Mari kita telaah dan renungkan perumpamaan tentang talenta, khususnya bagian tentang hamba yang menerima satu talenta (Matius 25:24-30).
Ayat Kunci:
Matius 25:14-15: "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat." Matius 25:24-25: "Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!" Matius 25:26-30: (Tanggapan Tuan): "Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Matius 13:41-42; 49-50: (Peringatan tentang penghakiman) "Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.... Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."
Poin-poin renungan:
1. Hubungan awal hamba ketiga dan mengapa tuan
mempercayakannya: Pada awalnya, hamba ketiga memiliki hubungan yang baik dengan
tuannya, sama seperti hamba-hamba yang lain. Ada hubungan rasa percaya dan
hormat yang sifatnya timbal balik antara kedua pihak. Tuannya juga memanggilnya
dan memberikan talenta padanya.
Alasan Tuan (Tuhan)
mempercayakannya: Tuan mempercayakan hartanya kepada hamba ketiga karena ia
memiliki kesanggupan atau kemampuan (dunamis), meskipun tidak sebanyak hamba
yang lain (Matius 25:15). Tuan memiliki keyakinan bahwa setiap hamba memiliki
potensi dan harus diberi kesempatan untuk menggunakan dan mengembangkan potensi
yang ada. Pada awalnya, hamba ketiga diasumsikan juga memiliki karakter yang
netral, artinya ia tidak jahat ataupun malas. Dia dianggap layak menerima
kepercayaan dari tuannya.
2. Mengapa hanya satu talenta dan apa dasarnya? Tuan
memberikan satu talenta karena kesanggupan/kemampuan hamba tersebut memang
tidak sebanyak hamba lainnya. Dasar pemberian jumlah talenta adalah keadilan
dan hikmat (kearifan, kebijakan) tuan. Tuan memberikan sesuai dengan kemampuan
hamba, bukan karena diskriminasi atau pilih kasih.
3.
Perubahan pada hamba ketiga dan alasannya. Perubahan
terjadi setelah dipercayakan talenta, hamba ketiga mengalami perubahan dan
kerusakan yang sangat buruk.
Dia mulai meragukan karakter dan
maksud baik tuannya. Biasanya orang mengatakan tentang dirinya sendiri, bahwa
nasibnya memang buruk, rejekinya hanya segitu. Jadi ia kehilangan iman dan
kepercayaan. Ditambah pula, timbul rasa
takut dan rasa takut gagal itu menguasai dirinya, bukan lagi tentang rasa
hormat dan tanggung jawab atas pemberian talenta itu. Muncul kecurigaan. Dia memandang
tuannya sebagai pribadi yang kejam dan tidak adil.
Hal-hal inilah yang membuat
beberapa hal terhilang dari dirinya. Hilang motivasi untuk bekerja dan
mengembangkan / memultiplikasikan talenta yang diberikan. Hilang rasa tanggung
jawab terhadap kepercayaan yang diberikan. Ia juga kehilangan rasa kerendahan
hati untuk mengelola dan mengembangkan talenta, dan berubah menjadi kesombongan,
keengganan karena ia merasa telah
direndahkan dan tidak dihargai tuannya.
Yang merusaknya, pertama-tama
adalah pikiran yang salah tentang karakter tuannya (kejam, tidak adil, cari
untung) merusak hatinya dan perasaannya. Timbul keinginan menggugat kedaulatan
tuannya dan berprasangka buruk karena persepsi yang salah (pemikiran yang
salah) itu. Selain itu timbul ketakutan
yang melumpuhkannya berpikir waras dengan akal budi.
Jadi bukannya bertindak benar
untuk memanfaatkan kesempatan dan kepercayaan yang diberikan tuannya, malah sebaliknya ia menyembunyikan talenta
itu di dalam tanah. Alasannya adalah
takut, bukan karena tidak memiliki kemampuan. Dia mengakui bahwa dia tahu
tuannya akan menuntut pertanggungjawaban, tetapi rasa takut itu malah
membuatnya menjadi lumpuh / buntu dan tidak bertindak sebagaimana mestinya.
4.
Karakter yang disebutkan tuannya: karakter hamba
yang jahat. Ia tidak berpikir secara positif, moralnya
buruk, pesimis, berprasangka buruk dan cenderung melakukan dosa dan kejahatan.
Ia juga malas: lamban merespon, responnya negatif, tidak mau bekerja, tidak produktif. Ia menjadi
tidak berguna (tidak berharga, tidak bernilai, tidak layak), dan tidak
memberikan kontribusi.
Tindakan Tuannya adalah talenta
diambil dan diberikan kepada orang yang memiliki sepuluh talenta. Sedangkan hamba
itu dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.
Tempat Kegelapan: Kegelapan yang
paling gelap mengacu pada neraka, tempat di mana tidak ada kehadiran Tuhan dan
hanya ada penderitaan (ratapan dan kertak gigi Matius 13:41-42; 49-50). Tempat
ini adalah tempat penghakiman terakhir bagi orang-orang yang menolak Tuhan dan
tidak setia dalam menjalankan panggilan-Nya. Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang
benar...bukan orang jahat dan orang baik. Yesus mengatakan kepada orang muda
yang kaya, hanya ada SATU yang baik, yaitu kembali kepada kebenaran. Yesus
adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Bukan mengandalkan usaha dan kekuatan dan
pemikiran sendiri, tapi hanya mengandalkan Tuhan dan taat kepadanya.
5.
Mengapa hamba itu dikatakan jahat? Dikatakan
jahat bukan karena dia tidak mendapatkan keuntungan bagi tuannya, tetapi karena
salah persepsi tentang tuannya dan karena dosa pemberontakannya. Ia menganggap
tuannya kejam dan tidak adil. Ia menolak tanggung jawab atas kepercayaan yang
telah diberikan kepadanya. Ia tidak setia pada panggilannya dan menggantungkan
hidupnya pada nasib, bukan pada takdir yang Tuhan tetapkan.
Kejatuhan Lucifer juga karena
dosa pemberontakan oleh karena salah persepsi tentang Tuhan oleh pemikirannya
sendiri, kesombongan dan dosa pemberontakannya. Itu sebabnya hamba itu disebut
jahat.
Tuhan Memberi Kesempatan: Setiap kita diberi kesempatan dan potensi oleh Tuhan, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Tanggung Jawab Pribadi: Kita bertanggung jawab atas bagaimana kita menggunakan talenta yang diberikan. Pikiran yang Benar: Pikiran yang benar tentang karakter Tuhan sangat penting untuk menjaga kita dari ketakutan dan keraguan. Kesetiaan adalah Pilihan: Kesetiaan adalah pilihan untuk bertindak dengan benar dan mengembangkan potensi yang diberikan, bukan membiarkannya terpendam. Konsekuensi Ketidaksetiaan: Ketidaksetiaan akan membawa kita kepada penghakiman dan hukuman.