Hawa yang Terakhir: Karakteristik Gereja Kekasih Tuhan
Khotbah ini membahas karakteristik ideal sebuah gereja, yang dianalogikan sebagai kekasih Tuhan. Kitab Kidung Agung menggambarkan hubungan ini melalui metafora mempelai wanita (gereja) dan gembala (Kristus). Ditekankan bahwa kesetiaan, yang dipandang setara dengan iman yang penuh, adalah sifat utama yang harus dimiliki gereja. Kesetiaan ini dicontohkan melalui penolakan gadis Sunem terhadap tawaran Raja Salomo, yang diinterpretasikan sebagai penolakan terhadap godaan duniawi demi kasih kepada Sang Gembala. Kisah ini mendorong pendengar untuk membangun iman melalui pendengaran Firman Tuhan (Rhema) yang disampaikan oleh Roh Kudus, yang akan menghasilkan kesetiaan dan menjadikan gereja sebagai kekasih Tuhan yang sejati.
Banyak orang mencintai Tuhan karena apa yang telah Dia lakukan bagi mereka (berkat, perlindungan, pengurapan, karunia-karunia), tetapi bukan karena tertarik pada kekuatan karakter dan kepribadian Kristus. Ketika keadaan dan kenyataan kita pikir menjadi mustahil - dimana tidak ada pertolongan Tuhan, tidak ada kesembuhan, apalagi mujizat. Kita melihat sepertinya tidak ada jalan keluar, sepertinya Tuhan sedang tertidur dan bahkan Ia tidak ada di sini - maka iman akan mudah goyah. Ini bukanlah level gereja sebagai kekasih Tuhan.
I. Analogi Adam Terakhir dan Hawa Terakhir
Rasul Paulus berbicara tentang Adam yang terakhir, yaitu Kristus.
Ternyata ada gadis Sunem (gadis Sulam), yang menggambarkan karakteristik sebagai Hawa yang terakhir ditemukan di Kidung Agung, yaitu Gereja diharapkan Tuhan sebagai kekasih-Nya.
II. Karakteristik Gereja Berdasarkan Kitab Kidung Agung (Kisah Gadis Sunem dan Sang Gembala)
Kisah ini menggambarkan hubungan antara kekasih (gadis Sunem) dan Sang Gembala. Banyak interpretasi yang keliru mengidentifikasikan Raja Salomo sebagai kekasihnya. Kekasih gadis Sunem adalah gembala, bukan raja.
Gereja diharapkan mengadopsi kehidupan atau spirit gadis Sunem dalam mencintai Kristus.
A. Mencintai Kristus Karena Pesona Kepribadian-Nya
Gadis Sunem mencintai Sang Gembala karena pesona kepribadiannya, bukan hanya karena perbuatan-Nya.
Kristus adalah Gembala yang Agung.
Sebagai gereja, kita seharusnya mencintai Kristus yang adalah Gembala kita.
Banyak orang mencintai Tuhan karena apa yang telah Dia lakukan bagi mereka (berkat, perlindungan, pengurapan, karunia-karunia), tetapi ini bukanlah level gereja sebagai kekasih Tuhan.
Gadis Sunem tidak tertarik pada pesona Raja Salomo, tetapi tetap tertarik pada pesona Sang Gembala.
B. Hati yang Dipenjarakan untuk Kekasih
Ungkapan gadis Sunem, "kekasihku bagaikan sebungkus Mur tersisip di antara Buah dadaku", menggambarkan Kristus yang ada di dalam hatinya.
Mur adalah persembahan dan penghormatan.
Menurut Amsal 4:23, jaga hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Kata "natsar" dalam bahasa Ibrani berarti "penjarakan" hatimu, awasi dengan ketat agar apa yang ada di dalamnya tidak keluar.
Kehidupan gereja seharusnya memancarkan Kristus yang "dikurung" dalam hati.
C. Kesetiaan Seperti Merpati
Pujian sang kekasih, "cantik engkau ini, manisku, sungguh cantik engkau bagaikan merpati matamu".
Mata adalah pelita tubuh (Matius 6:22) dan mencerminkan kehidupan seseorang.
Merpati adalah binatang yang monogami dan setia pada pasangannya, juga lambang Roh Kudus.
Mata gereja sebagai kekasih Tuhan seharusnya seperti merpati, mencerminkan kesucian dan kesetiaan dalam segala aspek kehidupan.
Kesetiaan dibangun dengan melihat persona Kristus yang tidak terlihat.
Dalam Perjanjian Baru, kata "iman" (pistis dalam bahasa Yunani) memiliki akar yang sama dengan kata "kesetiaan" (juga pistis dalam bahasa Yunani).
Kesetiaan (faithfulness) adalah kepenuhan iman (faith fullness).
Kesetiaan adalah ciri atau corak kehidupan gereja.
III. Penolakan Terhadap Tawaran Dunia (Kisah Gadis Sunem dan Raja Salomo)
Meskipun Raja Salomo mencintai dan menginginkan gadis Sunem, dia tidak tertarik pada pesonanya.
Gadis Sunem menggambarkan dirinya sebagai "bunga mawar dari Saron Aku Bunga Bakung di lembah-lembah".
Salomo membalas dengan mengatakan, "seperti bunga bakung di antara duri-duri demikianlah manisku di antara gadis-gadis".
Gadis Sunem merendahkan diri, mengatakan dirinya hanya "sekuntum Mawar kecil atau bunga krokus [krokot] atau bunga bakung [ Lily ] di lembah yang tumbuh di tempat yang dalam dan sulit".
Ini adalah ungkapan penolakan terhadap cinta dan tawaran Raja Salomo.
Salomo mengumpamakan gadis Sunem dengan "kuda betina daripada kereta-kereta Firaun", yang sangat berharga.
Bunga mawar dari Saron, bunga bakung, dan bunga lili pada masa itu tumbuh liar di tempat yang terpencil dan terabaikan.
Penolakan gadis Sunem menunjukkan ketegasan dan kesetiaan hanya kepada Sang Gembala.
IV. Iman dan Kesetiaan Sebagai Kekuatan untuk Menolak Dunia
Ibr 11:24 Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, 25 karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. 26 Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. 27 Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.
Kisah gadis Sunem sejajar dengan gambaran orang-orang beriman dalam Ibrani 11.
Mereka tidak menerima janji-janji Allah pada masa hidup mereka tetapi tetap beriman.
Mereka mengakui diri sebagai orang asing dan pendatang di bumi.
Dunia tidak layak bagi mereka.
Seperti Musa menolak disebut anak Putri Firaun (Ibrani 11:24), gadis Sunem menolak menjadi istri Raja Salomo.
Dia lebih suka menderita sebagai kekasih Sang Gembala daripada menikmati kesenangan sementara dengan menjadi istri raja (seperti Ibrani 11:25).
Dia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar (Ibrani 11:26).
Dia bertahan seolah-olah melihat apa yang tidak kelihatan (Ibrani 11:27).
Kesetiaan gadis Sunem didasarkan pada iman yang penuh sehingga dia bisa melihat kesetiaan Sang Gembala.
Mawar Saron melambangkan penolakan atas kemewahan dan kemuliaan dunia.
V. Iman Timbul dari Mendengar Firman Kristus (Rhema)
Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rhema) (Roma 10:17).
Setelah Kristus meninggalkan kita, Dia memberikan Roh Kudus sebagai pemberian.
Firman yang dimaksud bukanlah hanya Firman tertulis atau khotbah, tetapi Firman yang bersuara (Rhema).
Jemaat harus mendengarkan apa yang dikatakan Roh (Wahyu 2:7, 11, dll.).
Roh Kudus tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi menyampaikan apa yang didengar dari Bapa dan Kristus (Yohanes 16:13).
Yoh 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
Firman Rhema diperlukan setiap hari untuk memelihara iman dan kesetiaan.
Orang yang tidak bisa mendengar suara Roh bukanlah bagian dari gereja sebagai kekasih Tuhan.
VI. Kesetiaan Kristus
Kristus digambarkan sebagai "Yang Setia" (Pistos) dalam Wahyu 19:11.
Why 19:11 Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar," Ia menghakimi dan berperang dengan adil.
Allah adalah setia (1 Korintus 1:9).
1Kor 1:9 Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.
Ia yang memanggil kamu sebagai istri adalah setia, Ia juga akan menggenapinya (1 Tesalonika 5:24).
1Tes 5:24 Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.
Meskipun kita tidak setia, Dia tetap setia karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Timotius 2:13).
Kesetiaan Kristus adalah bagian dari kepribadian-Nya yang menarik hati gereja.
VII. Proses Menjadi Kekasih Tuhan
Allah ingin umat-Nya naik tingkat dari sekadar umat menjadi kekasih Tuhan.
Kesetiaan yang teruji dan terbukti membuat gereja menjadi elok dalam pemandangan Tuhan.
Tuhan sedang mengerjakan dan mendandani gereja di tempat tersembunyi dengan kesetiaan (Efesus 5:25-27).
Ef 5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Kesetiaan dihasilkan dari pekerjaan Roh yang bersuara (Rhema), menghasilkan iman yang menimbulkan kesetiaan.
Gadis Sunem menolak cinta Raja Salomo karena beberapa alasan mendasar yang terungkap:
Cinta dan Kesetiaan kepada Sang Gembala: Alasan utama gadis Sunem menolak Raja Salomo adalah karena cintanya yang mendalam dan kesetiaannya yang teguh kepada kekasihnya, Sang Gembala. Cintanya kepada Sang Gembala didasarkan pada pesona kepribadiannya, bukan pada status atau kekayaan. Dia tidak tertarik pada pesona Raja Salomo.
Memandang Rendah Tawaran Duniawi: Gadis Sunem menggambarkan dirinya sebagai "bunga mawar dari Saron Aku Bunga Bakung di lembah-lembah". Ungkapan ini merupakan sebuah penolakan terhadap tawaran cinta Salomo. Bunga-bunga ini pada masa itu tumbuh liar di tempat-tempat terpencil dan terabaikan. Dengan mengatakan ini, dia merendahkan dirinya di hadapan raja, menunjukkan bahwa dia tidak tertarik pada kemewahan dan status yang ditawarkan Salomo. Dia tidak menganggap dirinya seberharga gambaran Salomo tentang dirinya sebagai "kuda betina daripada kereta-kereta Firaun".
Nilai Kesetiaan di Atas Status: Gadis Sunem lebih menghargai kesetiaannya kepada Sang Gembala daripada kesempatan untuk menjadi istri raja, yang akan meningkatkan status sosial dan ekonomi dirinya serta keluarganya. Baginya, tetap setia kepada kekasihnya yang berstatus hanya sebagai gembala lebih berharga daripada menikmati kesenangan sementara dan menjadi tidak setia dengan menerima tawaran Raja Salomo.
Iman dan Prinsip yang Kuat: Penolakan gadis Sunem mencerminkan iman dan prinsip hidup yang kuat. Seperti yang dijelaskan dalam konteks Ibrani 11, orang-orang beriman bersedia menderita dan menolak kemewahan dunia karena pandangan mereka tertuju pada sesuatu yang lebih kekal. Gadis Sunem lebih memilih untuk tetap menjadi kekasih Sang Gembala, meskipun harus menghadapi kehidupan yang sederhana, daripada menikmati kemewahan sementara dengan mengkhianati cintanya. Ini sejalan dengan konsep bahwa gereja sebagai kekasih Tuhan harus tetap setia kepada Kristus dan menolak bujukan dunia.
Singkatnya, gadis Sunem menolak cinta Raja Salomo karena hatinya telah sepenuhnya dimiliki oleh Sang Gembala yang dicintainya karena kepribadiannya. Dia juga menunjukkan bahwa nilai-nilai rohani dan kesetiaan jauh lebih penting baginya daripada kemewahan dan status duniawi yang ditawarkan oleh Raja Salomo. Tindakannya adalah sebuah penolakan tegas terhadap tawaran dunia dan penegasan kesetiaannya hanya kepada kekasihnya.