat tidak lagi seperti anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh setiap angin pengajaran (Efesus 4:14). Mereka akan menjadi dewasa dan tahu bagaimana bertanggung jawab.

  • Pada akhirnya, jika setiap bagian individu (anggota jemaat yang telah diperlengkapi) bekerja dengan baik dan berfungsi, maka akan menyebabkan pertumbuhan seluruh tubuh Kristus (Efesus 4:16).


  • Mengapa pandangan tradisional tentang gembala yang melakukan segalanya bagi jemaat dianggap tidak alkitabiah?


Pandangan tradisional tidak alkitabiah karena Alkitab mengajarkan bahwa pelayanan lima jawatan berfungsi untuk mereproduksi diri mereka dalam jemaat, sehingga setiap orang dilatih dan berfungsi dalam berbagai aspek pelayanan, bukan hanya satu orang yang menanggung semua beban.


Jadi, inti dari tujuan pelayanan lima jawatan adalah pemberdayaan dan pelibatan seluruh jemaat dalam pelayanan dan pembangunan gereja, sehingga mencapai kedewasaan rohani dan pertumbuhan bersama dalam tubuh Kristus.


3. Cara Hidup Orang Fasik yang Harus Dihindari (Efesus 4:17-19)

  • Cara berpikir dan bertindak orang yang tidak mengenal Allah adalah sia-sia, gelap pengertiannya, dan jauh dari persekutuan dengan Allah.

  • Perasaan mereka telah tumpul sehingga menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan segala macam kecemaran dengan serakah.

  • Pikiran jemaat perlu diubah.

    • Berhenti memikirkan sesuatu yang tidak akan menghasilkan buah. Pikiran negatif dan keluhan tidak produktif.

    • Pengertian dapat menjadi gelap karena masuknya emosi negatif. Emosi negatif mengaburkan pandangan dan mengubah keyakinan.

    • Terputus dari kehidupan Allah yang ada di dalam roh. Emosi negatif menghalangi komunikasi rohani.

    • Menimbulkan suatu area yang menjadi titik buta. Kemarahan dan frustrasi membuat seseorang tidak dapat melihat kebaikan atau kebenaran.

    • Menumbuhkan kekerasan hati dan kehilangan kemampuan untuk menerima Firman Tuhan dengan akurat. Hati yang keras menghalangi suara Tuhan.

    • Menghancurkan batasan sejak awal dari pemerintahan Tuhan dalam hidup.

    • Kekacauan terjadi. Hal-hal negatif mengalir tanpa dasar.

Pola pikir "orang fasik" sangat menghalangi pertumbuhan rohani dalam beberapa cara yang signifikan:

  • Memikirkan hal-hal yang tidak menghasilkan buah: Pola pikir ini terfokus pada pemikiran yang tidak produktif dan tidak membawa dampak positif. Dr. Jonathan David menekankan untuk berhenti memikirkan hal-hal yang tidak akan menghasilkan hasil. Jika suatu pemikiran tidak membuahkan hasil yang baik, maka tidak ada manfaatnya untuk dipikirkan terus-menerus. Ini menghabiskan energi mental dan emosional yang seharusnya dapat digunakan untuk pertumbuhan rohani.

  • Pengertian menjadi gelap karena emosi negatif: Masuknya emosi negatif dapat mengaburkan pemahaman seseorang, bahkan mengubah apa yang mereka yakini penting. Ketika seseorang semakin negatif secara emosional, pemahamannya akan kebenaran rohani dan kehendak Tuhan dapat terdistorsi.

Filipi 2:14 mengajarkan untuk melakukan segala sesuatu tanpa keluhan atau perselisihan. Ayat ini menggambarkan bagaimana orang sering kali bergumul dan bersungut-sungut dalam mengikuti Tuhan, padahal seharusnya mereka merespons dengan ketaatan yang sukacita.

  • Terputus dari kehidupan Allah dalam roh: Emosi negatif dapat menyumbat saluran komunikasi dengan roh Allah di dalam diri seseorang. Akibatnya, roh tidak lagi dapat berkomunikasi dengan efektif, membuat individu tersebut sulit untuk bersikap spiritual dan menerima bimbingan ilahi.

  • Menimbulkan titik buta: Pola pikir negatif dan emosi yang kuat seperti marah dan frustasi dapat menciptakan area "titik buta" dalam pikiran seseorang, di mana mereka tidak dapat melihat kebaikan, kebenaran, atau berkat yang telah mereka terima. Ini menghalangi mereka untuk memiliki perspektif yang benar dan menghargai karya Tuhan dalam hidup mereka. Contoh: Seorang jemaat yang hanya fokus pada satu perkataan gembala yang dianggapnya menyerangnya pada hari Minggu itu dan melupakan 14 tahun berkat menunjukkan bagaimana titik buta membutakan terhadap segala kebaikan yang telah diterimanya.

  • Menumbuhkan kekerasan hati dan kehilangan kemampuan menerima Firman Tuhan dengan akurat: Hati yang dikeraskan oleh pola pikir negatif menjadi lambat untuk percaya dan sulit menerima Firman Tuhan. Ketika hati mengeras, suara Tuhan tidak dapat masuk dan dipahami dengan benar.

  • Menghancurkan batasan pemerintahan Tuhan dalam hidup: Pola pikir "orang fasik" cenderung mendobrak atau menghancurkan batasan-batasan yang ditetapkan oleh Tuhan dalam kehidupan seseorang sejak awal. Ini membuka pintu bagi pengaruh negatif dan menjauhkan dari kehendak Tuhan.

  • Menyebabkan kekacauan: Pola pikir ini dapat memicu berbagai hal negatif seperti tuduhan tanpa dasar dan konflik. Ini menciptakan lingkungan internal dan eksternal yang tidak kondusif untuk pertumbuhan rohani yang damai dan teratur.

  • Beroperasi dalam kesia-siaan pikiran: Orang fasik memikirkan hal-hal yang tidak menghasilkan buah dan hanya mendatangkan emosi negatif serta kehancuran, bukan pertumbuhan. Mereka berfokus pada keluhan dan hal-hal yang tidak membangun.

Secara keseluruhan, pola pikir "orang fasik" menjauhkan seseorang dari Tuhan, membutakan mereka terhadap kebenaran, mengeraskan hati mereka, dan menciptakan kekacauan dalam hidup mereka. Sebaliknya, pentingnya memperbarui pikiran dan mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Dengan menghindari pola pikir "orang fasik" dan belajar jalan Kristus, pertumbuhan rohani yang sejati dapat terjadi.


4. Transformasi Sejati: Contoh dari Seorang Pencuri (Efesus 4:28)

Ayat ini menggambarkan transformasi sosial yang radikal ketika gereja dirancang dengan benar. Ada tujuh langkah transformasi yang ditunjukkan:

  • Perubahan sifat dasar internal: Bukan lagi seorang pencuri secara internal.

  • Berhenti mencuri: Tidak lagi melakukan tindakan mencuri.

  • Mulai bekerja keras: Memiliki keinginan untuk bekerja.

  • Mengerjakan dengan tangannya sendiri: Mempelajari keterampilan atau perdagangan.

  • Sekarang dapat menghasilkan kebaikan: Sebelumnya menghasilkan kejahatan.

  • Berkelebihan/surplus: Memiliki sesuatu untuk dibagikan.

  • Sekarang seorang pemberi: Tidak hanya berkelebihan tetapi juga memiliki sifat memberi.


5. Kuasa Ikat Janji (Perjanjian) dengan Tuhan

  • Tuhan ingin membentuk dan mentransformasi umat-Nya sehingga tidak ada lagi cara hidup duniawi dalam diri mereka.

  • Transformasi yang sejati mempersiapkan seseorang untuk berdampak di "marketplace".

  • Tuhan mengajak Abram untuk berjalan bersama-Nya dan hidup tak bercela dalam hubungan ikat janji.

  • Bahaya yang menjauhkan dari destiny:

    • Kebutuhan.

    • Konflik dengan orang terdekat.

    • Peperangan.

    • Tawaran duniawi (simbol Raja Sodom) yang mengkompromikan nilai-nilai rohani.

  • Melalui ikat janji, Tuhan berjanji untuk menjadi perisai dan upah yang besar bagi Abram.

  • Bahkan ketika Abram membuat kesalahan, karena ikat janji, Tuhan terus bekerja dalam hidupnya untuk menggenapi janji-Nya.

  • Kekuatan ikat janji adalah bahwa Tuhan akan bekerja dalam hidup seseorang (pikiran, tubuh, dan lingkungan) sehingga janji-Nya menjadi kenyataan, terlepas dari keterbatasan manusiawi.

  • Ikat janji memungkinkan seseorang untuk percaya pada janji Tuhan meskipun keadaan terlihat bertentangan.

Ikat janji dengan Tuhan secara fundamental mengubah perspektif Abram dalam beberapa cara penting. Sebelum perjanjian, Abram menunjukkan keraguan dan ketidakpastian terhadap janji-janji Tuhan. Berikut adalah bagaimana ikat janji mengubah perspektifnya:

  • Dari keraguan menjadi kepastian akan pemenuhan janji Tuhan: Awalnya, Abram mempertanyakan bagaimana Tuhan akan memenuhi janji-Nya, terutama mengenai keturunannya karena ia tidak memiliki anak dan ahli warisnya adalah hambanya, Eliezer. Ia bahkan tampak mencoba membantu Tuhan dengan rencananya sendiri. Namun, melalui proses ikat janji (perjanjian) yang Tuhan inisiasi dalam Kejadian 15, di mana Tuhan sendiri yang lewat di antara potongan-potongan daging, Abram menerima jaminan ilahi dan kepastian bahwa janji Tuhan akan digenapi. Tindakan Tuhan ini menunjukkan komitmen sepihak dan tak tergoyahkan terhadap perjanjian-Nya.

  • Dari fokus pada keterbatasan diri dan keadaan menjadi fokus pada kekuatan dan kesetiaan Tuhan: Sebelum ikat janji, Abram lebih berfokus pada keadaannya saat ini—tidak memiliki anak, rumahnya tidak teratur, dan usianya yang semakin tua—yang membuatnya sulit untuk mempercayai janji Tuhan. Setelah ikat janji, perspektifnya bergeser untuk lebih mempercayai kemampuan dan kesetiaan Tuhan untuk mewujudkan apa yang telah dijanjikan, terlepas dari keterbatasan Abram sendiri atau keadaan sekitarnya.

  • Dari mencari solusi sendiri menjadi berserah pada rencana Tuhan: Sebelum perjanjian, Abram mencoba mencari cara alternatif untuk memenuhi janji Tuhan, seperti menjadikan Eliezer sebagai ahli waris atau melalui Hagar. Ikat janji mengajarkannya untuk tidak mengandalkan usahanya sendiri atau mencari jalan pintas, tetapi untuk berserah pada rencana dan waktu Tuhan. Tuhan menunjukkan bahwa Ia akan bekerja dalam hidup Abram dan bahkan mengubah keadaannya (termasuk tubuhnya dan istrinya) agar janji-Nya tergenapi.

  • Memahami kemitraan dengan Tuhan: Melalui ikat janji, Abram mulai memahami bahwa ia berada dalam kemitraan yang mendalam dengan Tuhan. Tuhan berkata kepada Abram bahwa jika Ia akan melakukan sesuatu yang besar (seperti menghancurkan Sodom dan Gomora), Ia akan melibatkan Abram terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwa Abram tidak lagi berjalan sendiri, tetapi memiliki hubungan yang erat di mana ia dapat berunding dengan Tuhan.

  • Menerima identitas baru sebagai bagian dari rencana Tuhan: Setelah Tuhan meneguhkan perjanjian-Nya, Ia juga menegaskan identitas Abram sebagai "Abramnya Allah Yang Mahatinggi," bukan hanya Abram dari Terah atau Abram dari Mesopotamia. Ini memberikan Abram perspektif yang lebih agung tentang dirinya dan perannya dalam rencana Tuhan bagi bangsa-bangsa.

Singkatnya, ikat janji mengubah perspektif Abram dari keraguan dan ketergantungan pada diri sendiri menjadi iman yang teguh pada janji dan kuasa Tuhan, serta pemahaman tentang kemitraan dan identitas barunya dalam rencana ilahi. Ia belajar bahwa Tuhan akan bekerja secara aktif untuk menggenapi janji-Nya, bahkan ketika keadaan tampak mustahil.

Ada tiga hal yang dapat menjauhkan seseorang dari perjalanan takdir (destiny):

(1) kebutuhan yang tidak dikelola dengan benar sehingga menjauhkan dari fokus pada tujuan Tuhan; (2) konflik dengan orang-orang terdekat yang dapat mengalihkan perhatian; (3) terlibat dalam "perang" atau proyek tanpa melibatkan kemitraan dengan Tuhan.

Kesimpulan

Untuk mengalami transformasi sosial dan menjadi berkat bagi orang lain, individu Kristen perlu mengalami transformasi internal yang dikerjakan oleh Tuhan. Pelayanan lima jawatan berperan penting dalam memfasilitasi proses ini dengan memperlengkapi jemaat untuk pelayanan. Penting untuk menghindari pola pikir dan perilaku duniawi yang tidak menghasilkan buah. Hubungan ikat janji dengan Tuhan adalah fondasi yang kuat di mana transformasi sejati dapat terjadi, di mana Tuhan sendiri bekerja untuk menggenapi janji-janji-Nya dalam kehidupan umat-Nya.


Postingan populer dari blog ini

KEHIDUPAN ZOE Kehidupan Yang Berkelimpahan

Kehidupan Berkualitas Yang Yesus Berikan Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup,    dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. gbr: opernarmautralia.org Yesus datang supaya kita akan memiliki kehidupan yang melampaui arus seluruh aspek kehidupan, lebih dari cukup, mencapai setiap bagian dari roh manusia kita, setiap bagian dari alam jiwa kita, pikiran, kehendak dan emosi, mencapai setiap bagian dari tubuh fisik kita, mencapai setiap bagian dari keuangan kita, hubungan dan semua yang berkaitan dengan kehidupan duniawi dan kehidupan spiritual kita. Dalam bahasa Yunani,   ada tiga kata yang berbeda -bios, psuche, dan zoe- diterjemahkan sebagai "hidup", dan masing-masing memiliki arti yang berbeda. Bios – adalah kehidupan biologis kita. Semua makhluk hidup memiliki bios. Bioskop artinya gambar hidup. Biologi ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup. Psuche adal...

Apa Maksudnya dengan CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS?

Kor 5:17        Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Ayat di atas menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Tapi benarkah demikian?   Dan yang lama sudah berlalu? Sebab kata ‘sesungguhnya’ menunjukkan kita belum bisa melihat yang baru itu. Mari kita telaah. Ef 4:24            dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. MANUSIA BARU kita telah   diciptakan menurut kehendak Allah SECARA SEMPURNA di dalam KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA yaitu DI DALAM KRITUS YESUS.   KEBENARAN DAN KEKUDUSAN INI TELAH TERUJI yaitu Yesus sendiri yang dalam rupa-Nya sebagai manusia – TELAH TERBUKTI SUDAH MENGALAHKAN DOSA DAN MAUT. Ef 2:10        ...

KUASA IKAT JANJI (Bagian 2)

Upper Room 180 - 4 Maret 2025 Dr. Jonathan David "Perjalanan ikat janji" adalah perjalanan di mana Allah membawa Abraham masuk ke dalam hubungan yang mendalam, di mana Allah menjadi sumbernya dan berjanji untuk menyertai serta mengubah segala sesuatu di mana pun Abraham berada. Dalam perjalanan ini, identitas Abraham tidak lagi didasarkan pada latar belakang lahiriahnya. Yesus mengatakan ini untuk menekankan bahwa hubungan spiritual berdasarkan ketaatan kepada kehendak Allah lebih penting daripada hubungan darah. Bahayanya adalah jika kita terlalu terikat pada kewajiban dan identitas lahiriah sehingga menghalangi kita untuk menyelesaikan tugas Tuhan. "Penebusan sejati" adalah pembebasan dari diri sendiri, ketakutan, pola pikir lama, dan identitas yang dibentuk oleh hal-hal duniawi. Identitas sejati kita ada di dalam Kristus, dan tujuannya adalah untuk semakin serupa dengan-Nya, melepaskan keakuan agar dapat memperoleh Kristus. Tuhan ingin mengubah bangsa-bangsa mel...

Preparing the Bride - Session 2

Persiapan gereja sebagai Mempelai Wanita Kristus untuk pernikahan dengan Anak Domba - Sesi 2 Ps. Djonny Tambunan Pada sesi ini papa membahas konsep menjadi kudus dan setia sebagai istri Kristus. Pembicara menekankan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam diri orang percaya untuk mengatasi godaan dan mencapai kekudusan. Ia menarik garis paralel antara pencobaan yang dialami Y esus dan pencobaan yang dihadapi orang Kristen masa kini. Papa mengilustrasikan lebih jauh dengan tokoh Musa sebagai teladan keteguhan iman. Berikut adalah rangkumannya, yang akan membantu Anda memahaminya dengan mudah: Tujuan Tuhan dalam Hidup Orang Percaya : Tuhan berharap umat-Nya menjadi kudus dan mencapai kekudusan seperti Kristus. Ini bukan hanya menjadi umat Tuhan, tetapi juga menjadi kekasih atau istri-Nya. Untuk mencapai ini, Tuhan memberikan Roh Kudus. Peran Roh Kudus : Roh Kudus memberikan kemampuan untuk merespon kehendak Roh, bukan keinginan daging. Roh Kudus memberikan identitas bahwa orang percaya adal...

EIDO dan GINOSKO

Yohanes 4:10 Jawab Yesus kepadanya: *"Jikalau engkau tahu (eido) tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:*  Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Gbr: youtube.com Eido di sini artinya memiliki pengetahuan. Mungkin tau dari orang lain atau pernah melihat-Nya. Pernah mendengar khotbah atau melihat perbuatan dan mujizat yang Yesus lakukan. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan disebut orang bodoh dan bahkan sebagai pelaku kejahatan, karenanya mereka menolak karunia Allah dan menolak Yesus yang diutus oleh-Nya. Orang bodoh tidak melihat apa yang disediakan Allah dan akan berakhir kepada hidup yang sia-sia walau sesukses apa pun di dunia ini menurut anggapan orang. Yohanes 1:11-12 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu merek...

Kuasa Ikat Janji – bagian 4: Berjalan dalam Kemitraan

Kuasa Ikat Janji: Berjalan dalam Kemitraan dengan Tuhan Upper Room 182 – 18 Maret 2025 Dr. Jonathan David Khotbah ini menggunakan perjanjian Allah dengan Abraham sebagai contoh utama, menjelaskan bahwa ikat janji (covenant) itu melampaui iman manusia dan berakar pada sifat kesetiaan (faithfulness) Allah untuk menggenapi firman-Nya. Lebih lanjut, ditekankan bahwa keterlibatan aktif dan kepatuhan manusia dalam ikat janji, yang disimbolkan dengan sunat (peran kekuatan dan usaha sendiri manusia dikurangi), mengundang intervensi ilahi yang lebih besar dan memberdayakan umat beriman serta keturunan mereka. Khotbah ini mendorong pendengar untuk mempercayai Allah sepenuhnya dan hidup dalam keselarasan dengan kehendak-Nya sebagai mitra dalam ikat janji. Bagaimana Konsep  ikat janji mempengaruhi hubungan manusia dengan Tuhan? Konsep "kuasa ikat janji" secara fundamental mempengaruhi hubungan manusia dengan Tuhan dengan menjadikannya lebih dari sekadar hubungan biasa, melainkan se...

Preparing the Bride - Session 08

Karakteristik Gereja Sebagai Kekasih Tuhan - Sesi 08 Tema masih membahas tentang karakteristik gereja yang diidamkan Tuhan sebagai kekasih-Nya , menggunakan Kidung Agung dan perumpamaan bunga bakung di antara duri . Analogi utama yang digunakan adalah kisah Gadis Sunem dalam Kitab Kidung Agung dan hubungannya dengan Kekasihnya dan Raja Salomo. Membandingkan kecantikan lahiriah seorang gadis dengan keindahan batiniah yang dikerjakan oleh Tuhan sendiri , menekankan bahwa Allah lebih tertarik pada hati dan kesetiaan rohani daripada penampilan luar atau upaya manusia. Lebih lanjut, Kidung Agung mengilustrasikan prinsip ini melalui kisah Raja Salomo, gadis Sunem, pemilihan Daud sebagai raja, dan ajaran Yesus tentang bunga bakung di ladang , yang menunjukkan bahwa nilai sejati di mata Tuhan terletak pada kualitas batin yang ilahi . Kid 2:1 [Gadis Sunem] Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah. 2  —  [Salomo] Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah m...

GALATIA 1:10-24 KELUAR DARI HIDUP YANG SIA-SIA

Galatia 1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia?  Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebagai seorang rasul Tuhan, Paulus mengambil SIKAP TEGAS untuk tidak mencari perkenanan manusia. Tujuannya adalah melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan menggenapinya. gbr: knowing-jesus.com Ini adalah suatu MASALAH SERIUS dalam hubungan kita dengan Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu. Ketika kita mulai mengandalkan orang dalam hidup kita atau dalam melayani Tuhan, maka kita akan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Saul sangat mengutamakan orang Israel dibandingkan Tuhan. Ketika Samuel terlambat sedikit datang ke Gilgal, Saul menjadi tidak taat dan mempersembahkan korban bakaran sendiri; karena ia melihat rakyat mulai meninggalkannya. Walau pun Samuel menegurnya dan mengecam perbuatannya yang bodoh, Saul tidak menyesal.  Saul juga...

Preparing the Bride - Session 1

Persiapan gereja sebagai Mempelai Wanita Kristus untuk pernikahan dengan Anak Domba - Sesi 1 Ps. Djonny Tambunan Kunci dari persiapan ini adalah kekudusan dan kesetiaan, yang dicapai melalui Roh Kudus, Firman, dan hamba-hamba Tuhan. Proses ini melibatkan transformasi dari sekadar umat Tuhan menjadi kekasih-Nya, yang siap dan berkontribusi pada perjamuan pernikahan.  Gereja dipanggil untuk hidup kudus, menolak dosa, dan memiliki iman yang memampukan umat untuk melihat upah kekal. Yesaya 54:5 menekankan peran Allah sebagai suami yang memproses umat-Nya menjadi istri, sementara Efesus 5:25-27 menyoroti Kristus memurnikan gereja melalui Firman. Intinya, sesi-sesi ini menekankan pentingnya kesiapan rohani dan transformasi pribadi untuk memenuhi panggilan sebagai mempelai Kristus. Wahyu 19 dan Roma 9 memiliki kesamaan dalam hal panggilan dan status orang percaya. Ayat kunci yang menjadi dasar tema Persiapan Mempelai Wanita Why 19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memulia...

Preparing the Bride - Session 04

Gereja sebagai Kekasih Tuhan Khotbah ini membahas karakteristik gereja yang ideal menurut pandangan Tuhan. Kitab Kidung Agung menjadi fokus utama kita untuk menganalisis hubungan antara mempelai wanita dan kekasihnya sebagai analogi untuk hubungan antara gereja dan Kristus. Kita akan melihat perbandingan Adam pertama dan Adam terakhir dari 1 Korintus, serta peran wanita dalam kejatuhan dari 1 Timotius, untuk menekankan pentingnya kesetiaan dan ketahanan gereja terhadap godaan. Selain itu khotbah ini menggali peran Kristus sebagai Gembala melalui berbagai ayat Perjanjian Lama dan Baru, menyoroti kasih dan pengorbanan-Nya bagi umat-Nya. Tema Utama: Karakteristik Kehidupan Gereja yang Diharapkan Tuhan sebagai Kekasih-Nya Pendahuluan: Pembahasan ini penting bagi pengikut Tuhan dan umat-Nya. Tujuan Tuhan lebih dari sekadar menyelamatkan; Ia ingin gereja menjadi kekasih-Nya yang sejati dan hidup manunggal dengan-Nya. Firman Tuhan (Rhema) membimbing perjalanan iman. Gereja sebagai Kekas...