BACA DAN RENUNGKAN:
Abraham disebut: "Sahabat Allah." Kanaan itu dikutuk karena dosanya Ham, Babel juga dikutuk
1. Keadaan Abram: Saat Abram mengatakan hal ini kepada raja
Sodom, dia tidak dalam keadaan miskin. Justru, dia baru saja memenangkan
pertempuran dan berhasil merebut kembali harta benda yang dirampas musuh dari
orang-orang Sodom-Gomora, termasuk orang-orangnya yang ditawan termasuk
keluarga Lot (Kejadian 14). Jadi, secara materi, Abram dalam posisi sudah kaya
karena pernah memperoleh harta dari Mesir, juga berpotensi untuk menjadi sangat
kaya dari hasil rampasan perang tersebut. Raja Sodom berusaha meng-klaimnya
secara sepihak hasil dari rampasan perang itu.
Kej 14:21 Berkatalah raja Sodom itu kepada Abram:
"Berikanlah kepadaku orang-orang itu, dan ambillah untukmu harta benda
itu."
Raja Sodom beranggapan, bahwa ia berhak juga atas rampasan
dan jarahan itu. Abraham tidak takut dengan raja Sodom, karena Melkisedek sudah
mengatakan Allah Yang Mahatinggi lah yang memberikan kekuatan dan kemenangan
atas musuh-musuh Abram.
Siapa yang membuat dia kaya: Jadi sudah sangat jelas, iapa
yang membuat dia kaya? Tidak ada keraguan Abraham. Dalam Kej 15:1 Allah mengatakan kepada Abram dalam suatu
penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat
besar."
Dalam Kejadian 12:2, Allah berjanji kepada Abram, "Aku
akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan Aku akan memberkati engkau
serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat."
Jadi, kekayaan Abram dan kemenangan-kemenangannya adalah
berkat dan pemenuhan janji dari Allah.
Rencana Allah bagi Abram: Rencana Allah bagi Abram adalah
untuk menjadikannya berkat bagi segala bangsa. Ia memenuhi janji-Nya tersebut. Kekayaan
materi hanyalah salah satu aspek dari berkat tersebut. Allah ingin Abram bukan
hanya menjadi saluran berkat, bukan hanya penerima berkat, tapi menjadikannya
BERKAT bagi bangsa-bangsa. Kekayaan itu sendiri bukanlah tujuan, tetapi sarana
untuk melaksanakan rencana Allah. Allah ingin melalui keturunan Abram lahir
Juruselamat yang akan menyelamatkan umat manusia.
2. Karakter Abram dan sumpahnya demi Allah Yang Mahatinggi:
Pernyataan Abram menunjukkan beberapa karakter penting:
Ketegasan dan Prinsip: Abram sangat tegas dalam
pendiriannya. Dia tidak kompromi dengan tawaran raja Sodom. Dia tau tawaran itu
bagi orang dunia menggiurkan, tapi sebenarnya tawaran palsu. Karena perkataan
Allah dan dari janji-janji-Nya lah, ia memperoleh berkat dan kemenangan.
Sedangkan raja Sodom adalah pihak yang sudah dikalahkan lawannya. Prinsipnya memegang perkataan Tuhan itu jauh lebih
penting daripada keuntungan materi, tapi dia tidak mau memberikan kesempatan
pada raja Sodom (yang mewakili dunia) untuk mengkompromikan prinsip kebenaran. Tawaran
raja Sodom sebenarnya mengandung tipu daya (karena dia penonton, tidak ikut
berperang). Apa yang diperoleh Abram adalah karena Allah Yang Mahatinggi.
Pengenalan akan Allah: Abram jadi lebih mengenal siapa Allah
yang disembahnya. Dia menyadari bahwa Allah adalah pemilik langit dan bumi,
sumber segala berkat dan Dia betul-betul menjadi perisai dan kekuatannya.
Sumpahnya demi Allah Yang Mahatinggi menunjukkan penghormatan dan pengakuannya
atas kedaulatan Allah Yang Mahatinggi.
3. Integritas: Abram tidak ingin raja Sodom mengklaim bahwa
dia telah memperkaya Abram. Dia menjaga integritasnya dan tidak ingin ada
anggapan bahwa kekayaannya berasal dari manusia, tetapi dari Allah, bahkan
tidak dengan seutas tali kasut pun. Ini menyatakan ketegasan Abram menghadapi
Sodom (dunia).
Negosiasi, Sungkan, atau Takut? Sama sekali tidak. Abram
tidak bernegosiasi dengan raja Sodom, tidak sungkan, dan tidak takut. Dia
berbicara dengan tegas dan lugas. Dia tidak merasa terintimidasi oleh posisi
raja Sodom karena dia tahu siapa yang lebih berkuasa, yaitu Allah Yang
Mahatinggi.
Menolak bersahabat dengan dunia dan tawarannya: Kita belajar
dari Abram untuk BERANI menolak bersahabat dengan dunia dan tawarannya dengan
dasar kebenaran dan realita yang betul-betul terjadi nyata akan kehadiran dan
perlindungan Tuhan dalam hidup kita. Kita perlu memiliki kesadaran ini,
sehingga menjadi ketetapan hati yang sama seperti Abram. Ini berarti kita memiliki prinsip yang kuat yang
didasarkan pada firman Allah, pada ikat-janji-Nya dan kepada Pribadi-Nya.
4. Membangun ketetapan hati dan pengenalan akan Allah: Ketetapan
dibangun melalui pengenalan akan Allah. Dibolak-balik pun tetap sama:
Pengenalan akan Allah yang benar adalah dasar dari ketetapan hati. Kita tidak
bisa punya ketetapan hati yang kokoh jika kita tidak mengenal siapa Allah dan
apa rencana-Nya dalam hidup kita dan apa kehendak-Nya.
Terus bergaul dengan Firman Tuhan secara rutin dan konsisten:
Kita perlu membaca, merenungkan, dan mendoakan Firman untuk mengenal Allah dan
kehendak-Nya. (Daniel 1:8)
Berdoa, memuji dan menyembah Tuhan: Bergaul karib dengan Tuhan
Yesus Kristus melalui doa, pujian syukur dan penyembahan akan menumbuhkan iman
kita dan membawa kita naik. (Daniel 6:11)
Bersekutu dengan saudara-saudara dalam rumah: Sharingkan
firman dan kesaksian iman dalam komsel akan saling menguatkan dan membantu kita
bertumbuh dalam iman.
Berlatih menaati Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari:
Ketetapan hati bukan hanya teori, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.
Menolak godaan dan tawaran dunia: Kita perlu belajar untuk
menolak godaan yang dapat menjauhkan kita dari Allah seperti sosmed, pergaulan
tidak benar, dsb. Dunia senang mengklaim apa yang tidak benar, seolah-olah
kebenaran dan keuntungan; tapi sebenarnya kepalsuan dan tipu daya. Trending
topik di mesos misalnya, bagaimana keuntungan kita peroleh dengan memanfaatkan
medsos/internet bisa menjauhkan kita dari Tuhan dan rencana-Nya serta semua
berkat dan penyediaan-Nya bagi kita.
Fokus pada tujuan kekal: Mengingat tujuan kekal akan
membantu kita tidak terikat pada hal-hal duniawi yang sementara.
Kisah Abram adalah contoh bagi kita untuk memiliki ketetapan
hati dan pengenalan yang benar akan Allah. Kita harus meneladani prinsip dan
ketegasan Abram dalam hidup kita, menolak segala tawaran dunia yang dapat
menjauhkan kita dari Allah. Dengan membangun hubungan yang intim dengan Allah
dan memegang teguh firman-Nya, kita akan mampu menolak bersahabat dengan dunia
ini dan menjadi berkat bagi orang lain, seperti yang Allah rencanakan bagi
kita.