Ringkasan sesi 6 TLC Medan 27-30 Des 2024
Tema Utama: Konsep
Berpikir yang Benar Berdasarkan Firman Tuhan (Rhema) dan Kasih Karunia, Serta
Otoritas Orang Tua.
Yes 59:21 Adapun Aku,
inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi
engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu
dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya,
firman TUHAN.
Petikan Dari Khotbah
Tentang Cara Kita Berpikir Berdasarkan Kenyataan VS Firman Tuhan:
Saudara, mari kita renungkan tentang sakit, penyembuhan, dan
kasih karunia Tuhan. Seringkali kita berdoa: "Tuhan, sembuhkan aku,"
dan kita percaya bahwa penyembuhan selalu menjadi yang terbaik bagi kita. Kita
mungkin berpikir, "Jika Tuhan mengasihi saya, Dia akan menyembuhkan
saya." Kita mungkin mengalami sakit parah, bahkan dokter sudah menyerah,
namun kita tetap berharap sembuh.
Tetapi bagaimana jika kita terus sakit bertahun-tahun? Kita
terus berdoa, terus berharap, namun kesembuhan tak kunjung datang. Apakah itu
berarti Tuhan tidak menjawab doa kita? Apakah Allah benar-benar seperti itu?
Roma 8:28 mengatakan
bahwa dalam segala hal, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan.
Kebaikan Allah mungkin tidak selalu sesuai dengan pemahaman kita. Mungkin kita
menginginkan penyembuhan, tetapi Allah punya rencana yang lebih besar.
Mungkin dokter mengatakan bahwa kita hanya punya waktu 6
bulan, namun ternyata kita hidup 8, 9, bahkan 10 tahun lebih. Kita mungkin
terus bertanya, "Mengapa doaku belum dijawab?"
Penting untuk kita pahami bahwa mungkin ada hal yang lebih
penting daripada penyembuhan fisik, yaitu kasih karunia Allah. Kasih karunia
adalah kekuatan dan kemampuan dari Allah yang memampukan kita untuk menghadapi
penderitaan dengan sukacita, dengan ketabahan, dan dengan iman yang teguh.
Memberikan kasih karunia adalah pekerjaan terberat bagi Allah karena
membutuhkan proses di mana kita seringkali menolaknya.
Perhatikan kisah Lazarus yang miskin dan penuh borok.
Mungkin dia berdoa agar keadaannya berubah, tapi kenyataannya keadaannya tidak
berubah sampai dia mati. Tetapi dia tidak pernah mengeluh atau menyalahkan
Allah. Dia tetap menanggung penderitaannya dengan sukacita. Dan saat dia
meninggal, dia langsung berada di pangkuan Abraham. Ini menunjukkan bahwa dia
memiliki iman yang teguh yang menghasilkan kasih karunia dari Tuhan.
Penyembuhan memang penting, tetapi kasih karunia dan iman
yang teguh jauh lebih berharga. Tuhan lebih mencintai kita ketika kita
menanggung penderitaan dengan iman daripada ketika kita sembuh secara instan.
Lihatlah contoh rasul Paulus. Dia meminta tiga kali agar
duri dalam dagingnya dicabut, tetapi Tuhan berkata, "Cukuplah kasih
karunia-Ku bagimu." Paulus terus melayani Tuhan dengan mata yang
bermasalah, namun dia tetap memberitakan Injil dengan penuh semangat. Dia
menanggung penderitaannya karena kasih karunia Tuhan yang melimpah dalam
hidupnya.
Bagi Tuhan, lebih penting bagaimana kita menanggapi
penderitaan kita daripada kesembuhan itu sendiri. Penderitaan dapat menjadi
sarana bagi Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya dan memampukan kita untuk
memancarkan kasih karunia-Nya. Seperti yang Tuhan katakan tentang Lazarus:
"Aku semakin cinta sama orang ini."
Jadi, ketika kita sakit, jangan hanya fokus pada
penyembuhan. Carilah kasih karunia Allah untuk menolong kita menjalani
penderitaan dengan iman dan ketabahan. Jangan putus asa jika doa penyembuhan
tidak segera dijawab. Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih besar, yaitu
membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih beriman, dan lebih memancarkan
kasih karunia-Nya.
Beberapa orang mungkin mencari kesembuhan dengan berbagai
cara pengobatan di RS di dalam dan luar negeri, memanggil banyak pendeta atau
dukun, tetapi yang terpenting adalah ketekunan kita dalam iman dan kasih
karunia Allah yang memampukan kita untuk menerima kehendak-Nya. Seperti contoh
jemaat dari Pak Stepen yang meninggal karena kanker, ia meninggal dengan
ketangguhan imannya. Atau seperti Pasim Mamora yang menolak morfin agar tetap
kuat dan berpegang pada iman. Kasih karunia Allah-lah yang memampukan mereka.
Untuk melihat khotbah selengkapnya, klik tayangan Youtube di
atas.
Garis Besar
Pembahasan
Garis besarnya tema-tema tentang iman, komunitas (rumah
rohani, sekolah), dan pentingnya memelihara landasan spiritual yang kuat dalam
keluarga dan kaum muda. Pp Djonny menekankan pentingnya visi yang berpusat pada Tuhan dan kekuatan transformatif pendidikan
(nilai-nilai dan karakter) dalam membentuk generasi masa depan. Poin-poin
penting mencakup pentingnya memiliki
hubungan yang kuat dengan Tuhan, tanggung jawab orang tua dalam membimbing
jalan spiritual anak-anak mereka, dan dampak iman kolektif dalam membangun
komunitas yang kuat. Pp Djonny juga berbagi kisah pribadi (di Jerman dan
sejarah Indonesia dari jaman Soekarno sampai Habibie) dan referensi Alkitab
untuk menggambarkan tema-tema ini, mendesak para peserta untuk merangkul peran
mereka sebagai pemegang (pengurus, stewarder) visi Tuhan bagi kehidupan dan
keluarga mereka.
Kekuatan
transformatif pendidikan dalam membentuk generasi masa depan.
- pentingnya memiliki
hubungan yang kuat dengan Tuhan,
- tanggung jawab orang tua
dalam membimbing jalan spiritual anak-anak mereka, dan
- dampak iman kolektif dalam
membangun komunitas yang kuat.
Sorotan / Penekanan
Iman sebagai Fondasi : Peran penting iman dalam membangun
komunitas dan keluarga yang kuat. Bagaimana Roh Kudus bersuara sehingga kita
mendapat pengertian. Firman rhema itu hasil karya Roh Kudus dan menjadi iman kita.
Tanggung Jawab Orang Tua : Orang tua dipanggil untuk secara
aktif membimbing anak-anak mereka dalam hal rohani, memastikan mereka bertumbuh
dalam lingkungan yang berpusat pada Tuhan.
Pendidikan sebagai Transformasi : Pp Djonny menyoroti peran
pendidikan (moral Kristiani dan mentalitas Kerajaan) dalam membentuk tidak
hanya kehidupan individu tetapi juga seluruh komunitas.
Visi vs. Ambisi : Ada perbedaan antara mengejar visi yang
diberikan Tuhan versus ambisi duniawi (termasuk ambisi orangtua), yang
menggarisbawahi pentingnya bimbingan ilahi.
- Dukungan Komunitas :
Menekankan perlunya komunitas suportif yang menumbuhkan pertumbuhan rohani
dan akuntabilitas di antara para anggotanya.
- Merayakan Kemajuan :
Pengakuan atas pertumbuhan dan pencapaian gereja, memperkuat gagasan iman
dan upaya kolektif.
- Ajakan Bertindak :
Mendorong peserta untuk menjalani iman mereka secara aktif dan terlibat
dengan komunitas mereka untuk mempromosikan visi Tuhan.
Wawasan Utama
Ø
Iman sebagai Landasan Kehidupan : Pp Djonny
menekankan bahwa iman harus menjadi landasan kehidupan individu dan masyarakat.
Orang-orang didorong untuk membangun kehidupan mereka di atas landasan ini agar
dapat bertahan menghadapi tantangan hidup. Wawasan ini mencerminkan prinsip
Alkitab bahwa iman memberikan kekuatan dan stabilitas, yang memungkinkan
individu untuk mengatasi kesulitan sambil tetap selaras dengan tujuan Tuhan.
Ø
Peran Orang Tua : Disampaikan pesan yang kuat
tentang tanggung jawab orang tua dalam membentuk kehidupan rohani anak-anak mereka.
Transkrip tersebut menunjukkan bahwa orang tua harus proaktif dalam mengajarkan
dan menjadi teladan iman, yang menggarisbawahi gagasan bahwa anak-anak
cenderung mengikuti jalan rohani yang ditetapkan oleh orang tua mereka. Hal ini
sejalan dengan ajaran Alkitab yang menekankan pentingnya bimbingan orang tua
dalam membesarkan anak-anak.
Ø
Pendidikan sebagai Sarana Pemberkatan :
Pendidikan dibahas sebagai alat transformatif yang dapat meningkatkan kehidupan
dan masyarakat. Pp Djonny menunjukkan bahwa landasan pendidikan yang tepat
dapat menghasilkan berkat lintas generasi, yang memungkinkan individu menjadi
berkat bagi orang lain. Wawasan ini menyoroti konsep pengelolaan dalam Alkitab,
di mana pendidikan dipandang sebagai sarana pemberdayaan individu untuk
memenuhi potensi yang diberikan Tuhan kepada mereka.
Ø
Visi vs. Ambisi : Ada perbedaan yang jelas
antara mengejar visi yang diberikan Tuhan dan ambisi (anak dan orangtua) belaka.
Visi sejati selaras dengan tujuan Tuhan, sedangkan ambisi sering kali berfokus
pada keuntungan pribadi. Wawasan ini berfungsi sebagai pengingat bagi individu
untuk mencari bimbingan dan kejelasan ilahi dalam pengejaran mereka, memastikan
bahwa tujuan mereka selaras dengan kehendak Tuhan. Itu sebabnya pentingnya
memiliki pikiran yang selaras dengan kebenaran Allah, bagaimana hal ini
berkaitan dengan janji kekal-Nya, dan bagaimana orang tua seharusnya
menggunakan otoritasnya.
Ø
Membangun Komunitas yang Mendukung : Pentingnya
komunitas dalam memelihara iman disorot. Pp Djonny mendorong peserta untuk
saling mendukung dalam perjalanan rohani mereka, menumbuhkan lingkungan tempat
akuntabilitas dan dorongan tumbuh subur. Hal ini mencerminkan prinsip komunitas
dalam Alkitab, tempat orang percaya dipanggil untuk menanggung beban satu sama
lain dan bertumbuh bersama dalam iman.
Ø
Merayakan Prestasi : Pp Djonny mengakui kemajuan
yang telah dicapai oleh gereja dan anggotanya, serta menyoroti pentingnya
merayakan prestasi kolektif sebagai bukti kesetiaan Tuhan. Praktik ini tidak
hanya mendorong upaya berkelanjutan tetapi juga memperkuat ikatan dan keimanan
komunitas.
Ø
Keterlibatan Aktif dalam Iman : Ajakan untuk
bertindak menekankan perlunya individu untuk terlibat secara aktif dengan iman
dan komunitas mereka. Wawasan ini mendorong orang beriman untuk bergerak
melampaui partisipasi pasif dan mengambil inisiatif dalam menjalankan iman
mereka, melayani sebagai saksi bagi orang lain dan berkontribusi pada kebaikan
yang lebih besar bagi komunitas mereka.
Poin-Poin Penting:
Otoritas orang tua:
Orang tua memiliki otoritas dari Tuhan atas anak-anak
mereka, dan otoritas itu tidak boleh disalahgunakan atau dicabut karena
ketidakpercayaan.
Sekolah Kristen bukanlah bengkel, melainkan tempat visi dan
misi Tuhan dijalankan.
Contoh Imam Eli (yang lalai menggunakan otoritas) dan Samuel
(yang teguh) menunjukkan pentingnya menggunakan otoritas dengan benar.
Orang tua jangan terlalu menuruti kemauan anak, tetapi harus
membimbing anak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Jangan menyerahkan anak sepenuhnya ke sekolah, orang tua
tetap bertanggung jawab.
Masalah teman hidup/jodoh juga harus didasarkan pada
kebenaran Tuhan, bukan sekadar keinginan duniawi.
Gembala gereja adalah tempat untuk meminta nasihat dan
pengarahan dalam mengambil keputusan.
Tuhan tidak menginginkan anak yang baik menurut dunia,
tetapi anak yang benar menurut ukuran Tuhan.
Mengenai hal-hal kekal vs tidak kekal:
Hal-hal duniawi akan lenyap dan hancur, tetapi hal-hal kekal
(berdasarkan kebenaran Firman Tuhan) akan tetap ada.
Firman Tuhan (Rema) yang hidup dalam diri kita adalah kekal,
sementara Alkitab fisik bisa hancur. Status suami istri tidak kekal di surga -
status suami istri itu hanya ada di bumi -, tetapi hubungan kemitraan dalam
pelayanan bisa kekal. Tuhan akan memindahkan Firman Rema kepada orang lain. Jangan
ngotot pada hal-hal yang tidak kekal, tetapi berfokuslah pada hal yang kekal
(kasih karunia).
Kasih
karunia adalah kemampuan Ilahi yang hanya dimiliki oleh Allah dan diberikan
kepada kita.
Tuhan
menyediakan segalanya, kita tinggal mengikuti prosesnya.
Buah roh dan iman:
Buah Roh adalah produk simultan dari pekerjaan Roh Kudus
dalam diri kita, bukan bagian-bagian yang terpisah.
Iman (pistis) adalah kesetiaan yang diekspresikan melalui
buah roh, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk kemuliaan Allah.
Iman timbul dari pendengaran Firman Kristus (Rema) yang
bersuara dalam roh kita.
Pikiran dan konsep yang benar (Matius 16:13-23):
Yesus menguji konsep Mesias yang ada di pikiran murid-murid-Nya,
terutama Petrus. Konsep yang salah dalam pikiran dapat menjadi penghalang bagi
pekerjaan Tuhan dalam hidup kita. Penting untuk memiliki konsep berpikir yang
benar tentang Allah, pelayanan, teman hidup, Destiny, dll.
Hal-hal yang misteri adalah milik Tuhan, tetapi yang
dinyatakan adalah bagi kita dan anak cucu kita (Ul 29:29). Penting untuk
mengenali pikiran kita sendiri agar bisa mengenali pikiran Kristus. Pengakuan
dosa harus disertai dengan kesadaran akan dosa itu sendiri. Minta pengalaman
dari Tuhan untuk bisa mengenali pikiran kita sendiri.
Kasih Karunia vs Kesembuhan:
Kasih
karunia adalah kemampuan ilahi yang lebih penting daripada sekadar kesembuhan
fisik.
Kasih
karunia adalah pekerjaan tersulit bagi Allah dalam diri kita, karena butuh
proses yang panjang.
Penting
untuk bersyukur dalam segala hal, termasuk dalam penderitaan, dan tidak
mengeluh.
Contoh kasih
karunia yang bekerja pada Lazarus yang miskin, Paulus dengan duri dalam daging,
dan jemaat yang meninggal karena kanker menunjukkan kekuatan kasih karunia.
Konsep Mesias dalam Perjanjian Lama:
Konsep Mesias (penebus) pertama kali dinyatakan di Kejadian
3:15 (keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular). Generasi tumit (Yakub)
juga merupakan bagian dari rencana Mesias.
Kesimpulan:
Sesi ini sangat menekankan pentingnya memiliki konsep
berpikir yang benar berdasarkan Firman Tuhan (Rema) yang diterima melalui Roh
Kudus. Pikiran yang tidak diperbaharui dapat menjadi penghalang bagi kita untuk
menerima janji kekal Allah dan mengalami kasih karunia-Nya yang sesungguhnya.
Orang tua juga diingatkan akan otoritas mereka dan tanggung jawab mereka untuk
membimbing anak-anak mereka sesuai dengan kehendak Tuhan. Kasih karunia adalah
fokus yang lebih penting daripada sekadar berkat materi atau kesembuhan fisik.
Sesi diakhiri dengan ajakan untuk merenungkan dan meminta pengalaman dari Tuhan
untuk mengenali dan memperbaharui pikiran kita. Pp Djonny mendorong setiap
individu untuk merangkul tujuan ilahi mereka dan secara aktif berkontribusi
pada keluarga dan komunitas mereka melalui kasih, dukungan, dan iman bersama.