BACA dan RENUNGKAN
Wahyu 1:10 Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
Yesaya 30:20 Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, 21 dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri.
Dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala
kenapa SUARA itu datang dari BELAKANG? Kenapa tidak datang dari DEPAN? Berbicara
tentang apakah suara dari belakang yang nyaring itu? (Yesaya 30:21)
TUNTUNAN dengan PERINTAH? Kalau Tuhan MENUNTUN dan MENGARAHKAN hidup
saudara, apakah saudara masih bisa MENOLAKNYA dan tidak mengikuti ARAHAN dan
TUNTUNANNYA itu? Kalau begitu untuk kita bisa mengalami tuntunan dari Tuhan, apa
yang harus saudara SERAHKAN?
Telingamu akan mendengar PERKATAAN ini dari belakangmu, PERKATAAN siapa yang
seharusnya MENUNTUN, MENGARAHKAN langkah2 perjalanan hidup kita? Tuhan bukan
hanya memberi kita ROTI dan AIR, apalagi yang Tuhan akan lakukan kepada kita? Kalau
kita menerima pengajaranNya, tuntunanNya, apa yang terjadi dengan “MATA dan
TELINGA” kita? (Yesaya 30:21)
Mari kita renungkan bersama ayat-ayat tersebut:
Mengapa Suara dari Belakang?
Suara dari belakang mengindikasikan sebuah peringatan, koreksi, atau nasihat yang mungkin tidak kita sadari jika datang dari depan. Kadang kita terlalu fokus pada tujuan di depan sehingga tidak menyadari potensi bahaya atau arah yang lebih baik di belakang kita.
Suara dari belakang bisa juga melambangkan hikmat masa lalu, pengalaman, atau prinsip-prinsip abadi yang terlupakan namun tetap relevan untuk perjalanan kita.
Dalam konteks Yesaya 30:21, suara dari belakang adalah tuntunan Ilahi yang membimbing kita di saat kita mungkin kehilangan arah ("entah kamu menganan atau mengiri").
Suara nyaring seperti bunyi sangkakala (Wahyu 1:10) menekankan urgensi dan kepentingan pesan tersebut. Kita perlu berhenti sejenak dan mendengarkan dengan seksama.
Tuntunan vs. Perintah, dan Penyerahan Diri
Perintah bersifat mutlak dan harus dipatuhi tanpa syarat. Tuntunan bersifat lebih lugas dan memberikan ruang bagi pilihan dan pertimbangan. Tuntunan lebih menekankan pada pertumbuhan dan pemahaman, bukan sekadar kepatuhan buta.
Tentu saja, kita masih bisa menolak tuntunan Tuhan. Kita memiliki kehendak bebas. Namun, menolak tuntunan-Nya berarti berpotensi kehilangan arah, tersesat, atau mengalami konsekuensi yang tidak diinginkan.
Untuk mengalami tuntunan Tuhan, kita perlu menyerahkan kehendak kita, ego kita, dan keinginan kita untuk mengendalikan segala sesuatu. Kita perlu merendahkan diri dan mengakui bahwa kita membutuhkan bimbingan-Nya. Penyerahan diri juga berarti membuka hati dan pikiran kita untuk menerima kebenaran, bahkan jika itu tidak sesuai dengan harapan kita.
Perkataan Siapa yang Menuntun?
Perkataan yang seharusnya menuntun kita adalah perkataan Tuhan. Ini bisa melalui Roh Kudus, suara hati (hati nurani) yang jernih, dari firman yang berbicara.
Selain roti dan air (kebutuhan jasmani), Tuhan memberi kita Pengajaran (Guru), yaitu diri-Nya sendiri. Dia tidak menyembunyikan diri-Nya, tetapi menyatakan diri-Nya kepada kita. Ini yang patut kita syukuri dan banggakan.
Jika kita menerima pengajaran dan tuntunan-Nya, mata kita akan melihat Dia dengan iman (memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang kebenaran dan rencana-Nya), dan telinga kita akan mendengar suara-Nya (peka terhadap bimbingan-Nya dalam setiap langkah). Kita akan memiliki kejelasan dan hikmat untuk menavigasi hidup dengan lebih baik.
Semoga renungan ini bermanfaat.